Kualat Tol Cipularang, Kesurupan (Part 7)

INIKECE - Aku mencium aroma tubuh Agung menguar dari segala arah. Kemudian, aku melihat Agung sedang berdiri sambil tersenyum tidak jauh dari tempatku berdiri, mungkin jaraknya hanya sepelemparan batu.

Kualat Tol Cipularang, Terkena Pelet Setan (Part 6)

INIKECE - Aku Meri. Tentu aku mendengar kabar kalau Dian meninggal secara tidak wajar. Aku tahu, pasti ada kaitannya dengan kejadian yang kami alami di tol Cipularang. aku dengar semua teman-temanku mengalami kejadian aneh termasuk aku.

Kualat Tol Cipularang, Kematian Dian (Part 5)

INIKECE - "Sep, thanks banget udang datang," kata Bram. "Iya Bram. Gua nggak nyangka Dian bisa sakit parah kayak gini."

Kualat Tol Cipularang, Wanita Yang Meninggal Tak Wajar (Part 4)

INIKECE - "Asep... Asep... Asep..." seseorang memanggilku. Aku sangat kenal dengan suara itu, dia tentangga kosku, Mbak Tika. .

Kualat Tol Cipularang, Dinikahi Dedemit (Part 3)

INIKECE - "Bram, gua ngerasa ada yang aneh sama hidup gua akhir-akhir ini," kata Dian. Dia adalah pacaku, hubungan kami sudah berjalan lima tahun.

Kualat Tol Cipularang, Maafka Kami Cipularang (Part 15)

Kualat Tol Cipularang, Maafka Kami Cipularang (Part 15)

INIKECE - Mobil yang aku kendarai melaju dengan sangat cepat. Aku ingin segera sampai karena tidak kuat menahan rasa sakit di perutku. Jujur aku lupa di kilo meter berapa Si Jon kencing sembarangan, tapi aku masih ingat ada tanda silang di pembatas jalan. Setelah mobilku masuk tol Cipularang, kukurangi kecepatannya. Dengan hati-hati, kucari tanda silang di sepanjang pembatas jalan tol.

Selang beberapa saat, akhirnya tanda silang itu kutemukan. Segera kuinjak rem dan keluar dari mobil. Kuambil sekompan air dalam bagasi mobil, sambil membaca doa sebisaku, kusiramkan air itu ke tempat bekas kencing Jon.

"Kami mengaku salah. Maafkan kami Cipularang," desisku sambil meneteskan air mata.

Setelah dirasa cukup, aku bergegas masuk ke dalam mobil. Seketika, rasa sakit di perutku mulai reda. Satu hal yang aku sadari, ternyata aku tidak hidup sendiri. Ada makhluk lain yang hidup berdampingan bersamaku. Mereka minta dihargai sebagaimana manusia yang minta dihargai terhadap manusia lainnya. Aku berjanji kepada diriku sendiri kalau aku tidak akan pernah berintdak ceroboh dan menyepelekan hal gaib.

Seketika lamunanku terbuyar, ada seorang perempuan yang berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangannya. Ini siang hari, dan tidak mungkin kalau perempuan itu setan. Wajahnya terlihat sangat cemas, seperti sedang punya masalah besar. Aku kurangi kecepatan mobil dan berhenti tepat di depan wanit itu. Rambutnya pendek, mengenakan topi bundar, sepatu berwarna biru, kaos oblong warna biru, dan celana jeans.


"Mas, aku ikut dong sampe keluar tol. Aku diturunin suamiku. Dia marah-marah nggak jelas. Tolongin aku ya, plis," dia memohon sambil.

"Oh, iya mbak, Silakan naik," aku membukankan pintu mobil.

Dia duduk di sampingku. Aroma parfurmnya sangat wangi memenuhi ruangan mobil. Mobilku kembali melaju dengan kecepatan stabil, melewati beberapa mobil depanku. Wanita itu diam saja, sepertinya dia masih kesal pada suaminya.

"Mbak emank asalnya dari mana?" tanyaku mencairkan suasana.

"Aku dari Jakarta, Mas. Tadinya aku dan suami mau liburan ke Bandung. Eh, dia malah marah-marah nggak jelas cuman gara-gara aku chatan sama teman kantorku. Dia cemburuan banget orangnya."

"Oh, begitu, Mbak udah coba telepon dia buat minta maap. Siapa tahu suami Mbak mau jemput lagi," ujarku sambil terus fokus ke jalan.

"Sudah Mas tapi nggak diangakat."

"Oya, Mas sendiri mau kemana?" tanyanya.

"Aku nggak kemana-mana Mbak. Tadi aku abis bersihin bekas kencingnya temanku. Di pinggiran jalan tol Cipularang."

"Rajin banget mas."

"Iya, teman saya udah meninggal. Kami mengalami kejadian aneh diteror setan. Mungkin gara-gara teman saya kencing sembarangan."

"Wah, masa sih mas? serem juga ya." katanya.

"Iya, Mbak. Harus hati-hati jangan mengotori tempat sembarangan."

Dari kejaduhan, aku melihat sebuah mobil sedang terbalik di pinggiran jalan. Wanita di sampingku terkejut melihat kejadian itu.

"Mas!, Astaga itu mobil suami saya!"

Aku mempercepat laju mobil. Dan mendekat ke mobil sedang yang terbalik itu. Segera wanit di sampingku turun dari mobil sambil menangis. Polisi berdatangan memasang police line, terdengar suara sirine ambulan mendekat.

Seorang lelaki dikeluarkan dari dalam mobil, ada bercak darah di keningnya, tubuhnya lunglai, aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Setelah menyaksikannya beberapa menit, aku disuruh melanjutkan perjalanan oleh salah seorang polisi karena dikhawatirkan terjadi kemacetan. Segera kunyalakan kembali mesin mobilku dan melaju perlahan meninggalkan loksi kecelakaan.

SELESAI.

Kualat Tol Cipularang, Gunung Hejo (Part 14)

Kualat Tol Cipularang, Gunung Hejo (Part 14)

INIKECE - Mataku terpejam menahan sakit yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Tiba-tiba tubuhku merasa seperti masuk ke dalam sebuah lubang hitam besar yang berputar-putar. Entah dalam keadaan sadar atau tidak, aku melihat sebuah mobil sedang melaju di jalan tol Cipularang.

Di dalam mobil itu, ada dua anak kecil yang sering menghantuiku akhir-akhir ini. Di bagian kemudi, ada seorang lelaki yang sudah beruban mengendarai mobil dan perempuan berjilbab biru yang isbuk dengan smartphone-nya.

"Ayah aku mau minum," pinta anak perempuan dari kursi belakang.

"Mamah,tadi minum kita di tarok dimana?" tanya lelaki itu sambil terus mengemudikan mobilnya.

"Tadi mamah simpan di sini," ia meraba-raba jok sebelah kanan.

Tidak sengaja, botol air minum itu tersenggol, jatuh ke bawah dan menggelinding menghalangi pihakan rem. Mobil bus yang ada di depannya berhenti mendadak, entah kenapa. Mobil yang ia kendarai menabrak bus itu karena remnya terganjal botol air minum. Aku melihat kedua anaknya mati sedangkan pasangan suami istri itu masih bisa selamat.

Badanku kembali seperti ditarik oleh pusaran cahaya. Aku melihat gunung Hejo, tepat di tempat petilisan, ada tiga orang lelaki yang sedang bersemedi. Meraka duduk sila menghadap makam keramat.

Aku melihat mereka sangat khusyuk bersemedi di sana. Mereka dikelilingi makhluk aneh, ada kodok besar yang berkepala manusia, harimau putih yang memancarkan cahaya, dan manusia-manusia yang berlumuran darah. Dan di sana, aku melihat Jon. Ia mendekat ke arahku dengan wajah cemas.

"Gua minta maaf ya, Sep." katanya sambil menyentuh pundakku.

Aku tidak menjawab malah memerhatikan wajahnya yang sangat pucat.

"Lu masih hidup, Jon?" tanyaku heran.

"Iya, tapi dunia gua udah beda. Gua tinggal di alam jin di gunung Hejo," jawabnya.

"Ini semua salah gua, Sep," tambahnya sambil terisak.

"Apa yang harus gua lakuin untuk menembus kesalahan ini, Jon."

"Lu masih bisa selamat. Berisihin bekas kencing gua di pinggir tol Cipularang," ujar Jon.

Seketika dia menghilang.


Aku terbangun. Jantungku berdetak kencang, keringat bercucuran sekujur tubuhku. Luka di perkutku masih terasa sakit. Perlahan aku bangkit sambil terus meringis. Aku berjalan menuju tempat tidur dengan sangat hati-hati karena seluruh ruangan masih gelap, listrik belum juga menyala. Sejenak aku bergeming dan mengingat-ingat percakapanku dengan Jon.

Oya, bekas kencing Jon! Aku harus kembali ke tol Cipularang dan membersihkan bekas kencingnya. Semoga aku masih bisa selamat.

Keesokan paginya, kubalut luka cakat di perutku dengan perban. Aku harus segera pergi ke tol Cipularang dan membersihkan bekas kencing Jon. Di layar smartphone kucari nomor telepon perusahaan sewa mobil. Setelah meminta unit diantar ke alamat indekosku. Aku paksakan tubuhku untuk mengemudi. Mobil yang kukendarai melaju cepat menuju tol Cipularang.

Kualat Tol Cipularang, Aku Yang Selanjutnya Mati (Part 13)

Kualat Tol Cipularang, Aku Yang Selanjutnya Mati (Part 13)

INIKECE - Luka di perutku semakin parah. Goresan itu membesar membuat memar di sekujur perutku. Beberapa kali pergi ke dokter, tapi lukanya tidak kunjung sembuh. Sudah dua hari aku berbaring di kamar kosku, luka yang terus menggerogoti perutku membuat susah mengenakan baju.

Kamarku seperti kapal pecah, acak-acakan. Aku tidak sanggup memaksakan badanku untuk banyak bergerak. Setiap malam, aku mendengar langkah kaki anak kecil yang berlarian di kamar kosku. Aku yakin kalau mereka adalah setan Cipularang yang sudah lama mengikutiku.

Malam itu, kubiarkan TV menyala. Menyiarkan berita politik nasional. Aku terbaring di atas kasur sambil sesekali meringis menahan sakit. Seketika terlintas dalam benakku untuk mencari tahu tentang misteri tol Cipularang. Kuraih smartphone yang tergeletak di meja kerjaku. Ssambil bersandar, aku langsung melakukan pencarian di internet tentang tol Cipularang.

Muncul beberapa berita tentang kecelakaan di tol Cipularang. Aku teruscroll ke bawah, munculah sebuah artikel yang membahas tentang gunung Hejo. Artikelnya menjelaskan kalau kecelakaan yang terjadi di tol Cipularang ada kaitannya dengan keangkeran gunung Hejo. Di sana juga ada sebuah petilasan Eyang Prabu Siliwangi.

Saat sedang serius membaca artikel, tiba-tiba saja lamput konsaku mati. Hanya cahaya smartphone yang menjadi penerang. Dengan perlahan, kucoba bangkit dari tempat tidur untuk mencari lilin di dalam lemari.

BACA JUGA :

Kaualat Tol Cipularang, Setelah Kematian Bram (Part 12)


Kuarahkan cahaya smartphone ke dalam lemar dan berhasil meraih sebatang lilin yang masih utuh. Kunyalakan lilin itu, lalu meletakkannya di meja kerjaku. Kembali kubaringkan badan di tempat tidur dan melanjutkan baca artikel.

Selang beberapa saat, aku mendengar suara anak kecil tertawa dari dalam kamar mandi. Bukan hanya satu orang saja, terdengat seperti ada dua orang yang sedang bermain di dalam kamar mandiku. Suara gemerecik air ditumpahkan terdengar jelas.

Perlahan kuhampri sambil membawa sebatang lilin. Suara anak kecil itu tidak berhenti tertawa, kudorong pintu kamar mandi perlahan. Di dalam sana, kulihat dua anak kecil, satu perempuan dan satu lagi laki-laki. Kepala mereka penuh darah, yang perempuan membawa sebuah boneka sedangkan yang laki-laki membawa sebuah robot-robotan. Mereka memandangiku dengan ekspresi datar.

"Mati kau Asep..!" tiba-tiba mereka kompak berteriak. Dan hilang begitu saja.

Seketika, luka di pertku terasa sangat sakit. Seperti ada sebuah jari yang mencabik-cabik lukanya. Lilin yang kubawa terjatuh dilantai dan padam begitu saja. Aku terjatuh di lantai sambil meringis, menahan sakit. 

Ingin rasanya aku berteriak  meminta tolong, tapi rasa sakit itu membuatku tidak mampu berteriak. Keringat mulai bercucuran di dahiku, aku terlentang di lantai sambil meringis kesakitan. Saat itu, kulihat kedua anak kecil tadi berdiri di sampingku sambil tertawa melihatku.

"Siapa kalian?!" ujarku sambil menahan sakit.

Mereka tidak menjawab dan terus memandangiku sambil tertawa cekikikan. Rasa sakit di perutku semakin parah hingga membuatku susah bernafas.

Kaualat Tol Cipularang, Setelah Kematian Bram (Part 12)

Kaualat Tol Cipularang, Setelah Kematian Bram (Part 12)

INIKECE - Seminggu setelah kematian Bram. Aku semakin yakin kalau setan Cipularang menaruh dendam pada kami semua. Dan, sekarang yang tersisa hanyalah aku. Semua teman-temanku sudah mati dengan mengenaskan.

Semua terasa ganjil, mereka mati satu persatu dengan sangat cepat. Atas dasar itu, aku tahu kalau setan Cipularang akan segera menghabisiku.

Aku mendengar dari Ibunya Bram kalau beberapa hari ini dia suka digentanyangi arwahnya Bram. Mereka sering mendengar langkah kaki di rumahnya dna suara Bram memanggil-manggil di halaman rumah, meminta tolong.

Apakah Bram benar-benar gentayangan? Atau setan Cipularang yang menyerupai Bram dan meneror keluarganya. Untuk mencari tahu kebenaranya, aku mendatangi ibunya Bram. Ia menceritakan kejadian demi kejadian aneh di rumahnya setelah kematian Bram.

"Bisa ibu ceritakan kejadian aneh yang ibu alami akhir-akhir ini? Siapa tahu, aku bisa bantu ibu," pintaku.


Ia terlihat ketakutan, keningnya berkerut," Jadi malam itu, ibu lagi masakin nasi goreng buat suami. Tiba-tiba saja, ibu nyium baru parfumnya Bram di dapur. Bau parfum itu sangat menyengat dan ibu hafal betul kalau parfumnya Bram," ia menarik napas perlahan dan menghembuskannya.

"Ibu cari-cari sumber bau itu ternyata berasal dari kolomg meja makan. Pas ibu tengok ke bawah... Ibu melihat sepasang kaki yang sedang berdiri mengenakan sepatunya Bram. Duh, ibu hafal banget, itu betis anak ibu," air matanya mulai merekah, ia mengusapnya dengan tisu.

Kemudian mulai terisak, "Tapi, pas ibu berdiri malah nggak ada siapa-siapa di depan meja. Pas ibu cek lagi ke kolong meja, kaki itu masih ada."

"Terus, Bu." aku mendengarkan dengan seksama.

"Abis itu Nak Asep. Ibu panggil bapak, tapi bapak enggak nyahut. Buru-buru, ibu ke ruang keluarga. Di sana, ibu lihat bapak lagi berdiri menghadap jendela, tatapan matanya kosong."

Sebelum melanjutkan ceritanya, ia menyeruput segelas teh tanpa gula, "Pas ibu pegang pundaknya, bapak malah ketawa-tawa sambil loncat-loncat kayak pocong. Tangannya bersidekap di perut, kepalanya tertunduk, matanya melotot, Bapak kesurupan."

"Bukan hanya kejadian itu saja, Nak Asep. Hampir tiap mau tidur, ibu nemuin serpihan tanah merah di atas kasur. Ibu takut, Nak Asep," katanya dengan wajah ketakutan.

Dari cerita yang kudengar dari ibunya Bram. Aku yakin kalau yang meneror keluarga Bram adalah setan Cipularang. Walau bagaimana pun, aku harus cari cara agar setan itu tidak lagi meneror keluarga Bram. Tapi bagaimana? Apakah aku harus mendatangi dukun? Ah, aku tidak percaya pada dukun!

Hari demi hari berlalu. Saat aku masih memikirkan setan yang meneror keluarga Bram, entah kenapa ada luka cakar yang melintang di bagian perutku sangat panjang dari dada sampai ke perut bagian bawah. 

Semakin hari luka cakar itu tambah parah, menjadi koreng yang perlahan mengeluarkan nanah. Terasa panas sekali kalau malam hari. Apalagi kalau aku mengenakan baju, tergesek-gesek sangat menyakitkan. Aku sudah berobat namun luka itu tidak kunjung sembuh. Apakah ini salah satu perbuatan setan Cipularang?

Kualat Tol Cipularang, Bola Mata Bram Hilang (Part 11)

Kualat Tol Cipularang, Bola Mata Bram Hilang (Part 11)

INIKECE - Setelah mendapat air mantra dari Abah Sardim, berangsur sakit mataku hilang. Tetapi, masih ada yang aneh, kenapa kelopak mataku perlahan menyempit? Aku sudah konsultasi kembali ke Abah Sardim, namun ia tetap menyarankanku agar membasuh mata menggunakan air mantra yang ia berikan padaku. Tetapi, tidak berhasil.

Semakin hari, kelompak mataku semkain mengecil menutupi pandangan. Hingga akhirnya, aku tidak bisa melihat apa pun. Aku raba kelopak mataku dan ternyata kempes, ternyata bola mataku hilang, entah ke mana. Aku penik berteriak minta tolong, ibu dan bapak buru-buru membawaku ke rumah sakit. Dokter juga kebingungan dengan apa yang aku alami, dia mengaku tidak pernah menemukan kasus seperti ini sepanjang karirnya.

"Aku kualat Bu," kataku dengan nada bicara yang menyedihkan.

"Kualat apa, Nak?" Tanya ibuku sambil memelukku, aku mendengar isak tangisnya. Air matanya dapat aku rasakan menetes ke pundakku.

"Tol Bu, Tol Cipularang," jawabku.

"Apa yang udah kamu lakuin, Nak?" tanya bapak.

"Enthlah Pak. Semuanya begitu rumit. Teman-temanku satu per satu mati. Bisa saja aku yang selanjutnya," ujarku.


Bapakku bingung mendengar penjelasanku. Ia masih tidak percaya kalau kejadian aneh yang menimpaku karena kualat Tol Cipularang.

Setelah aku kehilangan bola mata, hidupku terasa semakin sulit. Aku tidak mau lagi pergi ke luar rumah. Setiap hari aku berdiam diri di kamar, meratapi nasib yang malang. Badanku terasa berat kembali, mungkin pocong sialan itu mengikutiku lagi. Aku sudah tidak peduli! Aku tahu, aku akan segera matai. Sama seperti teman-temanku, yang teriksa dan mati mengenaskan.

Sesekali Asep menjengukku. Ia selalu berusaha menguatkanku, tetapi tetap saja aku merasa akan segera mati. Lagi pula, untuk apa juga hidup seperti ini, hampa dan tidak berguna. Andai saja malam itu aku tidak ikut ke Bandung, mungkin saja semua kejadian aneh ini tidak akan menimpaku.

"Gua janji akan cari solusi buat masalah ini, Bram," kata Asep sambil menepuk pundakku. Setiap hari Minggu, dia rutin menjengukku.

"Terlamat Sep. Gua udah terlanjut buta? Abis ini paling gua mati!"

"Hus, jangan kayak gitu. Lu pasti baik-baik aja. Gua akan coba cari cara agar setan tol Cipularang itu nggak ganggu kita lagi."

Aku tidak menimpali perkataannya. Aku sudah benar-benar putus asa, menjadi buta adalah hal yang tidak pernah terpikirkan dalam hidupku. Untuk itu, dorongan untuk bunuh diri semakin besar. Pikirku, lebih baik mati oleh tanganku sendiri ketimbang dibunuh setan Cipularang.

Jadi suatu malam, aku meminta Bi Inah untuk menyuapiku bauh mangga. Kuminta agar pisau dan bekas kulit mangganya diletakkan di meja yang terletak di samping tempat tidurku. Ketika Bi Inah sudah tidak dikamarku, tanganku meraba-raba pisau. Aku gugup, keringat mulai timbul di keningku. Dari kegelapan, aku melihat sosok pocong dengan wajah gelap perlahan mendekatiku. Semkain dekat msakin menakutkan, kain kafannya kotor, noda tanah menempel di seluruh kain kafannya. Segera kuiriskan pisau di pergelangan tangan kiriku. Terasa sakit. Sangat sakit.

Kualat Tol Cipularang, Jin Pencongkel Mata Buntuti Bram (Part 10)

Kualat Tol Cipularang, Jin Pencongkel Mata Buntuti Bram (Part 10)

INIKECE - "Bram, Meri meninggal," pagi-pagi sekali, Asep meneleponku.
"Hah! Serius lu?" Aku benar-benar terkejut mendengar kabar itu.

"Pemakamannya hari ini. Lu datang aja, gua tunggu di rumah Meri." 

"Oke, gue ke sana sekarang."

Hari itu juga aku langsung berangkat ke rumah Meri. Menyaksikan prosesi demi prosesi pemakamannya. Keluarga Meri begitu terpukul atas kematian anaknya. Mereka menangis tersedu-sedu di samping makam Meri. Puluhan orang hadir dalam pemakaman itu, papan bunga ucapan belasungkawa terpajang di sepanjang jalan masuk pemakaman.

"Lu nyadar nggak sih kalau kematian teman-teman kita kayak ada kaitannya sama tol Cipularang," kata Asep sambil terus menyaksikan prosesi pembacaan doa untuk Meri di pemakaman.

"Kita kualat, Sep," kataku singkat sambil membuka kacamata hitam dan menoleh ke Asep.

"Anjir Bram! Mata lu kenapa?" Asep terkejut sambil memerhatikan bola mataku.

Akhir-akhir ini memang mataku terasa perih. Aku pikir hanya iritasi ringan. Jadi, aku hanya menggunakan obat tetes mata untuk menyembuhkannya.

"Nih lihat," Asep menyodorkan smartphone-nya, menyalakan kameran depan.

"Anjir, Mata gua kok nambah parah!"

Aneh! Kedua bola mataku menonjol seperti hendak kelular dari ceruknya.

"Lu harus periksa ke dokter, Bram," saran Asep.

"Udah, kayaknya ini bukan sakit mata biasa, Sep. Seumur hidup baru kali ini juga ngalamin kayak gini."

"Maksud lu, ini gara-gara tol Cipularang?" bisiknya.

"Sep. Dian mati mendadak. Meri juga. Bisa saja selanjutnya gua atau elu," kataku sambil mengenakan kembali kaca mata hitam dan beranjak pergi.


Bukan dokter yang harus kutemui, melainkan seorang dukun. Ya, dukun yang bisa menyembuhkan mataku. Ini pasti gara-gara setan Cipularang. Aku sudah cukup sabar dan kali ini harus aku lawan.

Setelah mendapat informasi dari internet, aku mendatangi dukun yang katanya sakti di Banten. Ia tinggal di kampung Citorek sekitar lima jam perjalanan dari Jakarta. Nama dukun itu Abah Sardim. Saat bertemu dengannya, ia tahu kalau aku diikuti pocong tol Cipularang. Ia lalu menyemburkan air yang sudah dibacakan mantra ke seluruh tubuhku.

"Pocong itu sudah pergi," katanya sambil tersenyum.

Aku duduk sila di ruang tamu rumah Abah Sardim. Rumah itu bertipe panggung, dindingnya dari anyaman bambu, lantainya dari papan. Tapi, atapnya sudah menggunakan genting. ia tidak tampak seperti dukun di film-film yang sering kutonton, tapi ia terlihat seperti warga biasa saja.

Mengenakan baju partai yang sudah lusuh, peci hitam yang sudah mengilap, sarung butut yang kusut seperti tidak disetrika. Dari wajahnya yang keriput, dapatku tebak kalau Abah Sardim itu berumur kisaran lima puluh atau enam puluh tahun.

"Air ini kamu basuhkan ke dua matamu setiap mau tidur. Mudah-mudahan lekas sebuh," ia menyerahkann sebotol air yang sudah ia bacakan mantra.

Kualat Tol Cipularang, Kematian Meri (Part 9)

Kualat Tol Cipularang, Kematian Meri (Part 9)

INIKECE - Kuntilanak yang berteman denganku selalu membisikkan sesuatu di telinga setiap malam. Ia mengajakku untuk bunuh diri. Menjanjikan kehidupan yang abadi dan bahagia dengannya.

Ah, memang dia benar! Saat ini, aku sudah tidak menikmati kehidupanku. Semua terasa hampa, aku sudah tidak tertarik lagi bergaul dengan teman-temanku, mengobrol dengan keluarga, dan jalan-jalan ke luar kota. Semua sudah tidak menyenangkan lagi bagiku.

Kebahagiaanku hanya ketika bersama kuntilanak, apalagi kalau di tersenyum. Sangat menyenangkan hatiku.

Di suatu sore, aku sedang mengiris tomat. Kuntianak tiba-tiba muncul dari belakangku. Ia memelukku dan membisikkan ajakan untuk bunuh diri. Aku tersenyum dan membalikkan badan. Ia menatapku dengan penuh kasih sayang seperti seorang ibu kepada anaknya. Iya, mungkin hubungan kami sekarang sudah lebih dari sekadar teman. Dia sudah seperti ibu bagiku, tepatnya ibu kedua.

"Apa aku akan bahagia di duniamu?" tanyaku kepada kuntilanak.

Ia mengangguk sambil tersenyum. Aku kemudian mendekatkan pisau ke pergelangan lengan kanku membuat kuntilanak itu kembali tersenyum bahagia. Sesaat sebelum ku iris pisau di permukaan kulit. Suara seseorang menegurku.

"Mari! Apa-apaan kamu!" itu Bapak.

Ia merampas pisau dari tanganku sambil mendelik marah, keningnya berkerut.

"Kamu kenapa, Meri?!" Bapak menarik lenganku dan membawaku ke ruang keluarga. Kami duduk di sana.

"Meri, akhir-akhir ini Bapak perhatikan tingkah kamu aneh. Kadang ngomong sendiri. Terus tadi, apa-apaan itu! Kamu mau bunuh diri. Ada apa sebenarnya? Cerita ke Bapak." Bapak membetulkan posisi kaca matanya dan menatapku tajam.

BACA JUGA :

Kualat Tol Cipularang, Meri Berteman Dengan Kuntilanak (Part 8)


"Baiklah, aku mau jujur Pak. Aku punya teman gaib."

Bapak terkejut mendengar jawabanku.

"Siapa?"

"Kuntilanak, Pak."

Bapak menyederkan punggungnya ke sofa, kemudian geleng-geleng kepala. Dari ekspresi wajahnya, sepertinya ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Kemudian,  ia merogoh smartphone-nya.

"Bapak mau apa?" tanyaku/

Ia tidak menjawab. Dan tetap menunggu seseorang mengangkat teleponnya.

"Halo, tolong hari Rabu kirimkan Psikiater ke rumah saya, ya. DI jalan Adityawarman. Iya, untuk anak saya. Umurnya dua puluh tiga tahun. Oke, saya tunggu." Bapak berbicara dengan seseorang dari seberang teleponnya.

"Bapak. Aku enggak gila, Pak. Aku beneran punya teman kuntilanak. Dia bahkan sekarang berdiri di samping Bapak!" Jelasku dengan nada tinggi.

Tapi bapak tetap tidak peduli.

"Bapak tahu pasti kamu sedang ada masalah yang nggak bisa diungkapin. Mulai sekarang kamu tidur dengan ibumu sementara Bapak akan tidur di kamar kamu. Bapak akan terus awasin kamu. Takutnya nanti malah coba bunuh diri lagi."

Jujur, au tidak terima bapak memperlakukanku seperti ini. Mungkin kuntilanak benar, aku harus bunuh diri saja. Memulai kehidupan baru, di dunia baru. Tapi sayangnya, aku tidak punya kesempatan untuk bunuh diri. Ibu dan Bapak sangat ketat menjagaku, sampai-sampai ibu yang memandikanku. Mereka tidak membiarkanku sendirian.

Hingga pada suatu malam. Ada tiga orang laki-laki yang mengendap-endap masuk ke rumahku. Mereka bertopeng badut, jaket hitam, celana jeans, dan membawa pistol. Mereka berhasil masuk ke kamar tempatku dan ibu tidur.

"Jangan sekali-kali berteriak. Kami tidak segan-segan membunuh kalian," kata salah satu dari mereka.

Aku dan ibu ketakutan. Mereka menggeledah seisi kamar, membuka lemari dan merampas perhiasan emas. Mereka juga meminta kode brankas yang ibu simpan di dalam lemari. Dengan terbata-bata, ibu menyebutkan kode brankasnya.

Ketika mereka sibuk mengeruk uang, buru-buru ibu meraih smartphone dan berusaha menghubungi polisi. Sialnya, salah satu dari mereka menyadari itu, lalu memberi tahu temannya yang memegang pistol. Segera ia membidik punggung ibu, aku refleks mendorong tubuh ibu dan perluru itu meleset tepat mengenai dada kiriku.

Kualat Tol Cipularang, Meri Berteman Dengan Kuntilanak (Part 8)

Kualat Tol Cipularang, Meri Berteman Dengan Kuntilanak (Part 8)

INIKECE - "Keserupan?" Tanyaku sambil meringis memegang kepala yang masih terasa pusing.

"Iya, nama kamu siapa, Nak?"

"Meri, Mak."

"Kamu kok bisa ada di daerah sini semalam?"

"Aku dibawa seseorang, Mak."

"Temanmu?"

"Bukan, dia kekasihku dalam mimpi. Tapi entah kenapa semalam kepalanya putus," lanjutku.

"Wah itu sih setan, Nak. Sekitaran sini banyak setannya harus hati-hati," ujarnya sambil membuang sisa sirih yang ia kunyah.

Aku mencoba untuk bangun, dia membantuku, "Hati-hati, Nak."

"Terima kasih udah selamatin saya ya, Mak."

"Iya, sama-sama, Nak."

Dia meraih segelas air. Bibirnya komat-kamit seperti sedang membaca mantra, lalu meniup air itu dan menyerahkannya padaku.

"Ini diminum. Biar dia nggak ngikutin kamu lago. Kayaknya kamu kena pelet setan Cipularang. Ada setan yang suka sama kamu."

Aku tercengang mendegar penjelasannya. Segera kuhabiskan air itu, aku tidak menyangka bisa sampai seperti ini. Setan suka padaku? Sangat mengerikan!


Setelah kejadian itu, aku memang tidak pernah lagi memimpikan Agung. Tetapi, semua belum berakhir di situ. Aku mengalami kejadian aneh lainnya, setiap tengah malam ada seorang wanita yang membangunkanku. Ia mengajakku bermain ayunan di halaman rumah.

Dia baik dan suka memainkan rambutku dengan jemarinya. Tubuhnya tinggi, mungkin dua kali lipat dari tinggi tubuhku. Cuma memang agak bau busuk, tapi entah kenapa aku nyaman-nyaman saja didekatnya.

Semakin lama dia semakin akrab denganku, kami menjadi sahabat sejati. Sekarang dia tidak hanya membangunkanku di tengah malam, bahkan dia suka mengikutiku ke kamar mandi, kantor, dan cafe.

Dia suka duduk di kursi mobilku baris ketiga. Untuk itu, aku tidak pernah menginzinkan siapa pun untuk menduduki kursi itu. Dia selalu disana. Duduk manis. Sesekali tersenyum. Ya, dia itu kuntilanak.