Animasi Digimon Dengan Perayaan 20 Tahun Merilis 5 Anime, Wajib Tonton!

INIKECE - Siapa tak kenal film animasi dari Jepang ini? Dikenal dengan petualangan dan memiliki hewan perliharaan yang memiliki kekuatan super untuk melawan para musuh yang menghadang ( Digimon ).

Musibah Bisa Terjadi Kapan Saja, 19 Kerbau Beserta Pengembala Disambar Petir

INIKECE - Tragis, hal ini terjadi pada seorang pengembala beserta 19 kerbaunya di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara tewas seketika akibat tersambar petir. Senin (19/8/2019).

Cuaca Panas? Cocok Dirasakan Manis Dan Dingin, Es Krim Legendaris di Indonesia

INIKECE - Dicuaca yang panas, pasti banyak sekali orang anak mencari kuliner atau mencicipi hal yang memiliki sensasi dingin, manis, dan segar untuk menyegarkan kembali tubuhnya.

Ma Apa Kabar? Maafkan Aku - Move On

INIKECE - "Apa kabar Dunia? Apakah hari ini masih sama dengan kemarin?" gumamku sambil membuka mata. Hari ini adalah hari pertama sejak kepindahanku ke Bandung, kota kecil yang berhawa dingin. Aku masih saja berbaring di balik selimut.

Kisah, Pesan Dari Puncak Bianglala - Move On

INIKECE - Xavier : Happy Graduation untuk periode ketiga. SELAMAT!!! Zara : Kalian luar biasa.

Animasi Digimon Dengan Perayaan 20 Tahun Merilis 5 Anime, Wajib Tonton!

Animasi Digimon Dengan Perayaan 20 Tahun Merilis 5 Anime, Wajib Tonton!

INIKECE - Siapa tak kenal film animasi dari Jepang ini? Dikenal dengan petualangan dan memiliki hewan perliharaan yang memiliki kekuatan super untuk melawan para musuh yang menghadang ( Digimon ).

Petualangan Taichi bersama kawan-kawan masih terus berlanjut dalam film terbaru, yaitu Digimon Adventure: Last Evolution Kizuna yang rencananya siap tayang pada 2020 mendatang.

Sebelum menyaksikan aksi Digimon kesayangan tahun depan, bersiap untuk menikmati suguhan anime pendek dalam rangka menyambut 20 tahun seri yang dicintai ini. Proyek bertajuk Digimon Adventure Memorial Story Project ini menyuguhkan lima anime pendek, yaitu Sora e (To the Sky), Kokoro no Ana (A Hole in the Heart), Igakusei Joe Kido (Joe Kido, Medical Student), Kogare no Jogress Shinka (The Coveted Jogress Evolution), dan sebuah judul yang masih belum diumumkan hingga berita ini di tulis.


Dilansir dari Animenewsnetwork, kelima anime pendek ini menceritakan kisah lain dari para Digimon beserta partner mereka. Enggak cuma itu, akan ada juga sebuah judul prekuel untuk film Digimon Adventure: Last Evolution Kizuna. Nantinya, kalian dapat menyaksikan proyek ini dalam bentuk OVA yang dijual secara khusus untuk menyambut perayaan 20 tahun seri Digimon.


Dalam mewujudkan proyek ini, pihak Toei Animation melakukan campaign melalui situs Campfire dengan target memperoleh 10 juta yen atau sekitar 1.5 miliar rupiah. Namun sayangnya, penggalangan dana ini hanya terbatas bagi penggemar yang berdomisili di Jepang.


Pertama kali diperkanalkan di Jepang pada 1997 sebagai sebuah game simulasi, Digimon telah menjadi salah satu sosok ikonis dalam budaya pop Jepang. Selain itu, Digimon sering dibandingkan dengan Pokemon karena dianggap mengusung tema serupa.

Serial Anime Digimon Adventure pertama kali hadir pada 1999. Sukses besar. musim keduanya tayang setahun kemudian dengan tajuk Digimon Adventure 02 dirilis. Keduanya berhasil memperoleh atensi dari penikmati serial anime.

Nah, bagaimana nih menurut kalian? Tentang rencana hadirnya lima anime pendek Digimon? Langsung aja bagikan pendapat kalian di kolom komentar bawah, ya!

Musibah Bisa Terjadi Kapan Saja, 19 Kerbau Beserta Pengembala Disambar Petir

Musibah Bisa Terjadi Kapan Saja, 19 Kerbau Beserta Pengembala Disambar Petir

INIKECE - Tragis, hal ini terjadi pada seorang pengembala beserta 19 kerbaunya di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara tewas seketika akibat tersambar petir. Senin (19/8/2019).

Peristiwa ini persisnya terjadi di Dusun II, Desa Urtan, Kecamatan Andam Dewi, Tapteng. Saat itu si penggembala baru saja menggembalkan kerbaunya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 19.00 WIB. Warga menemukan korban dalam kondisi tidak bernyawa di dalam kandang. Kejadian ini pun membuat warga setempat heboh.

"Korban disambar petir saat mengasapi kerbau di dalam kandang. Karena memang setiap harinya korban mengasapi kerbau ini supaya tidak diganggu nyamuk," kata Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Tapteng AKBP Sukamat. Selasa (20/8/2019).

Sukamat menyebutkan 19 kerbau yang tewas diketahui milik warga bernama Mikael Simbolon. Namun, sehari-hari, korban yang memelihara dan menggembalakan kerbau-kerbau itu. "Seluruh kerbau yang di dalam kandang mati tersambat petir," kata Sukamat.

Saat ini, jenazah korban sudah diserahkan kepada pihak keluarga untuk selanjutnya dimakamkan. Sementara itu, 19 ekor kerbau yang tewas dikuburkan secara massal dengan menggunakan alat berat.


Cuaca Panas? Cocok Dirasakan Manis Dan Dingin, Es Krim Legendaris di Indonesia

Cuaca Panas? Cocok Dirasakan Manis Dan Dingin, Es Krim Legendaris di Indonesia

INIKECE - Dicuaca yang panas, pasti banyak sekali orang anak mencari kuliner atau mencicipi hal yang memiliki sensasi dingin, manis, dan segar untuk menyegarkan kembali tubuhnya.

Siapa yang tidak suka es krim? kuliner manis dan lembut dengan aneka topping. Es krim menjadi kuliner yang disukai hampir sebagian besar orang karena rasanya yang manis.

Ada banyak kedai es krim yang tersebar di seluruh Indonesia dengan beragam pilihan rasa dan topping.

Tapi tahukah traveler, jika ada beberapa Kedai es krim legendaris yang masih menjadi favorit hingga saat ini?

1. Es Krim Tentrem

Di Solo ada satu Kedai es krim legendaris yang sudah ada sejak tahun 1952. Es krim Tentrem menjadi satu Kedai es krim legendaris yang masih hits hingga sekarang.
Berbagai varian rasa dan jenis es krim dijual di es krim Tentrem ini. Soal harga tidak terlalu mahal.

2. Toko Oen

Toko Oen adalah satu kedia dan restoran tertua di Indonesia. Didirikan oleh Liem Gien Nio pada 1910 di Yogyakarta, Toko Oen berekspansi di sejumlah kota di Jawa seperti Jakarta, Semarang, dan Malang.

Selain kue-kue, di toko ini juga memiliki hidangan khas yaitu es krim yang lezat. Memang dari segi harga, es krim yang dijajakan disini sedikit mahal dibandingkan toko-toko lainnya.

3. Tip Top

Kedai es krim legendaris berikutnya ada Tip Top.
Tip Top merupakan kedai es krim legendaris yang didirikan pada 1929 dengan nama awal Jangkie.
Lalu di tahun 1936, kedai es krim ini berganti nama menjadi Tip Top. Produk andalan es krim Tip Top yakni es krim home made khas Indonesia.

4. Zangradi

Zangradi adalah Kedai es krim legendaris di Surabaya yang sudah ada sejak 1930. Di Kedai es krim legendaris ini ada beragam rasa dan jenisnya.

5. Ragusa

Traveler yang berada di Jakarta bisa menemukan Kedai es krim legendaris yaitu Ragusa.
Ragusa adalah kedai es krim yang didirikan oleh dua bersaudara asal Italia, Vincenzo Ragusa dan Luigie Ragusa pada tahun 1932.

Dulunya kedai ini berada di sekitar Pasar Gambir, namun sekarang Kedai es krim legendaris ini bisa traveler temukan di daerah Jalan Veteran, Jakarta Pusat.

Keunikan es krim Ragusa adalah es krim yang dijual merupakan buatan tangan dan bukan pesanan dari pabrik atau sejenisnya. Harganya pun relatif murah dan memiliki beragam varian rasa dna bentuk.

6. Kedai Es Krim Domino

Kedai es krim legendaris berikutnya ada es krim Domino. 

Es krim Domino dikelola oleh seorang bapak tua yang merupakan pemiliknya, Torus Tri Sanghana. Yang membuat kedai es krim ini terus bertahan dan eksis adalah bahan pembuat es krimnya asli dan tidak menggunakan bahan pengawet.

7. Es Krim Angi

Di Pontianak, ada satu Kedai es krim legendaris yang sudah ada sejak tahun 63 tahun yang lalu.
Meski awalnya dikenal dengan Es Krim Angi, tetapi kedai es krim di Pontianak ini terkenal dengan nama Es Krim Petrus karena letaknya yang berdekatan dengan lokasi SMP-SMA Petrus.

Tempatnya di Jalan KS Tubuh, Pontianak. Ada beragam rasa es krim yang ditawarkan di sini yakni stoberi, cempedak, vanilla, durian hingga nangka.

8. Tjan Njan

Kedai es krim legendaris berikutnya bisa traveler temukan di Hotel Cikini.
Tjan Njan merupakan Kedai es krim legendaris yang berdiri sejak 1951 dan pernah dikunjungi Presiden Ir. Soekarno.
Es krim Tjan Njan dikemas dalam beragam ukuran wadah mulai dari yang kecil hingga besar. Ada sekitar 12 varian rasa yang ditawarkan di antaranya es kopyor, alpukat, malaga, tape ketan, kacang ijo, durian hingga nougat.
9. Baltic
Tidak jauh dari lokasi es krim Tjan Njan, ada Kedai es krim legendaris lainnya yang sudah berdiri sejak 1939 yakni Baltic.

Kedai es krim Baltic ini bisa traveler temukan di Jalan Kramat Raya no.12 Jakarta Pusat. Kedainya yang tidak terlalu luas dan hanya bisa menampung sekitar 10 pengunjung, namun es krim yang dijajakan disini tidak mengecewakan.

Es krim disini tersedia dalam dua varian yakni es krim stick dan es krim cup. Rasanya juga beragam, mulai kacang ijo, cokelat, vanilla, kacang merah, kopyor, mocca, hingga peppermint.

10. Tropik

Kedai es krim legendaris terakhir yang bisa traveler coba yakni Tropik. Tropik merupakan restoran yang memiliki sajian menu es krim dan sudah ada sejak tahun 1950. Es Krim di Tropik restoran disajikan dalam wadah kaca berbentuk lonjong.

Satu porsi es krim terdiri dari rasa vanilla dan cokelat yang ditambahkan sepotong wafer lengkap dengan taburan kacang halus dan susu.
Tropik restoran berada terletak di Jalan Pasar Baru no. 28 A Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Ma Apa Kabar? Maafkan Aku - Move On

Ma Apa Kabar? Maafkan Aku - Move On

INIKECE - "Apa kabar Dunia? Apakah hari ini masih sama dengan kemarin?" gumamku sambil membuka mata. Hari ini adalah hari pertama sejak kepindahanku ke Bandung, kota kecil yang berhawa dingin. Aku masih saja berbaring di balik selimut.

Terlalu malas untuk mandi dan keluar dari selimut. Aku berbaring sambil menatap ke atas atap kamarku dan memperhatikan sekeliling kamarku lagi. Ini adalah tempat baru dan dunia baruku yang akan aku jelajahi mulai hari ini.

Alarmku kembali berbunyi, ini mungkin sudah ke sepuluh kalinya dan menandakan ini sudah pukul 09.00 pagi. Aku pun duduk ditempat tidur sambil berpikir apa yang akan aku kerjakan terlebih dahulu. Aku pun berpikir untuk mulai mencari pekerjaan tetapi lebih baik aku membereskan kamarku terlebih dahulu. Aku pun bangkit, mengambil handuk dan mandi. Aku terpikir untuk membeli sarapan terlebih dahulu.

"Neng, mau keluar?" sapa bapak penjaga kost ku. "Iya bapak, saya mah mau cari sarapan. Dimana tempat jual sarapan?" tanyaku sambil aku mengunci pintu. "Neng maunya apa? Didepan itu ada ibu pnejual kupat tahu, disebelah kanan kost ini ada ibu penjual nasi kuning dan di sebelah kiri ujung jalan ada penjual bubur ayam. 

Ada banyak disini neng hahaha" jawab di bapak sambil tertawa. "Ya sudah, saya sambil jalan saja deh bapak. Haturnuhun bapak", "Sama-sama neng, hati-hati. Kalau ada apa-apa, teriak saja". "Hahahah bapak bisa saja, mari bapak" sambil sya berlalu pergi.

Aku berjalan sambil melihat-lihat langit. 'Hai langit, apa kabar mu? Hai ma, apa kabarmu?' sambil menahan tangis. Aku pun langsung mengalihkan pandanganku ke arah penjual makanan, aku tak mau orang-orang melihatku menangis. Setelah berjalan dan melihat-lihat aku pun berhenti di tempat penjual batagor dan kembali ke tempatku. Setelah aku selesai makan, aku pun melihat-lihat kamarku. Aku berpikir untuk membereskan barang-barangku saja.

Aku mulai membuka satu persatu dan meletakkannya sesuai dengan tempatnya. Saat aku ingin membuka kardus terakhir, hatiku kembali sesak. Aku seperti tidak mau membuka kardus itu. Aku tahu ketika aku membukanya hatiku pasti menangis dan kembali teringat kejadian itu.

Kejadian yang sangat ingin kulupakan, kejadian yang membawaku ke tempat ini. Aku berusaha untuk tidak membukanya dan meletakkan kembali di ujung pintu. Aku pun beranjak dari tempatku dan membuka laptop. 'Ada baiknya, aku mencari-cari lowongan pekerjaan saja' pikirku.

Aku pun membuka laptopku dna mencoba mencari-cari lowongan dan melamar ke berbagai lowongan. Tiba-tiba aku terasa lapar, ternyata sudah pukul 15.00. Aku pun berencana untuk keluar mencari makanan. Dan aku terpikir untuk mengajak adikku. Aku meneleponnya dan kami berjanji  di sebuah kafe di tengah kota. Aku pun bersiap dan pergi.


Selama di perjalanan hatiku masih terasa berat untuk bertemu dengannya. Di depan pintu, aku sudah melihat dia ada disana dan hatiku sesak. Wajahnya sangat mengingatkanku kepada wajah mama.

"Kak, sini! Malah bengong!" panggil adikku sambil melambaikan tangan. Aku pun tersenyum dan menjumpainya. "Gimana hari pertama di Bandung? Gimana tidurmu kak, lelap? Dingin gak?" tanyanya sambil melihat-limat menu. "Biasa saja, ga ada yang beda. Kamu mau pesan apa?" tanyaku sambil aku melihat sekeliling kafe. Tempatnya sungguh adem dan membuat tenang. 'Mungkin ini bisa dijadikan tempatku untuk menyendiri' pikirku.

"Aku mau pesan ini. Kakak pesan apa? Lihat dulu", sambil dia memanggil pelayan. Aku melihat menu sambil mendengarkan adikku dan kami pun memesan makanan.

Aku memperhatikan wajahnya, persis seperti wajah mama. Aku sesak lagi. "Kenapa kak?" tanya adikku. Sepertinya di menyadari tingkahku. "Belum bisa lupa sama kejadian itu? Masih teringat mama dengan lihat wajahku?" tanyanya dengan ekspresi yaa ingin menangis. "Enggak kok, aku gak teringat itu. Sudah tak usaha dibahas". "Baiklah, terus recana kakak apa disini? Kakak sudah mulai melamar? Atau kaka masih mengurung diri sepreti kakak di Malang?" "Aku sudah mulai melamar pekerjaan disini. Semoga aku betah disini". "Kalau kakak butuh apa telepon aku. Kenapa sih kita harus beda tempat?" Tiba-tiba pelayang datang dan menghidangkan makanan kami.

"Aku gak apa-apa. Aku pengen sendiri saja". "Kak, aku sudah bilang berkali-kali itu bukan salah kakak. Kepergian mama bukan salah kakak. Kakak jangan gini terus". "Bisa kita gak bahas hal itu, kamu tahu kan aku ga mau bahas itu?" aku sedikit berteriak. "Ya sudah kak, kita makan dulu." Kami pun makan dan diam. Ini yang selalu terjadi setiap kami bertemu sejak setahun lalu kepergian mama. Hubunganku dan adikku sangat merenggang sejak kepergian mama.

Aku pun langsung bersiap-siap untuk pergi setelah selesai makan tetapi adikku menahan. "Kakak ga mau aku temenin malam ini? Kakak yakin?" "Aku gak apa-apa Rin, aku datang kesini untuk belajar melupakan semuanya dan membuka hal baru. Kalau ada apa-apa, aku pasti kabarin kamu."

"Kaka, sudah setahun kak. Please, aku ga minta kakak untuk lupakan mama tapi berhenti menyalahkan diri kakak terus. Papa dan aku dari awal tidak pernah menyalahkan kakak. Kami juga sampai sekarang tidak pernah lupa sama mama. Tapi gak begini kak" ."Iya, aku tahu. Aku sedang berusaha berdamai dengan diriku, Rin. Percayalah, aku ga akan melakukan hal konyol lagi". "Baiklah, kembalilah ke sosok kakak yang aku kenal. "Yaudah, kamu hati-hati ya." Kami pun berpisah. Aku melihat kepergian adikku dan aku pun mengendarai mobilku.

Selama di perjalanan, aku hanya termenung dan aku teringat mama. Wanita tercantik yang sangat sayang kepada kami. Setahun lalu, mama meninggal karena kecelakaan mobil bersamaku. Sejak saat itu, aku memang tak bisa memaafkan diriku. Aku kembali menangis. Aku berusaha untuk berdamai dengan diriku dan berhanti menyalahkan diriku. Tetapi setiap aku teringat kejadian itu, aku menangis lagi. Itulah alasanku kenapa aku berada disini. Aku pun memberhentikan mobilku dan menatap gelapnya langit. Andai aku bisa menggantikan posisi mama. Aku pun kembali terisak tiba-tiba ponselku berdering dan 'Papa' menelepon.

Aku mengangkat sambil menahan tangis. "Kak, apa kabarmu?" Aku terdiam, kalimat yang selalu membuatku ingin menangis dan aku menangis. "Kakak, sayang, nak, jangan menangis lagi. Mama sudah tenang di surga, nak. Bukan salahmu, nak. Bukan salahmu. Kamu tahu itu, kak. Itu murni kecelakaan. Sudah setahun, papa jelaskan ini ke kamu".
"Iya,

Pa" jawabku terisak. "Dengarkan papa, mama adalah wanita yang paling kuat dan penyayang. Papa adalah orang yang paling kehilangan mama sejak setahun lalu. Tapi, papa ga pernah menyalahkanmu. Papa sekarang hanya berpikir ada dua malaikat kecil yang harus papa jaga yaitu kamu dan adikmu. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu. Bangkit nak. Maafkan papa, kalau setahun papa mendiamkan kamu disini. Papa hanya merasa begitu bersalah dengan diri papa. Tetapi, papa sudah sadar. Kamu juga begitu kak, papa sangat sayang sama kamu".

"Pa, maafkan kakak pa". "Tidak ada yang perlu dimaafkan, hanya berjanjilah disana kamu akan baik-baik saja dan berdamai dengan dirimu dan masa lalumu". "Iya pa, aku jalan pulang dulu ya. Bye papa". Aku pun mematikan ponselku dan kembali mengemudikan mobilku.

Sesampainya di kamar, aku pun langsung menjatuhkan diriku di tempat tidur. Aku melihat kardus yang disudut pintu dan aku pun beranjak dan membukanya. Aku melihat satu persatu foto di dalam. Ya, foto mama dan aku. Aku kembali menangis, aku terisak. 'Aku rindu ma, maafkan aku ma. Aku akan berusaha berdamai dengan sumuanya ma. Aku akan jaga papa dan adik seperti pesan mama. Aku selalu sayang mama", sambil aku memeluk fotonya dan beranjak ke tempat tidurku. Aku pun tertidur.

Alam berbungi lagi, aku pun terbangun. Aku terdiam dan melihat lagi foto mama tetapi kali ini aku sambil tersenyum. 'Hai ma, Apa kabar? Apa kabarmu disana? Aku akan memulai semuanya dari awal ma.' Ini janjiku untukmu ma, Apa kabar mama? Aku rindu.



***

Biodata Penulis

Aku Angel, gadis berusia 27 tahun yang senang bermimpi dan berimajinasi. Aku lahir di Medan dn sekarang berada di Bandung. Aku senang membaca dan menulis dan juga segala sesuaut yang berkaitan dengan musik.

Kisah, Pesan Dari Puncak Bianglala - Move On

\

Kisah, Pesan Dari Puncak Bianglala - Move On

INIKECE - Xavier : Happy Graduation untuk periode ketiga. SELAMAT!!!
Zara : Kalian luar biasa.

Yulia : Periode ketiga sama kedua memang luar biasa. Semua diterima di perusahaan ternama.

Queen : Kok periode pertama nggak disebut luar biasa?

Rizwar : Ha...ha...ha... semua juga tahu kali diperiode pertama masih ada yang nganggur *Ups.

Ghio : Semua orang punya waktunya masing-masing!

Aku langsung melempar handphoneku ke sembarang arah. Percakapan online di grup seperti ini memang selalu aku hindari apalagi ketika di masa-masa wisuda seperti saat ini. Aku tersenyum getir melihat percakapan online itu karena aku tahu persis siapa yang dimaksud wisudawan periode pertama tetapi masih menyandang status pengangguran.

Jika saja tidak ada peraturan tidak tertulis, aku sudah sejak lama meninggalkan ruang obrolan online. Dulu aku memang merasa senang dengan ruang obrolan itu karena ketika aku menjadi salah satu dari lima mahasiswa yang turut serta dalam wisuda periode pertama di angkatanku dengan predikat cum laude semua teman-teman memujiku dan menaruh harapan besar kepadaku. Sinar masa depan seolah sudah terlihat jelas di depan mata meskipun realita tidak berkata demikian.

Aku menenggelamkan diriku di bawah selimut. Berusaha memejamkan mata dan melupakan semua percakapan di grup online tetapi satu yang tidak ingin aku lupakan ketika Ghio mengatakan jika semua orang punya waktunya masing-masing.

Hari ini adalah hari yang aku tunggu. Hatiku begitu berdebar hari ini dan aku pun tidak sabar menanti surat yang tak kunjung tiba. Aku harus beberapa kali naik turun tangga dan memastikan kotak pos di depan rumah sudah terisi tetapi sampai sore hari kotak pos masih kosong.

Setelah aku mengikuti serangkaian tes untuk menjadi seorang akuntan di salah satu perusahaan ternama akhirnya aku bisa sampai di tahap wawancara dan hari ini adalah hari pengumuman final. Jika aku diterima maka hari Senin esok aku sudah harus bekerja menjadi seorang akuntan seperti yang sudah aku impikan sejak dulu. Aku memiliki harapan besar untuk kesempatanku kali ini.

Semakin sore waktu berjalan semakin membuat perasaanku cemas. Kurir pos yang sejak tadi aku tunggu kehadirannya tetapi tak kunjung memampakkan batang hidungnya. Rasa ngantuk mulai menyerang ketika aku menunggu surat itu karena aku tidak bisa membohongi diriku jika aku tidak terpikirkan dengan perkataan teman-temanku di grup percakapan online tadi malam sehingga aku tidak bisa menikmati tidurku dengan nyenyak.

Aku terbangun ketika mendengar suara klakson motor dengan tumpukan surat dan kotak paket yang ada di samping kanan kiri motor. Aku langsung bangkit dan membuka pintu, berlari ke arah kotak pos untuk mengambil surat.

"Neng ada suart," kata kurir pos begitu melihatku.

"Ya, Pak terimakasih," ucapku sedikit membungkuk unutk memberi hormat atas jasanya.

Langit sudah gelap ketika aku menerima surat ini. Perasaanku mulai campur aduk ketika surat yang kutunggu sudah berada di tangan. Ketika sudah berada di kamar dan akan membuka surat ini tanganku tiba-tiba gemetar, perasaanku tiba-tiba begitu cemas. Aku tidak tahu ini firasat baik atau justru sebaliknya.

Aku tidak membaca jelas isi surat ini, selain logo dan tulisan PT. Citra Angkasa fokusku langsung pada tulisan dibawah. Aku dibuat tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat tulisan yang tidak kuharapkan.

Menyatakan Sudari Anathalia Sanjaya : TIDAK LOLOS SELEKSI.

Aku meremas surat yang ada di gengamanku. Ini adalah surat kedua belas yang aku terima sejak aku secara sah dinyatakan sebagai seorang sarjana dan ini juga berarti kedua belas kalinya penolakan ditujukan untuk diriku.

Hancur, lelah, putus asa adalah hal yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini. Aku hanya bisa menangis di dalam kamar tanpa ada hal lain yang dapat aku lakukan. Duduk di depan meja rias, berhadapan langsung dengan cermin semakin menunjukkan betapa hancurnya diriku saat ini. Aku menundukan kepalaku di atas meja rias, menumpahkan kekecewaan kepada diriku sendiri melalui tangisan.

Drt...Drt...Drt...Drt...Drt...

Suara getaran handphone menyadarkanku dari kesedihan. Aku mengangkat kepalaku dan menggunakan kedua penggung tangan untuk mengusap air mata yang masih terus mengalis. Tangaku berusaha meraih handphone di atas nakas. Aku tidak sanggup untuk membuka percakapan online itu karena melihat dari notifikasi saja sudah membuat napasku seolah terhenti.

Rizwar : Periode ketiga memang hebat. Ada tiga sarjana akuntasi yang diterima di PT. Citra Angkasa.

Xavier : Serius? Waaah bangga deh sama kalian, nggak sia-sia kuliahnya ilmunya bisa bermandaat. Selamat Selamat.

Queen : Keren, jadi akuntan di PT. Citra Angkasa kan nggak gampang. Selamat!!!

Zara : Nggak masalah ikut periode ketiga yang penting dapat pekerjaan, luar biasa...

Xavier : Coba kalau ada yang bisa jadi akuntan di BRB Coorporation itu lebih keren lagi.

Rizwar : Kalau memang ada yang sampai keterima di BRB, aku akan traktir makan sepuasnya.

Queen : Hahahah.... tapi itu rasanya nggak mungkin ada deh.

Handphone masih terus bergetar tetapi aku sudah tidak sanggup lagi menatap layar handphone. Rasanya nyaliku semaki menciut ketika membacanya. Ucapan teman-temanku membuatku merasa sangat putus asa dan tidak berguna sama sekali.

Setelah penolakan itu, aku menjadi lebih tertutup dan hanya menghabiskan jam demi jam dengan mengurung diri di kamar. Aku kehilangan semangatku untuk mengapai impian. Apa yang aku lakukan semuanya terasa sia-sia, hanya menguras tenaga dan pikiran tanpa ada hasil yang jelas. Aku benar-benar lelah dan putus asa dan aku juga telah memutuskan untuk menyerah dengan keadaanku sekarang.

Meskipun beberapa kali aku tetap mencari lowongan pekerjaan menjadi akuntan tetapi tidak ada satu pun yang aku daftar. Bayang-bayang kegagalan masa lalu menjadi trauma bagi diriku. Tidak ada lagi gunanya mencoba jika hanya kegagalan yang akan aku temui

Tok...Tok...Tok...

"Thal..." Terdengar suara ibuku. Pintu kamar dibuka. "Ada temanmu di bawah. Temuin, gih."

"Bu, bilang aja aku udah tidur," sahutku dengan senyuman yang aku paksakan.

Ibu mendekat ke arahku, duduk di pinggiran kasur dan menggangam tanganku erat.
"Thal, temui. Kasihan loh Ghio udah jauh-jauh ke sini."

Mau tidak mau aku menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Aku membuka pintu utama dan melihat sosok Ghio yang tengah duduk di kursi teras.

"Ghio..." sapaku lirih.

Ghio langsung bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di hadapanku. Gerak-geriknya terlihat canggung dan gugup. "Em..Thal, gimana kabarnya?"

"Baik"

Seketika tidak ada percakapan di antara kami, hanya saling pandang.

"Ada apa kamu malam-malam ke sini?" suaraku terdengar canggung berusaha memecah keheningan.

"Malem ini kamu sibuk nggak? Aku mau ngajak kamu pergi." sahur Ghio ragu.

Aku hanya tertawa mendengar ucapan Ghio sebelum menjawab pertanyaan yang menurutkan sangat konyol. "Aku sibuk? Mana ada pengangguran sepertiku sibuk. Kamu ini ada-ada aja."

"Maksudku bukan begitu Thal, maaf."

"Hahaha...santai aja kali Ghi semua juga tahu aku pengangguran," jawabku berusaha tegar.

Hening kembali melanda kami berdua, tetapi secepat kilat aku berusaha memecahkan keheningan itu. "Kamu mau ngajak aku kemana?"


"Ooh itu, ada festival night. Ayo kita ke sana."

Tidak ada jawaban dariku. Aku tidak siap untuk keluar dari sarangku, membayangkan jika nanti bertemu seseorang yang aku kenal di festival night, semuanya terasa lebih menyeramkan dari mimpi buruk. Pertanyaan dimana kamu kerja pasti akan langsung menghujaniku dan aku belum siap untuk itu.

"Maaf Ghi, tapi aku.."

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Ghio sudah lebih dulu menimpalinya "Sudah, anggap aja malam ini kamu cari udara segar. Cepetan gih kamu ganti baju aku tunggu disini.'

Ghio langsung memutar tubuhku dna mendorongku untuk segera mengganti pakaian. Aku memadukan sweater rajut warna merah marron dengan celana jeans hitam dan sepatu kets berwarna putih. Tak lupa aku juga mengikat rambut dengan model kucir kuda andalanku.

Aku merasa kagum ketika tiba di festival night. Semuanya terasa asing bagiku, rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan suasana seperti saat ini. Selama ini aku hanya sibuk hidup di dalam sarang karena takut untuk melangkah. Tanpa sadar senyuman terukit dari bibiku ketika melihat banyak orang bergembira berada di festival night.

Mungkin hanya aku yang datang ke festival dengan suasana hati yang kacau.

"Kamu mau apa?" Tanya Ghio.

"Entahlah."

"Bagaimana kalau kita naik bianglala?"

Aku langsung menghentikan langkahku seketika, menatap Ghio dengan tatapan menyelidik. "Kamu bercana? Nggak. Aku kan takut ketinggian, mana mau aku naik bianglala setinggi itu."

Hey, tidak ada salahnya untuk mencoba melawan rasa takutmu Thal."

"Kamu akan merasakan hal yang indah ketika berada di puncak bianglala."

Aku memandang bianglala dan tubuhku langsung merasa bergidik ngeri ketika melihat puncak bianglala. "Sekali nggak tetap...."

Lagi-lagi sebelum aku menyelesaikan ucapanku, Ghio sudah lebih dulu menimpalinya dan menggandeng tanganku menuju tempat pembelian karcis untuk naik Bianglala.

Sepukuh menit kita harus menunggu giliran hingga salah satu keranjang bianglala kosong. Selama itu juga keringat dingin terus mengucur dari dahuku. Aku meremas-remas bagian bawah sweaterku untuk menghilangkan sedikit rasa takut dalam diriku.

Tiba-tiba saja Ghio menautkan jarinya dengan jariku dan tersenyum ke arahku untuk menenangkan. "Semuanya akan baik-baik saja Thal. Percaya padaku."

Aku hanya mengangguk, menuruti semua ucapan Ghio.

Kini sudah saatnya kami masuk ke keranjang bianglala. Kakiku terasa begitu lemas ketika melangkah ke dalam keranjang bianglala tetapi gengaman tangan Ghio menjadi satu-satunya alasanku untuk tetap melangkah menaiki kerangjang bianglala. Aku duduk di sisi kanan sedangkan Ghio di sisi kiri dan Ghio mulai melepaskan gengamannya.

Setelah petugas mengunci keranjang bianglala dan memastikan semuanya aman, bianglala mulai berjalan naik ke atas dan seketika itu juga aku kembali menggegam kembali tangan Ghio dan memejamkan mata.

"Sudah Thal, Nggak apa-apa, sekarang coba kamu buka matamu, ada pemandangan indah yang rugi kalau dilewarkan," kata Ghio dan satu tangannya digunakan untuk mengusap bahaku. Perlahan aku mulai membuka mata dan benar saja pemandangan dari atas bianglala memang begitu indah dan sayang untuk dilewatkan.

Setelah dua kali bianglala berputar aku sudah mulai bisa menikmatinya. Rasa takutku sudah sirna, kini digantikan dengan senyuman dan rasa takjub dengan indahnya pemandangan kota dari puncak bianglala.

"Maaf."

"Untuk apa?" tanyaku bingung.

"Aku tidak bisa menjadikanmu akuntan di PT. Citra Angkasa, aku sudah beberapa kali mencoba merekomendasikanmu pada kepala HRD, tapi entahlah apa pertimbangan mereka, padahal aku tahu kamu memenuhi semua persyaratan perusahaan."

Aku menghela napas panjang. "Sudahlah Ghi jangan dipikirkan, lagian ini bukan salah kamu kok. HRD sudah mengambil keputusan yang tepat. Hanya belum waktuku saja," aku tersenyum ke arah Ghio.

"Oh..ya Thal, aku dengan BRB Corporation membuka lowongan untuk akuntan. Aku mau kamu coba karena aku tahu kamu pasti bisa.'

"Hm..tapi sayangnya aku sudah menyerah Ghi."

GREEKKK....

Tiba-tiba tubuhku terhuyun ke depan dan mulai menyadari jika ada yang berebda. Bianglala yang kami naiki mengalami kerusakan mesin dan berhenti berputar. Semua warna-warni lampu yang tadinya menghiasi bianglala ini menjadi redup seketika.

Keringat dingin mulai bercucuran dari dalam diriku. Tanganku kembali mengenggam erat tangan Ghio dan mata ini kembali terpenjam. Tubuhku pun mulai gemetar. Untung saja ada Ghio di depanku yang terus menerus menenangkan diriku.

"Sudah Thal, nggak apa-apa. Bentar lagi pasti nyala lagi kok, santai saja Thal."

"Gimana aku bisa santai, kali bianglalanya mati kayak gini. Ini kita diposisi paling atas Ghi, aku takut."

Aku menghela napas panjang untuk menenangkan diriku sendiri. Beberapa menit aku menunggu tetapi bianglala tak kunjung bergerak. Meski begitu aku sudah tidak setakut sebelumnya.

"Kenapa kamu menyerah?" Tanya Ghio ketika melihat kondisiku sudah mulai membaik.

"Untuk apa aku mencoba jika hanya bertemu dengan kegagalan.'

"Thal, hidup ini bukan cuma tentang kesuksesan tapi juga kegagalan."

"Ghi, kamu tahu apa tentang kegagalan? Kamu wisuda di periode kedua, jauh sesudah aku diwisuda dan kamu langsung diterima di perusahaan ternama, PT. Citra Angkasa bahkan kamu sudah mendapat promosi jabatan. Sedangkan aku? Aku sampe sekarang masih jadi pengangguran Ghi.." Tanpa sadar air mataku mengalir begitu saja.

"Maaf Thal, aku nggak bermaksud begitu."

"Enggak Ghi, aku yang harusnya minta maaf jadi sensitif seperti ini."

"Thal..."

Aku mengalihkan pandanganku dari pemandangan kota, menatap mata Ghio menunggu ucapan selanjutnya.

"Aku hanya bisa memberikan saran terbaik untukmu tapi Thal, satu yang harus kamu ingat bahwa hidup ini seperti bianglala. Untuk bisa berada di puncak dan menikmati pemandangan indah ini kita harus mulai dari bawah dan berproses hingga sampai di puncak. Semuanya memang menjadi keputsanmu Thal tapi aku berharap besar kepadamu. Kamu harus bergerak Thal untuk menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya. Sekarang, yang perlu kamu lakukan hanya fokus pada masa depanmu dan berdamai dengan masa lalu."

Aku tersenyum mendengar ucapan Ghio ketika bianglala sudah mulai berputar kembali.

Pesan yang aku terima malam itu, di puncak bianglala telah menyadarkanku dari keputusasaan, membangkitkanku dari keterpurukan, menggerakanku dair masa lalu untuk tetap melangkah ke depan, dan menuntunku ke arah yang lebih baik untuk menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya karena kini aku adalah seorang akuntun di BRB Corporation.

***

Penulis :

Tya Fitria hobi membaca novel dan komik. Ia berharap ceritanya bisa menginspirasi pembaca untuk bisa move on dari kegagalan karena cita-cita kita sudah menanti di depan sana untuk kita gapal.

Cerita Pertemuan Terkahir, Move On

Cerita Pertemuan Terkahir, Move On

INIKECE - Bangku panjang itu kosong. Biasanya ia sudah menantiku. Dia datang setiap hari, di jam dan tempat yang sama, sedang aku hanya datang ketika ingin. Meski begitu dia tidak pernah marah kepadaku.

Di hari-hari aku tidak hadir, dia tetap menanti dalam sunyi selama kurang lebih satu jam, sebelum kemudian beranjak pulang. Ya, aku kadang cukup tega untuk tidak menemuinya dan hanya mengamatinya dari kejauhan, meski sebenarnya aku datang. Mau bagaimana lagi, jujur memang ada saat-saat aku tidak ingin berbicara dengannya.

Aku duduk di pinggir dan menyadarkan punggungku. Kuletakkan tas jinjing di sisiku. Kurasakan belaian angin lembut, dedaunan kuning berguguran karenanya. Hamparan air terbentang beberapa meter di depan, riaknya menjauh perlahan seolah alur waktu melambat untuknya. Danau itu masih biru, sebiru saat pertama kali aku datang kemari.

Semburat emas cahaya matahari sore terpantul di permukaannya, memperkuat suasana tenang dan damai yang kurasakan. Kali ini, aku yang menunggunya. Ternyata penantianku tidak lama. Handaru berjalan perlahan ke arahku, dan meskipun aku tidak terbiasa mendengar langkahnya yang cepat namun dalam, entah mengapa aku tidak perlu menoleh untuk tahu keberadaannya.

Ia menghempaskan tubuhnya di ujung lain bangku itu, kemudian ia menghela napas panjang. Aku hanya memandanginya dalam diam. Kutunggu ia mengatakan sesuatu. Butuh berapa waktu sampai Handaru mulutnya dan menanyakan kabarku. Aku tidak menjawabnya. Masih mengamatinya sedari tadi, aku tahu ia sehat. Namun aku tetap bertanya balik padanya. Jawabannya sesuai ekspektasiku.

"Apa kabar anak kita?" tanyanya lagi.

"Baskara baik-baik saja. Hari ini dia kutitipkan pada neneknya," jawabku. Kualihkan pandanganku kembali ke danau. Dari sudut mataku terlihat Handaru mengangguk.

"Dia bisa beradaptasi? Sudahkah dia punya teman baru?"

"Dia baik-baik saja," ulangku. "Aku tahu kamu khawatir padanya, tapi seperti yang aku sudah bilang berkali-kali padamu, semua ini" aku mengangkat kedua telapak tanganku di atas bahuku," sepertinya bukan masalah yang berarti baginya. Baskara cepat beradaptasi, dan dia bahagia."

Handaru mengangguk sekali lagi, terlintas senyum getir di wajahnya. Perasaannya tercabik. Ia senang anak semata wayangnya bahagia, namun ada sebagian dirinya yang ingin anaknya sedih dan rindu padanya. Aku paham perasaan itu.

"Dia rindu kamu, tentu. Sering ia bertanya mengapa ayahnya tidak tinggal bersama dia lagi," tambahku.

"Dan apa jawabanmu?"

"Bervariasi, Kadang kujawab kamu sibuk, kadang kujawab kamu butuh menyendiri," kataku datar. "Kadang kujawab setengah jujur bahwa ayahnya memulai hidup yang baru, namun tidak bersama kami. Basakara cukup terpuaskan. Dia belum butuh tahu detailnya."

Handaru menunduk dan memejamkan matanya, "Aku minta maaf," katanya lirih.

"Jangan meminta maaf lagi, Mas, aku sudah memaafkanmu sejak permintaan maafmu yang pertama," balasku cepat. "Aku sudah ikhlas. Lagipula aku juga bersalah dalam hal ini. Namun tetap saja kita tidak bisa bersama lagi."

Handaru membuka matanya dna menoleh ke arahku. Pandangannya hangat. Perih hatinya terpancar lewat kedua matanya dna merasuk padaku, membuat dadaku tiba-tiba terasa sesak.

"Kamu perempuan yang baik, Andhini. Aku beruntung menikahimu."

Aku tidak merespons ucapannya dan bangkit dari dudukku. Kulangkahkan kakiku ke depan, mendekat ke tepi danau. Kulayangkan pandangku ke hamparan biru keemasan itu, mencari tepi sebaliknya. Seekor angsa putih terlihat berenang dengan tenang, meninggalkan dua garis jejak buih putih panjang di atas permukaan air yang berkilauan.

Handaru nampaknya melihat hal yang sama. "Kamu ingat pertama kali kita datang ke sini dulu? Mungkin itu angsa yang sama dengan yang kita lihat waktu itu. Rasanya sudah lama sekali."

"Ya, sepertinya begitu. Tapi dulu mereka berdua. Aku masih ingat mereka melengkungkan leher bersama, seolah membantuk simbol hati. Dimana pasangannya?"

Menyadari kemungkinan jawabannya, kami berdua terdiam. Angsa itu seolah menjadi alegori untuk kami, bahwa cinta memang tidak abadi. Kami sedang ditertawakan alam.

Handaru mengalihkan pembicaraan. Masih dalam nostalgia, kami mengenang kebersamaan kami terdahulu. Bagaimana kami berboncengan di atas sepeda motor tuanya untuk menuju ke danau itu. Bagaimana kami mampir ke sebuah warung makan untuk jajan bakso pangsit setelahnya. Bagaimana kami menjadikan tempat itu, bangku panjang itu, sebagai tempat kami berpacaran setiap akhir minggu. Bagaimana ia melamarku di tempat itu, sebelah lututnya di tanah saat ia bersimpuh memasangkan cicin berlian pada jari manis tangan kiriku.

Seperti yang kusebut sebelumnya, hari itu berbeda. Untuk pertama kalinya kami berbincang begitu panjang, begitu dalam. Kami menelusuri setiap relung memori indah yang kami punya, menggali, da melemparkannya kembali ke permukaan. Bangku panjang itu kami menyaksikan kebersamaan dua orang yang sudah lama hilang. Kami tertawa lagi setelah sekian lama. Handaru dan aku, kami pernah bahagia.

Tawa kami mereda seiring dengan selesainya pembicaraan topik kenangan manis. Angin meniupkan sehelai daun ke pangkuanku. Kuambil daun kuning itu dan kumainkan dengan jemariku.

"Aku tahu kamu masih transfer ke rekeningku setiap bulannya," ujarku. "Cukup, Mas, aku bukan lagi tanggung jawabmu untuk kamu nafkahi. Ambillah kembali. Aku tidak mengunakannya sepeser pun. Aku bahkan sudah tidak pakai rekening itu lagi."

Ini adalah salah satu hal yang paling kusebut saat kami bertemu. Dan setiap kali pula Handaru menyanggahnya, menyuruhku tetap menyimpannya. Untuk berjaga-jaga, begitu katanya.

Namun tidak kali itu.

Terdengar napas yang dalam dari sebelahku. Handaru masih diam. Nampaknya ia sedang berpikir keras. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya, menggosoknya beberapa kali, kemudian meletakkannya di atas kedua lututnya.

"Baiklah," jawabnya, "Kalau itu maumu, Andhini. Tapi kalau kamu butuh bantuanku, apapun itu, aku"

"Aku tidah butuh apa-apa. Doamu saja cukup Mas," potongku.

Handaru memandangiku sekali lagi. Dia mempelajari wajahku, seolah sedang memetakan ekspresi apa yang aku keluarkan. Dahi, hidung, dagu, begitu alur pandangnya. Namun akhirnya ia kembali ke mataku.

"Andhini," ujarnya. "Aku sudah memikirkannya. Aku selalu ragu, selalu menunda, karena sebetulnya aku tidak ingin. Aku takut. Tapi aku harus mengamil keputusan, dan mungkin inilah saatnya,"

Ia masih belum melepas pandangannya dari mataku. Aku menelan ludah.

"Ini adalah pertemuan terakhir kita."

Aku tidak percaya Handaru baru saja mengatakannya. Kupicingkan mataku, sedikit berharap aku hanya salah dengar.

"Tolong ulangi sekali lagi," pintaku memastikan.

"Mulai besok kamu tidak perlu menemuiku lagi di tempat ini. Karena mulai besok, aku juga tidak akan datang lagi kemari."

"Kamu yakin?" tanyaku.

Bola matanya bergerak. Dia megamati ekspresi wajahku lagi.

"Harus."

Kupalingkan wajahku darinya, "Kamu tahu apa yang aku rasakan sekarang, Mas? Aku lega. Memang seharusnya begitu. Aku sudah menunggumu mengatakannya dari dulu."

Mata Handaru melebar, seperti tidak siap mendapatkan reaksi seperti itu. Mulutnya bergerak ingin menyampaikan sesuaut, namun suaranya tertangguh di tenggorokannya. Beberapa saat kemudian ia menyerah, lalu kembali menghadapkan tubuhnya ke danau.

"Maksudku, seperti yang sudah kukatakan, aku bukan lagi tanggung jawabmu," tambahku, "Kita sudah berpisah, Mas, kamu bilang kamu takut? Aku juga. Pertemuan kita selama ini hanyalah pelarian dari rasa takut itu, penundaan atas sesuatu yang pasti terjadi. Aku mendukung keputusanmu bukan karena aku ingin, tapi karena ini kenyataan yang harus kita jalani. Ada alasannya mengapa aku bersikap dingin kepadamu selama ini, namun yang jelas itu bukan karena aku menyimpan dendam padamu. Aku sudah berdamai dengan diriku sendiri. Sudah waktunya kamu juga melakukan hal yang sama."

Handaru menghela napas, lalu tersenyum simpul. "Kamu memang selalu lebih rasional dariku, Andhini. itulah mengapa aku jatuh cinta padamu."

"Katanya perempuan lebih cepat dewasa daripada laki-laki," ujarku serius.

"Ya, sepertinya itu benar adanya."

Angin lembut kembali bertiup di tepi danau itu. Kubiarkan daun yang sejak tadi kupegang diterbangkannya. Sang angsa terlihat berenang menjauh. Aku mengerlingkan mataku ke arloji di pergelangan tangan kiriku.

"Saatnya aku pergi, Mas. Baskara sudah menungguku. Aku janji pulang lebih awal hari ini."

"Oh?" Handaru memeriksa arlojinya sendiri,"...ya, tentu saja. Tolong sampaikan salam sayangku padanya. Dan juga permintaan maafku untuk yang terakhir kali."

Kuambil tas jinjing dan aku berdiri, "Akan kusampaikan. Kamu juga akan langsung pulang?"

"Tidak," jawabnya." Sepertinya aku akan mampir dulu."

"Baiklah."

Handaru memandangiku berbalik dan berjalan menjauh, namun aku berhenti. Aku menoleh padanya sekali lagi.

"Mas Ndaru," kataku. "Semoga hidupmu bahagia. Aku mencintaimu. Selalu."

Tanpa menunggu reaksinya aku melanjutkna langkahku. Kutegakkan tubuhku. Tangisku berderai, namun kutahan diriku agar tidak terisak, supaya ia tak tahu.

***

Handaru memandangi sosok istrinya pergi. Rambut hitam panjangnya yang digerai, langkah kakinya yang anggun. Diperhatikannya terus hingga wanita itu hilang dari pandangannya. Itu adalah kesempatan terakhirnya, tidak ada lain kali.

Hatinya perih. Seperti ada lubang yang tiba-tiba muncul di dadanya. Kosong, namun berat dan menyesakkan. Terlebih karena Handaru sadar anggukan pelan kepala Andhini saat ia berjalan pergi menandakan bahwa wanita itu menangis. Mata Handaru berkaca-kaca, namun ia bersikeras menahan diri untuk tidak ikut berurai air mata.

Setelah Andhini pergi, Handaru berdiri dan melempar pandang ke danau untuk terakhir kalinya. Angsa putih itu sudah tidak lagi terlihat. Mungkin ia sudah tiba di sarangnya dan siap mengkhiri hari. Memikirkannya membuat Handaru teringat ia juga memiliki tempat yang ingin dituju sebelum gelap. Dia rindu ibunya.

Perjalanan dari danau menuju ke pemakaman umum membutuhkan waktu dua puluh menit menggunakan mobil. Handaru menyempatkan untuk membeli bunga tabur dan air mawar sebelum masuk ke dalam areal pekuburan.

Ia sudah lama tidak datang ke tempat itu. Berapa lama waktu berlalu sejak hari itu? Delapan bulan? Satu tahun? Dua tahun? Handaru tidak ingat. Dia bahkan hampir lupa di sebelah mana makam keluarganya dan tersesat, kalau tidak karena ia bertanya pada penjaga kuburan.

Setibanya ia di sisi makam ibunya, dicabutnya ilalang kering yang tumbuh liar dan disebarkannya bunga tabur yang ia bawa di atas pusara itu. Tidak lupa ia kucurkan air mawar setelahnya. Handaru lalu menghapus percikan tanah kering yang menutup nama ibunya di bantu nisannya yang nampaknya terciprat oleh hujan lebat kemarin malam,

Ratin Sastrowilogo binti Soebandriyo Sastrowilogo. Lahir : 18-04-1957, Wafat: 23-02-2017

23 Feruari 2017

Tanggal yang tertera itu membuka tabir memori yang Handaru pendam dalam-dalam, ingatan pedoh yang tidak ingin ia akui keberadaannya, tidak ingin ia bangkitakan lagi.

Kalau saja hari itu Handaru pulang kerja lebih awal.

Kalau saja hari itu ibunya dan Baskara tidak mereka ajak pergi untuk makan malam.

Kalau saja malam itu ia tidak bertengkar dengan Andhini di dalam mobil mereka.

Kalau saja malam itu ia fokus berkendara dan memperhatikan kaca spionnya.

Kalau saja malam itu ia melihat bus antar kota yang melaju seratus dua puluh kilometer per jam di sisi kanan kendaraannya.

Kalau saja ...

Cukup.

Berdamai dengan diri sendiri. Itu yang Andhini lakukan, dan Handaru bertekad untuk juga melakukannya. Berandai-andai dengan skenario-skenario khayalan tidak akan memutar balik waktu dan mengembalikan segalanya seperti semula.

Tangis Handaru pun pecah, air matanya berjatuhan di atas tanah kubur yang sudah basah sebelumnya oleh air mawar.

"Maafkan aku, Ibu maafkan aku yang melupakanmu. Aku yang baru mengunjungimu hari ini setelah sekian lama. Aku yang menolak menerima kepergianmu. Aku, anakmu yang durhaka..." isaknya. Diusapnya ujung batu nisan ibunya dengan lembut. "Semoga ibu tenang di sana, dan jauh darimu siksa-Nya."

Handaru menengadahkan tangannya dan berdoa dengan lirih dan khusyuk. Selesainya ia kemudian berdiri dan berjalan ke arah dua kuburan yang berada di samping makam ibunya. Ia berhenti sejenak di depan keduanya, kemudian ia berjongkok, dan dibersihkannya kedua makam itu. Dipandanginya kedua batu nisan itu bergantian, lalu ia tersenyum.

Andhini Citra Tunggadewi binti Darsa Yuwana. Lahir: 25-05-1988, Wafat: 23-02-2017

Baskara Jaya Pradipta bin Handaru Putramanggala. Lahir: 01-10-2012, Wafat: 23-02-2017

"Semoga kalian tenang di sana," katanya sembari menaburkan bunga dan mengosongkan botol air mawar di atas keduanya. Ditengadahkannya kedua tangannya dan didoakannya keluarga kecilnya itu. Air matanya masih mengaliri pipinya, namun seiring dengan setiap tetesnya yang jatuh Handaru merasakan perasaan lega yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Hatinya masih perih, tapi juga terasa lapang. Beban berat itu baru saja dicabut darinya.

"Ayah masih belum bisa menyusul, Nak" ujar Handauru sambil mengusap batu nisan Baskara, "Ayah mohon kamu jangan nakal dan jaga ibumu selama Ayah tidak ada, ya."

"Dan Andhini," Handaru berpaling ke nisan istrinya. "Mulai hari ini dan seterusnya, doaku akan menyertai kalian, itu janjiku."

Handaru bangkit berdiri. Dipandanginya ketiga pusara itu sekali lagi, kemudian ia berbalik menuju pintu gerbang pemakaman. Langkahnya kecil dan ringan.

***

Profit Penulis

Dean Budoyo, penulis kelahiran Yogyakarta, 08 September 1992. Tertarik dengan literatur, kucing, dan bakery. Sedang merintis usaha makanan ringan berbahan dasar mete.

Ulah Mahasiswa Unjuk Rasa, Seorang Polisi Terbakar Hidup-Hidup

Ulah Mahasiswa Unjuk Rasa, Seorang Polisi Terbakar Hidup-Hidup

INIKECE - Aksis unjuk rasa oleh sejumlah mahasiswa membuat atau mengakibatkan seorang polisi terbakar hidup-hidup oleh ulah mereka. Aiptu Erwin, anggota Polres Cianjur yang terbakar saat mahasiswa menggelar unjuk rasa di depan Pendopo Kabupaten Cianjur.

Aiptu Erwin, masih menjalani perawatan intensif di RS Polri Kramat Jati, Kamis sore (15/8/2019). Aiptu Erwin menderita luka bakar serius di sekujur tubuh.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko memaparkan kronologi kejadian tragis tersebut sebagai berikut. "Saat ini kita ketahui ada tragedi terbakarnya personel Polri khususnya di Polres Cianjur anggota tepatnya Polsek Cianjur Kota. Selain itu, dua personel dari Satuan Sabhrara Polres Cianjur juga menderita luka bakar," kata Truno di Mapolrestabes Bandung, Kamis (15/8/2019).

Truno mengemukakan, kronologi kejadian berawal dari unjuk rasa mahasiswa yang telah direncanakan sejak Senin 12 Aguspoker 2019 sesuai surat pemberitahuan ke Polres Cianjur dan ada pernyataan dari koordinator lapngan organisasi kepemudaan Cipayung plus Cianjur untuk melakukan audiensi terkait dengan kebebasan berpendapat atau mengemukakan pendapat.

Kemudian, hari ini Kamis (15/8/2019) sekitar pukul 12.00 WIB tiba rombongan mahasiswa 50 orang mengatasnamakan dari OKP Cipayung plus Cianjur menyampaikan pendapat terkait isu lapangan dan pendidikan. Mereka ingin audiensi khususnya di Pemkab Cianjur dan DPRD Kabupaten Cianjur.

"Namun upaya pengunjuk rasa (audiensi dengan pemda dan DPRD Cianjur) tidak berhasil menemui pimpinan dewan yang dimaksud. Kemudian mereka melanjutkan aksi unjuk rasa sekitar pukul 13.00 WIB" ujar Kabid Humas.

Mereka, tutur Truno, menggelar aksi unjuk rasa dan melakukan penutupan Jalan Siliwangi depan pintu masuk Pemda Cianjur. Akibatnya terjadi kemacetan arus lalu lintas di kawasan itu atau tidak tertib. Kemudian masaa mahasiswa membakar ban bekas.


Anggota Polri yang melakukan pengamanan dan menjaga ketertiban atas nama Aiptu Erwin, anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kelurahan Bojong Herang, Polsek Cainjur Kota, memadamkan api.

"Saat pemadaman api, ada salah satu oknum dari 50 orang mahasiswa yang disebutkan tadi, menyiram yang bersangkutan (korban Aiptu Erwin) dengan bahan bakar minyak yang mudah terbakar. Sehingga kondisi Aiptu Erwin terbakar dan saat ini sedang dalam penanganan medis. Khususnya di Rumah Sakit Polri Kramat Jati yang berkoordinasi dengan RSUD Cianjur," tutur Truno.

Selain Aiptu Erwin, ungkap Truno, dua anggota Sabhara Polres Cianjur yakni, Bripda Yudi Muslim dan Bripda FA Simbolon juga mengalami luka bakar setelah berusaha menyelamatkan rekannya dengan cara memadamkan api. "Sesaat setelah kejadian korban Erwin dan dua rekannya dibawa ke rumah sakit," ungkap Truno.

Sangat Manis! Kelakukan Kucing Willow Sering Membawa Bunga Ke Rumah Tetangga Barunya

Sangat Manis! Kelakukan Kucing Willow Sering Membawa Bunga Ke Rumah Tetangga Barunya

INIKECE - Tingkah lucu dan manis dari seekor kucing yang berama Willow, ia sering membawakan bunga berwarna pink ke rumah tentangganya. Sangat menggemaskan dan lucu, dimana biasanya kucing akan membawa mangsanya seperti tikur ke rumah. Tetapi beda dengan kucing yang satu ini.

* Sempat Menjadi Misteri

Kisah ini bermula saat seorang perempuan di Inggris bernama Rosie pindah ke rumah baru. Di teras rumah barunya, Rosie sering melihat ada banyak bunga berwarna pink berserakan.


Awalnya, Rosie mengira bunga-bunga ini terbawa angin. Namun, ternyata yang membawa bunga-bunga itu adalah seekor kucing lucu milik tetangganya yang bernama Willow.

Rosie pun terkejut dan berhasil merekam Willow yang sedang membawa bunga menuju teras rumahnya.




Willow juga sering tidur di lorong rumah Roise. Bahkan, Willow akan mengeong terus-menerus jika tidak dibukakan pintu.


Uniknya, tak hanya Rosie yang sering dikunjungi Willow. Para tetangga yang lain juga sering dikunjungi Willow. Mereka juga sering memberi makan Willow yang ramah ini.