Trik Menang Bermain Ceme Online Uang Asli

INIKECE - Ceme Online merupakan permainan kartu yang menggunakan kartu Domino dalam permainan.

Kisah Gadis Berpayung Jingga

INIKECE - "Sepertinya sebentar lagi turun hujan," ucap gadis yang duduk di sebelahku. Aku pun mendongak ke atas dan mendapati langit yang mulai menggelap. Aroma pekat tanah basah mulai tercium, embusan angin dingin juga mulai mengelus kulit.

Kisah Cinta! Rasa Yang Tidak Pernah Sampai Ke Hatinya

INIKECE - Menjelang pukul tujuh malam dia tiba dengan membawa plastik berlogo sebuah restoran cepat saji ternama. Hal yang kerap dia lakukan bila kami lembur untuk menyelesaikan laporan penerimaan dan stok barang.

Sebuah Kisah, Benci Tapi Jangan Dibalas Benci

INIKECE - Dulu aku begitu meyukai saat-saat aku harus bersekolah. Saat-saat aku akan menyapa teman-temanku saat berangkat dan pulang sekolah. Namun sekarang, untuk melangkahkan kaki melewati gerbang ini pun, rasanya benar-benar terasa begitu berat.

Ingin Mencoba Destinasi Di Atas Awan? Wisata Lebak Yang Lagi Hits

INIKECE - Bagi pecinta traveller, pasti selalu mencari kesenangan dalam mengunjungi suatu tempat yang sangat takjub, seru, dan menantang. Melihat berbagai keindahan alam yang sangat luar biasa indahnya.

Kisah Gadis Berpayung Jingga

Kisah Gadis Berpayung Jingga

INIKECE - "Sepertinya sebentar lagi turun hujan," ucap gadis yang duduk di sebelahku. Aku pun mendongak ke atas dan mendapati langit yang mulai menggelap. Aroma pekat tanah basah mulai tercium, embusan angin dingin juga mulai mengelus kulit.

Aku benci suasana seperti ini, sendu. "Ya, aku rasa memang akan hujan," sahutku padanya. Entah apa yang dibawa oleh gumpalan awan hitam yang lewat, mengapa setiap kali mereka datang hatiku selalu terasa hampa? 

Seperti ada sesuatu yang kulupakan, namun aku tak tahu apa itu. Kuhirup dalam-dalam udara ingin ini, berharap bisa memenuhi rongga hati. Sembari memejamkan mata, kubuka satu per satu memori di otakku. Mencari apa pun yang bisa memberikan jawabn ataupun kelegaan.

"Kamu bawa payung?" Gadis itu bertanya padaku lagi. Sontak aku segera membuka mata dan menatapnya tajam. Sebenarnya siapa dia dan apa maunya? Mengapa ia selalu mengajakku bicara?

"Bukan urusanmu!" Kali ini aku menjawabnya dengan ketus. Aku sudah sabar meladeni pertanyaan-pertanyaannya sedari tadi, tapi sepertinya orang itu tak ada niatan untuk berhenti menggangguku.

Saat ini aku benar-benar ingin berkonsentrasi. Sekali lagi kupejamkan mata. Mengapa aku membenci suasana sendu sebelum hujan turun? Tiba-tiba aku merasakan bulir air jatuh tepat di dahiku, tapi tak akan kubiarkan hal itu merusak konsentrasiku. Satu, dua, tiga, empat, bulir-bulir yang lain mulai menyusul. Ini tak bisa kubiarkan, tetesan demi tetesan air yang jatuh ke aspal mulai mengusik pendengaranku.

Aku pun membuka mata dan segera beranjak dari kursi. Pepohonan di taman ini juga mulai basah kuyup, tanah menjadi becek dan tawa anak-anak yang sedari tadi bermain di sekeliling pun lenyap. Satu demi satu orang-orang segera menepi, mencari tempat berteduh.

Namun aku tetap bergeming, rambutku pun mulai basah, diikuti sekujur badanku yang menjadi sasaran air hujan tanpa ada penghalang. Aku menoleh ke arah kanan, dak tak kudapati seorang pun. Bahkan gadis itu juga takut dengan hujan dan memilih bersembunyi.

Kakiku hendak melangkah mengikuti arah semua orang itu berteduh. Namun detik itu juga aku mengurungkan niat itu. Lagi pula aku sudah terlanjur basah, tak akan ada bedanya aku berteduh atau tidak. Akhirnya kuputuskan untuk tetap di sini dan duduk kembali. Sekali lagi aku mencari, tapi bukan di dalam pikiran melainkan di dalam hatiku. Percuma aku berpikir seribu kali, karena aku tahu memori itu tak tersimpan di otakku.

Sembari melihat para burung yang terbang mencari pepohonan rindang untuk berteduh, aku tersadar satu hal. Ya... Itu dia... sesuatu yang hilang itu, sesuatu yang hilang itu, sesuatu yang selalu kurindukan saat turun hujan. Pulang! Rumah! Aku ingin pulang. Seperti kawanan burung yang hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya, begitu pula dengan diriku. Aku juga harus kembali ke rumah.

Sekarang aku harus pulang, tak bisa kutunda-tunda lagi. Tekadku sudah bulat, aku akan pulang saat ini juga. Aku kembali berdiri dan menatap sekeliling. Tunggu... Ke arah mana aku harus pergi? Ke kiri kah? Atau Kanan? Apakah lurus ke depan? Atau malah balik ke belakang? Mengapa semua jalan ini terasa asing?

Di saat aku kebingungan memilih arah, aku baru sadar tak ada lagi tetesan hujan yang mengenaiku. Apakah sudah reda? Tapi sejauh mata memandang, aku masih melihat garis-garis air yang jatuh dari atas. Aku mendongak dan mendapati sesuatu yang menghalangi hujan menerpaku.

Sebuah payung lebar berwarna jingga, gadis itu yang membawanya. Ia tepat berada di belakangku menggenggam gagang payung tersebut dan mengarahkannya kepadaku. Sejak kapan ia berada disini? Bukankah tadi ia pergi karena takut pada hujan? Mengapa sekarang ia malah berdiri di belakangku melawan hujan?

"Kok kamu balik lagi sih?" Tanyaku geram. Gadis itu hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaanku. Ia malah meraih tanganku dan menggenggamkan gagang payung itu padaku. Kemudian ia pun pergi dengan tubuh yang basah. Oh... Tidak... Gadis itu membuatku melupakan jawaban yang telah kutemukan tadi.

Satu kata... aku ingat hanya satu kata yang dapat memancing ingatan itu. Dan tetap saja aku tak dapat mengingatnya kembali, walaupun telah berulang kali aku memejamkan mata, mendongak ke langit, dan menatap sekeliling. Mungkin hari ini cukup sampai di sini. Dengan putus asa, aku pun melangkah gontai menyusuri jalanan.

Angin berembus sangat kencang, membuatku harus menggenggam gagang payung dengan kuat karena payungku sudah terasa seperti diseret ke belakang. Baru kusadari ada sebuah label kertas yang tertempel pada gagang payung yang kupegang. Di situ tertulis; Jalan Anggrek Timur No 98. Alamat itu terasa sangat familiar di telingaku.

Setelah bertanya pada orang sekitar, aku memutuskan untuk pergi ke alamat tersebut. Sesampainya di depan rumah, aku mengetuk pintu dan menekan bel, namun tak ada yang menyahut. Hatiku mendorong untuk terus masuk ke dalam rumah itu. Ternyata pintunya tidak terkunci, aku pun menaruh payung jongga yang kubawa di teras depan dan segera masuk.

Pemandangan pertama yang kulihat adalah rak sepatu yang ada di ujung lorong dekat pintu masuk, tak ada yang aneh dengan rak tersebut, yang membuatku heran justru malah rak di sampingnya. Disana, bertumpuk payung-payung berwarna jingga sama seperti payung yang kupakai tadi, dan anehnya di setiap payung terdapat label alamat yang sama. Hatiku mulai gusar, ada sesuatu yang seharusnya aku tahu.

Kulangkahkan kaki menyusuri ruang tamu, terdapat beberapa bingkai foto yang tertata rapi di kabinet. Aku terperanjat kaget melihat beberapa foto yang kukenal betul, aku mengambil sebuah foto dua orang gadis saling merangkul dan tersenyum manis.

Itu adalah foto diriku dengan gadis berpayung jingga yang aku anggap menyebalkan. Bagaimana bisa? Apa kau mengenalnya? Mengapa aku bisa tak mengingatnya? Satu lagi pertanyaan yang membuatku ternganga, kalau begitu, inikah rumahku? Bagaimana aku tak mengenali rumahku sendiri???

Di tengah kalutnya pikiranku, muncul seseorang dari dalam kamar.

"Udah berhasil pulang?" Gadis itu bergegas menghampiriku dan memberikan handuk padaku.

"Kamu siapa? Kok aku bisa nggak ngenalin kamu? Gimana bisa aku lupa sama rumahku?"

Lagi-lagi gadis itu hanya tersenyum. Kepalaku terasa pusing, berbagai pertanyaan yang tiba-tiba datang membuat otakku seperti sedang digodam palu besar.

"Nina, aku temen serumahmu, Mara. Sahabatmu satu-satunya. Nggak perlu ngerasa bersalah kalau kamu nggak inget aku, setiap hari aku bakalan ada buat kamu, aku bakalan selalu ingetin kamu ulang. Tentang aku, tentang kamu, dan juga tentang kita. Yah walaupun besok kamu bakal lupa lagi sama yang aku omong hari ini. He He.."

Tiba-tiba sebersit ingatan muncul, samar-samar aku melihat kenangan-kenangan masa lalu, dimana aku dan gadis di depanku ini bersama. Benar dia memang sahabatku satu-satunya yang aku sayang. Mengapa aku benar-benar tak bisa mengingatnya?

"Kamu tahu kenapa aku bisa lupa? Terus tadi kamu bilang besok aku juga bakal lupa lagi sama hari ini? Kok bisa gitu? Aku nggak mau lupa lagi, aku nggak mau lupain kamu lagi."

"Tahun lalu kamu kecelakaan, terus kamu mulai nggak bisa nyimpan memori lebih dari sehari. Udah, nggak usah dipikirin, yang penting kan sekarang kamu tahu aku sahabatmu. Sana mandi keburu malam nanti tambah dingin. Aku udah bikin cokelat hangat buat kamu."

Aku pun menurut dan segera masuk ke kamar mandi, namun pikiranku masih berkelana. Jika aku selalu melupakan apa yang terjadi hari ini, berarti setiap hari Mara akan selalu datang menjemputku ke mana pun aku pergi, memberiku petunjuk untuk pulang karena aku selalu ketus dan tak percaya pada orang yang kuanggap asing, serta menjawab semua pertanyaan yang mungkin saja berulang tiap harinya? Dia selalu ada untukku dan tak pernah lelah walaupun aku tak menganggapnya sahabat lagi karena aku selalu melupakan dirinya.

Air mataku menetes membasahi pipi, aku pun mulai sesengguhkan. Akankah besok aku menyusahkannya lagi? Akankah besok aku ketus padanya dan menganggapnya gadis menyebalkan yang suka mengganggu orang lain? Maafkan aku Mara... Sahabat terbaik yang pernah ada.. Semoga kau tak pernah lelah menantiku di tengah hujan dengan payung jingga mu itu.. Terima kasih sahabatku, gadis berpayung jingga yang selalu ada untukku.

Penulis :

Amelia Dewi Kumala, gadis yang sedang berkelana di Surabaya ini gemar menulis sedari kecil, karyanya sudah ada beberapa dalam buku kumpulan cerpen.

Trik Menang Bermain Ceme Online Uang Asli

Trik Menang Bermain Ceme Online Uang Asli - AGEN CEME PRUDOMINO


Ceme Online merupakan permainan kartu yang menggunakan kartu Domino dalam permainan. Berbeda dengan Domino Online atau yang biasa di sebut juga sebagai Domino99 Dalam permainan Ceme masing-masing player hanya di berikan 2 buah kartu saja.

Dalam permainan sendiri terdiri dari 1 BANDAR dan 7 PEMAIN. Sebagai bandar anda akan di hadapkan dengan 7 orang pemain dalam 1 putaran meja. Sebelum bermain Pemain di wajibkan untuk memasukan nominal taruhan yang ingin di mainkan pada puratan tersebut. Jika Kartu permain lebih besar dari pada bandar maka bandar harus membayar senilai taruhan yang di berikan oleh pemain tersebut berlaku sebaliknya jika bandar menang maka nilai taruhan akan di menangkan oleh sang bandar.

Beberapa Point yang harus di ingat dalam permainan Ceme Online adalah sbb:


  • Nilai kartu hanya di ambil 1 Digit yang arti nya jika anda mendapat 19 maka di hitung nilai kartu anda adalah 9
  • Nilai Tertinggi adalah 9
  • Nilai Terendah adalah 0
  • Jika Pemain mendapatkan point 9 maka nilai taruhan yang di menangkan akan di kali 2.
  • Jika Bandar mendapatkan point 9 maka semua taruhan akan di menangkan oleh bandar
  • Jika Bandar dan Pemain memiliki nilai yang sama maka tetap di menangkan oleh Bandar.
  • 1 Bandar akan berhadapan dengan 7 pemain lainnya.
  • Pemain yang menjadi bandar memiliki kemungkinan lebih besar untuk menang.
Seperti yang di jelaskan pada point diatas,Pemain yang menjadi Bandar memiliki kesempatan lebih besar untuk menang karena anda akan berhadapan dengan 7 pemain lainnnya.Tetapi dalam permainan Ceme Online hanya 1 orang yang bisa menjadi bandar dan anda tidak akan bisa menjadi bandar kecuali pemain yang menjadi bandar tersebut keluar dari permainan.

Berbeda hal nya dengan Ceme Online, Ceme keliling lebih cocok dimainkan bagi anda yang suka menjadi bandar atau tidak mendapatkan kursi menjadi bandar di permainan Ceme Online, Dalam Permainan Ceme keliling Pemain berkesempatan menjadi bandar jika CHIP yang di miliki mencapai minimum bandar pada meja tersebut.

Pemain akan dapat merasakan menjadi bandar secara bergantian dalam meja tersebut, Bandar akan berputar searah jarum jam sesuai pemain yang memiliki dana cukup untuk menjadi bandar.

Beberapa Tips dan Trik untuk menang dalam permainan Ceme Sbb :

  1. Bermain sebagai Bandar
  2. Jangan terbawa emosi dalam permainan
  3. Perhatikan Kartu bandar/Hokky bandar
  4. Coba berganti meja atau tempat duduk selama bermain.
  5. Selalu memasang Jackpot
Sekian Tips dan Trik Bermain Ceme Online yang bisa kami ulas bagi anda pecinta Ceme Online Indonesia.

Kisah Cinta! Rasa Yang Tidak Pernah Sampai Ke Hatinya

Kisah Cinta! Rasa Yang Tidak Pernah Sampai Ke Hatinya

INIKECE - Menjelang pukul tujuh malam dia tiba dengan membawa plastik berlogo sebuah restoran cepat saji ternama. Hal yang kerap dia lakukan bila kami lembur untuk menyelesaikan laporan penerimaan dan stok barang.

Saat menjelang akhir tahun, biasanya perusahaan tempatku bekerja selalu melakukan stock opname. Tempat kerjaku ini punya ritme kerja yang tidak tentu. Menjelang order baru turun ke produksi, kesibukanku kerap menguras waktu dan pikiran. Terutama saat datang barang.

"Makan dulu, biar aku saja yang menyelesaikannya. Kamu perlu makan untuk mengembalikan staminamu," ujarnya sembari mengambil alih tumpukan laporan stok barang di hadapanku.

"Kamu sendiri?" aku menatapnya sekilas dan segera memalingkan wajahku dengan cepat sebelum ia melihat wajahku yang selalu memerah bila ada di dekatnya.

"Sudah, tadi di mobil."

Aku mengambil makanan yang ia bawa, tetapi tidak menghentikan pekerjaanku. Aku biasa mengerjakan sesuatu sambil makan. Dia mendelik dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku tidak bisa lembur lebih dari jam delapan," ujarku memberi alasan.

"Bukannya ada mobil perusahaan untuk antar jemput?"

"Rumahku jauh, kasihan sopirnya."

"Kamu bisa ikut mobilku."

"Bukannya rumah kita berlawanan arah?" aku menatapnya tak percaya.

Dia cuma tersenyum tipis seraya mengangkat bahunya. Dadaku berdesir halus karenanya. Sudah empat bulan ini ia menjadi konsultan di tempatku kerja. Namanya Adrian. Ia hanya datang seminggu sekali. Sejak kedatangannya kemari, jantungku selalu berdegup lebih cepat dari biasanya dan aku selalu berharap Selasa adalah besok.

Entah mengapa, di mataku ia begitu menarik. Aku sendiri bingung, tidak biasanya aku langsung tertarik dan menyukai seseorang yang baru kukenal.

Setiap melihat Adrian, perasaanku selalu sulit kukendalikan. Ada hasrat yang menurutku tidak tahu malu saat berada di dekatnya. Aku selalu berharap ia melingkarkan lengannya dibahuku atau membayangkan dia menggandeng tanganku ketika kami keluar makan siang bersama.

Keinginan yang benar-benar tidak masuk akal, tetapi selalu membuatku tersipu-sipu dan bahagia membayangkannya.

Aku mulai menyimpan sosoknya di hatiku setelah kami sering melakukan pekerjaan bersama. Itu karena pekerjaan kami saling berkaitan, aku adalah kepala gudang pusat dan dia perlu data akurat untuk semua barang yang masuk dan keluar dirku. Namun, sejauh ini aku hanya bisa menyimpan perasaanku ini dalam hari saja.

Aku hanya bisa mencintainya diam-diam. Mungkin karena kodratku sebagai perempuan melarangku untuk mengungkapkan perasaanku dengan gamblang. Meski zaman sudah berubah, tetapi pola pikirku masih konvensional. Aku merasa tidak malu karenanya.

"Aku dengar dia sudah punya kekasih." Letta, teman karibku dari bagian eksport impor, berbisik tepat di telingaku saat Ci Lusi memperkenalkannya kepada kami.

Aku berlagak tidak mendengarnya.

"Aku dengar juga ia akan segara menikah," lanjut Letta membuat telingaku panas.

"Jangan suka bergosip," Letta berhasuil memancing reaksiku.

"Itu yang kudengar."

"Seandainya dia punya kekasih pun apa urusannya dengan kita?"

"Kalian akan sering kerja bareng, hati-htai saja," godanya.

"Hei, apa hubungannya denganku?" tanyaku dengan mimik sedatar mungkin.

"Aku hanya mengingatkanmu saja. Jangan pernah jatuh cinta pada pria yang sudah memilih di mana hatinya berlabuh karena kudengar dia pun telah bertunangan."

"Sssttt... berisik! Jangan suka mencampuri urusan orang lain," aku berusaha mengakhiri percakapan. Letta memang biang gosip. Namun, untuk gosip mengenai Adrian, aku terlalu takut untuk mendengarnya. Mungkin karena aku sudah  tertarik saat pertama melihatnya.

Selama tujuh bulan mengenal Adrian dan cukup sering melewatkan waktu dengannya, aku tidak pernah mendengar dia membicarakan seseorang yang dekat dengannya atau secara tidak sengaja mendengarnya berbicara dengan seorang perempuan saat bertelepon.

Jika dia memang lebih bertunangan, aku tidak melihat ada cicin yang melingkar di jarinya! Untuk alasan apa pula dia mengelabui orang lain? Ukh, seharusnya aku tidak perlu pusing memikirkannya! Membuat perasaanku jadi gelisah dan tidak nyaman saja.

Aku jadi ingat saat pertama kali aku tertarik dan menyukai seseorang. Jika tidak salah saat aku SMP. Orang itu adalah Obaja, pria dewasa pacar tanteku. Dia memiliki mata teduh yang memesona. Sulit sekali meredam perasaan sukaku padanya.

Jantungku selalu berdegup lebih cepat dari biasanya setiap kali ia datang menemui tanteku. Berbagai cara aku lakukan agar bisa melihatnya. Bahkan, dengan mengintipnya saat mengobrol dengan tanteku.

Bila kuingat-ingat kembali saat itu, aku merasa konyol dan bodoh. Syukurlah, mereka tidak berjodoh. Jika mereka jadi menikah, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.

***

Sudah dua minggu ini Adrian tidak datang. Berarti selama dua kali pertemuan ini aku tidak melihatnya. Aku sangat kehilangan dan merindukannya. Tidak ada yang bisa kutanya selain aku juga malu untuk menanyakannya.

Andai aku tidak menyukainya secara diam-diam, tidak akan segelisah ini. Aku bisa meneleponnya dan menanyakan langsung padanya, tetapi statusku saat ini bukan siapa-siapa dia. Meski kami sering keluar makan siang bersama dan ia kerap mengantarku pulang bila kami lembur, semua itu karena pekerjaan.

"Jika kuhitung, entah sudah berapa kali kamu menarik napas terus. Ada apa, Ra? Akhir-akhir ini kamu sering gelisah dan enggak fokus dengan pekerjaanmu?" Letta menyentuh punggung tanganku sekilas. Tatapannya dalam, menanti jawaban.

Aku hanya melempar senyum tipis dan menggeleng. Mana mungkin aku cerita padanya. Mau ditaruh dimana mukaku?

***

Aku hampir tak percaya menatap sosok yang saat ini melenggang ke arahku. Tentu saja perasaanku meluap karena bahagia. Dua minggu ini aku sangat merindukannya. Benar-benar merindukannya.

Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Mukaku pun menghangat tiba-tiba. Entah karma apa yang tengah menimpaku sehingga aku begitu tergila-gila padanya. Seingatku, aku belum pernah menyakiti siapa pun. Putus dengan mantanku setahun lalu pun secara baik-baik, semata karena dia pindah kerja ke luar kota.

"Aku mau mengambil laporan stock opname, sudah selesai, 'kan?"

Aku mengangguk gugup. Celakanya, tanganku pun ikut gemetar sehingga berkas yang kupegang terjatuh dan berserakan di mejaku. Wajahku pasti telah memucat, apalagi ketika dia membantu membereskan berkas yang berserakan.

"Kamu sakit?" tanyanya sembari menatapku.

"Maaf... aku hanya tidak sempat sarapan," jawabku berbohong.

"Jangan dibiasakan," ia tersenyum tipis.

"Dua kali pertemuan kamu tidak datang," Astaga! Sedetik kemudian aku menyesali mulutku yang lancang.

"Ada urusan keluarga."

Aku cuma manggut-manggut.

"Semuanya sudah beres, 'kan? Aku harus menyerahkannya segera ke bagian accounting."

"Karena itu kamu datang pada hari Sabtu." aku memberanikan diri menatapnya cukup lama.

"Hhmmm... Kalau begitu terima kasih dan sampai bertemu Selasa depan."

Aku hanya bisa menatap kepergiannya hingga lenyap dari jangkauan mataku. Ada rasa lega yang membuat rongga dadaku terasa lapang. Sampai bertemu Selasa depan, kalimat itu membuat perasaanku membuncah. Tanpa sadar kubuang napas panajng. Cukup keras hingga menarik perhatian Letta yang baru datang.

"Kamu pasti senang."

"Apa?" Mataku menyipit.

"Orang yang membuatmu gelisah. Kamu menyukainya, 'kan?"

"Sssttt... hati-hati! Orang lain dengar jadi gosip," aku menyikut lengannya.

"Aku tahu kamu menyukainya. Karena menyukainya kamu jadi merindukannya saat dia tidak ada. Aku..."

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tanganku membungkam mulut ceriwisnya.

"Baiklah, aku memang menyukainya. Puas?"

"Kenapa? Karena di menarik dan tampan?"

"Yang kamu katakan termasuk di dalamnya," jawabku setelah berpikir sesaat.

"Tapi, apa yang menurut mata kita baik enggak selalu harus kita miliki, Ra."

Aku tidak menanggapi kata-kata Letta. Dengan segera kutinggalkan dia sendiri, sebelum ia menggodaku terus. Saat ini aku sedang berbahagia dan berharap Selasa segera tiba.

***

"Jangan lupa datang dengan pasangamu, ya,"  ujar Adrian sesaat setelah ia masuk ke ruanganku seraya menyerahkan sebuah undangan.

"Undangan siapa?" tanyaku berdebar. Perasaanku benar-benar tidak enak. Sesaat kutatap wajahnya. Ada binar bahagia di sana. Aku berusaha mengenyahkan perasaan tidak nyaman yang menyerbu tiba-tiba di hatiku.

"Aku dan Kanaya."

Aku tertegun. Seluruh persendianku terasa lemas. Sesuatu terasa menohok dadaku. Sakit dan membuatku sulit bernapas.

"Sekanat," dengan susah payah keluar juga ucapan itu dari mulutku.

"Terima kasih. Kamu harus datang, jangan sampai tidak."

Aku mengangguk lemah. Kuberikan senyum kecil. Senyum terburuk yang pernah kuberikan karena penuh kepalsuan. Andai tidak malu, saat ini tangisku pasti sudah pecah. Selanjutnya aku tidak ingin melihatnya pergi hingga kusadari seseorang menyentuh bahuku dari belakang,

"Meski sulit kita harus merelakan seseorang yang bukan takdir kita," Letta berujar pelan.

Hanya senyum patah yang bisa kuberikan ucapan terima kasih untuk penghiburan yang ia berikan. Sedetik napas panjang. Aku jadi teringat kata-kata Letta bahwa apa yang sempurna menurut mata kita tidak harus kita miliki.

Sebuah Kisah, Benci Tapi Jangan Dibalas Benci

Sebuah Kisah, Benci Tapi Jangan Dibalas Benci

INIKECE - Dulu aku begitu meyukai saat-saat aku harus bersekolah. Saat-saat aku akan menyapa teman-temanku saat berangkat dan pulang sekolah. Namun sekarang, untuk melangkahkan kaki melewati gerbang ini pun, rasanya benar-benar terasa begitu berat.

Perasaan takut, cemas, hingga rasa sakit hari terus menghantuiku. Mereka yang dulu begitu senangnya saat dekat denganku, kini berbalik memandang sinis hingga bahkan terlihat jijik denganku. Tau karena apa? Karena aku kini menyandang status sebagai anak koruptor.

Cacian hingga kontak fisik sering sekali aku dapatkan semenjak ayah mendapatkan tuduhan itu. Bahkan sempat ada niatan untuk aku meninggalkan sekolah ini, jika saja bukan karena beasiswa yang berhasil aku dapatkan di sekolah ini, karena ayah memang rajin sekali meyumbangkan dana di sekolah ini dulu.

"Yang salah itu aya! Kenapa aku yang dihakimi!" teriakku melampiaskan segalanya di atap sekolah yang mungkin menjadi satu-satunya tempat di sekolah ini yang masih menerima kehadiranku.

***

Krriinggg!!!

Bel masuk pun berbunyi dengan kencangnya. Ahh... helaan nafas ini sepertinya cukup untuk menggambarkan betapa malasnya aku untuk masuk ke kelas yang kini mungkin seperti lubang neraka untukku.

Dengan langkah gontai dan berusaha untuk tidak menghiraukan bisikan-bisikan di arah sekitarku, akupun langsung menduduki kursi pojok yang terlihat begitu jauh dari bangku lainnya. Mungkin kursi ini bisa terbilang sebagai kursi terkucilkan, seperti nasibku saat ini.

"Bulan, tolong bantu ibu isikan spidol ini" ujar guru matematika yang kini tengah mengajar. Namun aku enggan mendengar dan berpura-pura tertidur.

"Kalo manggil dia itu harus kayak gini bu"

Buukk!! Sebuah tendangan kuat pada kursi yang kududuki berhasil membuat kepalaku yang kutidurkan di atas meja terbentur seketika. Hal itupun cukup membuat gelak tawa langsung meramaikan seisi kelas ini.

"Sudah diam semuanya!!" teriak guruku berusaha menenangkan kelas kembali.

Tak ingin mendengar namaku dipanggil untuk kedua kalinya, akupun langsung berdiri untuk menuruti perintah guruku itu. Namun belum sempat sepenuhnya berdiri, breettt!!! terdengar bunyi robekan pada rok yang kini tengah ku kenakan. Gelak tawa pun kembali meramaikan kelas.

Merasa tindakan yang mereka lakukan ini sudah sangat keterlaluan, akupun membanting mejaku yang sukses membungkam tawa yang tadinya begitu terlihat sangat ramai.

Tes...namun ternyata aku tak cukup berani untuk menyuarakan apa yang sebenarnya ingin sekali aku teriakkan pada mereka saat ini. Tangisan yang entah sudah keberapa kalinya aku keluarkan, kembali keluar hari ini. Dan aku hanya bisa melarikan diri menuju tempat yang dapat menyembunyikan tangisanku ini.

Lagi-lagi aku hraus berakhir di atap sekolahku ini. Menebrangkan pesawat-pesawat dari kertas yang memang kusimpan di salah satu sudut atap sembari menunggu tangisku reda dengan sendirinya.


Kuhentikan tanganku yang sudah siap menerbangkan pesawat kertas buatanku ini karena suara yang tampak begitu asing di telingaku. Akupun spontan melihat ke sosok laki-laki yang kini tengah terlihat duduk di sampingku.

"Gak takut duduk sama aku? semua anak di sekolah ini kan nganggep aku sampah" ujarku dengan senyuman simpul.

"Badan kecil kayak kamu, paling kalau gigit juga gak bakalan sakit" ujar laki-laki tersebut dengan nada santai.

"Harusnya kalaupun kamu punya banyak tenaga, kamu pakai tenaga itu untuk ngelawan mereka yang terus-menerus ganggu kamu, Bulan"

Tak dapat menutupi rasa terkejutku, aku spontan menatap tajam ke arah laki-laki yang terlihat tidak seperti siswa di sekolah ini. Bagaimana mungkin ia mengetahui namaku, pikirku dalam hati.

"Sampai kapan kamu nangis, terus marah-marah padahal gak berguna kalau gak ada yang dengerin apa yang pengen kamu ucapin ke meraka itu," Dan bagaimana dia tahu tentang apa yang terjadi padaku saat ini.

"Siapa sih?!" ujarku mulai kesal dengan ucapan laki-laki ini.

"Saga" ujarnya mengulurkan tangannya padaku sembari tersenyum.

Alih-alih membalas uluran tangannya, aku segera beranjak dari dudukku untuk segera pergi meninggalkan orang aneh ini.

"Waittt!" ujarnya berseru padaku. Dan anehnya, aku mengikuti ucapannya itu dan menghentikan langkahku seketika.

"Rok kamu kan bolong" ujarnya lagi sembari mengikatkan jaket yang dikenakannya untuk menutupi rok bolongku.

"Makasih sebelumnya, tapi..."

"Udah pake aja, kelasku di lantai dua pojok. Kamu bisa kembalikan ke aku besok" ujar laki-laki yang bersama Saga itu sembari tersenyum ke arahku. Entah kenapa, senyuman tulus itu tak pernah sekalipun aku dapatkan selama ini, kecuali saat ini.

"Besok setiap istirahat pertama. Kita harus bertemu di sini, aku akan bantu kamu, untuk bisa melawan semua ketidakadilan yang kamu dapetin saat ini. Ini bukan permintaan, tapi ini perintah. Jadi mau gak mau, suka gak suka, kamu harus ke sini nemuin aku. Oke!" diuspanya pelan kepalaku olehnya, sembari berlalu pergi meninggalkanku yang masih mematung tak mengerti dengan ucapannya barusan.

Awalnya, aku terlihat tidak yakin dengan bantuan yang ditawarkan oleh laki-laki bernama Saga itu. Namun hari ini, aku ternyata memilih untuk memastikan ucapannya itu dan langsung menuju ke atap. Dan benar saja, aku benar-benar melihat kehadiran Saga yang langsung melambaikan tangannya begitu melihat kehadiranku saat ini. Ia pun menghampiriku dan menyuruhku duduk.

"Jadi hal pertama yang harus kamu lakukan yaitu pembuktian"

"Pembuktian?" tanyaku tidak begitu mengerti dengan ucapan dari Saga ini.

"Gak perlu kan kamu harus ikut membeci mereka yang benci kamu, karena itu akan membuat kamu jadi sama seperti mereka. Jadi kit aharus bermain pintar, buat balas semua cacian mereka itu dengan hal yang lebih menguntungkan buat kamu."

"Mereka meremahkan kamu karena kamu dianggap sama seperti ayah kamu, tapi kalau kamu bisa berprestasi dan ikut berbagai event hingga organisasi sekolah, aku yakin itu perlahan-lahan bisa mengubah pandangan mereka ke kamu. Mereka akan memandang kamu..."

"Bermartabat, pintar, dan bukan seorang sampah yang hanya akan menjadi benalu untuk sekolah ini" ujarku mulai paham dengan apa yang dimaksud oleh Saga.

Saga pun mengangguk bangga dengan ketepatan otakku untuk berpikir saat ini.

"Jadi aku harus mulai dari mana dulu?" tanyaku mulai tertarik dengan rencana Saga ini.

"Aku dengar kamu pintar gambar kan, jadi kamu harus ikut event ini" Saga mengulurkan sebuah poster lomba menulis komik yang diadakan oleh organisasi OSIS di sekolah ini.

"Dari mana kamu tau aku pintar gambar?" tanyaku penasaran dengan semua yang Saga ketahui tentangku.

"This is you, right?" Saga kembali mengulurkan sebuah koran yang menampilkan berita saat aku pernah memenangkan lomba menggambar. Akupun hanya tersenyum kagum dengan satu lagi kecekatan Saga dalam mendapatkan informasi tentangku.

Awalnya aku sempat ragu apakah harus mengikuti lomba ini atau tidak. Namun Saga menyakinkanku dan mengatakan kalau aku pasti dapat memenangkan perlombaan ini. Namun, keyakinan Saga itu ternyata tidalah sama seperti seisi sekolah ini yang kini tampak memandangiku dengan sinisnya saat aku hendak mendaftarkan diriku.

Hingga hari perlombaan itu pun, tatapan-tatapan sinis itu masih terus menghakimku. Namun aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. Dan ternyata, perlombaan itu membawaku mendapatkan juara kedua. Tentu saja itu benar-benar kejutan luar biasa untukku.

Dan persis seperti yang dikatakan Saga, perlahan tatapan-tatapan orang-orang di sekolah mulai terlihat lebih ramah padaku, meski hanya sebagian.

"Sekarang apalagi?" tanyaku pada Saga dipertemuan kami selanjutnya.

"Kamu harus dapet nilai bagus di ulangan matematika minggu depan"

"How did you know?" tanyaku lagi, masih dengan tatapan heran.

"Ada pengumumannya Lan di mading sekolah" ujar Saga lagi memperlihatkan kertas yang mengumumkan bahwa akan diadakan ulangan matematika di beberapa kelas, termasuk kelasku.

Saga kembali membantuku belajar beberapa hari ini. Dan benar saja, begitu nilai ulangan dimumkan, meski tidak mendapatkan nilai seratus sempurna, namun aku menjadi salah satu murid yang masuk lima besar nilai tertinggi di kelas.

Dan salah satu usahaku ini kembali membawa dampak positif pada beberapa teman-teman dikelasku. Bahkan beberapa ada yang mulai tidak lagi menjauh saat aku datang mendekatinya.

***

Tiga bulan berlalu begitu saja, aku berhasil mendapatkan peringkat ketiga di kelasku, aku berhasil menjadi salah satu anggota divisi kesehatan di OSIS, dan akupun berhasil menjadi perwakilan sekolah dalam lomba seni menggambar tingkat nasional.

Cacian, hinaan, hingga kejahilan-kejahilan yang dulu sering sekali aku terima, perlahan mulai tidak pernah lagi aku dapatkan. Bahkan kini, aku dapat dengan bebas memilih tempat dudukku tanpa harus terus duduk di kursi pojokan itu.

Ucapan Saga semua hampir terbukti benar. Menaruh kebencian pada setiap kebencian yang kita dapatkan ternyata memang tidak akan pernah menyelesaikan masalah pembuliian.

Saga harus pindah sekolah satu bulan yang lalu ke kota lain. Tentu saja aku sedih karena harus kehilangan teman yang akhirnya bisa merubah kehidupan kelamku dulu.

Namun kami berdua sama-sama berjanji, kalau kami akan bertemu kelak saat kami telah sukses nanti. Aku pun berjanji untuk terus menjadi kuat, dan tidak lagi menjadi seorang pencundang yang hanya pasrah saat orang-orang menginjak-injakku.

Ingin Mencoba Destinasi Di Atas Awan? Wisata Lebak Yang Lagi Hits

Ingin Mencoba Destinasi Di Atas Awan? Wisata Lebak Yang Lagi Hits

INIKECE - Bagi pecinta traveller, pasti selalu mencari kesenangan dalam mengunjungi suatu tempat yang sangat takjub, seru, dan menantang. Melihat berbagai keindahan alam yang sangat luar biasa indahnya.

Kalian bisa saja melakukan traveller, di destinasi Lebak yang sedang ngehits di banyak kalangan. Terdapat di Provinsi Banten. Destinasi wisata yang menawarkan panorama indah dengan panorama di atas awan ini terletak di Gunung Luhur, Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak.

Tempat yang disebuat Negeri di Atas Awan Gunung Luhur ini masih termasuk kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Tempat wisata ini memang terbilang baru, Negeri di Atas Awan Gunung Luhur ini baru 'ditemukan' pada September 2018.

"Sekitar bulan September 2018, diikuti oleh warga sini yang juga penasaran."

"Kemudian difoto lalu diunggah ke medsos, akhirnya viral," kata Sukmadi, salah satu pengeolal Gunung Luhur.

Jika bicara tentang Negeri di Atas Awan, Indonesia memiliki banyak tempat yang pantas disebut seperti itu.

Sebab kondisi geografis Indonesia memiliki banyak dataran tinggi dan gunung. Istilah 'negeri di atas awan' sendiri sangat populer, apalagi di kalangan pendaki gunung saat melihat awan sejajar atau lebih rendah dari area yang didaki.

Dari sekian banyak tempat yang tinggi, inilah lima destinasi wisata 'negeri di atas awan' yang ada di Indonesia.

1. Puncak B29 Lumajang

Jika bicara negeri di atas awan, tempat yang satu ini tak bisa dilupakan. Puncak B29 terletak di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Disebut juga sebagai Puncak Songolikur (dalam Bahasa Jawa songolikur artinya 29), tempat ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

2. Dataran Tinggi Lolai

Kecamatan Kapalapitu, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan juga punya negeri di atas awan. Destinasi wisata ini dikenal dengan Dataran Tinggi Lolai.

Selain awan yang sejajar, panorama sunrise juga menjadi daya tarik dari Kampung Lolai ini.

3. Dataran Tinggi Dieng

Jawa Tengah memiliki negeri di atas awan yang sangat terkenal yaitu Dieng. Dataran Tinggi Dieng berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo.

Dataran tinggi ini terletak di komplek Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Jika wisatawan datang pada bulan Agustus, ada kesempatan untuk menyaksikan Dieng Culture Festival.

4. Gunung Andong
Gunung Andong terletak di Magelang, Jawa Tengah.
Gnung ini bisa didaki oleh pemula karena ketinggiannya tak terlalu ekstrem, yaitu 1.463 mdpl.
5. Kebun Buah Mangunan
Lokasi Kebun Buah Mangunan ada di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Daya tarik destinasi wisata ini adalah gardu pandang Mangunan dengan ketinggian sekitar 200 mdpl. Dari gardu pandang, pengunjung bisa menikmati keindahan gumpalan awan yang menyelimuti Pegunungan Sewu.

Hanya Dapat Gaji Rp 20 Ribu Dan Anak Balitanya Harus Minum Kopi, 5 Kali Dalam Sehari Menjadi Viral

Hanya Dapat Gaji Rp 20 Ribu Dan Anak Balitanya Harus Minum Kopi, 5 Kali Dalam Sehari Menjadi Viral

INIKECE - Dikarenakan hanya mendapat gaji sebenar Rp 20 ribu, Orangtua dari bayi 14 bulan ini tidak dapat meminum susu, karena tidak mencukupi kebutuhan hidup. Susu menjadi makanan utama untuk seorang bayi agar mendapat nutrisi yang lebih baik.

Tapi sayang, dikarenakan orangtua yang ditidak mambantu membeli susu sang anak, akhirnya susu tersebut digantikan sebagai kopi. 

Bayi tersebut meminum kopi 5 gelas kopi setiap harinya. Khadijah Haura, asal Polewali Mandar yang tengah viral, karena minum kopi sebagai pengganti susu.

Orangtua dari bayi 14 bulan ini, Sarifudin dan Anita hanya bekerja sebagai buruh pengupas kopra mengaku tak mampu membelikan susu kepada putrinya. Bahkan tak mampu membeli susu, salah satunya untuk menggantikan susu tersebut dengan kopi sebelum ia tidur.

Diketahui juga, bahwa Khadijah akan sulit tidur jika tak diberi minum kopi sebelumnya. Berikut ada beberapa fakta tentang bayi 14 bulan ini,

1. Meminum Kopi Sejak Usia Enam Bulan


Ibunya Anita, mengatakan kebiasaan anaknya menyeruput kopi sejak ia berusia 6 bulan. Meski mengonsumsi kopi, pertumbuhan fisik bayi itu seperti anak normal lainnya.

Diakui Anita, anaknya tergolong super aktif. Meski usianya baru 14 bulan, Hadijah sudah mahir berjalan sendiri, hingga aktif bermain bersama teman-teman sebayanya.

Hadijah bahkan kerap membuat kedua orangtuanya tak bisa tidur lantaran bocah ini aktif bermain sendiri.

2. Tidak Mampu Membeli Susu

Anita sendiri mengaku bahwa ia terpaksa memberikan kopi kepada anaknya karena tidak mampu untuk membeli susu.

Gaji yang ia memiliki atau terima selama ini hanya Rp 20 ribu sebagai buruh kupas kopra bersama sumianya, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur kecil keluarganya.

"Ya mau diapalagi, pendapatan tidak cukup untuk membeli susu. Terpaksa setiap hari hanya diberi dot berisi kopi. Bahkan ia tak bisa tidur kalau tidak minum kopi. Biasa merengek minta kopi sebelum tidur," jelas Anita saat ditemui wartawan di rumahnya, Sabtu (14/9/2019).

3. Bekerja Sebagai Pengupas Kopra

Anita mengatakan, ia dan suaminya Sarifuddin hanya menggantungkan hidup dari upah bekerja sebagai pengupas kopra.

Saat musim panen, lanjutnya, suaminya kerap beralih profesi menjadi buruh angkut padi di sawah karena upahnya lebih besar. Setelah tidak musim panen, suaminya kembali menekuni profesi sebagai buruh kupas kopra.

Selama sehari bekerja, maksimal ia mendapatkan penghasilan bersama suaminya hingga Rp 40 ribu. Itu pun jika ada kelapa yang bisa diolah jadi kopra. Saat bahan bakunya habis ia kerap beristirahat sampai ada bahan baku terkumpul untuk diolah.


4. Khawatir Akan Pertumbuhan Putrinya

Meski dikhawatirkan dengan perkembangan kesehatan buah hatinya yang terus menerus disuguhi kopi, Anita mengaku tidak punya banyak pilihan karena alasan pendapatan rumah tangga.

Kalau ada upah setiap hari itu biasanya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari, itu pun kadang tidak cukup.

Selama ini Anita mengaku tak pernah mendapatkan bantuan susu atau asupan gizi dari dinas kesehatan untuk anaknya.

5. Dinkes Datangi Kediaman Hadijah

Kabid Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Polamn mengatakan, pihaknya telah mengunjungi anak tersebut dan memberi bantuan berupa biskuit dan susu.

Dinkes juga telah memberikan pemahaman kepada orangtua anak tersebut agar tidak lagi memberi kopi.

"Karena kalau lama kelamaan nanti ada efeknya karena mengandung kafein dan mengandung banyak gula." jelasnya. 

Kepala Dusun Bulung, Desa Tonro Lima, Kec. Matakali, Polewati Mandar, Sulawesi Barat, Sarifuddin membantah warganya miskin hingga tak kuat membeli susu bagi Khadijah Haura, bayinya yang masih berusia 14 bulan.

Sarifuddin, membatah warganya miskin sehingga tidak mampu membeli susu untuk bayinya yang berusia 14 bulan, dan menggantinya dengan kopi tubruk.

Menurut sang Kepala Dusun Buling yang namanya sama dengan nama ayah bayi 14 bulan ini. Memang pekerjaan Sarifuddin dan Anita, orangtua bayi Khadijah Haura, hanyalah buruh pengupas kopra.

Namun keduanya tinggal di rumah mertua yang dinalainya masih layak. Mertua pasutri ini juga bukan masuk golongan warga miskin.

"Tidak miskin ini. Kalau pekerjaan saya akui hanya buruh kupas kopra," katanya

Sebelumnya, Anita mengaku kerap memberikan kopi tubruk ke Khadijah karena ia tak mampu membeli susu. Meski khawatir dengan perkembangan kesehatan buah hatinya yang terus menerus disuguhi kopi, Anita mengaku tidak punya banyak pilihan karena alasan pendapatan rumah tangga.

* Tumbuh Normal

Diberikan sebelumnya, bayi 14 bulan bernama Khadijah terbiasa menyeruput kopi tubruk sejak ia berusia enam bulan.

Sarifuddin dan Anita beralasan mereka terpaksa menyuguhi kopi tubruk ke anak pertamanya itu lantaran tak mampu membeli susu. Meski mengonsumsi kopi tubruk, pertumbuhan fisik bayi Khadijah seperti anak normal lainnya.

Khadijah tergolong anak super aktif. Meski usianya baru 14 bulan, dia sudah mahir berjalan sendiri, hingga aktif bermain bersama teman-teman sebayanya.

Anak pertama pasangan Sarifuddin dan Anita dari Desa Tonro Lima ini bahkan kerap membuat kedua orangtuanya tak bisa tidur lantaran bocah ini aktif bermain sendiri.

Aroma Khas! Parfum Dengan Wangi Yang Musk

Aroma Khas! Parfum Dengan Wangi Yang Musk

INIKECE - Untuk memiliki kesegaran wangi sepanjang hari. Banyak orang akan memilih parfum yang memiliki bau wangi yang enak dicium hidung dan tahan sepanjang hari. Oleh karena itu banyak brand produk parfum yang mengeluarkan berbagai jenis parfum dengan berbagai wangi yang khas.

Yang menjadi atau salah satu aroma yang muncul dan khas bagi setiap orang adalah aroma Musk. Hal ini karena Musk bisa berikatan dengan bau tubuh asli dan menghasilkan wangi yang berbeda-beda setiap orang. Memberikan wangi yang khas,

1. Parfum - Kiehl's Original Musk


Produk satu ini sebenarnya ditujukan bagi pria maupun wanita. Parfum ini memiliki aroma citrus yang menyegarkan saat pertama kali disemprotkan. Setelahnya aroma Musk bisa kamu rasakan dan diakhiri oleh aroma yang mendebarkan dari tonka nut dan white patchouli. Parfum ini diproduksi sejak tahun 1963 dan merupakan varian terbaik dari brand Kiehl's.

2. Parfum - Lovely by Sarah Jessica Parker


Sesuai namanya parfum ini memang dibuat oleh Sarah Jessica Parker dan bisa digunakan oleh remaja umur 17 sampai wanita dewasa. Aroma yang dihasilkan dari parfum ini cenderung sexy dan classy.
Kombinasi dari aroma citrus, woody dan lavender membuat parfum ini terasa lembut pada awal pemakaian. Setelah itu aroma anggrek dan Musk tercium pula sesaat setelahnya.


3. Parfum - Wardah Scentstion Eau De Toilette 'Bliss'


Parfum satu ini berasal dari brand lokal yang wanginya tahan lama serta lembut dan tidak kalah dari brang luar. Salah satu varian parfum Wardah memasukkan aroma Musk yang lembut yaitu Bliss.
Aromanya sendiri sebenarnya beragam yaitu terdiri dari aroma mawar, amber, musk, citrus bahkan raspberry.

Kombinasi wangi yang beragam tersebut membuat parfum ini memiliki aroma lembut dan elegan dan yang pasti rasa percaya dirimu pun akan timbul.

4. Parfum - BrunBrun Beau Garcon Eau De Toilette


Parfum satu ini lebih terjangkau dari segi harga dibandingkan dengan yang lain. Selain itu kemasannya pun travel friendly sehingga kamu tetap akan merasa ringan saat membawanya. Aroma awal dari parfum ini adalah wangi cardamon, ozone dan patchouli.

Setelah beberapa saat kamu akan mencium aromatonka musk yang wanginya khas bagi setiap orang. Parfum ini memang sangat mungil karena hanya sebanyak 9 ml saja per kemasannya. Meski begitu dari segi ketahanannya parfum ini tidak diragukan lagi.

5. Parfum - The Body Shop White Musk


Parfum ini diluncurkan pada tahun 1981 dan merupakan parfum beraroma musk pertama yang memiliki label cruelty-free. Parfum ini memiliki afdroma yang beragam mulai dari wangi lily, musk, mawar, melati bahkan ylang-ylang. Uniknya, setiap orang memiliki aroma tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Kamu bisa memakainya saat acara santai atau formal. Wanginya lembut dan tidak tajam saat digunakan sehingga setiap orang yang memakai parfum ini merasa nyaman dengan wanginya.

Penulis Cerita : Berhenti Untuk Bertarung Sendirian

Penulis Cerita : Berhenti Untuk Bertarung Sendirian

INIKECE - Hujan mulai turun. Ina menikmati suara rintik-rintik hujan yang mengenai permukaan. Ia duduk sambil memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tangannya memainkan cangkir teh panas yang masih mengepul. Ia termenung beberapa saat lalu terbangun dari lamunannya.

Ia menghela napas dalam lalu meminum teh yang sedari tadi ia pengang. Ia tersentak karena teh tersebut masih panas.

"Dasar aku," kata Ina pada dirinya sendiri.

Tapi rasa panas yang masih dirasakan lidahnya tidak membuatnya berhenti melamun.

Apakah aku membuat keputusan tepat?

Apakah benar it's okay to be not okay?

Kata-kata yang sahabatnya selalu ucapkan padanya ketika ia merasa tidak sanggup melanjutkan petualangan pada esok hari.

Ina merasa beruntung memiliki sahabat yang memahami betul kerumitan yang ia alami. Ina merasa sangat berbeda dari kebanyakan orang. Terlalu banyak yang menilainya sebelah mata. Terkadang ada dimana hari ketika semuanya terasa sangat berat. 

Dimana ia merasa semua orang membencinya. Ketika ia merasa tidak pernah diterima oleh orang di sekitarnya. Namun lagi-lagi sahabatnya pantang menyerah untuk membuatnya lebih baik.

"Ina, banyak orang yang menyayangimu. Kau tidak perlu khawatir aku ada disini untukmu". Tidak lupa ia berikan pelukan. Ia tahu betul apa yang dibutuhkan Ina agar merasa lebih baik. Ia menyiapkan teh buah leci favoritnya dan mencari film yang cukup menyenangkan untuk ditonton.

"Ina, aku sudah membuatkanmu teh leci. Aku tahu kau akan merasa lebih nyaman. Aku tahu teh tidak akan menghilangkan semua pikiranmu tapi aku ingin kau merasa sedikit lebih baik. Mau menonton bersamaku?" Katanya.

Ina hanya tersenyum sambil mengikutinya dari belakang.

Hujan belum berhenti nampaknya turun semakin deras dan Ina semkain dalam dengan pikirannya. "Aku merasakan banyak hal yang seharusnya tidak kurasakan. Apakah ada yang memahamiku? Apakah aku akan selalu seperti ini? Aku sangat ingin keluar dari sini," pikir Ina.

Tiba-tiba air mata Ina mengalir perlahan.

Aku sangat merindukannya. Jika ia di sini kami pasti sedang menonton film pilihannya.
Aku tahu selera filmnya begitu buruk bahkan aku sering tertidur tapi, akan kutonton semua film yang ia pilih jika itu membuatnya kembali.

"Apa maksudmu?" Tanya Ina.

"Ummmm yah... aku tidak selalu bisa membuat lebih baik, Ina bukannya aku tidak ingin mendengarkan semua keluh kesahmu tapi kau membutuhkan orang yang lebih berpengalaman, orang yang sangat memahami apa yang terjadi padamu" katanya. Ia sedikit takut Ina marah padanya. Namun Ina hanya terdiam beberapa saat.

"Entahlah aku merasa tidak membutuhkan bantuan lain. Aku merasa aku bisa mengendalikna semuanya." jawab Ina. Sahabatnya hanya mengangguk.

"Ina, aku yakin semuanya akan baik baik saja. Aku disini untukmu," katanya.

"Terimakasih, kau selalu bisa membuatku lebih baik."

Cangkir teh tersebut sudah setengah kosong diminum oleh Ina. Ia tersenyum mengingat semua hal bodoh yang sudah mereka lakukan. Ina bangkit dari tempat duduknya dan menyetel lagu kesukaan sahabatnya, ia tidak begitu menyukai lagu Somewhere Over the Rainbow versi Judy Garland.

Namun entah mengapa saat ini ia ingin menyetel lagu tersebut. Hujan yang belum mereda dengan lagu favorit sahabatnya membuat Ina tidak berhenti bernostalgia.

"Ina kumohon, aku tidak ingin melihatmu seperti ini. Aku tidak bisa melihatmu berjuang sendiri seperti ini," kata sahabatnya khawatir. Ia mencoba membersihkan luka Ina.

"Aku sudah tidak sanggup. Aku ingin berhenti, aku sangat lelah, aku sangat marah, aku bingung apa yang salah denganku. Mengapa aku seperti ini?" Isak Ina.

"Ina, aku tahu sangat berat untukmu, tapi aku tahu kau sangat pemberani. Kau sangat kuat dibanding orang orang lain, Ina. Kau sudah berjuang begitu keras untuk hidupmu. Dan kau masih berjuang hingga saat ini," kata sahabatnya yang masih mencoba memasang perban luka tersebut.

"Berapa kali kau bilang padaku untuk menyerah. Tapi kau memutuskan untuk membuka matamu di keesokan harinya. Aku sangat kagum padamu. Ina, dan sekarang kau tidak harus sendirian lagi. Kau hanya membutuhkan sedikit bantuan untuk menjadi lebih baik. Dan aku mempercayaimu kalau kau pasti bisa menghadapinya," kata sahabatnya dengan nada lembutnya seperti biasa.

"Aku tidak ingin dianggap gila, aku sangat takut untuk menceritakan apa yang aku rasakan," kata Ina.

Ia hanya tersenyum pada Ina. "Mereka akan memahamimu lebih baik daripada aku memahamimu."


Ian memutar lagu tersebut berulang kali. Teh leci yang ditinggalkan Ina sudah berubah menjadi dingin. Hujan mulai redah. Ina memandang keluar jendela memandang langit yang mulai terang. Ina menghela napasnya, cahaya matahari mulai menghapus kelamnya awan. Ina memandang rumput basah yang bersinar terkena cahaya matahari.

Ina memutuskan untuk melakukannya. Ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul 2 siang. Ian. "Aku akan menemuimu," katanya dalam hati sambil tersenyum. Ia mematikan musik tersebut dan berganti baju. 

Ina turun dari taxi dan membeli seikat bunga dan sekantung berbagai macam kelopak bunga. Ia tahu semuanya sudah sangat berbeda tapi Ina yakin sahabatnya akan mendengarkan.

"Selamat siang... maaf aku baru menemuimu setelah sekain lama. Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Sangat sangat merindukanmu. Aku minta maaf karena aku pada awalnya tidak ingin menerima kepergianmu. Tapi akhirnya aku menyerah pada kenyataan. Rinduku mengalahkan sedihku.

Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi padamu. Kau pasti sudah muak ketika aku selalu memperingatkanmu untuk mengunci helm-mu tapi bagaimana bisa kau begitu ceroboh untuk tidak melakukannya.

Seperti biasa kau akan tersenyum padaku lalu pergi mengabaikan peringatanaku. Tapi pada saat itu, kau tidak pernah kembali lagi. Aku benar-benar merindukanmu saat ini jadi aku tidak akan marah padamu."

Ina terdiam. Air matanya mengalir melalui pipinya. "Aku tahu bagimu aku terlihat bodoh berbicara pada batu dan gundukan tanah seperti ini. Tapi aku tidak akan segan berbicara pada batu yang bertuliskan namamu dengan kau terbaring di dalam gundukan tanah ini.

Terimakasih sudah menepati janjimu untuk selalu ada untukku hingga akhir hayatmu. Aku kita aku benar-benar sendiri tanpamu. Tapi lagu kesukaanmu membuatku yakin bahwa kau akan bahagia disana. Dan aku tahu kau tidak akan suka jika aku menyerah dengan keadaan."

"Kau satunya orang yang masih bertahan dari banyaknya emosi, air mata, pikiran yang selalu menyerangku tiba-tiba. Aku tahu aku ini sedang sakit. Tapi kau memandangku seperti kau yakin bahwa aku baik-baik saja. Kau memercayaiku ketika aku meragukan dirik sendiri. Kau membuatku jauh lebih berharga.

Kau benar, seperti biasa bahwa aku tidak perlu melawan ini sendiri. Dan setelah kau pergi, kau membuatku berpikir.

Kau pasti akan senang mendengar bahwa aku akhirnya membuat perjanjian pertama dengan therapisku. Aku yakin keputusanku sudah tepat.

"Aku begitu gugup dan aku selalu bisa membuatku tenang," kata Ina sambil menggenggam lengan sebelah kiri yang lukanya sudah hampir sembuh. "Terimakasih sudah meyakinkanku sahabat. Sekarang beristirahatlah. Aku tidak akan mengecewakanmu," Ina berucap lirih sambil menebarkan bunga yang iaa beli yadi.

Ia kembali ke rumah. Ia merasa lebih baik dan ia yakin bahwa ini adalah hal yang ia butuhkan. Ia merasa dunianya begitu gelap namun ia tidak ingin menyia-nyiakan usaha dan semangat sahabatnya.

Ina duduk di salah satu bangku yang masih kosong. Ia sangat gugup menunggu namanya dipanggil. Sampai pada akhirnya ia dipanggil dan dipersilahkan untuk memasuki ruangan. Ia dipersilahkan duduk.

"Selamat siang, jadi ada yang bisa saya bantu?" Tanya orang berjubah putih yang duduk di depan Ina. Ina menarik napas dengan panjang berpikir dari mana ia haru mulai.
"Nama saya Marlina dan semuanya dimulai dari..."

Tentang Penulis :

Carlot menyukai dunia menulis sejak SMA. Cerpen, sajak, dan puisinya sampai saat ini masih disimpan untuk koleksi pribadi. Saat ini ia kuliah akuntasi di salah satu PTS Jakarta di semester 7, ia berharap cerita yang ditulisnya bisa menginspirasi banyak orang.