Hidup Berdampingan? Manusia Sempat Hidup Bersama Unicorn

Hidup Berdampingan? Manusia Sempat Hidup Bersama Unicorn

INIKECE - Impresi seniman atas spesies badak purba Elasmotherium. Meski kerap dihubungkan denagn karakter imajinasi, nyatanya Unicron itu ada. Bahkan manusia pernah hidup berdampingan dengannya.

Itulah kesimpulan dari National History Museum Inggris di London. Hasil penelitian mereka menetapkan Elasmotherium Sibiricum, spesies yang dikenal sebagai Unicorn Siberia, sempat hidup berdampingan dengan manusia.

Elasmotherium, juga dikenal sebagai Giant Rhinoceros atau Giant Siberian Unicorn, adalah spesies badak yang telah punah yang hidup di daerah Eurasia. Spesies ini menyandang nama Unicorn karena tanduknya yang luar biasa besar. Sayangnya ia dikatakan punah antara 100 ribu hingga 200 ribu tahun yang lalu.

Dalam sebuah studi baru bekerja sama dengan Oxford University, terungkap spesies ini bertahan hingga setidaknya 39 ribu tahun yang lalu. Berarti, mereka sempat hidup bersama manusia modern.

Sampai saat ini, pengetahuan kita tentang Unicorn Siberia terbatas lantaran kurangnya catatan fosil.

Hanya sejumlah kecil tulang yang terfragmentasi telah ditemukan. Selain ari mengungkapkan bobot binatang yakni sekitar 3,5 ton, kira-kira sama dengan gajah Afrika yang lebih kecil, hal lain tentangnya sulit di analisis.

Sebagai contoh, bagian dari tengkorak yang digambarkan dalam makalah tahun 2016 adalah radiokarbon tertanggal 29 ribu tahun lalu. Tetapi karena hanya ada sedikit kolagen, hasilnya dianggap tidak dapat diandalkan.


Jadi kini tim peneliti internasional mengumpulkan 23 spesimen tulang Unicorn Siberia dan menggunakannya untuk penanggalan radiokarbon, Langkah ini dilakukan untuk melihat apakah mereka dapat memulihkan DNA dan mencari tahu lebih lanjut tentang Unicorn Siberia dan periode hidupnya di Bumi.

Hasilnya mengejutkan. Spesimen tulang ini mengungkap rentang waktu setelah hewan itu dianggap punah. Dengan yang paling baru antara 35 ribu hingga 36 ribu tahun yang lalu. Pada periode waktu ini, manusia telah mulai mengisi padang rumput di Rusia, Kazakhstan, Mongolia, dan Tiongkok Utara.

BACA JUGA :

 > Fotografer, Abadikan Potret Hewan Liar Dalam Studio Foto

Selama ini diyakini bahwa makhluk besar ini punah sebelum zaman es terakhir (20 ribu - 10 ribu tahun yang lalu). Kehilangannya terjadi sebelum kepunahan besar-besaran megafauna, yang juga menjadi akhir dari hewan purba mamut berbulu, Elk Irlandia, dan kucing bertaring tajam.

Adrian Lister, peneliti dari Natural History Museum mengatakan, "Peristiwa kepunahan megafauna ini tidak benar-benar terjadi hingga sekitar 40 ribu tahun lalu. Jadi Elasmotherium dengan perkiraan waktu kepunahan megafauna lain dari 10 ribu tahun yang mereka datang dari periode waktu kurang dari 40 ribu tahun."

Thibaut Deviese, ahli dari School of Archaeology di Oxford University, mengatakan "Beberapa sampel yang kami pelajari sangat tercemat yang membuat penanggalan radiokarbon sangat sulit. Untuk alasan ini, kami menggunakan metode baru untuk mengesktraksi asam amino tunggal dari kolagen tulang untuk memastikan hasil yang sangat akurat. Metode ini dikembangkan di Oxford oleh kami."

Hal lain yang dapat dipastikan adalah manusia kemungkinan tidak ada hubungannya dengan punahnya hewan itu

" Jika kita melihat waktu, peristiwa kepunahan itu terjadi selama periode perubahan iklim, yang tidak ekstrem, tetapi menyebabkan sejumlah besar musim dingin lebih dingin yang kami pikir benar-benar mengubah tingkat padang rumput di daerah tersebut," kata Alan Cooper dari Australian Centre for Ancient DNA di University of Adelaide, Australia menjelaskan kepada ScienceAlert.

"Kami juga bisa melihat perubahan isotop di tulang hewa anda dapat melihat dan mengukur karbon dan nitrogen di tulang dan kami dapat melihat bahwa ia hanya makan rumput."

Pada waktu yang hampir bersamaan, hewan lain di daerah itu yang memakan rumput mulai mengubah makanan mereka menjadi dedaunan, semak, dan tumbuhan apa pun yang bisa mereka telan, tetapi tidak bagi Unicorn Siberia. Ia terus mengunyah rumput, bahkan seperti, para peneliti percaya, permaforst (tanah yang berada di titik beku) yang mematikan akhirnya membunuhnya.

"Sepertinya makhluk Unicorn ini begitu terspesialisasi untuk makan rumput, oleh karena itu tidak bisa bertahan hidup," kata Cooper.

"Kepalanya sangat besar, melebar sangat rendah, berposisi tepat di ketinggian rumput, jadi tidak perlu mengangkat kepalanya saat makan. Bahkan ada pertanyaan apakah ia bisa mengangkat kepalanya atau tidak. Ia sangat terspesialisasi sehingga setelah kondisi lingkungan bergeser ia mati."

Saat ini, hanya lima dari 250 spesies badak yang diketahui masih ada, tiga di antaranya terdaftar sebagai terancam oleh International Union for Conservation of Nature. Sangat sedikit badak yang tinggal dan dapat tetap bertahan hidup di luar taman nasional. Ini dikarenakan aksi perburuan dan hilangnya habitat.

Para ilmuwan percaya bahwa mempelajari kepunahan unicorn Siberia bisa membantu mereka menyelamatkan badak yang tersisa yang akan punah karena kekakuannya ketika memilih habitat untuk hidup.

Penelitian tim telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology & Evolution.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment