Sering Dipanggil Monyet Dan Dilempari Batu, Kisah Haru Dari Seorang Pria Ini

Sering Dipanggil Monyet Dan Dilempari Batu, Kisah Haru Dari Seorang Pria Ini

INIKECE - Karena sebuah kondisi, dia sering terima bully-an yang luar biasa! Sesuatu yang berbeda seringkali membuat banyak mulut berkomentar. Mereka berkomentar tanpa memandang latar belakang apa pun dan terlontar begitu saja.

Perbedaan memang selalu mengundang tanya bahkan bisa sampai kepada hinaan. Kisah haru tentang penghinaan itu dialami oleh Lalit Patidar seorang remaja yang menderita Werewolf Syndrome. 

Kenyataan pahir diterimanya karena pengganggu yang memanggilnya monyet dan melemparinya dengan batu. Hal itu terjadi karena tubuh hingga muka Lalit dipenuhi dengan bulu.


Remaja ini dilahirkan dalam keadaan Hypertrichosis. Kondisi itu menyebabkannya pertumbuhan rambutnya menjadi tidak normal. Rambut-rambut berlebihan di bagian tubuh, lengan, dan wajah.

Walaupun demikian tidak menyurutkan semangat Lalit untuk bercita-cita. Dia ingin menjadi perwira polisi. Dia ingin menjadi polisi yang jujur dan akan menangkap semua pencuri dan penjahat untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Saat ini, dia ingin sekali untuk dapat operasi atas kondisinya. Alasanya, dia tidak ingin teman-temannya atau anak-anak sebayanya takut bermain dengannya. Selain itu, rambut yang terlu banyak pada wajahnya membuat Lalit kesulitan untuk bernafas dan melihat.

Bagi keluarha, Lalit adalah anak yang istimewa karena dia dilahirkan setelah doa permintaan yang panjang di kuil. Sebelumnya orangtuanya memiliki 5 anak perempuan namun belum mempunyai anak laki-laki. Jadi mereka mengharapkan akan mendapat anak laki-laki.



Seusai melihat keadaan bayinya, sang ibu yang bernama Parvatibai Patidar (42) tertegun tidak percaya. Parvatibai berujar, " Saya melihat Lalit setengah jam pertama setelah ia dilahirkan, saya tertegun melihat tubuhnya ditutupi rambut luar biasa banyak."

Selanjutnya sang ibu langsung menanyakannya ke pada dokter untuk mengatasi permasalahan pada bayinya. Namun sayang dokter menjawab tidak ada obat untuk penyakit itu. Upaya untuk menyembuhkan Lalit juga terus berlangsung.

Ketika Lalit berusia dua tahun, orangtuanya juga berupaya untuk membawanya ke rumah sakit besar di Boroda. Walaupun sang hanya bekerja sebagai petani seledri dan bawang, juga sang ibu yang hanya menjadi ibu rumah tangga, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk menyembuhkan Lalit.

Akan tetapi jawaban dari dokter juga masih sama dengan jawaban dokter yang sebelumnya. Tidak ada obat untuk penyakit itu. Di tempat yang baru dan ramai seperti di kota, orang-orang ada yang mencemoohnya dengan mengatakan monyet.

Bahkan, ada anak-anak yang melempari batu. Beruntunya di lingkungan pergaulannya. Lalit diperlakukan seperti biasa walaupun pada awalnya semua merasa aneh dengannya.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment