Unik! Tradisi Yang Biasa Dilakukan Saat Tahun Baru Imlek

Unik! Tradisi Yang Biasa Dilakukan Saat Tahun Baru Imlek

INIKECE - Imlek, atau Tahun Baru Cina, merupakan salah satu perayaan terbesat yang dilakukan oleh masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia tiap tahunnya. Sejarah kata "imlek" sendiri sebenarnya berasal dari dialek Hokkian, yaitu Im dan Lek

Im memiliki arti bulan, sedangkan Lek berarti penanggalan. Dengan kata lain, Imlek sendiri berarti kalender (penanggalan) bulan, atau dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan Lunar New Year.

Menurut asal usulnya, Imlek merupakan sebuah perayaan yang biasanya jatuh pada tanggal satu saat bulan pertama muncul di awal tahun musim semi. Inilah sebabnya Tahun Baru Imlek tidak sama dengan perayaan tahun baru yang diadakan setiap tanggal 1 Januari. Di tahun ini.

Imlek sendiri jatuh pada 5 Februari 2019. Nah, baik kamu ikut perayaan ini atau tidak, ada 15 tradisi unik yang perlu kamu ketahui sehubungan dengan imlek. 

1. Berkumpul Bersama Keluarga


Tak berbeda jauh dengan Hari Raya Lebaran, Imlek juga berorientasi pada kekeluargaan. Maka dari itu, jutaan orang Tionghoa di seluruh dunia akan berusaha untuk pulang menuju rumah masing-masing (“Pai Nian [拜年]”) agar dapat berkumpul bersama ibu, ayah, dan saudara-saudara tercinta.

Terutama untuk mereka yang tinggal atau bekerja jauh dari kampung halamannya, Imlek selalu menjadi waktu yang spesial. Ini adalah saat yang tepat untuk catch-up, menyantap makanan lezat, dan menghormati leluhur-leluhur yang sudah tiada. Psst, bahkan kesempatan ini biasa menjadi waktu travel rush terbesar di dunia, mengalahkan perayaan Thanksigiving di Amerika Serikat.

2. Menonton Barongsai


Kamu pasti pernahkan, melihat tarian Barongsai baik secara langsung maupun di film? 

Tarian tradisional ini menggunakan kostum mencolok yang menyerupai seekor singa dengan warna-warna mencolok seperti merah atau kuning yang dianggap memberikan kemakmuran dan keberuntungan. 

Dalam tarian tersebut, para penari (biasanya akan ada dua penari untuk tiap Barongsai) melompat dengan lincah, saling menggerakan badan dan kepala yang seakan-akan membuat kostum Barongsai itu terlihat "hidup".

Para Barongsai ini juga sering terlihat menari untuk mengusir "Seekor Naga" - dikenal sebagai Nian yang dianggap sebagai lambang "roh jahat".

Konon katanya, dentuman keras dari drum dan cymbal, serta gerakan tarian itu sendiri dapat mengusir evil spirits! Shoo Shoo! Slain itu, kebiasaan lain yang juga sering ditemukan adalah memberikan angpau atau persembahan pada Barongsai. Hal ini dipercaya akan memberi keberuntungan di tahun yang akan datang. 

3. Sembahyang Imlek


Sembahyang Imlek sendiri sebenarnya merupakan suatu bentuk syukur, sekaligus doa dan harapan agar di tahun baru seluruh anggota keluarga mendapatkan rezeki dan kesehatan.

Selain itu, sembahyang Imlek juga ditujukan untuk mengingat para leluhur bersama dengan keluarga besar. Ada banyak makanan yang biasa disajikan ketika sembahyang. termasuk yang paling terkenal adalah ikan bandeng, babi, jeruk, serta kue keranjang.

BACA JUGA :

 > Shio Yang Paling Untung Dan Buntung Di Tahun 2019, Ini

4. Makan Ikan Bandeng


Ikan dipercaya sebagai simbol kebahagiaan dan keberuntungan oleh warga keturunan Tionghoa di Indonesia, dan istilah memakan ikan bandeng ini dikenal dengan sebutan Nian-Nian Yu Yi.

Menurut asal usulnya, kata "ikan" yang berbunyi "yu" memiliki penyebutan yang sama dengan kata "lebih". Dengan begitu, diharapkan rezeki di tahun baru nanti akan terus berlebih.

Cara memakan ikan bandeng yang dihidangkan tidak boleh dibalik. Apabila salah satu sisinya sudah habis dimakan, kamu tak boleh mengambil di sisi lainnya dengan membalik ikan, kamu harus berusahan untuk mengambilnya dari sisi yang sudah habis.

Menurut tradisi, ikan bandeng juga tidak boleh dihabiskan sekaligus pada hari itu, dan sebaiknya disisakan untuk keesokan hrinya, hal ini melambangkan rezeki yang tak akan pernah habis. Selain itu, ikan yang disajikan pun biasanya kerukuran besar, karena semakin besar ukurannya, dipercaya rezekinya akan semakin banyak.

5. Kue Lapis


Harga kue lapis memang mahal, maka dari itu pada kesempatan istimewa seperti Imlek, kue lapis menjadi lambang kemewahan. Seperti bentuknya yang berlapir-lapis dan rasanya manis, kue ini diharapkan mampu memberikan rezeki yang berlapis-lapisdan kehidupan yang manis selama  setahun ke depan.

6. Pantang Makan Bubur


Bubur dianggap sebagai salah satu simbol kemiskinan. Mengapa demikian? Karena pada zaman lampau bubur biasa dimakan ketika masa bencana terjadi. Oleh karena itu, kamu biasanya tidak akan menemukan orang Tionghoa menyantap bubur saat perayaan Imlek.

7. Menyantap Jeruk


Ada alasan mengapa jeruk menjadi salah satu buah yang penting di kala Imlek. Dalam bahasa Mandarin, penyebutan buah jeruk, "zhi", mirip dengan penyebutan kata emas dan keberuntungan. Maka dari itu, buah ini dianggap akan membwa keberuntungan. 

Selain itu, buah jeruk juga berwarna kuking emas, yang dianggap membwa keceriaan untuk tahun yang akan datang. Alasan terakhir, buah jeruk juga berbentuk bundar sempurna, sama seperti bulan (lunar).

Bentuk bundar sendiri dianggap sempurna karena tidak memiliki ujung, sehingga dipercaya terus memberikan rezeki "tanpa ujung".

8. Menyipakan Kue Keranjang


Kue keranjang merupakan makanan manis yang wajib disajikan kala Hari Raya Imlek. Kue ini biasa mulai disiapkan tujuh hari menjelang perayaan tahun baru Imlek, dan baru bisa disantap ketika Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek). 

Di Cina sendiri, terdapat kebiasaan untuk terlebih dahulu menyantap kue kerangjang sebelum menyantap nasi. Hal ini melambangkan suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaan sepanjang tahun.

Sejarah kue keranjang sendiri berasal dari zaman Tiongkok kuno. Pada masa tersebut hiduplah seekor naga raksasa yang bernama "Nian", yang tinggal di sebuah gua jauh di atas gunung. Biasanya, Nian akan keluar dari gua untuk berburu hewan ketika merasa lapar.

Sayang, pada musim dingin, banyak hewan yang bersembunyi untuk berhibernasi, membuat Niacn turun ke desa-desa dan memangsa manusia sebagai gantinya. Hal ini membuat banyak masyarkat desa hidup dalam ketakukan terhadap kebiasaan naga Nian selama beberapa waktu.

Sampai akhirnya, seorang warga desa yang bernama Gao memiliki ide cerdik. Ia membuat kue sederhana yang terbuat dari campuran tepung ketan dan gula untuk disajikan kepada Nian. Kue tersebut cukup berat, dan bahan yang digunakan untuk membuat kue tersebut cukup mengenyangkan.
Gao pun meminta warga untuk beramai-ramai membuat kue tersebut, dan meletaknnya di depan pintu rumah.

Ketika pada akhirnya Nian turun untuk mencari mangsa di desa, Nian melihat kue keranjang terletak di depan setiap pintu pintu. Aroma manis yang menguar dari kue keranjang membuat Nian tak berpikir panjang untuk menyantap kue tersebut. Sesuai dengan dugaan Gao, setelah menyantap setiap kue keranjang yang disediakan di depan pintu rumah, Nian pun menjadi kenyang.

Ia tidak lagi mencari manusia untuk dijadikan sebahai santapan, dan kembali keatas gunung untuk beristirahat. Hal ini membuat warga desa bahagia karena berhasil menemukan cara untuk mengatasi ancaman Nian. Sejak saat itu, penduduk desa membuat kue keranjang pada setiap musim dingin untuk mencegah Nian memburu dan memakan manusia.

Untuk mengingat jasa Gao yang sudah berhasil mencegah Nian memburu manusia dan menemukan kue ini, para penduduk desa kemudian menamakan kue ini sebagai "Nian Gao". Hingga saat ini, di China, kue tersebut masih dikenal sebagai Nian Gao.

Selai itu, Nian Gao juga memiliki makna lain. Kata Nian sendiri memiliki arti tahun, sedangkan Gao berarti kue (糕) yang penyebutannya terdengar seperti kata tinggi (高), oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Harapannya, dengan tingginya kue tersebut, berarti ada peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran.

9. Mempersiapkan Makanan


Kue keranjang dan jeruk merupakan makanan yang wajib disediakan saat hari raya Imlek. Saat sembahyang, makanan ini biasanya disajikan dengan jumlah antara lima, delapan atau sembilan, dan tidak boleh disajikan dalam jumlah tuga atau empat. Hal ini dilakukan karena angka 3 dianggap terlalu sedikit, sedangkan penyebutan angka 4 (si) dalam bahasa Mandirin mirip dengan pelafalan mati (si), sehingga kedua angka ini biasanya dihindari.

Di sisi lain, angka 5 menggambarkan lengkapnya lima elemen penting menurut kepercayaan Tionghoa ( Api, Air, Tanah, Kayu, dan Logam ), angka 8 menggambarkan infinite atau kemakmuran yang tiada habis, sedangkan angka 9 atau angka tertinggi melambangkan kesempurnaan.

Tak hanya itu, beberapa orang juga menyiapkan makanan keberuntungan seperti Mie dengan cara tidak dipotong karena dianggap melambangkan umur panjang, sedangkan telur pitan melambangkan panjang umur

10. Malam Malam Bersama Keluarga 


Makan malam bersama ("Tuan Yuan Fan [团圆饭]”) saat perayaan tahun baru Imlek adalah hal yang penting. Hal ini biasa dilakukan sehari sebelum Imlek, atau jika tidak sempat, maka makan malam boleh dilakukan saat Imlek. 

Biasanya, acara makan bersama akan dilakukan di sebuah meja bundar dengan piringan berputar di tengahnya. Anggota keluarga tertua seperti kakek dan nenek akan dipersilahkan mengambil makanan terlebih dahulu. Di saat seperti ini, biasanya tradisi Yu Shang diadakan.

11. Tradisi Yu Shang


Tradisi makan ini dibawa langsung dari Tiongkok dan dilakukan dengan cara khusus. Ketika makan malam, biasanya di atas meja tersedia satu piring Yu Shang, dengan beberapa makan di atasnya: ikan salmon, wortel, lobak, jeruk, kacang, daun jeruk limau, acar jahe merah, paprika merah, buah plum, mie, dan lainnya.

Pada saat makan malam dimulai, para anggota keluarha yang berdiri ke sekeliling meja bundar akan mengaduk makan tersebut bersama-sama dean megangkatnya dengan sumpit setinggi-tingginya. Hal ini dilakukan dengan harapan, bahwa semakin tinggi makanan tersebut diangkat, maka semakin tinggi keberuntungan yang didapat.

12. Membersihkan Rumah


Bagi masyarakat Tionghoa, menyapi rumah (“Shau Chen [扫尘]”) sehari sebelum hari raya Imlek berarti menyingkirkan atau membersihkan rumah dari kesialan, agar keberuntungan bisa masuk esoknya. Setelah rumah sudah selesai dibersihkan, biasanya sapu akan disimpan di tempat tersembunyi, dan rumah akan dibiarkan apa adanya hinnga hari Imlek selesai.

Bagi masyarakat Tionghoa, menyapu rumah dan halaman pada saat hari raya justru berarti membuang keberuntungan yang datang.

13. Berbagi Angpau


Ini dia hal yang paling ditunggu-tunggu bagi anak-anak dan mereka yang masih lajang saat Imlek: Angpau!

Anak-anak biasanya akan "kaya" seketika karena orang tua atau sanak saudara mereka yang sudah menikah diwajibkan memberi angpau saat Imlek. Angpau sendiri berasal dari kata Hong Pao yang berarti kantung merah, dan biasanya diisi dengan sejumlah uang di dalamnya.

Tidak ada aturan soal jumlah uangnya, dan nominalnya tidak harus besar, yang penting berupa uang kertas baru dan tidak berbentuk uang logam. Hal ini dilakukan karena dipercaya bahwa membagikan uang kertas nantinya akan mendaptakan uang kertas pula, sedangkan memberi uang logam atau receh nantinya akan mendapatkan uang receh pula.

Membagikan angpau juga dipercaya akan memperlancar rezeki di kemudian hari. Akan lebih baik jika angpau yang diberikan berwarna merah karena melambangkan kemakmuran. 
Nah, bagi anak-anak yang ingin menerima angpau, mereka biasanya mengucapkan selamat tahun baru dengan membungkus kepala tangan kanan degan tangan kiri. Hal ini dilaukan karena kepalan tangan kanan biasanya berkesan agresif.

14. Wajib Memakai Warna Merah


Menurut kepercayaan orang Tionghoa, Nian - sejenis makhluk buas yang hidup di dasar laut akan keluar saat awal musim semi atau tahun baru Imlek. 

Kedatangan Nian sangat menggangu manusia, terutama anak kecil. Untungnya, Nian sangat takut dengan warna merah. Semua orang akan menghias rumah, serta memakai pakaian cheongsam dan aksesori berwarna merah untuk mengusir Nian jauh-jauh. Selain itu, warna merah juga melambangkan keberuntungan dan kemakmuran.

15. Potong Rambut


Selain menyiapkan baju baru berwarna merah untuk memberikan rasa optimis menghadapi tahun baru, mereka yang merayakan Imlek biasanya akan memotong rambut terlebih dulu beberapa hari sebelumnya. Selain untuk memaksimalkan penampilan saat Imlek, potong rambut juga bermakna membuang sial.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment