Cerita Menarik Dari Kisah Penyihir Jahat Dan Pak Yu

Cerita Menarik Dari Kisah Penyihir Jahat Dan Pak Yu

INIKECE - Dikisahkan Pak Yu ialah seorang pemuda yang kaya dan gagah berani. Ia cerdas dan selalu bersemangat dalam menjalani hidupnya. Serta pandai bela diri dan bermain pedang. Ia bisa memegang dua ceret besar di kedua tangannya dan mengayunkannya dengan kecepatan angin.

Pada suatu hari, pelayan tua Pak Yu yang sangat setia, jatuh sakit parah. Pak Yu sudah memberikannya berbagai obat, tapi pelayan setianya tak juga sembuh, 

Pak Yu akhirnya mengirim pelayannya untuk dirawat di rumah tabib. Pada suatu hari, Pak Yu mengisi waktu senggangnya dengan pergi ke pasar malam bersama beberapa temannya.

Di pasar malam itu, ada sebuah tenda peramal, Bayarannya cukup mahal, tapi banyak orang yang datang.

"Peramal itu sangat ahli. Semua ramalannya bisa terjadi, ia juga ahli sihir dan bisa mencegah kematian." kata pengunjung yang sudah diramal.

"Itu sebabnya harganya sangat mahal," kata pengunjung lain.

Pak Yu mendengar percakapan itu dan menjadi penasaran. Ia pun masuk ke tenda itu untuk membuktikan apakah peramal itu memang ahli sihir. Di dalam tenda, ada seorang peramal tua yang tersenyum menyambut mereka.

Sebelum Pak Yu mengucapkan sepatah kata, peramal itu bertanya kepadanya, "Apakah pelayanmu sedang sakit, Tuan?"

Pak Yu kaget mendengar ini. "Ya betul," jawabnya takjuib.

"Wah, anda memang peramal hebat!" seru teman-teman Pak Yu.

"Tak usah khawatirkan pelayanmu yang sakit. Sebentar lagi dia akan pulih," lanjut si peramal. "Tapi, justru andalah yang ada dalam bahaya, Pak!"

Pak Yu sangat terkejut. Peramal itu lalu memeiksa garis tangan Pak Yu.

"Walau kau terlihat sehat, sebenarnya usiamu tinggal tiga hari!" kata peramal itu.

Pak Yu semakin terkejut. Begitu juga teman-temannya.

"Tapi tidak usah khawatir. Dengan kekuatan sihirku, aku bisa membuat kau hidup lebih panjang. Kematian tidak akan mendekatimu. Asal, kau harus membayar dengan satu ons emas!" kata peramal itu.

Pak Yu terdiam sejenak dan berpikir. Ia lalu berkata dengan yakin. 

"Setahu aku, kediupan dan kematian telah ditentukan oleh pencipta kita. Kekuatan sihir mana pun tak akan mampu menghindari kematian."

Pak Yu pamit untuk pergi. Ia tak mau membayar satu ons emas. Si peramal yang adalah penyihir juga, sangat marah. Ia berseru.

"Kau tak mau mengeluarkan uang untuk hidupmu, padahal hanya satu ons emas. Semoga kau tidak menyesal dengan nasibmu nanti!"

Teman-teman Pak Yu menjadi khawatir.

"Yu, kau sangat kaya. Bayar saja satu ons emas supaya kau terlindung dari kematian," bujuk mereka.

Pak Yu tetap tidak akan mendengarnya dan meninggalkan tempat itu. Tiga hari berlalu dengan cepat. Pak Yu duduk dengan tenang di rumahnya untuk melihat apa yang akan terjadi. Ternyata, tidak ada yang terjadi sepanjang hari itu.

Pada malam hari, dia menutup pintu rumah dan mematikan lampu, ia kemudian menunggu kedatangan kematian dengan pedang di sisinya.

Pak Yu berjaga-jaga selama dua jam. Namun tetap tak ada kejadian apa pun. Ia akhirnya memutuskan untuk berbaraing.

Namun, tiba-tiba ia mendengar bunyi goresan di jendela. Kemudian, ia melihat ada makhluk kecil merayap masuk membawa tombak.

Ketika mencapai tanah, tubuhnya seketika menjadi tinggi seperti manusia. Pak Yu segera tahu kalau itu adalah makhluk sihir. Pak Yu menghunuskan pedangnya, tapi hanya berhasil menghunus udara. Makhluk itu menyusur kecil lagi dan berusaha melarikan diri melalui celah jendela.

Namun Pak Yu menyabetnya dengan pedangnya sehingga makluk itu terjatuh ke lantai. Pak Yu lalu menyalakan lampu. Yang tampak di lantai ternyata hanya sehelai keras berbentuk makhluk kecil. Ketas itu sobek terkena pedang Pak Yu tadi.

Pak Yu akhirnya takut untuk tidur. Ia duduk menunggu, sampai sakhirnya ia melihat goblin berwarna hijau berhidung bengkok masuk lewat jendelanya.

Makhluk itu berwajah mengerikan. Begitu makhluk itu menginjak tanah. Pak Yu langsung memukulnya dengan pedangnya.

Makhluk itu langsung jatuh ke tanah dan berubah menjadi patung tanah liat yang pecah berantakan.

Pak Yu segera memindahkan kursi ke dekat jendelanya agar bisa mendengar kursi bergeser jika ada yang masuk. Pak Yu terus mengawasi celah di jendelanya.

Setelah beberapa waktu, dia mendengar suara seperti banteng yang melenguh keras di luar jendela. Di saat itu, terdengar bunyi benturan di dekat jendela, seperti ada kekuatan yang mendorong jendela dnegan kekuatan besar dari luar. Seluruh rumah bergetar dan tampak seperti akan runtuh.

Pak Yu takut dia akan terkubur di bawah reruntuhan. Ia terpaksa memutuskan untuk bertarung di luar rumah. Jadi, ia keluar dari pintu dan bergegas keluar.

Di luar, ia berhadapan dengan iblis berkepala banteng yang sangat besar, setinggi rumah. Denga bantuan cahaya bulan, ia bisa melihat bahwa wajahnya dan memiliki beberapa anak panah di pinggangnya.

Pak Yu ketakutan. Iblis itu melepaskan panah kepadanya dan segera ia tangkis dengan pedangnya. Pak Yu bersiap untuk menyerang.

Iblis itu melepaskan anak panah lain. Pak Yu menghindar dengan melompat ke samaping. Panah bergetar menembus dinding luar rumahnya.

Iblis itu menjadi sangat marah. Ia menarik pedangnya dan memutarnya seperti angin badai. Ia ingin menghantam Pak Yu sekuat tenaga. Namun, Pak Yu menunduk. Seluruh kekuatan pukulan jatuh ke dinding rumahnya sehingga rumah Pak Yu terbelah dua.

Pak Yu kemudian berlari keluar dari antara kaki iblis itu. Ia lalu menghantam punggung si iblis dengan pedangnya. Ia hantam dan hantam.

Iblis menjadi sangat marah,. Ia melempar pedangnya, lalu meraung seperti guntu, berbalik untuk menyerang Pak Yu dengan tangan kosong.

Namun, Pak Yu kembali berlari di antara kedua kaki iblis. Ia mengambil pedang si iblik dan menghantam punggung iblis itu.

Iblis itu seketika jatuh ke tanah dan berubah menjadi asap. Ketika asap itu hilang, yang tampak hanya sebatang kayu setinggi manusia. Busur dan panah masih tergantung di pinggagnya.

Pak Yu duduk dengan pedang di tangannya sampai pagi. Ia akhirnya sadar kalau semua makhluk aneh itu dikirim oleh si peramal yang bisa sihir. Peramal itu ingin membunuh Pak Yu untuk membuktikan kekuatan sihirnya.

Keesokan harinya, Pak Yu menceritakan hal itu pada teman-temannya. Mereka bersama lalu pergi ke tenda si peramal itu lagi.

Namun begitu melihat mereka, si peramal mengeluarkan ilmu sihirnya sehingga ia tak terlihat di depan mereka. Peramal itu seperti menghilang dalam sekejap mata.

Salah satu temannya berkata, "Kau harus menyiramnya dengan rendaman daun teh. Konon, itu bisa membuat orang yang memakai sihir tak terlihat jadi bisa terlihat lagi,!"

Pak Yu segera membuat seember rendaman dauh teh. Ia lalu kembali datang ke kemah si peramal. Ketika melihat Pak Yu kembali, si peramal segera membuat dirinya tak terlihat lagi. Tapi Pak Yu menyiram seember air rendaman teh itu ke tempat ia berdiri tadi.

Seketika ia bisa terlihat lagi. Kepala dan wajahnya berlumuran daun-daun teh. Matanya melotot merah dan mengerikan.

Teman-teman Pak Yu segera menangkapnya dan membawanya ke penjara. 
Reactions:

0 comments:

Post a Comment