Akhirnya Bertemu Kembali, Cerita Hari Ramadan

Akhirnya Bertemu Kembali, Cerita Hari Ramadan

INIKECE - Hari ini mirip seperti dua tahun lalu. Dekat dengan Ramadan, terasa adanya kebersamaan. Siapa yang tak bahagia dengan berkumpul bersama keluarga? Menikmati santapan berbuka bersama. Saya juga demikian, meski hanya berdua bersama kakak saya.

Sedikit berbeda, hari ini jelang akhir Ramadan. Orang-orang sibuk melipat baju, mengemasnya dalam koper-koper besar sambil bersuka cita menanti tibanya momen Hari Raya. Ada rasa tak sabar dan ingin rasanya waktu berakselerasi.

Tapi, tidak dengan kami berdua, aku dan kakakku. Kami tak menjalani tradisi pulang kampung, tahun ini dan mungkin tahun-tahun berikutnya. Bukan karena tiket pesawat yang kelewat mahal, bukan, tapi karena kami telah kehilangan 'rumah' yang sebenarnya.

Namun, kami pun tidak ingin melewatkan hari raya di tempat ini, diruangan kecil tempat kami berdua berbagi tempat tidur. Jadi, kami harus pergi. Entah kemana, pokoknya harus pergi.

Kami teringat, rasanya kami punya keluarga dari ibu yang tinggal di sebuah kota di selatan Pulau Jawa. Rasanya sudah hampir 15 tahun kami tak bertemu. Namun aku masih ingat, sebagian orang, samar-samar dalam kenangan yang suka berubah-ubah.

Kami pun memutuskan pergi, dengan bus malam, berharap Hari Raya kami pun ada sedikit keramaian orang. Sesampainya di kota itu, hari sudah gelap, tak ada banyak penerangan. Kami dijemput paman, adik dari ibu. Sepanjang jalan menuju rumahnya kami ditemani kesunyian di antara pohon-pohon yang gelap. Sedikit membuatku merinding. Kadang ketika kutoleh, kuharap tak melihat bayang-bayang putih.

Pamanku ini, hidupnya sederhana, tidak neko-neko, tidak banyak mimpi-mimpi materialistik. Rumahnya sederhana ala rumah desa karena memang rumahnya di desa. Kalau ada yang bilang manusia bisa bahagia tanpa harga, pamanku ini bisa menjadi contoh jelas. Baru dua hari aku tinggal, tapi banyak pembelajaran. Aku heran padanya, ia selalu mudah tertawa, sedih pun dibawa senang.

Buka puasa di rumahnya, menuya tak mahal-mahal, semuanya dari keringat sendiri, usaha sendiri, dan dari tanah sendiri. Hal yang unik rasa masakannya bukan manis, pedas, asin. Rasanya berharga, memakan apa yang benar-benar diusahakan sendiri. Dan tak pernah terlewatkan selalu ada tawa di antaranya. Selalu bahagia.


Kutanya tentang hidupnya. Ia berujar ringan, "Hidup dibawa senang ae, Ie. Rejeki yo gustri Allah yang nentukan. Dikit juga nggak apa-apa, masih bisa makan, masih bisa doa."

Bangun pagi di desa memang berbeda, dengan sepeda ontel lama aku dan kakakku mengelilingi desa. Ini seperti momen lama, waktu kecil dulu. Aku duduk di belakang, kesakitan karena jalan yang berlubang. Kubiarkan saja kakakku mengayuh jauh. Desa memang selalu tentang sawah, pohon dan orang-orang ramah. Selalu ada yang menyapa meski tak kenal.

Aku sibuk menikmati pemandangan desa, kakakku terus mengayuh, entah mau kemana dia. Dalam perjalanan pulang, kami salah arah. Aku masih ingat, saat itu tiba-tiba ada hawa dingin, ternyata kami sampai di kuburan. Kami langsung diam, padahal sebelumnya kami ngobrol tertawa.

Putar saja sepedanya, dan tetap tenang mengayuh pelan-pelan. Diam dulu, kalau ribut nanti ada yang mengikuti. Setelah keluar dari zona yang menakutkan itu kami tertawa lepas, seperti dua anak kecil yang lama kukenal. Tapi hari ini, aku tak melihat dua anak kecil itu. Keduanya sudah menghilang berganti dua orang dewasa fisik yang lebih besar dan kenangan yang sama.

Ibu punya beberapa saudara selain paman. Di hari keempat, kami pergi ke rumah saudara perempuan ibu yang masih hidup. Kami dipinjami sebuah motor untuk ke sana. Kami beruntung tak tersesat, karena google maps tidak bisa dipercaya kesaktiannya di sana.

Kami sampai. Rumah desa selalu halaman yang cukup luas. Ketika kami memarkir motor di halamnnya, tiba-tiba kami kaget. Ada suara teriakan dari dalam rumah. Kami mendekat, ternyata teriakan ibu kepada cucu-cucunya yang masih kecil. Dan ketika ibu itu berpaling, itulah saat teraneh dalam hidupku. Waktu seperti membeku.

Aku bisa melihatnya di sana ibu seperti hidup kembali. Mirip, seperti saudara kembar. Aku dan kakakku diam untuk beberapa menit. Kami tak percaya, benar-benar tak percaya.

Aku dan kakakku lalu dipersilahkan duduk di ruang tamu dan disuguhkan hidangan kecil di meja. Kami tak melewatkan apa yang tersaji di atas meja, kami hanya menikmati apa yang kami lihat. Ibu itu, kami ingin puas melihatnya, sebelum kami meninggalkan tempat itu.

Ibu itu menangis di depanku. Betapa terharu ia melihat keponakan-keponakannya yang sudah besar kini. Dan mata saudara perempuannya yang sudah pergi, ada di mataku. Pada akhirnya, kami harus meninggalkan rumah itu. Sebelum motor dinyalakan, aku dan kakaku saling tersenyum. Kami saling tahu apa arti senyuman itu.

Hari raya sudah usai, saatnya melipat baju dan memasukkannya kembali ke dalam koper. Kami harus kembali ke kota, ke rutinitas. Kami pamit ke paman dan bibi. Kali ini dengan bus siang, kami memulai perjalanan. Kami melihat ke belakang, kota kecil itu sudah tidak terlihat. Kami sampai ke kota saat senja tiba.

Ramadhan memang selalu tentang keluarga. Semoga mereka selalu diingatkan, orang-orang yang lupa betapa pentingnya kebersamaan.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment