Hari Ramadan Di Dalam Mimpu, Cerita Ramadan

Hari Ramadan Di Dalam Mimpu, Cerita Ramadan

INIKECE - Hari demi hari kulalui dengan penuh kegembiraan. Sukacita menunggu dosen, tersenyum melihat kawan-kawanku menerima ijazah. Ikut terbahak menyaksikan tawa kawanku dengan pacarnya. Bahagia dengan prestasiku.

Bahagia dengan kebahagiaan yang ada. Tetapi seseungguhnya aku sudah muak dengan harapan palsu dosen. Deretan kawan-kawanku yang sudah sarjana pun membuatku tertekan. Aku juga iri dengan temanku yang dengan mudahnya gonta-ganti pacar. Aku bahkan tidak punya prestasi.

Aku tahu, aku bukanlah manusia yang baik. Tapi aku selalu mencoba menjadi versi terbaik dari diriku, agar versi terburukku tidak ada ksempatan menunjukkan jati dirinya. Tapi apalah daya, aku hanya manusia biasa.

Hari ini adalah Ramadan keempatku terpisah dari keluarha. Hidup di peratauan menempa diriku menjadi sosok wanita kuat dan mandiri. Namun, terlalu kuat membuatku menjadi keras. Aku terallu mandiri, hingga menjadi sombong karena dapat mengerjakan semuanya sendri.

Tiga tahun aku bisa bangun sahur sendiri. Berbuka sendiri atau mungkin sesekali ditemani beberapa kawan atau perkumpulan. Tapi tahun keempat ini akan menjadi Ramadan terberat dalam hidupku. Aku sedang berada di titik terbawah kehidupanku. Berhari-hari aku habiskan di kos tanpa tahu apa yang harus kulakukan dengan hidupku.

Kehilangan arah? Bisa jadi, aku tidak lagi yakin aku ingin menjadi dokter. Ya, aku calon dokter. Tapi ternyata di tahun keempatku, aku baru menyadari bahwa profesi ini terlalu berat untukku. Aku tidak pernah menceritakan ini kepada siapapun, apalagi kedua orangtuaku.

Mereka pasti akan sangat kecewa karena aku yang seharusnya jadi generasi pertama di keluargaku yang berhasil jadi dokter,ternyata tidak lagi yakin dengan profesi itu. Aku takut terlalu takut untuk mengecewakan mereka. 

Aku terdasar dari lamunanku saat ponselku berdering. Ada panggilan masuk, ternyata dari ibuku.

"Hallo mih, kenapa?"

"Udah makan belum?" tanya ibuku yang biasa aku panggil 'mami'.

"Udah," Jawabku dengan suara bergetar.

"Kamu buka puasa pake apa?"

"Nasi. Ayam geprek. Biasalah."

"Oh...," jawab ibuku pendek. Sempat hening beberapa saat lalu ibuku bertanya lagi
"Tadi buka sama siapa?"

Aku diam beberapa saat lalu menjawab, "Sendiri, mih."

"Kok sendiri? Kenapa buka puasa pertama gak sama temen-teman aja?"

"Mereka semua buka puasa sama keluarganya, mih. Beberapa ada yang pulang kampung," Ibuku terdiam mendengar jawabanku. Aku tahu ibuku khawatir, tapi aku berusaha membuat keadaanku tidak terlalu menyedihkan dengan berkata, "Mami tenang aja, jadwal bukberku udah padet kok. Jadi besok aku buka puasa nggak sendiri lagi."

"Oh yaudah kalo gitu. Tadi bisa kan bangun sahur sendiri?"

"Iya bisa mih."

"Yaudah, mami mau ngasih makan anak-anak dulu. Udah pada meong-meong dari tadi, hehehe...."

"Jangan lupa kasih vitaminya juga ya mih." Setelah ibuku mengiyakan, aku matikan sambungan telepon dan merutuki diriku sendiri. Aku sudah berbohong di hari pertama bulan Ramadan. Kepada ibuku sendiri. Nice job, Kei! Aku bahkan baru punya dua jadwal buka bersama.

Aku berdiri dari tempat tidurku dan menghubungi setiap group yang ada di LINE untuk menginisiasi bukber.

GROUP 1 (aku, Ayni, Vani, Putri, Tia)

Aku : bukber kuy rek (20.22)

Ayni : kuy. Kapan? Sekalian mit n grit yuk, udah lama nih (20.33)

Aku : BETUL (20.34)

Tia : aku bisa kapan saja (20.50)

Vani : aku sabeb (20.55)

Aku : tanggal 9 mau gak? Hari Kamis (20.55)

Putri : kali w ga mager ya. He he (21.31)

Tia : bukber di kontrakan kamu aja kah? Biar kamu gak mager? (21.32)

Putri : boleh banget. Tapi ayahku pasti bilang 'gak banget' haha (21.32)

MAGER. Satu kata yang bagaikan petir bagiku. Mungkin Putri terlalu bosan bertemu denganku, atau hanya memang tidak ingin bertemu sahabat-sahabatnya. Aku tak tahu, Aku mencoba membuka group chat lain yang didalamnya juga ada Ayni, Tia dan Vani.

GROUP 2 (aku, Ayni, Vani, Tia, Dira, Hani, Irfan)

Aku : AYO BUKBER REEK (21.33)

Ayni : yuhuuu (21.34)

Irfan : Manut (21.40)

Aku : tanggal 10 hari jumat pada bisa gak? (21.40)

atau senin tanggal 13 maybe?? (21.45)

Ayni : minggu depan masih pada di malang gak?? Kali iya, puasa minggu ke 2 aja dong (21.46)

Dira : besok! (21.47)

eh iya lupa ada arek Malang, wkwk (21.47)

Ayni : bisa dipecat jadi anak aku. Dir, kalo gak buka puasa pertama di rumah wkwk (21.47)

Aku : berarti seharunya aku udah dipecat jadi anak dari 4 tahun lalu ya hmm (21.48)

Lagi-lagi sarkasme yang keluar dariku. Tidak lama ada chat masuk dari group ku yang pertama


GROUP 1 (aku, Ayni, Vani, Putri, Tia)

Ayni : Kei.. @Keira (21.48)

bukbernya jangan urutan plis..aku bisa diusir mamakku kalo bukber di luar terus (21.48)

Putri : Itu. benar banget Ay!! (21.49)

Ayni : Maksudku nggak papa kali tanggal 9 kan sama kalian. Terus tanggal 8nya udah bukber sama teman kelas kita kan. Tapi kali di group 2 jangan tanggal 0. Matek dipites mamak ku kali berurutan 3x bukber diluar (21.49)

Aku " terserah kalian deh, coba kalian tentuin tanggal. Jadwalku masih kosong song song like..yeaa seperti biasa. Abis gak enak buka sendiri hehe maklum nasib anak rantau (21.51)

Tia : ke kontrakan ku aja sini, Kei. Rame disini (21.55)

Aku tersenyum miris lalu beralih ke group chat 2.

GROUP 2 (Aku, Ayni, Vani, Tia, Dira, Hani, Irfan)

Aku : Okay, tanggal 13 ya (21.55)

Dira : gw confirm 2 hari sebelum nya ya (21.56)

Irfan : aku bebas wes (21.56)

Vani : bisa (21.57)

Tia : sabi sabi (21.58)

Aku menutup group chat 2 dengan sedikit kesal lalu beralhir ke group chat 3 yang berisi kawan-kawan sekelompok penelitian skripsiku yang juga ada Putri di dalamnya.

GROUP 3 (Aku, Putri, Mela, Ana, Rima, Diba)

Rima : WEH. Bukber kagak nih? (21.30)

Aku : ayok. Jadi makan ramen yang baru buka gak? (21.58)

@Ana kapan balik malang? (21.58)

Rima : iye kapan balik lu? (21.58)

Ana : lusa cuy (22.00)

Rima : asoooy. Kapan nih gaes? (22.01)

Putri : bebas ladub ae gua mah (22.05)

Diba : rabu aja apa? (22.05)

Aku : gak bisa tanggal 7-9 gua (22.05)

Diba : terserah wes, asal jangan sabtu minggu, nanti rame nya dobel. Malesin banget jalanan kalo malem minggu (22.06)

Aku mengunci layar ponselku dan melemparkan tubuhku ke atas kasur. Entah apa yang membuatku sangat kesal dengan teman-temanku hanya karena bukber. Kutahan air mataku dan bilang pada diriku sendiri, "You're better than this. Don't cry. You're stronger than this. Jangan bairin hal sepele bikin kamu goyah. Kamu kuat." Aku mengulang-ulang kalimat-kalimat tersebut di kepalaku sampai akhirnya semua gelap.

=======

Aku duduk di salah satu cafe langgananku keesokan harinya sambil menghisap rokok dan ditemani satu gelas es coklat jumbo favoritku. Di depanku terpampang laptop dan skripsiku yang tak kunjung selesai sejak bulan Februari. Saat kualihkan pandanganku ke seberang jalan, ada anak laki-laki pedagang koran sedang memandangi diriku dengan seksama.

Aku berusaha tidak menghiraukannya, tapi anak itu mulai membuatku tidak nyaman. Tidak lama kemudian dia menyebrang dan berjalan ke arahku. Buru-buru aku menghabiskan rokokku dan menutup laptop siap untuk melarikan diri, tetapi anak itu lebih cepat dan hanya beberapa detik dia sudah berdiri di sebelahku.

"Kakak mau beli koran?" tanyanya.

"Tidak dek, terima kasih. Kakak udah mau pergi kok." Aku berdiri meraih tasku bersiap untuk pergi lalu aku dihentikan dengan pertanyaan anak itu lagi.

"Kakak nggak puasa?"

"Nggak dek."

"Kenapa, kak?"

"Hmm..," aku mencoba mencari jawaban yang tepat dan tidak berusaha berbohong karena aku sendiri juga tidak sedang menstruasi. "aku lagi gak mau puasa aja."

"Kakak bener. Puasa itu gak enak," katanya sambil duduk di bangku, di seberang aku duduk tadi.

"Bukannya kata orang puasa itu pahalnya banyak? Kan cuma sebulan dalam setahun. Kalo kata orang bulang penuh berkah kan dek."

“Terus kakak kenapa nggak puasa buat dapet pahala?” pertanyaan bocah itu membuatku kaget, kemudian aku balik bertanya.

“Kamu sendiri kenapa nggak suka puasa? Kan dapet pahala?”

“Aku puasa setiap hari kak. Jadi mungkin pahalaku udah banyak banget,” lagi-lagi aku dibuat kaget dengan pernyataannya. “Kakak ngabisin minumannya nggak kak? Kalo nggak, boleh buat aku? Aku haus banget.”

“Ka.., kamu suka coklat?”

“Coklat? Kedengerannya enak. Ini coklat kak?” katanya sambil menunjuk minumanku yang setengah penuh. Aku terenyuh. Bocah ini tidak tahu coklat?

“Ini punya kakak. Tapi kalau kamu mau, kakak beliin kamu yang baru ya.” Tanpa mendengar jawabannya aku menuju ke kasir dan memesan es coklat ukuran jumbo untuk bocah tadi. Saat aku kembali, bocah tersebut tersenyum lebar melihat es coklat dengan topping whip cream yang ada di tanganku. “Nama kamu siapa?” tanyaku saat bocah itu asik menyuap whip cream-nya.

“Baim, kak. Kalo kakak?”

“Aku Keira.” Jawabku, lalu aku bertanya lagi, “Baim kelas berapa?”

“Baim nggak sekolah,” Jawabnya dengan santai sambil masih memakan whip cream. Aku terdiam. Bingung harus merespon seperti apa, yang bisa kulakukan hanya mengaduk-aduk es coklatku dalam diam, “kakak sendiri kuliah?” tanyanya lagi.

“I, iya. Kakak kuliah.”

“Jurusannya apa kak?”

“Kedokteran dek.” Kataku sambil tersenyum ngeri.

Mata Baim seketika melebar dan bersemangat, “Kalau Baim udah bisa sekolah nanti, Baim juga pingin jadi dokter kayak kakak.”

“Kenapa kamu mau jadi dokter?” tanyaku dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Baim pengen nyembuhin ibuk, soalnya ibuk sakit terus. Baim udah pernah bawa ibuk ke dokter, tapi ternyata mahal banget. Jadi Baim pengen jadi dokter biar bisa nyembuhin ibuk sendiri, terus dapet banyak uang dari orang yang berobat ke Baim. Terus Baim bisa beli kompor, kipas angin, sepring bet, sapi yang banyak, pokoknya semua-semuanya deh buat ibuk. Lagipula kak, dokter itu keren, pake jas putih sama yang dimasukkin ke telingan yang ada selang nya gitu, kak. Terus bisa bantuin nyembuhin orang sakit lagi, hebat kan. Makanya Baim cari uang biar Baim bisa cepet sekolah terus jadi dokter deh, kak.”

Air mataku menetes tanpa aba-aba yang langsung aku usap secara tidak manusiawi. Aku langsung menghisap rokokku dan membuang asapnya dengan cepat. Aku malu terhadap diriku sendiri. Bagaimana bisa bocah kecil di hadapanku – dengan segala kepolosannya – bisa melihat betapa hebat profesi itu. Profesi yang akan menjadi milikku nanti. Gelar ‘dr’ yang akan segera berada di depan namaku yang tidak lagi aku inginkan, menjadi begitu hebat di mata seorang anak yang tidak kukenal ini. Aku menunduk malu di depan Baim yang lalu mencolek lenganku.

“Ya ada apa Baim?”

“Kakak cantik, baik lagi. Orang-orang pasti bakal seneng kalau dokternya cantik dan baik kayak kakak.” Katanya sambil tersenyum lebar, “kakak bakal jadi dokter dan nolongin orang-orang sakit kan, kak?” Aku tersenyum, sambil mengangguk. “Kakak janji ya bakal jadi dokter yang baik?”

Melihat senyum penuh harapan Baim, aku mengangguk dan menjawab “Iya,” dengan mantap.

“Kalau gitu kakak mau berhenti merokok nggak? Nanti kalo kakak yang sakit Baim gak bisa bantu ngobatin, soalnya Baim gak tau kapan jadi dokternya .”

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar kepedulian lugu bocah tengil ini, sambil mengusap air mataku yang lagi-lagi keluar. Aku punya adik, tapi adikku tidak sepeduli anak yang bahkan aku tidak tahu berumur berapa. Tapi tawaku mereda melihat ekspresi Baim yang serius tapi khawatir. Hening di antara kami, suaraku serak saat akhirnya aku menjawab, “Akan aku usahain ya, Baim.”

Baim tersenyum lebar yang menyadarkanku ternyata dia memiliki lesung pipit yang manis. “Kalau gitu aku pergi jualan lagi ya kak. Terima kasih buat es coklatnya. Aku baru pertama kali minum es coklat dan ini minuman paling enak sedunia.”

Aku tersenyum menyetujui pernyataan itu lalu membalas lambaian tangannya, namun sesaat aku meraih tasku, Baim berlari lagi kearahku dan berkata, ”Kak, aku lupa kasih tau kakak. Besok kakak jangan lupa puasa lagi ya. Oiya, kalau kakak cari temen untuk buka puasa, kakak bisa cari Baim di sepanjang jalan soekarno hatta, biar kakak gak sendirian lagi. Soalnya tiap sore, Baim pasti jualan di sana, kak.” Lagi-lagi kepedulian bertubi-tubi keluar dari mulut bocah itu. Aku tak kuasa membendung tangisku dan langsung memeluknya.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment