Kehabisan Waktu - Cerita Ramadan

Kehabisan Waktu - Cerita Ramadan

INIKECE - Sudah tepat lima hari aku mengurung diriku di kamar. Tidak makan, tidak mandi, tidak bekerja, tidur pun tak bisa walaupn sudah kupaksakan, tidak melakukan aktivitas biasa yang slelau kulakukan. Aku hanya keluar untuk mengambil air wudhu agar aku bisa sholat dan mengambil air minum.

Kulakukan saat hendak berbuka puasa dengan kedua abangku, satu kakak iparku serta satu keponakanku, tapi yang kuambil hanyalah air putih untuk membatalkan puasa, kemudian aku kembali ke kamarku dan menguncingnya. Sebanarnya saat di kamar aku juga tidak merasa lebih baik, sangat menyesakkan dada, rasanya sangat mencekik seperti mau mati saja.

Tapi ini lebih baik dibandingkan jika aku berada di ruang keluarga atau di ruang makan. Sudah tepat lima hari aku kehilangan akal sehatku, sepertinya aku bisa dijuluki dengan manusia tanpa akal sehat, akala sehatku melayang entah kemana.

Yang bisa kulakukan hanya marah dan menyalahkan yang seharunya tidak boleh kusalahkan. Aku terus bertanya kepada-nya kenapa ini semua terjadi secara tiba-tiba, tanpa pertanda apapun. Masih bisa bisa kuingat, kemarin aku masih bisa membantunya memasak, kemarin aku masih bisa memijat punggungnya, kemarin kami masih bisa berbuka dan sahur bersama dengan penuh canda tawa, dan kami masih bisa berangkat ke masjid bersama untuk menunaikan ibadah sholat tarawih. Tapi, tiba-tiba waktu berhenti.

Ya benar, sudah tepat lima hari waktuku berhenti. Sebenarnya bukan waktuku yang berhenti, tapi waktu kedua orang tuaku telah berhenti. Orang tuaku meninggalkanku di dunia yang mengerikan ini sendirian.  Tanpa pertanda apapun. Mereka sedang tidak sakit bahkan mengeluh sakit pun tidak ada. Dan aku sudah kehabisan waktu, aku menyia-nyiakan waktuku selama ini.

Aku sadar bahwa semua yang ada di dunia ini pasti akan kembali padanya. Aku dasar bahwa dunia ini hanyalah sementara. Tapi aku masih belum bisa menerima semua ini. Aku baru sadar setelah kehilangan mereka.

Ya, penyesalan memang akan sellau datang diakhir skenario, itulah yang membuatku menyalahkan yang seharunya tak kusalahkan, harusnya kusalahkan diriku sendiri. Malam itu tanggal 21 dibulan Ramadan, tepatnya pada pukul 21.44, layar ponselku berdering. Kulihat layar ponselku kemudian kubaca tulisan pada layar itu. 

Oh, ini telepon dari bang Ahmad. Bang Ahmad adalah anak kedua dikeluarga kami. Lalu langsung buru-buru kuangkat telepon itu.

"Fatimah, kamu dimana?" Tanya Bang Ahmad.

"Fatimah masih diluar bang, tadi buka bareng sama teman-teman. Ada apa bang?"

"Abang ada di rumah sakit Yos Sudarso, kamu kesini sekarang ya."

"Ada apa emangnya bang?"

"Udah kesini aja dulu."

"Oke, bang."

Aku pun langsung pamit dengan teman-temanku dan segera bergegas pergi ke rumah sakit. Sebelumnya aku tidak merasakan firasat apa-apa. Suara bang Ahmad juga sangat tenang saat ditelepon tadi, sampai aku tidak berpikiran yang aneh-aneh.


Setelah sampai di rumah sakit, bang Ahmad sudah menungguku di depan pintu unit gawat darurat rumah sakit. Langsung kuhampiri abangku, dia sedang duduk di kursi sambil menundukkan kepalanya dan menutup mukanya dengan kudah tangannya.

"Bang, Fatimah udah sampai. Abang sendiri saja? Siapa ang ada di UGD bang?" Seketika langsung kubanjiri bang Ahmad dengan pertanyaan.

Bang Ahmad melihatku lemas, terlihat dari raut wajahnya. Dia menatapku dengan mata merah dan sembapnya, cukup lama, diam tanpa kata. Kulihat dia berusaha untuk berdiri, tapi sepertinya tenaganya sudah tidak kuat lagi. Perasaanku sudah mulai tidak enak. Tiba-tiba hati ini terasa sesak walau aku belum tahu siapa yang akan dibicarakan oleh bang Ahmad.

"Fatimah, ibu sama ayah dek. Ibu sama ayah"

"Ibu sama ayah kenapa bang?!" Langsung kupotong kalimat bang Ahmad.

"Ibu sama ayah dipanggil sama Allah dek, tadi selesai sholat tarawih abang ditelpon sama tetangga. Mereka bilang saat sujud terakhir sholat witir, ibu gak bangun-bangun, dan setelah salam, ayah tiba-tiba pingsan. Orang tua kita langsung dibawa ke rumah sakit sama pak Dadang naik mobilnya. Istri pak Dadang juga langsung telepon abang. Ternyata ayah dan ibu udah gak ada sejak di masjid." Jelas bang Ahmad sambil menahan air matanya.

Aku tak bisa berkata-kata. Hanya bisa diam mendengarkan penjelasan bang Ahamad. Otakku langsung berpikir keras, tapi pikiranku sangat kacau. Bang Ahmad sambil mengajakku untuk melihat ayah dan ibu. 

Bahkan setetes air mata pun tak bisa lagi kukeluarkan dari mata ini saat melihat tubuh kedua orang tuaku berbujur kaku di ranjang rumah sakit. Hanya bisa diam seperti patung. Padahal hatiku seperti mau meledak rasanya saking tak percaya dengan apa yang sedang kulihat.

Tiba-tiba kepalaku pusing, terasa berputar, kaiku rasanya juga tak bisa lagi menompang tubuh ini. Kedekati kedua orang tuaku, perlahan air mataku turun, makin lama makin deras, dan kata-kata yang hanya bisaku keluarkan hanyalah menyebutkan "Ayah" dan "Ibu" saja. Sekejap tangisku pun meledak, aku meronta-ronta karena merasa tidak adil. Kedua abangku, bang Ahmad dan bang Furqon berusaha menenangkanku, tapi aku sudah tidak terkendali lagi.

"Istighfar, dek istighfar! Ikhlaskan ayah dan ibu, Dek!" kata Bang Furqon untuk membuatku tenang.

Aku sangat ingin berada di sisi ayah dan ibu. Aku kuatkan hatiku sampai tenang agar aku diizikan masuk untuk menemui ayah dan ibuku lagi. Setelah diizinkan masuk, kuratapi ayah dan ibuku, kucium kening ayah dan ibuku. Aku sangat menyesal, pertemuan terakhir kami adalah tadi pagi, saat aku hendrak pergi ke kantor. 

Kata-kata terakhir yang kuingat dari mereka yaitu menyuruhkan untuk selalu hati-hati di jalan dan jangan melupakan salatku. Seharunya hari ini aku tidak berbuka puasa bersama teman-temanku lagi. Ramadan tahun ini adalah waktu paling sedikit yang kusisihkan untuk berbuka bersam ayah dan ibuku. Malam itu aku terlarut dalam tangis.

Hari berganti hari, momen yang ditunggu-tunggu umat Islam sedunia tinggal sehari lagi. Ya, besok adalah Hari Raya Idul Fitri. Walaupun begitu, aku tetap larut dalam kesedihanku. Yang ada dibenakku hanya kenangan-kenangan yang kami lakukan bersama saat menjelang Lebaran Idul Fitri. Tak bisa kubayangkan apa yang akan kulakukan besok. Saat orang-orang berkumpul dengan orangtua mereka, dan aku dalam sekejap kehilangan kedua orangtuaku secara bersamaan.

Lagi-lagi aku menyalahkannya, lelah sudah,air mata ini pun sudah kering juga rasanya. Malam takbiran telah tiba, gema takbir menyerukan pujian untuk Allah dan mewarnai tiap punjuru kota. Warga kota juga menyambut denga sukacita malam ini. Tapi tetap saja aku terbaring di kamar menatap televisi dengan volume yang kuhidupkan cukup keras.

Tak sengaja kutonton acara dakwah, dakwah yang kudengar sangat melengkapi kesedihanku dibulan Ramadan tahun ini. Aku bertanya kepada Nabi, "Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab "Salat pada waktunya." Aku berkata, "Kemudian apa?" Nabi menjawab "Berbakti kepada oranguta." Aku berkata, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Kemudian jihad di jalan Allah."

Air mataku tak dapat kutahan, au mengingat diriku yang sampai ayah dan ibuku meninggal, aku belum menjadi anak yang berbakti kepada orangtua. Sekarang aku sudah tidak memiliki orangtua lagi. Malam itu kututup dengan penyesalan sampai aku tertidur.

"Mah, Fatimah, bangun nak sudah jam 3 pagi. Ayu sahur, jangan tidur lagi ntar puasanya gak kuat kalo gak sahur"

Tersontak aku bangun dari tempat tidur, melihat ibuku sedang membangunkanku untuk sahur. Tangisku langsung pecah seketika, aku memeluk ibuku sambil menangis tak henti-henti.

"Astaghfirullah, kamu kenapa? Kenapa baru bangun langsung tiba-tiba nangis gitu?" Tanya ibuku sambil keheranan karena tingkahku.

"Fatimah mimpi bu, Fatimah mimpi ayah dan ibu meninggalkan Fatimah sendirian. Fatimah takut, Bu. Maafkan kelakuan Fatimah selama ini. Fatimah belum bisa jadi anak yang berbakti kepada ayah dan ibu. Maafkan Fatimah selau sibuk dengan pekerjaan Fatimah dan jarang menemani ayah dan ibu."

"Nak, istighfar. Kamu cuma mimpi. Ibu sama ayah di sini kok sama Fatimah, gak kemana-mana. Mungkin itu terguran dari Allah, supaya Fatimah bisa jadi anak yang solehah dan gak lupa buat doain sama ayah sama ibu tiap saat. Fatimah tau gak? Doa anak soleh itu insya Allah dikabulkan lho sama Allah."

"Ia bu, maafin Fatimah bu. Fatimah takut."

"Kenapa minta maaf? Fatimah gak ada salah apa-apa kok. Yaudah yuk kita sahur bareng, ayah udah nunggu."

"Oke bu, hehe. Kita sahur apa hari ini?"

Mimpi yang terasa sangat lama dan sangat nyata walaupun aku hanya tertidur selama lima jam. Cukup menampar hatiku agar selalu ingat kepadanya. Mengingatkanku untuk selalu berbakti kepada kedua orangtuaku.

"Ya Allah, Tuhanku...Ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku, kasihanilah keduanya, sebagaimana keduanya mengasihaniku di waktu aku masih kecil." Aamin.

Tentang Penulis : 

Amrina Aulia Siregar anak ketiga dari tiga bersaudara. Lulusan tahun 2018 dari Universitas Negeri Padang jurusan Teknik pertambangan yang sedang mencari jati diri dan selalu berusaha mengembangkan diri. Bercita-cita untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang berguna bagi nusa dan bangsa, Indonesia.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment