Suntuk Dan Bosan? Baca Cerita Ramadan Puisi Larissa

Suntuk Dan Bosan? Baca Cerita Ramadan Puisi Larissa

INIKECE - Tak terasa, tahun pertamaku di SMA ini sudah hampir berlalu. Aku tiba di bulan dimana hampir seluruh siswa sibuk menuntaskan nilai untuk kenaikan kelas. Alhamdulillah, nilai-nilaiku tidak ada yang perlu diperbaiki sehingga di hari terakhir ini, aku tinggal tidur di kelas menunggu teman-temanku datang dan meminta bantuanku.

"Farah, soal yang ini gimana caranya, ya?" Evi menghampiriku.

"Oh, yang ini..."

Baru saja aku mulai menjelaskan, tiba-tiba seseorang menabrak mejaku dan menjatuhkan seluruh barang-barangku.

"Ah, maaf, aku buru-buru..."

Orang itu menunduk sebentar, kemudian bergegas keluar kelas dengan tas yang ditentengnya.

"Apa-apaan, sih?! Udah jatohin main pergi saja! Bantu ambil kek!"Seru Evi, membuat semua orang menengok ke arahnya. Aku menghela napas, memunguti alat tulisku yang berserakan.

Emangnya udah boleh pulang ya? Kok, dia bawa tas keluar sih? Dasar ansos... Teman-temanku yang lain mulai berbisik-bisik.

"Sudah, sudah. Nggak apa-apa. Ini hari pertama Ramadan, jangan marah-marah, apalagi ngegosip. Nanti puasanya batal, lho," ucapku yang sebenarnya sedikit kesal dengan sikap Larissa. Mereka pun berhenti mencaci Larissa dan kembali sibuk dengan tugas masing-masing.

Akhisnya, bel pulang berbunyi. Aku yang sudah tidak sabar ingin merebahkan diri di kasur, hampir mengumpat begitu wali kelasku meminta petugas-petugas piket hari ini membersihkan kelas. Aku makin mengelus dada begitu mengetahui petugas lainnya sudah kabur.

Aku sedang membersihkan meja di pojok kiri belakang, ketika mataku tertumbuk pada puisi di setumpuk kertas.

Bulan suci kini diiringi sunyi

Sepiring nasi disiapkan sendiri

Canda tawa di atas meja telah berganti

Kenangan ini sungguh menusuk hati

"Sepertinya puisi ini baru ditulis hari ini," batinku. Aku mengingat-ingat siapa yang menduduki bangku itu hari ini.

"Hmm... Larissa?"

Aku membalik kertas lainnya. Kali ini, yang kutemukan bukanlah tulisan. Melainkan sebuah gambar yang kuyakini sebagai dirinya dengan seorang wanita tua di sebuah taman rumah sakit.

Aku melirik jam dinding. Pukul dua lewat lima menit. Aku bergegas mengambil kertas-kertas yang tersisa di kolong meja Larissa dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian, aku segera memesan ojek online ke tempat yang digambar oleh Larissa, aku tahu itu pekarangan Rumah Sakit Juanda.

Aku tidak tahu mengapa aku ingin mendatangi tempat ini. Aku hnya teringat wajah Larissa yang panik dan ingin menemuinya.

Aku mengitari taman yang digambar Larissa di kertas tersebut, namun Larissa sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Aku pun duduk di salah satu bangku panjang dibawah pohon rindang. Aku memutuskan untuk melihat karya-karya Larissa lainnya, berharap mendapat petunjuk lain untuk menemukan Larissa.

Ketika cita-cita sudah tak sejalan dengan cara

Sedangkan logika tertutup atas nama asmara

Hendak meluruskan beliau yang salah

Apa daya yang kubisa selain kalah

Aku benar-benar tidak mengerti makna pusis ini, namun aku kembali merasakan kesedihan Larissa ketika menuliskan puisi ini. Aku membalikkan kertas tersebut, kemudian aku menemukan sebaris tulisan kecil di pojok kertas.

Mamah, maafkan aku. Cepat sembuh.

"Pasti ia datang untuk mengunjungi ibunya," aku mengeluarkan buku kecilku. Sebagai skretaris, aku menyimpan seluruh data siswa di kelasku, termasuk nama orangtua mereka. Ketemu. aku pun bergegas menghampiri resepsionis.

Aku tak bisa menyembunyikan rasa terkejutku saat resepionis menyebutkan sebuah ruangan. Aku bergegas menuju tempat yang ditunjuknya dan menemukan Larissa yang terduduk sendiri dengan mata sembap.

"Larissa.."

"Farah? Kenapa kamu disini?" Larissa terlihat terkejut melihatku. "Ah, untuk yang tadi, aku minta ma.."

"Nggak, nggak apa-apa, sungguh," potongku. "Bagaimana keadaan ibumu?" Tanyaku pelan. Larissa terdiam. "Tidak usdah dijawan kalau tidak ingin cerita."

"Nggak apa-apa. Santai saja ngomongnya, nggak sudah kaku. Kayaknya aku juga butuh teman cerita," Larissa tersenyum tipis.

"Mamaku kena meningitis, nggak bisa ngajar lagi, padahal dia dosen yang cukup aktif di kampus. Beliau dirawat terus. Sementara Papaku malah memilih menikah lagi. Kesel sih."

Larissa menunduk. Aku bingung harus bilang aoa.

"Sudah dua tahun ini, aku melewati Ramadan sama Mama. Kadang-kadang di rumah sakit, kadang-kadang di rumah. Aku paling suka Ramadan ini, karena ku punya banyak wakti buat nemenim Mama. Masaki sahur, baca Alquran bareng, cerita-cerita, sampai buka bareng, aku yang selalu masakin."

Aku merinding mendengarnya.

"Kalau di luar Ramadan waktuku sering habis untuk cari uang juga. Aku suka bantu-bantu tetangga beresih rumah. Jadi aku nggak perlu minta uang lagi  untuk jajan."

"Kamu nggak kontakan lagi sama Papamu?"

"Papa cuma ngontak buat biaya rumah sakit. Beliau bilang minta kalau butuh, tapi aku nggak mau."

Ada nada sedih dalam suaranya, membuatku menyesal bertanya. Aku terdiam, bingung harus merespons apa. 

"Aku kangen Ramadan bersama mereka berdua. Mama suka jewer kuping kalau sulit bangun saat sahur. Mama juga suka ngajak tahajud bareng, sekaligus cerita-cerita setelahnya. Semenjak Mam sakit, nggak bisa lagi," ujar Larissa.

"Aku berharap Ramadan ini masih bisa terus bersama Mama. Tapi aku juga lelah, ngeliat Mama nggak sembuh-sembuh dan menderita," lanjutnya.

"Allah SWT tahu yang terbaik untuk kalian, Ris. Tetaplah berdoa dan jangan putus asa. Mamamu pasti bisa sembuh, Ris."

"Mama udah nggak ada, Far"

"Hah?"

"Operasinya gagal."

"Mama minta aku jenguk sebelum operasi. Aku tahu itu adalah kesemaptan terakhirku mendengar nasihatnya, menikmati senyum indahnya, dan memeluknya erat."

"Papamu di mana?"

"Lagi di jalan menuju ke sini, bersama keluarganya, Dari Jakarta"

"Lalu kamu bakal ikut papamu nanti? Kamu bakal pindah?" Aku benar-benar tidak dapat menyembunyikan penasaranku.

"Iya. Berita baik untuk kalian semua, pembenci Larissa Andaristi yang ansos, gak punya malu, dan gak solid karena gak pernah ikutan acara kelas." Larissa tersenyum pahit.
"Pesan terakhir Mama adalah agar aku ikut tinggal di Jakarta sama Papa, capai cita-cita jadi penulis, dan minta maaf kepada semua orang yang membenciku."

Larissa menggenggam tanganku, "Farah, bisa tolong sampaikan puisi ini besok di depan kelas?"

===

Jakarta, satu tahun kemudian.

"Assalamualaikum," aku mengetuk pintu rumah berwarna biru muda tersebut. Seorang pria separuh baya membukakan pintu. "Waalaikumsalam. Silahkan masuk, Larissa sedang menyiapkan takjil di dapur."

Aku dan teman-teman memasuki ruang makan yang luas itu dan menata makanan yang dibeli di perjalanan tadi sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh Larissa. Tak lama kemudian, terdengar kumandang azan dari masjid sebelah.

"Larissa, sudah azan," panggil ibu tirinya lembut.

Terdengar langkah Larissa menuju ruang makan. Ia membawa nampan berisi semangkuk besar es buah. Alangkah terkejutnya ia begitu melihat siapa saja yang berada di ruang makan keluarga barunya itu.

"Larissa, maafkan kami!" Seluruh siswa kelas 10-D yang duduk melingkari meja yang luas itu menyambut Larissa.

"Kenapa bisa begini..." Larissa meletakkan mangkuk es buah itu di meja, kemudian menatap mataku dan kubalas dengan kedipan. Ketua kelas kami, Arya, memberikan sebuah buku yang kami buat bersama-sama.

"Ini ap?"

"Baca aja nanti," jawabku penuh rahasia.

"Semoga dengan ini kamu memaafkan kami ya." ucap Evi.

"Kami tidak tahu keadaanmu, dan kami amat menyesal," tutur Alia.

"Tiap halamannya ada puisi buatan kamu untukmu sebagai permintaan maaf. Semoga bisa menginspirasimu untuk menjadi penulis hebat ya!" Tambah Arya.

Larissa tersenyum. Ia teringat nasihat Mamanya yang kini telah di surga.

Komunikasi adalah kunci terbaik untuk kesalahpahaman. Tidak perlu memaksakan diri untuk menjelaskannya dengan lisan. Tulislah apa yang ingin kamu ungkapkan dengan tulus, mereka yang berilmu tentunya akan mengerti keadaanmu, serta memaafkanmu.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment