Balutan Cerpen, Jodoh Yang Hilang

Balutan Cerpen, Jodoh Yang Hilang

INIKECE - Tlah berumur tiga puluh tiga. Umur yang menandai kondisi puncak seseorang dalam masa mudanya. Jika ia perempuan, maka kecantikannya akan tersirat sempurna. Jika ia laki-laki, maka ketampanannya akan terpancar prima.

Aku bangga karena sedang berada di kondisi terbaikku. Wajahku berseri-seri, kulitku terawat, kepribadianku menarik. Aku tahu betul cara sopan santun kepada yang lebih tua, dan aku paham sekali bagimana bersikap kepada yang lebih muda.

Tetapi ....

Aku belum juga bertemu jodohku, jika sekarang kami bersama, mungkin hidupku lebih dari sempurna. Melebihi sakinah mawadah warahmah yang ngetop di kartu-kartu undagan. Lantas, aku teringat masa lalu. Ketika usiaku masih seusiamu.

25.

Kudatangi seorang tukang ramal di sebuah gang kecil Casablanca. Wanita berpakaian Gipsy itu menyoroti baju gamisku yang lebih coock dikenakan saat melayat ketimbang jalan-jalan. 
Ia menyilahkanku duduk lalu memilih kartu bergambar aneh-aneh. Barulah kutahu bahwa ia pembaca Tarot. Ratu, Bulan, Sebelas Pedang. Ia membaca seksama tiga kartu pilihanku itu. Alisnya mengkerut, gelang-gelangnya gemerincing, dan mulutnya seirus.

"Anak muda, kau akan bertemu jodoh sebentar lagi. Saat jiwamu matang dan buah dadamu padat terisi."

Aku ingin tertawa berbahak-bahak. Apa yang sedang dikatakannya? Apa ia sedang mengibul? Bagaimana mungkin jiwa matang yang berarti tua disandingkan dengan buah dada padat berisi yang artinya beranjak dewasa? Ada-ada saja akal bulus orang cari duit.

Aku pun hanya tertawa kecil. Yang sudah jelas kutahan-tahan agar tak meledak agar tak kelihatan meledek.

"Jadi, saya akan bertemu jodoh sebentar lagi?"

Ia mengangguk.

Kujabat tangannya sembari mengulurkan lembar uang seratus ribuan kepadanya. Terima kasih atas omong kosongnya, batinku berkata.

27.

Tidak ada tanda-tanda ia datang. Aku menunggu.

28. 

Ramlan wanita Gipsy itu jadi kenyataan, aku bertamu seseorang yang amat rupawan. Ia pintar, jago main biola, dan vegetarian. Ia tahu cara bersenang-senang tanpa menghamburkan banyak uang. Meski ia punya sumber uang.

Sebuah perusahaan investasi logam mulia yang jika ia mau, ia besa beli apa saja termasuk harga diri seseorang. Tapi ia tak begitu. Ia muda, sama sepertiku. Ia ajari aku main biola. Kusangka memainkan biola mudah seperti memainkan gitar. Tak begitu rupanya. Ketelatenannya memainkan benda satu itu memicu celebral otaknya untuk telaten pula menghadapi memainkan perempuan.

Setahun, dua tahun, tiga tahun. Kutantang ia untuk mengesahkan perkenalan kami yang sudah bukan perkanalan lagi. Untuk apa lama-lama? Kita sudah saling kenal. Kamu pintar, romantis, dan makananmu sehat semua. Kamu aplha male. Aku alpha female.

Kita ini sama, begitu yang dikatakan buku-buku New Age tentang cara berpasangan, apalagi? mau apalagi?


Kaupun mendudukkanku dibalkon tempat kita bertemu pertama kali. Di kursi merah yang menghadap pemandangan laut biru di seberang sana.

"Indah bukan?" Tanyamu mengalihkan pembicaraan. Aku malas menjawab.

Taukah kau apa yang paling diinginkan perempuan?

"Kepastian," sahutmu. Aku terperanjat. Apakah kau kini cenayang? Bisa membaca isi hati? Mataku tak berkedip.

"Kau harus segera tinggalkan buku-buku pintar itu. New Age, Filosofi, Teologi..." Wajahmu masih memandang laut biru.

"Kenapa?" Tanyaku.

"Dalam berpasangan, ada yang bertugas untuk mencintai dan dicintai. Jika kita sama-sama mencintai, siapa yang akan dicintai? Coba kau perhatikan pasangan yang kerap ribut dan bertengkar. Itu mereka salah rumus. Aplha tidak bisa bersatu dengan sesama alpha. Kita harus tentukan siapa yang akan menjadi Beta. Aku atau kamu."

Akupun teringat masa-masa kami bersilat lidah dan otot leher untuk mempertahankan argumen yang sekilas terdengar sangat filosofis dan wajar-wajar saja.

'Pertengkaran sepasang suami-istri hanyalah untuk rujuk kembali,' Beigtu kata budayawan jalan sufis yang kujadikan pedoman. Aku pun terpaku di sini. Siapa yang suami, siapa yang istri?

"Kau boleh singkirkan semua bacaanku, tapi aku tak bisa Beta. Sedari dulu aku begini. Dominan, mandiri, tak bisa disuruh-suruh." Begitu ungkap sang hati. Aku berharap pernyataanku dapat mematri batin kami bersama. Bahwa, menerima apa adanya adalah jalan terbaik. Ia terima aku, aku terima dirinya.

Ia pun tersenyum lalu membenarkan letak kaca mata.

"Aku juga tak bisa jadi Beta."

"Kita sudah tiga tahun," tatihku.

"Sejak kapan kau berubah jadi orang yang memilih kuantitas kemtibang kualitas?" Beigtu ia membalas. Balasan yang amat menohokku. Ingin rasanya kulempar gelas air ke wajahnya yang masih kelihatan tenang dalam keadaan seperti ini.

"Makanlah yang sehat-sehat. Itu ampun untuk emosi. Aku tak mau kita bertengkat lagi."

Ia meninggalkan lembar seratus ribuan di meja kami. lalu pergi meninggalkanku seorang diri. Dalam hatiku berkata, paling esok atau lusa ia akan kembali. Siapa yang akan ia ajak berdiskusi sampai berbusa-busa selain aku?

Siapa yang akan menghitung pergerakan kurs mata uang saat ia mulai menjalankan bisnisnya? Hanya aku yang bisa. Siapa yang akan jadi teman yang komplut dalam segala hal? Pembantu? Supir? Sepia?

22.

Toga baru saja disetor ke tempat laundri. Jas almamater, diktat tak penting, semua disegel rapi lalu disimpan di gudang tergelap di rumah masing-masing. Kubayangkan diriku beberapa tahun ke depan. Masa depan seorang mantan mahasiswa sedang dipertaruhkan. Kini aku pengangguran terhormat. Baru keluar dari oven mentereng megapolitan dengan nilai sangat terpuji. Apakah aku akan bekerja di gedung tinggi perkantoran? Atau pakai daster dan mengurus dapur?

Akankah ada pangeran berkuda ajaib yang akan datang menjemput lalu mengajakku berkeliling surga yang ada di Bumi?

Siapakah dia? Taukah dia upayaku mati-matian untuk menjadi yang terbaik diantara hamparan para wanita yang bertebaran di atas sini?

Aku tak sabar menyongsong matahari baru esok hari. Selamat datang karier cemerlang. Selamat datang jodoh yang hilang.


**
Penulis,
Pramudya Utari tinggal di sebuah pulau kecil yang indah dan nyaman. Lulus dari Universitas Arilangga jurusan Sastra Indonesia. Menerbitkan sebuah kumpulan cerpen secara idependen. Akan terbit nobel pertama di Gramedia Pustakan Utama.

Cerita di atas terinspirasi dari hobi main Tarot dan sebuah tulisan seorang dokter yang menemani suaminya melanjutkan studi master di luar negeri.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment