Cerita Menarik Dari Sebuah Pasar Malam

Cerita Menarik Dari Sebuah Pasar Malam

INIKECE - Di tengah rintik hujan malam itu, aku memutuskan berangkat menuju pasar malam yang hanya terpisah puluhan meter saja dari singganaku. Aku berencana membeli sosis dan daging bakar, begitulah sebutan umumnya. 

Walau pada kenyataannya hanyalah tepung lokal yang diolah dan ditambahkan daging seperlima bagiannya, menghasilkan camilan murah meriah, hanya dua ribu perak saja setusuk. Dibakar dengan arang, dan besi yang disusun sebagai tumpuan seadanya. 

Daging-tepung itu dibalur kecap, dibakar memaksa para petandang untuk singgah dan mencicipi barang satu-dua gigit. Hmm... kuendus wanginya, enak juga.

Bapak pedagang itu terus mengipasi, sembari mataku mulai menjelajah sekitar. Ternyata sudah lama aku tidak menginjakan kaki di daerah masa kecilku ini, aku tak tahu apakah rasa syukur atau sesal yang harus aku rasakan. Walau sudah lama kutinggalkan, pasar malam ini tidak banyak berubah, tampak begitu biasa.

Tidak ada yang istimewa pikirku. Para pedagang yang mencari sesuap nasi di bawah terpal memajang spanduk bertuliskan aneka nama makanan kreasinya. Tanpa perlu menawarkan, para pedagang ini sudah diserbu penduduk setempat. Ada yang berniat membeli untuk mengisi perut, atau sebatas untuk melihat-lihat dan menanyakan apakah harga jual sebanding dengan gemerincing koin di kantong mereka.

Bahagia, terpancar dari sorot mata mereka. Namun yang aku rasakan suntuk, aku bosan, apakah salah putusanku untuk melarikan diri ke kampung halamanku ini, pikirku.

Aku terus melempar pandangan ke tengah lautan manusia di sekitar. Mencari-cari yang tidak ada, mengharapkan yang tidak mungkin. Aku menelisik bahu demi bahu, hanya untuk menemukan bahu yang kudambakan. Ilusiku membutakan indra penglihatanku sesaat. Sial, rindu berhasil mengelabui amigdalaku.

Pikirku melayang, selalu seperti itu saat aku mengingatnya. Begitu jelas gambaran dirinya dalam memoriku. Garis wajahnya begitu tenang. Suaranya bagai percikan air murni yang menetralkan basing suara lain.

Ahh... aku berharap dia ada ditengah di kedua bola mataku. Mendekapku karena merasa telah menemukan permata di antara kelamnya malam. Sekali saja, aku ingin dia merasa asing, bingung, kesepian, hanya agar dia menemukan keteduhan padaku. Hanya agar dia bergantung padaku, hanya agar sedikit saja tatapannya yang dalam, mengharapkan kehadiranku. Padahal, akulah satu-satunya yang hilang, dan tak punya arah.

Ah sudahlah..

Jika mengingatnya, hal tersebut tidak mungkin terjadi. Dia terlalu mandiri, hidupnya terlalu sempurna tanpa butuh pelengkap apa pun. Dia terlahir dengan sendok perak di mulutnya. Pakaian merk-merk ternama selalu sempurna melekat di tubuhnya yang tegap. Rencana dan pemikirannya yang terlalu rapi terstruktur selalu mengantarkannya pada hasil terbaik, banyak pujian dan sedikit teguran. Dia berhasil bekerja pada perusahaan yang diimpikannya, buah dari hasil kerja kerasnya selama ini.

Gedung berpenyejuk dengan interior khusu bagi para perancang produk terbaik. Kursi yang begitu empuk dengan sandaran yang elastis, dengan roda di bawahnya agar dapat bergerak lancar, serta komputer dengan spesifikasi tinggi.

Menggunakan kemeja rapi, kemeja abu-abu, atau hitam yang sangat aku kenal, dengan ikat pinggang berkepala stainless persegi panjang. Ikat pinggang kesayangnnya itu berbahan kulit warna hitam dan melingkari pinggangnya yang berbentuk hampir sempurna karena program latihannya yang nyaris setiap hari.

Aku memikirkannya, ah dia pasti sangat tampan memakainya, dan dia pasti sangat baik-baik disana. Tidak seperti diriku yang berakhir kembali ke pasar malam ini, ke kampung halaman ini, dengan jiwa dan tangan kosong. Tidak ada alasan bagi dia untuk memikirkanku walau sedetik saja.

Aku bahagia untuknya, selalu. Walau pun hidupnya nyaris begitu sempurna, aku berharap ada sedikit saja celah, bukan karena aku iri, tapi agar aku bisa mendoakannya melengkapi celah itu.

Hari-hari yang kulewati bersamanya, hanya aku yang akan terus memanggil kenagannya. Namun, tidak lagi dapat kurasakan kebahagiaan saat mengingatnya, melainkan kurasakan sesuatu yang beku, jauh di bawah nol derajat selsius membentuk kristal padat yang mencabik-cabik jantung.

Hari-hari yang begitu kuresapi tiap detik bersamanya, hanya tinggal kenangan yang terkunci rapat dalam kontak marmer bercermin yang dia berikan padaku sebagai hadiah perpisahan.

 Aku masih mengingat lembutnya ia mengucapkan sampai jumpa lagi padaku. Tapi.. tidak. Salah. Sepertinya dia tidak pernah mengucapkan kata-kata padaku, melainkan yang kudengar adalah melodi. Aku rasa indraku dihipnotis-tidak, inderaku jelas dibius secara nyata, dibius salah satu syarafnya, sehingga tidak dapat mendengar apa pun yang keluar dari mulutnya selain menangkap hal tersebut sebagai melodi. Lelaki lembut itu tidak pernah pergi barang sehari pun dari sudut lamunanku.

Mungkin aku terlalu terbuai kepercayaannya padaku dulu. Aku adalah batu sungai yang dilalui arus air tanpa peduli, tapi dia memperlakukanku layaknya mutiara. Mutiara yang dijaga baik oleh ibunda tiram. Terkubur debur ombak dicelah palung dalam. Berharga. Begitu berharga untuk dicari, untuk dimiliki.

Panggilan sang pedagang jajanan pasar malam membuyarkan anganku yang sudah menembus jarak beriku kilometer jauhnya. Pada akhirnya pasar malam menyadarkan tempat dimana aku memang seharusnya berada. Jelas tempat itu bukan di sampingnya.

Pasar malam minggu dan aneka jajanan murah nan menyenangkan hati memang penghiburanku sejak kecil. Ujung minggu yang selalu kutunggu-tunggu kedatangnnya. Asalkan membeli ikatan rambut berwarna, ditambah kacang rebus, bahagia hidupku.

Tapi bahagiaku saat ini, tidak lagi sesederhana itu. Standar bahagiaku telah begitu melambung tinggi, berada di sampignya, mendengar suaranya. Ya, dialah sosok itu.

Kutampar bawah sadarku, aku dan dia begitu berbeda. Pasar malam bukan penghiburan dia, lelaki itu. Penghiburannya adalah santapan berporsi kecil di resto hotel bintang lima bersama keluarganya. Jalanan yang becek ini mungkin tak pernah bertemu sekalipun dengan alas kakinya yang mahal.

Aku yakin, saat ini dia berada di tempat yang nyaman, memakai pakaian hangatnya. Makan malam dengan menu mewah diiringi denting piano klasik. Ah aku harap dia lancar dalam menyampaikan presentasi project untuk keesokan harinya.

Pasar malam adalah batas nyata antara aku dan dirinya. Bahwa kami adalah garis dari dua lingkaran yang hanya bersinggungan pada satu titik. Satu titik yang mewakilkan kalimat-kalimat manis saat dua jiwa saling menemukan. Seharusnya aku tersadar lebih awal, bahwa matahari tidak mungkin mendahului bulan, dan malam tak mungkin mengahului siang. Semua punya jalannya masing-masing, begitu pula dengan jalanku dan jalannya. Bertemu di jalan satu jalur, namun berpisah di pertigaan berikutnya, dengan dua tujuan yang jelas berbeda.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment