Sangat Miris! Menewaskan 30 Orang Diantaranya 3 Anak Kecil, Fakta Kebaran Pabrik Korek Api Hingga Korban Yang Selamat

Sangat Miris! Menewaskan 30 Orang Diantaranya 3 Anak Kecil, Fakta Kebaran Pabrik Korek Api Hingga Korban Yang Selamat

INIKECE - Sebuah kebarang dahsyat terjadi di pabrik macis atau korek api di Binjai, yang menelan 30 korban jiwa yang meninggal 3 diantaranya masih anak-anak. Menurut salah satu korban yang berhasil selamat.

Pipit, sebelum api melalap pabrik terdengar suara ledakan. Sementara itu, pihak kepolisian masih terus mendalami penyelidikan untuk mengungkap penyebab kebaran. 

Kapolda Sumatera Utara, Irjen Agus Andrianto, mengatakan, pemilik pabrik diduga mengabaikan faktor keamanan dan keselamatan bagi para pegawai. Barikut ini fakta lengkapnya,

1. Kronologi Kebaran Pabrik Korek Api, Versi Polisi


Kebakaran di Jalan Tengku Amir Hamzah, Dusun II, Desa Sambirejo, Binjai Utara, Sumatera Utara, Jumat (21/6/2019), tersebut menewaskan 30 orang.

Kapolsek Binjai AKP B Naibaho mengungkapkan, kebakaran terjadi sekitar pukul 12.05 WIB. Saat itu, salah seorang pekerja mengetes mancis setelah dipasangi batu mancis.

"Salah seorang karyawan saat itu sedang mencoba mancis. Namun tiba-toba meledak dan menyambar mancis-mancis lainnya," katanya di lokasi kejadian, Jumat.

"Karena posisi di belakang, korban tidak bisa keluar dari dalam rumah. Hal tersebut dikarenakan pintu depan tidak dapat diakses atau dibuka. Sementara jendela semua dalam keadaan memiliki jerjak besi," tambahnya lagi.

2. Korban Tewas 20 Orang, Empat Orang Selamat


Menurut Naibaho, dugaan sementara korban jiwa mencapai 30 orang dan korban selamat 4 orang.

"Kami menerima laporan kebaran sebuah rumah yang diduga sebagai home industry. Korban ada 30, terdiri dari 27 dewasa dan tiga anak-anak. Untuk korban hidup ada empat orang," tuturnya.

Korban selamat adalah Pipit (29), Ayu Anita Sari (29), Ariyani (30) dan Nurasiyah (24).

Kebarakan tersebut pun membuat gempar warga sekitar. Polisi lalu memasang garis polisi untuk menghalau warga yang semakin banyak memadati lokasi untuk menonton.


3. Kesaksian Korban Selamat


Pipit, salah satu korban selamat, menyebutkan, dalam kejadian ini ada 3 anak kecil yang biasa dibawa orangtuanya bekerja turut menjadi korban. Menurut Pipit, semuanya meninggal lantaran ruangan pabrik terkunci.

Cerita miris juga diungkapan seorang saksi mata bernama Ani. Saat itu ada pekerja yang selamat karena keluar pabrik di jam makan siang.

Setelah keluar, tedengar suara ledakan seperti ban pecah, dari balakang pabrik. Dilansir dari Tribun Medan, di lokasi kejadian tampak puluhan jenazah menumpuk di dalam satu ruangan.

Selain itu, ada beberapa jenazah yang ditemukan di ruangan, seperti kamar-kamar lain. ruang utrama gedung pabrik.

4. Jasad Korban Sulit Dikenali


Kepala Badan Penganggulangan Becana Daerah (BPBD) Langkat Irwan Syahri mengatakan, para korban mengalami luka bakar parah hingga jenazahnya sulit dikenali.

Irwan mengatakan, aparat Polres Langkat sudah turun ke lokasi melakukan evakuasi dan membawa para korban ke rumah sakit terdekat sambil menunggu kedatangan kantung mayat.

"Kami butuh bnayak kantung mayat, sedang berkoordinasi dengan BPBD Sumut," ujarnya saat dikonfirmasi Kompas.com lewat sambungan telepon.

5. Polisi Masih Selidiki Penyebab Kebakaran


Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto, mengatakan belum bisa megungkapkan penyebab musibah itu. Menurutnya, saat ini tim laboratorium forensik ke tempat kejadian perkara.

Setelah itu, Agus akan meminta pertanggungjawaban secara hukum kepada pihak-pihak yang diduga mengabaikan keselamatan kerja yang mengakibatkan jatuhnya korban.

"Kita selidiki siapa yang bertanggung jawab," kata Agus.

Data dari kepolisian menyebutkan, pemilik rumah yang dijadikan pabrik mancis adalah Sri Maya (47), warga Jalan Tengku Amir Hamzah Dusun IV Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Penyewanya dan saat ini berstatus tersangka adalah Burhan (37), warga Jalan Bintangterang Nomor 20 Dusun XV Desan Mulyorejo, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment