Fernando Dan Musim Panas, Friend Zone

Fernando Dan Musim Panas, Friend Zone

INIKECE - Udara di musim panas membakar kulit. Aku hanya termenung saat melihat orang-orang setengah telanjang bertebaran di trotoar. Matahari yang terbit tak pernah disia-siakan di musim panas seperti ini.

Orang-orang sibuk merencakanan piknik di taman kota, ke pantai, atau sekedar keluar rumah dan menikmati segelas limun di halaman rumah. Musim panas seharusnya membawa kebahagiaan bagi orang-orang.

Es loli, topi lebar, kacamata hitam, atau sunscreen, mungkin? Tidak, itu adalah cara orang-orang menikmati musim panas. Bukan begitu caraku menghabiskan musim panas ini. Yep, aku hanya bisa memandangi mereka dari atas sini.

"Anna!"

Aku terlompat kaget. Tapi aku tak bergeming. Sedikitpun tidak.

"Anna, mom tahu kau marah. Tapi setidaknya makanlah."

Aku termenung. Aku menoleh pelan untuk melihat wajah mom, kemudian berbalik lagi.
"Mom tahu aku sangat mencintainya, kan?"

"Sudah kubilang dia berbeda denganmu! Kau tak mungkin bisa bersatu dengannya, Anna!"

Suara mom meninggi. Persetan kalau ia marah. Sedetik kemudian, ia berkata lagi. Kali ini lebih pelan.

"Anna, kau tidak bisa bersatu dengannya."

Aku mencintainya. Fernando, ya itulah namanya. Fernando tinggal seorang diri di apartemennya yang hanya satu blok dari tempat tinggalku. Dia tinggal di apartemen dengan balkon yang tinggi. Hei, apa? Aku tahu rumahnya karena aku pernah ke sana. Aku pernah diajaknya duduk di balkon dan melihat riuhnya kemacetan yang dilatari matahari terbenam.

Aku bertemu Fernando musim semi lalu. Aku tahu, masih cukup baru untuk bisa mengatakan bahwa aku menyukainya. Aku tidak ingat banyak mengenai waktu itu, tapi yang jelas kakiku berdarah. Tidak ada yang mempedulikanku. Saat itulah ia datang, melepas earphonenya dan membawaku ke bangku taman.

'Aku berjanji akan menyembuhkanmu,' katanya. Fernando membawaku ke rumahnya untuk pertama kali, dan kuakui aku sangat takut. Lagi-lagi dia mengatakan tidak apa-apa. Aku setuju saat ia merawatku, dan kakiku yang payah ini. Fernando benar, lukaku sembuh dalam waktu beberapa hati. Mmm, kurasa, aku harus pulang kan?


Aku mengendap-endap berusaha pergi melalui jendela ketika ia datang bersama teman-temannya. Ia menarikku ke dalam dan mendekapku, memperlihatkanku di depan teman-temannya. Aku menjerit keras dan benar-benar ketakutan saat itu. Fernando tiba-tiba mengurungku seharian.

Teman-teman Fernando sudah pergi malam itu. Ia mendekapku dan berkata dengan lembut.

"Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya tidak ingin teman-temanku menyentuhmu."

Fernando diam. Sesaat kemudian ia mulai berkata, "kini aku tidak memaksamu tinggal. Kau boleh pergi jika kau mau."

Kuakui aku sungguh tertarik padanya. Fernando adalah sosok yang sangat peduli yang semua orang. Tapi, saat itu juga sangat ketakutan. Seluruh badanku terasa bergetar hingga aku terhuyung pelan. Aku meninggalkan Fernando dan pulang. Aku tidak akin untuk menceritakan hal ini ke orang tuaku, bahkan sahabatku, Lucy.

Aku menyadari aku menyukainya, dan mungkin memiliki perasaan yang lebih. Sejak pertama kali saat pandangannya menumbuk pandanganku. Aku tahu ia baik. Kuputuskan untuk menemuinya lagi, dan ia sangat gembira melihatku. Kami berdua sering menghabiskan waktu bersama di taman. Aku akan mengendap-endap, pergi menjauh darinya yang sibuk dengan buku-buku mengenai burung, dan dia akan mengejarku dengan tertawa begitu menyadari aku tak ada di samping bangkunya. Entah mengapa, Fernando sangat tertarik dengan berbagai jenis burung.

Hingga kemarin, Tom, teman masa kecilku melamarku secara terang-terangan. Ia ingin aku menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Tentu saja aku menolak. Aku cinta Fernando! Aku meninggalkannya sendiri di tengah teriknya mentari musim panas. Ayahku langsung memarahiku saat aku sampai di rumah. Momku tersayang juga melakukan hal demikian. Wll, kenapa mereka menentangku begitu keras? Apakah mencintai itu salah?

---

"Anna, mom tahu kau marah. Tapi setidaknya makanlah."

Aku termenung, aku menoleh pelan untuk melihat wajah mom, kemudian berbalik lagi.
"Mom tahu aku sangat mencintainya, kan"

Mom masih melihatku dengan sabar. Terkadang aku merasa, kesabaran mom tidak akan pernah habis. Tapi, ya kali ini dia cukup keras memarahiku.

"Sudah kubilang dia berbeda denganmu! Kau tak mungkin bisa bersatu dengannya, Anna!"

"Anna, kau tidak bisa bersatu dengannya." Mom mengulangi perkataannya lagi dengan pelan.

"Tapi kenapa mom? Kenapa? Aku menyukainya! Dan, ya dia-pun sepertinya mencintaiku juga."

"Sebab kau berbeda dengannya! Dia manusia!"

Aku termenung dua detik penuh. Aku mencicit pekan. Aku masih merasakan dekapan tangan Fernando pada tubuhku. Melalui buku-buku yang indah. Ia begitu sering mengagumi buluku dan bergumam sesuatu seperti Conuropsis, atau Melopsittacus, atau apapun itu bersama teman-temannya. 

Perlahan tawa Fernando yang pecah diiringi teriakan kepada Professor Reinhard atau proposal penelitian ornitologi (ilmu yang memelajari unggas) terngiang, samar-samar aku juga teringat Professornya itu menyebut sesuatu seperti 'langka' dengan menunjukku. Aku mencicit lagi. Menoleh pada ibu. Pandanganku tertuju pada biji-bijian di dekatnya. Wah, jagung!

---

Tentang Penulis,

Vadam menyukai flash fiction story. Pernah terjebak di diksi uhjan dan senja, namun mulai mencoba mengurangi frekuensinya dalam tulisan. Sekarang aktif sebagai mahasiswa di Universitas Brawijiwa, Malang.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment