Kita Patah, Friend Zone

Kita Patah, Friend Zone

INIKECE - Hujan di luar memang belum reda, tetapi badainya justru bermuara di matamu. Patah hati memang rumit, tetapi tidak ada yang bisa kuperbaiki selain mengupayakan diriku selalu disini, mendampingimu melewatinya.

Semoga ini mengajarimu bahwa tidak selamanya hal yang kita cintai ditakdirkan untuk kita miliki. Seperti dia untukmu, dan tentu saja kamu-untukku. Tidak banyak yang bisa kita pilih dalam hidup ini.

"Sakit banget Ga, rasanya kayak setiap gue berusaha membangun dinding percaya itu, dia akan selalu datang untuk ngancurin lagi. Dinding itu nggak pernah cukup tinggi, Ga."

"Mungkin dia belum siap ngejalanin hubungan serius sama lo."

Karena apalagi?

Maraya hanya tersenyum, menyetujui tetapi enggan mengakui, memandang keluar jendela dengan mata memerah yang hampa. Membiarkan hujan di luar bercerita, tentang setiap patah hati dari atap-atap yang menjadi saksi kehilangan. ( Dengan hal tersebut walau sedih akan kehilangan "BONUS BESAR-BESARAN TELAH HADIR UNTUK KALIAN" )

Atap cafe ini juga akan segera mengirimkan berita kepada awan, membuatnya semakin berduka dan hujan di luar semakin lebat. Ia membuatku bertanya-tanya, mengapa takdir tidak menginzinkanmu mencintaiku? Aku justru akan membantumu membangun dinding itu. Kita bersama.

"Kenapa ya Ga setiap pilihan yang kita hadapi selalu pernuh spekulasi, tanpa clue apa pun? Mana gue taku kalau apa yang gue cintai dan pada akhirnya gue pilih, ternyata juga sebuah keputusan yang pada akhirnya bikin gue sakit hati."

"Kalau lo tahu pada akhirnya akan sakit hati, apa lo akan mengambil keputusan lain Ya? Apa lo bisa milih mau jatuh cinta sama siapa?" Kalau bisa memilih, aku mungkin tidak di sini, tetapi cinta itu kan bukan kesepakatan, Maraya. Kalau kamu tidak mampu mencintaiku, aku tidak marah lantas serta-merta memutuskan untuk tidak cinta juga.

Maraya tersenyum, "Cewek yang lo taksir itu gimana, Ga?"

Kamu selalu bertanya tentang kisah cintaku, selalu penasaran tentang gadis yang membuat aku tetap sendiri sampai hari ini, andai kamu tahu kalau itu kamu supaya aku tidak banyak mengarang cerita dan kamu tidak banyak menanggung sakit hati.

"Baik-baik aja, Ya." Aku menjawab datar.

"Kenapa sih lo nggak pernah mau cerita sama gue?"

Karena itu kamu! Apa yang harus aku ceritakan kalau gadis itu sedang duduk di hadapanku, baru selesai menangisi kisah cintanya dengan laki-laki lain? "Nggak apa-apa, emang nggak penting aja. Lagian lo kan lagi sedih masa gue yang cerita sih?"

Kamu hanya tersenyum datar, kemudian mengalihkan tatapannya lagi ke luar jendela melihat hujan bermain-main di kaca.

***

Maraya

"Cewek yang lo taksir itu gimana, Ga?" Aku bertanya asal, walaupun rasa ingin tahu membakar dadaku.

"Baik-baik aja, Ya." Kamu menjawab, nampak tidak terlalu tertarik, mungkin bagimu terlalu pribadi. Mungkin bagimu aku terlalu sok tahu dan memang tidak perlu tahu.

"Kenapa si lo nggak pernah mau cerita sama gue?" Aku berusaha mendesak lagi.

"Nggak apa-apa, emang nggak penting aja. Lagian lo kan lagi sedih masa gue yang cerita sih." Kamu menjawab seadanya, tetap urung untuk bicara.

Aku mengalihkan tatapan ke luar jendela. Mungkin sedihku tidak akan berlarut kalau aku menjalaninya denganmu. Laki-laki yang banyak mengajarkan aku tentang makna dan bertahan. Laki-laki yang tatapannya selalu teduh, senyumnya selalu hangat, janjinya sellau ditepati, dan selalu ada kapanpun aku butuh. Walau sebenarnya aku membutuhkanmu-selalu.

Aku menatapmu lagi. "Beruntung banget pasti cewek itu. Kenapa nggak lo ungkapin, Ga?" Ternyata bertanya juga bisa membuat hati terasa nyeri.

"Terkadang hal-hal yang kita cintai itu nggak tercipta untuk kita, Ya."

"Menurut lo dia nggak tercipta untuk lo?"

Kamu menggeleng. Dalam benak aku bertanya-tanya siapa perempuan yang tidak jatuh hati pada kamu, yang segenap tulusnya selalu membuat nyaman. Tetapi kamu benar, tidak semua hal yang kita cintai tercipta untuk kita. Kamu contohnya.

"Gue boleh nanya, Ya?"

"Apa?"

"Kenapa lo masih bertahan dalam situasi ini? Hubugan ini? Bukannya dia udah nyakitin lo berkali-kali?"

Aku menatap matamu berlama-lama, "Bukannya lo Ga yang selalu ngasih gue nasihat untuk bertahan? Yang menguatkan gue setiap kali patah hati? Yang selalu bilang semuanya akan baik-baik saja? Yang membuat gue akhirnya mencoba lagi? Yang membuat gue..."

"Tersakiti lagi?" Kamu nampak bingung, menimbang-nimbang perkataanku. Dahimu berkerut, memikirkan sesuatu sambil menerawang jauh entah kemana. Sesuatu pasti sedang membuat sarang di kepalamu, memaksamu berpikir keras. Aku bertopang dagu menikmati pemandangan ini, memperhatikanmu.

"Tapi lo bahagia?" Kamu tiba-tiba bertanya, dengan sebelah alismu naik, penasaran.

Gantian aku yang bingung, berpikir benar-benar. "Eh? Gue nggak pernah mikir sejauh itu karena selama itu gue jalanin aja. Lo tau persis hubungan gue, Ga."

"Lo percaya sama dia, Ya? Sama hubungan kalian?"

"Nggak, gue percaya sama lo, Ga." Aku terdiam. Kamu terdiam. Kita terdiam. Saling tatap dalam ruang waktu yang tiba-tiba terasa lengang.

"Maksudnya gimana, Ya?"

"Iya gue percaya sama lo. Setiap kali lo bilang nggak apa-apa jadi gue pikir hubungan gue sama dia baik baik saja. Setiap kali lo bilang mungkin dia butuh waktu gue pikir gue cuma harus kasih dia waktu. Setipa kali lo bilang ini proses gue pikir gue cuma harus jalanin aja."

Kamu menatapku semakin jauh. "Mungkin nggak sih sebenarnya yang selama ini lo percaya itu bukan hubungan lo Ya tapi..."

"Lo, Ga!" aku memotong.

Matamu tiba-tiba berubah jenaka, kulihat sudut bibirmu tersenyum. Kamu menelan ludah, berusaha menyembunyikan ekspresi itu dari aku. Tetapi aku tidak bisa menahan senyumku, Ia mengembang dengan sendirinya. 

Maaf karena aku jadi tertawa. Karena aku pikir lucu, betapa percayanya aku padamu sehingga keputusanku diambil berdasarkan sudut pandangmu yang subjektif. Bahkan walaupun itu adalah hubunganku dengan orang lain.


***
Arga

Aku senang melihatmu tertawa, apalagi jika itu karena aku, walaupun tidak jelas sebabnya. Tertawalah terus, sampai kamu lupa kapan terakhir kali kamu menangis. Jangan sedih lagi, sehingga awan punya kisah batu yang bisa ia titipkan pada hujan sore esok.

"Ternyata gue yang bikin lo sedih terus ya, Ya?" Aku merasa bersalah setelah menelaah akar permasalahn hubungannya yang rumit dan tidak pernah selesai.

Kamu tertawa lagi. "Karena lo selalu terlihat menyakinkan, persis pejabat yang janji nggak korupsi kalau terpilih."

"Gue bermaksud menenangkan lo, supaya lo nggak sedih, supaya hubungan itu nggak perlu jadi beban di hidup lo. Gue pikir itu yang lo butuh." Aku berusaha berterus terang.

"Jadi sebenernya gue harus apa. Ga?'

"Ikutin hati lo Ya. Lo mau kemana, bertahan atau pergi. Kalua itu bikin lo happy jalanin, kalau itu bikin lo sedih tinggalin. Ada hal-hal yang memang sia-sia diperjuangkan, ada hal-hal yang memang mengajarkan lo untuk berjuang. Lo yang tahu, lo yang harus memutuskan."

Wajahmu nampak lebih lega, tersenyum lagi. "Lo bener Ga, nanti gue pertimbangin lagi." Kemudian kamu mengalihkan tatapan itu lagi, kali ini pada cokelat hangat yang kau aduk-aduk di dalam cangkir porselen.

Aku balas tersenyum. Apa pun yang akan menjadi keputusanmu, aku akan menghargainya, Maraya. Karena aku tidak disini dengan ambisi memilikimu, aku disini karena aku ingin memastikan kamu baik-baik saja dan bagiku itu cukup. Aku senang menjadi sebagian cerita yang harus kamu jalani, terlihat, menyaksikan- aku menikmatinya.

Hal terpenting bagiku malam ini, yang membuatku lebih nyenyak tertidur nanti, adalah kamu mempercayai aku. Percaya sepenuhnya. Sesuatu yang tidak bisa kita berikan kepada sembarang orang. Semoga kamu juga percaya, kelak jika kisah ini terpaksa membuat kita patah, aku akan tetap baik-baik saja dan tetap selalu ada.

Desva Herzani, Was Born on 18 December 1998 to bleed on paper, because writing is my deepest health.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment