Mengejar Ketulusan By Kartini, Novel

Mengejar Ketulusan By Kartini, Novel

INIKECE - Hina sekali rasanya merasakan jatuh cinta yang terlalu liar pada sahabat sendiri. lalu, aku bisa apa? Apa aku harus merantai perasaan ini? Memenjarakannya dalam ruang tanpa celah agar tak ada seorang pun yang mampu menengoknya?

Aku pernah berpikir seperti itu. Menjamu cinta ini diam-diam dengan rangkaian kata yang hinggap dalam ramainya pikiranku tentangnya. Tapi, aku pernah membaca sebauh blog yang salah satu postingannya sangat kusukai.

Ada secarik frase yang selalu kubaca berulang-ulang di sana, "Bukankah terlalu egois jika harus menikmati cinta ini sendirian, tanpa kamu?".

Aku benci mengatakan ini. Tapi harus kuakui, aku paham bagaimana rasanya menjadi seorang pengecut karena jatuh cinta diam-diam, kepegecutannya bertambah berkali-kali lipat jika orang tersebut adalah sahabatmu sejak kecil. 

Bagaimana aku tiba-tiba menikmati setiap perhatian-perhatian kecil yang diberikannya padaku, mulai memuja senyum dan lentik bulu matanya, hingga terkejut sendiri saat kulit kami bersentuhan secara sengaja maupun tidak disengaja. Reaksi-reaksi berlebihan seperti itu muncul sejak aku mulai menyadari bahwa si kucel Naga, bocah yang dulu menemaniku menangkap ikan di got depan rumah, kini sudah tumbuh menjadi sosok laki-laki yang punya bahu bidang dengan rambut-rambut halus di dagunya. Dia juga menyapaku dengan suara yang tidak secempreng dulu lagi.

Dan berada di dalam bus bersamanya, duduk bersebelahan seperti sekarang ini, bukanlah hal yang mudah bagiku, meski dulu aku bisa dengan santai bersandar di bahunya. Bagiaman caranya menyembunyikan detak jantung yang tidak tahu diri ini?

Setiap detik terasa ingin melihatnya. Rasa penasaran, ingin tahu ekspresi apa yang ditampakkannya dari detik satu ke detik berikutnya, lalu menganalisa ekspresi itu dalam sebuah tafsiran.

Jadi diam-diam aku memenuhi panggilan bodoh itu. Meliriknya dari sudut mataku. Kemudian menangkap sosoknya yang tengah duduk dengan tenang di sampingku, dengan ponsel di tangannya. Tatapannya terkesan teduh, seakan mampu menghilangkan segala ragu dan kebimbanganku dalam menyukainya.

Punggung yang selalu menjadi pelampiasan kerinduanku itu terlihat kokoh. Serta tangan yang selalu mengelus atau bahkan menoyor kepalaku kalau aku berbuat yang tidak-tidak. Ah! Naga benar-benar sudah menjadi laki-laki! Dan kenyataan itu entah bagaimana membuatku merasa Naga kini memiliki kekuatan mistis yang membuatku begitu candu akan senyumnya.

Semesta seakan kembali menjerumuskanku pada perasaan liar yang seharusnya tidak usaha kubiarkan lagi. Perasaan ini hanya akan menjadi inang dalam persahabatan kami dan menimbulkan kerasukan dalam diriku. Bukankah memang begitu? Perasaan cinta hanya akan membuatku ingin memiliki Naga, dan akan takut kehilangan dia. 


Bak menerima suatu hidayah, aku tersadar dan segera memalingkan wajah, menatap ke luar jendela. 
"Sastra, pinjam headset dong," tiba-tiba aku meringis menahan desir aneh di hatiku. Suara itu terlalu kukenal dan kusukai, apalagi suara itu menyebut namaku, ingin terus tersenyum rasanya.

Bahkan suara hujan yang sudah sejak tadi mencakar-cakar jendela bus yang kutumpangi ini pun tidak mampu mengalahkan karisma dari suara Naga. Tanpa menoleh ke arahku, dia mengulurkan tangannya, meminta headset. Aku merogoh tasku dan dengan cepat menyerahkan benda yang diminta Naga.

"Dengar musik yuk." Sekilas Naga menoleh ke arahku, melemparkan senyum mematikannya, sementara tangannya sibuk merapikan kabel headsetku dan menyambungkannya dengan ponselnya. Naga memasang headset di telinga kanannya dan dia memberikan yang satunya lagi kepadaku. Tanpa ba-bi-bu, aku menerimanya dan memasangnya di telinga kiriku.

Kamu bersandar di kursi bus. Naga mulai memainkan jempolnya di layar ponselnya. Tak lama kemudian alunan musik yang kukenal berlari-lari kecil dan dalam benakku. Bermain bersama suara rintik hujan di luar sana.

♬Seakan mataku tertutup, kuingin cinta ini dapat kau sambut. Harapkan perasaan ini kau tahu, sungguh kuingin kau jadi milikku ♬

Aku menoleh ke arah Naga, aku sendiri tidak tahu mengapa aku tiba-tiba melakukan ini. Aku hanya mengikuti intuisi tanda tanya yang membuncah dalam benakku. Dan ternyata Naga sedang dengan hikmatnya menikmati lagu ini.

Matanya yang tadi menyala-nyala memancarkan karisma itu kini tertutup, dengan mulutnya yang terus komat-kamit mengikuti lirik lagu yang kami dengarkan. Lalu aku tersenyum simpul. Satu hal yang kuyakini, sahabat yang kusukai ini sedang jatuh cinta.

Dengan siapa? Ah, aku ragu untuk berharap. Naga adalah jenis orang yang berperilaku baik tanpa pandang dulu, dan sialnya, hal itulah yang sampai kini membuatku tidak yakin untuk menunjukkan rasa sukaku padanya.

Tiba-tiba mata yang kutatap itu terbuka perlahan dan dalam sekejap memfokuskan padangannya ke depan. Sorot mata itu mengisyaratkan sebuah perasaan yang dalam. Sebelum ketahuan telah memandanginya terlalu khusyuk, aku segera mengalihkan pandangan dan pura-pura fokus pada jalanan yang sedang macet.

Selang beberapa detik, aku merasa bahu kiriku meremang. Spontan aku menoleh dan mendapati bola mata Naga menatapku dalam. Aku mengerutkan kening, mencoba bertanya tanpa suara pada sahabatku yang kerenanya keterlaluan ini.

Dengan senyum lebarnya, Naga bersuara, "Tra, kayaknya aku beneran jatuh cinta deh."

"Waw! Serius?" tanyaku spontan dengan ekspresi sok excited. Sekadar menutupi dentuman aneh yang melanda hatiku. Naga tidak mungkin curhat ke aku kalau orang yang disukainya adalah aku. Itu error namanya. Dan tentu saja kamu tidak sedang bercanda. Keseriusanmu tergambar dengan jelas dimatamu. Dan itu membuat hatiku semakin sesak, asal kau tahu.

Naga tersenyum lagi, kemudian tatapannya menerawang ke luar jendela yang ada di sampingku.

"Aku juga nggak tahu awalnya gimana. Yang jelas, aku nggak bisa berhenti mikirin dia, selalu rindu sama dia padahal kan kami sering ketemu di kampus. Dan lagi.. ada perasaan khawatir kalau nggak dapat kabar dari dia, Tra, "Naga menatapku, "Menurut kamu, yang kayak gini namanya cinta, atau apa?" lanjutnya. Aku mengalihkan pandangan, tidak sanggup beradu tatapan dengan mata yang terlihat jelas memancarkan bayangan gadis lain di sana.

"itu mah, baper, Ga." Candaku menghibur diri sendiri. Dalam hati aku sibuk melanjutkan, yang artinya kini kamu sudah menggunakan perasaanmu pada gadis itu. Yang artinya, sebentar lagi kamu akan menyayanginya dan takut kehilangannya.

Karena aku juga merasakan hal yang sama ke kamu. Rasa rindu, khawatir, dan bayangmu yang selalu menghantui. Persis, tapi sayangnya kamu malah merasakan semua itu ke orang lain, bukan ke aku.

Naga terlihat berpikir, sepertinya menganggap serius perkataanku barusan. Ah, ekspresi itu. Aku mengalihkan pandangan, tidak ingin terjebak dalam kesenangan semu yang dipancarkan cowok ini lagi. Nyeri di hati ini hanya akan bertambah sakit. Padahal kan, aku harus menahan agar air mata kepengecutanku tidak tumpah di depannya.

Lama kami terdiam. Entah Naga sedang memikirkan apa, tapi pikiranku sibuk menerawang ke depan, jika Naga benar-benar punya teman dekat perempuan selain aku. Dimana gadis itulah yang lebih dicintainya, meski dia tentu menyayangiku sebagai sahabatnya. 

Hatiku sesak memikirkan akan ada kemungkinan aku tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersamanya lagi. Oh, aku tidak menyangka pemikiranku tentang kehilangan sosok Naga bisa membuatku khawatir seperti ini. Aku terlanjur terbiasa dengan kehadirannya di hampir semua aktivitasku. Apakah kelak aku bisa bersikap biasa jika ada orang ketiga dalam kebersamaan kami? Apalagi setelah aku menyadari perasaan konyol ini.

Rasanya ada yang meremas hatiku saat aku membayangkan itu benar-benar terjadi. Tapi, jauh di lubuk hati yang paling dalam, suara kecil itu mulai kudengarkan. Aku tidak seharunya terlalu sibuk pada perasaanku sendiri. Naga adalah sahabatku, seharusnya aku sudah sadar bahwa dia bisa kapan saja diambil oleh orang lain.

Dia bisa saja hilang dari sisiku. Tuhan tentu tidak menciptakan Naga untuk selamanya 'hanya' menjadi sahabatku seorang. Orang baik seperti Naga pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.

Pergolakan dalam diriku membuatku muak. Hati dan pikiranku kini resmi bertentangan. Lalu entah kesambet setan atau malaikat? apa, aku malah bersuara, "Udah, langsung ditembak aja, Ga! Siapa tahu dia juga naksir kamu? Kan seru tuh!" Sambil menampakkan ekspresi muka yang secemerlang mungkin.

Ya, pikiranku akhirnya memenangkan pergolakan tadi. Kini aku sedang menyemangati sahabatku untuk mendapatkan pujaan hatinya. Bagus, Sastra. Sandiwara yang sempurna. Dengan begini, Naga tidak akan bisa melihat hati yang teriris itu, bahkan mencium bau lukanya pun takkan bisa, aku mungkin memang ahli dalam hal seperti ini.

"Tapi, Tra, gimana kalo ternyata dia sukanya sama cowok lain? Atau dia cuma nganggep aku teman? Atau... bagimana kalo ternyata.. dia udah punya pacar?"

Aku nyengir lebar, berusaha mencairkan ekspresi Naga yang terlihat sangat kaku, mencoba menghibur diriku sekali lagi. Keadaan hatiku yang semendung awan di luar sana membuatku gerah dengan perbincangan ini. Tapi Naga malah menatapku dengan sorot mata kesal, mengisyaratkan bahwa dia sedang serius dan tidak ingin bercanda.

Oh tidak, dadaku semakin menggebu-gebu saja ingin mengeluarkan sesak yang menyiksa ini. Kenapa Naga merasakan khawatir yang amat sangat itu kepada orang lain, bukan padaku saja yang TELAH merasakan hal yang sama?

"Aku serius nih, Tra. Aku takut dia nolak aku, terus ngejauhi aku. Jadi pacar nggak, diillfeel-in iya. Cuma gara-gara nafsu ingin memiliki ini." Dari getar suara Naga, aku menangkap nada takut-kehilangan-seseorang-yang sangat-disukainya. Aku yakin, telingaku tidak sedang medramatisir keadaan.

"Mungkin memang lebih baik dia nggak usah tahu apa yang aku rasain." lanjutnya dengan suara yang melemah.

"Naga! Kok jadi pesimis gitu sih? Yang terpenting tuh nyatain dulu. Urusan diterima atau nggak, ya urusan belakangan. Daripada kamu pendam terus, bisa-bisa nyesek sendiri loh," kayak aku nih, contohnya.


"Kalau kelamaan mikir, entar ada yang maju duluan loh. Endingnya, kamu yang bakal nyesel sendiri. Lagian, ini kan pertama kalinya kamu naksir orang, makanya wajar kalau kamu khawatir berlebihan. Percaya deh, semesta nggak akan sejahat itu, membuat kamu patah hati di cinta pertama kamu," lanjutku, benar-benar sukses menjadi orang paling munafik di muka bumi ini.

Tatapan Naga langsung terhunus ke arahku. Kedipnya yang pelan atau hanya ilusi mataku saja yang menafsirkannya demikian?, mengisyaratkan rasa mengerti akan apa yang baru saja kuucapkan. Aku hanya membalas tatapannya dengan ekspresi kesal. Mungkin Naga akan meganggap kalau aku kesal karena dia tidak juga berani menyatakan perasaannya pada orang yang dia sukai, tapi toh kenyataannya bukan itu.

Aku kesal pada diriku sendiri yang tak juga mampu mengeja makna ketulusan. Aku jadi ragu dengan perasaan yang kubangga-banggakan ini. Seharusnya, kalau memang perasaan ini tulus, aku bisa melepaskan Naga untuk orang lain. Ataukah itu hanya sekadar teori lama? Apa di dunia nyata, rasa sayang harus berakhir dengan kata pacaran?

Bus yang kami tumpangi pun telah sampai halte dekat rumah kami. Setelah menyimpan headsetku ke dalam tas, kami bangkit dari tempat duduk dan berjalan berdesakan menuju pintu keluar. Di ambang pintu, setelah membayar si kondektur, Naga menggenggam tanganku erat. Aku sempat terkesima akan hangat yang menjalari jemariku, dan mengalir cepat ke hatiku.

"Kamu jago ngomong karena sering baca novel. kan?" Kata Naga saat kami menunggu giliran untuk turun. Aku tidak menjawab, melihat Naga sepertinya masih ingin melanjutkan kalimatnya. "Tapi kamu salah, Tra. tentang satu hal ini bukan pertama kalinya.

Aku udah pernah jatuh cinta sebelum ini." di ujung kalimatnya, Naga menatapku tepat ke bola mata. Lalu dia mengukir senyum yang menurutku terkesan licik, "Nggak ngerti ya? Emang bego ya dari dulu."

Baru saja aku ingin menjitaknya, kesal karena kata bego yang begitu dedikasikan kepadaku. Tapi dengan cepat dia menarik tanganku turun dari bus dan dengan resmi mengajakku beradegan india-indiaan. Kami berlari menembus hujan dengan tangan yang saling menggenggam.

Kepalaku yang kini dingin dibasahi hujan kembali berpikir, apa gerangan maksud perkataan Naga di ambang pintu bus tadi? Kenapa dia menatapku dengan tatapan itu? Kenapa ini bukan cinta pertamanya? Kapan dia pernah jatuh cinta sebelum ini?

Aku berjanji akan memberi jambakan terdahsyatku pada rambut Naga saat dia melepaskan genggamannya ini. Berani-beraninya dia memberiku teka-teki baru saat dia sendiri sudah menyukai gadis lain.

Tentang Penulis :

Tulisannya tentang ayah pernah mendapat apresiasi sebagai salah satu dari 50 naskah yang diterbitkan oleh salah satu publisher. Kartini juga pernah menjadi content writer intern di sebuah media online. Saat ini ia menempuh Pendidikan S1 Teknik Informatika di Universitas Telkomdan masih (berusaha) aktif di blog pribadinya untuk berbagai unek-unek.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment