Ruang Pertemanan, Friend Zone

Ruang Pertemanan, Friend Zone

INIKECE - Aku tidak ingat bagaimana penampilan tempat itu dulu saat aku masih disana. Yang jelas saat ini tempat itu telah kusam, baik dari segi penampilan maupun kesan di dalamnya. Suatu hari sepulang sekolah aku dan Mita pergi ke sana.

Itu adalah tempat yang mengingatkan kami pada masa kecil. Tempat kami berdua bertemu pertama kali. Tempat awal pertemanan kami. Melihat keadaan sekarang, tidak tampak seperti tempat yang bagus untuk memulai pertemanan. Tidak lagi terlihat seperti Taman Kanak-kanak.

Kini berupa bangunan kosong yang kotor. Meski masih berdiri kokoh dan tidak satu pun genting atap yang lepas. Cukup lama bangunan tersebut tidak berpenghuni. Butuh sedikit waktu lagi untuk melihat lubang atao muncul satu per satu, menakibatkan air hujan masuk, dan menciptakan aroma lembap dan lumut yang kurang menyenangkan.

Jungkat-jungkit kayu telah rapuh, perosotan retak, besi panjat berkarat, dan ayunan yang keamanannya diragukan. Disudut halaman ada sebuah sumur dengan dinding bibir setinggi pinggang orang dewasa, ditutup dengan papan-papan kayu tebal, di atasnya tergantung katrol berkarat. Aku yakin hampir semua murid pernah menjulurkan leher untuk melihat lubang menganga itu dan mendengar cerita seram.

"Sembilan tahun tidak dipakai," kata Mita seraya melewati pagar.

Bagiku, sembilan tahun adalah waktu yang sangat lama. Dlama sembilan tahun itu aku belajar, bermain, berteman, pergi ke berbagai tempat, memakan berbagai hidangan, membeli berbagai barang, sementara tempat itu membisu sendirian.

Tidak cukup jumlah murid untuk dapat membuat TK itu hidup, ditambah katanya tidak cukup layak untuk disebut sekolah. Sebutan yang kejam, namun aku mengerti. Saat aku bersekolah di sini, jumlah murid tidak sebanyak TK lain pada umumnya. Tentu pada waktu itu aku tidak tahu jumlah murid tergolong sedikit. Juga aku tidak sadar bahwa TK itu kurang luas. Bagiku yang masih kecil, semuanya tampak besar dan luas. Pendaftaran terakhir adalah angkatan di bawahku sehingga asik kelasku tidak punya adik kelas.

Setelah masuk SD, aku dan Mita berulang kali lewat tempat itu. Mulanya aku heran mengapa sepi, sebelum aku tahu bahwa TK itu berhenti beroperasi. Kadang kami iseng mampir untuk mencoba permainan. Waktu berlalu, kami jarang mampir bahkan jarang lewat, tubuh kami semakin besar, alat-alat permainan itu terlalu kecil dan rapuh untuk kami, dan mungkin terlihat konyol bila disaksikan orang.

Dua minggu lalu Bu Yani meninggal dunia. Mendadak disusupi pemikiran sama, aku dan Mita ingin berkunjung ke tempat itu. Saat melihat halaman, aku membayangkan sosok Bu Yani menyuruh kami segera masuk ke kelas. Jika saat ini aku masih terlihat beliau, itu pasti setan.

Mita membuka papan penutup sumur. Ia melemparkan batu kecil ke dalamnya. "Tidak ada air. Sudah kering. Ah, bukan, kelihatannya ditimbun," ujar Mita. Ia menutup kembali sumur itu. "Kamu ingat kisah hantu kepala putuh?"

"Iya, iya, aku ingat. Jangan cerita lagi," Aku menggeleng-geleng.

"Kamu taktu sekali waktu itu." Mita tertawa. "Yah, aku juga sama. Tetapi sekarang, kalau tahu sumurnya dangkal begini, seramnya jadi hilang."

Mita belum tahu bahwa belakangan ini rumor itu muncul lagi. Ada orang yang mengaku melihat. Aku enggan membicarakannya.

Ada dua ruang kelas, Nol kecil dan Nol besar. Sekarang kedua kelas itu tidak terlihat bedanya. Kelas Nol kecil adalah tempat kami bertemu pertama kali. Dulu aku dan Mita duduk sebangku di deretan kedua dari depan. Kami berteman akrab. Ketika naik ke Nol Besar pun kami tetap sebangku. Waktu itu baik aku maupun Mita sama sekali tidak menyangka bahwa kami akan berseoklah di tempat yang sama sampai SMA dan selalu sekelas.

"Kalau tidak salah ini Nol kecil," kataku sambil melihat atas pintu. Tentu saja tidak ada penandanya lagi. Ruangan ini masih berpintu, tidak seperti ruangan di sebelahnya. Aku membuka pintu.

Di ruangan itu ada dua meja dan tiga kursi yang diletakkan di sudut. Cuma itu, tidak ada lagi ada papan tulis. Tidak ada lagi tempelan-tempelan di dinding. Kalau ada tempelan di dinding paling cuma...

Tulisan tertempel di dinding belakang, hampir tepat di tengah. Dibuat dengan menempelkan potongan-potongan lakban hitam. Aku berhenti sejenak untuk mebaca tulisan itu : FRIENDZONE.

Kata itu terlampau akrab di telingaku, juga di telinga para anak muda. Spontan pikiranku berputar untuk mencari hubungan kata itu dengan tempat ini.

"Terdengar menyedihkan," kata Mita seraya terkikik. "Siapa yang membuatnya?"

"Orang yang  kena freindzone sampai frustrasi," kataku sambil tertawa pula. "Saking galaunya dia membuat kenang-kenangan disini."

Mendadak tawa Mita lenyap dan menatapku sambil meringis seolah heran dengan caraku tertawa.

Sebenarnya bukan hanya tulisan itu yang ada. Banyak tulisan di dinding yang dibuat dengan pena atau diukir dengan benda tajam. Sebagian adalah kata-kata jorok. Hanya tulisan "friendzone" itu yang terlihat sangat jelas. Aku meraba. Lakban masih bagus. Jelas belum lama di buat. Setidaknya paling baru dibandingkan coretan-coretan lain.

"Kamu pernah kena friendzone, Mita?" tanyaku.

Mita terbantuk. "Tidak pernah," jawabnya langsung dan tegas.

"Ah, kalau tidak salah pernah, kan? Itu, cowok yang bernama..."

"Kamu sengaja, ya? Mau aku cubit?" Mita mengulurkan tangan hendek meraih pinggangku tetapi aku mengelak.

Friendzone, sering dijadikan sindiran. Dapat menciptakan keceriaan tetapi juga menyakitkan bila yang bersangkutan memang tersakiti. Perasaan tidak terbalas dan harus menerima hari-hari berikutnya sebagai teman, hanya sebagai teman.

Kami mengambil kursi dan membawanya luar kelas setelah memastikan kursi-kursi kecil itu tidak membuat badan kami mencium lantai dengan kasar. Lantas kami melakukan suten untuk menentukan siapa yang membeli jajan. Mita kalah, ia mengeluh, "Kenapa tidak dari awal saja kita bawa?"

Aku menjawab, "Karena sejak awal kita tidak berencana makan di sini." Jawabnku sangat masuk akal sehingga membuat Mita pergi sambil bersungut-sungut. Itu keluhan yang jauh dari keseriusan, karena aku dan Mita tahu betul toko jajan hanya berjarak sepuluh meter dari pagar.

Selagi Mita pergi, aku duduk memandang rerumputan tinggi. Angin lumayan kencang menerbangkan debu ke arahku.

Beberapa saat kemudian, seorang anak lelaki datang. Sepertinya ia hendak masuk ke ruangan, namun berhenti. Kami bertatapan.

"Kamu siapa? ia bertanya.

"Kamu sendiri siapa?"

"Aku alumni TK ini."

"Aku juga."

Diam, cukup lama.

Jawaban barusan adalah jawaban paling mudah untuk menjelaskan mengapa gadis SMA duduk di depan ruangan sebuah bangunan yang tidak dipakai bertahun-tahun. Dari sudut pandang negatif, bisa jadi aku dituduh hendak atau telah berbuat macam-macam. Aku hanya datang untuk main. Sementara itu aku ingin tahu alasan anak lelaki itu datang.


Ia kelihatan sebaya denganku. Tubuh tinggi dan kurus. Rambutnya agak ikal, rapi seperti baru dipotong. Di raut wajahnya tidak ada semangat kendati matanya terbuka lebar.

Kemudian Mita datang memecah keheningan. Ia membawa tas plastik berisi makanan ringan dan minuman, "Baru ditinggal sebentar kau sudah punya cowok, Tika," canda Mita. Aku lega Mita datang meski menyertakan gurauan yang membuatku malu.

Anak lelaki itu bernama Raka. Ia seangkatan dengan kami. Dari penuturannya, rupanya ia sekelas dengan kami dulu. Aku dan Mita tidak ingat.

"Aku pun tidak ingat dengan kalian," kata Raka.

Padahal wakti itu jumlah murid tidak banyak.

Mita membeli cukup makanan untuk bertiga. Kami menawarkannya pada Raka. Raka tidak mengambil satu pun. Ia hanya berdiri bersandar di kusen pintu.

Raka berkata bahwa ia sering datang kemari. Ia belum tahu Bu Yani meninggal. Saat mendengar itu, ia memasang wajah sulit ditebak. "Aku tidak ingat Bu Yani," ujarnya. Raka bukan berasal dari daerah sini. Rumahnya berjarak tiga kelurahan dari sini.

"Meski rumahmu jauh, kamu sering datang kemari. Sedangkan kami yang tinggal dekat sini saja ajrang," kataku. "Apa kamu punya alasan khusus?" Aku memasang wajah menyelidik.

Raka mengembuskan napas. "Kalian mau tahu?"

Aku mengangguk.

"Mau tahu saja atau mau tahu banget?"

Aku dan Mita tertawa. Tidak kusangka Raka bisa bercanda dengan wajah datar seperti itu.

Kami menghabiskan waktu cukup lama. Semua makanan dan minuman habis. Aku dan Mita beranjak pergi. Raka masih ingin di sini sebentar lagi.

"Aku akan datagn lagi minggu depan," kata Raka. "Bagimana dengan kalian?"

Aku dan Mita saling memandang. "Tidak tahu. Mungkin saja," jawab Mita ragu. Artinya, kemungkinan besar kami tidak datang.

Kenyataannya, minggu berikutnya kami datang. Saat kami tiba, Raka sudah berada di kelas, berdiri menatap dinding tempat papan tulis seharusnya ditempel sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana,

"Oh, kalian datang juga rupaya," ujar Raka.

"Aku juga tidak menyangka kau datang," balas Mita. Lalu kami bertiga menghabiskan waktu untuk berbincang seperti sebelumnya.

Minggu berikutnya juga. "Kalian mau menjadikan tempat ini sebagai markas?" ucap Raka.

"Lihat siapa yang bicara," balas Mita.

Minggu berikutnya Mita pergi untuk urusan keluarga. Ia mau berkunjung ke rumah neneknya di kota sebelah. Tanpa ragu aku mengurungkan niatku untuk pergi ke TK lagi.

Raka adalah orang baik. Ia sudah menjadi teman kami. Namun kami tidak punya kewajiban untuk dengannya terus-menurus di tempat itu.

"Dan akhirnya kamu datang juga?" kata Raka.

Aku mendapati diriku berdiri di antara rerumputan panjang, di antara mainan-mainan rapuh dan berkarat. Raka duduk di teras. Ia memegang lidi. Lidi itu ia gunakan untuk membuat garis-garis abstrak di tanah. Aku termangu, heran dengan diriku sendiri. Seolah terjadi begitu saja, dengan sangat cepat aku berpindah dari rumah ke TK.

"Kamu bisa juga datang sendiri," kata Raka.

"Hei, aku juga bisa hidup mandiri," ujarku.

Kali ini hanya ada kami berdua. Meski telah beberapa kali bertemu Raka, entah mengapa aku tetap canggung. Aku tidak tahu mau berbuat apa. Aku pikir Raka sudah menjadi temanku sehingga aku dapat bersikap biasa padanya. Pilihan paling masuk akal adalah pulang. Tetapi kakiku bukan melangkah ke belakang, melainkan maju ke depan menuju kelas. Aku melarikan diri ke kelas. Raka heran melihatku. Aku berdiri menghadap tulisan "friendzone, dan terpaku di posisi itu.

"Kamu kenapa?" Raka bertanya.

Pertanyaan bagus

Jawaban ini yang disebut salah tingkah.

Aku menghela napas, mengambil satu kursi, lalu duduk diatasnya. Raka berdiri bersandar diambang pintu. Aku tahu ia sedang bertanya-tanya dalam batin.

"Kamu tahu siapa yang membuat tulisan ini? tanyaku, menunjuk tulisan "friendzone" di belakangku. Topik itu anehnya tidak pernah dibahas saat kami berbincang bertiga, entah karena kami lupa atau tidak peduli. Baru sekarang aku menanyakan.

Raka diam sesaat. "Tidak tahu." Ia menggeleng.

"Konyol sekali, ya? Aku penasaran siapa yang menulisnya. Pasti dia galau... Hahaha..."

Garing, akulah yang konyol. Pembicaraan macet. Apa apa ini? Aku tersendat sementara Raka tidak menyambung obrolan. Ia hanya menatap langit-langit. Apa ia mencari sarang burung?

Awalnya kukira Raka sudah diajak bicara, ternyata tidak. Ia mampu bicara dengan biasa tanpa menaikkan nada atau memperlihatkan antusiasme. Berbeda dengan para anak lelaki dikelasku. Ia tahu banyak hal. Ia kebal terhadap semua sindiran yang kami lemparkan padanya. Obrolan kami dengannya mengalir. Kehadirannya bagai membawa warna baru.

Tanpa sadar aku merasa nyaman. Namun tidak kusangka aku sedemikian gugup bila hanya berdua. Seakan Raka yang sekarang berbeda dengan Raka yang biasa mengobrol dengan kami. Seakan ia orang lain. Belum lagi aku masih mempertanyakan alasan aku datang sendiri.

Setelah melihat tulisan di dinding itu, aku sadar. Aku tahu, dan harus berhati-hati.

"Terakhir kali berduaan degan cowok, aku jatuh cinta padanya," kataku tiba-tiba. Ucapan itu meluncur. Tetapi itu fakta.

"Jangan jatuh cinta padaku," kata Raka. Tanpa basa-basi, langsung, tegas, sampai aku ragu apakah dia serius atau bercanda.

Aku menunduk. "Benar juga. Kita hanya teman," kataku lirih.

Setelah hening beberapa saat, Raka berkata, "Dulu ruangan ini adalah ruang pertemanan. Tidak, bukan hanya dulu. Sebenarnya sampai sekarang pun begitu. Ruang tempat bertemu dan berteman, ruang untuk mencari teman, ruang untuk bermain bersama teman."

"Bukankah TK memang begitu?" kataku. "Jadi itukah sebabnya disebut freindzone? Ah, itu nama yang cocok. Aku dan Mita mulai berteman di sini. Dan kami juga mulai bertemen denganmu di sini."

"Benar. Friendzone. Kamu cepat mengerti rupanya." Ia tersenyum. "Tetapi ruang pertemanan ini lebih dari yang kamu pikirkan. Bukan sekadar membuatmu menambah teman. Menjadikan seseorang sebagai teman, atau memperkuat status teman." Lalu ia mengarahkan pandangan ke tulisan, lalu menyeringai. "Tetapi tulisan itu tidak ada hubungannya dengan tempat ini. Itu cuma ulah orang stres. Orang itu jelas tidak tahu esensi tempat ini. Dan kebetulan cocok."

Aku tertawa kecil. "Meski tidak tahu siapa yang menulisnya, sepertinya kau yakin sekali."

Ucapan Raka terdengar berbobot, juga terdengar dibuat-buat. Aku pikir ia ingin menjelaskan betapa berharga TK ini dengan tambahan bumbu-bumbu hikmah. Selama ini perkataannya ringan termasuk ketika bercanda. Baru kali ini ia bicara seperti membual. Ia memandang halaman. Cahaya dari luar menyinari seluruh badannya, membuat ia seperti lukisan, Wajah serius, mata terbuka setengah. Kemudian ia berpaling padaku.

Raka melihatku sambil tersenyum. Senyum hambar seakan sedih. Wajah itu, menyiratkan sesuatu. Seperti menyembunyikan sesuatu namun juga ingin mengatakannya.

Melihat ekspresi itu, seketika aku enggan tertawa. Menyampaikan pesan tanpa ucapan. Ia menghantarkan berbagai perasaan kepadaku. Ada yang aneh. Mulutku terkunci. Wajah itu datar seperti biasa, tetapi kali ini mengandung arti. Kurasa aku mengerti maksudnya. Aku tidak akan bertanya. Kalau itu membuat Raka diserbu perasaan tidak nyaman, maka aku sungguh tidak akan menyebutkan lagi. Bahkan aku bukan hanya tidak menyebut di depannya saja, melainkan di depan semua orang.

"Dulu wilayah pertemanan bukan sebatas ruangan ini saja. Dulu sekali, wilayah pertemanan sangat luas. Kemudian semakin menyempit setelah melewati beberapa masa. Yang namanya kekuatan, suata saat akan berkurang lalu lenyap."

Ucapannya diarahkan padaku, tetapi lebih seperti bergumam kepada dirinya sendiri. Tidak, suaranya jelas. Ia berujar dengan suara jelas. Hanya saja menjauh seperti gema.

"Jangan khawatir, semua ini tidak akan berdampak padamu dan pada temanmu. Ini sekadar pengetahuan. Supaya kamu sedikit terhibur." Raka menegakkan tubuh, bersiap untuk pergi, "Masalahmu adalah masalah yang sangat sepele. Setelah ini kamu tidak perlu memikirkannya lagi. Oh  ya, jangan lupa hapus tulisan itu. Perusakan akan membawa keburukan. Hakikat tempat ini pun berubah cepat akibat anak-anak nakal."

"Raka, aku tidak mengerti"

"Kau harus segera pulang, Tika."

Suaranya begitu lembut. Sekali lagi, terdengar seperti gema. Mendadak aku pusing.

"Benar, aku harus pulang," kataku, terengah-engah.

"Sekali lagi, kita hanya teman," kata Raka.

Aku berusaha menjaga tubuhku agar tidak jatuh. Kepala terasa berat. Sekali lagi aku berpaling ke "friendzone". Tulisan itu meliuk seperti ular, beserta dinding, dan semua di sekitar. Aku tidak tahu lagi apakah aku masih duduk, atau berdiri, atau berbaring. Kata-kata terakhir Raka bergerma di telinga, kita hanya teman.

"Tika, bangun!"

Aku membuka mata, "Mita?"

"Dasar, baru ditinggal sebentar sudah molor. Bisa-bisanya tidur di lantai kotor begini."

Aku duduk. Menoleh kanan dan kiri. Mencari seseorang yang semestinya di sini. Yang ada hanya Mita yang membawa tas plastik. "Mana Raka?" tanyaku dengan suara serak.

Raka? Siapa?"

Siapa?

"Raka. Raka teman kita. Cowok itu..."

"Kamu baru mimpi, ya?"

Tanpa alasan jelas, pandanganku langsung mengarah ke tulisan hitam di dinding belakang. "Tulisan itu..."

"Tulisan itu kenapa?" Mita ikut menoleh. "Itu kamu yang membuatnya, kan?"

"Eh?"

"Bukan 'eh'. Meski ini bangunan kosong, mencoret-coret sembarangan itu tidak baik, tahu. Sudah kubilang." Mita menghampiri tulisan itu. "Kalau begini tidak bisa dibersihkan kecuali kalau digaruk, atau dicat ulang. Tetapi bangunan ini mau dirobohkan, jadi bukan masalah lagi."

Aku bergegas mendekati tulisan itu. Tulisan hitam "friendzone", bukan dibuat dengan lakban hitam melainkan dengan tinta. "Tidak mungkin..." Aku meraba-raba tulisan itu.

"Apanya yang tidak mungkin?"

"Kapan? Kapan aku menulis ini?"

"Dua minggu yang lalu, kan? Kamu lupa?" ujar Mita heran. "Kamu ditolak cowok, lalu kesal, lalu mampir ke sini dan membuat tulisan itu. Meski biasanya baik, ternyata kamu bisa bandel juga. Kamu menulis itu sambil tertawa-tawa. Aku hampir mengira kamu gila."

Tempat pertemanan. Kita hanya teman. Jangan lupa hapus tulisan itu.

"Nah, mau makan sekarang? Hmm, siapa itu?" Mita berpaling ke pintu.

Sosok anak lelaki di pintu itu sama sekali tidak asing. Anak lelaki jangkung dengan rambut rapi dan sedikit ikal. "Kalian siapa?" tanya anak lelaki itu.

"Kamu sendiri siapa?" balas Mita.

"Aku alumni TK ini."

"Kamu juga."

Anak lelaki itu menajamkan mata melihat kami. "

Anak lelaki itu menajamkan mata melihat kami. "Aah, kalian Mita dan Tika, bukan? Lama tidak bertemu," ujarnya ramah. "Aku Arka. Kalian ingat? Wah, kalian sudah banyak berubah. Aku sendiri heran kenapa aku masih ingat."

Arka?

"Omong-omong, kenapa kalian di sini?" tanya Arka.

"Hmm, tidak ada apa-apa. Kebetulan ingin main. Lalu karena lapar, kami beli makanan," jawab Mita. Aku langsung menoleh ke Mita. Bukankah kami datang karena... Lalu aku melirik isi plastik yang dibawa Mita. Bukan makanan ringan, melainkan nasi bungkus dan dua botol air mineral. "Kalau kamu?" Mita balik bertanya.

"Dua hari yang lalu Bu Yani meninggal," kata Arka. "Karena itu tiba-tiba saja aku ingin kemari. Kalian tahu Bu Yani? Guru kita dulu."

"Bu Yani... siapa? Aku tidak ingat, ujar Mita. "Kamu ingat, Tika?"

Sungguh aku tidak mampu berucap, hanya bisa menggeleng.


PENULIS :

Hita Yugram suka menulis fiksi sejak lama sekali. Lulus dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Punya bnayak waktu luang. Kalau tidak punya waktu luang, ia akan berusaha membuatnya. Untuk membaca karya-karyanya yang lain, seilakn lihat di Wattpad.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment