Cerita Move On, Senyuman Sierra Ketika Waktu Telah Berhenti

Cerita Move On, Senyuman Sierra Ketika Waktu Telah Berhenti

INIKECE - Aku berdiri di hadapan rumahnya. Menghela napas sejenak dan mencoba tersenyum untuk menyapanya.
"Hei, lihat aku bawa apa..."

***

Pertemuan pertama kali dengannya bagiku adalah sebuah takdir. Tahun 2016, aku tidak menduga akan mendapat tiket gratis menonton Formula 1 di Marina Bay Street Circuit, Singapura. Kompetisi balap jet darat favoritku sejak kecil. Walaupun aku tidak mendapatkan kursi yang nyaman di grandstand, dan hanya berdiri di pinggir sirkuit untuk menonton mobil yang dipacu hingga lebih dari 300 km/jam, momen itu adalah salah satu momen terbaik dalam hidupku. Hari itu menjadi lebih baik ketika aku bertemu dengannya yang sedang berdiri di sampingku.

"Aku jarang melihat ada perempuan yang suka nonton Formula 1 langsung," ujarku.

"Aku hanya menemani kakakku di sana." Dia menunjuk seorang pria yang sedang membeli tacos dari food truck yang tidak jauh dari kami. "Aku hanya ingin nonton konsernya saja."

"Oh, ya? Kamu mau menonton siapa?'

"Queen! mereka adalah favoritku," ujarnya bersemangat. Memang Queen yang ditemani Adam Lambert dijadwalkan menyanyi setelah selesai balapan.

"Wah, aku bahkan lebih jarang lihat ada perempuan seumuranmu yang suka Queen."

"Terserah apa pun yang kamu katakan, mereka adalah yang terbaik sepanjang masa dan aku suka mereka." Senyumnya waktu itu masih sangat jelas tersimpan di memoriku.

"Bara." Aku mengulurkan tanganm, "Bara Gratia."

Dia meraih tanganku, "Sierra Alysa Aleen."

Itulah namanya. Sierra Alysa Aleen. Nama yang indah untuk seseorang seperti dia. Tingginya sebahuku, dengan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai di malam itu membuatku terpesona. Bagiku, dia adalah definisi sempurna.

Perkenalan itu pun berlanjut ke saling berkomunikasi, bertemu, dan mengenal satu sama lain. Ketika kami bertemu kami bisa bercerita banyak, mulai dari hal-hal yang konyol seperti berapa jumlah lumba-lumba di luat ataupun ketika dia memamerkan kesukaannya pada grup musik lama, hingga membahas hobi kami yang sama, travelling.

Baginya, travelling adalah wujud mengagumi ciptaan Tuhan dengan cara yang menyenangkan. Beberapa bulan setelah pertemuan pertama di Singapura itu, kami akhirnya memutuskan untuk menjalani hubungan yang lebih dekat.

Masa demi masa dilewati dengan menyenangkan bersamanya. Dia menjadi penyemangat pertama ketika aku sedang kesusahan menghadapi sesuatu, aku pun menjadi tempat bercerita keluh kesahnya ketika dia sedang bersedih. Kami seringkali jalan-jalan bersama ke berbagai tempat. 

Labuan Bajo, Wakatobi, bahkan sampai di Raja Ampat. Di setiap tempat yang kami kunjungi, kami memiliki kebiasaan untuk berfoto dengan pose yang khas, aku duduk bersila dengan kedua tangan bersatu dan dia berdiri di belakangku dengan tangan terbentang seperti ingin terbang.

Namun, memasuki tahun kedua hubungan kami, rintangan besar nan mengejutkan datang. Sierra divonis mengidap kanker pankreas. Ada pertumbuhan sel yang tidak normal di pankreasnya dan sudah mulai menjalar ke organ tubuhnya yang lain. Ketika mendengar berita itu pertama kali, aku jatuh terduduk karena shock. Air mata tidak bisa kutahan mengalir di pipiku. Tetapi, Sierra dengan tenangnya menghampiriku dan menyeka air mataku.

"Tidak apa-apa, Bara. Aku tidak apa-apa. Aku kuat, kok. Kamu juga harus kuat, ya, kamu tidak boleh menangisi ini sekarang dan nanti. Janji?" ujarnya dengan senyum di wajahnya. Senyum yang mengingatkan pada memori pertama kali aku bertemu dengannya malam itu. Melihat itu aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk sembari memeluknya erat.

Ketika masa-masa perawatan dan kemoterapi, senyuman itu tidak pernah hilang dari wajahnya. Tidak ada air mata keluar karena menahan rasa sakit yang ia derita. Aku berusaha semampuku menahan kesedihanku untuk menyemangatinya, mencoba untuk selalu berada di sisinya.

Suatu hari di bulan Maret 2019, ketika aku baru datang mengujunginya di rumah sakit, dia berteriak dengan antusias kepadaku.

"Bara, coba lihat ini," dia memperlihatkan berita yang menunjukkan entertainment line-up untuk gelaran Formula 1 di Singapura tahun ini, "Ada Red Hot Chili Peppers dan Muse! Tahun ini kita harus ke sana. Aku mau nonton mereka langsung," ujarnya dengan menggebu-gebu.


Dia langsung menyebutkan lagu-lagu yang dia suka dari kedua grup musik itu. Dia menjelaskan apa yang ingin dia lakukan ketika melihat mereka. Medengar itu, aku tersenyum dan memegang kedua tangannya yang membuatnya berhenti berbicara.

"Kita akan pergi sana. Oke? Yang penting kamu harus sembuh dulu sekarang. Janji?" dia tersenyum dan mengangguk sembari jari kelingking kami saling berkait.

Tapi, janji hanyalah sebuah janji. Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang memutuskan segalanya. Tepat seminggu kemudian, Sierra pergi untuk selama-lamanya. Dengan tenang dalam tidurnya, ia pergi menghadap-Nya. Isak tangis keluarganya pecah dalam ruangan itu. Aku yang berada di ruangan yang sama berusaha menahan air mata, berusaha menepati janji dengannya. Satu-satunya janji yang harus kutepati. Tidak boleh menangisi kepergiannya.

Sierra akhirnya dimakamkan di pekuburan keluarga, di daerah berbukit di pinggiran kota Bandung. Aku masih mengingat hari itu, awan gelap berkumpul namun tidak menurunkan hujannya hingga proses pemakaman selesai. Ketika aku mengunjungi rumahnya setelah itu, ibunya memelukku sembari menangis. Aku berusaha menenangkannya.

"Sudah, bu. Sierra sudah tidak sakit lagi. Sierra sudah tenang disana. Kita ikhlaskan dia, ya," kataku.

Ketika aku hendak pamit, kakak Sierra menghampiriku, "Bara, ada yang ingin aku perlihatkan," aku hanya mengangguk mengikutinya. Kami menuju kamar Sierra. Kamar serba putih sesuai dengan warna kesukaannya.

"Itu, Bara," dia menunjuk ke arah kotak berwarna merah yang ada di atas meja, "Itu dari Sierra untukmu. Dia berpesan padaku, agar hanya kamu yang boleh membuka kotak itu," tambahnya sembari memberikanku kunci.

Aku mengambil kunci itu dan berjalan menuju kotak merah itu, "Aku akan meninggalkanmu sebentar disini," ujar kakak Sierra sembari menutup pintu.

Aku duduk menatapi sebentar kotak itu. Dengan kunci tadi kubuka perlahan kotak merahnya. Ada secarik post-it tertempel di balik penutupnya. MILIK SIERRA. Di dalamnya ada berbagai macam barang. Foto polaroid kami, tiket film bioskop yang kami tonton bersama yang bahkan beberapa di antaranya sudah tidak jelas apa nama filmnya, dan berbagai macam memori kami lainnya. 

Diantara barang-barang tersebut ada selembar kerta. WISH LISTS SIERRA. Aku membuka dan membacanya. Isinya adalah tempat-tempat yang ia ingin kunjungi. Kebanyakan sudah dicoret tanda tempat itu sudah ia kunjungi.

Ada 6 destinasi lagi yang belum dicoret. Mengunjungi dataran garam yang indah Salar de Uyuni di Bolivia, mencoba Nevis Swing di Selandia Baru, melihat langsung piramida dan Sphinx di Mesir, berjalan menggunakan hanbok di Korea Selatan, dan berfoto di depan gedung Hamburg Rathaus di Jerman.

Satu destinasi terakhir miliknya membuatku tak kuasa menahan tangis, "Menonton Formula 1 di Singapura bersama Bara dan menonton Red Hot Chili Peppers dan Muse tentunya."

***

Lima bulan kemudian, aku berdiri di hadapan rumahnya. Namanya terukir di pusara berwarna hitam itu. Rumah terakhirnya. Menghela napas sejenak dan mencoba tersenyum untuk menyapanya.

"Hei, lihat aku bawa apa," aku memamerkan tiket untuk tiga hari nontn Formula 1 Singapura tahun ini, "Aku akan menonton Formula 1 lagi di sana bulan depan. Aku juga akan menonton Red Hot Chili Peppers dan Muse yang kamu suka itu."

Aku duduk di samping makamnya, mengusap pusara itu, "Aku juga sudah merencakan untuk pergi ke tempat-tempat yang ingin kamu kunjungi itu. Nanti akan kubawakan fotonya untukmu."

Aku memang sudah merencanakan perjalanan ini sejak aku melihat kertas wishlist miliknya waktu itu. Beberapa orang yang mengetahui rencanaku itu mempertanyakan alasan aku melakukannya. Bagi mereka, melakukan itu tidak bisa membuatku melupakan Sierra dan move on darinya.

Namun bagiku, move on dari Sierra bukan berarti berusaha melupakan kenangan dan segala sesuatu darinya, tetapi berusaha untuk mengatasi kesedihan karena ditinggalkan olehnya. Dengan cara inilah, aku yakin bisa melakukan itu. Mengunjungi destinasi yang belum sempat dia kunjungi. Mencoba membayangkan senyum yang terpancar di wajahnya ketika berada di tempat-tempat yang dia impikan.


Profit Singkat Penulis :

Penulis mulai memiliki hobi menulis sejak diminta guru Bahasa Indonesia untuk menulis kehidupan sehari-hati selama bersekolah di MAN. Penulis ini adalah peneliti pratama fisika di salah satu lembaga penelitian Indonesia. Mengisi waktu luang di antara mengerjakan penelitian dengan menulis cerita-cerita semi-fiksi yang menjahir kejadian nyata dengan bumbu fiksi.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment