Kisah, Pesan Dari Puncak Bianglala - Move On

\

Kisah, Pesan Dari Puncak Bianglala - Move On

INIKECE - Xavier : Happy Graduation untuk periode ketiga. SELAMAT!!!
Zara : Kalian luar biasa.

Yulia : Periode ketiga sama kedua memang luar biasa. Semua diterima di perusahaan ternama.

Queen : Kok periode pertama nggak disebut luar biasa?

Rizwar : Ha...ha...ha... semua juga tahu kali diperiode pertama masih ada yang nganggur *Ups.

Ghio : Semua orang punya waktunya masing-masing!

Aku langsung melempar handphoneku ke sembarang arah. Percakapan online di grup seperti ini memang selalu aku hindari apalagi ketika di masa-masa wisuda seperti saat ini. Aku tersenyum getir melihat percakapan online itu karena aku tahu persis siapa yang dimaksud wisudawan periode pertama tetapi masih menyandang status pengangguran.

Jika saja tidak ada peraturan tidak tertulis, aku sudah sejak lama meninggalkan ruang obrolan online. Dulu aku memang merasa senang dengan ruang obrolan itu karena ketika aku menjadi salah satu dari lima mahasiswa yang turut serta dalam wisuda periode pertama di angkatanku dengan predikat cum laude semua teman-teman memujiku dan menaruh harapan besar kepadaku. Sinar masa depan seolah sudah terlihat jelas di depan mata meskipun realita tidak berkata demikian.

Aku menenggelamkan diriku di bawah selimut. Berusaha memejamkan mata dan melupakan semua percakapan di grup online tetapi satu yang tidak ingin aku lupakan ketika Ghio mengatakan jika semua orang punya waktunya masing-masing.

Hari ini adalah hari yang aku tunggu. Hatiku begitu berdebar hari ini dan aku pun tidak sabar menanti surat yang tak kunjung tiba. Aku harus beberapa kali naik turun tangga dan memastikan kotak pos di depan rumah sudah terisi tetapi sampai sore hari kotak pos masih kosong.

Setelah aku mengikuti serangkaian tes untuk menjadi seorang akuntan di salah satu perusahaan ternama akhirnya aku bisa sampai di tahap wawancara dan hari ini adalah hari pengumuman final. Jika aku diterima maka hari Senin esok aku sudah harus bekerja menjadi seorang akuntan seperti yang sudah aku impikan sejak dulu. Aku memiliki harapan besar untuk kesempatanku kali ini.

Semakin sore waktu berjalan semakin membuat perasaanku cemas. Kurir pos yang sejak tadi aku tunggu kehadirannya tetapi tak kunjung memampakkan batang hidungnya. Rasa ngantuk mulai menyerang ketika aku menunggu surat itu karena aku tidak bisa membohongi diriku jika aku tidak terpikirkan dengan perkataan teman-temanku di grup percakapan online tadi malam sehingga aku tidak bisa menikmati tidurku dengan nyenyak.

Aku terbangun ketika mendengar suara klakson motor dengan tumpukan surat dan kotak paket yang ada di samping kanan kiri motor. Aku langsung bangkit dan membuka pintu, berlari ke arah kotak pos untuk mengambil surat.

"Neng ada suart," kata kurir pos begitu melihatku.

"Ya, Pak terimakasih," ucapku sedikit membungkuk unutk memberi hormat atas jasanya.

Langit sudah gelap ketika aku menerima surat ini. Perasaanku mulai campur aduk ketika surat yang kutunggu sudah berada di tangan. Ketika sudah berada di kamar dan akan membuka surat ini tanganku tiba-tiba gemetar, perasaanku tiba-tiba begitu cemas. Aku tidak tahu ini firasat baik atau justru sebaliknya.

Aku tidak membaca jelas isi surat ini, selain logo dan tulisan PT. Citra Angkasa fokusku langsung pada tulisan dibawah. Aku dibuat tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat tulisan yang tidak kuharapkan.

Menyatakan Sudari Anathalia Sanjaya : TIDAK LOLOS SELEKSI.

Aku meremas surat yang ada di gengamanku. Ini adalah surat kedua belas yang aku terima sejak aku secara sah dinyatakan sebagai seorang sarjana dan ini juga berarti kedua belas kalinya penolakan ditujukan untuk diriku.

Hancur, lelah, putus asa adalah hal yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini. Aku hanya bisa menangis di dalam kamar tanpa ada hal lain yang dapat aku lakukan. Duduk di depan meja rias, berhadapan langsung dengan cermin semakin menunjukkan betapa hancurnya diriku saat ini. Aku menundukan kepalaku di atas meja rias, menumpahkan kekecewaan kepada diriku sendiri melalui tangisan.

Drt...Drt...Drt...Drt...Drt...

Suara getaran handphone menyadarkanku dari kesedihan. Aku mengangkat kepalaku dan menggunakan kedua penggung tangan untuk mengusap air mata yang masih terus mengalis. Tangaku berusaha meraih handphone di atas nakas. Aku tidak sanggup untuk membuka percakapan online itu karena melihat dari notifikasi saja sudah membuat napasku seolah terhenti.

Rizwar : Periode ketiga memang hebat. Ada tiga sarjana akuntasi yang diterima di PT. Citra Angkasa.

Xavier : Serius? Waaah bangga deh sama kalian, nggak sia-sia kuliahnya ilmunya bisa bermandaat. Selamat Selamat.

Queen : Keren, jadi akuntan di PT. Citra Angkasa kan nggak gampang. Selamat!!!

Zara : Nggak masalah ikut periode ketiga yang penting dapat pekerjaan, luar biasa...

Xavier : Coba kalau ada yang bisa jadi akuntan di BRB Coorporation itu lebih keren lagi.

Rizwar : Kalau memang ada yang sampai keterima di BRB, aku akan traktir makan sepuasnya.

Queen : Hahahah.... tapi itu rasanya nggak mungkin ada deh.

Handphone masih terus bergetar tetapi aku sudah tidak sanggup lagi menatap layar handphone. Rasanya nyaliku semaki menciut ketika membacanya. Ucapan teman-temanku membuatku merasa sangat putus asa dan tidak berguna sama sekali.

Setelah penolakan itu, aku menjadi lebih tertutup dan hanya menghabiskan jam demi jam dengan mengurung diri di kamar. Aku kehilangan semangatku untuk mengapai impian. Apa yang aku lakukan semuanya terasa sia-sia, hanya menguras tenaga dan pikiran tanpa ada hasil yang jelas. Aku benar-benar lelah dan putus asa dan aku juga telah memutuskan untuk menyerah dengan keadaanku sekarang.

Meskipun beberapa kali aku tetap mencari lowongan pekerjaan menjadi akuntan tetapi tidak ada satu pun yang aku daftar. Bayang-bayang kegagalan masa lalu menjadi trauma bagi diriku. Tidak ada lagi gunanya mencoba jika hanya kegagalan yang akan aku temui

Tok...Tok...Tok...

"Thal..." Terdengar suara ibuku. Pintu kamar dibuka. "Ada temanmu di bawah. Temuin, gih."

"Bu, bilang aja aku udah tidur," sahutku dengan senyuman yang aku paksakan.

Ibu mendekat ke arahku, duduk di pinggiran kasur dan menggangam tanganku erat.
"Thal, temui. Kasihan loh Ghio udah jauh-jauh ke sini."

Mau tidak mau aku menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Aku membuka pintu utama dan melihat sosok Ghio yang tengah duduk di kursi teras.

"Ghio..." sapaku lirih.

Ghio langsung bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di hadapanku. Gerak-geriknya terlihat canggung dan gugup. "Em..Thal, gimana kabarnya?"

"Baik"

Seketika tidak ada percakapan di antara kami, hanya saling pandang.

"Ada apa kamu malam-malam ke sini?" suaraku terdengar canggung berusaha memecah keheningan.

"Malem ini kamu sibuk nggak? Aku mau ngajak kamu pergi." sahur Ghio ragu.

Aku hanya tertawa mendengar ucapan Ghio sebelum menjawab pertanyaan yang menurutkan sangat konyol. "Aku sibuk? Mana ada pengangguran sepertiku sibuk. Kamu ini ada-ada aja."

"Maksudku bukan begitu Thal, maaf."

"Hahaha...santai aja kali Ghi semua juga tahu aku pengangguran," jawabku berusaha tegar.

Hening kembali melanda kami berdua, tetapi secepat kilat aku berusaha memecahkan keheningan itu. "Kamu mau ngajak aku kemana?"


"Ooh itu, ada festival night. Ayo kita ke sana."

Tidak ada jawaban dariku. Aku tidak siap untuk keluar dari sarangku, membayangkan jika nanti bertemu seseorang yang aku kenal di festival night, semuanya terasa lebih menyeramkan dari mimpi buruk. Pertanyaan dimana kamu kerja pasti akan langsung menghujaniku dan aku belum siap untuk itu.

"Maaf Ghi, tapi aku.."

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Ghio sudah lebih dulu menimpalinya "Sudah, anggap aja malam ini kamu cari udara segar. Cepetan gih kamu ganti baju aku tunggu disini.'

Ghio langsung memutar tubuhku dna mendorongku untuk segera mengganti pakaian. Aku memadukan sweater rajut warna merah marron dengan celana jeans hitam dan sepatu kets berwarna putih. Tak lupa aku juga mengikat rambut dengan model kucir kuda andalanku.

Aku merasa kagum ketika tiba di festival night. Semuanya terasa asing bagiku, rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan suasana seperti saat ini. Selama ini aku hanya sibuk hidup di dalam sarang karena takut untuk melangkah. Tanpa sadar senyuman terukit dari bibiku ketika melihat banyak orang bergembira berada di festival night.

Mungkin hanya aku yang datang ke festival dengan suasana hati yang kacau.

"Kamu mau apa?" Tanya Ghio.

"Entahlah."

"Bagaimana kalau kita naik bianglala?"

Aku langsung menghentikan langkahku seketika, menatap Ghio dengan tatapan menyelidik. "Kamu bercana? Nggak. Aku kan takut ketinggian, mana mau aku naik bianglala setinggi itu."

Hey, tidak ada salahnya untuk mencoba melawan rasa takutmu Thal."

"Kamu akan merasakan hal yang indah ketika berada di puncak bianglala."

Aku memandang bianglala dan tubuhku langsung merasa bergidik ngeri ketika melihat puncak bianglala. "Sekali nggak tetap...."

Lagi-lagi sebelum aku menyelesaikan ucapanku, Ghio sudah lebih dulu menimpalinya dan menggandeng tanganku menuju tempat pembelian karcis untuk naik Bianglala.

Sepukuh menit kita harus menunggu giliran hingga salah satu keranjang bianglala kosong. Selama itu juga keringat dingin terus mengucur dari dahuku. Aku meremas-remas bagian bawah sweaterku untuk menghilangkan sedikit rasa takut dalam diriku.

Tiba-tiba saja Ghio menautkan jarinya dengan jariku dan tersenyum ke arahku untuk menenangkan. "Semuanya akan baik-baik saja Thal. Percaya padaku."

Aku hanya mengangguk, menuruti semua ucapan Ghio.

Kini sudah saatnya kami masuk ke keranjang bianglala. Kakiku terasa begitu lemas ketika melangkah ke dalam keranjang bianglala tetapi gengaman tangan Ghio menjadi satu-satunya alasanku untuk tetap melangkah menaiki kerangjang bianglala. Aku duduk di sisi kanan sedangkan Ghio di sisi kiri dan Ghio mulai melepaskan gengamannya.

Setelah petugas mengunci keranjang bianglala dan memastikan semuanya aman, bianglala mulai berjalan naik ke atas dan seketika itu juga aku kembali menggegam kembali tangan Ghio dan memejamkan mata.

"Sudah Thal, Nggak apa-apa, sekarang coba kamu buka matamu, ada pemandangan indah yang rugi kalau dilewarkan," kata Ghio dan satu tangannya digunakan untuk mengusap bahaku. Perlahan aku mulai membuka mata dan benar saja pemandangan dari atas bianglala memang begitu indah dan sayang untuk dilewatkan.

Setelah dua kali bianglala berputar aku sudah mulai bisa menikmatinya. Rasa takutku sudah sirna, kini digantikan dengan senyuman dan rasa takjub dengan indahnya pemandangan kota dari puncak bianglala.

"Maaf."

"Untuk apa?" tanyaku bingung.

"Aku tidak bisa menjadikanmu akuntan di PT. Citra Angkasa, aku sudah beberapa kali mencoba merekomendasikanmu pada kepala HRD, tapi entahlah apa pertimbangan mereka, padahal aku tahu kamu memenuhi semua persyaratan perusahaan."

Aku menghela napas panjang. "Sudahlah Ghi jangan dipikirkan, lagian ini bukan salah kamu kok. HRD sudah mengambil keputusan yang tepat. Hanya belum waktuku saja," aku tersenyum ke arah Ghio.

"Oh..ya Thal, aku dengan BRB Corporation membuka lowongan untuk akuntan. Aku mau kamu coba karena aku tahu kamu pasti bisa.'

"Hm..tapi sayangnya aku sudah menyerah Ghi."

GREEKKK....

Tiba-tiba tubuhku terhuyun ke depan dan mulai menyadari jika ada yang berebda. Bianglala yang kami naiki mengalami kerusakan mesin dan berhenti berputar. Semua warna-warni lampu yang tadinya menghiasi bianglala ini menjadi redup seketika.

Keringat dingin mulai bercucuran dari dalam diriku. Tanganku kembali mengenggam erat tangan Ghio dan mata ini kembali terpenjam. Tubuhku pun mulai gemetar. Untung saja ada Ghio di depanku yang terus menerus menenangkan diriku.

"Sudah Thal, nggak apa-apa. Bentar lagi pasti nyala lagi kok, santai saja Thal."

"Gimana aku bisa santai, kali bianglalanya mati kayak gini. Ini kita diposisi paling atas Ghi, aku takut."

Aku menghela napas panjang untuk menenangkan diriku sendiri. Beberapa menit aku menunggu tetapi bianglala tak kunjung bergerak. Meski begitu aku sudah tidak setakut sebelumnya.

"Kenapa kamu menyerah?" Tanya Ghio ketika melihat kondisiku sudah mulai membaik.

"Untuk apa aku mencoba jika hanya bertemu dengan kegagalan.'

"Thal, hidup ini bukan cuma tentang kesuksesan tapi juga kegagalan."

"Ghi, kamu tahu apa tentang kegagalan? Kamu wisuda di periode kedua, jauh sesudah aku diwisuda dan kamu langsung diterima di perusahaan ternama, PT. Citra Angkasa bahkan kamu sudah mendapat promosi jabatan. Sedangkan aku? Aku sampe sekarang masih jadi pengangguran Ghi.." Tanpa sadar air mataku mengalir begitu saja.

"Maaf Thal, aku nggak bermaksud begitu."

"Enggak Ghi, aku yang harusnya minta maaf jadi sensitif seperti ini."

"Thal..."

Aku mengalihkan pandanganku dari pemandangan kota, menatap mata Ghio menunggu ucapan selanjutnya.

"Aku hanya bisa memberikan saran terbaik untukmu tapi Thal, satu yang harus kamu ingat bahwa hidup ini seperti bianglala. Untuk bisa berada di puncak dan menikmati pemandangan indah ini kita harus mulai dari bawah dan berproses hingga sampai di puncak. Semuanya memang menjadi keputsanmu Thal tapi aku berharap besar kepadamu. Kamu harus bergerak Thal untuk menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya. Sekarang, yang perlu kamu lakukan hanya fokus pada masa depanmu dan berdamai dengan masa lalu."

Aku tersenyum mendengar ucapan Ghio ketika bianglala sudah mulai berputar kembali.

Pesan yang aku terima malam itu, di puncak bianglala telah menyadarkanku dari keputusasaan, membangkitkanku dari keterpurukan, menggerakanku dair masa lalu untuk tetap melangkah ke depan, dan menuntunku ke arah yang lebih baik untuk menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya karena kini aku adalah seorang akuntun di BRB Corporation.

***

Penulis :

Tya Fitria hobi membaca novel dan komik. Ia berharap ceritanya bisa menginspirasi pembaca untuk bisa move on dari kegagalan karena cita-cita kita sudah menanti di depan sana untuk kita gapal.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment