Kota Ini Adalah Kota Kecil, Cerita Move On

Kota Ini Adalah Kota Kecil, Cerita Move On

INIKECE - Begitu kecilnya hingga kau bisa kenal hampir seluruh penduduknya. Jika kau naik ke atap rumahku, kau bisa melihat rumah-rumah mereka. Disebelah timur, kau akan menemukan rumah sederhana milik Bibi Ela, dengan tanaman-tanaman cabai kesayangannya.

Bibi Ela selalu ada dikebun. Ia adalah wanita paruh baya yang tidak memiliki sanak saudara. Seperti yang telah kusebutkan, satu-satunya kesayanganya adalah tanaman-tanaman cabainya. Bibi Ela bangga akan kemampuannya merawat tanaman-tanaman itu, dan selalu berkata padaku bahwa cabai-cabainya seharusnya dihargai lebih tinggi di pasar.

Meski begitu, Bibi Ela sering memberi cabai-cabainya padaku. Ia bilang aku adalah anak yang baik dan perlu makan makanan yang sehat.

Disebelah kebun Bibi Ela, kau akan menjumpai rumah keluarga Jeff. Ayah dan Ibu Jeff bekerja di satu-satunya klinik di kota kami. Salah satu dari mereka adalah dokter gigi. Aku lupa yang mana. Terakhir kali aku ke klinik gigi mereka sekitar enam tahun yang lalu, waktu gigiku hitam-hitam akibat permen yang kumakan setiap malam.

Ayah dan Ibu Jeff ada di sana. Di antara kekalutan dan teriakan-teriakaku, aku sungguh tak ingat siapa yang mencabut gigiku. Rasa trauma akan klinik gigi masih menghantuiku hingga kini, jadi aku tidak pernah bertanya pada Jeff siapa yang dokter gigi, ayahnya atau ibunya?

Lalu ada keluarga Ben. Rumah mereka berhadapan dengan rumahku. Keluargaku bersahabat dekat dengan mereka. Ben adalah anak yang sedikit bodoh. Kosakatanya sangat terbatas. Tetapi, Ben merupakan teman pertamaku di sekolah dan tetap menjadi sahabatku hingga kini.

Ia mengendarai sepeda tua yang rantainya selalu rusak. Akibatnya, ia lebih sering menuntun sepeda itu daripada menaikinya. Pernah aku mengusulkan agar Ben membuang saja barang rongsokan yang merepotkan itu. Ben melotot marah padaku dan berkata bahwa sepeda itu sangat berharga baginya, sepeda itu adalah satu-satunya temannya yang setia. Aku balas berteriak - lalu kau anggap aku ini apa? Pertengkaran kami tidak berlangsung lama. Aku memaafkannya lewat kalkun lezat yang ia antarkan ke rumahku malam itu.

Bila kau memandang ke arah matahari terbenam, kau bisa melihat cerobong asap pabrik pengalengan ikan di kota kami. Asap kelabu selalu membumbung dari cerobong pabrik itu. Ada beberapa rumah penduduk di sekitarnya, dan mereka pernah mengeluhkan pencemaran udara dan bau yang dihasilkan pabrik itu, tetapi tidak ada tindak lanjut.

Bagaimanapun juga, pabrik itu memberi nafkah bagi separuh penduduk kota. Ada banyak orang yang kukenal dengan baik yang bekerja di sana. Ada Nick si penyendiri, July si pemarah, Keluargan Brian yang berisik, bahkan baru-baru ini kudengar Ben bercita-cita bekerja di sana waktu dewasa nanti.

Di sebelah utara, ada deretan toko-toko, sebuah kafe kecil, bioskop, kantor polisi, dan rumah-rumah penduduk. Bila kau terus melihat ke ujung, di balik pepohonan, berdiri sekolah yang kami cintai. Seluruh penduduk kota menyelohkan anak-anaknya disana.

Sekolah itu membuat kami saling mengenal keluarga satu sama lain. Aku tahu harus menghubungi Ayah Flo apabila air di rumah kami macet. Aku tahu harus bertanya pada Kakak Devon film apa yang diputar di bioskop malam ini. Anak-anak lain tahu harus menghubungi orangtuaku apabila hewan peliharaan mereka sakit. Kami seperti sebuah keluarga yang sangat besar dan saling menjaga.

Kota kami adalah kota kecil. Selama sepuluh tahun tinggal di sini, tidak ada satupun sudut kota yang belum kudatangi. Tidak ada satupun wajah yang belum kulihat. Kini, ayah dan ibuku telah memutuskan untuk pindah ke kota yang lebih besar. Mereka bilang pindah ke kota lain akan berdampak baik untukku. Aku memiliki kesempatan untuk bersekolah di tempat yang lebih baik, melihat banyak tempat, dan tidak terkungkung di suatu kota yang seluruh areanya bisa kau lihat dari atap rumah.

Tentu saja berita mengenai kepindahan kami menyebar dengan cepat. Awalnya, aku tidak merasa ada yang berbeda. Sampai dua hari yang allu, Bibi Ela memanggilku ke kebun cabainya. Ia memetik cabai-cabai segar itu dalam diam. Aku berdiri memandangi punggung Bibi Ela. Saat ia berbalik, kulihat air matanya menggenang.

Ia menyerahkan satu kantung plastik penuh cabai segar. "Tumbuhlah sehat seperti cabai-cabai ini." katanya terisak. "Hatiku hancur dan marah sekali waktu tahu kami akan kehilangan anak muda yang baik sepertimu. Aku tidak tahu akan dunia luar. Kudengar di sana banyak kejatahan, tapi aku berdoa supaya kau selalu dikelilingi orang-orang baik. Pergilah, dan jika beruntung, aku mungkin bisa melihatmu lagi sebelum aku mati."


Aku sangat sedih mendengar perkataan Bibi Ela. Aku mencium pipi wanita itu dan bergegas pergi. Aku menangis di sepanjang jalan.

Beberapa jam sesudah itu, keluarga Jeff mengundangku ke rumah mereka. Waktu itu adalah jam makan malam. Ibu Jeff memasak pai apel yang sangat enak. Wanita itu memandangku sambil tersenyum.

"Kau sudah tumbuh besar, tetapi kau masih melihatmu sebagai anak kecil yang mengamuk waktu giginya dicabut."

Pipiku memerah karena malu. Jedd dan ayahnya tertawa. Laki-laki terbutuh besar dan berkepala botak itu menambahkan, "Aku ingat seberapapun eratnya kami memegang tangan kakimu, kau seperti punya kekuatan Hercules. Aku hanya bisa berdoa supaya aku mencabut gigi yang benar dna bukan gigi lain yang sehat."

Oh, jadi ayah Jeff-lah si dokter gigi. Satu pertanyaan terjawab. Saat aku akan pulang, keluarga Jeff mengantarku ke pintu depan. Ayah Jeff menepuk pundakku dan berkata, "Selamat jalan, Nak. Dunia luar memang menakutkan, tetapi kau tidak boleh menyerah. Tegakkan bahumu dan angkat kepalamu. Kau sudah pernah mengalahkan rasa takutmu satu kali, dan kau bisa melakukannya lagi."

Ibu Jeff memelukku. Di antara wangi pai apel yang menempel di bajunya, aku mendengarnya berkata, "Semoga berhasil, Nak. Dan rawatlah gigimu baik-baik. Aku tidak mau melihatmu di klinik gigiku lagi."

Ia melepaskan pelukannya. Aku beranjak pergi dari rumah Jeff, melawan dorongan kuat untuk bertanya pada mereka: Jadi siapa yang dokter gigi?

Belum selesai sampai di situ. Pagi ini, sahabatku Ben terlihat murung. Ia keluar dari rumah, menuntun sepeda tuanya dan menghampiriku. Ia berkata, "Kudengar kau akan 'melanjutkan hidup' dikota lain."

Aku berani bertaruh kata-kata 'melanjutkan hidup' itu ia kutip dari perkataan orang lain. Ben menlanjutkan perkataannya. Suaranya mulai pecah, "Aku - aku tidak punya apa-apa untuk diberikan padaku," isaknya. "Aku hanya punya sepeda ini."

Aku terkejut. Sehalus mungkin aku menolak sepeda Ben. Bagaimana mungkin aku mengambil satu-satunya barang kesayangan sahabatku, meskipun barang itu sudah bobrok sekalipun.

Aku berkata, "Sepedamu akan mengingatkanmu padaku. Akulah yang selalu menemanimu menuntun sepeda itu. Libur sekolah kita selalu dihabiskan untuk memperbaiki rantai sepedamu atau mengecatnya supaya kelihatan lebih baik. Dan aku minta maaf pernah menyuruhmu membuangnya."

Ben cepat-cepat memelukku. Di sela-sela tangisnya, ia menjawab, "Bukan sepeda ini temanku yang paling berharga. Kaulah orangnya. Aku minta maaf pernah menyakitimu. Aku akan selalu mengingatmu, bahkan ketika aku sudah dewasa dan sibuk bekerja di pabrik pengalengan ikan." Ben melepaskan pelukannya dan berbalik cepat meninggalkanku. Masih kudengar isak tangisnya dari jauh. Diam-diam aku juga menghapus air mata dipipiku.

Sisanya, bisa kau tebak. Di sekolah, para guru membuatku berdiri di lapangan dan satu persatu murid menghampiriku, memelukku dan menyalamiku. Ketika aku pulang, aku melakukan hal yang sama untuk para pekerja pabrik pengalengan ikan yang memenuhi rumahku.

Aku tak pernah menyangka pindah rumah akan sesedih ini. Aku memandangai lekat-lekat setiap wajah orang-orang itu. Aku sudah merindukan mereka. Aku sudah merindukan sudut-sudut kota ini. Kota kelahirkanku. Area petualanganku. Daerah kekuasaanku. Kampung halamanku.

Saat ini, aku masih duduk di atap rumahku. Aku ingin memandangi seluruh kota untuk terakhir kalinya sebab besok kami akan berangkat pagi-pagi sekali. Dalam hati, aku mengucapkan terima kasih kepada kota ini. Kepad apabrik pengalengan ikan, kepada sekolahku, kepada rumah-rumah dan toko-toko, kafe, klinik, bioskop, dan kantor polisi.

Ya, aku akan pergi dan melihat dunia luar. Mungkin aku takan pernah kembali lagi. Tapi, aku haru sbisa menahan rindu dan 'melanjutkan hidup' di kota lain, seperti kata Ben, aku akan tumbuh dengan baik dan menjadi orang yang berani seperti pesan Bibi Ela dan Ayah Jeff. 

Aku berjanji akan ramah dan baik hati seperti orang-orang di kotaku. Sekali lagi, aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku.

"fSelamat berpisah. Aku akan menyimpanmu dalam hatiku untuk selamanya." 

***

Profil Penulis

Bernama pen Queen Bee, penulis berusia 23 tahun ini adalah penggemar Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle. Sedang berjuang mewujudkan mimpi menjadi seorang penulis.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment