Serpihan Lara - MOVE ON!!!

Serpihan Lara - MOVE ON!!!

INIKECE - "Kok terkunci?" ucapku sambil terus memutar kenop pintu. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku perbuat? humamku dalam hati. "Tolong! Siapa pun tolong bukakan pintunya!" teriakku.

Aku terus berusaha membuka pintu kamar mandi yang entah mengapa tiba-tiba terkunci. Aku menggedor pintu sekuat tenaga dan berteriak sekencangnya agar terdengar oleh orang-orang yang mungkin berlalu lalang di sekitar kamar mandi.

Teriakanku seakan percuma karena sampai sekarang tak ada seorang pun yang mendengar dan datang untuk membukakan pintu. Aku berusaha mendobrak pintu kamar mandi namun tetap tak membuahkan hasil. Aku tak punya ponsel uintuk meminta bantuan, lagi pula tak ada seorang pun yang bisa kuhubungi. Aku menyerah, sebaiknya aku tunggu saja sampai ada yang datang kesini.

Sayup-sayup kudengar langkah kaki memasuki lorong kamar mandi. Aku langsung bangkit dan kembali mengetuk pintu seraya meminta tolong untuk dibukakan pintu. Perlahan kulihat pintu kamar mandi mulai terbuka. Sontak saja langsung kutarik kenop pintu dan melangkah keluar.

BYUUUURRRR!!!

Kini, aku bisa merasakan tubuku telah kuyup oleh air. Aku mengusap wajah dan membuka mata untuk melihat siapa yang telah menyiramku. Kulihat empat orang teman sekelasku tengah menatap sinis padaku.

Salah satu dari mereka mulai melangkah ke arahku. Aku melangkah mundur untuk menghindarinya.
"Ini adalah salam perkenalan untuk kamu, si murid baru," ucapnya sambil terus mendekat ke arahku.

Tangannya kini mencengkram erat pundakku. Aku tak kuasa untuk melawan. Cengeramannya terlalu kuat. Aku tak bisa berbuat apa-apa bahkan ketika ia mendorong tubuhku hingga tersungkur, tak ada sedikit pun perlawanan dariku. Aku hanya bisa menundukkan kepala dan menangis sembari membiarkan mereka berlalu.

"Baiklah pembelajaran kita cukup sampai disini, sebelum pulang tolong bersihkan dulu kelas kalian. Selamat sore," ucap Bu Inggit menutup pembelajaran hari ini.

Aku membereskan semua barang-barang dan memasukkan ke dalam tas. Kulihat satu per satu teman-teman mulai meninggalkan kelas. Aku bangkit dari duduk dan seseorang berjalan menghampiriku.

"Anak baru, tolong berishkan kelasnya, ya!" ucapnya kemudian berlalu.

Kelas sudah kosong dan hanya aku yang tersisa. Artinya, aku harus membersihkan kelas ini seorang diri. Aku menghela napas panjang kemudian brejalan untuk mengambil peralatan kebersihan.

***

"Nilai ujian tertinggi kali ini diraih oleh Andari. Selamat, ya, "ucap Bu Serpti, guru matematika, sebelum meninggalkan kelas.

Aku bangkit dari duduk dan berjalan keluar kelas. Namun, begitu aku sampai di pintu kelas, seseorang menghadang langkahku.

"Jangan bangga karena nilai ujianmu tertinggi di kelas. Kamu tak akan bisa menggeser posisiku," ucpanya sambil mendorong pundakku.

Aku tak menggubris perkataan Rania, peraih ranking satu di kelas. Rasanya terlalu berlebihan apa yang ia lakukan hanya karena kali ini aku mendapat nilai tertinggi pada ujian matematika.

"Ini minumannya. Terima kasih," ucap seorang penjual minuman di kantin sekolah.

Aku mengambil minuman yang baru saja kupesan. Kuputar tubuh sambil memegang minuman di tangan kananku. Tiba-tiba saja seseorang menabrak dan membuat seragamku basah oleh minuman yang sedang kupegang.

"Ups, maaf," ucapnya sambil tersenyum sinis menatapku.

Ia berlalu sambil tertawa bersama teman-temannya menyaksikan aku yang sibuk membersihkan seragam.

Semenjak aku pindah ke sekolah ini, entah telah berapa kali kejadian serupa aku alami. Bukan lagi menjadi hal aneh bagiku mendapat perlakuan seperti ini. Pelakunya pun selalu sama. Tampaknya hal tersebut sudah menjadia kebiasaan menyenangkan yang mereka lakukan secara sengaja padaku.

***

"Andari, ibu ingin kamu mengikuti olimpiade matematika mewakili sekolah kita," ucap Bu Septi sambil menyodorkan formulir pendaftaran padaku.

"Maaf, Bu. Saya tidak berminat," jawabku sambil menyerahkan kembali formulir yang diberikan Bu Septi.

"Kenapa? Kamu punya potensi Andari, sejak awal sampai sekarang nilai-nilai ujianmu selalu stabil bahkan terbaik untuk ukuran siswa baru," lanjut Bu Septi.

"Maaf, Bu, saya benar-benar tidak berminat. Permisi," jawabku sambil meninggalkan ruang guru.

Sebenarnya aku ingin sekali bisa mengikuti olimpiade matematika yang ditawarkan Bu Septi. Namun, aku tak bisa membayangkan apa yang akan Rania lakukan padaku bila ia tahu bahwa akulah yang akan mewakili sekolah dan bukan dia.

"Andari." Teriak seseorang,

Kuhentikan langkahku ketika mendengar seseorang memanggil namaku. Aku memalingkan wajah untuk memastikan siapa yang memanggilaku. Seseorang tengah berlari menghampiriku.

"Hai, aku Putra," ucapnya sambil menyodorkan tangan.

Aku menggangguk kemudian meninggalaknnya. Ia berjalan mengikutiku. Aku menghentikan langkah dan menatap ke arahnya.

"Ada apa? Mengapa kamu mengikutiku?" tanyaku.

"Mengapa kamu menolat ikut olimpiade matematika?" ucpanya.

"Bukan urusanmu," jawabku sambil berlalu.

"Maksudku kalau memang kamu tidak berminat biar aku yang menggantikanmu," ucapnya sambil terus mengikutiku.

"Silahkan, jawabku sambil terus berjalan tanpa menghiraukannya.

"Tolong ajari aku, ya?," teriaknya.

Aku menghentikan langkah. Putra menghampiri dan berdiri di sampingku.

"Pulang sekolah kita belajar bersama. Aku tunggu," bisiknya seraya melambaikan tangan dan berjalan meninggalkanku.

Sepulang sekolah, aku langsung melangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah. Aku sengaja mengabaikan permintaan Putra untuk mengajarinya pelajaran matematika. Rasanya aku tak perlu terlihat apapun dengannya atau siapapun di sekolah ini.

"Aku tahu kamu akan melakukan hal ini."

Aku mencari sumber suara tersebut. Aku melihat ke sekeliling. Tak ada siapapun.

"Aku tahu kamu akan menghindariku. Makanya aku menunggumu di sini."

Aku menoleh ke belakang. Kulihat Putra tengah bersadar pada dinding di gerbang sekolah sambil memerhatikanku. Putra berjalan ke arahku. Ia menarik tanganku dan membawa pergi bersamanya.

Kami sampai di sebuah gudang berlakang sekolah. Aku memerhatikan Putra yang tengah membuka kunci gembok pada pintu gudang. Aku melihat sekeliling, tidak ada siapapun.

"Masuklah," ucap Putra.

Aku melangkahkan kaki ke dalam gudang. Aku terkesima melihat isi gudang yang baru saja aku masuki. Ini tak terlihat seperti gudang. Di dalamnya bersih dan rapi. Putra menarik sebuah kursi dan mempersilahkanku untuk duduk. Aku masih terus memerhatikan seisi gudang tersebut.

"Gudang ini cukup nyaman untuk tempat kita belajark kan?" ucap Putra.

Aku hanya mengangguk. Aku langsung membuka tas dan mengeluarkan beberapa buku matematika. Aku tak membuang waktu dan langsung memulai kegiatan belajar bersama. Putra cukup pandai, tanpa kuajari pun aku yakin ia mampu menguasai materi-materi olimpiade.

"Terima kasih, ya sudah mau mengajariku walaupun kamu sempat akan melarikan diri," ucap Putra.

Aku langsung membereskan buku-buku ke dalam atas. Au bangkit dari duduk dan memakai tas ranselku.

"Berikan nomor ponselmu," ucap Putra sambil menyodorkan ponsel miliknya padaku.

"Aku tidak punya ponsel," jawabku.

"Kalau begitu ambil ini," ucap Putra sambil menaruh sebuah kunci di tanganku. "Kamu bisa datang kesini kapan saja," lanjutnya sambil tersenyum.

***

Semenjak Putra memberikan kunci gudang, aku jadi sering mengunjungi gudang ini. Buatku gudang ini sangat nyaman untuk tempat beristirahat, belajar, dan melakukan hal-hal yang aku sukai. Aku pun makin sering menjadi mentor persiapan olimpiade matematika untuk Putra. Sering kali Putra bertanya tentang hal pribadi, tetapi aku tak pernah mau menjawabnya. Begitu pun saat Putra menceritakan hal pribadi tentangnya, aku langsung mengalihkan pembicaraan atau berlalu begitu saja.

Aku adalah seroang yang introvert, aku tak pernah mau menceritakan tentang apa pun pada orang lain. Hal inilah yang mungkin membuat orang-orang di kelas enggan bertemen denganku. Aku sering dinilai sombong dan aneh karena selalu melakukan hal seorang diri. Aku tak pernah peduli dengan omongan orang tentuku. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, aku nyaman dengan semua yang aku jalani sampai saat ini.

Lima tahun lalu, ibu dan adikku meninggal dalam sebuah kebakaran besar yang menimpa kediamanku. Aku dan ayah begitu terpukul pascakepergian mereka. Cukup lama sampai kami bisa kembali bangkit untuk terus melanjutkan hidup. Ayah memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam kesibukan pekerjaan. Selain itu, pekerjaan ayah yang nomaden menjadikan kami sering berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Hal itulah yang membuatku sering berpindah sekolah.

Aku berjalan menuju kelas seusai menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan. Setiba di kelas, kulihat kondisi kelas begitu ramai. Aku tak tahu ada kejadian apa di kelas. Aku mempercepat langkah menuju tempat duduk karena guru yang akan mengajar di kelas tengah berjalan di belakangku.

"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Pak Reno.

"Vania kehilangan ponselnya, Pak," ucap Revi.

"Di mana terakhir kali kamu menaruh ponselmu?" Tanya Pak Reno pada Vania.

"Aku menaruhnya di dalam tas saat aku ke toilet, Pak," jawab Vania risau.

"Periksa saja semua tas yang di kelas ini, Pak. Mungkin saja seseorang mengambilnya," ucap Rania.

"Jangan bicara sembarangan," ucap Pak Reno.

"Betul, pak kita periksa saja untuk membuktikannya,"pinta Vania.

"Baiklah, kita buktikan saja. Seluruh siswa berdiri di belakang. Saya akan periksa semua tas kalian," ucap Pak Reno.

Pak Reno mulai memeriksa satu per satu tas yang ada di kelasku. Pada beberapa atas, Pak Reno menemukan barang-barang yang sebenarnya tak boleh dibawa seorang siswa ke sekolah, seperti alat kecantikan hingga roko. Barang-barang tersebut langsung diamankan oleh Pak Reno.

"Ini ponselmu, Vania?" Tanya Pak Reno sambil menunjukkan sebuah ponsel berwarna putih kepada Vania.

Vania meraih ponsel yang ditunjukkan Pak Reno. Vania mengangguk tanda mengiyakan bahwa ponsel tersebut miliknya.

"Tas milik siapa ini?" Tanya Pak Reno sambil mengangkat sebuah ransel.

Aku membelalakan mata melihat ransel yang diangkat oleh Pak Reno adalah milikku. Aku melihat teman-teman melirik ke arahku. Aku mengangkat tangan mengakui bahwa ransel tersebut adalah miliku. Mengapa ponsel Vanis bisa berada di dalam ranselku? Siapa yang melakukan ini?

"Pimilik ransel ini silahkan ikut saya ke ruang guru. Vania, kamu juga ikut saya," ucap Pak Reno lalu keluar dari kelas.

Aku berjalan mengikuti Pak Reno. Riuhan keras dari teman-teman mengiringi langkahku saat meninggalkan kelas. Tatapan sinis Vania membuat hatiku semakin tak karuan.

"Saya tidak mengambil ponsel Vania, Pak," ucapku pada Pak Reno.

"Buktinya ponselku ada dalam ranselmu," ucap Vania.

"Vania jaga ucapanmu," ucap Pak Reno.

"Sejak jam istirahat, saya tidak ada di dalam kelas, Pak. Saya sendiri tidak mengerti mengapa ponsel Vania ada di dalam ransel saya." Aku berusaha menjelaskan.

"Bujtinya sudah jelas, Andari. Selain itu, di kelas hanya kamu yang tidak memiliki ponsel. Jadi, kamu pasti ingin memiliki ponselku, kan?" sambar Vania.

"Sudah-sudah. Kita ke ruang operator saja untuk melihat cctv di kelas kalian," lerai Pak Reno.

Kami beralih ke ruang operator untuk menelusuri kejadian sebenarnya. Kulihat Vania masih memasang wajah marahnya padaku. Sejujurnya aku pun ingin marah karena telah difitnah seperti ini. Namun, pembelaan seperti apapun tak akan memenangkan posisiku.

Saat ini, Pak Reno tengah berbincang dengan operator sekolah. Seketika itu pula, operator sekolah langsung mengakses rekaman cctv di kelasku. Aku sangat berharap kebenaran akan terungkap bahwa bukan aku pelakukanya. Sayangnya, harapanku kandas. Operator mengatakan bahwa cctv di kelasku rusah sehingga tak merekam kegiatan apapun yang terjadi di kelas. Berbekal bukti ditemukannya ponsel Vania dalam ranselku membuat aku harus menerima skorsing selama dua hari.

Aku menangis seorang diri dalam gudang belakang sekolah. Hatiku begitu sakit menerima perlakuan seperti ini. Mengapa mereka tega memfitnahku sebagai pencuri? Aku memang tak memiliki ponsel, tapi aku tak akan mengambil barang yang bukan milikku. Lagi pula, aku tak butuh ponsel.

Sejak aku pindah ke sekolah ini, hal buruk selalu saja menimpaku. Tak cukupkah selama ini mereka menghinaku, merisak, hingga mengintimidasiku? Hal apa lagi yang akan aku terima?

"Kamu kenapa Andari?" tanya Putra.

"Gak apa-apa." jawabku sambil meninggalkan Putra.

Aku terus berjalan sambil menangisi apa yang baru saja menimpaku. Aku mendengar langkah kaki mengikuti langkahku. Putra pasti mengikutiku. Aku menghentikan langkah dan berbalik menghadap Putra.

"Biarkan aku sendiri," ucapku.

Putra berhalan menghampiriku. Ia menarik tanganku. Ia membawaku ke taman sekolah dan mengajakku bicara.

"Kamu tidak sendiri, Andari. Kamu punya aku untuk berbagi masalahmu," ucap Putra.

Aku hanya menangis. Aku merasa tak mampu menanggung semua hal yang terjadi padaku. Namun, aku tak mampu berbagai pada siapapun akan masalahku. Aku terbiasa sendiri.

Setelah sedikit tenang, aku dan Putra kembali ke gudang belakang sekolah. Aku meminta Putra untuk pergi lebih dulu sedangkan aku akan pergi ke toilet.

Aku mengalirkan air dari wastafel, sesekali aku melamun. Ketika tersadar, aku langsung membasuh wajah sembabku. Akut erus membasuh wajahku sampai-sampai aku tak menyadari ada seseorang yang memerhatikanku.

"Jadi, setelah mencuri ponselku kini kamu berniat mencuri Putra dariku? ucap Vania sambil menatapku.

"Maksudmu?" tanyaku heran.

"Kamu pikir aku tidak lihat apa yang kamu lakukan dengan Putra di taman sekolah?"
jawab Vania dengan nada meninggi.

Vania menarik tanganku dan membawaku ke dalam toilet. Ia mendorong tubuhku dengan keras hingga jatuh ke lantai. Vania menyiramkan air yang ada didalam ember ke seluruh tubuhku. Vania pergi meninggalkanku di dalam toilet dan menguncinya dari luar. Aku terus berteriak meminta tolong tapi tak seorang pun yang datang menolongku. Tenagaku hampir habis karena terus-menurus menggedor pintu kamar mandi. 

Kepalaku pusing dan tubuhku mulai menggigil. Kumohon siapapun tolong aku. Kujatuhkan tubuhku ke lantai. Saat ini, aku bisa merasakan bahwa tubuhku begitu lemas.

***

"Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Putra.

"Aku di mana?" tanyaku.

"Kamu di rumah sakit," jawab Putra.

"Rumah sakit?" tanyaku kembali.

"Kemarin aku menemukanmu pingsan di kamar mandi," jelas Putra.

"Pingsang?" Aku msih bingung.

"Aku menunggumu di gudang. Namun, setelah lama kamu tak kunjung datang, kuputusakan mencarimu. Aku ingat ketika kamu sempat pamit akan ke kamar mandi saat menyuruhku untuk lebih dahulu ke gudang. Aku sempat mendengar suara teriakanmu dan ketika aku berhasil membuka pintu kamar mandi, kamu sudah dalam keadaan pingsan. Aku bergegas membawamu ke rumah sakit," jelas Putra panjang lebar.

"Terima kasih," ucapku.

 "Aku belum berhasil menghubungi keluargamu. Mereka pasti khawatir," ucap Putra.

"Tidak apa-apa. Sebentar lagi juga aku bisa pulang," jawabku.

"Kamu makan, ya. Dari kemarin kamu belum makan," lanjut Putra.

Putra mengambil makanan dan mulai menyuapiku. Sesekali ia tersenyum padaku. Putra begitu baik selama ini walaupun aku terus menghindar darinya. Maafkan aku, Putra.

Aku melamun di dalam kamar tempatku dirawat. Aku tengah berpikir bagaimana caranya aku akan menghadapi teman-teman di kelas. Mereka pasti akan terus mengolok-olok aku sebagai seorang pencuri. Belum lagi ancaman yang datang berganti. Entah berapa banyak lagi kekerasan fisik yang aku terima dari mereka yang membenciku. Rasanya aku tak lagi sanggup menghadapi semua hal yang menimpaku.

Aku memandangi wajahku pada cermin kamar mandi. Aku tersenyum. Kuangkat tangan kananku ke arah cermin dan menghantamkan kepalan tangan hingga cermin pecah berkeping-keping. Kuambil serpihan kaca yang berserakan di lantai lalu kuarahkan pada pergelangan tangan diriku. Perlahan kulihat darah berwarna merah segar mengalir dari pergelangan tanganku. Penglihatanku mulai kabur dan tubuhku tak lagi mampu untuk berdiri.

***

"Ia mengalami depresi yang cukup berat. Mulai saat ini, jangan biarkan ia seorang diri. Ia bisa berbuat hal seperti tadi lagi."

Kata-kata itu membuatku terbangun. Aku membuka mataku dan melihat sekililing. Aku melihat Putra tengah berbicara dengan dokter. Aku berusaha bangkit dari tidur namun Putra dan dokter kembali memintaku untuk tetap berbaring.

"Aku mohon jangan lakukan hal bodoh seperti tadi, Andari. Terlambat sedikit saja kamu tak bisa tertolong," ucap Putra sambil memegang tanganku.

"Kamu cerita sama aku apa pun masalah kamu. Aku akan selalu ada untukmu," lanjut Putra.

Aku melihat Putra begitu khawatir akan keadaanku. Aku meneteskan air mata melihat perhatian yang diberikan Putra. Putra menghapus air mata yang kini mulai membasahi wajahku. Ia tersenyum kepadaku sambil sesekali membelai rambutku.

Tak lama kemudian, aku melihat seseorang memasuki ruang rawatku. Sosok yang begitu kukenal berjalan menghampiriku. Ia meneteskan air matanya sambil terus menciumi tanganku. Berulang kali ia meminta maaf atas apa yang menimpaku. Aku pun tak kuasa menahan air mata. Aku menggenggam erat tangannya dan menariknya ke dalam pelukanku. Pelukan hangat yang sekian lama kurindukan dari seorang ayah akhirnya kurasakan kembali.


***

Satu bulan berlalu, au masih belum mau kembali ke sekolah pascakeluar dari rumah sakit. Terlalu banyak hal-hal yang menakutkan dalam pikiranku. Aku takut apa yang telah aku alami akan terulang kembali.

Ayah sellau membujukku untuk mau kembali ke sekolah, tapi usahanya selalu gagal. Aku terus menolak. Rasanya aku tak ingin kembali ke sekolah.

Putra tak kalah gigihnya dengan ayah. Setiap hari, ia selalu datang menjemputku untuk berangkat ke sekolah. Namun, aku tetap dengan pendirianku. Sepulang sekolah, ia selalu mampir dengan membawakanku jajanan, katanya barangkali aku rindu dengan jajanan di sekolah. Ia pun sering membawakan catatan pelajaran agar aku tidak ketinggalan materi. Tak jarang ketika hari libur pun ia habiskan untuk berdiam diri di rumahku. Kalau aku tidak mood bertemu dengannya, ia akan berpindah pada ayah dan mengobrol banyak hal dengannya.

Pihak sekolah pernah datang ke rumah untuk menjengukku. Sekolah memang hanya mengetahui bahwa aku dalam kondisi pemulihan yang membutuhkan waktu lebih lama dari kebanyakan pasien yang keluar rumah sakit. Ayah tak berani bercerita yang sebenarnya pada pihak sekolah karena aku melarang.

Kuhabiskan hari-hari di rumah dengan belajar dari catatan yang selalu Putra bawakan. Sesekali aku belajar secara online untuk menambah pengetahuan. Tak jarang aku adan Putra belajar bersama, lebih tepatnya Putra memaksaku membantunya mengerjakan PR. Padahal ia yang rutin sekolah, malah meminta bantuan padaku  yang hampir dua bulan ini tak mengenal bangku sekolah.

Akhirnya, setelah banyak bujuk rayu yang tak mengenal henti dari ayah dan Putra, aku mulai memberanikan diri untuk kmebali ke sekolah. Ada perasaan takut saat aku berjalan memasuki gerbang sekolah. Beberapa kali aku menghentikan langkah. Namun, Putra yang sedari tadi beridiri di sampingku terus menyemangati dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan segala yang terjadi padaku selama ini kepada pihak sekolah. Tentunya ini bukanlah hal mudah untukku. Banyak bayangan menakutkan yang melintas dalam pikiranku saat aku buka suara. Namun, bila aku terus diam mungkin akan ada korban lain bahkan lebih parah dari yang aku alami.

Saat ini, aku tak lagi berada di kelas yang sama seperti pertama kali pindah sekolah. Pihak sekolah memindahkanku ke kelas yang sama dengan Putra. Rania yang menjadi otak pencurian ponsel milik Vania tengah menjalani skorsing akibat perbuatannya. Vania dan teman-temannya yang pernah melakukan kekerasan fisik padaku pun mengalami hal yang sama seperti Rania. Mereka yang selama ini selalu memndang sinis padaku mulai membuka diri dan berteman denganku.

Aku tengah memandangi wajah yang kini tertidur sambil bersilang tangan dan bersandar pada bangku. Aku banyak mendapat cerita bahwa ia begitu gigih dalam mengungkapkan kebenaran akan kejadian yang menimpaku. Selama aku pemulihan di rumah, Ia di sekolah terus meyakinkan orang-orang bahwa aku bukanlah orang aneh dan sombong. Aku hanya butuh teman untuk berbagi.

"Sepertinya ada yang mulai jatuh hati padaku," ucapnya sambil perlahan membuka mata.

"Maksudmu?" tanyaku sambil memalingkan wajah.

"Kalau masih mau memandangi wajah tampanku ini silahkan saja," ucapnya sambil terus mengejekku.

"Terima kasih," ucapku.

"Untuk?" tanyanya.

"Segalanya," jawabku sambil tersenyum.

Kami saling menatap. Kian hari, aku menyadari bahwa aku tak sendiri. Kehadirannya membuatku yakin akan arti berbagi.

* Proft Penulis

Gie Anggraini lahir dan besar di Bandung. Perempuan yang lahir tanggal 22 September ini merupakan lulusan Universitas Pendidikan Indonesia pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Buku pertamanya "Merindukan Hujan" diapreaseasi cukup baik oleh para pembaca. Perempuan yang sering disapa Gie ini sangat menyukai dram korea.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment