Pria Dengan Gerobaknya Berserta Belasan Anjing, Ini Kisah Dibaliknya Bikin Salut!

INIKECE - Hewan yang dikenal dengan kepintaran dan kesetiaan terhadap pemiliknya adalah Anjing. Ia adalah hewan yang sangat digembari banyak orang untuk dipelihara. Selain pintar dan nurut, dia juga sangat setia terhadap pemiliknya.

Perempuan Penunggu Waktu

INIKECE - "Mencintai itu rumit, bukan?" Seorang perempuan berkerudung merah yang entah dari mana munculnya memulai sebuah cerita. Dan aku hanya mengangguk pelan seolah mengerti atau hanya ingin menghargainya.

Demi Menghasilkan Uang Lebih, Menjual Keperawanan Menjadi Jalannya Kepada Orang Partai

INIKECE - Bagi seorang wanita menjaga keperawanan adalah hal yang paling utama. Dikarenakan bagi wanita keperawanan hanya dapat diberikan kepada pasangan sah setelah menikah saja untuk mendapatkan keturunan yang inginkan.

Dulu Telah Dilamar Tapi Pihak Wanita Meminta Mahar Besar, Sekarang Datang Keresepsi Mantan Sebagai Tamu

INIKECE - Di beberapa wilayah Indonesia, saat akan menikah pria diharuskan untuk membayar uang mahar. Salah satunya di Sulawesi yang biasa menyebut uang mahar ini sebagai 'uang panai'.

Nafsu Tak Tertahankan Mengintai Istri Tetangga Mandi, Berakhir Pencabulan

INIKECE - Aurah, istri tentangga yang baru selesai menjemur baju dan menuju untuk mandi terus ia ngintai hingga nafsu menjadi tidak tertahankan. Seorang pemuda berinisial AP (21) nekat mengintai ES (21), istri tetangganya.

Memakai Pakaian Adat Jawa, Bocah Yang Berhasil Curi Perhatian Paus Fransiskus, Viral

Memakai Pakaian Adat Jawa, Bocah Yang Berhasil Curi Perhatian Paus Fransiskus, Viral

INIKECE - Indonesia memang dikenal dengan adat yang kental, yaitu Jawa. Seperti baru-baru ini dua bocah yang viral di sosial media dengan menggunakan pakaian adat Jawa yang menarik perhatian Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus adalah pemimpin Agama Katolik di dunia. Ia tertangkap kamera saat bersamaan dengan bocah asal Indonesia ini pada saat Paus Fransiskus melakukan audiensi dan menemui umat peziarah yang menunggu di sekitar Lapangan Santo Petrus, Vatikan.

Bocah yang menggunakan pakai adat Jawa khas Indonesia dengan kepala yang ditutupin dengan blangkon telah dapat mencuri perhatian pemimpin Agama Katolik tersebut, Paus Fransiskus.


Kedua bocah tersebut menjadi viral setelah foto mereka tersebar di akun Instagram official, @fransiscus. Dari hal ini, banyak sekali orang Indonesia sangat menyorotin kedua bocah tersebut dan banyak dibincangkan sampai menjadi viral.


Foto yang beredal dan menjadi viral ini, memperlihatkan kedua bocah tersebut bersama dengan Paus Fransiscus.

Dalam foto ini memperlihatkan bocah tersebut berdiri di depan Paus. Mereka tengah memegang gambar yang di pigura sebagai cinderamata. 


Pada foto berikutnya terlihat kedua bocah tersebut berada di atas mobil terbuka yang digunakan oleh Paus berkeliling menemui umat. Paus Fransiskus juga tampak memegang tangan salah satu anak. Dirinya tersenyum lebar penuh keramahan terhadap dua anak tersebut.


Bahkan ada sebuah video yang beredar di aplikasi pesan memperlihatkan awal mula kedua anak tersebut naik ke mobil yang ada Paus Fransiskus.

Dalam video berdurasi 1 menit, kedua anak tersebut berdiri di sekitar mobil Paus yang tengah berjalan. Lalu mereka dipanggil dan diangkat oleh penjaga Paus untuk naik ke mobil.

Sesampainya di atas mobil, kedua anak tersebut langsung bersalaman dengan Paus Fransiskus. Di belakangnya ada dua anak lain yang ikut naik. Mereka lalu ikut berkeliling bersama Paus menggunakan mobil tersebut.

Bereder informasi kedua anak yang memakai pakaian tradisional itu adalah cucu dari salah seorang konglomerat di Indonesia, Budi Hartono. Mereka kebetulan memang sedang berziarah bersama keluarganya ke Vatikan.

Ruas Seberang Pinggir Aspal! Sebuah Cerpen Menarik

Ruas Seberang Pinggir Aspal! Sebuah Cerpen Menarik

INIKECE - Pagi hari adalah saat-saat ideal untuk menyeruput secangkir kopi. Setidaknya, beitulah katanya ketika sedang menasihatiku di saung butut tempatnya menjaga pagi. Serupa setengah senja, padi-padi itu rawan-rentan dicuri hama. Disandingkan dua-tiga potong pisang goreng, apalagi. Sungguh sederhana.

Kebiasaan Pak Din, bagiku begitu aneh. Orang-orang di lingkar sosialku benci hal-hal rendahan seperti itu. Ketika semua orang berbicara tentang kemasyhuran gaya, kenapa ada sosok seseorang yang malas dan bersyukur cuma karena kopi dan pisang goreng?

Aku rasa semua buruh tani di muka di bumi begitu. Sifat mereka lebih seperti makhluk delusif yang cepat merasa puas. Begitu saja sudah bahagia, padahal memenangkan judi rolet jauh lebih menyenangkan.

"Pak, saya cuma datang untuk melihat-lihat sekitar," kataku menolak halus kudapan yang ditawarkannya. Aku hanya ingin berbagi ruang untuk melanjutkan catatan yang belum tuntas. Elegan, bukan?

Saat ini, aku duduk di sampingnya untuk berebut sejuk beraroma terik matahari. Baru aspal di seberang petak kecil sawah, sedikit mengganggu memang. Tapi, kalian tahu, 'kan, kalau lama kelamaan, bau aspal baru akan seperti bau bensin?

"Kau lihat gunung di sana?" Gumamnya sambil menunjuk arah jauh. "Itu adalah penampakan terbaik sebelum seperti sekarang ini," disusul gerak garukan kelingking di pelipisnya." Dalam hati, aku kurang setuju dengannya. Jelas-jelas itu gumuukan usang bekas terbakar habis bulan lalu.

Beliau ini lucu. Kepalanya perlu dibelah, lalu digerayangi untuk tahu isi otaknya. Isi takdir yang ada di dalam diri pak tua ini. Kilat aspla yang kontras dengan lahannya ini, mungkin membuatnya tak kunjung usai berhalusinasi.

Lembar kertas kubuka, melanjutkan bacaanmu lagi. Kopi dan sepotong pisang goreng yang mendingin kubiarkan melamun di sampingku. Di tengah-tengah antara kami berdua.

Hari itu, pak tua ini meracau seperti igau burung-burung. Tentang gunung-gunung tinggi di seberang aspal yang tampak silau serupa terik cermin yang memantulkan sinar kuning keemasan langit. Ada banyak bercak hitam di sebagian besar dinding-dindingnya.

Apabila kita ke tempat itu, kau pasti merasakan terpaan hawa yang berbeda. Watak anginnya menurutku jauh lebih akrab denganku, lebih panas dan mencekam seperti kota tempatku tinggal. Walaupun memang, sudah tidak ada lagi asap yang membumbung, atau polusi yang mengganggu arus telaga menuju sungai besar di sebelah sana.

Konon, gunung itu dulunya sempat aktif mengeluarkan asap hitam pekat setiap waktu. Siang-malam, asapnya menguap tiada henti. Asap yang akan berkelana ke mana-mana, seluruh penjuru paru-paru kehidupan dunia.

Titik kehidupan memang pernah ada disana. Orang ramai berlalu-lalang dengan tampilan seragam. Ia menggambarkan sejarah itu sebagai kenangan yang sempurna. Konon, kedatangan dan kepulangan orang-orang di tempat itu selalu diliputi kegembiraan.


Prang! Gelas kopi yang memperhatikan lamunanku dalam dunia fiksi, tiba-tiba terhempas dari posisinya. Pak Din lepas terkaget-kaget. Aku menghela napas kebencian. Merepotkan, batinku. Aku pun kembali mengambang ke permukaan setelah tenggelam lama dalam cerita.

"Oallaaah, untung cuma ampas," ia membangunkan gelas yang terjungkir. "Lo, masih di sini, to?" Ledeknya.

Aku tersenyum dan menjawab kalau hawa di sini sejuk. Sejuk yang menenangkan, meskipun aku belum cukup akrab. Memang tempat inilah yang bagiku begitu pantas memanjakan. Tapi jujur saja, aku rasa gangguan itu hanya ada di sebelahku persis!

Saung ini adalah bangunan satu-satunya disini. Hamparan sawah luas mengitari kesan ringkihnya. Tempat si bapak tua melamun setiap hari. Lamunan muka kekarnya itu membuatku tertarik, sekaligus menyesal.

"Kamu tahu tentang hama?" Ia mengajakku bercakap. "Aku sudah sangat mengenal watak-watak mereka. Tapi, saya tetap mau jadi temannya."

"Setahuku, hama itu menyebalkan, pak," aku merespons sembari menutup bacaanku di halaman tengah. "Di mana untungnya?" Tambahku. Beliau cuma terkekeh. Kuulang lagi jawabanku dalam hati. Apa untungnya berteman dengan parasit pengganggu?

Siang itu, Pak Din duduk di ujung pojokan yang membuatku selalu khawatir kalau-kalau tiang penyangga tempat punggungnya bersandar tiba-toba roboh. Hancur tempat ini nanti. Namun, lagi-lagi, hawa khas ini buatku urung menyuarakan kekhawatiran.

Sementara, aku mematung di sisi lainnya. Kedua betisku menjuntai keluar di atas permukaan saluran irigasi, memberikan rasa geli yang lembut di ujung jempol kaki yang tipis menyapu-nyapu aliran air. Sesekali, aku menoleh sinis akibat suara kunyahan yang berkecipak nyaring.

Sampai sore nanti, kami mungkin akan ngalor-ngidul terus seperti ini. Sebenarnya, aku sudah muak menceritakan alur memalukan ini. Tapi, sensasi hamparan sawah mampu mendesakku bertahan. Andai saung ini bukanlah satu-satunya, tentu aku akan memisahkan diri dari orang yang membosankan ini.

Pak Din enggan meniru petani-petani lain yang biasanya beristirahat di tenda-tenda yang hanya disangga tiang dengan tutupan terpal. Petak kecil, bisa dipeliharanya seorang diri, membuatnya menetap di saung besar beratap daun-daun jerami. Karena itu, ia lebih suka menyepi di sini.

Lambat-laun, sore mulai memperlihatkan rupa. Orang-orang, termasuk Pak Din, bersiap-siap pulang untuk rutinitas keesokan hari, Aku bukan mereka, aku belum puas menikmati matahari terbenam, dengan jejak-jejak gradasi jingga yang perlahan tutup.

"Kalau begitu, saya duluan," ia menutup perjumpaan.

Lembar kututup, sudah ada beberapa paragraf yang tertulis. Aku membacanya untuk melihat-lihat apakah ada bagian-bagian keliru, tak nyambung, atau diksi-diksi yang tidak sesuai. Untuk melakukannya, kita perlu menjadi orang lain. Dengan begitu, kalian akan paham bagaimana memahami kegelisahan yang tertulis.

Banyak lubang setelah tiang-tiang dibongkar. Aku tidak suka bagian ini. Lalu, obrolannya dengan Pak Din seperti tak menyiratkan apa-apa. Kosong seperti gunung-gunung yang sombongnya dianggap sebagai bangunan tua, terbengkalai bekas lahapan api. Lebih mantap apabila tentang hama dibahas lebih dalam.

Banyak sekali kekurangan. Menurutku, aku terlalu menjadi orang lain. Menyetujuinya sebagai bentuk takdirku. Aku melamun, bersandar ke sudut di tiang ringkih yang mau roboh. Tanpa khawatir lagi sedikit pun.

Petang sudah gelap, dingin pun kian pekat. Ia hilang, yang ada hanya suara senyap dan perasaan resah. Keinginanku untuk segera pulang menguat. Tapi, pematang sawah membuatku aneh. Aku membayangkan kalau kakiku akan dijegal, ditarik, lalu jatuh tenggelam ketika turun menapak tanah.

Ia seutuhnya lenyap ketika catatan ini kututup. Pandangan kuarahkan untuk menentukan posisi pijakan dan rute perjalanan. Setitik cahaya tenggelam di sekeliling sunyi yang gelap. Ketika gunung, maksudku, bangkai gedung di seberang sana telah benar-benar sembunyi, aku kembali mengingat-ingat Pak Din.

Lamar Pekerjaan Tapi Tidak Lulus Padahal Interview Lancar, Cari Tahu Penyebabnya!

Lamar Pekerjaan Tapi Tidak Lulus Padahal Interview Lancar, Cari Tahu Penyebabnya!

INIKECE - Banyak sekali orang membutuhkan kerja untuk menghasil uang. Tak jarang banyak sekali tamatan SMA hingga meraih gelar pada kuliah, memilih untuk mencari pekerjaan agar dapat menghasilkan uang dari kerja keras sendiri dan membantu keuangan orang tua.

Tapi tidak semudah itu mendapatkan sebuah pekerjaan, pasti banyak orang yang ingin mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik. Tapi, terdapat kendala yang belum pasti diterima oleh suatu perusahaan yang kita lamar.

Telah melakukan interview dan semua lancar dan baik-baik saja, tetapi dari hasil tersebut tidak ada kabar yang baik, atau disebut gagal diterima dalam suatu perusahaan tersebut.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Kesempatan yang sangat ditunggu pada masa sekolah untuk menghasil uang sendiri, dan bekerja di perusahaan yang diidamkan selama ini ternyata gagal.

1. Budaya Perusahaan

Terkadang dipertimbangkan apakah anda akan cocok dengan budaya perusahaan atau tidak. Hal ini penting karena jika tidak ada kecocokan, anda mungkin akan merasa tidak nyaman pada pekerjaan untuk waktu yang lama. David Waring, pendiri Fit Small Business, mengatakan ketidakcocokan budaya adalah alasan yang cukup untuk tidak memperpanjang tawaran pekerjaan.

"Jika kedua kandidat sama-sama memenuhi syarat, maka uji dan teliti apakah mereka cocok atau tidak dengan budaya perusahaan," kata Waring.

Apakah calon karyawan ini seseorang yang bisa bergaul dengan baik dengan saya dan karyawan saya? Apa etos kerja mereka? Satu hal yang dapat dilakukan oleh calon karyawan untuk meningkatkan kecocokan dengan budaya perusahaan adalah dengan bertanya tentang budaya perusahaan.

Mereka kemudian harus memberikan contoh bagaimana mereka cocok dengan budaya berdasarkan respon perusahaan. Kandidat harus berbicara tentang tantangan yang mereka hadapi. Kandidat juga harus menyebutkan tantangan yang mereka tidak tahu jawabannya dan jelaskan bagaimana mereka menangani situasi itu. Ini akan membedakan mereka dari kandidat lain.


2. Penampilan

Anda tidak harus menilai buku dari sampulnya. Tapi jika soal masalah wawancara kerja, apapun itu, Justine Miller, konsultan SDM The Stir Group, mengatakan penampilan juga memainkan perang penting.

"Jika seorang manajer memiliki dua kandidat besar tapi hanya tersedia satu posisi kerja, proses eliminasi menjadi lebih kreatif. Manajer personalia akan mempertimbangkan bagaimana anda mewakili perusahaan. Jika anda bangga dalam penampilan dan berpakaian dengan standar perusahaan, manajer personalia akan bangga dengan pekerjaan anda," tutur Miller.

3. Kepribadian

Jika benar-benar ingin membuat tim perekrutan karyawan terkesan, pastikan anda tetap positif dan optimis. Sikap negatif bisa menghilangkan kesempatan mendapatkan pekerjaan, kata Brad Stultz, koordinator SDM di Totally Promotional.

Ketika membuat seleksi akhir antara dua kandidat, kepribadian dan sikap umum calon karyawan dapat menjadi dua faktor yang mendorong salah satu unggul dari yang lain. Kedua faktor bisa menjadi bukti nyata atau tidaknya seorang karyawan akan mengintegrasikan dengan baik ke dalam budaya organisasi.

Calon yang tahu pekerjaan rumah mereka menunjukkan minat yang baik dalam perusahaan dan memiliki pemahaman tentang budaya perusahaan, lebih mungkin untuk mengatur dirinya sendiri secara terpisah.

4. Komunikasi

Anda mungkin cocok dengan budaya perusahaan, tampil oke, dan memiliki kepribadian yang hebat. Tetapi jika keterampilan komunikasi kurang, ini bisa menghambat. Pelatih Kepegawaian dan On-Boarding, Jen Teague, mengatakan komunikasi adalah kunci.

"Jika calon karyawan ingin unggul, maka dia harus siap untuk wawancara," ungkap Teague. "Mereka harus datang dengan pengetahuan tentang posisi kerja yang dilamar dan perusahaan, dan tahu bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan populer seperti 'Ceritakan tentang diri Anda,' dan, 'Di mana anda melihat diri dalam lima tahun ke depan?'.

Sebuah ucapan terima kasih juga menentukan nasib. Pastikan anda mengucapkannya saat wawancara selesai. Tidak banyak pelamar yang melakukan itu."

Pergantian Bulan! Dengan Lembaran Baru Zodiak Di Bulan Oktober Yang Cemerlang

Pergantian Bulan! Dengan Lembaran Baru Zodiak Di Bulan Oktober Yang Cemerlang

INIKECE - Bulan Oktober segera hadir, jadikan hari-hari mu menyenangkan di Bulan Oktober yang baru ini. Lupakan hal buruk yang pernah terjadi di bulan sebelumnya. Jalani hari bahagia di bulan baru yang bahagia ini.

Setiap orang pasti memiliki bintangnya masing-masing dari tahun kelahirannya, ramalan Zodiak di bulan Oktober dikabarkan akan sangat Cemerlang bagi yang memiliki zodiak di bawah ini, yuk dilihat kisah cemerlang nantinya di Bulan Oktober.

1. Zodiak, Aries


Ramalan Aries, akhir pekan ini kamu dapat melakukan negosiasi dan menjaga hubunganmu. Temuilah seseorang, selain dapat menambah koneksi pertemanan, kamu juga bisa menjalin kerjsama. Pada bulan Oktober mendatang, akan membantumu untuk mempelajari nilai kompromi atau persetujuan.

2. Zodiak, Taurus


Ramalan Taurus, kamu memang tidak punya pilihan lain selain bekerja. Namun bergembiralah Taurus, pada bulan Oktober kali ini karena akan ada keberuntungan bagimu, tetaplah semangat untuk menjalani pekerjaanmu.

3. Zodiak Gemini


Ramalan Gemini, bulan Oktober ini, Gemini akan berdampingan dengan persoalan kecantikannya. Pekan ini kamu akan terlihat berkilau dan berkarisma. Kamu dengan mudahnya dapat mencuri perhatian banyak orang.

4. Zodiak, Cancer


Ramalan Cancer, bulan Oktober Cancer menemukan kedamaian pada hatinya. Selain itu, hari-harimu akan terasa lebih indah sepanjang bulan Oktober kali ini. Kemungkinan keberuntungan ada di tanganmu.

5. Zodiak, Leo


Ramalan Leo, kamu cukup bijak menggunakan sosial media untuk berkomunikasi. Kamu adalah tipe seseorang yang cerewet. Namun, selama bulan Oktober kali ini akan ada banyak koneksi pertemanan dan kamu terlihat sangat memesona.

6. Zodiak, Virgo


Ramalan Virgo, kamu terlalu banyak melakukan belanja secara online, tanpa berpikir dua kali. Akhir kena kali ini mengingatkanmu terhadap semua hasil belanjamu. Selain itu, janganlah terlalu boros, tetap kontrol pengeluaranmu.


7. Zodiak, Libra


Ramalan Libra, akhir pekan ini dan bulan Oktober akan menjadi bulan favoritmu. Kamu memiliki energi baik pada setiap perjelananmu. Selain itu, kamu terlihat lebih bersinar di antara teman-temanmu.

8. Zodiak, Scorpio


Ramalan Scorpio, jangan terlalu keras kepala terhadap diri sendiri, akhir pekan kali ini akan membantumu menemukan kedamaian hati. Selain itu, tetap yakinkan hati, tidak perlu bimbang saat menjalani semua aktifitasmu.

9. Zodiak, Sagitarius


Ramalan Sagitarius, kamu memiliki sahabat dan koneksi pertemanan yang luas, kamu mungkin merasa senang ketika keluar malam bermain dengan sahabatmu. Nah, pada sepanjang bulan Oktober kali ini sangat cocok bagi kamu bergaul dengan banyak orang.

10. Zodiak, Capricorn


Ramalan Capricorn, sepanjang bulan Oktober karirmu menjadi sorotan. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengembangkan karir, dan saatnya bagi kamu untuk belajar tanggung jawab untuk apa yang kamu dapatkan.

11. Zodiak, Aquarius


Ramalan Aquarius, bulan depan adalah waktu yang tepat untuk mengenal pribadimu. Akhir-akhir ini kamu sedang menyukai permainan yang random, di samping itu kamu tipe seseorang yang tidak berpihak pada siapa pun.

12. Zodiak, Pisces


Ramalan Pisces, kamu membutuhkan seseorang untuk memperbaiki dan mengendalikan situasi. Sepanjang bulan Oktober ini, akan membawamu lebih dekat untuk menjalin suatu hubungan. Namun, penting untuk mempertimbangkan segala kebutuhan pasanganmu.

Hobby Main Game Balapan? Dengan Konsep Spektakuler Game Car Yang Harus Dicoba

Hobby Main Game Balapan? Dengan Konsep Spektakuler Game Car Yang Harus Dicoba

INIKECE - Suka dengan sebuah balapan mobil? Pasti banyak sekali pria hobby akan dunia otomotif khususnya di dunia balapan. Akan tetapi, jika melakukan sebuah balapan nyata pastinya akan memiliki konsekuensi yang tinggi.

Dari pada memiliki hobby yang dapat membahayakan diri sendiri. Sekarang kamu bisa mencoba game yang bisa tingkatkan terus hobby balapan mu dengan Permainan Mobil balapan ini.

Dengan kualitas terbaik dan game dengan konsep spektakuler patut untuk kamu coba terlebih dahulu.

1. Blur


Game yang mudah dideskirpsikan sebagai Mario Kart dengan grafis ala Need for Speed.

2. Grid 2


Dengan konsep tabrakan, mobil dalam game balapan ini mampu menunjukkanmu serpihan-serpihan yang berhamburan dan itu membuatnya sangat keren.

3. DiRT Rally


Dalam game ini tidak memiliki dinding yang bisa ditabrak. Disini akan jauh lebih menyenangkan untuk melontarkan diri. Cukup dengan menginjak rem di momen yang salah, mobil yang kamu setir sudah bisa terlontar.

4. FlatOut Ultimate Carnage


Bukan game modil dengan grafis terbaik, tetapi FlatOut mampu memberikan sebuah tabrakan beruntun yang spektakuler.


5. BeamNG.drive


Game ini memang diarahkan untuk simulasi tabrakan. Bahkan studio film menggunakan game ini sebelum memulai pengambilan gambar tabrakan menggunakan stuntman.

6. Watch_Dogs 2


Watch_Dogs 2 bukan game balapan dan efek gravitasinya terbilang kurang berpengaruh dalam gameplay. Tetapi Watch_Dogs mampu membuatmu menabrak apapun yang kamu mau seperti Grand Theft Auto

7. Project Cars


Kamu akan bisa mengetahui bagaimana kondisi yang terjadi di lapangan ketika terjadi tabrakan di balapan F1 dan menyebabkan banyak mobil terkena imbasnya lewat game ini.


8. Next Car Game : Wreckfest


Tujuanmu satu : menghancurkan mobil. Sudah jelas jika game ini tidak mampu menawarkan tabrakan yang spektakuler, maka judul Wreckfest itu tidak akan ada maknanya.

9. Need for Speed : Hot Pursuit


Need for Speed sedari dulu sudah menawarkan game balapan berkualitas dari zaman PlayStation 1. Dalam judul ini kondisi kecelakaan mobil lebih ditonjolkan untuk memberikan efek yang epik dalam misimu menjadi pembalap jalanan.

10. Burnout Paradise


Seri Burnout yang dianggap sebagai yang terbaik. Dengan konsep open World-nya serta gameplay yang memang menekankan tabrakan, dijamin kamu tidak akan merasakan yang namanya frustrasi akibat kecelakaan yang kamu lakukan.

NB : Jangan Dicoba Pada Dunia Nyata, Ini Hanya Dalam Bentuk Game Yang Dapat Dimainkan Pada P.S atau Smarthone Anda.

Seru! Newbie Akan Dibantu Oleh Bots Yang Dihadirkan Fortnite Battle Royale

Seru! Newbie Akan Dibantu Oleh Bots Yang Dihadirkan Fortnite Battle Royale

INIKECE - Bagi pecinta game, akan selalu memainkan game tersebut atau bisa dikata sebagai seorang gamer. Seseorang yang baru terjun di dunia game akan kecintaannya terdapat game ini, membuatnya terus mencoba hingga menjadi sangat pro.

Game Fortnite Battle Royale, tidak akan asing lagi di telinga para gamer, Game ini telah terkenal di berbagai dunia termasuk Indonesia sendiri. Banyak sekali dari kalangan anak-anak hingga dewa memainkan game ini, karena seruan yang luar biasa.

Kesenangan dalam bermain Fortnite Battle Royale, bisa dipastikan kalau mereka yang baru mencoba permainan garapan Epic Games ini, sering menjadi bulan-bulanan gamer yang sudah veteran.

Pihak developer berencana menambahkan fitur baru, demi membantu para newbie untuk beradaptasi dan meningkatkan skill mereka. Caranya adalah menyertakan beragam bots ke dalam permainan.

Direncanakan, para bots ini dapat ditemukan dalam semua jenis pertandingan, kecuali Competitive. Epic Games berkata bahwa mereka mempunyai perilaku layaknya player biasa, dan bakal memberikan reaksi sesuai skill yang dimiliki lawannya.



Dengan begitu, para bots bisa membantu kalangan newbie dalam mengasah kemampuan mereka, sehingga bisa bertahan hidup lebih lama dalam permainan.


Peningkatan skill milik player, maka semakin sedikit bots yang bakal ditemukan dalam peperangan. Epic Games berencana untuk menambahkan para bots melalui update selanjutnya untuk Fortnite Battle Royale, yakni versi 10.40.


Tidak hanya itu, melalui update tersebut, pihak developer berusaha menjembatani adanya perbedaan signifikans dalam skill milik para pemain. Dengan merubah matchmaking logic dalam mode-mode utama, kalian bakal dikelompokkan dengan player lain yang memiliki kemampuan setara. Hal itu membuat jalannya peperangan tidak terasa berat sebelah.


Sayang, hingga kini belum ada keterangan yang jelas mengenai tanggal rilisnya. Namun, disebutkan kalau pihak developer bakal menerapkan matchmaking logic ini secara berkala ke semua region, sambil memantau performanya. Dengan begitu, player dari semua kawasan bisa menjalani permainan yang seimbang.

Sambil menanti kehadiran para bots, jangan lupa untuk mengikuti crossover Fortnite X Batman. Disana, selain menjalani peperangan di Gotham City, kalian juga bisa menemukan beragam item maupun equipment menarik bernuansa Batman.

Tak Hanya Wanita, Pria Juga Ingin Perasaannya Dimengerti Oleh Pasangan

Tak Hanya Wanita, Pria Juga Ingin Perasaannya Dimengerti Oleh Pasangan

INIKECE - Dalam kasus percintaan, dimana semua pasangan ingin menjalani suatu hubungan dengan baik dan berujung kebahagiaan. Biasanya dalam kasus hubungan, banyak sekali wanita yang ingin dimanja, ingin diperhatikan, dan ingin selalu membuat pria nurut dengan yang inginkan pasangannya.

Bukan hanya wanita saja yang ingin di mengerti tentang hal tersebut. Sebagai seorang pria juga ingin memiliki perhatian, dan ingin dimanjakan pasangannya. Seorang pria akan selalu melakukan yang terbaik untuk pasangannya.

Tetapi pria juga ingin di mengerti akan perasaan, situasi, dsb oleh pihak wanita, agar tidak memiliki egosian yang dapat merusak suatu hubungan yang telah berjalan dengan baik.

Dibawah ini, akan dibahas beberapa tips yang harmonis dalam suatu hubungan agar, tetap awet hingga ke suatu jenjang yang sangat indah.

1. Mencoba Memahami Masalah Komitmen

Di dalam sebuah hubungan, ada saja laki-laki yang tidak berani berkomitmen lebih lanjut dan takut akan pernikahan karena berbagai alasan.

Nah, cara memahami mereka yang pertama adalah dengan mengetahui dan mencoba memahami apa yang mereka pikirkan tentang komitmen dan pernikahan. Kebanyakan laki-laki di bawah usia 30 tahun cenderung lebih senang 'bermain-main' terlebih dahulu sebelum akhirnya menetapkan pilihan pada satu orang pasangan.

Menurut mereka, pernikahan dan kehidupan berkeluarga baru bisa dilakukan setelah mereka terbilang mapan secara ekonomi. Akibatnya, ketika mereka mendapatkan perempuan yang mungkin baik di mata mereka, tetapi ingin segera berkeluarga, hubungan tersebut bisa kandas karena ketakutannya dengan komitmen.

Selain pemikiran soal kemapanan, masalah komitmen juga biasanya muncul dari mereka yang memiliki latar belakang keluarga yang mengalami perceraian, terutama yang disebabkan oleh ayahnya sendiri.

Cobalah untuk memahami laki-laki dengan pemikirannya yang satu ini. Jangan terlalu mendesaknya tanpa mengetahui apa yang menyebabkannya melakukan demikian.

2. Mendukung dan Bicara Dari Hati ke Hati Ketika Ada Masalah

Walaupun mereka sering kali terlihat tangguh, laki-laki pun sebenarnya membutuhkan dukungan secara emosional, sama seperti perempuan. Bahkan, mereka mempunyai reaksi emosional yang sedikit lebih kuat dibandingkan para perempuan.

Akan tetapi, sebelum menyadari apa yang mereka rasakan, para laki-laki cenderung menutup diri mereka dari orang lain agar tidak terlihat rapuh. Hal tersebut dikarenakan stereotip yang menunjukkan perasaan artinya tidak jantan.

Akibatnya, ketika merasa sedih, mereka akan menunjukkan perasaan marah karena kemarahan melambangkan kekuatan, sehingga membuat orang terkadang menjadi salah paham.

Misalnya, saat laki-laki putus cinta, mereka akan lebih menunjukkan kesedihannya dengan mabuk-mabukan atau hal-hal yang membahayakan nyawa mereka. Namun, hal tersebut bukan berarti mereka tidak merasa sedih.

Mereka melakukan tindakan yang dianggap "jantan" untuk mengisi kekosongan yang ia rasakan. Itu sebabnya, agar anda lebih memahami laki-laki, cara yang bisa anda lakukan adalah jangan menghakiminya. Tetaplah dekati dan berusaha menggali pikirannya sekalipun mereka tak menunjukkan bahwa mereka sedang dalam kerapuhan.

3. Menyeimbangkan Kontrol Di Dalam Hubungan.

Tahukah anda bahwa sebagian besar laki-laki merasa lebih kompeten ketika mereka melihat perempuan atau pasangannya bahagia karena dirinya?

Akan tetapi, tidak jarang pula pasangan perempuan yang senang mengambil alih kemudi hubungan, tanpa menyeimbangkan peran pasangannya.

Hal tersebut membuat para laki-laki menjadi merasa tidak berguna dan membiarkan para perempuannya untuk mengerjakan semuanya. Cobalah untuk memahami pasangan anda dengan cara memberikan ruang yang cukup agar mereka mendapatkan peran penting dalam hubugan.

Seimbangkanlah peran masing-masing dengan berbagi tugas. Pada dasarnya, kunci dari cara memahami laki-laki dengan baik hanya satu, yaitu memiliki komunikasi yang baik.

Jadi baik itu laki-laki atau perenpuam ingin dimengerti, itu sebabanya, anda perlu berkomunikasi agar mengetahui apa yang anda berdua inginkan.

Kisah Gadis Berpayung Jingga

Kisah Gadis Berpayung Jingga

INIKECE - "Sepertinya sebentar lagi turun hujan," ucap gadis yang duduk di sebelahku. Aku pun mendongak ke atas dan mendapati langit yang mulai menggelap. Aroma pekat tanah basah mulai tercium, embusan angin dingin juga mulai mengelus kulit.

Aku benci suasana seperti ini, sendu. "Ya, aku rasa memang akan hujan," sahutku padanya. Entah apa yang dibawa oleh gumpalan awan hitam yang lewat, mengapa setiap kali mereka datang hatiku selalu terasa hampa? 

Seperti ada sesuatu yang kulupakan, namun aku tak tahu apa itu. Kuhirup dalam-dalam udara ingin ini, berharap bisa memenuhi rongga hati. Sembari memejamkan mata, kubuka satu per satu memori di otakku. Mencari apa pun yang bisa memberikan jawabn ataupun kelegaan.

"Kamu bawa payung?" Gadis itu bertanya padaku lagi. Sontak aku segera membuka mata dan menatapnya tajam. Sebenarnya siapa dia dan apa maunya? Mengapa ia selalu mengajakku bicara?

"Bukan urusanmu!" Kali ini aku menjawabnya dengan ketus. Aku sudah sabar meladeni pertanyaan-pertanyaannya sedari tadi, tapi sepertinya orang itu tak ada niatan untuk berhenti menggangguku.

Saat ini aku benar-benar ingin berkonsentrasi. Sekali lagi kupejamkan mata. Mengapa aku membenci suasana sendu sebelum hujan turun? Tiba-tiba aku merasakan bulir air jatuh tepat di dahiku, tapi tak akan kubiarkan hal itu merusak konsentrasiku. Satu, dua, tiga, empat, bulir-bulir yang lain mulai menyusul. Ini tak bisa kubiarkan, tetesan demi tetesan air yang jatuh ke aspal mulai mengusik pendengaranku.

Aku pun membuka mata dan segera beranjak dari kursi. Pepohonan di taman ini juga mulai basah kuyup, tanah menjadi becek dan tawa anak-anak yang sedari tadi bermain di sekeliling pun lenyap. Satu demi satu orang-orang segera menepi, mencari tempat berteduh.

Namun aku tetap bergeming, rambutku pun mulai basah, diikuti sekujur badanku yang menjadi sasaran air hujan tanpa ada penghalang. Aku menoleh ke arah kanan, dak tak kudapati seorang pun. Bahkan gadis itu juga takut dengan hujan dan memilih bersembunyi.

Kakiku hendak melangkah mengikuti arah semua orang itu berteduh. Namun detik itu juga aku mengurungkan niat itu. Lagi pula aku sudah terlanjur basah, tak akan ada bedanya aku berteduh atau tidak. Akhirnya kuputuskan untuk tetap di sini dan duduk kembali. Sekali lagi aku mencari, tapi bukan di dalam pikiran melainkan di dalam hatiku. Percuma aku berpikir seribu kali, karena aku tahu memori itu tak tersimpan di otakku.

Sembari melihat para burung yang terbang mencari pepohonan rindang untuk berteduh, aku tersadar satu hal. Ya... Itu dia... sesuatu yang hilang itu, sesuatu yang hilang itu, sesuatu yang selalu kurindukan saat turun hujan. Pulang! Rumah! Aku ingin pulang. Seperti kawanan burung yang hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya, begitu pula dengan diriku. Aku juga harus kembali ke rumah.

Sekarang aku harus pulang, tak bisa kutunda-tunda lagi. Tekadku sudah bulat, aku akan pulang saat ini juga. Aku kembali berdiri dan menatap sekeliling. Tunggu... Ke arah mana aku harus pergi? Ke kiri kah? Atau Kanan? Apakah lurus ke depan? Atau malah balik ke belakang? Mengapa semua jalan ini terasa asing?

Di saat aku kebingungan memilih arah, aku baru sadar tak ada lagi tetesan hujan yang mengenaiku. Apakah sudah reda? Tapi sejauh mata memandang, aku masih melihat garis-garis air yang jatuh dari atas. Aku mendongak dan mendapati sesuatu yang menghalangi hujan menerpaku.

Sebuah payung lebar berwarna jingga, gadis itu yang membawanya. Ia tepat berada di belakangku menggenggam gagang payung tersebut dan mengarahkannya kepadaku. Sejak kapan ia berada disini? Bukankah tadi ia pergi karena takut pada hujan? Mengapa sekarang ia malah berdiri di belakangku melawan hujan?

"Kok kamu balik lagi sih?" Tanyaku geram. Gadis itu hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaanku. Ia malah meraih tanganku dan menggenggamkan gagang payung itu padaku. Kemudian ia pun pergi dengan tubuh yang basah. Oh... Tidak... Gadis itu membuatku melupakan jawaban yang telah kutemukan tadi.

Satu kata... aku ingat hanya satu kata yang dapat memancing ingatan itu. Dan tetap saja aku tak dapat mengingatnya kembali, walaupun telah berulang kali aku memejamkan mata, mendongak ke langit, dan menatap sekeliling. Mungkin hari ini cukup sampai di sini. Dengan putus asa, aku pun melangkah gontai menyusuri jalanan.

Angin berembus sangat kencang, membuatku harus menggenggam gagang payung dengan kuat karena payungku sudah terasa seperti diseret ke belakang. Baru kusadari ada sebuah label kertas yang tertempel pada gagang payung yang kupegang. Di situ tertulis; Jalan Anggrek Timur No 98. Alamat itu terasa sangat familiar di telingaku.

Setelah bertanya pada orang sekitar, aku memutuskan untuk pergi ke alamat tersebut. Sesampainya di depan rumah, aku mengetuk pintu dan menekan bel, namun tak ada yang menyahut. Hatiku mendorong untuk terus masuk ke dalam rumah itu. Ternyata pintunya tidak terkunci, aku pun menaruh payung jongga yang kubawa di teras depan dan segera masuk.

Pemandangan pertama yang kulihat adalah rak sepatu yang ada di ujung lorong dekat pintu masuk, tak ada yang aneh dengan rak tersebut, yang membuatku heran justru malah rak di sampingnya. Disana, bertumpuk payung-payung berwarna jingga sama seperti payung yang kupakai tadi, dan anehnya di setiap payung terdapat label alamat yang sama. Hatiku mulai gusar, ada sesuatu yang seharusnya aku tahu.

Kulangkahkan kaki menyusuri ruang tamu, terdapat beberapa bingkai foto yang tertata rapi di kabinet. Aku terperanjat kaget melihat beberapa foto yang kukenal betul, aku mengambil sebuah foto dua orang gadis saling merangkul dan tersenyum manis.

Itu adalah foto diriku dengan gadis berpayung jingga yang aku anggap menyebalkan. Bagaimana bisa? Apa kau mengenalnya? Mengapa aku bisa tak mengingatnya? Satu lagi pertanyaan yang membuatku ternganga, kalau begitu, inikah rumahku? Bagaimana aku tak mengenali rumahku sendiri???

Di tengah kalutnya pikiranku, muncul seseorang dari dalam kamar.

"Udah berhasil pulang?" Gadis itu bergegas menghampiriku dan memberikan handuk padaku.

"Kamu siapa? Kok aku bisa nggak ngenalin kamu? Gimana bisa aku lupa sama rumahku?"

Lagi-lagi gadis itu hanya tersenyum. Kepalaku terasa pusing, berbagai pertanyaan yang tiba-tiba datang membuat otakku seperti sedang digodam palu besar.

"Nina, aku temen serumahmu, Mara. Sahabatmu satu-satunya. Nggak perlu ngerasa bersalah kalau kamu nggak inget aku, setiap hari aku bakalan ada buat kamu, aku bakalan selalu ingetin kamu ulang. Tentang aku, tentang kamu, dan juga tentang kita. Yah walaupun besok kamu bakal lupa lagi sama yang aku omong hari ini. He He.."

Tiba-tiba sebersit ingatan muncul, samar-samar aku melihat kenangan-kenangan masa lalu, dimana aku dan gadis di depanku ini bersama. Benar dia memang sahabatku satu-satunya yang aku sayang. Mengapa aku benar-benar tak bisa mengingatnya?

"Kamu tahu kenapa aku bisa lupa? Terus tadi kamu bilang besok aku juga bakal lupa lagi sama hari ini? Kok bisa gitu? Aku nggak mau lupa lagi, aku nggak mau lupain kamu lagi."

"Tahun lalu kamu kecelakaan, terus kamu mulai nggak bisa nyimpan memori lebih dari sehari. Udah, nggak usah dipikirin, yang penting kan sekarang kamu tahu aku sahabatmu. Sana mandi keburu malam nanti tambah dingin. Aku udah bikin cokelat hangat buat kamu."

Aku pun menurut dan segera masuk ke kamar mandi, namun pikiranku masih berkelana. Jika aku selalu melupakan apa yang terjadi hari ini, berarti setiap hari Mara akan selalu datang menjemputku ke mana pun aku pergi, memberiku petunjuk untuk pulang karena aku selalu ketus dan tak percaya pada orang yang kuanggap asing, serta menjawab semua pertanyaan yang mungkin saja berulang tiap harinya? Dia selalu ada untukku dan tak pernah lelah walaupun aku tak menganggapnya sahabat lagi karena aku selalu melupakan dirinya.

Air mataku menetes membasahi pipi, aku pun mulai sesengguhkan. Akankah besok aku menyusahkannya lagi? Akankah besok aku ketus padanya dan menganggapnya gadis menyebalkan yang suka mengganggu orang lain? Maafkan aku Mara... Sahabat terbaik yang pernah ada.. Semoga kau tak pernah lelah menantiku di tengah hujan dengan payung jingga mu itu.. Terima kasih sahabatku, gadis berpayung jingga yang selalu ada untukku.

Penulis :

Amelia Dewi Kumala, gadis yang sedang berkelana di Surabaya ini gemar menulis sedari kecil, karyanya sudah ada beberapa dalam buku kumpulan cerpen.

Trik Menang Bermain Ceme Online Uang Asli

Trik Menang Bermain Ceme Online Uang Asli - AGEN CEME PRUDOMINO


Ceme Online merupakan permainan kartu yang menggunakan kartu Domino dalam permainan. Berbeda dengan Domino Online atau yang biasa di sebut juga sebagai Domino99 Dalam permainan Ceme masing-masing player hanya di berikan 2 buah kartu saja.

Dalam permainan sendiri terdiri dari 1 BANDAR dan 7 PEMAIN. Sebagai bandar anda akan di hadapkan dengan 7 orang pemain dalam 1 putaran meja. Sebelum bermain Pemain di wajibkan untuk memasukan nominal taruhan yang ingin di mainkan pada puratan tersebut. Jika Kartu permain lebih besar dari pada bandar maka bandar harus membayar senilai taruhan yang di berikan oleh pemain tersebut berlaku sebaliknya jika bandar menang maka nilai taruhan akan di menangkan oleh sang bandar.

Beberapa Point yang harus di ingat dalam permainan Ceme Online adalah sbb:


  • Nilai kartu hanya di ambil 1 Digit yang arti nya jika anda mendapat 19 maka di hitung nilai kartu anda adalah 9
  • Nilai Tertinggi adalah 9
  • Nilai Terendah adalah 0
  • Jika Pemain mendapatkan point 9 maka nilai taruhan yang di menangkan akan di kali 2.
  • Jika Bandar mendapatkan point 9 maka semua taruhan akan di menangkan oleh bandar
  • Jika Bandar dan Pemain memiliki nilai yang sama maka tetap di menangkan oleh Bandar.
  • 1 Bandar akan berhadapan dengan 7 pemain lainnya.
  • Pemain yang menjadi bandar memiliki kemungkinan lebih besar untuk menang.
Seperti yang di jelaskan pada point diatas,Pemain yang menjadi Bandar memiliki kesempatan lebih besar untuk menang karena anda akan berhadapan dengan 7 pemain lainnnya.Tetapi dalam permainan Ceme Online hanya 1 orang yang bisa menjadi bandar dan anda tidak akan bisa menjadi bandar kecuali pemain yang menjadi bandar tersebut keluar dari permainan.

Berbeda hal nya dengan Ceme Online, Ceme keliling lebih cocok dimainkan bagi anda yang suka menjadi bandar atau tidak mendapatkan kursi menjadi bandar di permainan Ceme Online, Dalam Permainan Ceme keliling Pemain berkesempatan menjadi bandar jika CHIP yang di miliki mencapai minimum bandar pada meja tersebut.

Pemain akan dapat merasakan menjadi bandar secara bergantian dalam meja tersebut, Bandar akan berputar searah jarum jam sesuai pemain yang memiliki dana cukup untuk menjadi bandar.

Beberapa Tips dan Trik untuk menang dalam permainan Ceme Sbb :

  1. Bermain sebagai Bandar
  2. Jangan terbawa emosi dalam permainan
  3. Perhatikan Kartu bandar/Hokky bandar
  4. Coba berganti meja atau tempat duduk selama bermain.
  5. Selalu memasang Jackpot
Sekian Tips dan Trik Bermain Ceme Online yang bisa kami ulas bagi anda pecinta Ceme Online Indonesia.

Kisah Cinta! Rasa Yang Tidak Pernah Sampai Ke Hatinya

Kisah Cinta! Rasa Yang Tidak Pernah Sampai Ke Hatinya

INIKECE - Menjelang pukul tujuh malam dia tiba dengan membawa plastik berlogo sebuah restoran cepat saji ternama. Hal yang kerap dia lakukan bila kami lembur untuk menyelesaikan laporan penerimaan dan stok barang.

Saat menjelang akhir tahun, biasanya perusahaan tempatku bekerja selalu melakukan stock opname. Tempat kerjaku ini punya ritme kerja yang tidak tentu. Menjelang order baru turun ke produksi, kesibukanku kerap menguras waktu dan pikiran. Terutama saat datang barang.

"Makan dulu, biar aku saja yang menyelesaikannya. Kamu perlu makan untuk mengembalikan staminamu," ujarnya sembari mengambil alih tumpukan laporan stok barang di hadapanku.

"Kamu sendiri?" aku menatapnya sekilas dan segera memalingkan wajahku dengan cepat sebelum ia melihat wajahku yang selalu memerah bila ada di dekatnya.

"Sudah, tadi di mobil."

Aku mengambil makanan yang ia bawa, tetapi tidak menghentikan pekerjaanku. Aku biasa mengerjakan sesuatu sambil makan. Dia mendelik dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku tidak bisa lembur lebih dari jam delapan," ujarku memberi alasan.

"Bukannya ada mobil perusahaan untuk antar jemput?"

"Rumahku jauh, kasihan sopirnya."

"Kamu bisa ikut mobilku."

"Bukannya rumah kita berlawanan arah?" aku menatapnya tak percaya.

Dia cuma tersenyum tipis seraya mengangkat bahunya. Dadaku berdesir halus karenanya. Sudah empat bulan ini ia menjadi konsultan di tempatku kerja. Namanya Adrian. Ia hanya datang seminggu sekali. Sejak kedatangannya kemari, jantungku selalu berdegup lebih cepat dari biasanya dan aku selalu berharap Selasa adalah besok.

Entah mengapa, di mataku ia begitu menarik. Aku sendiri bingung, tidak biasanya aku langsung tertarik dan menyukai seseorang yang baru kukenal.

Setiap melihat Adrian, perasaanku selalu sulit kukendalikan. Ada hasrat yang menurutku tidak tahu malu saat berada di dekatnya. Aku selalu berharap ia melingkarkan lengannya dibahuku atau membayangkan dia menggandeng tanganku ketika kami keluar makan siang bersama.

Keinginan yang benar-benar tidak masuk akal, tetapi selalu membuatku tersipu-sipu dan bahagia membayangkannya.

Aku mulai menyimpan sosoknya di hatiku setelah kami sering melakukan pekerjaan bersama. Itu karena pekerjaan kami saling berkaitan, aku adalah kepala gudang pusat dan dia perlu data akurat untuk semua barang yang masuk dan keluar dirku. Namun, sejauh ini aku hanya bisa menyimpan perasaanku ini dalam hari saja.

Aku hanya bisa mencintainya diam-diam. Mungkin karena kodratku sebagai perempuan melarangku untuk mengungkapkan perasaanku dengan gamblang. Meski zaman sudah berubah, tetapi pola pikirku masih konvensional. Aku merasa tidak malu karenanya.

"Aku dengar dia sudah punya kekasih." Letta, teman karibku dari bagian eksport impor, berbisik tepat di telingaku saat Ci Lusi memperkenalkannya kepada kami.

Aku berlagak tidak mendengarnya.

"Aku dengar juga ia akan segara menikah," lanjut Letta membuat telingaku panas.

"Jangan suka bergosip," Letta berhasuil memancing reaksiku.

"Itu yang kudengar."

"Seandainya dia punya kekasih pun apa urusannya dengan kita?"

"Kalian akan sering kerja bareng, hati-htai saja," godanya.

"Hei, apa hubungannya denganku?" tanyaku dengan mimik sedatar mungkin.

"Aku hanya mengingatkanmu saja. Jangan pernah jatuh cinta pada pria yang sudah memilih di mana hatinya berlabuh karena kudengar dia pun telah bertunangan."

"Sssttt... berisik! Jangan suka mencampuri urusan orang lain," aku berusaha mengakhiri percakapan. Letta memang biang gosip. Namun, untuk gosip mengenai Adrian, aku terlalu takut untuk mendengarnya. Mungkin karena aku sudah  tertarik saat pertama melihatnya.

Selama tujuh bulan mengenal Adrian dan cukup sering melewatkan waktu dengannya, aku tidak pernah mendengar dia membicarakan seseorang yang dekat dengannya atau secara tidak sengaja mendengarnya berbicara dengan seorang perempuan saat bertelepon.

Jika dia memang lebih bertunangan, aku tidak melihat ada cicin yang melingkar di jarinya! Untuk alasan apa pula dia mengelabui orang lain? Ukh, seharusnya aku tidak perlu pusing memikirkannya! Membuat perasaanku jadi gelisah dan tidak nyaman saja.

Aku jadi ingat saat pertama kali aku tertarik dan menyukai seseorang. Jika tidak salah saat aku SMP. Orang itu adalah Obaja, pria dewasa pacar tanteku. Dia memiliki mata teduh yang memesona. Sulit sekali meredam perasaan sukaku padanya.

Jantungku selalu berdegup lebih cepat dari biasanya setiap kali ia datang menemui tanteku. Berbagai cara aku lakukan agar bisa melihatnya. Bahkan, dengan mengintipnya saat mengobrol dengan tanteku.

Bila kuingat-ingat kembali saat itu, aku merasa konyol dan bodoh. Syukurlah, mereka tidak berjodoh. Jika mereka jadi menikah, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.

***

Sudah dua minggu ini Adrian tidak datang. Berarti selama dua kali pertemuan ini aku tidak melihatnya. Aku sangat kehilangan dan merindukannya. Tidak ada yang bisa kutanya selain aku juga malu untuk menanyakannya.

Andai aku tidak menyukainya secara diam-diam, tidak akan segelisah ini. Aku bisa meneleponnya dan menanyakan langsung padanya, tetapi statusku saat ini bukan siapa-siapa dia. Meski kami sering keluar makan siang bersama dan ia kerap mengantarku pulang bila kami lembur, semua itu karena pekerjaan.

"Jika kuhitung, entah sudah berapa kali kamu menarik napas terus. Ada apa, Ra? Akhir-akhir ini kamu sering gelisah dan enggak fokus dengan pekerjaanmu?" Letta menyentuh punggung tanganku sekilas. Tatapannya dalam, menanti jawaban.

Aku hanya melempar senyum tipis dan menggeleng. Mana mungkin aku cerita padanya. Mau ditaruh dimana mukaku?

***

Aku hampir tak percaya menatap sosok yang saat ini melenggang ke arahku. Tentu saja perasaanku meluap karena bahagia. Dua minggu ini aku sangat merindukannya. Benar-benar merindukannya.

Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Mukaku pun menghangat tiba-tiba. Entah karma apa yang tengah menimpaku sehingga aku begitu tergila-gila padanya. Seingatku, aku belum pernah menyakiti siapa pun. Putus dengan mantanku setahun lalu pun secara baik-baik, semata karena dia pindah kerja ke luar kota.

"Aku mau mengambil laporan stock opname, sudah selesai, 'kan?"

Aku mengangguk gugup. Celakanya, tanganku pun ikut gemetar sehingga berkas yang kupegang terjatuh dan berserakan di mejaku. Wajahku pasti telah memucat, apalagi ketika dia membantu membereskan berkas yang berserakan.

"Kamu sakit?" tanyanya sembari menatapku.

"Maaf... aku hanya tidak sempat sarapan," jawabku berbohong.

"Jangan dibiasakan," ia tersenyum tipis.

"Dua kali pertemuan kamu tidak datang," Astaga! Sedetik kemudian aku menyesali mulutku yang lancang.

"Ada urusan keluarga."

Aku cuma manggut-manggut.

"Semuanya sudah beres, 'kan? Aku harus menyerahkannya segera ke bagian accounting."

"Karena itu kamu datang pada hari Sabtu." aku memberanikan diri menatapnya cukup lama.

"Hhmmm... Kalau begitu terima kasih dan sampai bertemu Selasa depan."

Aku hanya bisa menatap kepergiannya hingga lenyap dari jangkauan mataku. Ada rasa lega yang membuat rongga dadaku terasa lapang. Sampai bertemu Selasa depan, kalimat itu membuat perasaanku membuncah. Tanpa sadar kubuang napas panajng. Cukup keras hingga menarik perhatian Letta yang baru datang.

"Kamu pasti senang."

"Apa?" Mataku menyipit.

"Orang yang membuatmu gelisah. Kamu menyukainya, 'kan?"

"Sssttt... hati-hati! Orang lain dengar jadi gosip," aku menyikut lengannya.

"Aku tahu kamu menyukainya. Karena menyukainya kamu jadi merindukannya saat dia tidak ada. Aku..."

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tanganku membungkam mulut ceriwisnya.

"Baiklah, aku memang menyukainya. Puas?"

"Kenapa? Karena di menarik dan tampan?"

"Yang kamu katakan termasuk di dalamnya," jawabku setelah berpikir sesaat.

"Tapi, apa yang menurut mata kita baik enggak selalu harus kita miliki, Ra."

Aku tidak menanggapi kata-kata Letta. Dengan segera kutinggalkan dia sendiri, sebelum ia menggodaku terus. Saat ini aku sedang berbahagia dan berharap Selasa segera tiba.

***

"Jangan lupa datang dengan pasangamu, ya,"  ujar Adrian sesaat setelah ia masuk ke ruanganku seraya menyerahkan sebuah undangan.

"Undangan siapa?" tanyaku berdebar. Perasaanku benar-benar tidak enak. Sesaat kutatap wajahnya. Ada binar bahagia di sana. Aku berusaha mengenyahkan perasaan tidak nyaman yang menyerbu tiba-tiba di hatiku.

"Aku dan Kanaya."

Aku tertegun. Seluruh persendianku terasa lemas. Sesuatu terasa menohok dadaku. Sakit dan membuatku sulit bernapas.

"Sekanat," dengan susah payah keluar juga ucapan itu dari mulutku.

"Terima kasih. Kamu harus datang, jangan sampai tidak."

Aku mengangguk lemah. Kuberikan senyum kecil. Senyum terburuk yang pernah kuberikan karena penuh kepalsuan. Andai tidak malu, saat ini tangisku pasti sudah pecah. Selanjutnya aku tidak ingin melihatnya pergi hingga kusadari seseorang menyentuh bahuku dari belakang,

"Meski sulit kita harus merelakan seseorang yang bukan takdir kita," Letta berujar pelan.

Hanya senyum patah yang bisa kuberikan ucapan terima kasih untuk penghiburan yang ia berikan. Sedetik napas panjang. Aku jadi teringat kata-kata Letta bahwa apa yang sempurna menurut mata kita tidak harus kita miliki.

Sebuah Kisah, Benci Tapi Jangan Dibalas Benci

Sebuah Kisah, Benci Tapi Jangan Dibalas Benci

INIKECE - Dulu aku begitu meyukai saat-saat aku harus bersekolah. Saat-saat aku akan menyapa teman-temanku saat berangkat dan pulang sekolah. Namun sekarang, untuk melangkahkan kaki melewati gerbang ini pun, rasanya benar-benar terasa begitu berat.

Perasaan takut, cemas, hingga rasa sakit hari terus menghantuiku. Mereka yang dulu begitu senangnya saat dekat denganku, kini berbalik memandang sinis hingga bahkan terlihat jijik denganku. Tau karena apa? Karena aku kini menyandang status sebagai anak koruptor.

Cacian hingga kontak fisik sering sekali aku dapatkan semenjak ayah mendapatkan tuduhan itu. Bahkan sempat ada niatan untuk aku meninggalkan sekolah ini, jika saja bukan karena beasiswa yang berhasil aku dapatkan di sekolah ini, karena ayah memang rajin sekali meyumbangkan dana di sekolah ini dulu.

"Yang salah itu aya! Kenapa aku yang dihakimi!" teriakku melampiaskan segalanya di atap sekolah yang mungkin menjadi satu-satunya tempat di sekolah ini yang masih menerima kehadiranku.

***

Krriinggg!!!

Bel masuk pun berbunyi dengan kencangnya. Ahh... helaan nafas ini sepertinya cukup untuk menggambarkan betapa malasnya aku untuk masuk ke kelas yang kini mungkin seperti lubang neraka untukku.

Dengan langkah gontai dan berusaha untuk tidak menghiraukan bisikan-bisikan di arah sekitarku, akupun langsung menduduki kursi pojok yang terlihat begitu jauh dari bangku lainnya. Mungkin kursi ini bisa terbilang sebagai kursi terkucilkan, seperti nasibku saat ini.

"Bulan, tolong bantu ibu isikan spidol ini" ujar guru matematika yang kini tengah mengajar. Namun aku enggan mendengar dan berpura-pura tertidur.

"Kalo manggil dia itu harus kayak gini bu"

Buukk!! Sebuah tendangan kuat pada kursi yang kududuki berhasil membuat kepalaku yang kutidurkan di atas meja terbentur seketika. Hal itupun cukup membuat gelak tawa langsung meramaikan seisi kelas ini.

"Sudah diam semuanya!!" teriak guruku berusaha menenangkan kelas kembali.

Tak ingin mendengar namaku dipanggil untuk kedua kalinya, akupun langsung berdiri untuk menuruti perintah guruku itu. Namun belum sempat sepenuhnya berdiri, breettt!!! terdengar bunyi robekan pada rok yang kini tengah ku kenakan. Gelak tawa pun kembali meramaikan kelas.

Merasa tindakan yang mereka lakukan ini sudah sangat keterlaluan, akupun membanting mejaku yang sukses membungkam tawa yang tadinya begitu terlihat sangat ramai.

Tes...namun ternyata aku tak cukup berani untuk menyuarakan apa yang sebenarnya ingin sekali aku teriakkan pada mereka saat ini. Tangisan yang entah sudah keberapa kalinya aku keluarkan, kembali keluar hari ini. Dan aku hanya bisa melarikan diri menuju tempat yang dapat menyembunyikan tangisanku ini.

Lagi-lagi aku hraus berakhir di atap sekolahku ini. Menebrangkan pesawat-pesawat dari kertas yang memang kusimpan di salah satu sudut atap sembari menunggu tangisku reda dengan sendirinya.


Kuhentikan tanganku yang sudah siap menerbangkan pesawat kertas buatanku ini karena suara yang tampak begitu asing di telingaku. Akupun spontan melihat ke sosok laki-laki yang kini tengah terlihat duduk di sampingku.

"Gak takut duduk sama aku? semua anak di sekolah ini kan nganggep aku sampah" ujarku dengan senyuman simpul.

"Badan kecil kayak kamu, paling kalau gigit juga gak bakalan sakit" ujar laki-laki tersebut dengan nada santai.

"Harusnya kalaupun kamu punya banyak tenaga, kamu pakai tenaga itu untuk ngelawan mereka yang terus-menerus ganggu kamu, Bulan"

Tak dapat menutupi rasa terkejutku, aku spontan menatap tajam ke arah laki-laki yang terlihat tidak seperti siswa di sekolah ini. Bagaimana mungkin ia mengetahui namaku, pikirku dalam hati.

"Sampai kapan kamu nangis, terus marah-marah padahal gak berguna kalau gak ada yang dengerin apa yang pengen kamu ucapin ke meraka itu," Dan bagaimana dia tahu tentang apa yang terjadi padaku saat ini.

"Siapa sih?!" ujarku mulai kesal dengan ucapan laki-laki ini.

"Saga" ujarnya mengulurkan tangannya padaku sembari tersenyum.

Alih-alih membalas uluran tangannya, aku segera beranjak dari dudukku untuk segera pergi meninggalkan orang aneh ini.

"Waittt!" ujarnya berseru padaku. Dan anehnya, aku mengikuti ucapannya itu dan menghentikan langkahku seketika.

"Rok kamu kan bolong" ujarnya lagi sembari mengikatkan jaket yang dikenakannya untuk menutupi rok bolongku.

"Makasih sebelumnya, tapi..."

"Udah pake aja, kelasku di lantai dua pojok. Kamu bisa kembalikan ke aku besok" ujar laki-laki yang bersama Saga itu sembari tersenyum ke arahku. Entah kenapa, senyuman tulus itu tak pernah sekalipun aku dapatkan selama ini, kecuali saat ini.

"Besok setiap istirahat pertama. Kita harus bertemu di sini, aku akan bantu kamu, untuk bisa melawan semua ketidakadilan yang kamu dapetin saat ini. Ini bukan permintaan, tapi ini perintah. Jadi mau gak mau, suka gak suka, kamu harus ke sini nemuin aku. Oke!" diuspanya pelan kepalaku olehnya, sembari berlalu pergi meninggalkanku yang masih mematung tak mengerti dengan ucapannya barusan.

Awalnya, aku terlihat tidak yakin dengan bantuan yang ditawarkan oleh laki-laki bernama Saga itu. Namun hari ini, aku ternyata memilih untuk memastikan ucapannya itu dan langsung menuju ke atap. Dan benar saja, aku benar-benar melihat kehadiran Saga yang langsung melambaikan tangannya begitu melihat kehadiranku saat ini. Ia pun menghampiriku dan menyuruhku duduk.

"Jadi hal pertama yang harus kamu lakukan yaitu pembuktian"

"Pembuktian?" tanyaku tidak begitu mengerti dengan ucapan dari Saga ini.

"Gak perlu kan kamu harus ikut membeci mereka yang benci kamu, karena itu akan membuat kamu jadi sama seperti mereka. Jadi kit aharus bermain pintar, buat balas semua cacian mereka itu dengan hal yang lebih menguntungkan buat kamu."

"Mereka meremahkan kamu karena kamu dianggap sama seperti ayah kamu, tapi kalau kamu bisa berprestasi dan ikut berbagai event hingga organisasi sekolah, aku yakin itu perlahan-lahan bisa mengubah pandangan mereka ke kamu. Mereka akan memandang kamu..."

"Bermartabat, pintar, dan bukan seorang sampah yang hanya akan menjadi benalu untuk sekolah ini" ujarku mulai paham dengan apa yang dimaksud oleh Saga.

Saga pun mengangguk bangga dengan ketepatan otakku untuk berpikir saat ini.

"Jadi aku harus mulai dari mana dulu?" tanyaku mulai tertarik dengan rencana Saga ini.

"Aku dengar kamu pintar gambar kan, jadi kamu harus ikut event ini" Saga mengulurkan sebuah poster lomba menulis komik yang diadakan oleh organisasi OSIS di sekolah ini.

"Dari mana kamu tau aku pintar gambar?" tanyaku penasaran dengan semua yang Saga ketahui tentangku.

"This is you, right?" Saga kembali mengulurkan sebuah koran yang menampilkan berita saat aku pernah memenangkan lomba menggambar. Akupun hanya tersenyum kagum dengan satu lagi kecekatan Saga dalam mendapatkan informasi tentangku.

Awalnya aku sempat ragu apakah harus mengikuti lomba ini atau tidak. Namun Saga menyakinkanku dan mengatakan kalau aku pasti dapat memenangkan perlombaan ini. Namun, keyakinan Saga itu ternyata tidalah sama seperti seisi sekolah ini yang kini tampak memandangiku dengan sinisnya saat aku hendak mendaftarkan diriku.

Hingga hari perlombaan itu pun, tatapan-tatapan sinis itu masih terus menghakimku. Namun aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. Dan ternyata, perlombaan itu membawaku mendapatkan juara kedua. Tentu saja itu benar-benar kejutan luar biasa untukku.

Dan persis seperti yang dikatakan Saga, perlahan tatapan-tatapan orang-orang di sekolah mulai terlihat lebih ramah padaku, meski hanya sebagian.

"Sekarang apalagi?" tanyaku pada Saga dipertemuan kami selanjutnya.

"Kamu harus dapet nilai bagus di ulangan matematika minggu depan"

"How did you know?" tanyaku lagi, masih dengan tatapan heran.

"Ada pengumumannya Lan di mading sekolah" ujar Saga lagi memperlihatkan kertas yang mengumumkan bahwa akan diadakan ulangan matematika di beberapa kelas, termasuk kelasku.

Saga kembali membantuku belajar beberapa hari ini. Dan benar saja, begitu nilai ulangan dimumkan, meski tidak mendapatkan nilai seratus sempurna, namun aku menjadi salah satu murid yang masuk lima besar nilai tertinggi di kelas.

Dan salah satu usahaku ini kembali membawa dampak positif pada beberapa teman-teman dikelasku. Bahkan beberapa ada yang mulai tidak lagi menjauh saat aku datang mendekatinya.

***

Tiga bulan berlalu begitu saja, aku berhasil mendapatkan peringkat ketiga di kelasku, aku berhasil menjadi salah satu anggota divisi kesehatan di OSIS, dan akupun berhasil menjadi perwakilan sekolah dalam lomba seni menggambar tingkat nasional.

Cacian, hinaan, hingga kejahilan-kejahilan yang dulu sering sekali aku terima, perlahan mulai tidak pernah lagi aku dapatkan. Bahkan kini, aku dapat dengan bebas memilih tempat dudukku tanpa harus terus duduk di kursi pojokan itu.

Ucapan Saga semua hampir terbukti benar. Menaruh kebencian pada setiap kebencian yang kita dapatkan ternyata memang tidak akan pernah menyelesaikan masalah pembuliian.

Saga harus pindah sekolah satu bulan yang lalu ke kota lain. Tentu saja aku sedih karena harus kehilangan teman yang akhirnya bisa merubah kehidupan kelamku dulu.

Namun kami berdua sama-sama berjanji, kalau kami akan bertemu kelak saat kami telah sukses nanti. Aku pun berjanji untuk terus menjadi kuat, dan tidak lagi menjadi seorang pencundang yang hanya pasrah saat orang-orang menginjak-injakku.