Bingung, Antara Harapan Dan Perpisahan

Bingung, Antara Harapan Dan Perpisahan

INIKECE - Hari ini hari pertama ia dibawa ke rumah sakit. Namanya Jonquil, seorang gadis cilik penderita pneumonia. Usianya baru menginjak delapan tahun, tetapi dia sudah sering bolak-balik rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang lemah. Dan hari ini adalah kali pertama ia dirawat inap di rumah sakit ini.

Keluarganya sangat sibuk. Tidak ada yang berjaga di rumah sakit ini selain para suster. Selebihnya, gadis itu sendirian, aku adalah satu-satunya teman di kamar inap ini.

"Aster." Gadis itu memanggilku, "Menurutmu aku bisa sembuh?"

Aku mengangguk mengiyakan. Tentu saja, tidak ada yang tak dapat disembuhkan di rumah sakit ini. Semua orang yang masuk ke rumah sakit ini pastilah sembuh, setidaknya jika mereka punya kemauan untuk sembuh.

"Tentu saja," Sukster Nina mendahuluiku menjawab, "Minum obatmu dulu ya?" Suster itu memberikan beberapa butir obat untuk diminum. Jonquil mengangguk patuh, menelan beberapa butir obat yang katanya antibiotik lalu meminum segelas air putih setelahnya.

Jonquil itu anak yang baik, dia lemah lembut serta penurut, tidak pernah sekali pun aku melihatnya merengek atau berteriak dan menangis seperti anak-anak lainnya. Ia juga sering membawakanku banyak cerita. Dia tahu aku begitu kesepian di ruangan kosong bernuansa putih ini. Gadis kecil itu sangat baik, itu yang membuatku senang berteman dengannya.

Pada pagi hari aku melihat Jonquil dari jendela rumah sakit. Ia akan berjalan-jalan bersama Suster Nina dan terkadang perawat lain jika fisiknya sedang baik. Rumah sakit ini punya taman khusus untuk para pasien, sehingga mereka bisa berjemur dan menghirup udara yang segar. Aku juga setiap pagi menikmati matahari pagi, bedanya aku hanya bisa merasakannya melalui jendela kamar.

Sedangkan pada siang hari Jonquil akan lebih sering diam di kamar dan menggambar, sesekali berbincang denganku. Aku hanya memberi respon seadanya. Bagiku, mendengar celotehan Jonquil lebih menyenangkan ketimbang berbicara. Setelah dia puas bercerita tentang harinya, ia akan tidur siang.

Dan di sore menjelang malam hari, adalah waktu dimana rumah sakit sedang dalam masa paling ramai. Banyak pasien dan pengunjung berlalu-lalang di lorong rumah sakit. Ada pula perawat yang berlarian sibuk. Saat itulah Jonquil akan duduk di depan kamarnya, menyapa beberapa pasien sepantaran dirinya yang sama-sama jarang dikunjungi keluarga, atau bercengkerama dengan orangtua yang penasaran kenapa anak sekecil dirinya bisa sendirian di rumah sakit.

Salah satu pasien kesukaan Jonquil adalah William, penghuni kamar sebelah. Anak laki-laki itu berusia sepuluh tahun, dua tahun lebih tua dibanding Jonquil. Mereka sama-sama menderita pneumonia. Anak itu senang bercerita bersama Jonquil, dan Jonquil akan menceritakannya padaku apa yang dibicarakannya dengan William.

Mereka sering berbicara tenang mimpi, dan apa yang akan mereka lakukan jika keluar dari rumah sakit. Dapat dilihat dari caranya berbicara, bahwa Jonquil sangat menaruh afeksi pada anak-anak laki-laki itu. Ia pernah berkata bahwa ia ingin sembuh bersama dengan William, meski mungkin itu berarti mereka tidak akan bisa bertemu lagi. Setiap malam, pembicaraan kami tak pernah luput dari sosok William.

Tapi, belakangan ini berbeda, Jonquil hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur, dengan alat bantu pernapasan terpasang di hidungnya. Wajahnya sangat pucar, dan tatapan yang biasanya sehangat mentari berubah kelabu. Aku sangat khawatir, terlebih Jonquil yang menolak makan apapun dari para perawat.

"Orangtua William datang ke kamarnya hampir setiap hari," cerita Jonquil padaku suatu hari. "Aku terkadang sampai iri. Ibu dna ayahnya terlihat sangat baik, sangat berbeda dengan mama dan papaku," Dia berbatuk-batuk, sangat keras hingga aku terkejut.

"Tapi kata William, aku nggak boleh iri padanya, karena katanya orangtuanku juga pasti menyayangiku. Kalau mereka tidak sayang padaku, tidak mungkin ada kamu."

Aku hanya terdiam, berusaha mencerna ucapan Jonquil. Tapi sedetik kemudian gadis itu sudah mulai berceloteh lagi. "Dia juga bilang, aku beruntung karena aku punya kamu di sini Aster." Dan malam itu, seperti biasa Jonquil membicarakan tentang William dan mimpi-mimpinya.

Sejujurnya, aku sudah mengantuk. Hari sudah berangsur tengah malam, tapi Jonquil masih senang bercerita. Aku tidak ingat sejak kapan aku membiarkan diriku terlena oleh rasa kantuk, meninggalkan Jonquil sendirian di tengah cerita-ceritanya. Kuharap dia mau memaafkanku ketika aku bangun besok.

Nyatanya, aku salah. Keesokan paginya, rumah sakit mendadak gempar. Jonquil sesak napas, jantungnya terhenti. Aku bisa mendengar suara bersahut-sahutan di kamar tempat kami berada, dan dokter-dokter yang berusaha menyelamatkan Jonquil dengan menggunakan alat pacu jantung. Aku bisa melihat tempat tidur Jonquil ditarik menjauh dariku, dan menghilang dari padangan.

Tidak lama, Suster Nina datang mendekatiku sambil menangis. "Jonquil sudah tidak ada," katanya. Aku menunduk, sangat dalam sekali hingga kepalaku dapat menyentuh ujung vas bunga tempatku diletakkan.

Suster Nina mengangatku, mengelus kepolak-kelopak putihku dengan jemarinya. Aku mengangguk mengiyakan, mungkin Sukster Nina tidak dapat melihatnya. "Terima kasih, karena sudah menjaga dan memberi harapan untuk Jonquil."

Namaku Aster, dan aku adalah bunga pemberi harapan, juga salam perpisahan.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment