Cerita Menarik, Wajah Dalam Cermin

Cerita Menarik, Wajah Dalam Cermin

INIKECE - Binar Bening mata itu mengerjap-ngerjap. Ribuan bintang seolah berkumpul membentuk gugusan paling terang di mata itu. Aku memandangnya takjub. Apalagi ketika bibir mungil itu merekah, membentuk bulan sabit yang indah di wajah putihnya yang kemerah-merahan.

Pipi montok itu seperti menggelembung, menenggelamkan hidungnya yang tak begitu mancung. Bukan, senyum itu bukan ditujukan untukku, tapi untuk Ameera, ibunya, yang begitu cekatan membersihkan pub-nya. Membuat aku beberapa kali mengusap hidup. Mengusir aroma yang tercium kurang sedap.

Sekian menit mengamati wajah Celia sambil membungkuk membuat punggungku lelah juga. Kutegakkan tubuhku. Menarik langkah surut ke belakang. Duduk di sofa dekat jendela. Memandangi anak dan ibu yang saling menggoda. 

Dunia di dalam kamar berwarna pastel ini seakan milik mereka berdua. Sesekali Ameera mencubit lembut pipi Celia dengan gemas. Celia tergelak-gelak riang. Suara tawanya memecah siang.

"Kamu tidak menyesal Ameera?" tanyaku, untuk pertama kali, setelah beberapa menit berada di ruangan ini. Ameera melepas pandangannya dari wajah Celia. Melirik ke arahku sesaat. Kedua alisnya terangkat.

"Menyesal kenapa apa?" tanyanya.

"Resign dari pekerjaanmu di kantor, demifull time mengurus Celia." Ameera tersenyum matanya kembali tertuju pada Celia.

"Jelaskan padaku, apa ada yang lebih nikmat daripada menatap wajah imut ini tiap saat?"

"Aku yakin, kamu pasti rindu dengan meeting-meeting panjang itu," kataku.

"Ya...tidak kupungkiri." kedua bahu Ameera sedikit terangkat. "Sesekali perasaan itu memang muncul. Tapi, hidup adalah pilihan, Nadine. Dan, untuk saat ini, aku memilih untuk menghabiskan hari-hariku bersama Celia."

"Banyak wanita yang bisa menjalankan peran keduanya. Tetap bekerja dan memberi kasih sayang utuh kepada anak-anak mereka dengan bantuan baby sitter.

Ya..Walau kutahu, mencari baby sitter yang andal dan dapat dipercaya saat ini bukanlah perkara gampang. Baru dua minggu yang lalu kulihat di televesi, seorang baby sitter memperlakukan anak asuhnya dengan tidak manusiawi, di saat kedua orang tuanya tidak di rumah. Yang paling sadis dan sedang marak terjadi adalah kasus penculikan anak yang dilakukan oleh pengasuhnya sendiri.

Tapi kalau kamu mau aku bisa membantu, Ameera. Salah seorang tetanggaku adalah agen penyalur asisten rumah tangga dan pengasuh anak. Selama ini belum pernah kudengar dia bermasalah."

"Ini hanya masalah waktu, Nadine. Banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dulang." Ameera diam sesaat. "Aku tidak ingin kehilangan momen perkembangan Celia tiap detiknya. Mendengar tangis dan tawanya. Menemukan Celia sudah bisa membalikkan badan dan mengangkat kepala. Itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan dibayar dengan apa pun juga.


Lagi pula, yang namanya bekerja, kan tidak harus di kantor. Aku masih bisa berkaya dari rumah menjadi penulis lepas seperti cita-citaku sejak dulu. Yang terpenting, aku tetap bisa mengurus Celia dengan tanganku sendiri, sampai dia tumbuh dewasa dan mandiri. Dan kamu tahu, Nadine," Ameera mengubah posisi tubuhnya sedikit miring ke kanan. Menghadap ke arahku.

"Sekarang aku benar-benar tidak sabar menunggu saat pertama kali Celia memanggilku Mama."

Aku tercenung. Sebegitu bersakah cinta Ameera kepada Celia? Bayi malang yang ditemukan petugas kebersihan di dalam sebuah kardus, di dalam kamar mandi sebuah pom besin, di dekat kantorku, enam bulan yang lalu. Dan langsung menjadi viral setelah seseorang mengunggah fotonya di media sosial.

Tujuh tahun, ya..selama waktu itu Ameera dan Dito, suaminya, menghabiskan waktu untuk mengunjungi dokter kandungan yang direkomendasikan beberapa teman. Berbagai obat dari resep dokter sampai ramuan tradisional tak bosan ditelannya.
Inseminasi juga sudah beberapa kali dilakukan, hingga akhirnya memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung. Namun, anak yang mereka idam-idamkan belum mau juga mendiami rahim Ameera.

"Tetapi, kenapa Celia?" Berulang kali kutanyakan hal itu kepada Ameera, saat ia mengutarakan keinginannya untuk mengadopsi Celia, sehari setelah Ameera memintaku untuk menemainya melihat bayi malang itu di puskesmas yang menampungnya sementara waktu. Membuatku nyaris tersedak sepotong brokoli, menu makan siangku, waktu itu.

Bobot Celia waktu itu tidak lebih dari dua kilogram, dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Ada sedikit masalah di bagian jantungnya, mungkin akibat obat penggugur kandungan yang dikonsumsi ibu kandungnya yang tidak menginginkan kehadirannya di dunia ini. Dan hingga kini masih belum diketahui keberadaannya.

"Love at the first sight!" begitu yang diucapkan Ameera, saat kuingatkan, masih banyak bayi yang bisa diadopsinya di panti asuhan dengan kondisi yang lebih baik, dan tentu saja tidak akan menyusahkannya.

"Aku rasa kami sudah berjodoh. Dito juga setuju," jelas Ameera lagi waktu itu. "Aku jatuh cinta kepadanya, seperti aku jatuh cinta pada wafel, aroma tanah basah, dan Dito suamiku. Simpel."

***

Aku benar-benar tak dapat memahami jalan pikiran Ameera saat itu, walau aku telah menghabiskan hampir sepertiga umurku hidup bersamanya. Sejak kami sama-sama merantau dari Kota Medan ke Ibukota untuk kuliah dan memutuskan berbagai kamar di kos yang padat penduduk. Hingga akhirnya kami diterima bekerja di perusahaan yang sama, kemudian pindah ke sebuah apartemen di jantung ibu kota.

Aku dan Ameera seperti sepasang cermin yang saling dihadapkan. Menderu dengan semangat yang sama. Saling mendukung dalam tiap kesempatan. Tanpa pernah saling iri. Membuat kami berdua melaju dengan cepat menduduki jabatan yang bergengsi di kantor, di bidang kami masing-masing. Hanya satu hal yang membuat kami berbeda pandangan. Anak! Di bagian itu, kami selalu berpisah jalan.

Usai prosesi pernikahan adat Batak yang panjang, Ameera dan Dito telah merancang keinginan untuk secepatnya memiliki keturunan. Aku masih ingat benar saat melepas Ameera dan Dito untuk berbulan madu ke Pulau Samosir. Dengan wajah tak sabar dan setengah berbisik Ameera menggodaku, untuk bersiap-siap di panggil 'Tante' sepulangnya mereka dari pulau vulkanik di tengah Danau Toba itu. Walau keinginan itu tidak juga terwujud hingga detik ini.

Sementara aku dan Ken, yang menyusul Ameera dan Dito menikah empat tahun kemudian, justru sepakat untuk menunda memiliki keturunan. Dengan alasan, agenda pekerjaan masing-masing yang masih padat. Walau dokter telah memastikan aku dan Ken dalam kondisi sehat untuk memiliki keturunan. Untuk kesamaan visi dan misi berumah tangga itu, mungkin aku dan Ken berjodoh.

Kualihkan pandangan. Menatap ke luar jendela. Hujan masih belum lelah juga mengencani siang.

"Kamu masih menggunakan alat kontrasepsi itu, Nadine?"

Pertanyaan Ameera membawa mataku kembali berpijak pada wajahnya. Kemudian aku mengangguk pelan.

"Sampai kapan?"

Aku mengedikkan bahu." Sampai aku dan Ken benar-benar siap."

"Tiga tahun, Nadine!" ucap Ameera, seperti menginatkan. "Tidak ada waktu yang tepat kalau kamu tidak memulainya! Anak adalah pengikat. Membuat hubungan suami-istri makin erat.

"Huh..." kuembuskan napas. Ya, tiga sudah kulewati hidup berumah tangga bersama Ken. Lelaki pekerja keras yang tak banyak menuntut. Tak pernah sekali pun Ken ribu, jika aku tidak sempat menyiapkan kopi atau sarapan. Bahkan, jika terpaksa pulang larut malam karena meeting dengan klien penting yang sulit diberi pengertian.

Begitupun aku, tak pernah mengadu kepadanya, jika keran air dirumah bocor, atau mobil yang tiba-tiba ngadat di jalan. Hidup yang kami jalani adalah sebuah rutinitas dalam keteraturan.

Tiap hari, dimulai dengan ucapan selamat pagi, mengecek agenda sambil menikmati menu sarapan, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil masing-masing. Bertemu kembali di malam hari, merebahkan tubuh di kasur dengan membawa kepenatan masing-masing tanpa banyak bicara.

Hanya ucapan selamat tidur yang terdengar, atau sesekali mengakhiri malam dengan bercinta. Ada kalanya aku berpikir, kami seperti dua orang asing yang terperangkap di satu atap. Kemandirian masing-masing membuat kami makin berjarak. Bahkan, akhir-akhir ini Ken makin jarang di rumah. Mengurusi proyek-proyeknya di luar kota yang makin berkembang.

Kuamati penampilan Ameera dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kulit mulus Ameera yang biasa menggunakan setelan blazer kini hanya dibalut terusan biru terang. Sementara rambut ikalnya yang biasa tergerai sebahu dijepit ke balakang sebagian meluruh jatuh menutupi tengkuknya yang berpeluh. Tanpa riasan, apalagi cat kuku.
Tapi...aura itu, kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya, membuat Ameera terlihat begitu cantik dan berkilau.

"Apakah kamu bahagia, Ameera?" kucoba bertanya untuk meyakinkan penglihatanku.

"Sangat...," tanpa ragu Ameera menjawab. Mengangkat Cella yang telah rapi dan berganti popok baru, masuk ke dalam kedapannya. "Kamu sendiri?"

"Apa?" aku tergeragap.

"Apa kamu bahagia, Nadine?" Ameera balik bertanya.

"Menurutmu?"

Ameera melangkah ke arahku bersama Celia yang berlabuh dengan tenang di dadanya. Disambarnya sebuah cermin kecil berpigura plastik pink terang dari atas rak pakaian Celia. Ameera menyodorkan benda itu tepat di hadapanku.

"Nih, tanya sendiri pada wajah yang kamu lihat di cermin!"

Aku tercenung. Menarik cermin itu dari tangan Ameera. Menatap wajah yang kulihat di cermin. Wajahku sendiri. Tak ada cela di wajah itu. Sapuan make-up yang melapisi wajah dalam cermin itu membuatnya terlihat begitu sempurna. Alis yang melengkung dengan rapi. Hidung mancung. Bibir, walau tak sepenuh Angelina Jolie, tapi terlihat seksi. Namun, ada satu yang tak dapat berbohong di wajah itu, sepasang mata yang kesepian..menatap layu di cermin itu.

Triana Rahayu - Bogor
Reactions:

0 comments:

Post a Comment