Cerita Move On, Residu Jatuh Cinta

Cerita Move On, Residu Jatuh Cinta

INIKECE - "Bagaikan langit dan bumi, aku dan engkau selamanya takkan pernah, pernah bisa kan bersama, sadar ku siapa yang tak pantas untuk bersanding denganmu..."

Suara merdu penyanyi dangdut ternama Indonesia mengisi kekosongan sudut ruangan di salah satu mall Jakarta bagian Selatan siang itu. Lelaki dengan seragam abu-abu dengan garis merah di pinggir kiri-kanannya tersenyum miris mendengar tiap lirik dari lantunan lagu tersebut.

Benar kata orang bahwa dangdut seringkali identik dengan lirik yang dekat dengan masyarakat. Dan siang itu ia tertawa geli dalam hati karna merasa tersindir oleh lagu yang masih terus berputar itu diikuti dengan suara teman sekerjanya yang menyanyi dengan tampang sok dramatis.

"Bre, sebatang dulu yuk di bawah sebelom masuk," ajak temannya tersebut.

Faisal, laki-laki yang diajak tersebut sibuk merapikan rambutnya yang selalu terlihat rapih dengan pomade kesayangannya itu. "Males ah, mau langsung naik aja udah jam segini," ujarnya sambil menggerakkan kepala ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua siang.

Ya, begitulah aktivitas rutin yang dilakukan Faisal setiap pukul dua siang pada hari-hari biasa. Ia akan naik ke lantai paling atas mall untuk mengambil bak sampah alumunium berukuran besar lalu kemudian ia mengelilingi tiap toko di mall tersebut untuk mengambili sampah-sampah mereka. Sejak 2 tahun bekerja, pekerjaannya tidak pernah semenyenangkan sejak 6 bulan lalu. Ketika pagi itu ia bertemu seorang perempuan berambut sepundak dengan poni depan yang membuatnya semakin terlihat mungil.

Faisal masih ingat saat perempuan bernama Vania itu menanyakan dimana letak Your Favorite Cakes berada. Salah satu tenant yang berada di mall tersebut. Menjual aneka cup cakes dengan tampilan menarik dan dilengkapi dengan aneka kopi, es krim, dan minuman lainnya. Sejak itu pula ia tau bahwa Vania bekerja di sana.

Diam-diam Faisal sering memperhatikan Vania tiap kali ia sedang bertugas dilantai toko Vania bekerja. Bagaimana perempuan itu melayani pelanggan dengan senyum dan sapaannya yang ramah, tawa renyahnya saat mengobrol dengan rekan kerjanya, atau bahkan tatapan sedih perempuan itu kala dimarahi pelanggan karna melakukan kesalah.

Faisal tau bagaimana Vania melewati hari-harinya yang sulit, seperti saat ia harus tetap bekerja paruh waktu di Your Favorite Cakes bersamaan dengan menyelesaikan skripsinya, atasan yang tidak menyenangkan, atau bahkan keluhan tentang biaya wisuda yang mahal.

Ia sering mendengarkan cerita perempuan itu tiap kali mereka ada kesempatan untuk mengobrol walau hanya sebentar. Tapi, Faisal sadar diri dengan pekerjaannya sebagai petugas kebersihan mall yang seringkali membuatnya tidak cukup percaya diri untuk memiliki hubungan dengan perempuan mana pun apalagi Vania yang ia tau akan memiliki masa depan cerah.

Tapi di satu sisi, sejak bertemu Vania ia juga merasakan ada kepercayaan diri yang dengan tidak sopannya muncul ke permukaan. Vania tidak pernah memasang wajah risihnya tiap kali Faisal menyapa dengan senyum. Ia sangat ramah dan tidak terlihat enggan untuk bertukat cerita tiap Faisal datang untuk mengambil sampah atau sekedar membersihkan kaca Your Favorite Cakes.

Sesederhana itu untuk membuat Faisal semangat bekerja, seperti siang ini ketika ia bertemu lagi dengan Vania.

"Hai, Vania! Udah lama nggak keliatan, kemana aja?" tanya Faisal.

Perempuan dengan topi ala chef khas Yout Favorite Cakes itu tersenyum ramah sambil membawa beberapa tempat sampah untuk diberikan ke Faisal. "Padahal saya masuk terus loh, Mas. Tapi, setiap jam segini saya lagi break jadinya nggak ketemu deh kita," jawabnya kemudian tertawa. Tawa yang membuat hati Faisal bergemuruh dan akhirnya memberanikan diri untuk mengenal Vania lebih jauh.

Dengan ragu-ragu, Faisal menyodorkan smartphone-nya kepada Vania. "Van, saya boleh minta nomor kamu nggak?"

Vania mengerutkan alisnya, tersenyum kikuk. Ia sadar akan jadi berbeda jika sudah pada tahap bertukar nomor handphone. Tapi, Vania masih pada niat awalnya untuk tidak membuat laki-laki manapun merasa rendah diri oleh penolakannya dalam bentu apapun.

Melihat sinyal kebingungan di wajah Vania, laki-laki itu urung untuk memaksa. Hanya ada dua kemungkinan dalam benak Faisal. Apakah Vania enggan untuk mengenalnya lebih jauh karna status pekerjaan Faisal, ataukah karna ia harus menjaga hati yang lain.
"Yah, udah ada pacar, ya Van? Nggak usah deh kalo gitu," ujar Faisal dengan nada kecewa.

Seketika Vania langsung mengambil handphone Faisal dan mengetikkan 12 angka.
"Siapa tau aku butuh bantuan Mas Faisal suatu saat," ucap Vania sambil berlalu untuk menghampiri pelanggannya. Dan, entah kenapa Faisal tidak bisa berhenti tersenyum hingga hari-hari berikutnya.

***

Sinar matahari sore menyoroti meja rumah makan ayam bakar di sekitar mall tersebut. Sore itu Vania mengiyakan ajakan Faisal untuk istirahat bersama. Mereka banyak membicarakan tentang pekerjaan, dan hal-hal ringan lainnya. Setiap berhasil membuat Vania tertawa, Faisal merasa menjadi laki-laki paling senang se-Jakarta Selatan, jika sedunia terlalu berlebihan untuk menggambarkannya.

"Tau nggak Van? Tiap cewek yang tau kalo saya kerjaannya cuma bersihin mall pasti mereka langsung mundur. Boro-boro diajak makan, baru saya senyumin aja udah melengos," ujar Faisal yang membuat Vania terkekeh miris.

"Yakin banget emang itu karna pekerjaan Mas Faisal? Bisa jadi karena mereka udah punya pacar, kan."

"Beberapa sih iya, tapi saya emang sadar diri. Cowok nggak punya apa-apa gini kayak saya mana bisa ngehidupin anak orang dengan gaya mewah-mewahan."

Vania menarik napas. Ia sedih melihat tatapan tidak percaya diri laki-laki di depannya itu. Sambil mengaduk es teh manis di gelasnya, Vania berujar, "Ternyata kita itu kayak cup cakes di toko saya ya Mas. Ketika orang liat luarnya masih dibungkus pakai brand ternama pasti nggak akan curiga soal rasa dan harga berapapun mereka beli karena udah percaya.

Padahal, kalo kue itu aku buka bungkusnya dan ditaruh di antara kue-kue nggak bermerk lainnya kemungkinan mereka nggak akan tertarik untuk beli walau harganya murah.

Faisal tersenyum, mengangguk setuju. "Ini maksudnya ibarat saya kalo lagi pake seragam kerja gini versus laki-laki berkemeja rapih kan?"

Vania tertawa sambil mengangguk. "Harusnya perempuan termasuk saya lebih menghargai kerja keras seorang laki-laki dibanding hanya men-judge pekerjaan mereka. Nggak ada pekerjaan yang rendah selama halal kan? Siapa tau suata hari nanti Mas Faisal bisa dapet kerjaan yang lebih baik," ujar Vania menyemangati.

"Saya bakal cari kerjaan yang lebih baik kok, Van. Buat nikahin kamu," gurau Faisal.

Seketika pipi Vania memerah, "Kok aku Mas?"

"Lah, kamu nggak mau?" Faisal pura-pura memasang wajah patah pati.

"Hehee, aku masih punya banyak hal yang mau diraih, Mas."

Laki-laki itu tertawa mendengar respons Vania. Padahal dia hanya menggoda saja, tapi Vania terlihat serius menanggapi. Eh, tapi, boleh deh gue doain dulu biar dia beneran jadi istri gue. Faisal membatin.

Mata perempuan itu selalu terlihat berbinar tiap kali membicarakan sesuatu. Seolah tanpa harus diutarakan pun, Faisal tau apa yang tengah Vania rasakan. Dada Faisal mendesir mendengar ucapan Vania tadi. Apakah baru saja ia diberi tanda? Atau dia yang terlalu cepat menyimpulkan?

Ternyata jawabannya lebih cepat dari ia sangka. Hari itu, tanpa hujan deras ataupun kilatan petir, Vania menjungkir balikkan perasaannya hanya dalam satu hari.


***

Sudah hampir seminggu Vania tidak bertemu Faisal sejak hari itu, mereka membicarakan banyak hal. Ia bingung kenapa Faisal tidak lagi ke Your Favorite Cakes setiap jam dua siang yang kini malah digantikan oleh orang lain. Tapi, Vania tidak cukup berani untuk bertanya keberadaan Faisal. Padahal, ia ingin menyampaikan sesuatu hal pada laki-laki itu.

Vania memutuskan untuk menunggu di lobby saat pertama kali mereka bertemu. Ia berharap laki-laki itu lewat tapi bahkan sampai hampir jam operasional mall berakhir dia tidak bertemu Faisal. Ketika salah satu laki-laki berseragam sama dengan Faisal melewatinya, ia menghentikan langkah orang tersebut secara terpaksa.

"Bang, maaf nih, tau nggak Mas Faisal ada dimana? Kenal kan sama Mas Faisal? Kenal dong pasti?" cecar Vania. Ia melihat sekilas kartu nama yang tergantung di kantong seragam laki-laki bernama Firman tersebut.

Ia terlihat sedang mencoba mengingat sesuatu. "Oh, Ical maksudnya ya, Neng?"

Kini, Vania yang kebingungan. "Hm, iya kali ya? Mungkin itu nama tongkrongan ya? Hehe.." ucap Vania tak yakin sambil terkekeh.

"Oooh, jadi ini yang bikin Ical uring-uringan. Mana segala minta ganti jobdesk," sahutnya dengan ekspresi berhasil menyelesaikan teka-teki.

Vania merasa tamabah bingung. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan laki-laki itu. "Hah? Gimana Bang maksudnya?"

"Yaelah, sekarang mana ada nih ya orang yang dorong-dorong bak sampah segede gaban tapi mukanya hepi bener kayak ngendarain Lamborghini. Udah ketebak banget dia ngincer anak sini. Benar aja kan ternyata," lanjutnya lagi.

"Bang, bisa nggak kasih tau aja Mas Faisalnya dimana? Saya juga ada yang mau dibicarain penting sama dia," Vania mendesak tidak sabar.

"Tungguin aja di sini, paling 30 menitan lagi bocahnya lewat. Ngomong-ngomong, gue sobatnya Ical nih, agak kecewa dituduh nggak kenal sahabat sendiri." Setelah Vania berterima kasih, Firman melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Dan sampai pukul setendah dua belas malam, Vani amasih belum tertemu Faisal.

***

Beberapa lampu utama sekitar lobby mall sudah padam, menghasilkan beberapa lorong terlihat cukup gelap. Faisal baru saja menyelesaikan pekerjaannya, hendak pulang ketika melihat perempuan mungil yang ia hindari belakangan ini tengah terduduk dengan sebuah box bertulisan Your Favorite Cakes di atas pangkuannya.

Perempuan itu sepertinya mendengar derap langkah karna ia langsung menoleh kearah Faisal berdiri saat ini. "Hai, Mas!" ucap Vania kikuk.

"Kenapa belum pulang? Mall udah gelap banget gini, ngapain kamu?" ujar Faisal yang gagal menyembunyikan kekhawatirannya.

Vania bingung ingin memulai darimana. Susunan kata yang sudah ia rangkai tiba-tiba lenyap dala  sekejap begitu berhadapan dengan Faisal.

"Aku nungguin Mas Faisal daritadi, ada yang mau diomongin. Lagian kenapa Mas nggak pernah lagi ke toko belakangan ini? Ketemu juga enggak.'

"Saya udah nggak megang jobdesk itu lagi," ucap Faisal cuek.

Vania masih bergeming sampai Faisal membuka suara.

"Kamu kenapa nggak jujur dari awal kalo kamu udah punya pacar?"

Seperti dugaan laki-laki itu, Vania terkejut. Pasti dalam pikirannya adalah darimana Faisal tau? Faisal menggelengkan kepalanya. Ia bahkan masih merasakan sakitnya ketika melihat Vania memeluk erat laki-laki yang tengah memboncenginya itu. Di hari yang sama saat mereka menghabiskan sore bersama.

"Kirain kamu tuh nggak kayak perempuan lain, Van. Tapi, kamu ngecewain saya. Buat apa coba kata-kata manis kamu waktu itu? Buat bikin saya berharap?"

"Iya aku salah, tapi aku nggak berniat jadiin Mas Faisal sebagai selingkuhan. Aku cuman nggak mau Mas Faisal terus-terusan ngerasa rendah diri. Aku mau Mas Faisal tuh bisa ngehargain diri sendiri. Itu aja Mas, nggak ada niatan lain."

Kini, penjelasan apapun dari Vania hanya terdengar sebagai omong kosong di telinga Faisal. "Udah nggak apa-apa, saya cuma perlu waktu buat lupain kamu, dan tolong bantu untuk nggak nemuin sya dulu."

Air mata Vania menggenang, ia memberikan box yang sejak tadi ia bawa kepada Faisal. Laki-laki itu sebetulnya enggan menerima, tapi melihat Vania menangis rasanya ia ingin sekali memeluknya walaupun dalam hati ia masih sangat kecewa.

"Nggak perlu kasih sogokan begini juga saya maafin kok," ujar Faisal.

"Ambil aja, hari ini aku terakhir kerja disini Mas, kalau sesuai rencana bulan September aku wisuda, jadi perlu konsentrasi penuh nggak bisa sambil part time." Vania menyeka air matanya.

"Aku senang bisa ketemu orang setulus Mas Faisal. Aku berharap Mas Faisal bisa bahagia dan belajar untuk mengapresiasi diri sendiri. Karena gimana orang lain bisa mencintai Mas Faisal kalo kamu-nya sendiri nggak bisa. Dari awal aku tau Mas Faisal pasti bakal salah mengartikan. Tapi, kalau hari itu aku nolak untuk kenal Mas Faisal lebih jauh, mungkin Mas Faisal nggak akan punya keberanaian lagi buat coba ke perempuan lain. Mas Faisal pantas kok untuk diperjuangin," Faisal termenung, memandangi punggung Vania yang perlahan menjauh.

Faisal mengehla napas. Perempuan di depannya benar-benar memenuhi syarat untuk move on versi Faisal yaitu pertama 'jarak'. Kini, tinggal waktu dan orang baru. Dua hal yang tak yakin akan ia dapatkan dengan mudah setelah ia melewatkan perempuan seperti Vania.

Tentang Penulis :

Honeymilk merupakan mahasiswa berumur 19 tahun di Universitas Negeri Jakarta dengan cita-cita menjadi seorang guru yang juga novelis. Senang menyalurkan imajinasinya dalam sebuah cerita yang terinspirasi lewat kejadian sehari-hari yang dekat dengan aktivitasnya. Bertempat tinggal di Jakarta, dan menghabiskan sis waktu dengan part time disalah satu restaurant Italia di daerah Kemang.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment