Pada Lembayungku Ada Cinta

Pada Lembayungku Ada Cinta

INIKECE - Aku lembayung. Tak akan pernah kamu temui aku jika pagi menjelang atau malam temaram. 

Aku Lembayung. Terawanglah langit ketika matahari mulai pongah bersinar karena seharian dia dihadapkan pada keangkuhannya sendiri. Ingin melepas jasanya memberi sinar terang dunia, namun seperti belum rela kalau tiba-tiba harus berpindah dan pergi.

Bila bayu mengingatkan dirinya untuk segera pergi, raja siang itu seolah memberikan jejak yang ia inginkan selalu diingat. Jejak yang dicecerkan memanjang, menyemprotkan warna tak jelas, tetapi kemudian diberi kekaguman oleh burung dan pepohonan yang memandang. Mereka inilah yang belakang hari memberikan nama Lembayung, namaku.

Kadang ketika musim penghujan, warnaku yang katanya indah itu tak akan pernah terlihat mata. Mendung menggantung memaksa pancaran cahaya yang terkadang berpendar membentuk elips panjang menjadi muram tak berseri. Seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen lolipop oleh mamanya, keindahanku bersedu sedang, merunduk masuk ke dalam, tanpa peduli kalau masih ada manusia pengagumku yang mengharap aku bisa tersenyum senang.

Bicara tentang pengagum, kemarin ini aku menemukan seorang perempuan muda sedang memandangku tanpa berkedip. Terkadang senyumanya begitu memanjang, menghadirkan lesung pipi di kedua pipinya. Terkadang pula matanya kosong memandangku, seolah tak ada obyek yang mampu mengedipkan matanya barang sedetik.

Pernah kucoba menegurnya, mengapa ia seolah bermuram durja. Bukannya dijawab, ia malah membelai pipiku lembut.

"Kamu indah, Lembayung," begitu katanya pelan masih dengan tatapan matanya yang kosong. Sentuhannya tidak hanya mengulas bagian mukaku, tetapi ia juga membelai kepala bahkan leherku yang pendek. 

Sempatku terkaget karena seperti ada aliran listrik menyenangkan menjalar ke seluruh tubuh begitu sentuhannya mengenai bagian sensitifku dan ini berakibat cahayaku laksana lebih terang sebentar, menyengatkan mata yang tak sengaja menangkapnya.

Sentuhan gadis itu tak berhenti meleraikan keangkuhanku yang terkadang memang muncul. Kunikmati sampai berasa nikmat menyeluruh. Hingga ketika tangannya hampir menyentuh bawah, gadis itu cepat-cepat menarik sentuhannya tadi.

"Kenapa?" tanyaku penasaran.

"Kamu sudah membiarkan ku terluka."

"Luka di mana? Bukankah kau baik-baik saja?"

"Akus akit, Lembayung, Sakit karenamu." Tiba-tiba saja, gadis itu membuka kemejanya. Disna kulihat pemandangan yang menyembulkan kesedihanku.

Tepat di bagian dadanya, ada semacam luka basah yang pinggirnya separoh kering. Luka itu telah menyentuh hati. Kupikir kalau terkena sang raja mentari yang bisa menembus pakaiannya, luka itu pasti akan terasa pedih. Pelan-pelan ku coba sentuh luka itu. Tapi, segera tangan gadis itu menepisnya. Kali ini berbarengan dengan mukanya yang berang.

"Jangan sentuh lukaku!" Ia segera menutu kembali dadanya dengan kemeja coklat tuanya. Gerakannya terburu-buru seolah tidak ingin aku punya kesempatan mengitip sebentar lagi saja. Padahal aku ingin sekali boleh memberi sedikit kehangatan di lukanya itu. Salah satu campuran dari warna lembayungku adalah komposisi warna yang mampu memberi kehangatan bak teh hangat di saat kehujanan deras di malam hari nan dingin. Kehangatan itu aku yakin mampu menggairahkan jejak-jejak harapan yang mungkin masih tertinggal di dadanya. Namun, gadis itu terlalu berhati-hati dan tidak peduli. Ya sudah

"Jangan pernah menyentuh lukaku, Lembayung," ujarnya lagi. Kali ini nadanya geram, tetapi lebih lembut sedikit. Kalau dalam aliran musik, nada gadis itu memarahiku seperti nada decrescendo = berangsur-angsur lembut. Aku jadi menikmatinya. Ini musik yang lain dari yang lain.

"keangkuhanmu telah memunculkan luka itu menganga lebar. Kamu telah menjadikan hatiku kronis, nyaris tak tertolong."

"Apakah sungguh karenaku?"

"Tidak semua. Bayu di musim kemarau penyebab pertama. Hembusannya yang membawa debu dan kerikil, meletup-letupnya hatiku yang masih bersih suci. Awalnya aku biarkan. Hembusannya itu lebih menyenangkan. Tapi, lama-lama, ia membuat membuat borok yang tak tertahan tiap malam aku erang."

"Lalu kau datang. Saat air mataku tak tertahan tercurah, jinggamu mengusapnya. Saat bibirku selalu terkatup rapat, jinggamu memaksaku tersenyum lebar. Amar lebar, aku sampai lupa, ada borok yang harus kuganti perbannya. Akibatnya, aku biarkan saja borok itu menganga karena pada akhirnya, salah satu bagian warnamu sedikit mengeringkannya."

"Tapi..., ketika siang malam kusetujui anganku memikirkan dirimu, kau menjauh. Tanpa alasan, tanpa penjelasan. Kucoba pahami, nyatanya kau makin ingkari. Aku lelah, Lembayung. Sangat lelah, keperkasaanmu membikin hatiku tak jadi menyembuh malah memunculkan luka baru. Luka baru yang sepeti kau lihat barusan tadi,"

Kudengar segala umpatan kalimat sang gadis, pemujaku ini.

Harus kuakui, ia memang pernah menerbitkan rasa ingin lekatku lebih dalam. Di penampilannya yang bersahaja, ada bagian dalam diriku seperti tergolek lemas, pasrah. Melintas kelelahanku mengingat sekian lama kuberikan segenap yang kupunya pada alam dan dunia, namun kepadanya, apa yang kuberikan itu seperti kembali arah. Tanpa berkurang, bahkan berlebih. Gadis ini telah menyempurnakan jinggaku hingga luar biasa berpendar. Kata matahari, sebelum ia kembali ke dalam kerajaannya dan memberikan tahtanya bagi sang ratu bulan, saat itu sinaran jinggaku menguatkan senandung alam raya yang pernah bersedih. Beribu anak bangsa seperti bergairah sukma membawa tanah airnya mencapai puncak suka. Bahkan mahluk lain yang serupa harus mengakui saat itu adalah saat yang paling berkesan. Warna jinggaku sungguh membawa tampilan baru nan menyegarkan.

Semua itu karena perempuan muda yang kini bersimpuh seolah mengurai kesedihannya. Kucoba lagi sentuh lengannya.

Ternyata ia diam saja meski tak bergerak sesenti.

'Gadis, maafkan aku," suaraku berusaha tenang, tak terbawa emosi, "Tak pernah ku bermaksud menyuilkan lukamu lalu membentuk yang baru. Jika aku perkasa sepertimu, itu karenamu, Dis. Jika jinggaku bisa mengusap air mata dan memanjangkan senyummu, karena sebelumnya kau telah melakukannya untukku. Kehadiranmu membikin semua yang ada pada diriku semakin nyata, Gadis."

"Lalu, kenapa kau tega membiarkanku begini?"

Ah, Gadis...

Bagaimana mungkin aku harus berkata jujur padamu?

Dapatkah aku tega membiarkan hatimu semakin tertikam pisau kenyataan hidupku?

"Lebih baik aku pergi saja dari hadapanmu, Lembayung. Pergi jauh. Tak perlu kau cari aku," tiba-tiba sang gadis beranjak membereskan perkakasnya lalu pergi begitu saja. Aku yang masih terkaget, tak bertenaga buat sekadar menangkap tangannya agar ia jangan beranjak pergi dulu. Mulutku cuma bisa terbuka penuh penyesalan sementara mataku terbelalak tak percaya pada diriku sendiri. Begitu angkuhkah diriku ini?

Aku Lembayung.

Tak akan pernah kau temui aku jika pagi menjelang atau malam temaram.

Aku Lembayung.

Kini sedang berumuram durja. Pelangi temanku atau langit membias biru tak mampu lagi membangkitkan keceriaan yang kutahu menjadi salah satu berkat yang harus kubagi pada seluruh jajaran jagat.

Tinggal mendung menggantung yang terkekeh di sudut sana. Ia sepertinya siap, sangat siap menutupi warna jinggaku dengan jubah kebesarannya. Mungkin pikirnya, tak kan ada lagi yang mengumpat karena ia menutupi keindahan warnaku. Toh, ditutup atau tidak jinggaku telah memburam, tak bercahaya.

Tapi, biar begitu, tak kan kuijinkan dia melakukannya.

Tahtaku masih miliku. Seutuhnya.

Bila perlu akan kupanggilkan burung-burung berkicau merdu agar mereka sedikit terlena dan satu-satu gumpalan mendungnya itu terpencar jauh-jauh, tak menyatu sehingga ia tak berdaya menutupiku. Pokoknya, aku akan mempertahankan apa yang menjadi hakku.


Aku angkuh?

Ya, untuk urusan tahta, jelas aku akan melakukannya demikian.

Namun, harus kuakui, keangkuhanku telah menjadikan wajahku tak bersemi lagi kini. Ada yang mendadak hilang dari diri. Awalnya cuma sepotong, lama-lama kurasa seluruh diriku seperti menghilang, melayang entah kemana. Tiap kali mata kupejam dan kembali kubuka, tak kudapati kesadaran bahwa aku adalah Lembayung. Lembayung yang dipuja dan diraja. Puja puji yang semula penyemangatku, kini tak ada arti.

Pernah kubertanya pada mahatari, apa yang menjadi penyebab ku begini?

Dengan senyum khasnya, matahari membawaku terbang sebentar. Tepat di tengah semesta, ia menunjuk ke bawah. "Di sana sebagian hatimu terbawa hingga membikinmu seperti hilang tak berdaya."

Aku nyaris tak percaya sebab yang ditunjuk sang matahari hanya sekumpulan manusia hilir mudik tak jelas. Aku memandang tak percaya pada raja siang ini. "Yang mana?"

"Lihat dengan mata hatimu yang tersisa. Jika sudah temui, kamu pasti akan mengerti apa yang harus kau lakukan."

Kuelebarkan lagi mataku. Mencoba konsentarsi pada apa yang terjadi.

Di antara kerumunan manusia itu, kutangkap mata seorang anak manusia sedang memainkan sebentuk cahaya. Ia belai penuh cinta, ia nyanyikan dengan merdu, ia dekap dengan kasih dan oohhh... bukankah cahaya itu adalah sebagian hatiku? Warna dan bentuknya persis. Sangat persis. aku tak akan lupa. Itu benar-benar sebagian hatiku yang hilang.

"Dia?" tanyaku pada matahari yang masih mendampingiku.

Mataharitak berkata apa-apa. Ia cuma tersenyum lebar. "Temuillah."

Tanpa ragu, aku temui perempuan itu. Aku mau ia mengembalikan jinggaku.

"Halo, Gadis... Apa kabarmu?"

Yang ditanya memandangku tak percaya. Kepalanya melenggak lenggok seperti mencari sudut dalam diriku yang bisa meyakinkannya.

"Aku Lembayung. Aku yang pernah mengusap air mata dan memanjangkan senyummu. Aku yang perkasa dan yang kau nanti.. Sekain lama kau pergi, Gadis. Aku merindukanmu. Telah lama aku ingin memelukmu. Memeluk kehangatanmu."

Perempuan itu masih belum juga percaya. Matanya memancarkan keraguan itu. Padahal sudah kuusahakan menampilkan visual-visual saat kami pernah bersama. Rasanya itu tak berguna. Kusentuh jemarinya. Tapi, spontan ia menolaknya.

"Kenapa, Gadis? Bukankah kau dulu yang menginginkannya? Bukankah kau yang membawa pundi-pundi cinta itu padaku? Mengapa kau sekarang berubah?"

"Aku bukan Gadis," perempuan itu tiba-tiba menyalak, galak.

"Bagaiamana mungkin aku bukan Gadis? Bukankah warna jingga yang kau pegang adalah sebagian hatiku yang kau ambil dariku? Aku lelah mencarimu, Gadis. Biarkan jingga iu menyatukan hati kita kini."

"Aku Putri. Bukan Gadis."

Aku terbelalak kaget.

"Siapa?"

"Putri."

"Lalu, milik siapa cahaya jingga yang kau bawa kemana-mana itu?"

"Ini warisan dari Ibuku. Ia menitipkan padaku untuk dijaga utuh. Katanya, disini cinta dan hatinya telah berpadu, tidak akan mati sebagaimana ia kini."

"Siapa Ibumu?"

"Gadis. Pemuja Lembayung yang tak pernah mau tahu bagaiman Ibuku teramat mencintainya."

Pryang!!

Laksana petir yang tiba-tiba datang di siang terik, dadaku seperti terpecah mendengar pengakuan barusan. Entah jadinya apa sisa jingga yang kupertahankan sedari tadi. Aku seperti luluh lantah di hadapan perempuan kecil ini. Aku tak berdaya seketika pengakuannya selesai terucap dari bibir mungilnya.

Aku tersimpuh.

Tenaga yang biasanya terlihat begitu membuat tampilanku perkasa seolah lenyap. Matahari di atas yang mencoba menahan tubuhku, tak kuasa lagi menahan. Mungkin ia pun kaget tak menyangka. Angin yang tadinya mendampingiku dari samping, langsung terdiam di tempat. Bahkan burung-burung yang menyanyikan lagu indah agar emosiku terjaga, sekonyong-konyong terkatup rapat perauhnya visual-visual bagaimana kehangatan saat ku berdua dengan gadis yang telah mengambil sebagian hati dari diriku ini di masa lalu.

"Ibuku berpesan agar aku menjaga jingga ini. Ia ingin cinta dan hatinya tetap terjaga utuh bersama warna ini. Ibu juga berpesan, jika aku bertemu dengan Lembayung, apa yang telah kujaga ini dikembalikan kepada pemiliknya. Sekarang aku ingin mengembalikan padamu, Lembayung. Terimalah sebagian milikmu yang telah ibuku ambil karena cintanya padamu."

Oooohhh...

Aku memang ingin mengambil kembali bagian diriku yang hilang, yang telah diambil Gadisku bersama lukanya karena telah kucampakkan. Tapi, kalau yang terkembalikan itu justru menghilangkan yang lain bahkan untuk selamanya, buat apa? Aku ingin utuh menyatu bersama seseorang yang sebenarnya telah menerimaku apa adanya.

"Ambilah, Lembayung. Ambillah jinggamu agar ibuku damai di alam sana."

Oooohhh...

Aku tak kuasa.

Aku tak bisa.

Buat apa kubangun harapan ini kembali jika nyatanya karena salahku, semua tak berarti?

Gadis, maafkan aku...

Tanpa terasa, air mataku menitik jatuh. Satu-satu membikin mulutku kelu. Langit biru yang menopang matahari yang smeua berusaha gagah menggenedongku kini tak kuat menahan tangisku. Mendung yang semula kuejek merasa mendapat jatah melakukan tugas. Dan, air mata yang kujatuhkan dilanjutkan hujan yang dipanggil mendung. Meski tak lama, aku tahu itu sempat membikin banyak pemujaku mengubah rupanya menjadi tak suka.

Saat hujan mulai mereda, kulihat pelangi, teman baikku, berdampingan mengurai warna warninya. Di ujung satu menuju ke ujung satunya lagi, samar kulihat ukiran huruf indah membentuk kalomat. Kucoba hentikan sedihku sejenak. Kubaca kalimat itu sepenuh rasa.

"Terima kasih, Lembayung, pada lembayungku, cintaku selalu ada."

Oooohhh...

Itu tulisan Gadis. Kepalaku menoleh kanan kiri.

Dimana dia sekarang?

...
Reactions:

0 comments:

Post a Comment