Penulis Cerita : Berhenti Untuk Bertarung Sendirian

Penulis Cerita : Berhenti Untuk Bertarung Sendirian

INIKECE - Hujan mulai turun. Ina menikmati suara rintik-rintik hujan yang mengenai permukaan. Ia duduk sambil memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tangannya memainkan cangkir teh panas yang masih mengepul. Ia termenung beberapa saat lalu terbangun dari lamunannya.

Ia menghela napas dalam lalu meminum teh yang sedari tadi ia pengang. Ia tersentak karena teh tersebut masih panas.

"Dasar aku," kata Ina pada dirinya sendiri.

Tapi rasa panas yang masih dirasakan lidahnya tidak membuatnya berhenti melamun.

Apakah aku membuat keputusan tepat?

Apakah benar it's okay to be not okay?

Kata-kata yang sahabatnya selalu ucapkan padanya ketika ia merasa tidak sanggup melanjutkan petualangan pada esok hari.

Ina merasa beruntung memiliki sahabat yang memahami betul kerumitan yang ia alami. Ina merasa sangat berbeda dari kebanyakan orang. Terlalu banyak yang menilainya sebelah mata. Terkadang ada dimana hari ketika semuanya terasa sangat berat. 

Dimana ia merasa semua orang membencinya. Ketika ia merasa tidak pernah diterima oleh orang di sekitarnya. Namun lagi-lagi sahabatnya pantang menyerah untuk membuatnya lebih baik.

"Ina, banyak orang yang menyayangimu. Kau tidak perlu khawatir aku ada disini untukmu". Tidak lupa ia berikan pelukan. Ia tahu betul apa yang dibutuhkan Ina agar merasa lebih baik. Ia menyiapkan teh buah leci favoritnya dan mencari film yang cukup menyenangkan untuk ditonton.

"Ina, aku sudah membuatkanmu teh leci. Aku tahu kau akan merasa lebih nyaman. Aku tahu teh tidak akan menghilangkan semua pikiranmu tapi aku ingin kau merasa sedikit lebih baik. Mau menonton bersamaku?" Katanya.

Ina hanya tersenyum sambil mengikutinya dari belakang.

Hujan belum berhenti nampaknya turun semakin deras dan Ina semkain dalam dengan pikirannya. "Aku merasakan banyak hal yang seharusnya tidak kurasakan. Apakah ada yang memahamiku? Apakah aku akan selalu seperti ini? Aku sangat ingin keluar dari sini," pikir Ina.

Tiba-tiba air mata Ina mengalir perlahan.

Aku sangat merindukannya. Jika ia di sini kami pasti sedang menonton film pilihannya.
Aku tahu selera filmnya begitu buruk bahkan aku sering tertidur tapi, akan kutonton semua film yang ia pilih jika itu membuatnya kembali.

"Apa maksudmu?" Tanya Ina.

"Ummmm yah... aku tidak selalu bisa membuat lebih baik, Ina bukannya aku tidak ingin mendengarkan semua keluh kesahmu tapi kau membutuhkan orang yang lebih berpengalaman, orang yang sangat memahami apa yang terjadi padamu" katanya. Ia sedikit takut Ina marah padanya. Namun Ina hanya terdiam beberapa saat.

"Entahlah aku merasa tidak membutuhkan bantuan lain. Aku merasa aku bisa mengendalikna semuanya." jawab Ina. Sahabatnya hanya mengangguk.

"Ina, aku yakin semuanya akan baik baik saja. Aku disini untukmu," katanya.

"Terimakasih, kau selalu bisa membuatku lebih baik."

Cangkir teh tersebut sudah setengah kosong diminum oleh Ina. Ia tersenyum mengingat semua hal bodoh yang sudah mereka lakukan. Ina bangkit dari tempat duduknya dan menyetel lagu kesukaan sahabatnya, ia tidak begitu menyukai lagu Somewhere Over the Rainbow versi Judy Garland.

Namun entah mengapa saat ini ia ingin menyetel lagu tersebut. Hujan yang belum mereda dengan lagu favorit sahabatnya membuat Ina tidak berhenti bernostalgia.

"Ina kumohon, aku tidak ingin melihatmu seperti ini. Aku tidak bisa melihatmu berjuang sendiri seperti ini," kata sahabatnya khawatir. Ia mencoba membersihkan luka Ina.

"Aku sudah tidak sanggup. Aku ingin berhenti, aku sangat lelah, aku sangat marah, aku bingung apa yang salah denganku. Mengapa aku seperti ini?" Isak Ina.

"Ina, aku tahu sangat berat untukmu, tapi aku tahu kau sangat pemberani. Kau sangat kuat dibanding orang orang lain, Ina. Kau sudah berjuang begitu keras untuk hidupmu. Dan kau masih berjuang hingga saat ini," kata sahabatnya yang masih mencoba memasang perban luka tersebut.

"Berapa kali kau bilang padaku untuk menyerah. Tapi kau memutuskan untuk membuka matamu di keesokan harinya. Aku sangat kagum padamu. Ina, dan sekarang kau tidak harus sendirian lagi. Kau hanya membutuhkan sedikit bantuan untuk menjadi lebih baik. Dan aku mempercayaimu kalau kau pasti bisa menghadapinya," kata sahabatnya dengan nada lembutnya seperti biasa.

"Aku tidak ingin dianggap gila, aku sangat takut untuk menceritakan apa yang aku rasakan," kata Ina.

Ia hanya tersenyum pada Ina. "Mereka akan memahamimu lebih baik daripada aku memahamimu."


Ian memutar lagu tersebut berulang kali. Teh leci yang ditinggalkan Ina sudah berubah menjadi dingin. Hujan mulai redah. Ina memandang keluar jendela memandang langit yang mulai terang. Ina menghela napasnya, cahaya matahari mulai menghapus kelamnya awan. Ina memandang rumput basah yang bersinar terkena cahaya matahari.

Ina memutuskan untuk melakukannya. Ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul 2 siang. Ian. "Aku akan menemuimu," katanya dalam hati sambil tersenyum. Ia mematikan musik tersebut dan berganti baju. 

Ina turun dari taxi dan membeli seikat bunga dan sekantung berbagai macam kelopak bunga. Ia tahu semuanya sudah sangat berbeda tapi Ina yakin sahabatnya akan mendengarkan.

"Selamat siang... maaf aku baru menemuimu setelah sekain lama. Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Sangat sangat merindukanmu. Aku minta maaf karena aku pada awalnya tidak ingin menerima kepergianmu. Tapi akhirnya aku menyerah pada kenyataan. Rinduku mengalahkan sedihku.

Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi padamu. Kau pasti sudah muak ketika aku selalu memperingatkanmu untuk mengunci helm-mu tapi bagaimana bisa kau begitu ceroboh untuk tidak melakukannya.

Seperti biasa kau akan tersenyum padaku lalu pergi mengabaikan peringatanaku. Tapi pada saat itu, kau tidak pernah kembali lagi. Aku benar-benar merindukanmu saat ini jadi aku tidak akan marah padamu."

Ina terdiam. Air matanya mengalir melalui pipinya. "Aku tahu bagimu aku terlihat bodoh berbicara pada batu dan gundukan tanah seperti ini. Tapi aku tidak akan segan berbicara pada batu yang bertuliskan namamu dengan kau terbaring di dalam gundukan tanah ini.

Terimakasih sudah menepati janjimu untuk selalu ada untukku hingga akhir hayatmu. Aku kita aku benar-benar sendiri tanpamu. Tapi lagu kesukaanmu membuatku yakin bahwa kau akan bahagia disana. Dan aku tahu kau tidak akan suka jika aku menyerah dengan keadaan."

"Kau satunya orang yang masih bertahan dari banyaknya emosi, air mata, pikiran yang selalu menyerangku tiba-tiba. Aku tahu aku ini sedang sakit. Tapi kau memandangku seperti kau yakin bahwa aku baik-baik saja. Kau memercayaiku ketika aku meragukan dirik sendiri. Kau membuatku jauh lebih berharga.

Kau benar, seperti biasa bahwa aku tidak perlu melawan ini sendiri. Dan setelah kau pergi, kau membuatku berpikir.

Kau pasti akan senang mendengar bahwa aku akhirnya membuat perjanjian pertama dengan therapisku. Aku yakin keputusanku sudah tepat.

"Aku begitu gugup dan aku selalu bisa membuatku tenang," kata Ina sambil menggenggam lengan sebelah kiri yang lukanya sudah hampir sembuh. "Terimakasih sudah meyakinkanku sahabat. Sekarang beristirahatlah. Aku tidak akan mengecewakanmu," Ina berucap lirih sambil menebarkan bunga yang iaa beli yadi.

Ia kembali ke rumah. Ia merasa lebih baik dan ia yakin bahwa ini adalah hal yang ia butuhkan. Ia merasa dunianya begitu gelap namun ia tidak ingin menyia-nyiakan usaha dan semangat sahabatnya.

Ina duduk di salah satu bangku yang masih kosong. Ia sangat gugup menunggu namanya dipanggil. Sampai pada akhirnya ia dipanggil dan dipersilahkan untuk memasuki ruangan. Ia dipersilahkan duduk.

"Selamat siang, jadi ada yang bisa saya bantu?" Tanya orang berjubah putih yang duduk di depan Ina. Ina menarik napas dengan panjang berpikir dari mana ia haru mulai.
"Nama saya Marlina dan semuanya dimulai dari..."

Tentang Penulis :

Carlot menyukai dunia menulis sejak SMA. Cerpen, sajak, dan puisinya sampai saat ini masih disimpan untuk koleksi pribadi. Saat ini ia kuliah akuntasi di salah satu PTS Jakarta di semester 7, ia berharap cerita yang ditulisnya bisa menginspirasi banyak orang.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment