Ruas Seberang Pinggir Aspal! Sebuah Cerpen Menarik

Ruas Seberang Pinggir Aspal! Sebuah Cerpen Menarik

INIKECE - Pagi hari adalah saat-saat ideal untuk menyeruput secangkir kopi. Setidaknya, beitulah katanya ketika sedang menasihatiku di saung butut tempatnya menjaga pagi. Serupa setengah senja, padi-padi itu rawan-rentan dicuri hama. Disandingkan dua-tiga potong pisang goreng, apalagi. Sungguh sederhana.

Kebiasaan Pak Din, bagiku begitu aneh. Orang-orang di lingkar sosialku benci hal-hal rendahan seperti itu. Ketika semua orang berbicara tentang kemasyhuran gaya, kenapa ada sosok seseorang yang malas dan bersyukur cuma karena kopi dan pisang goreng?

Aku rasa semua buruh tani di muka di bumi begitu. Sifat mereka lebih seperti makhluk delusif yang cepat merasa puas. Begitu saja sudah bahagia, padahal memenangkan judi rolet jauh lebih menyenangkan.

"Pak, saya cuma datang untuk melihat-lihat sekitar," kataku menolak halus kudapan yang ditawarkannya. Aku hanya ingin berbagi ruang untuk melanjutkan catatan yang belum tuntas. Elegan, bukan?

Saat ini, aku duduk di sampingnya untuk berebut sejuk beraroma terik matahari. Baru aspal di seberang petak kecil sawah, sedikit mengganggu memang. Tapi, kalian tahu, 'kan, kalau lama kelamaan, bau aspal baru akan seperti bau bensin?

"Kau lihat gunung di sana?" Gumamnya sambil menunjuk arah jauh. "Itu adalah penampakan terbaik sebelum seperti sekarang ini," disusul gerak garukan kelingking di pelipisnya." Dalam hati, aku kurang setuju dengannya. Jelas-jelas itu gumuukan usang bekas terbakar habis bulan lalu.

Beliau ini lucu. Kepalanya perlu dibelah, lalu digerayangi untuk tahu isi otaknya. Isi takdir yang ada di dalam diri pak tua ini. Kilat aspla yang kontras dengan lahannya ini, mungkin membuatnya tak kunjung usai berhalusinasi.

Lembar kertas kubuka, melanjutkan bacaanmu lagi. Kopi dan sepotong pisang goreng yang mendingin kubiarkan melamun di sampingku. Di tengah-tengah antara kami berdua.

Hari itu, pak tua ini meracau seperti igau burung-burung. Tentang gunung-gunung tinggi di seberang aspal yang tampak silau serupa terik cermin yang memantulkan sinar kuning keemasan langit. Ada banyak bercak hitam di sebagian besar dinding-dindingnya.

Apabila kita ke tempat itu, kau pasti merasakan terpaan hawa yang berbeda. Watak anginnya menurutku jauh lebih akrab denganku, lebih panas dan mencekam seperti kota tempatku tinggal. Walaupun memang, sudah tidak ada lagi asap yang membumbung, atau polusi yang mengganggu arus telaga menuju sungai besar di sebelah sana.

Konon, gunung itu dulunya sempat aktif mengeluarkan asap hitam pekat setiap waktu. Siang-malam, asapnya menguap tiada henti. Asap yang akan berkelana ke mana-mana, seluruh penjuru paru-paru kehidupan dunia.

Titik kehidupan memang pernah ada disana. Orang ramai berlalu-lalang dengan tampilan seragam. Ia menggambarkan sejarah itu sebagai kenangan yang sempurna. Konon, kedatangan dan kepulangan orang-orang di tempat itu selalu diliputi kegembiraan.


Prang! Gelas kopi yang memperhatikan lamunanku dalam dunia fiksi, tiba-tiba terhempas dari posisinya. Pak Din lepas terkaget-kaget. Aku menghela napas kebencian. Merepotkan, batinku. Aku pun kembali mengambang ke permukaan setelah tenggelam lama dalam cerita.

"Oallaaah, untung cuma ampas," ia membangunkan gelas yang terjungkir. "Lo, masih di sini, to?" Ledeknya.

Aku tersenyum dan menjawab kalau hawa di sini sejuk. Sejuk yang menenangkan, meskipun aku belum cukup akrab. Memang tempat inilah yang bagiku begitu pantas memanjakan. Tapi jujur saja, aku rasa gangguan itu hanya ada di sebelahku persis!

Saung ini adalah bangunan satu-satunya disini. Hamparan sawah luas mengitari kesan ringkihnya. Tempat si bapak tua melamun setiap hari. Lamunan muka kekarnya itu membuatku tertarik, sekaligus menyesal.

"Kamu tahu tentang hama?" Ia mengajakku bercakap. "Aku sudah sangat mengenal watak-watak mereka. Tapi, saya tetap mau jadi temannya."

"Setahuku, hama itu menyebalkan, pak," aku merespons sembari menutup bacaanku di halaman tengah. "Di mana untungnya?" Tambahku. Beliau cuma terkekeh. Kuulang lagi jawabanku dalam hati. Apa untungnya berteman dengan parasit pengganggu?

Siang itu, Pak Din duduk di ujung pojokan yang membuatku selalu khawatir kalau-kalau tiang penyangga tempat punggungnya bersandar tiba-toba roboh. Hancur tempat ini nanti. Namun, lagi-lagi, hawa khas ini buatku urung menyuarakan kekhawatiran.

Sementara, aku mematung di sisi lainnya. Kedua betisku menjuntai keluar di atas permukaan saluran irigasi, memberikan rasa geli yang lembut di ujung jempol kaki yang tipis menyapu-nyapu aliran air. Sesekali, aku menoleh sinis akibat suara kunyahan yang berkecipak nyaring.

Sampai sore nanti, kami mungkin akan ngalor-ngidul terus seperti ini. Sebenarnya, aku sudah muak menceritakan alur memalukan ini. Tapi, sensasi hamparan sawah mampu mendesakku bertahan. Andai saung ini bukanlah satu-satunya, tentu aku akan memisahkan diri dari orang yang membosankan ini.

Pak Din enggan meniru petani-petani lain yang biasanya beristirahat di tenda-tenda yang hanya disangga tiang dengan tutupan terpal. Petak kecil, bisa dipeliharanya seorang diri, membuatnya menetap di saung besar beratap daun-daun jerami. Karena itu, ia lebih suka menyepi di sini.

Lambat-laun, sore mulai memperlihatkan rupa. Orang-orang, termasuk Pak Din, bersiap-siap pulang untuk rutinitas keesokan hari, Aku bukan mereka, aku belum puas menikmati matahari terbenam, dengan jejak-jejak gradasi jingga yang perlahan tutup.

"Kalau begitu, saya duluan," ia menutup perjumpaan.

Lembar kututup, sudah ada beberapa paragraf yang tertulis. Aku membacanya untuk melihat-lihat apakah ada bagian-bagian keliru, tak nyambung, atau diksi-diksi yang tidak sesuai. Untuk melakukannya, kita perlu menjadi orang lain. Dengan begitu, kalian akan paham bagaimana memahami kegelisahan yang tertulis.

Banyak lubang setelah tiang-tiang dibongkar. Aku tidak suka bagian ini. Lalu, obrolannya dengan Pak Din seperti tak menyiratkan apa-apa. Kosong seperti gunung-gunung yang sombongnya dianggap sebagai bangunan tua, terbengkalai bekas lahapan api. Lebih mantap apabila tentang hama dibahas lebih dalam.

Banyak sekali kekurangan. Menurutku, aku terlalu menjadi orang lain. Menyetujuinya sebagai bentuk takdirku. Aku melamun, bersandar ke sudut di tiang ringkih yang mau roboh. Tanpa khawatir lagi sedikit pun.

Petang sudah gelap, dingin pun kian pekat. Ia hilang, yang ada hanya suara senyap dan perasaan resah. Keinginanku untuk segera pulang menguat. Tapi, pematang sawah membuatku aneh. Aku membayangkan kalau kakiku akan dijegal, ditarik, lalu jatuh tenggelam ketika turun menapak tanah.

Ia seutuhnya lenyap ketika catatan ini kututup. Pandangan kuarahkan untuk menentukan posisi pijakan dan rute perjalanan. Setitik cahaya tenggelam di sekeliling sunyi yang gelap. Ketika gunung, maksudku, bangkai gedung di seberang sana telah benar-benar sembunyi, aku kembali mengingat-ingat Pak Din.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment