Cerpen! Real Friend?

INIKECE - "Bu, aku berangkat, ya" teriakku sambil menggigit roti dan berlari menuju teras. Waktu menunjukkan pukul 06.15, Artinya lima belas menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Aku berlari meninggalkan rumah dan segera menaiki motor ojek langgananku.

Suara-Suara Yang Lenyap

INIKECE - Seorang lelaki berkepala plontos baru saja masuk ke ruang interogasi untuk pertama kalinya dengan wajah yang murung. Pandangan matanya selalu turun. Langkahnya malas, kakinya selalu menyeret. Mulutnya mengatup rapat.

Cerpen! Neon Ghost Cafe

INIKECE - Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu bersiweran di pandang. Warna-warna cantik itu terpantul bersamaan dengan gemericik air hujan yang terjatuh ke kubangan. Ketujuh warna itu berasal dari lampu papan nama sebuah coffee shop yang berada di tingkat dua sebuah ruko.

Segera Menemani Di Awal Tahun 2020! Temtem Game MMO Yang Ditunggu Segera Hadir

INIKECE - Kehadiran game Pokemon Sword and Shield memang cukup berhasil mengumpulkan para fans Pokemon di seluruh dunia untuk memainkannya. Pasalnya game tersebut menghadirkan cerita yang bisa dibilang baru.

Ramalan Di Desember 2019 Karir dan Cinta, Salah Satunya Scorpio Diberikan Kesempatan Besar!

INIKECE - Bagi yang suka dengan suatau ramalan zodiak, kali ini bulan Desember yang paling ditunggu-tunggu banyak orang, ada sebuah ramalan zodiak yang akan membahasa persoalan karir dan cinta di akhir bulan ini.

Yang Ditunggu Telah Hampir Hadir! Star Wars Jedi Akan Rilis Bulan November, Siap Diorder

Yang Ditunggu Telah Hampir Hadir! Star Wars Jedi Akan Rilis Bulan November, Siap Diorder

INIKECE - Jika moviegoer menantikan kehadiran Star Wars : The Rise of Skywalker, maka gamer menunggu datangan Star Wars Jedi : Fallen Order. Digarap oleh Respawn Entertainment, game tersebut menyajikan kisah orisinal yang difokuskan pada Jedi Padawan muda bernama Cal Kestis.

Setelah proses pengerjaannya rampung beberapa waktu lalu, pihak developer menyiapkan game tersebut untuk diluncurkan ke pasaran di bulan November nanti.


Cal Kestis jadi salah satu Jedi Padawan yang berhasil meloloskan diri dari Order 66 pemusnahan Jedi Order di seluruh galaksi. Hal tersebut membuatnya harus menyembunyikan identitasnya sebagai seorang Jedi.

Namun, demi menolong teman-temannya supaya tidak terjatuh ke Sarlacc Pit, Cal terpaksa memakai kekuatan Force miliknya. Mengetahui hal ini, Empire menungaskan Inquisitor asuhan Darth Vader yakni Second Sister, untuk memburu dan menghabisi Cal Kestis.


KEY FEATURES

  • Cinematic, Immersiver Combat : Fallen Ordern mewujudkan fantasi untuk menjadi seorang Jedi, lewat sistem pertarungan lightsaber yang inovatif. Menyerang, menangkis, menghindar, dipadu dengan beragam kemampuan Force, memungkinkan gamer untuk mengatasi semua rintangan.
  • A New Jedi Story Begins : Gamer bermain sebagai mantan Padawan, yang harus melarikan diri dari kejaran Empire. Kalian harus menyelesaikan latihanmu, sebelum Imperial Inquisitors mengungkap rencanamu untuk membangkitkan kembali Jedi Order. Jelajahi dan atasi berbagai jenis rintangan yang difokuskan pada pertarungan, eksplorasi, dan puzzle-solving.
  • The Galaxy Awaits : Beragam biome untik dapat gamer jelajahi dalam Fallen Order, dengan kebebasan untuk menentukan lokasi yang ingin dijalani. Seiring dengan terbukanya kekuatan dan kemampuan baru, gamer bisa menemui banyak cara untuk kemabli menjelajahi beragam map.

Star Wars Jedi : Fallen Order dijadwalkan untuk rilis pada tanggal 15 November mendatan. Nantinya, game yang terinspirasi dari Dark Souls ini bakal tersedia di paltform PC, PlayStation 4, serta Xbox One.

Yang menarik, Fallen Order juga menandai kembalinya Electronic Arts ke Steam, setelah sempat meninggalkan platform tersebut di tahun 2013! Ke depannya, EA bakal menghadirkan game-game mereka, juga EA Access, ke layanan milik Valve tersebut.

Viral, Gadis Remaja Yang Dituduh Mencuri Hingga Dianiaya Warga

Viral, Gadis Remaja Yang Dituduh Mencuri Hingga Dianiaya Warga

INIKECE - Kasus Penganiayaan di NTT dalam sebuah video viral, dimana seorang gadis remaja berusia 16 tahun dianiaya oleh beberapa orang warga termasuk salah satu dintaranya kepala desa. N (16), asal Desa Babulu Selatan, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kasus penganiayaan yang viral ini telah dilakukan penyelidikan oleh aparat kepolisian Resor Belu, NTT dan diketahui berhasil menangkap 7 orang pelaku yang diduga melakukan penganiayaan terhadap N.

Dari 7 pelaku yang ditangkap, 1 orang merupaka Kepala Desa setempat, yakni Endik Kasa, Margareta Hoar, Marsel Ulu, Domi Berek, Melki Tes, dan Edu Roman dan Paulus.


Paulus di tangkap di perbatasan RI-Timor Leste, bersama istrinya setelah kembali dari Timor Leste.

Berikut Fakta Selengkapnya :

1. Enam Pelaku Penganiayaan N Ditangkap Polisi

Kabid Humas Polda NTT, Kombes Jules Abraham mengatakan, setelah menerima laporan dari keluarga korban, pihaknya langsung bergerak dan berhasil menangkap 6 pelaku penganiayaan dan peyiksaan terhadap N.

"Mereka sudah ditangkap dan saat ini diamankan di Mapolres Belu," ungkapnya.

Sambungnya, saat ini. Keenam orang diduga pelaku masih diperiksa secara intensif agar secepatnya diketahui peran masing-masing. Enam orang yang ditangkap yakni, Endik Kasa, Margareta Hoar, Marsel Ulu, Domi Berek, Melki Tes, dan Edu Roman.

2. Kepala Desa Kabur Ke Timor Leste.

Jules mengatakan, setelah dilaporkan, Kepala Desa Babulu Selatan, Paulus Lau diduga kuat melarikan diri ke Timor Leste.

Saat ini, pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan kepolisian Timor Leste. Menurut Julues, koordinasi itu dilakukan, sebagai upaya pencarian maupun pencekalan terhadap Paulus.

"Jika yang bersangkutan berada di wilayah Belu, Malaka maupun daerah lain di NTT, tentu kita akan lakukan upaya paksa baik mengamankan yang bersangkutan, maupun melakukan penangkapan," tegas Jules.

Namun lanjut Jules, jika Paulus berada di luar NTT, maka akan lakukan upaya pencarian. 
"Kita akan berkoordinasi dengan seluruh elemen yang ada, termasuk aparat keamanan di Timor Leste," katanya.

3. Ditangkap Di Perbatasan RI-Timor Leste

Jules mengatakan, Paulus ditangkap aparat kepolisian Resor Belu, NTT, bersama istrinya setelah kembali dari Timor Leste.

Setelah ditangkap, Paulus kemudian digiring ke Mapolsek Kobalima untuk diperiksa secara intensif.

"Dia (Paulus Lau) sudah ditangkap di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motamasin tadi pagi," uangkapnya. Sambungnya, kasus ini akan ditangani oleh penyidik Polres Belu.

"Nanti setelah selesai pemeriksaan, Paulus akan dibawa ke Polres Belu, untuk melanjutkan pemeriksaan dan proses penyidikan," ujarnya.

4. Akan Ditangani Secara Serius

Untuk korban sendiri, sambung Jules. Saat ini telah dibawa ke Polres Belu, khususnya di bagian Perlindungan Perempuan dan Anak, untuk diberi pendampingan. 

"Pendampingan ini untuk mengantisipasi trauma yang dialami korban setelah mendapatkan penyiksaan di depan umum pada pekan lalu," katanya.

Jules menegaskan, kasus penganiayaan yang dialami N akan diproses hingga tuntas.

"Kita serius tangani kasus ini, dan kasus ini terus berlanjut hingga ke pengadilan." tegasnya.

Ditemukan Bersamaan Dengan Uang Rp13 Juta, Sosok Mayat Di Blitar

Ditemukan Bersamaan Dengan Uang Rp13 Juta, Sosok Mayat Di Blitar

INIKECE - Uang recehan pecahan Rp1.000 , Rp2.000 , dan Rp5.000 .Ditemukan di dalam karung, tetapi bukan hanya uang saja yang terdapat masih ada sosok wanita yang telah mati membusuk juga ditemukan disamping sekarung uang tersebut.

Ditemukan di dalam Hutan Salam, Dusun Kalikuning, Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Dalam penemuan mayat wanita dan uang sekarung yang diikat dengan tali tersebut dihitung dan mendapatkan total mencari Rp13,6 juta.

"Sampai sekarang identitas korban belum diketahui. Kami masih mencarinya."

"Kami sudah hitaung uangnya. Jumlahnya mencapai Rp 13juta," kata AKP Lahuri, Kapolsek Nglegok.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Blitar Kota, AKP Heri Sugiono mengatakan pihaknya masih menyelidiki kasus penemuan mayat perempuan di tengah hutan tersebut. Polisi belum bisa memastikan korban adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau bukan.


"Kami masih menyelidiki dugaan-dugaan itu, termasuk apakah korban tersesat di dalam hutan atau karena apa."

"Kami masih menunggu hasil otopsi terhadap mayat korban," kata Heri.

Sebelumnya, sesosok mayat perempuan yang belum diketahui identitasnya ditemukan membusuk di Hutan Salam pada Jumat (25/10/2019).

Polisi menemukan uang pecahan Rp1.000 Rp 2.000 Rp 5.000 .Uang recehan itu terbungkus karung dari kain di samping mayat itu. Saat ditemukan, mayat perempuan itu mengenakan baju terusan berwarna biru.

Kisah Bocah Kecil Dan Pahitnya Kehidupan

Kisah Bocah Kecil Dan Pahitnya Kehidupan

INIKECE - Tino demikian orang menyapanya. Ia bekerja sebagai penjual koran. Ia geluti pekerjaan ini sejak ia masih kecil. Kira-kira ia masih berumur 12 tahun. Katanya, karena ayah dan ibunya tidak bisa membiayainya untuk sekolah maka jalan satu-satunya yang ia lakukan adalah menjual koran.

Ia merasa bangga dengan pekerjaannya ini. Ia tak pernah malu apabila menjual koran di tengah kota atau di depan pertokoan.

Menurutnya, mencari nafkah untuk kebutuhan hidup tidak perlu ada perasaan gengsi atau malu. Tuhan telah memberikan kemampuan kepada manusia agar ia bisa hidup sesuai kemampuannya.

Ia merasa bangga dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya. Ia tidak mau membandingkan dirinya dengan orang lain. Tino sungguh anak yang baik. Ia bisa dijadikan sebagai anak pembawa terang dalam keluarganya.

Kondisi orangtuanya yang sudah tidak mudah lagi membuat dia bekerja keras untuk bisa membahagiakan orangtuanya.

Ia lakukan ini bukan merupakan balas jasa atas kebaikan orangtuanya, tetapi lebih dari itu sebagai kewajiban seorang anak untuk merawat orangtuanya.

Semenjak putus sekolah, ia hanya bergulat dengan pekerjaannya sebagai penjual koran. Ia tidak pernah mengeluh dengan orangtuanya kenapa dia tidak sekolah. Ia tahu betul keadaan keluarganya.

Ia tidak pernah memaksa orangtuanya mencari uang untuk sekolahnya. Usia kedua orangtuanya tidak mudah lagi, dan ia sangat mencintai kedua orangtuanya.

Ia rela tidak sekolah asalkan orangtuanya tidak menderita sakit. Ia tidak pernah malu melihat teman sebayanya setiap pagi pergi sekolah.

Malahan ia merasa senang melihat teman-temannya antusias pergi sekolah. Ia selalu menyapa dan memberi senyum ketika bertemu dengan teman-teman yang pergi sekolah.

Setiap pagi Tino selalu bangun lebih awal dari kedua orangtuanya.

Ia selalu menyiapkan sarapan untuk kedua orangtuanya, sekedar bubur nasi yang tidak jelas rasanya. Kemudian ia sendiri pergi menjual koran.

Ketika orangtunya sudah bangun, ia telah berangkat ke perusahaan koran untuk mengambil koran lalu ia menjualnya. Terkadang ia mengambil koran sebanyak mungkin karena ada bonus dari perusahan apabila koran tersebut laku semua.

"Selamat pagi, om," sapanya kepada pemilik koran.

"Selamat pagi juga, Tino. Kenapa pagi-pagi sekali datang mengambil koran." Sahut pemilik koran.

"Biasa om, aku harus tepat waktu. Aku tidak ingin teman-teman yang lain juga mendahului aku. Nanti mereka angkat semua koran dan aku sendiri tidak mendapat apa-apa." jawabnya kepada pemilik koran.

Sekitar pukul 10:00 pagi, Tino berjalan mondar-mandir di depan pertokoan dengan berharap ada yang membeli korannya. Ia menyukai sekali pekerjaanny, melakukan tanpa menggerutu.

Bahkan tak tergoda menjadi pengemis seperti perempuan menutupi sebagian wajahnya dengan selendang biru. Yang pendapatannya jauh lebih besar, tanpa perlu mengambil dagangan dan menyetorkan penghasilan, seperti dirinya.

Perempuan yang menengadahkan tangannya dan memamerkan wajahnya pilu itu mendapatkan penghasilkan dari masa iba sekurangnya setiap sepuluh mobil yang dilalui.

Setia kali pemberian bisa seharga koran yang jualnya. Yang terima secara utuh. Entahlah, aku tidak ingin seperti itu. Kata Tino dalam hati. Setiap kali ada orang yang keluar dari pertokoan, ia menyodorkan koran.


"Koran, koran, koran, om dan tante, tolong beli saya punya koran dulu! Tino terus menyapa orang di depan pertokoan ini. Mulutnya tidak pernah diam. Setiap kali orang lewat, mereka hanya melihat wajah Tino lalu pergi.

Ada yang hanya tersenyum lalu pergi. Tak apa, Selama masih ada orang di depan pertokoan, aku masih akan jualan. Ia menyukai semua situasi di depan pertokoan ini.

"Adik, berapa harga satu koran itu?" Tanya seorang bapak barusan keluar dari pertokoan. 

"Tiga ribu om. Om mau beli!" Jawa Tino dengan suara agak datar.

"Tidak adik! Saya hanya tanya saja."

"Oh, tidak apa-apa om. Terima kasih banyak."

Betapa sedih hatinya karena tidak ada seorang pun yang membeli korannya. Sedari tadi ia terus berdiri tapi tak seorang pun yang membeli.

Siang itu, ia lalui begitu saja. Ia tidak mendapat apa-apa. Akhirnya ia beranjak pergi. Di langit kota, tak seberkas pun awan putih yang membendung sinar surya yang panas membakar itu. Debu mengepul bak asap api menambah gerahnya siang itu.

Hiruk-piluk kota kelihatan kaku dan menjenuhkan. Tapi semuanya tak menyurutkan semangat Tino untuk terus berjalan menjual koran.

Dia sambil teriak "koran, koran, koran," berharap ada yang membelinya. Sepanjang jalan yang ia lalui tidak seorang pun yang membeli korannya.

Betapa sedih hatinya karena siang ini tidak mendapat apa-apa. Ia lalu duduk dan merenung. Dalam hatinya berbisik apa yang ia berikan kepada pemilik koran apabila sepanjang hari korannya tidak ada yang lalu. Ia takut dimarahi oleh pemilik koran. Ia lebih takut lagi ketika esok harinya pemilik koran tidak mengijinkan ia untuk pergi membawa koran lagi,

Pekerjaan yang ia bisa lakukan hanya menjual koran. Kebutuhan dalam keluarganya bisa terpenuhi hanya karena menjual koran.

Di samping trotoar ia terus merenung. Ia sepertinya dilema dan membiarkan pemilik koran memecatnya apabila ia marah padanya.

Tetapi pekerjaan apa yang pantas untuk anak seperti Tino di tengah kota ini jika pemilik koran benar-benar memecatnya.

Tidak mungkin perusahaan menerima anak kecil seperti dia bekerja untuk mengangkat semen tonasa.

Ia kemudian berdiri dan berusaha melintasi trotoar. Klakson mobil dan motor seketika menampar telinga Tino dengan garang. Terlihat bapak tua yang sedang mendorong gerobak kayu yang hampir reot termakan rayap melintasi berhadapan Tino.

Lalu, bapak tua itu menyapa Tino yang lugu tanpa malu.

"Nak, dari mana saja kau hendak?" sapa bapak tua.

"Kau tidak lihat aku sedang mencari makan dengan menjual koran ini!" ketus Tino.

"Sedari pagi ayahmu mencarimu nak, ia sedang sakit katanya."

"Di mana ayah sekarang, Pa?" tanya Tino.

"Di rumah nak, pulanglah kau ke rumah" ujar bapak tua.

Ayahnya memang sedang sakit sudah lama. Semenjak dia dipecat oleh sebuah perusahaan gara-gara dituduh mencuri uang majikannya.

Padahal ayah orang jujur dan tidak pernah membuat masalah dengan teman-teman kerja. Begitupun dalam keluarga ia tidak pernah marah dengan ibu. Ketika ayah sudah jatuh sakit, masalah itu baru terbongkar ternyata yang mencuri uang majikan bukan dirinya.

Ia sangat menyesal mendengar beritu itu. Tetapi raut wajahnya tidak menandakan bahwa dia marah dengan teman kerja atau majikannya. Ia dalam hati mungkin berdoa agar mereka lebih bekerja dengan baik. Ayah memang sangat baik.

Dengan langkah gontai dan terburu-buru. Tino cepat berlari sekencang-kencangnya, tanpa memikirkan hal yang ada di sekitarnya. Di persimpangan jalan menuju rumah, ia teringat pesan ayahnya agar Tino berhenti untuk menjual koran dan hanya temani ayah yang sedang sakit.

Tetapi Tino tidak pernah mengiyakan pesan ayahnya. Suatu hal yang sudah pasti terjadi dalam waktu dekat dan harusnya ia bisa tegar.

Tapi gagal, Tino justru pergi meninggalkan ayah seorang diri di rumah saja. Tanpa memberikan hiburan di saat ia sedang sakit.

Meskipun ia adalah anak yang paling disayangi oleh ayahnya tapi ia seringkali mengabaikan ayahnya dan fokus dengan pekerjaan. Sesampainya di rumah, ayahnya tidak sadar diri. Tino terus memanggil tapi ayahnya tidak pernah menjawab. Tino hanya mampu termangu di sudut gubuk. Sambil tangannya mengelus-elus dagu yang belum tumbuh jenggot, ia merasa kehilangan dengan kepergian ayahnya.

Tino terus menangis dan ayahnya pergi meninggalka Tino selama-lamanya.

Article Hits! 12 Hours With You

Article Hits! 12 Hours With You

INIKECE - "One bubble milk tea with extra sugar please."
"Thirteen dollars please." Prilly mengambil pesanannya dan memilih untuk duduk di sebuah bangku kayu yang terletak di pojok taman.

Prilly adalah seorang mahasiswi dari Bandung yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas ternama di Sydney. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan sangat sempurna dalam waktu dua setengah tahun.

Hari ini adalah hari terakhirnya di sini. Prilly menyempatkan diri untuk menikmati bubble milk tea kesukaannya dan mengenang masa-masa selama dia berada di Sydney sebelum kepulangannya besok sore. 

Baginya Sydney adalah kota pelarian. Ia sangat menyukai kesendiriannya di kota ini. Tidak perlu bersosialisai, tidak perlu berpura-pura tersenyum. Dan yang terpenting, ia bisa lari dari kenyataan yang belum dapat ia terima. Ia memejamkan matanya, menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan.

"Thank you, Sydney. Maybe I will come back!" gumamnya dalam hati. 

***

"Hey, bisakah saya minta tolong?" tanya seorang pemuda dengan bahasa Inggris.

Prilly membuka matanya dan menatap pemuda itu dengan heran. Ia masih terkejut dengan pemuda yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Saya mohon," lanjut pemuda itu.

"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Prilly ragu-ragu.

Bukannya menjawab pertanyaan Prilly, pemuda itu malah memberikan pernyataan.

"Saya janji, saya akan memberikan penjelasan yang masuk akal."

Sebelum Prilly sempat menyetujuinya, pemuda itu mendekatkan dirinya dan memeluk Prilly. Mata Prilly terbelalak kaget. Tapi anehnya ia tidak dapat melakukan apa-apa. Prilly mematung dalam dekapan pemuda asing itu. Ada perasaan aneh yang Prilly rasakan. Namun begitu nyaman dan aman, sama seperti pelukan ayah.

Prilly sangat merindukan pelukan itu. Samar-samar Prilly dapat mendengar suara detak jantung pemuda itu, Lemah tapi stabil. Dua menit berlalu dan pemuda itu melepaskan pelukannya.

"Maaf," kata pemuda itu lembut,

Prilly tak mampu berkata-kata.

"Saya Jeremy. Panggil saja Jere," Jere mengulurkan tangannya.

"Pri.. Prilly," sambutnya terbata-bata.

"Terima kasih udah menolong saya. Kamu lihat 3 pemuda berjas hitam yang lewat tadi?"

Prilly mengangguk.

"Mereka mau menculik saya. Itu kenapa saya memelukmu. Saya harus menyembunyikan wajah saya."

"Hah?" Raut muka Prilly berubah menjadi takut.

"Tapi mereka bukan orang jahat," sambung Jere.

Prilly semakin bingung. Dia memijat pelipisnya.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Jere.

"Ia, saya hanya sedikit bingung. Tapi lupakanlah. Saya harus segera pergi."

"Tunggu. Biarkan saya membelikan sesuatu untukmu sebagai rasa terima kasih."

"Tidak perlu. Jaga dirimu baik-baik."

"Saya mohon." Jere menggosok kedua tangannya di depan Prilly.

Lagi-lagi kalimat itu membuat Prilly goyah.

"Hanya sebentar. Saya janji," lanjut Jere tersenyum.

"Baiklah," jawab Prilly.

Mereka berjalan meninggalkan taman. Jere memandu langkah kaki mereka hingga tiba di sebuah cafe kecil dengan nuansa klasik.

"Apakah kamu suka makan es krim di musim dingin?" tanya Jere.

"Sangat!"

"Sempurna. Ayo masuk."

Ada suara lonceng yang berbunyi ketika mereka membuka pintu. Aroma waffle langsung menyerbu hidung mereka. Begitu menggoda selera. Mereka diantar ke sebuah meja kosong yang berada di samping jendela kaca besar.

Dari sana mereka dapat melihat pepohonan yang menari-nari diterpa angin dan menikmati sinar matahari yang menyusup masuk lewat jendela.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar setelah mereka memesan es krim pilihan mereka. Jere menatap Prilly dengan terus tersenyum. Prilly merasa gugup dan berusaha mengalihkan pandangannya jari Jere.

"Kalau boleh tahu, dari mana asal kamu?" Jere memecah keheningan.

"Indonesia."

"Indonesia? Jadi ngapain dari tadi kita berbahasa Inggris?" Tanya Jere yang tidak lagi menggunakan bahasa Inggris.

"Jadi kamu juga dari Indonesia?"

"Yup. Bandung."

"Sama!"

Keduanya tertawa. Suasana yang dingin perlahan mencair. Mereka memperbincangka banyak hal setelah tahu bahwa mereka berasal dari kota yang sama. Prilly mulai merasa nyaman dengan Jere. Ia tak pernah merasa sebebas ini bersama orang lain.

Lebih tepatnya ia tak pernah mengizinkan siapa pun untuk dekat dengannya. Prilly terbiasa dengan kesendiriannya. Tapi beda dengan Jere. Ia tak mampu mendorong jauh pemuda yang baru ia kenal ini.

Mereka menghasikan waktu bersama selama hampir 12 jam. Dari cafe tempat mereka makan es krim, Luna Park, Sydney Opera House, Darling Harbour, dan malam harinya mereka kembali ke taman tempat dimana mereka bertemu tadi siang.

"Prilly, lihat! Bintangnya bagus banget."

"Wah, indah sekali." Seulas senyum menghiasi wajah mungil Prilly.

"Prilly, kamu percaya takdir?" Tanya Jere yang sedang menatap bintang.

"Aku tak ingin membahasnya."

"Kamu tahu? Setiap kita memiliki takdir yang berbeda-beda."

Prilly hanya diam. Hatinya terasa sesak. Ia mendadak kangen dengan ayah.

"Ada yang diberi garis takdir untuk hidup lebih lama karna dia memang berhak mendapatkannya. Ada yang hanya diberi kesempatan untuk menikmati hidup yang singkat, bukan karena dia tiak berhak. Tapi karena ada sesuatu yang jauh lebih indah telah menantinya di atas sana," Jere menggenggam tangan Prilly.

"Bisakah kita membahas hal lain?" Prilly tersenyum kaku.

"Prilly, setiap detak jantung kamu adalah detik yang berharga buat aku. Berjanjilah padaku untuk terus tersenyum seperti hari ini." Jere mengacungkan kelingkingnya ke arah Prilly.

Prilly menatap Jere dan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Jere, "aku janji."

Ia juga membiarkan wajah Jere mendekati wajahnya. Ini pertama kalinya ia merasa bahagia sejak umur sembilan tahun. Ia tidak pernah menyangka tembok pertahanannya selama puluhan tahun runtuh hanya dalam waktu 12 jam. Andai saja waktu dapat berhenti, ia ingin selamanya berada disini bersama dengan Jere.

***

"Terima kasih untuk 12 jam yang akan selalu aku ingat, Prilly Natalie."

"Bagaimana kamu bisa tahu nama belakang aku?" tanya Prilly heran.

"Karna aku sudah memperhatikanmu sejak lama."

"Jadi sebenarnya kamu udah tahu dong kalau kita sama-sama dari Indonesia."

"Sssttt." Jere menempelkan jarinya di bibir Prilly. Jere memeluk Prilly dan mengecup keningnya dengan lembut.

"Aku sudah mencintaimu bahkan sebelum kamu mengenalku." Bisik Jere lembut.

"Jereeee!! Jere, kamu kenapa?" tanya Prilly panik.

Jere tiba-tiba ambruk. Prilly menahannya hingga terduduk di lantai, menopang kepala Jere agar tidak terbentur. Seketika itu 3 pemuda berjas hitam tadi siang berlari mendekati mereka.

"Itu tuan muda," teriak salah satu dari antara mereka.

"Cepat angkat tuang ke mobil." Perintah pemuda yang kelihatan lebih tua.

"Tunggu! Kalian siapa?" suara Prilly gemetar.

"Kami penjaga tuan muda Jeremy."

"Aku tidak akan menyerahkan Jere begitu saja. Aku perlu bukti."

"Kamu tidak punya waktu untuk itu. Ikut saja dengan kami."


***

5 Agustus 2019

Matahari begitu terik menyinari kota Bandung. Orang-orang kembali sibuk bekerja setelah weekwnd yang menyenangkan. Tapi tidak dengan Prilly yang sengaja cuti untuk bertemu dengan dua orang yang sangat ia rindukan.

Prilly melirik kalender di atas meja belajarnya. Ia mengambil pulpen merah dan menggambar bentuk hati tepat di tanggal 5. Ia tersenyum dan menuliskan nama Jere disana.

"Prilly, ada mang Tito cari kamu nih," teriak mom dari lantai bawah membuyarkan lamunan Prilly.

"Iya mom, 5 menit. Prilly segera turun."

Prilly mengambil sebuah kota berinisial JP dari dalam lemari kacanya, dan sepucuk surat di atas meja belajarnya. Ia merapikan dress hitamnya di depan cermin dan kemudian meninggalkan kamarnya dalam gelap.

"Terima kasih mang."

"Sama-sama neng. Akhirnya wajah neng bersinar lagi, persis seperti pertama kali waktu mamang antar bunga untuk neng di taman sekolah," ucap mang Tito yang mengantarkan bunga pesanan Prilly.

"Ini semua berkat mang juga," jawab Prilly tersenyum.

"Titip salam buat masa Jere, neng."

"Pasti aku sampaikan!" balas Prilly antusias.

"Selamat beraktivitas neng. Mamang pamit dulu."

"Semangat ya mang! Hati-hati di jalan" Prilly melambaikan tangannya.

"Mom sudah siap?" teriak Prilly dari pintu depan rumah.

"Sudah. apa kamu sudah bawa hadiah ulang tahun ayah?"

"Sudah mom. Sumuanya beres."

"Ok. Mom segera ke sana."

***

Angin sepoi-sepoi berembus menerbangkan rambut Prilly. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang sepi. Tidak banyak orang yang datang berkunjung ke tempat ini, apalagi di hari Senin yang sibuk. Hanya ada Prilly dan tiga pengunjung lainnya. Prilly merapikan rambutnya sebelum ia menyapa Jere.

"Hi Jere, apa kabar?" tanya Prilly dengan senyuman manisnya. Senyuman yang disukai Jere. "Terima kasih Jere untuk hadiah terindah yang udah kamu berikan dalam hidup aku," lanjut Prilly.

Prilly membuka kotak polkadot dengan inisial JP yang ia bawa dari rumah dan merogoh saku pakaiannya. Sebuah amplop berwarna biru muncul dari dalam saku dress hitamnya. Prilly mengangkat amplop itu ke langit dan kemudian memasukannya ke dalam kotak polkadot biru. Prilly menutup kotak itu dan meletakkannya di samping bunga mawah putih yang sudah ia letakkan sejak ia sampai. Prilly bangkit berdiri dan tersenyum manis ke arash Jere.

4 Agustus 2019.

"Mom, hadiah ayah bagusnya pakai kertas kado biru cerah, ungu atau silver?" tanya Prilly yang sedang sibuk membandingkan kertas kado belanjaannya tadi siang.

"Ayah suka warna hitam." jawab mom dari dapur.

"Ih jangan dong. Masa hari ulang tahun kadonya hitam. Silver gimana?"

"Boleh juga. Ayah suka semua hal yang kamu buat, sayang." Bunda memindahkan soup yang sudah matang ke dalam mangkuk.

"Siap."

"Sini makan malam dulu. Nanti kita bungkus bareng."

"Ok mom. Tahu aja deh perut Prilly udah bunyi."

Malam itu Prilly dan mom sibuk mempersiapkan hadiah buat ulang tahun ayah besok. Mereka juga menulis surat yang manis untuk diberikan kepada ayah. Keduanya tidak sabar untuk menemui ayah besok pagi.

Prilly merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Jam menunjukkan pukul 9 lewat 42 menit. Mom sudah kembali ke kamar, dan mungkin juga sudah terlelap. Prilly menatap langit-langit kamarnya. Entah kenapa ia merasa sangat bahagia. Ia melirik meja belajarnya. Sesaat kemudian, ia bangkit berjalan ke arah meja belajarnya. Ia membuka sebuah amplop biru dan menemukan sepuncuk surat di dalamnya.

Ini sudah yang ke delapan puluh lima kalinya Prilly membcara surat ini. Suratnya pun sudah tampak lusuh karena sering dibaca. Ia tak pernah sekalipun merasa bosan. Meskipun dia sempat menangis berhari-hari ketika pertama kali membaca isi surat ini. Namun sekarang ia selalu tersipu malu dan tersenyum bahagis.

Untuk seseorang yang aku rindukan.

Hi Prilly, apa kabar?

Apa kamu sudah ingat dengan aku? Seseorang yang pernah memberikanmu mawar putih ketika kamu berumur sembilan tahun di pemakaman. Kamu tahu? Kamu berhasil mencuri perhatianku sejak pertama kali aku melihatmu di taman sekolah. Tawamu, senyumanmu, sorot matamu, gerak-gerikmu berhasil mengalihkan duniaku. Dan kedua kalinya aku bertemu kamu di pemakaman. Sejak saat itu, tak pernah sekalipun aku absen untuk melihatmu. Meski hanya dari jauh. Mang Tito juga selalu ikut untuk membantuku menyampaikan mawar putih yang aku petik dari taman rumahku. Bunda selalu bingung karena mawarnya semakin hari semakin berkurang, hahaha. Kita harus merahasiakan hal ini dari bunda.

Aku sedih melihatmu berubah murung sejak hari pemakaman itu. Aku terus berusaha untuk mengembalikan senyumanmu melalui mang Tito. Bertahun-tahun aku sangat merindukan senyumanmu. Hingga suatu hari kamu tiba-tiba meghialng. Aku tak bisa menemukanmu selama hampir tiga hari. Dan saat itu aku sangat sangat menyesal. Andai saja aku lebih berani untuk menyapamu seperti di pemakaman dulu.

Namun ketika aku berhasil mengetahui keberadaanmu, aku bertekad untuk tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Aku membujuk kedua orangtuaku untuk membiarkan aku pergi. Aku tak pernah minta apa pun selama hidupku. Aku hanya ingin berada di dekatmu sampai hari itu tiba.

Satu bulan berlalu, tapi aku tak berhasil menemukanmu di Sydney yang begitu besar. Hingga suatu hari aku berhasil menemukanmu di taman tempat kita bertemu terakhir kali. Aku ingin berlari menemuimu. Tapi lagi-lagi aku takut. Kamu tahu? Gadis kecil yang memberimu bubble milk tea saat itu adalah sepupuku. Ehh siapa sangka itu malah jadi minuman kesukaan kamu.

Prilly, jika kamu menganggap aku ini pengecut. Ya, aku memang pengecut. Aku terlalu takut menghadapi kenyataan. Terlalu takut karena harus melepaskanmu suatu hari nanti. Aku takut aku tak bisa melakukannya. Itu sebabnya aku tak pernah berani untuk menemuimu, bahkan hanya sekadar menyapamu pun aku tak mamp melakukannya.

Sehari sebelum kepergianku, dokter memvonis aku taka akan bertahan lebih dari 48 jam. Penyakit yang aku derita sejak kecil ini sudah menggerogoti seluruh organ tubuhku. Saat itu yang aku pikirkan hanyalah ingin menghabiskan sisa 48 jam yang ada untuk melihat senyuman yang begitu aku rindukan. Aku kabur dari rumah sakit, kabur dari para penjagaku, dan pergi menemuimu. Syukurlah kamu benar-benar ada di taman hari itu.

Terima kasih sudah mengizinkan aku bersamamu, meksipun hanya 12 jam. Aku bahagia melihat kamu tersenyum kembali. Mungkin kamu merasa tidak adil dengan apa yang terjadi para ayahmu, dan sekarang aku juga pergi meninggalkanmu. Tapi percayalah, kami sangat bahagia berada di tempat indah ini. Kamu berhak untuk melanjutkan hidupmu dengan bahagia, Prilly. Kamu berhak untuk mencapai semua impianmu. Kamu berhak untuk mencintai dan dicintai. Berjanjilah padaku untuk kembali bersinar seperti Prilly yang berhasil membuatku jatuh cinta.

Prilly, kamu dapat mengembalikan surat ini padaku sebagai tanda bahwa kamu sudah berhasil menepati janjimu. Kamu sudah kembali tersenyum bahagia seperti Prilly yang aku lihat di taman sekolah. Aku akan menunggu surat ini kembali padaku. Datanglah kapanpun kamu siap.

Yout secret admirer,
Jere

*****

"Jere, aku yakin kamu sedang memperhatikanku dari surga, Aku sudah kembali seperti Prilly yang kamu lihat pertama kali di taman sekolah. Bahkan sekarang aku jauh lebih bahagia dari hari itu. Karena aku tau kamu dan ayah selalu di dekatku," ucapnya lembut.

"Terima kasih telah mengajarkan aku betapa berharganya sebuah kehidupan." Prilly tersenyum.

"Sayah, sudah selesai? Yuk kita ke makan ayah."

"Yuk mom. Aku sudah nggak sabar mau cerita banyak hal sama ayah."

Mom tersenyu,. "Terima kasih Jere sudah mengembalikan putri kecil kami." bisik mom sebelum beranjak pergi dari pemakaman Jere.

Tentang Penulis :

Saya adalah seorang wanita yang sangat suka menghabiskan waktu saya untuk menulis. Impian saya adalah dapat menginspirasi setiap pembaca melalui tulisan-tulisan saya. Semoga tulisan pertama saya d Fiksi Weekend ini dapat menjadi motivasi untuk setiap orang yang mungkin mengalami hal yang sama dengan Prilly. Seringkali kita tidak sadar telah melewatkan banyak hal indah karena terfokus dengan masa lalu atau kejadian pahit yang kita alami. Kita hidup hanya sekali di dunia ini. Pastikan untuk berani memperjuangkannya dan hidup bahagia. Karena setiap orang berhak untuk memilikinya.

Cerita Dari Rahasia Kami Berdua

Cerita Dari Rahasia Kami Berdua

INIKECE - "Nak, Nenek mau tanya, alamat ini di mana, ya?" Aku menoleh, melihat seorang nenek yang kurus dan bungkuk, tingginya hanya setinggi bahuku. Aku pun melihat secarik kertas yang dipegang nenek itu, lalu segera memberikan arahan untuk menuju alamat itu.

"Terima Kasih ya, Nak," ucap Nenek itu seraya pergi.

"Niken, kamu lagi bicara sama siapa?"

Aku mengangkat kepalku, melihat dua temanku yang tampak kebingungan. Aku berpikir sejenak, lalu tersenyum.

"Gak lagi bicara sama siapa-siapa kok, pasti cuma perasaanmu saja."

Benar, itulah rahasiaku. Terkadang, aku dapat melihat hal-hal yang tak dapat dilihat orang lain. Mungkin itulah yang orang-orang sebut sebagai makhluk halus.

Aku cuma gadis SMA biasa yang mendambakan kehidupan normal sebagai pelajar SMA. Pergi ke sekolah, belajar, bercanda tawa dengan teman-teman, ditembak cowok keren, berpacaran, dan lulus dengan perasaan puas. Akan tetapi, karena rahasiaku ini, aku kesulitan.

Setiap kali diajak jalan-jalan seusai sekolah oleh teman-temanku, selalu saja ada yang mengganggu. Aku tak bisa berjalan-jalan dengan santi kalau terus-terusan melihat hal-hal aneh. Pernah sekali aku justru muntah di tempat umum, dan itu memalukan sekali.

Dulu, ada beberapa anak cowok yang mendekatiku. Tapi semua tidak tahan karena aku sering tiba-tiba kaget sendiri padahal tak ada apa-apa, atau berubah pucat dan hanya berkata, "Tidak apa-apa, cuma perasaan saja." Tidak jarang juga aku membatalkan janji kencan dengan mereka karena ini.

Sesampainya aku di rumah, aku langsung melempar diriku ke atas ranjang dan membenamkan wajahku ke bantal.

"Niken, kalau sudah di rumah cuci tangan cuci kaki dulu! Jangan langsung ke ranjang!" seru Mama dari dapur.

"Iya, Ma!"

Aku bangun dari tempat tidurku dan menatap cermin setinggi tubuhku yang berada di sudut kamar. Aku ingin anak perempuan yang tidak terlalu kurus, tapi juga tidak terlalu gemuk. Wajahku juga tidak terlalu jelek. Rambutku hitam dan lurus yang panjangnya hingga punggung.

Orang-orang akan mengira aku ini gadis SMA yang normal, tapi kenyataannya aku tidak normal sama sekali. Mungkin, aku juga tak akan pernah menikah seumur hidupku.

Lalu suatu hal terbesit dalam benakku. Tak mungkin hal ini hanya dialami oleh satu orang saja di sunia ini. Mungkin di luar sana, ada orang lain yang bernasib sama denganku. Mungkin di luar sana, ada orang yang mengerti penderitaanku. Lalu mungkin, suatu saat nanti aku akan bertemu dengan belahan jiwaku.

***

Paginya, aku terlambat bangun, dan terpaksa mengambil jalan pintas agar tiba di sekolah tepat waktu.

Aku tidak terlalu suka jalan ini. Jalannya gelap, suram, dan bau. Baru karat. Terkadang, aku melihat sesuatu yang mengerikan di sudut tikungan ujung gang ini. Aku mendengar dari orang-orang sekitar, beberapa puluh tahun lalu pernah ditemukan mayat yang termutilasi di tempat itu. Arwah orang itu masih bergentayangan sampai sekarang, hanya saja bagian tubuhnya tak pernah lengkap.

Aku bertemu dengan makhluk itu beberapa tahun yang lalu, dan ia menyadari aku bisa melihatnya. Dia memintaku mencarikan jari kelingking kirinya yang hilang. Aku sangat ketakutan melihat wujudnya, dan saat itu aku pigsan di tempat. Kini, aku akan berusaha sebisaku untuk tidak melihat makhluk itu.

Terdengar bisikan-bisikan aneh.

"Ke mana kakiku... Ke mana tanganku... Ke mana kupingku..."

Aku terus berjalan dengan kepala menunduk.

"Anak perempuan... Hei... Carikan anggota tubuhku..."

Aku menahan napasku dan berjalan semakin cepat.

"Kamu tak bisa mendengarku? Aku pernah melihatmu... Aku pernah... Aku pernah..."

Kakiku mulai bergetar.

"Aku ingat... Aku ingat..."

Sesosok wujud wajah ayng dipenuhi darah muncul dari bawah dan menatapku tepat di mata.

"Mana jari kelingking kirku?"

Aku terlonjak kaget dan segera menutup mulutku dengan kedua tangan, berusaha sekeras mungkin untuk tidak berteriak. Seseorang menutup mataku dengan tangannya, lalu menarikku ke bahunya. Dia mengajakku berjalan dengan sangat cepat.

"Hei... Mana jari kelingking kirku?"

"Jangan ganggu dia, dasar menjijikkan," ujar orang itu.

Setelah berjalan beberapa saat, orang itu melepaskan pelukannya. Aku membuka mataku, dan melihat kalau kita sudah berada dekat sekolah.

Seorang lelaki berseragam SMA berdiri di hadapanku. Tubuhnya ramping dan tegap. Wajahnya cukup tampan, dan senyumannya membuat jantungku berdebar.

"Kamu bisa melihatnya juga, ya? tanya anak itu. Jantungku berdebar keras. Mungkinkah..

"Jangan-jangan kamu..."

"Iya," jawabnya tanpa ragu sambil tersenyum ramah. "Aku bisa melihat makhluk halus."

Kalimat itu bagaikan gong di dadaku. Rasanya hampir saja aku menangis karena terlalu senang.

"Ayo kita bergegas, sebentar lagi bel sekolah berbunyi," ujarnya.

Kami bersama-sama berlari ke sekolah, lalu berpisah di koridor pemisah antara kelas 1 dan kelas 3.

Tepat setelah aku menyentuh kursi, beal sekolah berbunyi. Pelajaran dimulai, dan aku tak bisa berkonsentrasi. Aku tak bisa berhenti memikirkan anak lelaki yang tadi kutemui. Aku belum tahu siapa namanya. Aku akan mencarinya istirahat siang ini, sepertinya dia anak kelas 3. Memikirkannya saja sudah membuat hatiku melompat senang.


"Hei, Niken!" Panggil teman sebangkuku. Dia adalah Amalia, gadis berambut pendek yang selalu diikat ke balakang. "Ada apa, nih? Kayaknya kamu lagi senang."

Aku terawa tersipu, "Ada, deh"

"Ih, Niken main rahasia-rahasiaan, ya, sekarang!" seru Amalia sambil tertawa geli.

"Wah, rahasia apa, nih!" ujar Michelle, seorang gadis bertubuh mungil dengan kulit sawo matang yang manis. Dia duduk di belakang kami, bersebelahan dengan pacarnya.

"Jangan-jangan Niken sudah punya cowok, ya?"

"Aduh, mana mungkin! Sanggahku sambil tertawa malu. Sekilas, aku membayangkan diriku berpacaran dengan anak tampan itu. Membayangkannya membuatku merasa malu sendiri.

Siangnya ketika istirahat, aku segera mencari-cari di daerah anak kelas 3, ada banyak orang disana, sulit untuk menemukannya.

Sudah tiga kali aku mondar-mandir di sana, dan akhirnya aku menyerah. Mungkin anak itu tidak ditakdirkan untukku.

Aku berjalan menuju pohon besar yang ada di halaman sekolah. Tempat itu sangat sepi, berbeda jauh dengan koridor-koridor yang selalu dipenuhi murid-murid SMA. Aku berniat duduk sebentar di bawah pohon itu untuk menarik nafas sejenak, hingga tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku.

"Kamu mencariku?"

Aku menoleh, dan melihat sosok anak lelaki yang kucari sejak tadi. Jantungku berdegup ketika melihatnya.

"Kita belum berkenalan, 'kan?" tanyanya. "Namaku Ari. Namamu?"

"Namaku Niken," jawabku agar tergagap. "Kamu sungguhan bisa 'melihat'?"

"Iya," jawabnya sambil tersenyum. "Mau mengobrol sedikit tentang itu?"

Kami pun berbincang mengenai kemampuan kami. Tentang apa yang ada di sudut-sudut sekolah ini, tentang apa yang dilihat sehari-hari. Tampaknya Ari lebih paham tentang makhluk-makhluk halus itu daripada aku. Dia menjelaskan, ada beberapa hantu yang memang punya niat jahat, atau sekadar iseng, atau bahkan tak punya niat apapun.

Tak pernah sekali pun dalam seumur hidup ini ada yang dapat mengerti diriku seperti dirinya. Bahkan ibuku sendiri.

Rahasiaku kini sudah menjadi rahasia kami berdua.

Bolehkah aku sedikit berharap? Bolehkah?

Sejak hari itu, kami sering bertemu. Saat istirahat sekolah, atau sebelum sekolah dimulai. Tapi kami tak pernah bertemu seusai sekolah. Entah kenapa, setiap kali aku mengajaknya pulang bersama, dia memiliki kegiatan lain yang tak bisa ditunda lagi. Seperti kegiatan ekstrakurikuler atau OSIS. Dia pun tidak pernah membiarkanku menunggunya, dan memaksaku untuk pulang tanpa dirinya.

Namun itu semua cukup. Kami terus berbincang, dan sedikit demi sedikit mulai mengarah ke kehidupan pribadi kami.

"Aku anak satu-satunya di keluargaku. Ayahku sudah meninggal saat aku masih SD, dan ibuku berjuang keras demi menghidupi biaya hidup kami, serta membiayai pendidikanku."

Ari menyimak dengan seksama. Aku merasa tenang setiap kali bersamanya. Rasanya nyaman berada di sampingnya. Aku harap, kami bisa terus seperti ini selamanya.

"Bagaimana dengan keluargamu?"

Ari tersenyum. "Aku punya seorang adik laki-laki yang lebih muda tujuh tahun dariku. Dia anak yang baik dan lembut, aku sangat menyayanginya. Orangtuaku juga sangat baik dan harmonis. Mereka tak pernah bertengkar sepanjang pernikahan mereka."

"Pasti menyenangkan ya, hidup di tengah-tengah keluarga harmonis itu," ujarku, sedikit merasa iri. Ari masih tersenyum, tapi entah kenapa, sekilas tampak kesedihan di matanya.

"Benar, pasti menyenangkan rasanya."

Setelah pembicaraan itu, aku terus memikirkan makna omongan Ari. Aku tak berani menanyakannya langsung. Padahal dia memiliki keluarga yang hangat, tapi kenapa dia tampak begitu sedih?

Paginya, kami bertemu di dekat sekolah seperti biasanya dan berjalan bersama-sama. Ari sama sekali tidak membahas pembicaraan kemarin. Aku pun tak punya keberanian untuk mengungkit topik itu.

Aku terus kepikiran, hingga tanpa sadar tahu-tahu saja aku sudah berada di depan kelasku sendiri. Aku menabrak orang tanpa sengaja, dan membuat orang itu menjatuhkan dompet yang dipegangnya.

"Maaf!" seruku seraya buru-buru mengambilkan dompet yang terjatuh.

Ternyata itu adalah Boy, salah satu teman sekelasku yang jarang muncul ke sekolah. Kudengar dia sering sakit-sakitan. Aku jadi merasa bersalah karena sudah menabraknya sekeras itu.

Tanpa sengaja, aku melihat isi dompetnya. Ada sebuah foto kecil yang menarik perhatianku. Foto seorang anak kecil dan seorang anak SMA.

"Ini siapa?"

Boy berjongkok dan melihat dompetnya yang sedang kupegang. "Itu kakakku," jawabnya. "Dia sudah meninggal lima tahun yang lalu."

Kelasku ribut seperti biasanya, tapi mendadak saja semua jadi hening ketika melihatku semuanya berbisik-bisik.

"Niken?"

"Niken kenapa?"

"Kenapa dia nangis?"

Segera saja aku mendorong dompet itu ke dada Boy, lalu aku berlari sekuat yang kubisa. Bel seklah berbunyi, dan aku mengabaikannya. Aku terus berlari menuju pohon yang selalu kudatangi itu. Ari sedang berdiri disana, bersandar ke pohon.

Dia terkejut melihatku, "Niken? Kenapa kamu disini? Bel sekolah sudah berbunyi, 'kan?"

Aku berhenti beberapa meter di hadapannya. Aku tidak menjawab dan berusaha untuk mengumpulkan napasku. Setelah napasku terkumpul, aku mencoba untuk berkata perlahan-lahan. "Kenapa..."

Ari menunggu.

"Kenapa kamu tidak pernah pulang denganku?"

Dia tampak kebingungan mendengar pertanyaanku. Setelah diam beberapa saat, lalu dia menggeleng. "Tidak ada alasan khusus."

"Apakah kamu membohongiku?" tanyaku tanpa menghentikan air mata mengalir dari mataku.

"Niken, kamu kenapa?" Wajah Ari tampak sangat shock melihatku menangis seperti ini.

"Apakah kamu tidak mau pulang denganku karena kamu tidak bisa pulang?"

Suasana menjadi lebih sepi dari biasanya. Ari tampak terkejut sekaligus tenang. "Aku nggak mengerti maksudmu."

"Jangan pura-pura bodoh!" seruku sambil mengisak tangis. "Apakah kamu membohongiku? Apa maumu? Sudah kuduga sejak awal ada yang aneh kalau ada seseorang yang dapat mengerti diriku."

"Niken, dengarkan penjelasanku dulu. Pasti ada kesalahapahaman. Aku tidak membohongimu, aku ini manusia. Aku sungguhan bisa melihat hantu. Dan aku punya perasaan padamu. Niken."

"Niken!"

Aku menoleh, Amalia dan Michelle datang menyusulku. Mereka berdua menatapku dengan kebingungan. "Niken, kenapa kamu berbicara sendirian?"

Seketika, kakiku gemetar dan lemas. Aku berjongkok dan membenamkan wajahku di lutut.

"Niken, aku bisa jelaskan.." ucap Ari dengan suara yang bergetar.

"Pergi!" teriakku. "Pergi!"

Aku menangis tersedu-sedu dibawah pohon itu. Menangis dengan keras. Hingga akhirnya aku menyadari, Ari sudah benar-benar pergi, tak akan pernah kembali lagi, Amalia dan Michelle pun sudah pergi, mengira aku mengusir mereka.

Hari itu, guru mengizinkanku pulang lebih awal. Sesampainya di rumah, Mama hanya memelukku dan tidak bertanya apa-apa.

Lalu di kamar, aku kembali ke pojok ruangan yang selalu menjadi sahabatku ketika kecil dulu setiap kali aku menangis karena makhluk halus. Kukira, ketika aku sudah dewasa, aku tak akan lagi menangis sendirian di pojok kamar ini. Dan sekarang aku kembali ke sini.

Sejak awal seharunys aku sadar. Tak mungkin ada orang yang bisa mengerti penderitaanku. Dia bisa melihat hantu, karena dia sendiri adalah hantu.

Semenjak pertemuanku dengannya, hari demi hari, tanpa sadar aku semakin dalam memupuk perasaanku. Kini, setelah menyadarinya, semua sudah terlambat.

Apakah aku salah jika memilih untuk berharap? Apakah aku salah jika aku memilih untuk bertemu dengannya setiap hari? Apakah aku salah jika aku memilih untuk menjadikannya alasanku untuk bahagia? Apakah aku salah jika aku memilih untuk...

***

Keesokan harinya, aku tidak masuk ke sekolah. Tapi hari berikutnya, aku kembali ke sekolah, dan tak seorangpun yang menanyakan padaku tentang apa yang terjadi kemarin. Amalia dan Michelle pun berlaku seolah tak terjadi apa-apa, tapi diam-diam mereka berusaha menghiburku.

Dan Boy, hari ini lagi-lagi dia tidak masuk sekolah.

Setelah itu, aku tak pernah bertemu dengan Ari. Mungkin dia takut, jika dia tak pergi, aku maupun dia akan semakin sulit untuk melepaskan, dan hal itu hanya akan menyakiti kami berdua.

Setiap kali teringat akan dirinya, rasanya dada ini terasa menyakitkan. Aku hanya berharap suatu saat nanti aku bertemu laki-laki yang paham penderitaanku. Tapi kini, kenapa akhirnya jadi begini?

Ari, apakah kamu sungguh-sungguh dengan perkataanmu waktu itu?

"...aku punya perasaan padamu, Niken."

Suatu hari, ketika aku sedang merindukannya, aku menghampiri pohon itu sepulang sekolah. Ari tak ada di sana. Aku pun duduk dibawah pohon itu, membayangkannya ada di sampingku.

"Niken."

Seseorang memanggilku. Itu Boy. Dia mendekatiku, lalu duduk di sampingku. Keheningan menyelimuti kami dalam waktu yang cukup lama.

"Kakakku dulu meninggal di bawah pohon ini." ujarnya memeah keheningan. "Dia terkena serangan jantung tiba-tiba."

"Hentikan."

Aku memeluk lututku dan membenamkan wajahku kesana. Boy tak bicara apa-apa lagi, lalu tak lama kemudian pergi meninggalkanku sendirian.

"Dasar bodoh," bisikku.

Angin sore berembus, terasa dingin sampai menembus tulang. 

"Aku membecinmu. Aku membencinmu. Aku membencimu. Aku membencimu."

Aku tak lagi sanggup menahan air mataku.

"Aku mencintaimu."

Tak tahu apakah Ari mendengarku atau tidak. Tak tahu apakah angin sore itu menyampaikan pesanku atau tidak. Tak tahu langit senja melihat tangisku atau tidak.

Aku hanya menangis, menyadari sudah terlalu dalam untuk manusia yang telah tiada.

Aku tak tahu, apakah aku bisa mencintai pria lain lagi sedalam ini. Sejauh apa pun kakiku melangkah, waktuku sudah berhenti. Aku tak tahu apakah aku mampu untuk melupakan, apalagi merelakan.

Aku tak masalah, jika memang waktuku harus terhenti, jika itu untuk dirimu.

PROFIL PENULIS SINGKAT

Saya Fedora Lay, lahir di Bandung pada 31 Januari 2000. Saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, memiliki kakak tertua laki-laki dan kakak kedua perempuan.

Saya sudah memiliki minat dalam menulis semenjak duduk di bangku SMP, dan teman-teman, guru-guru, serta orangtua mendukung minta saya itu. Awalnya, saya melakukan hobi menulis saya hanya untuk bersenang-senang. Setelah lama menekuni hobi ini, saya menyadari kalau saya bisa mengembangkan bakat saya dalam menulis lebih baik daripada yang saya miliki saat itu, sehingga saya terus mengembangkannya sampai sekarang. Saya percaya pada talenta menulis dalam diri saya dan tidak akan pernah menyerah.

Saat ini saya adalah seorang mahasiswi dari jurusan Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan. Meski jurusan saya pilih tidak ada hubungannya dengan minat menulis yang saya miliki, saya tetap akan berjuang dalam menggeluti dunia ini.

Cerita Horror! Malam Halloween Yang Ditakuti

Cerita Horror! Malam Halloween Yang Ditakuti

INIKECE - Di saat malam Halloween, para anak-anak dan remaja-remaja merayakan malam tersebut dengan sangat meriah. Mereka mengenakan pakaian seram layaknya sesosok yang menakutkan seperti penyihir, setan, hantu goblin, dan sosok menakutkan lainnya.

Tradisi perayaan malam Halloween ini dirayakan tepat pada setiap tanggal 31 Oktober. Selain mengenakan pakaian seram, mereka juga meminta permen atau coklat ke rumah-rumah tetangga sambil berkata "trick or treat".

Dan di suatu malam Halloween, ada seorang anak berumur sekitar 11 tahun sedang menghiasi rumahnya dengan lampu gantung berwarna-warni dan menaruh sejumlah Jack o'latern (yang sering kita sebut dengan labu Halloween) di depan pintu rumahnya. Anak itu menaruh lilin di dalam labu-labu yang ia pajang, agar kelihatan lebih terang dan lebih menakutkan di saat malam mulai gelap.

"Hai Elena!" sapa sekelompok anak yang sedang berjalan-jalan.

"Hai teman-teman!" sapa Elene kembali.

Elena lalu menghampiri teman-temannya dan ikut mereka meminta permen dan coklat ke rumah tetangga mereka.

"Elena, apa yang sedang kau lakukan tadi saat di rumah?" tanya seorang temannya.

"Aku hanya menghias rumahku dengan pernak-pernik Halloween," jawab Elena.

"Oh...begitu," ucap sang teman.

Di saat malam sudah mulai larut, mereka ingin pulang ke rumah masing-masing. Tapi, Dominic mengajak teman-temannya mencari apel dan meminta permen ke rumah-rumah orang yang tinggal di dalam hutan Ebeline. Mendengar usul temannya itu, Elena menolak ajakan temannya tersebut. Karena hutan Ebeline adalah hutan yang sangat menyeramkan.

"Teman-teman, aku tak mau ikut bersama kalian," kata Elena kepada teman-temannya.

"Mengapa kau tak mau ikut Elena?" tanya Dominic.

"Aku takut pergi ke hutan tersebut, ibuku pasti akan mencariku. Dan kalian pasti tahu sendiri kan, hutan itu sangat menyeramkan," jawab Elena takut.

"Kamu ini bagaimana sih Elena, kita kan sudah besar, seharusna kita tak harus takut dengan hal-hal yang menyeramkan seperti itu! Tapi terserah kamu saja, kalau kamu tak mau ikut tidak masalah, kami bertiga saja yang akan pergi ke hutan itu," ujar Dominic kecewa.

Ketiga teman Elena pun segera pergi ke hutan Ebeline. Sedangkan Elena kembali pulang rumahnya. Tapi, sebelum Elena pulang ke rumah, ia mempunyai firasat buruk akan kepergian teman-temannya tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di dalam hutan tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul teman-temannya tersebut dengan hati gelisah.

Sesampainya di hutan Ebeline, Elena memanggil nama teman-temannya.
"Dominic, Andreas, Vanessa! Dimana kalian?!" panggil Elena.

"Percuma saja," kata seseorang tiba-tiba yang tak terlihat wujudnya oleh Elena.

"Suara siapa itu?" tanya Elena.

"Ya, percuma saja kau mencari teman-temanmu itu. Karena pasti mereka sudah menjadi santapan penyihir," ucap seekor kucing berwarna kuning keemasan yang menghampiri Elena dengan tiba-toba.

"Hahh? Siapa kau?" tanya Elen dengan heran.

"Perkenalkan, aku Catline, si kucing pemberani," jawab kucing itu.

"Oh ya? Darimana kau tahu kalau teman-temanku sekarang sudah menjadi santapan penyihir?" tanya Elena kembali.

"Tentu saja aku tahu. Aku ini sudah lama tinggal di hutan ini. Jadi, aku banyak tahu tentang keadaan hutan Ebeline," jawab sang kucing.

"Oh...begitu ya. Kalau begitu, kau mau tidak menemaniku untuk mencari teman-temanku?"

"Emmm... mau, tapi aku tak bisa menjamin kalau teman-temanmu itu masih bisa selamat."

"Baiklah... ayo kita cari mreeka sekarang!" ucap Elena semangat.

Akhirnya, Elena dan Catline pergi bersama mencari teman-temannya. Saat di tengah perjalanan, Catline mencium aroma kue di tengah-tengah rerimbunan pohon di hutan.

"Sepertinya aku ada mencium arome kue yang lezat, Elena." kata Catline.

"Oh ya? Lebih baik kita mencari asal dari bau itu saja, siapa tahu sekitar sini ada terdapat rumah-rumah penduduk." Ujar Elena.

Merekapun segera mencari asal dari aroma kue tersebut, hingga mereka menemukan sebuah rumah kecil di tengah-tengah hutan. Aroma yang mereka cari ternyata berasal dari rumah tersebut. "Permisi" kata Elen sambil mengetuk pintu rumah itu.

"Ya, sebentar? Sahut seseorang dari dalam sambil membuka pintu rumahnya. Dan munculah seorang gadis kecil berambut cokelat dari dalam rumah itu.

"Kalian siapa ya? Ada perlu apa?" tanya gadis tersebut.

"Aku Elena dan ini temanku Catline." Jawab Elena.

"Oh... ada perlu apa kalian kemari?" tanya gadis itu lagi.

"Di saat kami sedang dalam perjalanan, kami mencium aroma kue yang tampaknya sangat lezat, dan kami mencari-cari asal aroma tersebut, hingga kami menemukan rumahmu di tengah-tengah hutan ini." ujar Elena.

"Oh begitu. Ya sudah, silahkan masuk." kata gadis kecil itu.

Di dalam rumah gadis itu, Elena dan Catline di beri kue cokelat yang sangat lezat. Dan gadis itu memperkenalkan namanya, gadis itu bernama Melissa. Ia tinggal di rumah ini sendirian. Pekerjaannya sehari-hari adalah mencari kayu bakar di hutan ini dan nantinya akan di jual ke pasar di pinggiran kota.


"Oh ya, apakah kamu ada melihat teman-temanku lewat di sekitar sini?" Tanya Elena dengan penasaran.

"Seperti apa ciri-ciri mereka?" Tanya Melissa kembali.

"Mereka berjumlah 3 orang yaitu Dominic, Andreas, dan Vanessa. Kalau Dominic berambut gelap, memakai pakaian kelelawar. Andreas berambut pirang, memakai pakaian drakula, dan Vanessa berambut coklat, memakai pakaian peri." ujar Elena.

"Oh ya! Aku pernah melihat mereka di sekitar sini. Tadi mereka pergi ke arah timur, tampaknya mereka akan meminta permen ke rumah Penyihir jakat," jawan Melissa dengan raut wajah serius.

"Hahh?! Yang benar? Rumah penyihir itu dimana?" Tanya Elena dengan panik.

"Rumah penyihir itu tak terlalu jauh dari sini, tapi kau harus berhati-hati jika menemui penyihir itu, sebab ia dapat berubah wujud menjadi apa saja dan siapa saja." ucap Melissa.

"Baiklah, kami akan pergi kesana." Kata Elena.

Tak lama menunggu, Elena dan Catline pun segera meninggalkan rumah Melissa, dan bergegas pergi, agar cepat sampai di rumah penyihir tersebut. Di dalam perjalanan, Elena dan Catline di kejutkan dengan munculnya kabut putih dengan tiba-tiba, dan mereka berdua tidak dapat melihat dengan jelas di dalam hutan. Kemudian, dengan tiba-tiba munculah seorang perempuan dari balik kabut putih itu. Elena dan Catline pun terkejut.

"Hei kalian! Apa yang sedang kalian lakukan di tengah hutan gelap seperti ini? Apakah kalian tak takut bila ada penyihir jahat melihat kalian dan akhirnya dia menangkap kalian dan dibawanya pulang ke rumah untuk dijadikan santapannya yang lezat?" ujar perempuan itu.

"Siapa kau?" tanya Elenan dengan wajah penasaran.

"Aku Viona. Tampaknya kalian sedang mencari sesuatu. Kalian sedang mencari apa?" Tanya perempuan itu.

"Ya, kami memang sedang mencari teman kami. Apa kau pernah melihat mereka? Mereka berjumlah 3 orang." Tanya Elena.

"Oh, sepertinya aku tahu orang yang sedang kalian cari. Sepertinya mereka sedang menuju ke rumah penyihir jahat. Kalau tak keberatan, aku mau mengantarkan kalian ke rumah penyihir itu." jawab Viona.

"Ya, sepertinya itu ide yang bagus!" kata Elena dengan tersenyum gembira.

"Tapi, apa kau tak takut mengantarkan kami ke rumah penyihir jahat? Dia kan penyihir yang jahat." Tanya Elena.

"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu." jawab Viona.

Merekapun segera pergi ke rumah penyihir. Tak lama, mereka pun sampai di depan rumah penyihir itu.

"Ayo, aku antar masuk ke rumahnya." Ajak Viona.

"Wow..., berani sekali dia masuk rumah penyihir jahat." ujar Elena dalam hati.

Mereka pun mengetok pintu penyihir, tapi sepertinya tidak ada orang di dalam rumah tersebut. Rumah itu tampak seram dan sepi. Elena, Catline dan Viona pun seger amasuk ke dalam rumah penyihir itu. Tanpa Elena sadari, Viona dengan pelan menutup pintu rumah itu dan ia pun berubah dengan tiba-tiba menjadi sesosok penyihir.

Ia berkata, "Hahahah.... kalian sudah tertipu!" ucap penyihir itu.

Ternyata Viona itu adalah seorang penyihir yang menyamar menjadi orang baik. Penyihir jahat itu pun langsung mengikat Elena dan Catline dan menyekap mereka berdua di dalam ruang yang gelap. Penyihir itu akan menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasak Elena dan Catline. Ternyata Dominic, Andreas, dan Vanessa juga disekap oleh penyihir di ruangan yang sama. Sehingga mereka bertemu, tapi mereka sekarang sedang di ikat dan tak bisa berbuata apa-apa.

Di saat mereka sedang kebingungan mencari cara untuk lari dari rumah si penyihir, tiba-tiba Catline mempunyai ide bagus. Catline segera memutuskan tali yang mengikat mereka dengan kuku Catline yang tajam. Tak lama kemudian, mereka semua lepas dari ikatan si penyihir.

Mereka segera mengatur rencana agar bisa melumpuhkan si penyihir dan dapat lolos darinya. Dominic dan Andreas akan bersembunyi di bawah meja dapur si penyihir, sedangkan Elena, Vanessa dan Catline akan memasukkan ramuan di dalam minuman si penyihir agar penyihir merasa pusing dan akan kehilangan semua kekuatannya.

Di saat penyihir sedang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar, Elene, Vanessa, dan catline memasukkan ramuan itu ke dalam minuman si penyihir.
Sekitar 20 menit, penyihir jahat itu kembali lagi ke rumahnya, karena merasa letih, dia langsung meminum minumannya tersebut. Ia sama sekali tak tahu bahwa minumannya itu sudah di beri ramuan yang dapat membayangkan dirinya.

Setelah ia meminum minumannya, penyihir sangat merasa pusing, dan dia juga terlihat lemah. Melihat kejadian itu, Dominic dan Andreas yang berada di bawah meja pun langsung meletakkan tali di atas lantai, dan segera menariknya saat si penyihir sedang pusing.

"Gubraaakkkk!!!!!" si penyihir langsung terjatuh kesakitan.

"Yeeeyyy!!!!! kita berhasil!" teriak Dominic, Elena, Andreas, Vanessa dan Catline dengan gembira.

"Awas kalian ya! Aku akan membalas perbuatan kalian kepadaku! Lihat saja nanti!" ucap si penyihir jahat.

"Oh ya? Silahkan saja kalau kau mau membalas kami. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi, karena semua kekuatanmu sudah lenyap." jawab Elena.

"Apa? Itu tidak mungkin! Aku masih mempunyai banyak kekuatan," ucap si penyihir.

"Kalau kalian tak percaya, aku akan membuktikannya kepada kalian. Lihat ini, jurus mematikan!!!" ucap si penyihir jahat sambil mengucapkan mantarnya.

Tapi, mereka semua terdiam.

"Hah?! Kemana semua kekuatanku? kekuatanku hilang!" kata si penyihir dengan wajah kecewa,

"Kan sudah kami bilang, kekuatanmu itu sudah lenyap." ujar Vanessa sambil tersenyum. Dengan wajah yang hina. si penyihir mencoba untuk lari dari anak-anak tersebut. Tapi, belum sempat melarikan diri, penyihir jahat itu berubah menjadi sebuah labu Halloween.

Anak-anak itu semua sangat merasa bahagia, begitu juga dengan Catline. Kini mereka semua bisa pulang ke rumah mereka masing-masing. 

Dan akhirnya Dominic, Andreas dan Vanessa merasa menyesal karena tak mau mengikuti nasehat Elena.

"Elena, kami minta maaf ya. Karena kami tak mau mendengarkan nasehatmu," ucap mereka bertiga dengan rasa bersalah.

"Iya, tidak apa-apa. Anggap saja itu semua pelajaran berharga untuk kalian semua." jawab Elena dengan tersenyum.

Mereka semua tak mau lagi pergi ke hutan Ebeline, karena mereka semua sudah tahu bahwa hutan Ebeline itu sangat berhaya.