Makin Seru! Ultra Age Game Dengan Aksi Berkecepatan Tinggi Yang Ditawarkan

INIKECE - Untuk para pecinta game Ultra Age kini telah ditawarkan dengan berforma yang berkecepatan tinggi. Dimana para pemain dapat lebih seru memainkan game ini. Diajak Tokyo Game Show 2018.

Ibu Yang Selalu Menagih Janji Di Mimpi, Sebuah Cerita!

INIKECE - Soal-soal pilihan ganda ini benar-benar membuat kepalaku sakit, bagai ada kelereng-kelereng besi yang tak henti bergelinding di dalamnya. Mataku pun terasa betapa berat sebab terlampau lama menatap layar laptop sambil terus dipaksa berpikir. Padahal kuyakin yang membuat soal-soal ini pun tak peduli apakah aku dapat menjawabnya dengan benar atau tidak.

Cerita Dalam Buku - KKN Di Desa Penari ( Five)

INIKECE - Widya terbangun saat hari sudah mulai sore. Ia kemudian menyadari Ayu tidak ada di sampingnya. Widya menoleh ke arah Nur. Melihat kondisi badannya, Widya merasa Nur sudah jauh lebih baik dibandingkan tadi pagi. Ia membangunkan anak itu, menggoyang badannya dan seketika Nur terbangun.

Tercatat Dalam Buku Rekor Dunia, Salah Satu Pemain Liverpoola

INIKECE - Bintang Liverpool, Trent Alexanser-Arnold, mencatatkan dirinya masuk ke dalam buku rekor dunia atau Guiness World Record. Hal ini diperoleh oleh Trent Alexander-Arnold usai mampu mengemas assist terbanyak dalam satu musim.

Konsep Yang Terkubur Selama 140 Tahun, Berhasil Dipecahkan Oleh Ilmuwan Asal Indonesia

INIKECE - Indonesia memiliki anak-anak bangsa yang luar biasa dan patut dibanggakan karena sebuah prestasi yang diperoleh di kancah Internasional dan membawa nama Indonesia menjadi negara yang memiliki anak-anak yang berbakat.

Makin Seru! Ultra Age Game Dengan Aksi Berkecepatan Tinggi Yang Ditawarkan

Makin Seru! Ultra Age Game Dengan Aksi Berkecepatan Tinggi Yang Ditawarkan

INIKECE - Untuk para pecinta game Ultra Age kini telah ditawarkan dengan berforma yang berkecepatan tinggi. Dimana para pemain dapat lebih seru memainkan game ini. Diajak Tokyo Game Show 2018.

indie developer Next Stage dan Visual Dart memamerkan game garapannya yang berjudul Ultra Age. Dikembangkan memakai Unreal Engire 4, game tersebut menawarkan aksikasi intens yang tersaji dalam kecepatan tinggi.

Memadukan grafis berkualitas dengan combat berbasis kombo nan menantang, tidak heran kalau permianan beruansa roguelike ini berhasil menarik perhatian gamer.

Ultra Age mengisahkan tentang terjadinya bencana besar yang menimpa Bumi, diakibatkan oleh jatuhnya sebuah meteor raksasa. Hal itu memaksa umat manusia untuk meninggalkan planet tempat mereka lahir, dan tinggal di luar angkasa dalam Orbital Arc.

Namun, berkurangnya resource membuat para survivor mengadakan sebuah eksperimen, untuk mengembalikan Bumi sebagai tempat tinggal yang layak.


Dan 1086 tahun kemudian, seorang pemuda bernama Age "jatuh" ke planet itu demi menjalankan sebuah misi penting...


KEY FEATURES
  • The First Fight for Survival : Di Bumi, Age bertualang demi mencari semua yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup umat manusia. Namun, ia bakal menemui bahaya dalam bentuk makhluk mutan, organisme dan spesimen yang tersisa di Bumi, hingga mesin-mesin agresif. Bisakah Age menemukan apa yang dicarinya?
  • Exquisite Combat System : Menyerang tanpa henti di darat atau udara, lalu menghindar pada waktu yang tepat untuk menjaga kombo. Lanjutkan kombo dengan mempersempit jarak dengan musuh memakai wire. Setelah menguasai semua battle tech, kalian dapat menikmati aksi yang tersedia dalam permainan
  • Master the Sword : Menampilkan battle system yang memungkinkan gamer berganti pedang, dan menjatuhkan lawan dengan cepat. Adanya beragam skill yang bisa dipakai sebelum pedangmu hancur, memberi kans untuk merubah situasi pertarungan. Kenali sifat pedangmu, dan kalahkan musuh sesuai strategi ciptaanmu.
  • Trilateral, Strategic Selection : Gamer dapat menemukan beragam spesies monster di Ultra Age, bertarung demi mendapat kekuasaan. Akankah kalian memanfaatkan situasi?
  • Rich Natural Environment : Terdapat banyak variasi environment, seperti hutan lebat, gurun yang panas, hingga pabrik terbengkalai. Saksikan kehancuran yang dialami Bumi.

Bekerja sama dengan Intragames selaku publisher, Ultra Age bakal dirilis di konsol PlayStation4, awalnya dijadwalkan rilis tahun 2019, permainan itu mengalami pemunduran jadwal peluncuran menjadi tahun 2020.

Ibu Yang Selalu Menagih Janji Di Mimpi, Sebuah Cerita!

Ibu Yang Selalu Menagih Janji Di Mimpi, Sebuah Cerita!

INIKECE - Soal-soal pilihan ganda ini benar-benar membuat kepalaku sakit, bagai ada kelereng-kelereng besi yang tak henti bergelinding di dalamnya. Mataku pun terasa betapa berat sebab terlampau lama menatap layar laptop sambil terus dipaksa berpikir. Padahal kuyakin yang membuat soal-soal ini pun tak peduli apakah aku dapat menjawabnya dengan benar atau tidak.

Ah.. Ibu. Andaikan kau tak terus memintaku untuk menjadi seorang pegawai negeri, sudah pasti saat ini aku lebih memilih bertemu seorang kawan yang dapat menjadi mitra toko sembakoku itu, daripada aku harus berada di depan laptop dan bergumul dengan soal-soal ujian yang memuakkan ini.

Ah.. Ibu. Aku lebih seuka menghitung laba dan rugi pendapatan toko daripada menghitung kecepatan rata-rata antara dua kendaraan dari satu kota ke kota yang lain dan menentukan mana yang lebih dulu tiba.

Aku pun jauh lebih ahli menghitung risiko pengadaan diskon di toko daripada menghitung waktu tempuh antara dua kendaraan yang melaju dengan kecepatan berbeda-beda, seperti yang ada di soal-soal sialan ini.

Aku lebih suka berkutat dengan barang-barang dagangan daripada dengan berkas-berkas. Aku uga lebih senang menghirup aroma beras daripada aroma kertas. Dan aku lebih suka bertatap muka dengan pembeli daripada dengan layar laptop yang membuat pandanganku berbayang ini.

Ah.. Ibu, kenapa permintaanmu yang satu ini harus kau ucapkan sebelum kau mangkat. Dan kenapa kau pun selalu datang ke mimpiku sambil terus bertanya dengan raut muka yang selalu menekuk bagai kerupuk kulit itu, kapan aku menjadi pegawai negeri. Seolah kau betapa sebal aku tak kunjung menjadi pegawai negeri sampai ajalmu tiba.

Dan sekarang apa kau bisa lihat dari surga bagaimana anakmu ini tengah berujuang mewujudkan mimpimu walau dengan terpaksa? Doakan saja anakmu ini agar dapat lulus ujian masuk pegawai negeri. Biar kau dapat tenang di Surga. Biar kau tak perlu lagi memperlihatkan wajah menekukmu itu di mimpku sambil terus bertanya kapan aku jadi pegawai negeri. Biar aku pun tak perlul ditagih janji olehmu di akhirat kelak.

Tapi, bagaimana bila aku gagal menjadi pegawai negeri? Kau tahu berapa usiaku saat ini, kan Bu? Apakah kelak kau akan terus datang ke mimpiku sampai aku seusaimu dan terus menuntutku dengan wajah menekukmu itu?

***

Sejak dulu ibu begitu ingin agar aku dan adikku bisa menjadi pegawai negeri. Padahal bapak yang seorang pegawai negeri hanya bisa memberikan kehidupan yang pas-pasan. Tak ada mobil apalagi rumah dinas.

Bapak hanya punya Honda Astrea Grand keluaran 1991 yang setiap bagian kendaraannya sudah berkarat dan selalu ada asap mengepul dari knalpotnya. Rumah kami pun tak besar dan tampak tak ada bedanya dengan rumah para tetangga yang kebanyakan petani dan pedagang di pasar.

Ibu yang sehari-harinya berjualan kue-kue kering di pasar memang tak pernah berhenti mencemaskan masa depan anak-anaknya. Hampir setiap malam ibu selalu mengusap-usap keningku dan adikku yang akan terlelap sambil mengingatkan agar kami tak lupa berdoa untuk masa depan kami.

"Minta sama Gusti Allah supaya kalian iso jadi pegawai negeri. Supaya kalian iso tetep urip sampe tua. Bisa tetap ngidupi keluarga meski uwes pensiun. Tapi kali iso jangan jadi pegawai negeri rendahan seperti Bapak. Jadi pegawai negeri seng duwe jabatan mben iso urip makmur, Nak," ujar ubu sebelum kemudian mengecup kening kami bergantian dan berlalu.

Tapi sehabis itu berlalu, aku dan adikku akan membicarakan cita-cita kami sambil berbisik bagai tak peduli pada keinginan ibu yang baru diucapkan tadi. Barangkali karena kami memiliki banyak cita-cita yang kadang bisa berubah dan terlupakan begitu saja.

Pada satu malam aku pernah bercita-cita ingin menjadi pilot, sedangkan adikku ingin menjadi supir truk. Di malam yang lain aku lantas bercita-cita menjadi tentara, sedangkan adikku ingin menjadi pengendali traktor. Dan berganti malam yang lain aku pernah bercita-cita menjadi masinis kereta, sedang adikku ingin menjadi Satria Baja Hitam. Hingga tiba di satu malam kami pun memiliki cita-cita serupa : ingin menjadi pemain sepak bola.

"Tapi apa ibu akan senang kalau kita jadi pemain sepak bola, Mas?" tanya Agus ragu.

"Asalkan kita bisa dapat uang pensiunan pasti ibu akan senang-senang saja, Gus."

Adikku manggut-manggut.

Bapak mangkat saat aku baru tamat SMK, sedangkan Agus masih duduk di kelas 2 SMK. Sambil terisak di samping jasad bapak, lagi-lagi ibu menuturkan keinginannya agar aku dan Agus bisa menjadi pegawai negeri.

"Jadi pegawai negeri itu iso ngejamin hidup kalian, Nak" kata ibu lirih. Bulir bening tak henti berderai dari matanya. "Lihat bapakmu iki. Bapakmu masih iso ngasih penghidupan buat kita meskipun uwes meninggal, Nak," sambung ibu yang kali itu sesenggukkan.


Aku membisu. Adikku pun demikian. Tak ada kata yang bia kami ucapkan kecuali sebuah isakan. Aku memang pernah mendengar bila keluarga seorang pegawai negeri masih bisa mendapatkan uang pensiunan sekalipun yang bersangkutan sudah mangkat.

Bapak mangkat setelah lama diserang penyakit liver. Dan yang kutahu, selama bolak-balik berobat ke rumah sakit bapak atau ibu tidak pernah pusing memikirkan biaya. Padahal yang kutahu ibu dan bapak tak punya banyak tabungan, bahkan untuk menyekolahkanku saja ibu masih harus berjualan kue kering di pasar.

Di hari kematian bapak aku menyadari betapa ibu ingin anak-anaknya menjadi pegawai negeri. Pikirku saat itu, kalau memang menjadi pegawai negeri bisa membuat ibu senang maka aku harus jadi pegawai negeri.

Tapi untuk bisa menjadi pegawai negeri ternyata tidak mudah. Padahal aku tak pernah lalai mendaftarkan ujian masuk pegawai negeri khusus lulusan SMK setiap tahun, tapi sialnya aku selalu gagal. Nilaiku tak pernah bisa mencapai batas minimum di ujian akademik. Adikku juga selalu mencoba, tapi nasibnya ternyata tak lebih baik dariku.

Kegagalan lulus di setiap ujian masuk pegawai negeri lambat laun membuatku hilang asa. Bahkan aku pernah berkata kepada ibu bahwa aku tak ingin ikut ujian pegawai negeri lagi. Aku bilang, lebih baik aku berusaha membesarkan usaha jualan berasku di Pasar Slogohimo supaya dapat membayar utang yang kupinjam dari koperasi sebagai modal usaha daripada mencoba peruntungan menjadi pegawai negeri. Tapi ibu justru menangis.

Keinginan ibu untuk melihat anak-anaknya menjadi pegawai negeri seperti bapak benar-benar membuatnya, kupikir, hampir hilang akal. Aku pernah tak sengaja mendengar pembicaraan ibu dengan seorang bekas teman kerja bapak yang bertamu di suatu malam di awal Juni. Seingatku, lelaki beruban itu menjanjikan kepada ibu bila kedua anaknya bisa menjadi pegawai negeri, tapi dengan srayat tertentu.

"Nanti bisa kutaruh anak-anakmu di kantor kecamatan atau kelurahan, Sri," kata lelaki bernama Parmin itu meyakinkan ibu.

"Sungguh iso, Min?" Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum lebar.

"Tapi...ya... kau tahulah, Sri. Semua butuh ini." sela lelaki itu sambil menggesek-gesek jempol dan telunjuknya di hadapan ibu sebagai sebuah isarayat. Ibu yang mengerti maksud Parmin lantas bertanya berapa jumlah yang dibutuhkan. "Halah. Ndak usah banyak-banyak, Sri. Sepuluh saja buat berdua cukup, kok."

"Sepuluh juta?" sela ibu terperanjat. Lelaki itu mengangguk sambil berucap bahwa itu sudah termasuk harga kawan.

Tersirat dari air muka ibu bila ia kebingungan untuk bisa mendapatkan uang sebenyak itu. Dan entah mengapa, saat kumengintip dari sela-sela lemari yang menyekat ruang tengah dengan ruang tamu itu, kudapati ada dua tanduk yang sekonyong-konyong tumbuh dikepala si Parmin, ekor pun menjuntai dari bokongnya, dan kulihat api sekonyong-konyong membakar kepala hingga badannya saat ia mengatakan sesuatu yang menyebalkan kepada ibu:

"Kau bisa jual motor almarhum suamimu itu, Sri. Ditambah dengan menggadaikan surat rumah ini. Kuyakin itu sudah cukup menutupi semua biayanya."

Kulihat ibu tercenung sebentar. Kurang ajar betul si Parmin itu! Ia sudah benar-benar ingin mencuci otak ibu.

Sialnya lagi ibu benar-benar sudah termakam omongan Parmin. Sehari berselang adikku diminta ibu untuk memarkin Honda Astrea Grand milik bapak di depan rumah dengan ditempel kerta bertuliskan "Dijual" dan dihari yang sama ibu tampak gusar dan kebingungan lantaran ia tak bisa menemukan sertifikat rumah di lemari pakainnya. Untunya di malam Parmin bertamu itu aku sesegera mungkin membongkar lemari ibu dan mendapatkan sertifikat rumah ini.

"Kau tak perlu seperti ini, Bu!" hardikku sekali-kalinya kepada ibu. Malam itu aku terlampau geram padanya yang terus memaksa meminta sertifikat rumah ini.

"Ini juga untuk masa depan kalian, Wan. Aku rela melakukan apa pun untuk masa depan kalian walau harus ngegadaikan rumah!"

Ibu terus memaksa, tapi aku enggan luluh. Malam itu aku bilang pada ibu agar tak perlu melampaui batas seperti ini. Aku hanya tak mau bila kelak hasil keringatku justru tak membawa berkah pada keluargaku, sebaba aku menjadi pegawai negeri dengan cara yang licik, cara yang hara,.

"Bila aku tak mampu berarti memang bukan takdirku menjadi pegawai negeri. Lagi pula, kuyakin bapak pun tak akan setuju bila harus menggunakan cara licik seperti ini."

Serta-merta wajah ibu tertunduk pilu saat aku mengingatkan tentang bapak. Dan entah mengapa sejak malam itu ibu tak pernah lagi memaksaku untuk memberikan sertifikat rumah kepadanya. Ibu juga tak lagi memintaku menjadi pegawai negeri. Tapi kulihat tiada lagi pelita di matanya kelak, semburat cahaya di mukanya pun perlahan lenyap.

Tapi selepas itu, rasa bersalah dalam diriku sebab pernah menghardik ibu mendorongku untuk terus mencoba peruntungan menjadi pegawai negeri. Terang-terangan aku tunjukkan bukti kepada ibu setiap kali aku mendaftarkan diri di setiap kesemaptan, meskipun hasil yang kuterima selalu sama: gagal. Sampai akhirnya aku benar-benar berhenti mencoba setelah memutuskan menikah di usia dua puluh delapan tahun.

Sebelum menikah, usaha jualan berasku sudah semakin berkembang sampai akhirnya aku memutuskan untuk membangun toko sendiri di luar area pasar, sebelumnya hanya menyewa toko. Aku bahkan sudah memiliki lima orang karyawan. Sementara itu adikku sudah memilih jalan hidupnya untuk menjadi seniman dan merantau ke Jogja.

Mulanya aku mengira bahwa ibu sudah benar-benar bisa menerima pilihan hidup anak-anaknya, sebab ibu tak pernah lagi membahas perihal keinginannya melihatku atau Agus menjadi pegawai negeri. Apalagi aku sendiri bisa hidup lebih baik daripada bapak. Aku bisa membeli rumah sendiri.

Aku sudah bisa memberi kehidupan yang layak pada anak dan istriku. Toko berasku pun kini menjadi toko sembako yang besar dan kian lengkap. Aku juga sudah memiliki tabungan untuk masa pensiun nanti. Dan aku sudah melindungi keluargaku dengan berbagai asuransi kesehatan dari pemerintah.

Tapi, rupanya ibu tidak benar-benar lupa pada keinginannya dulu. Ibu hanya mengendapkan keinginanny itu sebentar. Setidaknya, ia mengendapaknnya sampai pertanda malaikat maut akan menghampirinya tiba.

Di usiaku yang ke-29, tubuh ibu mulai digerogoti berbagai penyakit. Darah tinggi, kolesterol, hingga stroke mulai mengeroyoknya. Kondisinya pun tak benar-benar membaik meski sudah bolak-balik ke rumah sakit. Sampai di malam sebelum Izrail menjemput, ibu sempat mengutarakan lagi keinginannya agar aku bisa menjadi seorang pegawai negeri.

"Jadilah pegawai negeri, Wan. Supaya masa tuamu nanti iso terjamin. Kamu tetap iso ngidupi keluargamu kalau sudah tua nanti. Uwes ora perlu kerja keras seperti sekarang, Wan."

Malam itu aku hanya mengangguk sebagai tanda bakti kepada ibu sebab tak mungkin aku tega menggeleng di kondisi ibu yang lemah itu. Tapi rupanya anggukanku malam itu benar-benar diingat oleh ibu sampai di liang lahatnya. Sebab hampir saban malam ibu selalu mendatangi mimpiku dan terus bertanya kapan aku akan menjadi pegawai negeri.

Setahun lamanya ibu menyempatkan waktu untuk mendatangi mimpiku saban malam. Dan selama setahun itu aku tak pernah bisa menjawab pertanyaan ibu. Kupikir ibu belum juga bisa tenang di liang lahat selama aku belum menjadi pegawai negeri.

Ah..tapi menginjak usia tiga puluh tahun ini sudah menjadi kesempatan terakhirku untuk mencoba peruntungan menjadi pegawai negeri. Dan entah apa yang akan ibu lakukan di dalam mimpiku nanti bila kau tahu bahwa aku sudah gagal menjadi seorang pegawai negeri. Apa kau akan selalu datang ke mimpiku untuk menjewerkan, Bu?

Cerita Dalam Buku - KKN Di Desa Penari ( Five)

Cerita Dalam Buku - KKN Di Desa Penari ( Five)

INIKECE - Widya terbangun saat hari sudah mulai sore. Ia kemudian menyadari Ayu tidak ada di sampingnya. Widya menoleh ke arah Nur. Melihat kondisi badannya, Widya merasa Nur sudah jauh lebih baik dibandingkan tadi pagi. Ia membangunkan anak itu, menggoyang badannya dan seketika Nur terbangun.

"Kenapa sih, Wid?" tanya Nur malas.

"Kita belum mandi sejak datang ke desa ini. Ayo mandi, mumpung masih sorean," ajak Widya memelas. Ia merasa tubuhnya agak lengket dan gatal. Bila tidak mandi, ia takut nanti malam akan sulit tidur. Tapi mengingat lokasi mandi yang cukup jauh, ia takut pergi seorang diri.

"Mandi?" ulang Nur. "Di bilik dekat sungai itu?"

"Ayolah, gatel badanku. Kalau gak mandi, nanti malam gak bisa tidur aku," ucap Widya memelas.

"Tapi barusan kamu bisa tidur, tuh," balas Nur menggoda.

"Lengket Nur, risih badanku kalau belum mandi," ucap Widya lagi. Ia bahkan tidak menghiraukan candaan Nur. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mandi.

Setelah sedikit memaksa, akhirnya Nur setuju, tapi dengan syarat, ia mau mandi lebih dahulu. Saat itulah, Widya dan Nur akhirnya keluar dari tempat peristirahatan. Mereka sempat mencari Ayu tapi tidak menemukannya. Mungkin Ayu ada urusan yang harus diselesaikan. Takut hari keburu gelap, mereka pun memutuskan untuk berangkat hanya berdua saja.

"Aneh gak sih Nur, di desa ini kok, dari kemarin aku gak lihat ada anak seumuran kita? Palingan kalau ada ya, cuma anak bocah." tanya Widya di perjalanan.

"Iya, aneh. Merantau kali," ucap Nur setengah malas menjawab.

"Ya kalau merantau masa semuanya. Tega gitu ninggal orangtuanya. Kok bisa, ya?" sahut Widya.

"Udahlah Wid, bukan urusan kita itu. Mungkin mereka punya alasan sendiri," ucap Nur, menutup pembicaraan.

Alasan sendiri, ulang Widya di dalam hati. Pertanyaan itu, terngiang di telinga Widya, tanpa sadar mereka sudah sampai di Sinden, dan hanya butuh beberapa langkah lagi mereka akan sampai di bilik dekat sungai.

Sore itu langit sudah kemerahan, Widya merasakan perasaan campur aduk itu lagi. Ia merasa seakan-akan sedang diawasi, yang anehnya, selalu Widya rasakan bila berada di Sinden.

Sampailah akhirnya mereka di bilik mandi. Nur yang pertama masuk lebih dahulu. Ia melihat kendi di dalam yang rupanya sudah terisi penuh.

"Jangan lama-lama, loh Nur, hari sudah keburu gelap," ucap Widya mengingatkan.

"Ia, sabar."


Nur menutup pintu.

Selama di luar bilik, Widya hanya menatap ke sana-kemari. Matanya tidak bisa lepas dari Sinden yang tidak terlalu jauh dari tempatnya sendiri, seakan Sinden itu terus memanggil dirinya. Hal itu membuat buku kuduk Widya merinding.

Setelah mencoba keras mengalihkan perhatian, terdengar suara air yang terguyur dari dalam bilik. Nur sedang membilas badannya, mungkin.

Suara air dari dalam bilik menjadi fokus Widya untuk membuang jauh-jauh perasaan sepi. Aneh, pikir Widya lagi, kenapa ia tidak melihat ada warga yang ke sini untuk mandi, mengingat ini satu-satunya bilik di desa ini. Apa mereka benar-benar mandi sebulan sekali?

Saat sedang melamun, tiba-tiba tercium aroma kemenyan yang menyengat. Aroma itu langsung menusuk hidung Widya.

Suara air mengguyur masih terdengar dari dalam bilik. Widya, mencoba mencari tahu dari mana aroma itu berasal. Saat Widya sedang mencari-cari, tiba-tiba matanya teralihkan pada sebuah pohon besar di samping bilik. Ia baru sadar, ada pohon besar itu di sini, lengkap dengan semak belukarnya. Akar pohon itu menjulang tinggi, membuat Widya merasa takjub. Bisa jadi umur pohon itu sudah ratusan tahun.

Di sana, aroma kemenyan itu semakin kuat. Lantas, ketika Widya memperhatikan dengan saksama, ia baru menyadari sumber aroma itu berasal dari sebuah sesajen. Di sela akar yang mencuat itu, ada sebuah sesajen yang diletakkan dengan kepulan asap seakan baru saja dinyalakan entah oleh siapa. Widya yang melihat itu kaget bercampur ngeri. Ia langsung kembali ke bilik tempat ia menunggu Nur mandi.

Namun aneh, suara air tidak terdengar sama sekali. Hanya keheningan.

"Nur," panggil Widya tetapi tidak ada jawaban apa pun.

"Nur!" Widya masih berusaha memanggil "Nur! Kamu di dalam kan?" Masih tidak ada jawaban apa pun.

Keheningan itu membuat Widya menempelkan wajahnya di pintu kayu. Ia mencoba memasang pendengarannya. Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara.

Suara yang berasal dari dalam bilik, merupakan suara dari seorang wanita, yang tengah berkidung. Suaranya merdu, lembut dan seakan terdengar menenggelamkan. Widya terus memasang pendengarannya, berharap yang ia dengar adalah suara Nur. Tapi entah kenapa bulu kuduk Widya berdiri. Ia yakin Nur tidak mungkin bisa berkidung seperti ini.

Lelah menahan penasaran, sontak Widya menggedor pintu dengan keras sembari memanggil Nur. Perasaannya entah kenapa semakin tidak enak, seakan ia khawatir oleh sesuautu.

"NUR! BUKA! NUR!" teriak Widya sambil terus mendorong sampai pintu itu terbuka.

Nur melihat wajah Widya yang tengah panik. Ekspresi Nur juga tampak terguncang.

"Wid," suara Nur sedikit gemetar.

"Lama sekali mandinya," ucap Widya marah.

"Iya maaf, habis kamu tak panggil dari dalam kok, gak nyahut. Aku pikir kamu pergi ninggalin aku," ucap Nur. Kalimat Nur sejenak membuatnya bingung. Bila Nur memanggilnya dari dalam bilik, mana mungkin ia tidak mendengarnya. Sedangkan sedari tadi Widya juga terus memanggil Nur, tapi tak ada sahutan sama sekali.

"Ya sudah, ayo mandi sana. Sekarang biar aku yang jaga," ucap Nur kemudian.

Widya pun melangkah masuk ke dalam bilik dan menutup pintunya. Seperti yang Widya bayangkan, tercium aroma lembab lumut hingga lantai tanah yang menjadi alasnya. Tapi Widya meyakinkan dirinya, bahwa ia tidak boleh memikirkan itu sekarang.

Ia melihat kendi besar berisikan air, setengah isinya sudah terpakai. Widya meraih gayung yang terbuat dari batok kepala yang dipilin dengan kayu jati dan diikat dengan sulur.

Widya menanggalkan pakaiannya, membasuh badannya dengan air yang dingin itu. Ia masih terbayang-bayang suara kidung yang ia dengar tadi. Mungkinkah Nur bisa berkidung dan Widya tidak tahu akan hal itu? Entahlah.

Namun, tiba-tiba Widya merasakan seakan ada sosok lain yang menemaninya saat ini. Perasaan itu seakan-akan sangat nyata. Ia merasa ada yang sedang mengamatinya, melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan sosok itu tengah menikmati pemandangannya.

Terbayang, wajah sosok cantik nan jelita yang sedang melihat Widya. Bayangan itu terus menerus menghantui isi kepala Widya. Tapi bilan dilihat ke sekeliling, Widya tidak menemukan siapa pun, hanya dirinya sendiri.

Hening dan sepi, Widya merasa seperti ditelan kesunyian. Tidak ada suara Nur dari luar bilik, memberikan sensasi kesepian yang luar biasa.

Lalu suara kidung itu terdengar kembali. Tetapi anehnya, kini suara itu terdengar dari luar bilik.

Benarkah itu suara Nur yang tengah berkidung untuk menghibur diri? batin Widya, mempertanyakan hal itu.

Widya buru-buru menyelesaikan mandinya dan segera melangkah keluar dari dalam bilik. Ia mendapati Nur yang melihatnya dengan ekspresi pucar. Entah kenapa, Widya merasa Nur seakan menyembunyikan sesuatu darinya, tapi Widya lebih memilih diam. Mereka berjalan bersama-sama, kembali ke penginapan di saat hari mulai semakin petang. ( BERSAMBUNG ... )

Tercatat Dalam Buku Rekor Dunia, Salah Satu Pemain Liverpool

Tercatat Dalam Buku Rekor Dunia, Salah Satu Pemain Liverpool

INIKECE - Bintang Liverpool, Trent Alexanser-Arnold, mencatatkan dirinya masuk ke dalam buku rekor dunia atau Guiness World Record. Hal ini diperoleh oleh Trent Alexander-Arnold usai mampu mengemas assist terbanyak dalam satu musim.

Prestasi apik berhasil diraih Trent Alexander-Arnold atas raihannya di musim 2018-2019 bersama Liverpool. Trent mampu mengoleksi 12 assist dari 29 pertandingan di Liga Inggris musim lalu.

Hal ini pun membuat Ternt mencatatkan dirinya sebagai pencetak assist terbanyak sepanjang sejarah dalam satu musim di Liga Inggris. IA berhasil melewati catatan dari legenda Liverpool, Andy Hinchcliff (1994-1995) dan Everton, Leighton Baines (2010-2011), yang masing-masing mencatatkan 11 assist.

Atas raihannya tersebut, Trent masuk dalam buku rekor dunia yang bisa dikenal Guiness World Record untuk edisi 2020.



"Ini adalah sebuah kehormatan bagi saya karena saya selalu ingin bergerak maju dan membantu tim menciptakan peluang sebanyak mungkin," kata Alexanser-Arnold dikutip dari laman resmi Liverpool.

"Sepak bola adalah permainan tim dan tanpa kerja sama tim catatan ini tidak akan pernah terjadi."

"Ini adalah penghargaan yang sangat membanggakan bagi saya dan keluarga saya, maka dari itu saya berharap hal tersebut dapat bertahan lama dalam beberapa tahun," tambahnya.

Konsep Yang Terkubur Selama 140 Tahun, Berhasil Dipecahkan Oleh Ilmuwan Asal Indonesia

Konsep Yang Terkubur Selama 140 Tahun, Berhasil Dipecahkan Oleh Ilmuwan Asal Indonesia

INIKECE - Indonesia memiliki anak-anak bangsa yang luar biasa dan patut dibanggakan karena sebuah prestasi yang diperoleh di kancah Internasional dan membawa nama Indonesia menjadi negara yang memiliki anak-anak yang berbakat.

Salah satu anak bangsa yang membawa nama Indonesia adalah Oki Gunawan, seorang ilmuwan muda yang dapat memecahkan rahasia dalam konsep Fundamental Fisika 'Hall Effect' yang telah terkubur selama 140 tahun.

Sekilas mengenai Oki Gunawan, ia menerima gelar Ph.D. dan MA dari Universitas Princeton (Teknik Elektro) dan M.Eng dan B.Eng (kelas satu) dari Nanyang Technological University, Singapura (Teknik Elektro).

Pada tahun 2007, ia bergabung dengan IBM sebagai ilmuwan postdoctoral dan saat ini menjadi Anggota Staf Penelitian di Departemen Ilmu Fisika di IBM Thomas J Watson Research Center.

Ia telah menulis dan turut menulis lebih dari 50 publikasi dan memegang 26 paten AS dan Internasional serta lebih dari 10 aplikasi paten yang tertunda, 3 di antaranya telah dilisensikan.

Ia menerima penghargaan IBM Master Inventor 2019, Achmad Bakrie Award 2013 (Indonesia, kategori ilmuwan muda), IBM Invention Achievement Award (dataran tinggi ke-8), IBM Division Divison Award (2010), IBM New Hire Patent Award (2009), IBM New Hire Patent Award (2009) dan AT&T Asia Leadership Pernghargaan (2000).

Ia juga pernah menjabat sebagai ketua tim Olimpiade Fisika Indonesia di IPhO Italia 1999, IPhO Inggris 2000 dan sebagai pemimpin tim di APhO Indonesia 2000.

Satu lagi prestasi baru dari Oki Gunawan terbukti dalam sebuah makalah baru yang mengatakan fisikawan telah menemukan cara untuk mengakses informasi fisika yang telah tersembunyi selama 140 tahun.

Kembali pada tahun 1879, Fisikawan Edwin Hall menemukan bahwa arus listrik melengkung ketika ditempatkan di medan magnet, menghasilkan tegangan dan medan listrik baru yang tegas lurus dengan arus.

Sejak para ilmuwan memanfaatkan fenomena ini, yang dikenal sebagai efek Hall, untuk mempelajari sifat bahan seperti semikonduktor yang membentuk mikrochips tapi, secara membingungkan, Efek Hall menghalangi ilmuwan dari membuat pengukuran tertentu secara bersamaan.


Para peneliti di IBM, Korea Advanced Institude of Sciense and Technologu, Korea Research Institude of Chemical Technology, dan Duke University kini telah merancang sat tembakan teknik untuk mengesktraksi informasi ini, yang disebut teknik pengukuran carrier-resolved photo-hall.


Ini bisa sangat berguna untuk mengembangkan sel surya masa depan dan bahan lainnya.

"Ini bisa menciptakan kemajuan yang menarik untuk memahami semikonduktor secara lebih rinci," Oki Gunawan, penulis dan peneliti pertama studi di IBM TJ Watson Research Center, mengatakan kepada Gizmodo. "Kamu berharap ini akan membawa kemajuan dalam waktu dekat."

Muatan listrik bergerak melalui semikonduktor sebagai unit berlainan yang disebut pembawa muatan, elektron yang bermuatan negatif dan 'lubang' bermuatan positif, elektron mengisi kekosongan dalam material yang dapat bergerak dengan cara yang sama seperti elektron-elektron.

Para ilmuwan menggunakan efek Hall untuk mengetahui sifat-sifat pembawa muatan dalam suata bahan, seperti seberapa cepat mereka bergerak dan seberapa padatnya mereka.

Baru-baru ini, mereka menggunakan efek Hall untuk memahami efek cahaya pada bahan-bahan yang mereka pelajari, sebagaimana cahaya mengenai bahan-bahan tertentu yang akan menghasilkan elektron dan lubang.

Tetapi teknik yang didasarkan pada efek Hall hanya dapat mengukur sifat-sifat pembawa muatan yang lebih banyak, yang disebut pembawa muatan mayoritas, dibandingkan dengan sifat-sifat dari pembawa muatan minoritas dan mayoritas secara simultan terlalu banyak.

Pada dasarnya, jika ada lebih banyak elektron, maka pengukuran efek Hall hanya dapat mengungkapkan informasi tentang elektron, jika ada lebih banyak lubang, mereka hanya dapat mengungkapkan informasi tentang lubang tersebut.

Dengan menggunakan eksperimen gagasan, Gunawan dapat menemukan cara untuk mengekstrak informasi muatan minoritas pada saat yang sama dengan informasi pembawa muatan mayoritas.

Ia membayangkan dua sistem, masing-masing dengan pembawa muatan mayoritas yang sama pada kepadatan yang sama dan berpindah dengan kecepatan yang sama, tetapi dengan kecepatan pembawa muatan minoritas yang berbeda.

Tanpa energi tambahan, kedua sistem akan berperilaku sama. Tetapi menambahkan lebih banyak energi dari dorongan cahaya, dan mereka mulai berperilaku sedikit berbeda karena efek dari pembawa muatan minoritas.

Dari eksperimen gagasan ini, ia dan timnya menyusun persamaan untuk menggambarkan pembawa muatan minoritas dan mayoritas secara bersamaan, menurut makalah ayng diterbitkan pekan lalu di Nature.

Tetapi teknik ini membutuhkan cara untuk mengurangi kebisingan, dalam hal materi hanya mengalami efek Hall yang melah atau ada sinyal perancu potensial lainnya.

Peneliti IBM sebelumnya telah mengembangkan jenis sistem baru yang isebut garis dipol (dua muatan listrik atau kutub magnet) paralel, sepasang magnet silinder yang, bekerja bersama, menciptakan sesuatu seperti perangkap medan magnet.

Mereka menempatkan dua sampel, satu silikon dan satu lagi bahan peka cahaya yang disebut perovskit, ke dalam perangkap, dan menggunakan persamaan baru mereka untuk mengekstraksi informasi tentang pembawa muatan mayoritas dan minoritas.

Ini mungkin tampak agak sulit, tetapi mengukur sifat-sifat ini penting ketika mencoba untuk menentukan apakah suatu bahan akan berguna dalam sel surya, Gunawan menjelaskan.

Ditambah lagi, ini adalah hasil fisika dasar yang menghubungkan medan magnet, listrik, dan cahaya.
Tentu saja ada keterbatasan. Gunawan menjelaskan bahwa metode eksperimental dapat goyah pada material dengan kepadatan pembawa muatan tinggi, mereka akan membutuhkan laser berenergi tinggi untuk dipelajari, yang dapat melelehkan material tersebut.


Namun, ini adalah hal yang menarik. Tidak sering anda mendengar tentang hasil fisika dasar baru yang mengubah cara kita memahami sesuatu yang diajarkan di kelas Fisika dasar.

Selama 8 Bulan Kehamilan Ditutupin, Ternyata Hasil Pencabulan Seorang Guru Les Vokal

Selama 8 Bulan Kehamilan Ditutupin, Ternyata Hasil Pencabulan Seorang Guru Les Vokal

INIKECE - Kasus pencabulan sering terjadi kembali, kali ini terjadi kasus pencabulan dibawah umur seorang siswi SMP. Ia dicabuli oleh Guru les olah vokalnya sendiri, DPK (14) dan ia berhasil menyembunyikan kehamilannya selama 8 bulan.

Kehamilan DPK akhirnya diketahui setelah orangtuanya melihat DPK sering kelelahan dan ada perubahan dari tubuhnya.

Hal itu dikatakan Kapolres Padang Panjang, AKBP Sugeng Hariyadi.

"Dia pinta menyembunyikan kehamilannya," kata Sugeng.

"Sampai 8 bulan tidak ada yang tahu hingga orangtuanya curgia karena dia sering kelelahan dan ada perubahan di tubuhnya."

* ORANG TUA CURIGA

Sugeng menyebutkan setelah orangtuanya curiga, DPK dibawa pergi ke klinik bidang untuk diperiksa. Ternyata DPK sedang hamil besar 8 bulan.

Selain dari orangtuanya, DPK juga mampu menyembunyikan kandungannya dari teman-teman sekolah dan gurunya.

"Selama hamil dia tetap sekolah. Dia bisa sembunyikan kehamilannya dari kawan-kawannya," kata Sugeng.

BACA JUGA :

Melangkah Lagii !!!


* DICABULI GURU LES VOKAL

Sebelumnya diberikan, sambil mengajar les oleh vokal, seorang guru privat berinisial ID (51) didgua tega melakukan pencabulan terhadap anak didiknya sendiri, DPK (14).

DPK merupakan pelahar di sebuah SMP di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Ironisnya, perbuatan ID baru diketahui setelah DPK hamil 8 bulan.

Menurut Sugeng, berdasarkan laporan yang diterimanya, kejadian pencabulan dilakukan sebanyak empat kali.

Pencabulan dilakukan di sela-sela les olah vokal yang dilakukan ID pada DPK.

"Dari laporan yang kita terima. Tindakan pencabulan dilakukan sebanyak empat kali, saat les," kata Sugeng.

Diduga kejadian tersebut dilakukan sejak tahun 2018 lalu karena usia kehamilan DPK sudah mencapai 8 bulan.


Melangkah Lagii !!!

Melangkah Lagii !!!

INIKECE - Usai setelah pertemuan kecil-keclian antara aku dan para mahasiswi baru gedungku, tiba-tiba tanganku ditarik oleh salah satu dari mereka. Sebelum itu, memang ada beberapa yang ingin menanyakan seputar ospek, kegiatan perkuliahan, kehidupan asrama dan lainnya.

Tetapi adikku yang satu ini sedikit beda, tangan kirinya memegang tangan kanannya. Keringat terlihat jelas di kedua telapak tangan kecil itu. Terdapat tiga plester menempel di tiga jari tangan kirinya. Pembawaannya gugup, bicaranya tidak terlihat seperti ingin menanyakan seputar pengalamanku di sini. Sebaliknya, ada hal lain dari pengalamannya yang ingin dia ceritakan. Satu hal yang membuatku khawaitr adalah, dia sedang menahan tangis.

"Kak, aku mau cerita, aku harus cerita," katanya terburu-buru.

Aku Lachel, salah satu Senior Residents di asrama kampusku. Senior Residents adalah kakak pembimbing yang bertugas membantu dan mengayomi para mahasiswa dan mahasiswi baru yang diwajibkan tinggal di asrama selama satu tahun. Ada delapan belas gedung yang menjadi tempat beranaung para mahasiswa baru dan senior residents.

Setiap gedung terdapat empat lantai dengan dua puluh kamar setiap lantainya. Setiap kamar berisi empat orang mahasiswa, dan empat orang senioar residents di setiap gedungnya. Artinya, dari delapan puluh kamar di gedung, hanya ada satu kamar yang berisi para senior residents. Artinya lagi, terdapat 316 mahasiswa baru yang harus dihandle oleh senior residents di setiap gedung.

Aku akan menceritakan perjalananku hingga berada di titik ini. Titik yang menjadikanku seorang yang baru, yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Masa lalu yang kelam dan track record yang buruk mengantarkanku perlahan menjadi seorang yang jauh lebih kuat lebih peduli, lebih bijak.

***

Saat itu langit sedang abu-abu. Dedaunan mulai dibasahi rintik-rintik yang baru saja jatuh berbarengan dengan air mataku. Saat itu, tepatnya tiga tahun lalu, aku menangis sejadi-jadinya di kamarku. Tapi benar, tidak ada yang peduli. Seisi rumah sedang sedih.

Tidak ada waktu bagi masing-masing insannya untuk menanyakan apakah yang lain baik-baik saja. Terutama ibuku, yang lelahnya terlihat jelas di setiap titik mukanya. Rintihannya mengiris hatiku. Tiap air matanya menghasilkan air mataku.

"Ibu nggak kuat, benarlah, ibu udah nggak kuat," terdengar dia sedang mengatur napas, berusaha menenangkan diri.

"Maafin Ibu. Ibu nggak kuat," ujarnya berulang kali.

Sedangkan aku yang tetap mengurung diri di kamar tetap diam. Mengutuk diri. Mengutuk sekitar. Mengutuk keadaan. Pikiranku kacau, semua perasaan campur aduk. Sedih, marah, kecewa. Benci adalah kata yang tepat, tapi aku bingung kepada siapa. Mungkin kepada diriku sendiri.

Atau orang-orang yang lagi-lagi mengecewakanku, atau mungkin waktu yang tak kunjung mengantarkan kami ke keadaan yang lebih baik. Kekacauan ini terus menjelma menjadi benang kusut yang tak kunjung terurai.

Adikku sepertinya sedang menenangkan ibuku, tapi tangisnya sangat kuat. Khawatirnya terlihat jelas. Beberapa kali aku mendegar dia menyalahkan dirinya sendiri. Dari beberapa hal yang kuperhatikan, hanya satu yang bisa kupastikan akan berhasil. Dia selalu memegang tangan ibuku, mengelus punggungnya, memeluknya. Seingatku, aku yang mengajarkannya bahwa sentuhan fisik memang akan mengurangi rasa sakit. Ditambah lagi jika yang sakit adalah perasaan.

Kakakku yang dari awal menyebabkan kegaduhan sedang mengutuk apa pun yang ada di pikirannya. Dia sangat marah. Tidak tenang, Dia yang paling tidak peduli dengan orang-orang di sekitar. Dia sedikitpun tidak menimbang kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.

Aku yang hanya satu tahun enam bulan lebih muda darinya tahu benar apa yang sedang ada di pikirannya. Yang aku tahu dia sangat keras kepala. Tidak ingin disalhakan. Tidak berpikir panajng. Tidak banyak tahu tentang bagaimana menjadi kakak tertua. Tapi di balik itu, dia adalah orang yang paling tahu tentang bagaimana rasanya diremehkan, tidak dipedulikan, tidak didengarkan.

Beberapa kata-katanya yang keluar tanpa filter terkadang menjadi tamparan keras bagi orang-prang yang mendengarnya. Tapi marahnya tidak akan lama. Kesalnya hanya akan diluapkan dalam beberapa waktu saja. Setelah itu, tidak ada dendam. Tidak ada sedikitpun jengkel yang tersisa.

Ayahku adalah orang yang paling tenang. Orang yang tidak ingin meperlihatkan bahwa keadaan sedang kacau, walau sejelas apapun kelihatanya. Dia adalah orang yang paling logis. Dia adalah orang yang hidup dengan pikirannya sendiri.

Sangat teguh dalam prinsip hiup. Sekali ada yang mengganggu atau melenceng dari apa yang dia pegang, maka orang tersebut akan menjadi catatan di hidupnya. Aku sangat dekat dengan ayah. Aku adalah satu-satunya personil di keluarga yang berhasil menjadi teman diskusinya. Benar, bukan ibuku, bukan juga kakaku.

Aku yang paling tahu jalan pikir setiap orang di keluarga ini. Aku yang paling sering duduk diam dan memperhatikan dengan jeli baik buruknya setiap orang di sini. Aku juga tahu benar keadaan ibu. Aku tahu jelas apa yang dia rasakan sebagai wanita, sebagai ibu, atau sebagai seseorang yang punya pasangan. Aku adalah satu-satunya anak perempuan, yang notabanernya mengedepankan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan.

Tapi kali ini aku benar-benar angkat tangan. Apa yang sudah pernah aku sampaikan, yang sudah aku jelaskan, tidak berarti apa pun hari ini. Seperti dua kutub magnet yang sama, tidak akan bersatu bagaimanapun caranya. Adalah pemikiran ayah dan ibuku yang sedang aku gambarkan, kedua kutub itu yang menyebabkan kegaduhan ini. Padahal masalahnya sangat sepele.

Pagi itu adik dan kakaku bertengkar hebat karena memperebutkan kaus kaki. Keduanya bersikeras bahwa kaus kaki yang diperebutkan adalah milik mereka. Tidak ada yang ingin mengalah. Keduanya keras kepala. Lihatlah, hanya-kaus-kaki. Padahal kami punya satu keranjang penuh yang isinya kaus kaki yang tidak jauh beda bentuknya. Pertengkaran itu berujung ricuh, penuh dengan suara yang sangat lantang.

"Kamu itu, ya! Dari dulu banget! Nggak pernah becus jadi kakak! Aku yang pegang ini duluan, kamu cari yang lain!" Adikku berteriak.

"Aku yang nyiapin ini lebih dulu, makanya ada di situ! Lagian kamu kan punya banyak!" Kakaku menimpal.

Aku yang keheranan hanya memperhatikan dari jauh, mencoba menelaah kebodohan yang sedang terjadi.

"Lho kan kaus kakinya banyak, ya udah sih, ambil yang lain." Aku mencoba menengahi.

Kegaduhan tetap terjadi, entah kenapa suara mereka semakin lantang. Semakin tidak ingin ada jalan tengah. Padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 07.15. Gerbang sekolahpun sepertinya sudah hampir rapat.

Entah apa yang sudah aku lewatkan, tiba-tiba pertengkaran itu menjadi semakin hebat karena ibu tiba-tiba menimpali. Ibu yang kala itu sangat kesal dengan kakakku yang tidak ingin mengalah, dan adikku yang selalu menaikkan nada biaaranya, menyuruh mereka untuk tidak pergi sekolah. Aku yang semakin bingung dengan apa yang terjadi hanya berdiri heran, berusaha menengahi pun tidak gunanya. Beberapa hal yang aku ingat adalah pertengkaran ini menjadi besar karena masing masing dari mereka terus menerus menyebutkan kesalahan-kesalahan di masa lampau, yang kemudian dikait-kaitkan dengan kejadian kaus kaki ini.

"Sudah terlalu sering ini terjadi! Bima! Kamu memang dari dulu nggak pernah bisa diandalkan! ini juga Dimas! Kamu nggak tahu ini udah jam berapa? Mau karena apalagi kamu telat? Karena baju basah udah sering! Ini mau karena kaus kaki? Sudahlah! Nggak usah sekolah lagi. Sekolah mahal bayarnya nggak untuk kayak ini!" teriak ibuku yang kala itu merebut kaus kaki dan melemparnya entah ke mana.

Ayahku yang kala itu juga seperti aku, terdiam dan memperhatikan, tiba-tiba berubah bereaksi dengan mengambil kaus kaki yang sudah dibuang dan memberikannya kepada adikku.

"Sudah Dimas, pakai saja. Ayo pergi ke sekolah. Kamu sudah terlambat. Bima kamu ambil kaus kaki yang lain. Kamu yang lebih tua seharusnya mengalah. Heran ayah, semuanya mau diributin."

Lalu kakaku semakin meronta, seperti kataku sebelumnya, dia yang paling tahu rasanya diremehkan, tidak didengarkan. Selalu disalahkan membuat ia menjadi seorang yang keras. Seorang yang sangat kecewa dengan semua orang.

"Iya begitu saja terus! Aku saja terus yang disalahkan! Dimanas dari dulu memang cengeng. Ngandalin nangis. Berlindung terus! Dilindungi terus!"

"Selalu saja! Kalau tidak Dimas, Lachel! Sudahlah tidak perlu ada yang sekolah! Kamu juga nggak pernah sepaham sama aku! Kalau sama Dimas aja lembut, sama Lachel cepet banget, giliran Bima kamu musuhin. Bisa nggak sih kamu mengerti peranan kamu sebagai ayah? Sebagai suami?"

Aku yang semakin heran dengan semua orang akhirnya mengambil alih pembicaraan, tapi rasanya saat itu aku juga terbawa suasana. Kegaduhan di pagi itu semkain menjadi-jadi. Meluapkan semua hal yang selama ini selalu gagal disampaikan, menjadikan hari itu sebagai puncak kekesalan.

Sarapan yang terlihat sangat enak tidak lagi membuatku nafsu. Semua nafsu kami lontarkan pada amarah. Rasanya setan tertawa kencang saat itu, puas dengan hal yang sedang terjadi. Tidak ada yang menjadi lembut. Hari itu, semakin menjadi lembut, semakin dipijak habis-habisan.

Kejadian ini bukanlah awal. Sebaliknya, kejadian ini menjadi titik puncak kemarahan setiap orang atas kekecewaan yang sudah dirasakan sebelum-sebelumnya. Kejadian ini memberikan efek besar, yang paling buruk adalah ibu memutuskan untuk minggat ke rumah kakek. Dimas yang saat itu masih kecil dipaksa ikut dan kak Bima yang tidka pernah akur dengan ayah juga memutuskan untuk ikut. Sedangkan aku yang merasa rumahku adalah rumah, memutuskan untuk tetap tinggal. Bukan karena aku memilih untuk tetap bersama ayah, hanya saja kenetralanku menjadi bumerang dan terlihat seolah-olah aku berpihak pada ayah. Sangat lelah. Kacau, sangat tidak rasional.

***

Aku mencoba menenangkannya. Pundaknya gemetaran, isak tangisnya mulai terdengar jelas saat setelah aku bertanya apa yang sudah terjadi. Saat itu juga, aku melihat diriku beberapa tahun yang lalu. Rapuh, sedih, butuh bantuan sandaran secepatnya. Saat itu juga, aku memberiakn waktu dan perhatian terbaikku untuk adikku ini.

Dia bernama Fira, kamarnya ada di lantai dua, tidak jauh dari kamarku. Fira, mahasiswi baru yang ketika check-in bertemu langsung denganku sudah mengobrol sedikit tentang minat dan bakatnya. Saat setelah itu, riwayat penyakitnya akan ditanya oleh medical team yang duduk di sampingku saat itu. Memang sudah prosedurnya begitu. Seingatku, dia memaparkan begitu banyak penyakit yang beberapa di antaranya aku baru dengar selama ini.

Awalnya aku tidak begitu mengenali Fira, mengingat begitu banyak mahasiswi yang harus aku ingat terutama di gedungku. Tetpi setelah Fira duduk di depanku, dengan kondisi emosi yang sangat tidak stabil, dan hijab yang basah akibat mengelap air mata di pipinya, dan bibir yang mulai kering karena dehirasi akibat menangis, dan mata cantiknya dengan hazelnut-tone yang memang tidak banyak orang punya, aku jadi langsung ingat siapa yang sedang berusaha berbicara dengaku saat ini.

"Cerita apa, dek?" tanyaku.

"Saat kakak bertanya apa ada yang sudah menangis sejauh ini karena homesick, aku angkat tangan, kalau kakak memperhatikan," jawabnya pelan.

"Terlalu banyak yang mengangkat tangan saat itu, untung kamu  yang duduk di pojokan masih terlihat olehku." Tanganku mengelus kepalanya. Dia tersenyum. Terkejut karena aku memperhatikan.

"Jadi, kamu sedang rindu rumah?"

"Bukan, aku angkat tangan untuk pertanyaan apa ada yang sudah menangis sejauh ini, hanya sampai situ saja," jawabnya.

"Begitu, ya. Kalau begitu, aku boleh tahu apa yang membuat kamu menangis?"

Pertanyaanku seperti membuka lukanya yang membuat ia merintih sakit, sedikit menyesal, tetapi bagaimana lagi caranya untuk membuka topik cerita?

Kemudian dia menaikkan lengan bajunya. Memperlihatkan beberapa lebam dan beberapa sayatan yang masih baru. Dia menangis lagi, tepat setelah dia membuka plester yang melingkar di jarinya.

"Jadi aku cemas, aku melakukan hal yang buruk bagi diriku. Aku Cutting, agar lega." Tangisnya pecah, napasnya tesendat-sendat.

Aku terdiam. Mencoba tenang. Mencoba berpikir rasional dan tidak membuat presepsi apapun. Menarik napas, menahannya selama enam detik, lalu mengeluarkannya perlahan.

Saat itu ruangan yang kami tempat sudah sepi. Hanya kami berdua, Tetapi ruangan itu membuat gema, jadi kami memelankan suara.

Perlahan Fira menceritakan kisahnya. Beberapa digambarkan secara umum. Aku melihat dia takut untuk memaparkan kondisi secara detail. Tetapi aku memegang tangannya. Aku merangkulnya dan mengelus punggugnya. Mendengarkan ceritanya yang panjang. Sebagian besar beradal dari masa lalu yang hingga kini mengikutinya. Merusak hari-harinya.

Aku tahu benar mengatasi ini, aku adalah korban dari masa lalu yang suram. Bahkan masa laluku belum sepenuhnya dibilang masa lalu karena hingga kini masih terjadi dan tetap mengiris sebagian jiwaku.

Setelah ceritanya usai, kami berdua terdiam. Meninggalkan jejak sunyi yang lumayan lama. Selang waktu itu aku biarkan agar Fira menjadi sedikit lebih tenang. Aku juga sedang menenangkan diriku yang berusaha agar tidak menangis, bukan karena terbawa suasana, hanya saja melihat adikku yang sekarang kebutuhan psikologisnya menjadi tanggung jawabku, yang dari awal orangtua mereka menitipkannya kepadaku, sedang menangis sedu.

Setelah beberapa waktu ruangan ini terisi dengan sunyi, akhirnya aku membuka percakapan.

"Aku disini sebagai kakakmu, mendengarkan dengan baik apa yang baru saja kamu sampaikan. Aku mungkin tidak tahu rasanya menyakiti diri sendiri dapat membuat lega. Aku mungkin tidak pernah ada di posisi kamu, yang memang saat setelah aku mendengar cerita kamu, aku berpikir ini adalah hal baru bagiku. Tapi ini..." Aku memutas tangannya, menunjukkan sayatan yang dia buat, mengelusnya pelan, lalu menatap matanya.

"Ini sangat membuat aku sakit." aku melanjutkan kalimatku.

Fira hanya melihatku heran. Bertanya-tanya bagaimana aku bisa merasakan sakit, padahal yang tersayat adalah tangannya. Dia hanya diam, menunggu maksud dari kalimatku.

"Kamu mungkin berpikir aku hanya orang asing yang kemudian diamanahkan untuk mendampingi kalian. Tetapi tidak aku disini tidak hanya sekadar mendapatkan jabatan dan pengalaman. Aku disini, duduk di sebelahmu, mampu mendengar ceritamu, adalah karena aku tidak jauh beda dengan kamu. Aku juga punya masa lalu yang kelam, yang aspeknya ada di semua sisi kehidupanku. Yang kemudian tidak mampu aku jelaskan semua karena aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana." Aku menarik napas, Fira mendengarkan dengan seksama.

Tepat saat ini adalah saat yang sebenarnya aku tunggu-tunggu. Saat dimana seseorang menganggapku sebagai seorang yang berguna, yang dipercaya, yang diberikan kesempatan menjadi penopang di kala sedih, yang sebelumnya hanya kurasakan rapuh di pundakku, kini menguat karena ahrus mampu menahan beban orang-orang yang datang. Aku jadi teringat saat sebelum menjadi senior resident, aku mengikuti tahap wawancara yang tidak berjalan seperti yang seharunya. Proses wawancara saat itu dipenuhi tangisku, kondisinya tidak jauh beda dengan apa yang sedang terjadi disini, saat ini.

"Masa lalu mungkin terlihat buruk, tidak ada yang bisa mengubahnya, bahkan kamu tidak bisa menyentuhnya jika ingin menampar dan menyuruhnya pergi. Kamu, aku, kita semua, yang pasti punya cerita di balik hebatnya masa sekarang, harus bisa melangkah lagi."

"Tapi, bagaimana caranya? Mereka, masa lalu itu terus mengejarku." Fira menyela.

"Aku mau kamu memaafkan dirimu. Cara ini, apa yang kamu sebut sebagai cutting hanya akan menyakiti orang-orang yang menyayangimu, menyakiti aku, orangtua kamu, orang-orang tersayang kamu. Khawatir akan masa lalu tidak akan memperbaiki masa sekarang. Aku adalah bukti dari kebaikan masa sekarang. Aku adalah bukti bahwa seseorang mapu berjalan lagi, seberat apapun cerita di masa lalunya. Aku adalah bukti kerasnya hidup, aku adalah bukti kejamnya dunia. Tiga tahun lalu, adalah awal mula air mataku terkuras. Hingga kini. Aku beberapa kali menjadi topik utama dalam pembicaraan orang-orang, dan itu membuatku semakin merasa buruk. Tapi saat ini, aku sudah berada di posisi yang lebih baik. Aku baru menyadari obat yang paling ampuh dalam mengobati kejamnya depresi," Aku menarik napas, mencoba menenangkan diri. Fira yang sudah tak terdengar lagi isak tangisnya, sedikit terenyuh dengan hal-hal yang aku jabarkan.

"Apa itu?" Tanya Fira penasaran.

"Berbagi," jawabku singkat.

Ruang itu sunyi kembali. Fira membutuhkan beberapa waktu untuk memahami maksudku. Aku yang dari tadi memegang tangannya berusaha untuk tetap tegar, menahan untuk tidak menangis. Karena saat ini, tidak lain aku sedang dipeluk erat oleh cerita di masa lampau. Mengulas kembali hal-hal yang melahirkan pendirianku yang sekarang, yang jika ada salah sedikit saja dapat merusak kepercayaan manusia cantik yang sedang duduk mendengarkanku.

"Berbagi benar-benar membuatku tenang. Berbagi dapat membuatku berjalan lagi. Berbagi menjadikanku insan yang kuat. Yang tidak takut kehilangan apa pun walaupun pada faktanya memberi akan mengurangi apa yang kita punya. Tapi tidak, kebaikan yang kita bagi, akan berbuah kebaikan pula. Tidak sama mungkin rupanya. Tidak sama mungkin bentuknya, konteksnya. Tapi kebaikan tetaplah kebaikan, apa pun wudjunya."

Fira menatapku, terdiam. Sedikit demi sedikit nafasnya kembali normal.

"Ada banyak cara dalam mengurangi rasa cemas yang berlebihan. Kamu suak menulis? Aku adalah seorang super introvert yang akan menuliskan kisah-kisah sedihku. Hal itu benar-benar mengurangi depresiku. Aku juga memainkan biola. Kesulitan dalam menggesekkan bow dan senar membuatku lupa akan sulitnya hidup.

"Setelah ini, aku ingin kamu menjadikan sedihmu menjadi sebuah karya. Jadikan sedihmu sebagai inspirasi manusia lain. Jadikan sedihmu sebagai kenangan yang menjadi manis di masa depan. Jadikan sedihmu sebagai tolak ukur peningkatan kualitas hidupmu."

Fira menaikkan alis, dahinya mengkerut. Bukan heran, dia sedang menerima sesuatu yang selama ini tidak dia dapatkan. Didengarkan dan diarahkan sedikit ke titik yang lebih baik adalah kebutuhannya saat ini. Air matanya sekarang mengalir lagi. Tapi kali ini dia tersenyum. Tanganku digenggam erat. Hangat.

Setelah ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi yang aku tau, dua orang dengan hati yang rapuh dan pernah rapuh ini, merasa dunia sedikit memberikan kesempatan kami menjadi lebih baik lagi. Membiarkan kami menghirup udara lagi. Membuat kami berani menerima diri sendiri.

Tentang Penulis

Lahir di Bengkulu, 28 Mei 2000. Hobiku menulis, tapi saat sedih aja. Aku sekarang kuliah di jurusan Kriya Tekstil Mode, Telkom University, Bandung.

Sebuah Misteri, Perempuan Bertuah

Sebuah Misteri, Perempuan Bertuah

INIKECE - "Jadi, kamu dipanggil perempuan bertuah?" Jaksa itu dengan nada menyindir bertanya padaku. Seketika semua orang di ruang sidang langsung berbisik-bisik di belakangku.

Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Tanganku terikat besi dingin yang mengkilap dan baju tersangka berbau aneh melengkapi penampilanku hari ini. Sudah seminggu aku berpenampilan seperti ini, menginap di hotel tempat penjahat menebus dosa mereka sejak terakhir aku melihat Rudi terkapar di kamarnya bersimbah darah dengan pisau tertancap di dadanya.

Aku melihat Rudi lewat berita televisi pada hari minggu yang cerah itu. Tidak lama setelah berita itu disiarkan, ramainya suara sirine menghampiri rumahku. Suara tangis ibu dan ayah mengiringiku masuk ke dalam salah satu mobil polisi yang datang menjemputku. Menurut penyelidikan polisi, pada pisau yang tertancap di dada Rudi ditemukan sidik jariku.

Pada TKP juga ditemukan beberapa sampel rambut yang DNA-nya sesuai dengan DNA-ku. Apa salahku? Kenapa jadi seperti ini? Aku tidak tahu sama sekali kenapa aku disalahkan. Aku bahkan tidak bertemu dengan Rudi dari kemarin.

Palu kayu yang diketuk hakim dengan keras membuat lamunanku pecah dan hening seketika menyelimuti ruang sidang yang tidak pernah terbayangkan aku duduk di sini, di atas kursi tersangka.

"Rina, tolong jawab apa yang ditanyakan jaksa padamu. Jangan hanya diam saja. Kalau kamu merasa semua ini bukan tindakanmu, coba buktikan pada kami."

"Ma... ma... maaf yang mulai, sa... saya sangat gugup."

"Baik, saya izin lanjut yang mulia. Lanjut ke pertanyaan saya, apakah benar kamu dipanggil perempuan bertuah oleh teman-temanmu di satu sekolah?" Jaksa penuntut kembali bertanya padaku tentang hal itu.

"Benar Pak," jawabku penuh keraguan.

"Baik, mulai kapan dan kenapa kamu bisa dipanggil seperti itu?"

"Saya tidak ingat jelas mulai kapan, tapi kalau kenapa, I... I... itu ka... karena setiap anak laki-laki yang dekat atau menyukai saya selalu ce... celaka, Pak."

"Mengapa itu bisa terjadi? Apa kamu sendiri yang mencelakai setiap laki-laki yang dekat dengan kamu?"

"Keberatan yang mulai, pertanyaan jaksa memojokkan klien saya." Pak Anto, pengacara yang disewa ayahku membela.

"Keberatan ditolak, jaksa silahkan melanjutkan pertanyaannya," jawab hakim sambil memukul palu.

"Silahkan jawab pertanyaan saya tadi, mengapa anak laki-laki yang mendekati kamu selalu celaka dan apakah itu kamu sendiri yang melakukannya?" Jaksa kembali bertanya padaku.

"Bu... bukan, tentu bukan saya yang melakukannya. Saya tidak tahu kenapa itu semua terjadi."

"Apa kamu punya bukti? Termasuk terbunuhnya Rudi ketika semua bukti menuju ke kamu?'

"Tidak tahu, saya tidak tahu, yang jelas itu bukan saya."

"Baik yang mulai, karena tersangka tidak dapat menjelaskan pertanyaan saya selesai."

"Baik, sekarang dilanjutkan pembelaan oleh pengacara." Hakim melanjutkan sidang dengan memberikan kesempatan kepada pengacaraku unutk memberi pembelaan.

"Terima kasih waktunya yang mulai. Pertama saya ingin membela klien saya untuk ejekan perempuan bertuah, hal ini tidak berdasar karena hal-hal buruk yang terjadi pada anak laki-laki sebelum Rudi tidak ada bukti kuat bahwa Rina yang melakukannya. Kemudian saya ingin memberitahukan alibi Rina ketika Rudi meninggal. Hari Minggu di mana Rudi meninggal, Rina sedang bersama keluarganya di rumah. Ayah ibunya telah menjadi saksi bahwa Rina berada di rumah. Lingkungan sekitar rumah Rudi juga tidak ada yang pernah melihat Rina di daerah itu ketika hari kejadian."

"Yang mulai, alibi itu bisa dibantah. Saat Rudi terbunuh, orang tua Rudi sedang pergi keluar kota, rumah Rudi sudah kosong selama 3 hari sebelum mayat Rudi ditemukan pada hari Minggu. Hasil otopsi juga memperkirakan bahwa pembunuhan tidak terjadi pada hari di mana mayat Rudi ditemukan." Jaksa memotong pembelaan yang diberikan oleh pengacaraku.

"Yang mulia, saya akan melanjutkan pembelaan saya. Yang mulia, saya berasumsi bahwa semua anak laki-laki yang mendekati Rina menjadi celaka ini merupakan pekerjaan satu orang dan bukan Rina. Orangnya pasti sangat dekat dengan Rina sampai dia bisa mendapatkan sidik jari dan sampel rambut Rina yang ditemukan di TKP." Pengacaraku melanjutkan pembelaannya.

"Baik, lalu apa bukti yang bisa mendukung pernyataan saudara?" Hakim kembali bertanya untuk menegaskan pernyataan pengacaraku.

"Oleh karena itu, saya memohon untuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut kepada seluruh teman Rina."

"Keberatan yang mulia, Rina ini diakui tidak banyak memiliki teman, polisi sudah melaksanakan wawancara kepada seluruh teman sekelasnya dan tidak menemukan hal yang mencurigakan pada mereka." Jaksa menyanggah pernyataan pengacaraku lagi.

"Wawancara saja belum cukup yang mulia, harus diadakan penyelidikan lebih lanjut, pemeriksaan kegiatan dan penggeledahan rumah." Pengacaraku menjelaskan lebih lanjut pembelaannya.

"Hal itu akan sangat sulit dilakukan, perizinan untuk menggeledah dan menyediliki orang yang tidak dicurigai akan sangat sulit." Hakim menolak permohonan pengacaraku dan disaat itu aku sudah hilang harapan.

"Apakah tidak aneh seorang perempuan yang belum dewasa membunuh pacarnya tanpa alasan yang jelas, sampai sebelum Rudi meninggal pun mereka baik-baik saja."

"Kita tidak tahu menusia bisa berubah menjadi sangat mengerikan kapan saja. Pengacara apakah ada yang ingin disampaikan lagi?"

"Tidak ada yang mulai, sudah cukup," Pengacaraku akhirnya menyerah untuk membelaku.

"Baiklah, sekarang saatnya saya memutuskan hasil sidang ini. Setelah mendengarkan penjelasan dari tersangka, saksi dan pihak-pihak yang terkait. Saya memutuskan tersangka bersalah. Tersangka aka dijatuhi hukuman 3 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun." Hakim membacakan keputusan sambil menutup sidang dengan mengetuk palu-nya.

***

Begitulah sidang pertama yang aku alami seumur hidupku. Hukuman yang diberikan padaku relatif ringan karena aku masih dianggap di bawah umur. Saat ini aku memang baru masuk kelas 2 SMA di mana umurku baru 17 tahun. 

Seringan-ringannya hukuman yang aku terima, tetap saja ini akan menghancurkan hidupku. Aku tidak bisa lagi sekolah seperti teman sebayaku. Setelah aku keluar dari penjara, reputasiku di masyarakat juga pasti sudah tercoreng. Membayangkannya saja sudah membuatku gila.

Mengapa aku jadi sepreti ini, aku yang tidak melakukan kesalahan apapun jadi dipenjara karena sesuatu yang tidak aku lakukan. Sebenarnya siapa orang yang melakukan ini padaku. Hari-hari mulai aku lalui di penjara, aku sangat tertekan, ditambah lagi yang memberikan kepeduliannya padaku hanya keluargaku saja. Teman-teman baikku juga tidak pernah menunjukkan diri. Mungkin meraka takut dan sekarang menganggap aku sebagai sosok mengerikan.

Aku selalu teringat masa-masa lalu dimana setiap anak laki-laki yang dekat dengaku mendapatkan malapetaka ketika mendekatiku. Malapetaka itu bermacam-macam, ada yang kendaraanya hilang, HP-nya hilang, mengalami kecelakaan, tiba-tiba diancam dibunuh orang yang dia tidak kenali dan banyak lagi. Aku benar-benar lupa kapan ini mulai terjadi, aku juga sudah lupa berapa banyak anak laki-laki yang celaka karenaku.

Aku memiliki julukan perempuan bertuah entah karena siapa yang memulai. Aku hanya memiliki sedikit teman yang tidak takut padaku dan aku jadi sangat tertutup pada laki-laki. Jika aku ingat kembali tentang Rudi, aku sangat sedih. Dia adalah laki-laki terakhir yang sangat dekat dengaku. Dia sering mengalami kemalangan yang mungkin terjadi karena aku, tapi dia selalu percaya bahwa itu cuma takhayul. 

Aku pun semakin dekat dan semakin menyukainya karena dia tidak sama dengan anak laki-laki lain. Dia percaya padaku, hingga suatu hari kepercayaannya itu benar-benar membawa kesialan yang besar untuknya. Sungguh malang dia. Mungkin memang benar, aku adalah wanita terkutuk pembawa petuah bagi laki-laki yang mendekatiku. Hal itu terus menenggelamkanku dalam pikir negatif tentang diriku sendiri.

Dinding penjara yang lembap, keramiknya yang kotor karena tidak pernah dibersihkan dan jerujinya yang berakarat menjadi suasana yang harus membuat diriku terbiasa. Menyapu dan membersihkan area lapas adalah pekerjaan utamaku saat ini.

***

Belum genap satu bulan aku menjalani hukuman. Tiba-tiba seorang sipir mengatakan bahwa ada yang ingin bicara padaku dan mengajakku keluar. Dia bilang, "persiapkan dirimu sekarang, anggap ini sebagai sebuah kesempatan langka dapat keluar di masa hukuman."

Aku mulai bersiap keluar. Langkah demi langkah aku ambil menjauhi tempat tinggalku selama beberapa minggu terakhir. Merasakan suasana ingin keluar dari lapas membuatku tidak ingin kembali lagi ke sini. Tapi, apakah di luar sana akan tetap sama? Apa aku akan diterima? Apa aku masih si perempuan bertuah? Walau senang, aku sangat penasaran siapa yang menjemput dan mengajakku keluar? Apakah orang tuaku?

Sampailah aku di pintu keluar fasilitas penjara. Di balik pintu itu, semuanya akan terlihat berbeda. Di balik pintu itu, aku dapat melihat beragam manusia dan beragam tempat. Di balik pintu itu pula memori kemalangan Rudi menghantuiku. Ketika aku melangkah keluar, seorang laki-laki yang pantas aku panggil om memaki setelan jas berwarna kuning pucar telah menungguku di sebelah mobil hitam besar nan mengkilap yang sepertinya sangat mahal. Aku bertanya-tanya, siapa laki-laki itu?

"Jadi, kamu yang namanya Rina?"

"Ya, betul pak, saya Rina, ada kepentingan apa ya? Bagaimana bapak bisa dapat izin mengeluarkan saya?"

"Ah saya punya beberapa kenalan di kantor polisi ini. Sebelumnya saya mau meperkenalkan diri. Nama saya Yuda, saya seorang pengacara yang diutus oleh saudara Dani teman SMP dan SMA-mu."

"Dani, apa kabar dia?" Aku sangat senang karena ada teman yang masih ingat padaku di saat aku susah. Dani memang salah satu teman terbaikk dari aku SMP.

"Sayang sekali saya harus menyampaikan ini, Dani sudah meninggal dunia."

"Apa? Kapan? Kenapa dia bisa meninggal? Apa yang terjadi padanya?"

"Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan pada kamu Rina. Kematian Dani juga berhubungan dengan kasusmu. Kamu ikut saya dulu ya?"

"Apa? Apa karena aku lagi? Bagimana bisa pak?"

"Sudah, pokoknya kamu ikut saya dulu ya? Dani meninggal bukan karena petuahmu atau hal-hal yang dibicarakan orang-orang kok."

"Baik pak, saya tidak ada tempat lain untuk dikunjungi juga hari ini."

Lalu aku pergi bersama Pak Yuda yang baru saja aku temui. Kami pergi naik mobil hitam mengkilap yang dia bawa. Aku duduk di kursi depan sebelah kursi sopir. Pak Yuda mengendarai kendaraannya, entah aku mau dibawa pergi kemana. Aku tidak terlalu peduli, aku bisa keluar dari penjara itu saja sudah cukup senang rasanya. Walau senang, aku juga sangat penasaran dengan yang terjadi pada Dani.

"Kita akan ke mana pak?" tanyaku penasaran di dalam mobil.

"Pertama-tama saya akan ajak kamu ke makam Dani. Kemudian kita pergi ke kantor saya, ada beberapa pesan milik Dani yang harus kamu ketahui."

"Pesan apa ya Pak?"

"Nanti saja saya mulai jelaskan satu per satu ya? Kebetulan tempat-tempat yang kita akan kunjungi tidak berjauhan, jadi kamu sabar dulu."

***

Dani merupakan teman dekatku dari SMP, aku sering sekali bercerita dengannya mengenai kehidupanku. Aku sudah menganggap dia sebagai saudaraku sendiri. Memang kami juga tinggal di daerah yang sama, karena itu, kami terus masuk sekolah yang sama dari SMP sampai SMA,

Tidak lama kemudian, aku dan Pak Yuda sampai di sebuah pemakaman umum tak jauh dari lingkungan tempat tinggaku. Aku turun dan ditunjukkan makam Dani yang masih bertabur bunga segar itu oleh Pak Yuda.

"Rina, seperti yang kamu lihat, ini makam Dani."

"Dia meninggal kenapa pak? Bapak belum jawab pertanyaan saya sebelumnya."

"Baiklah, Dani meninggal karena gantung diri di kamarnya."

"Haaaah? Kenapa Dani bunuh diri pak? Sejauh yang saya tahu dia anak yang baik dan kehidupannya pun baik-baik saja dari cerita-cerita Dani."

"Banyak hal yang kamu tidak tahu tentang dia sepertinya. Keluarganya pecah dan tidak pernah baik-baik saja, ayahnya selingkuh dan menikah dengan wanita lain saat Dani SMP. Sejak saat itu dia tinggal sendirian. Saya  kenal Dani karena saya menikahi ibunya beberapa bulan yang lalu.

Dani memang anak yang baik dan ceria, meski keluarganya hancur, dia masih bisa bertahan sendirian. Walau saya orang baru dalam kehidupannya, sikap dia sangat baik pada saya. Saya pun tidak pernah menyangka hal ini terjadi padanya."

"Jadi, apa Dani bunuh diri karena masalah keluarganya?"

"Saya akan ceritakan lebih lanjut di kantor saja, ada pesan dari Dani yang perlu langsung kamu baca. Sekarang mari ita mendoakan dia, semoga Tuhan menerima arawahnya."

Kami mendoakan Dani dan kemudian langsung menuju kantor konsultan hukum milik Pak Yuda. Sesampainya di sana, aku dipersilahkan duduk di ruangan Pak Yuda yang sangat nyaman untuk sebuah kantor. Pak Yuda langsung membuka sebuah laci lemari file besi berwarna kelabu dekat dengan mejanya, mengambil sebuah buku catatan berwarna hitam.

"Buku apa itu pak?"

"Buku ini akan menjelaskan semuanya yang menjadi pertanyaamu."

"Itu memang buku apa pak?" tanyaku yang semakin bingung.

"Ini adalah buku milik Dani. Buku ini ditemukan di meja belajar Dani. Isinya tidak terlalu banyak, namun ini sangat penting untuk kasusmu."

"Bagaimana bisa bersangkutan dengan kasusku?"

"Bacalah."

Aku mulai membaca buku itu, ukurannya tidak terlalu besar, hanya sebesar telapak tanganku. Buku ini tidak terlalu tebal, tapi tidak terlalu tipis. Kertasnya kuning dan lusuh sepertinya buku yang diproduksi sudah lama. Bagian luarnya lebih keras dan dilapisi kanvas berwarna hitam. Pada bagian depan buku ini terdapat tulisan Dani. Aku mulai membaca buku itu dari halaman pertama.


Hari ini adalah hari pertamu aku masuk SMP, ayah memberiku buku ini katanya untuk diary, menuliskan hal-hal buruk dalam diary akan mengurangi kesedihanku. Dia membelikan ini karena aku sering merasa sedih, ayah jarang pulang.

* Halaman 2

Sudah lama aku tidak menulis ya, hari ini aku melihat cewek yang cantik sekali. Kira-kira siapa ya namanya? Dia duduk di sebelahku.

* Halaman 3

TERNYATA NAMANYA RINA, akan terus kuingat, dia juga anak yang baik sekali.

* Halaman 4

Ibu dan Ayah? Kenapa mereka berpisah? Apa yang terjadi?

* Halaman 5

Hari ini aku pergi bersama Rina, awalnya aku inign menyatakan cinta, tapi dia malah bilang, kamu adalah teman baikku. Aku juga diminta berjanji untuk menjadi teman dia selamanya. APA-APAAN INI, AKU TIDAK AKAN BIARKAN RINA MENJADI MILIK ORANG LAIN. DIA MILIKKU. MILIKKU. SETELAH AYAH DAN IBU, TIDAK ADA YANG BOLEH PERGI DARIKU.

Aku sangat kaget membaca tulisan Dani dala buku itu. Dani yang kukenal sebagai anak yang baik dan ramah ternyata memiliki sisi kelamd alam dirinya. Jadi selama ini, Dani menyukaiku dan dia yang selalu mencelakai anak laki-laki yang mendekatiku? Sangat mengerikan, kenapa Dani yang merupakan teman baikku? Halaman 6-15 berisi cerita Dani menyakiti dan  cemburu pada laki-laki yang dekat dengaku. Hingga aku membaca halaman ke 16, aku lebih terkejut.

* Halaman 16

Kenapa? Kenapa Rudi yang bodoh itu bisa jadi pacar Rina? Kenapa Rina percaya padanya? Kenapa setelah aku mencelakakan dia, dia masih bertahan, TIDAAAK, TIDAK ADA YANG BOLEH MEMILIKI RINA SELAIN AKU, AKU AKAN BUNUH RUDI, AKU AKAN MEMBUAT TINA MENJADI KAMBING HITAMNYA, AKU AKAN MENGIRIM RINA KE DALAM PENJARA HAHAHAHAHA. AKU PUNYA RENCANA YANG BAGUS. TUNGGU KAU RUDI BODOH DAN RINA PEREMPUAN TIDAK TAHU DIUNTUNG YANG HANYA MENGANGGAP AKU SEBAGAI TEMAN, AKAN KUBUAT KALIAN MENYESAL.

"Jadi, kamu sudah tahu kan kenapa kamu harus membaca buku itu?" Pak Yuda tiba-tiba berbiacara karena melihatku membuka halaman yang bersangkutan dengan kasus pembunuhan Rudi.

"Apa benar ini buku harian Dani? Apa ini semua beneran Dani yang menulis?" tanya Rina penuh keraguan atas apa yang dibacanya.

"Benar, ini buku dan tulisan Dani, saya sudah konfirmasi ke orang-orang terdekat Dani."

"Jadi, yang membunuh Rudi itu Dani? Bagaimana bisa?"

"Manusia yang tertekan karena keadaan bisa melakukan hal-hal yang ada di luar pikiran dia. Ada dua hal lagi yang harus kamu lihat. Dani meninggalkan buku catatan itu di meja belajarnya bersama dengan surat dan sebuah CS yang berisi pengakuan." Pak Yuda menunjukkan ssatu lembar kertas dan satu keping CD yang ditempatkan dalam wadah transparan kepadaku. Aku mulai membaca surat bunuh diri Dani dengan perasaan campur aduk di dalam otakku.

Maaf semuanya,

Maaf karena aku sudah ada di dunia lain. Aku merasa kalian semua keberatan dengan adanya diriku di tengah-tengah kalian. Aku memang manusia yang tidak bermanfaat dan hidup dengan menyusahkan orang lain.

Ayah dan Ibu, terima kasih atas mimpi buruk yang kalian berikan. Aku tidak membutuhkannya lagi. Kalian juga tidak perlu repot mengurusiku lagi. Semoga kalian bahagia, tidak, kalian harus bahagia, karena saya sudah menderita.

Rina sahabatku, maaf aku menyusahkanmu. Membayangkanmu di penjara membuat hatiku hancur. Maafkan aku, aku menyesal, aku meninggalkan sebuah rekaman pengakuanku dan caraku membunuh Rudi. Semoga kamu juga bahagia, maaf telah menjadi benalu.

Selamat tinggal, 

Dani

Setelah aku selesai membaca surat bunuh diri Dani, Pak Yuda kemudian mengambil sebuah laptop dan menunjukkan video pengakuan Dani dalam CD yang dia tunjukkan sebelumnya.

Dani mengakui pembunuhan terhadap Rudi. Dia menjelaskan bagaimana cara dia membunuh Rudi. Dani juga menjelaskan bahwa dia mendapat sidik jari dan rambutku saat dia terakhir bertemu denganku untuk mengerjakan tugas bersama beberapa hari sebelum Rudi ditemukan meninggal. Dia membunuh Rudi sehari sebelum Rudi ditemukan. Sidiki jariku diambil dari gelas bekas minumku saat belajar bersama Dani dan rambutku diambil dari kursi tempatku duduk.

Aku sungguh tidak menyangka, sahabat yang bahkan dalam pikiranku tidak pernah terbayang dapat menyakitku malah menjadi orang yang menjatuhkan aku dalam hidup ini. Aku sangat sedih mengetahui semua ini.

Setelah hari itu, semua bukti yang diberikan Dani diberikan Pak Yuda ke polisi, sidang ulang kasus pembunuhan Rudi diadakan kembali dan aku dinyatakan tidak bersalah. Namaku pun bersih, berita-berita menyiarkan bahwa aku adalah kambing hitam dalam kasus ini.

Walau begitu, kejadian ini membuatku semakin berhati-hati untuk mengenal dekat dengan orang lain karena orang terdekat kita mungkin yang ingin menjatuhkan kita.