Article Hits! 12 Hours With You

Article Hits! 12 Hours With You

INIKECE - "One bubble milk tea with extra sugar please."
"Thirteen dollars please." Prilly mengambil pesanannya dan memilih untuk duduk di sebuah bangku kayu yang terletak di pojok taman.

Prilly adalah seorang mahasiswi dari Bandung yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas ternama di Sydney. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan sangat sempurna dalam waktu dua setengah tahun.

Hari ini adalah hari terakhirnya di sini. Prilly menyempatkan diri untuk menikmati bubble milk tea kesukaannya dan mengenang masa-masa selama dia berada di Sydney sebelum kepulangannya besok sore. 

Baginya Sydney adalah kota pelarian. Ia sangat menyukai kesendiriannya di kota ini. Tidak perlu bersosialisai, tidak perlu berpura-pura tersenyum. Dan yang terpenting, ia bisa lari dari kenyataan yang belum dapat ia terima. Ia memejamkan matanya, menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan.

"Thank you, Sydney. Maybe I will come back!" gumamnya dalam hati. 

***

"Hey, bisakah saya minta tolong?" tanya seorang pemuda dengan bahasa Inggris.

Prilly membuka matanya dan menatap pemuda itu dengan heran. Ia masih terkejut dengan pemuda yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Saya mohon," lanjut pemuda itu.

"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Prilly ragu-ragu.

Bukannya menjawab pertanyaan Prilly, pemuda itu malah memberikan pernyataan.

"Saya janji, saya akan memberikan penjelasan yang masuk akal."

Sebelum Prilly sempat menyetujuinya, pemuda itu mendekatkan dirinya dan memeluk Prilly. Mata Prilly terbelalak kaget. Tapi anehnya ia tidak dapat melakukan apa-apa. Prilly mematung dalam dekapan pemuda asing itu. Ada perasaan aneh yang Prilly rasakan. Namun begitu nyaman dan aman, sama seperti pelukan ayah.

Prilly sangat merindukan pelukan itu. Samar-samar Prilly dapat mendengar suara detak jantung pemuda itu, Lemah tapi stabil. Dua menit berlalu dan pemuda itu melepaskan pelukannya.

"Maaf," kata pemuda itu lembut,

Prilly tak mampu berkata-kata.

"Saya Jeremy. Panggil saja Jere," Jere mengulurkan tangannya.

"Pri.. Prilly," sambutnya terbata-bata.

"Terima kasih udah menolong saya. Kamu lihat 3 pemuda berjas hitam yang lewat tadi?"

Prilly mengangguk.

"Mereka mau menculik saya. Itu kenapa saya memelukmu. Saya harus menyembunyikan wajah saya."

"Hah?" Raut muka Prilly berubah menjadi takut.

"Tapi mereka bukan orang jahat," sambung Jere.

Prilly semakin bingung. Dia memijat pelipisnya.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Jere.

"Ia, saya hanya sedikit bingung. Tapi lupakanlah. Saya harus segera pergi."

"Tunggu. Biarkan saya membelikan sesuatu untukmu sebagai rasa terima kasih."

"Tidak perlu. Jaga dirimu baik-baik."

"Saya mohon." Jere menggosok kedua tangannya di depan Prilly.

Lagi-lagi kalimat itu membuat Prilly goyah.

"Hanya sebentar. Saya janji," lanjut Jere tersenyum.

"Baiklah," jawab Prilly.

Mereka berjalan meninggalkan taman. Jere memandu langkah kaki mereka hingga tiba di sebuah cafe kecil dengan nuansa klasik.

"Apakah kamu suka makan es krim di musim dingin?" tanya Jere.

"Sangat!"

"Sempurna. Ayo masuk."

Ada suara lonceng yang berbunyi ketika mereka membuka pintu. Aroma waffle langsung menyerbu hidung mereka. Begitu menggoda selera. Mereka diantar ke sebuah meja kosong yang berada di samping jendela kaca besar.

Dari sana mereka dapat melihat pepohonan yang menari-nari diterpa angin dan menikmati sinar matahari yang menyusup masuk lewat jendela.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar setelah mereka memesan es krim pilihan mereka. Jere menatap Prilly dengan terus tersenyum. Prilly merasa gugup dan berusaha mengalihkan pandangannya jari Jere.

"Kalau boleh tahu, dari mana asal kamu?" Jere memecah keheningan.

"Indonesia."

"Indonesia? Jadi ngapain dari tadi kita berbahasa Inggris?" Tanya Jere yang tidak lagi menggunakan bahasa Inggris.

"Jadi kamu juga dari Indonesia?"

"Yup. Bandung."

"Sama!"

Keduanya tertawa. Suasana yang dingin perlahan mencair. Mereka memperbincangka banyak hal setelah tahu bahwa mereka berasal dari kota yang sama. Prilly mulai merasa nyaman dengan Jere. Ia tak pernah merasa sebebas ini bersama orang lain.

Lebih tepatnya ia tak pernah mengizinkan siapa pun untuk dekat dengannya. Prilly terbiasa dengan kesendiriannya. Tapi beda dengan Jere. Ia tak mampu mendorong jauh pemuda yang baru ia kenal ini.

Mereka menghasikan waktu bersama selama hampir 12 jam. Dari cafe tempat mereka makan es krim, Luna Park, Sydney Opera House, Darling Harbour, dan malam harinya mereka kembali ke taman tempat dimana mereka bertemu tadi siang.

"Prilly, lihat! Bintangnya bagus banget."

"Wah, indah sekali." Seulas senyum menghiasi wajah mungil Prilly.

"Prilly, kamu percaya takdir?" Tanya Jere yang sedang menatap bintang.

"Aku tak ingin membahasnya."

"Kamu tahu? Setiap kita memiliki takdir yang berbeda-beda."

Prilly hanya diam. Hatinya terasa sesak. Ia mendadak kangen dengan ayah.

"Ada yang diberi garis takdir untuk hidup lebih lama karna dia memang berhak mendapatkannya. Ada yang hanya diberi kesempatan untuk menikmati hidup yang singkat, bukan karena dia tiak berhak. Tapi karena ada sesuatu yang jauh lebih indah telah menantinya di atas sana," Jere menggenggam tangan Prilly.

"Bisakah kita membahas hal lain?" Prilly tersenyum kaku.

"Prilly, setiap detak jantung kamu adalah detik yang berharga buat aku. Berjanjilah padaku untuk terus tersenyum seperti hari ini." Jere mengacungkan kelingkingnya ke arah Prilly.

Prilly menatap Jere dan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Jere, "aku janji."

Ia juga membiarkan wajah Jere mendekati wajahnya. Ini pertama kalinya ia merasa bahagia sejak umur sembilan tahun. Ia tidak pernah menyangka tembok pertahanannya selama puluhan tahun runtuh hanya dalam waktu 12 jam. Andai saja waktu dapat berhenti, ia ingin selamanya berada disini bersama dengan Jere.

***

"Terima kasih untuk 12 jam yang akan selalu aku ingat, Prilly Natalie."

"Bagaimana kamu bisa tahu nama belakang aku?" tanya Prilly heran.

"Karna aku sudah memperhatikanmu sejak lama."

"Jadi sebenarnya kamu udah tahu dong kalau kita sama-sama dari Indonesia."

"Sssttt." Jere menempelkan jarinya di bibir Prilly. Jere memeluk Prilly dan mengecup keningnya dengan lembut.

"Aku sudah mencintaimu bahkan sebelum kamu mengenalku." Bisik Jere lembut.

"Jereeee!! Jere, kamu kenapa?" tanya Prilly panik.

Jere tiba-tiba ambruk. Prilly menahannya hingga terduduk di lantai, menopang kepala Jere agar tidak terbentur. Seketika itu 3 pemuda berjas hitam tadi siang berlari mendekati mereka.

"Itu tuan muda," teriak salah satu dari antara mereka.

"Cepat angkat tuang ke mobil." Perintah pemuda yang kelihatan lebih tua.

"Tunggu! Kalian siapa?" suara Prilly gemetar.

"Kami penjaga tuan muda Jeremy."

"Aku tidak akan menyerahkan Jere begitu saja. Aku perlu bukti."

"Kamu tidak punya waktu untuk itu. Ikut saja dengan kami."


***

5 Agustus 2019

Matahari begitu terik menyinari kota Bandung. Orang-orang kembali sibuk bekerja setelah weekwnd yang menyenangkan. Tapi tidak dengan Prilly yang sengaja cuti untuk bertemu dengan dua orang yang sangat ia rindukan.

Prilly melirik kalender di atas meja belajarnya. Ia mengambil pulpen merah dan menggambar bentuk hati tepat di tanggal 5. Ia tersenyum dan menuliskan nama Jere disana.

"Prilly, ada mang Tito cari kamu nih," teriak mom dari lantai bawah membuyarkan lamunan Prilly.

"Iya mom, 5 menit. Prilly segera turun."

Prilly mengambil sebuah kota berinisial JP dari dalam lemari kacanya, dan sepucuk surat di atas meja belajarnya. Ia merapikan dress hitamnya di depan cermin dan kemudian meninggalkan kamarnya dalam gelap.

"Terima kasih mang."

"Sama-sama neng. Akhirnya wajah neng bersinar lagi, persis seperti pertama kali waktu mamang antar bunga untuk neng di taman sekolah," ucap mang Tito yang mengantarkan bunga pesanan Prilly.

"Ini semua berkat mang juga," jawab Prilly tersenyum.

"Titip salam buat masa Jere, neng."

"Pasti aku sampaikan!" balas Prilly antusias.

"Selamat beraktivitas neng. Mamang pamit dulu."

"Semangat ya mang! Hati-hati di jalan" Prilly melambaikan tangannya.

"Mom sudah siap?" teriak Prilly dari pintu depan rumah.

"Sudah. apa kamu sudah bawa hadiah ulang tahun ayah?"

"Sudah mom. Sumuanya beres."

"Ok. Mom segera ke sana."

***

Angin sepoi-sepoi berembus menerbangkan rambut Prilly. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang sepi. Tidak banyak orang yang datang berkunjung ke tempat ini, apalagi di hari Senin yang sibuk. Hanya ada Prilly dan tiga pengunjung lainnya. Prilly merapikan rambutnya sebelum ia menyapa Jere.

"Hi Jere, apa kabar?" tanya Prilly dengan senyuman manisnya. Senyuman yang disukai Jere. "Terima kasih Jere untuk hadiah terindah yang udah kamu berikan dalam hidup aku," lanjut Prilly.

Prilly membuka kotak polkadot dengan inisial JP yang ia bawa dari rumah dan merogoh saku pakaiannya. Sebuah amplop berwarna biru muncul dari dalam saku dress hitamnya. Prilly mengangkat amplop itu ke langit dan kemudian memasukannya ke dalam kotak polkadot biru. Prilly menutup kotak itu dan meletakkannya di samping bunga mawah putih yang sudah ia letakkan sejak ia sampai. Prilly bangkit berdiri dan tersenyum manis ke arash Jere.

4 Agustus 2019.

"Mom, hadiah ayah bagusnya pakai kertas kado biru cerah, ungu atau silver?" tanya Prilly yang sedang sibuk membandingkan kertas kado belanjaannya tadi siang.

"Ayah suka warna hitam." jawab mom dari dapur.

"Ih jangan dong. Masa hari ulang tahun kadonya hitam. Silver gimana?"

"Boleh juga. Ayah suka semua hal yang kamu buat, sayang." Bunda memindahkan soup yang sudah matang ke dalam mangkuk.

"Siap."

"Sini makan malam dulu. Nanti kita bungkus bareng."

"Ok mom. Tahu aja deh perut Prilly udah bunyi."

Malam itu Prilly dan mom sibuk mempersiapkan hadiah buat ulang tahun ayah besok. Mereka juga menulis surat yang manis untuk diberikan kepada ayah. Keduanya tidak sabar untuk menemui ayah besok pagi.

Prilly merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Jam menunjukkan pukul 9 lewat 42 menit. Mom sudah kembali ke kamar, dan mungkin juga sudah terlelap. Prilly menatap langit-langit kamarnya. Entah kenapa ia merasa sangat bahagia. Ia melirik meja belajarnya. Sesaat kemudian, ia bangkit berjalan ke arah meja belajarnya. Ia membuka sebuah amplop biru dan menemukan sepuncuk surat di dalamnya.

Ini sudah yang ke delapan puluh lima kalinya Prilly membcara surat ini. Suratnya pun sudah tampak lusuh karena sering dibaca. Ia tak pernah sekalipun merasa bosan. Meskipun dia sempat menangis berhari-hari ketika pertama kali membaca isi surat ini. Namun sekarang ia selalu tersipu malu dan tersenyum bahagis.

Untuk seseorang yang aku rindukan.

Hi Prilly, apa kabar?

Apa kamu sudah ingat dengan aku? Seseorang yang pernah memberikanmu mawar putih ketika kamu berumur sembilan tahun di pemakaman. Kamu tahu? Kamu berhasil mencuri perhatianku sejak pertama kali aku melihatmu di taman sekolah. Tawamu, senyumanmu, sorot matamu, gerak-gerikmu berhasil mengalihkan duniaku. Dan kedua kalinya aku bertemu kamu di pemakaman. Sejak saat itu, tak pernah sekalipun aku absen untuk melihatmu. Meski hanya dari jauh. Mang Tito juga selalu ikut untuk membantuku menyampaikan mawar putih yang aku petik dari taman rumahku. Bunda selalu bingung karena mawarnya semakin hari semakin berkurang, hahaha. Kita harus merahasiakan hal ini dari bunda.

Aku sedih melihatmu berubah murung sejak hari pemakaman itu. Aku terus berusaha untuk mengembalikan senyumanmu melalui mang Tito. Bertahun-tahun aku sangat merindukan senyumanmu. Hingga suatu hari kamu tiba-tiba meghialng. Aku tak bisa menemukanmu selama hampir tiga hari. Dan saat itu aku sangat sangat menyesal. Andai saja aku lebih berani untuk menyapamu seperti di pemakaman dulu.

Namun ketika aku berhasil mengetahui keberadaanmu, aku bertekad untuk tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Aku membujuk kedua orangtuaku untuk membiarkan aku pergi. Aku tak pernah minta apa pun selama hidupku. Aku hanya ingin berada di dekatmu sampai hari itu tiba.

Satu bulan berlalu, tapi aku tak berhasil menemukanmu di Sydney yang begitu besar. Hingga suatu hari aku berhasil menemukanmu di taman tempat kita bertemu terakhir kali. Aku ingin berlari menemuimu. Tapi lagi-lagi aku takut. Kamu tahu? Gadis kecil yang memberimu bubble milk tea saat itu adalah sepupuku. Ehh siapa sangka itu malah jadi minuman kesukaan kamu.

Prilly, jika kamu menganggap aku ini pengecut. Ya, aku memang pengecut. Aku terlalu takut menghadapi kenyataan. Terlalu takut karena harus melepaskanmu suatu hari nanti. Aku takut aku tak bisa melakukannya. Itu sebabnya aku tak pernah berani untuk menemuimu, bahkan hanya sekadar menyapamu pun aku tak mamp melakukannya.

Sehari sebelum kepergianku, dokter memvonis aku taka akan bertahan lebih dari 48 jam. Penyakit yang aku derita sejak kecil ini sudah menggerogoti seluruh organ tubuhku. Saat itu yang aku pikirkan hanyalah ingin menghabiskan sisa 48 jam yang ada untuk melihat senyuman yang begitu aku rindukan. Aku kabur dari rumah sakit, kabur dari para penjagaku, dan pergi menemuimu. Syukurlah kamu benar-benar ada di taman hari itu.

Terima kasih sudah mengizinkan aku bersamamu, meksipun hanya 12 jam. Aku bahagia melihat kamu tersenyum kembali. Mungkin kamu merasa tidak adil dengan apa yang terjadi para ayahmu, dan sekarang aku juga pergi meninggalkanmu. Tapi percayalah, kami sangat bahagia berada di tempat indah ini. Kamu berhak untuk melanjutkan hidupmu dengan bahagia, Prilly. Kamu berhak untuk mencapai semua impianmu. Kamu berhak untuk mencintai dan dicintai. Berjanjilah padaku untuk kembali bersinar seperti Prilly yang berhasil membuatku jatuh cinta.

Prilly, kamu dapat mengembalikan surat ini padaku sebagai tanda bahwa kamu sudah berhasil menepati janjimu. Kamu sudah kembali tersenyum bahagia seperti Prilly yang aku lihat di taman sekolah. Aku akan menunggu surat ini kembali padaku. Datanglah kapanpun kamu siap.

Yout secret admirer,
Jere

*****

"Jere, aku yakin kamu sedang memperhatikanku dari surga, Aku sudah kembali seperti Prilly yang kamu lihat pertama kali di taman sekolah. Bahkan sekarang aku jauh lebih bahagia dari hari itu. Karena aku tau kamu dan ayah selalu di dekatku," ucapnya lembut.

"Terima kasih telah mengajarkan aku betapa berharganya sebuah kehidupan." Prilly tersenyum.

"Sayah, sudah selesai? Yuk kita ke makan ayah."

"Yuk mom. Aku sudah nggak sabar mau cerita banyak hal sama ayah."

Mom tersenyu,. "Terima kasih Jere sudah mengembalikan putri kecil kami." bisik mom sebelum beranjak pergi dari pemakaman Jere.

Tentang Penulis :

Saya adalah seorang wanita yang sangat suka menghabiskan waktu saya untuk menulis. Impian saya adalah dapat menginspirasi setiap pembaca melalui tulisan-tulisan saya. Semoga tulisan pertama saya d Fiksi Weekend ini dapat menjadi motivasi untuk setiap orang yang mungkin mengalami hal yang sama dengan Prilly. Seringkali kita tidak sadar telah melewatkan banyak hal indah karena terfokus dengan masa lalu atau kejadian pahit yang kita alami. Kita hidup hanya sekali di dunia ini. Pastikan untuk berani memperjuangkannya dan hidup bahagia. Karena setiap orang berhak untuk memilikinya.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment