Cerita Dalam Buku - KKN di Desa Penari (One)

Cerita Dalam Buku - KKN di Desa Penari (One)

INIKECE - Desember 2009! , hampir semua mahasiswa angkatan 2005/2006 telah menerima keputusan dari pihak kampus perihal pelaksanaan tugas KKN (Kuliah Kerja Nyata). Mereka dapat melaksanakan KKN melalui jalur mandiri atau jalur domisili yang dipilihkan oleh pihak kampus.

Dari semua pemandangan itu, terlihat, satu orang mahasiswi yang sedari tadi berdiri, sendiri. Ia terlihat tengah menunggu seseorang, seakan apa yang ia tunggu akan segera datang, meski ia tidak bisa menyembunyikan kecemasan di raut wajahnya.

Tiba-tiba kecemasannya teralihkan begitu getaran ponsel di kantong sakunya ada. Ia segera meraih ponsel untuk mengangkat panggilan seseorang yang sangat dikenalnya.

"Saya sudah mendapatkan tempat untuk kita KKN, Wid. Kamu sudah menghubungi Bu Anggi?" tanya seseorang di seberang sana.

Perubahan wajah terlihat jelas pada perempuan itu. Kecemasannya berubah menjadi senyuman. Ia merasa lega, setidaknya, proposal yang ia ajukan kemarin sudah menemui kejelasan. Proposal pengajuan untuk melaksanakan tugas KKN yang ia kehendaki di sebuah desa tertinggal.

***

"Widya Sastra Nindya," kata seorang wanita yang menjadi penanggung jawab sekaligus pengawas lapangan. "Kamu benar mau mengambil tempat ini? Jauh sekali loh tempat ini."

"Iya, Bu," jawab Widya mantap. Saat ini, Widya menjalankan tugasnya sebagai mahasiswi semester akhir, di sebuah universitas Jawa Timur.

"Ya sudah, nanti saya pertimbangkan, tapi saya butuh laporan observasi sebelumnya. Selain itu, jangan lupa kelengkapan surat dari pemerintah setempat, meliputi perangkat desa sampai jenjang terendah," jawab wanita itu kemudian. Ada nada sedikit ragu saat ia mengetahui jawaban Widya. Tapi ia pun tidak punya hak untuk melarang mahasiswinya, apalagi menyangkut kegiatan KKN.

"Ingat ya, di tempat KKN, kamu nggak cuma bawa badan, tapi juga bawa nama kampus," tutur Bu Anggi. Kemudian wanita itu mempersilahkan Widya pergi.

"Terima kasih, Bu," sahut Widya, tidak bisa menahan luapan semangat karena akhirnya dapat melaksanakan tugas ini bersama sahabatnya.

Pagi itu, Widya segera menyelesaikan proposal akhir tentang siapa saja yang akan terlibat dalam pelaksanaan tugas ini. Ia semakin bersemangat karena berhasil melakukan pencarian desa sebagai landasan tugas KKN mereka secara mandiri. Mengingat, pada tahun ini, pihak kampus menaikkan standar tinggi, bahwa apa yang mereka kerjakan selama pelaksaan tugas KKN haruslah yang memiliki dampak yang bisa dirasakan oleh masyarakat.

Tiba-tiba konsentrasinya teralihkan saat kedua teman menghampiri. Nur dan Bima.

Nur adalah teman sefakultas Widya. Gadis manis kelahiran kota Jombang. Ia tersenyum, menyapa Widya sebelum ikut duduk bersamanya. Di sampingnya, Bima Anggara, seorang pria dari Fakultas Teknik, yang selalu menjadi bahan pembicaraan para gadis karena prestasinya.

"Bagaimana tempatnya?" tanya Widya pada kedua temannya.

Mendengar itu, senyuman Nur perlahan pudar. Ia terdiam sejenak, seakan berpikir sebelum kembali tersenyum. Sambil menggenggam tangan Widya, ia pun menjawabnya.
"Bagus tempatnya, masih alami, yang jelas, banyak proker menjanjikan yang bisa meningkatkan mutu hidup warga desa sana."

Widya tampak senang mendengarnya.

"Wid," panggil Nur lagi. "Kira-kira masih ada tempat tidak ya, untuk ikut pelaksaan KKN kita?"

Widya menatap Bima, yang seakan sedikit tersipu ketika gadis itu melihatnya. "Mas Bima, ya? Memangnya Mas mau ikut kami? Soalnya kami akan ambil desa yang paling jauh dibandingkan sama anak-anak lain, loh."

"Nggak apa-apa, sekalian jalan-jalan. Bukannya KKN seperti itu, belajar sambil jalan-jalan?" kata Bima meyakinkan Widya.

"Baik  Mas, saya masukkan ya, namanya ke Proposal Pengajuan. Ada dua mahasiwa juga yang akan ikut kami. Kenalannya Ayu, kasihan, biar cepat selesai kuliahnya," sahut Widya sembari tertawa.

Ucapan Widya membuat Nur dan Bima juga ikut tertawa. Memang, sebelumnya, alasan selain agar pelaksanaan KKN mereka bisa dilakukan bersama-sama, Ayu bersikeras ingin mengajak dua kating (kakak tingkat) kenalan baiknya, yang ia kenal melalui organisasi MAPALA. Widya pun segera memasukkan nama Bima ke dalam Proposal Pengajuan sebelum dikirim pada Bu Anggi untuk tinjauan ulang.

Ia berharap, enam nama yang ia ajukan akan diterima dan disetujui oleh pihak kampus, sehingga mereka bisa melaksanakan tugas ini sebagai syarat pengerjaan skripsi mereka.

***

Seminggu berselang, keputusan pihak kampus akhirnya keluar. Widya mendapat telepon dari Bu Anggi, ia mengatakan bahwa peninjauan sudah dilakukan secara menyeluruh dan dokumen yang diminta pun sudah lengkap, sehingga, pihak kampus menyetujuinya.

Dengan wajah berbinar-binar, Widya segera mencari Ayu dan Nur. Mereka harus segera mengetahui berita besar ini.

Benar saja, ketika Ayu dan Nur melihat wajah semringah Widya, mereka sekolah sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan oleh sahabat mereka.

"Apa?" kata Ayu dengan menahan senyum. "Mau ngomong apa kamu, Wid?"

"Proposal KKN kita disetujui!" teriak Widya.

Sontak Nur dan Ayu melompat kegirangan, mereka lalu saling memeluk satu sama lain, tak peduli beberapa pasang mata mahasiswa lain menatap mereka keherangan. Mereka sangat bersemangat karena perjalanan menuju sesuatu yang baru akan segera dimulai.

"Syukurlah, perjuangan kita gak sia-sia," kata Ayu, ia masih tidak bisa menahan lonjakan kebahagiaan yang baru ia dengar itu.

"Ya, alhamdulillah, semoga tugas kita lancar, biar cepat selesai dan aku bisa pulang kampung ke rumahku. Capek jadi anak kos terus," keluh Nur. Hal itu membuat Ayu dan Widya tertawa dan langsung memeluknya.

"Sabar, kalau nanti kita sudah keluar dari kampus ini, pasti nanti kamu bakal kangen. Pegang saja omoganku, ini sudah seperti rumah kedua kita lo," jawab Widya, yang membuat mata Nur dan Ayu berkaca-kaca. (bersambung)...
Reactions:

0 comments:

Post a Comment