Cerita Dalam Buku - KKN Di Desa Penari (Three)

Cerita Dalam Buku - KKN Di Desa Penari (Three)

INIKECE - "Menarik," ucap Widya berkali-kali. Sekarang ia mengerti alasan kenapa mobil tidak bisa melintas. Baru masuk ke gapura desa itu saja, medan tanah yang harus mereka lewati langsung menanjak naik.

Untungnya ucapan Pak Waryan benar, motor itu sanggup melajut walaupun mesin berderu lebih keras dari sebelumnya.

Hari sudah mulai petang. Dari celah-celah pohon di kiri-kanan, Widya bisa melihat pemandangan menakjubkan sekaligus sedikit mengerikan. Kegelapan hutan seakan berjalan lambat, menyapu sayup-sayup dedaunan dan kokohnya ranting besar, seakan memberi tahu bahwa pepohonan itu sudah berdiri ratusan tahun.

Selain pemandangan hutan yang mulai gelap, Widya juga bisa merasakan suhu dingin yang kian menurun drastis, membuatnya harus mengencangkan jaket. Ia sadar, suhu seperti ini memang sudah biasa di tempat yang banyak dipenuhi pepohonan seperti ini, jadi ia tidak terlalu kaget dan memakluminya.

Benar kata Pak Waryan, selama di perjalanan, Widya kerap melihat jam di pergelangan tangannya. Seertinya perjalanan ini memang akan berlangsung lama. Ia menyadari sedari tadi, ia masih bergelut dalam akses jalan yang sulit ditebak. Jalan naik turun, kelok yang kadang melewati semak belukar, hingga jalan setapak yang dipenuhi oleh lumpur cokelat.

Namun, Pak Waryan dan yang lain tampak terbiasa dengan medna itu, sehingga mereka bisa melaju mulus meski dengan keadaan hutan yang semakin lama semakin gelap. Tanpa pencahayaan satu pun, mereka mampu menembus arang rintang dari jalanan hutan itu.

Di sinilah, terjadi sebuah fenomena yang aneh. Dari jauh terdengar suara gaduh ramai orang tengah memainkan musik. Sebuah musik yang khas dan familier, mulai dari tabuhan gendang hingga suara pukulan gong yang sayup-sayup terdengar dari jauh.

Hal itu tentu saja membuat WIdya merasa aneh. Mana mungkin ada hajatan di tempat seperti ini, kecuali desa tujuan mereka sudah semakin dekat. Bila bena ritu yang terdiri, berarti, ada warga desa yang tengah mengadakan sebuah pesta atau perayaan adat setempat.

Motor masih melaju kencang, tapi Widya masih bisa mendengar tabuhan gemelan itu. Suaranya terasa mendayu-dayu semakin kencang terdengar oleh telinga. Seakan gamelan tersebut dimainkan hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempatnya menembus medan jalan.

Aneh, dari jauh Widya melihat sesosok manusia tengah menelungkup, seakan memasang pose sedang menari. Ia berlenggak-lenggok mengikuti irama musik gamelan yang terus ditabuh dengan ritme yang cepat. Widya berusaha menatapnya dengan seksama, lalu dibuat terperangah dengan pemandangan itu, sebelum akhirnya bayangan itu perlahan menghilang.

Pemandangan itu lenyap ketika motor berbelok, tertutup oleh kokoh garis pohon di sepanjang hutan. Widya hanya membatin, Siapa yang menari di malam gulita seperti ini?

Seperti dugaan sebelumnya, tiga puluh menit sudah berlalu, dan sayup-sayup atap rumah terlihat samar-samar dengan cahaya yang meski temaram bisa dilihat jelas oleh mata.

"Kita sudah sampai di desanya, Mbak," kata Pak Waryan, yang suaranya tertelan kencangnya angin.

Widya bisa melihat gapura kedatangannya dengan beberapa orang yang tengah menanti kehadiran rombongan KKN. Semua motor yang mengangkut rombongan pun berhenti.

Widya bisa melihat wajah-wajah warga desa yang tampak senang. Mereka menyalami Widya dan rombongannya, mengatakan "selamat datang" dengan bahasa Jawa ketimuran mereka, yang disambut Widya dengan ucapan terima kasih.

Ia tidak menyangka akan disambut seperti ini, tapi tiba-tiba pikirannya tertuju pada rasa penasaran yang sedari tadi menghantuinya. Satu yang menjadi pertanyaannya, dimana hajatan yang ia pikir diadakan di desa itu? Sejauh mata memandang, Widya hanya melihat rumah-rumah penduduk, tanpa ada hinggar bingar seperti diadakannya sebuah acara.

Widya, merasa aneh. Tapi karena lelah, ia pun memilih untuk melupakannya.

Seorang pria dengan kumis tebal, berpakaian batik dengan celana kain hitam mendekati Ayu. Ia menyalaminya seakan mereka sudah mengenal satu sama lain. Tidak hanya Ayu, tapi Nur juga mendekati pria paruh baya itu.

"Sini, sini, perkenalkan, ini adalah Pak Prabu. Beliau nanti yang akan membantu kita mengerjakan proker kita bersama warga. Beliau kepala desa disini," ucap Ayu bangga.

Widya dan yang lain langsung ikut mendekati, menyalami, dan memohon bantuannya selama mereka tinggal di sini.

"Mari, saya antarkan ke tempat nanti kalian akan tinggal," ucap Pak Prabu dengan gerakan tangan mempersilahkan, Widya dan yang lain segera mengikutinya.

Di perjalanan itu, Pak Prabu menjelaskan banyak hal. Salah satunya alasan kenapa mereka tinggal di tempat yang sejauh ini, terpelosok sampai harus menembus hutan belantara. Rupanya, desa ini sudah lama berdiri dan menjadi salah satu desa tertua di daerah ini.

Disini mereka masih menjaga adat istiadat serta budaya dari kakek nenek moyang. Jadi meski terdengar aneh bagi orang asing, bila ada yang masih bertanya perihal mengapa masih betah tinggal di desa ini, maka Pak Prabu akan mengatakan bahwa desa ini adalah rumahnya.

Semua anak tertawa saat Pak Prabu mengatakan itu. Ungkapan "rumahku adalah surgaku" seperti penggambarakan Pak Prabu itulah yang membuat akhirnya semua anak-anak maklumi, dan mencoba mengerti serta tidak mengungkit atau mengajukan pertanyaan serupa kepada beliau atau warga desa lainnya. Bukankah semua orang harus saling hormat menghomati?

Pak Prabu merupakan sosok kebapakan yang sangat ramah. Ia tidak bisa berhenti melepaskan canda gurau untuk membuang rasa sungkan di antara kami. Hal itu membuat Wahyu dan Anton tidak berhenti saling bertukar gurauan, seakan lupa bila mereka sedang berbicara dengan seorang Kepala Desa di tempat ini.

"Hus", omel Nur, sambil mencubit lengan Wahyu dan Anton agar mereka diam saja.

Di tengah percakapan itu, tiba-tiba Widya teringat lagi dengan kejadian di perjalanan menuju desa. Awalnya ia memang ingin melupakannya, tapi entah mengapa peristiwa tersebut membuatnya semakin penasaran.

"Mohon maaf Pak, tadi saya mendegar suara gamelan, tapi anehnya saya tidak melihat sumber suara tersebut. Dan juga setelah saya dasari, tidak ada hajtan di sini. Apa ada desa lian di dekat-dekat sini?"

Pertanyaan Widya membuat semua orang berhenti, tak terkecuali Pak Prabu yang menatapnya lama.

"Gamelan?" kata beliau menyelidik

"Nggih Pak, waktu menuju ke desa ini, tidak terlalu jauh dari sini, saya mendengar suara gamelan yang didendangkan dengan ramai. Saya pikir ada warga yang mengadakan hajatan di desa ini."

"Kapan kamu dengarnya, Wid?" tanya Ayu penasaran.

"Tadi kok, waktu sudah dekat desa," ucap Widya.

Widya bisa melihat raut wajah yang lain memasang ekspresi yang sama, bingung dan tidak mengerti. Kecuali Nur, ia tidak menatap Widya seperti yang lain, ia lebih memilih untuk diam dan menundukkan kepalanya.

"Tidak ada desa lain di sini, Mbak, hanya desa ini. Mungkin Mbak cuma krunguen (kedengeran) jadi gak usah terlalu dipikirkan ya, mbak. Mari saya antar ke rumah yang akan kalian jadikan tempat tinggal selama ada di desa kami," kata Pak Prabu.

Ia tersenyum kepada Widya, mencoba menghapus rasa penasaran yang mengganjalnya. Pak Baru memperkenalkan anak-anak pada Bu Sundari, seorang janda yang tinggal sendirian di sebuah rumah desa ini. Rumahnya akan menjadi tempat peristirahatan bagi Widya, Nur, dan Ayu. Untuk anak laki-laki, Pak Prabu menunjuk sebuah rumah yang terlihat seperti bangunan untuk keperluan urusan desa. 

Jaraknya hanya beberapa meter dari rumah Bu Sundari. Alasan pemilihan tempat itu adalah agar mereka mudah untuk berdiskusi membahas urusan proker mereka. Selain itu tempat tersebut memang bangunan serba guna di desa yang biasa dijadikan sebagai posko posyandu.

Awalnya Wahyu ingin protes, tapi, Bima yang melihat gelagat itu segera menghentikannya. Hal tersebut membuat Wahyu menahan dongkol, Bima tersenyum, mengatakan terima kasih.

Pak Prabu mengatakan ini hanya untuk sementara, karena posko tempat mereka akan tinggal sedang dibersihkan dan dibenahi. Nanti, bila sudah layak ditinggali, mereka semua akan tinggal di posko itu.

***

Hari semakin larut Widya, Nur, dan Ayu sudah masuk ke kamar. Mereka menurunkan semua perbekalan, menyusunnya agar mudah dicari saat membutuhkannya.

Tiba-tiba Ayu teringat obrolan tadi, "Maksud kamu apa sih Wid, ngomong kalau dengar suara gamelan? Kan aku jadi gak enak sama Pak Prabu."

Widya yang mendengarnya sontak bertanya, "Loh, memang kalian tadi tidak dengar?"

"Tidak ada suara gamelan, Wid. Dimana sih, emang dengarnya? Ada juga suara jangkrik dan binatang malam, lha wong itu hutan," celetuk Ayu.

Mendengar celetukan Ayu yang ketus, membuat Widya sedikit terpicu. Jangan-jangan kedua temannya ini mengira dirinya berbohong. "Tadi aku benar-benar dengar, gak mungkin telingaku salah. Sebelum masuk desa, ada suaranya, ramai, tak kira ada hajatan!"

"Sudah-dauh, apa-apaan sih kalian? Ini itu rumah orang, kalau ngomong jangan keras-keras, gak neka sama yang punya rumah," tukas Nur, yang membuat Widya dan Ayu meredam egonya masing-masing. Tiba-tiba Ayu pergi meninggalkan kamar mereka.

"Sudah, tidak usah dipikirkan. Benar kata Pak Prabu, mungkin kamu capek," ucap Nur.

Namun Widya merasa ada yang aneh dengan gelagat Nur, seakan ia ragu dengan ucapannya, yang lantas membuat Widya menanyakan hal itu.

"Kamu tadi dengar juga kan, Nur?"

"Apa?" kata Nur kaget, "Gak kok, gak ada suara itu. Sudah, aku mau tidur. Capek Wid, besok pasti sibuk karena Pak Prabu bilang, beliau akan mengantar kita keliling desa."

Widya sedikit kecewa saat Nur mulai menutup matanya. Meski ia tidak puas dengan jawaban Nur, tapi akhirnya ia mengalah dan pergi tidur berharap mimpi malam ini akan mematikan hasrat pertanyaannya. (BERSAMBUNG)...

Reactions:

0 comments:

Post a Comment