Cerita Remaja! Mata Tanpa Raga

Cerita Remaja! Mata Tanpa Raga

INIKECE - "Aku dapat melihat kalian, tetapi tak semua dari kalian dapat melihatku. Kalian dapat merasakan dikhianati, benci, cinta dan kasih sayang dari semua orang, tetapi tidak denganku. Sampai suatau waktu, kutemukan dia yang dapat melihatku dan berbagi rasa itu denganku."

***

Mataku terbuka dan mendapati pantulan diriku tergantung di jendela kamarku. Aku? Tergantung? Apa yang sedang aku lakukan? Kulihat kembali dengan saksama pantulan diriku. Sarung guling terikat pada leherku dan tepat di bawah ragaku terdapat kursi lipat yang sudah tak berdiri lagi. Tak lama kemudian, aku mendengar ketukan pintu dari luar sambil menyuarakan namaku.

"Baskara! Mas Baskara! Ada apa?" Teriak bundaku.

Semua terjadi begitu cepat. Ayahku seketika mendobrak pintu kamar dan terdiam memegang bunda yang menangis histeris melihat diriku. Kucoba meraih bunda dan ayah, namun apalah daya. Tak bisa. Kucoba sekali lagi, tetap tidak bisa. Segera aku berlari melihat pantulan diriku dalam cermin, tidak kusangka tak terdapat diriku di dalamnya. Iya, aku adalah jiwa tanpa raga.

***

Tak lama setelah kepergianku, ayah dan bunda memutuskan untuk menjual rumah yang kami tempati selama beberapa tahun terakhir. Rumah ini tidak begitu besar, hanya terdapat ruang tamu yang disambung dengan ruangan tengah, dapur dan ruang makan, 3 kamar tidur, kamar utama yang ditempati ayah dan bunda, satu kamar tidur untukku, dan sisanya untuk kamar tamu, serta 2 kamar mandi.

"Ayah merasa rumah ini sudah terlalu luas bagi kita. Kita bisa pindah ke tempat yang lebih kecil lagi ya, bunda."

Beberapa hari setelah kepergianku, memang terasa sangat sepi dan dingin di rumah kami. Ayah dan bunda hanya memiliki aku sebagai anak semata wayangnya. Aku memahami alasan di balik menjual rumah ini, yaitu demi kebaikan mereka untuk terus melanjutkan hidup tanpaku. Tak selang lama, rumah kami terjual kepada seseorang yang kuketahui kemudian bernama Pak Dakra.

Saat Pak Dakra berkunjung untuk melihat rumahku, ia mengajak seseorang yang bisa kutakan sebagai istri Pak Dakra dan perempuan yang sepertinya berusia 16 tahun, seusaiku, dipanggilnya Kinan.

Kuamati dengan saksama Kinan. Gadis tinggi, berambut panjang sebahu yang tergerai indah, dan berparas manis menurutku. Ketiga orang tersebut menampilkan wajah sangat gembira saat berkeliling rumahku. Dilihatnya setiap sudut ruang, kamar, dan tak lupa halaman belakang yang penuh tanaman milik bundaku. Rupanya bunda memang sengaja meninggalkan koleksi tanaman anggreknya untuk menghiasi halaman ini.

Kulihat Kinan kembali masuk ke dalam rumah. Ia berkeliling di dalam rumah untuk kedua kalinya, dan berhenti di depan pintu kamarku.

"Ma, ini kamarnya buat Kinan ya," serunya kepada mamanya yang berada di kamar utama.

"Iya nak, jadi kamar satunya untuk kamar tamu ya." kata mamanya memastikan.

Kuikuti Kinan yang mulai masuk dan berkeliling di kamarku. Diperhatikan olehnya setiap detail yang ada disana. Sudah tidak ada barang apapun yang ditinggalkan ayah dan bunda, yang ada hanyalah kamar kosong dan jendela tanpa tirai yang menampakkan cahaya matahari.

"Baik, jadi nanti di pojok sana untuk lemari, sedangkan di sana untuk meja belajar, Oh ya, kaca jangan sampai ketinggalan. Hmm, lemari buku diletakkan dekat meja belajar mungkin ya," ucapnya sambil menunjuk ke sgala arah yang ada dikamarku.

Kulihat ia melihat ke arah jendela. Didekatinya jendela itu dan dipegangnya kusen kayu jendela itu.

"Kamu pasti sudah melewati masa-masa yang susah ya," ucapnya sambil menatap ke arahku.

Iya, menatapku. Namun, kupikir hanyalah sebuah kebetulan karena aku sedang berdiri di samping jendela dan sedang menatapnya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi bukankah itu salah jika kamu berhenti berjuang?" ucapnya kembali sembari mendekatku.

Apakah dia bisa melihatku? Segera kemudian aku mengambil langkah untuk berpindah tempat menjauhinya, namun terhenti saat dia mengatakan, "Hai, kamu terkejut karena aku bisa melihatmu?"

***

Aku masih menatap Kinan tidak percaya. Bagaimana bisa gadis ini melihatku? Kuamati arah matanya lebih dalam. Dan ia pun tertawa Ah, rupanya dia hanya bermain-main. Jadi, kulanjutkan langkahku untuk menjauh dari jendela.

"Kamu kira aku nggak bisa melihatmu ya? Kenapa pergi?" tanyanya sambil memutar seluruh badannya untuk melihat ke arahku.

"Tunggu. Kamu benar-benar bisa melihatku?" tanyaku memberanikan diri.

"Iya. Bahkan dari tadi saat aku datang, sudah lihat kamu. Tapi kamu diam saja," jelasnya sambil mendekatkan diri ke arahku.

Tentu aku terkejut dan membuatku mundur hingga ke arah dinding kamar, yang tentu saja bisa aku tembus tanpa mengkhawatirkan jiwaku.

"Haha, Lucu deh kamu. Harusnya aku yang takut sama kamu. Kok jadi kamu yang takut." katanya sembari tertawa menjauhkan diri dariku.

"Kamu bisa dengar suaraku juga?" tanyaku dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa dia mendengar? Bukankah suaraku sangat lirih untuk didengar manusia sepertinya?

"Tentu saja bisa. Tapi mama sama papa tidak bisa. Kurasa hanya aku yang bisa mendengar suaramu," jawabanya sambil membuka pintu dan berjalan keluar dari kamarku.

Bagaimana bisa? tanyaku dalam diri. Kuikuti langkahnya menuju halaman depan menyambut truk pindahan yang Pak Dakra sewa utnuk mengangkat perabotan miliknya.

"Ma, Pa. Truknya sudah datang!" serunya sambil berlari ke arah truk yang sedang terparkir itu.

Pak Dakra dan istrinya segera keluar dan mulai mengatur letak perabotannya untuk menghiasi rumahku.

***

Tiga jam kemudian, kamarku telah berubah menjadi kamar yang sangat bernuansa 'gadis'. Sebelumnya, saat masih bersama ragaku, kamar ini memang tidak banyak pernak-prenik atau pun perabotan. Tetapi berbeda saat Kinan mulai mendekorasi kamarku. 

Senang melihat kamarku berwarna dan penuh pernak-pernik, meskipun di sisi lain tentu ini bukanlah karakterku. Tidak masalah, karena ini kamar Kinan sekarang. Aku berdiri di sebelah meja belajar yang menghadap langsung ke jendela. Kulemparkan pandangan pada isi kamarku dan beralih memandang jendela yang menampilkan halaman depan yang penuh dengan rumput sintetis yang dipesan oleh ibu kala itu.

Jendela kamarku bisa diaktakan sangat tinggi, memenuhi satu sisi dinding kamarku, dan di antara jendela itu terdapat besi-besi yang menghubungkan sisi kanan dengan sisi kiri kusen jendela, serta sisi atas dan bawahnya. Jendela ini memang menjadi tempat favoritku untuk merenung, baik ketika masih bersama ragaku ataupun sekarang tanpanya.

"Sedang apa?" tanya Kinan mengejutkanku.

Rupanya dia sudah selesai makan siang di ruang makan bersama keluarganya.

"Lihat-lihat aja." kataku menatap jendela.

"Mungkin karena kita belum berkenalan dengan baik. Jadi canggung. Kinan," katanya sambil mengelurkan tanganya.

Tentu kau tidak bisa menggenggam tanganku.

"Hmm.. Kurasa kamu tidak bisa genggam tanganku deh," kataku dengan sopan tetap mengelurkan tanganku menyambut tangannya.

"Memang. Tapi tak apa. Biar lebih sopan. Kamu makhluk yang paling ramah di antara yang lain," katanya sambil duduk di atas kasur ukuran queen size yang berada di belakang meja belajarnya.

Sedangkan aku masih belum beralih dari tempatku berada.

"Jadi, kamu memang bisa lihat makhluk sepertiku?" tanyaku membuka percakapan.

"Hmm. Nggak semuanya sih. Beberapa, tetapi ya kalau dianya ramah pasti aku ajak ngobrol," jawabnya sambil memainkan telepon genggamnya.

"Eh siapa nama kamu? tanyanya sebelum aku bertanya lagi,

"Baskara. Baskara Adhi Wardhana," jawabku dan mulai berlarih untuk duduk di sampingnya.

Kulihat dia mulai membuka aplikasi instagram dan mulai mengetikkan namaku.

"Ini bukan nama instagram kamu? Baskaradhi?" tanyanya sambil menunjukkan layar telepon genggamnya padaku.

"Hahaha, Millennial. Benar itu."

"Kamu masih kelas 2 SMA? ini foto masih tahun ini. Kita seumuran?" tanyanya sambil tetap menatap fotoku pada layar handphoenya.

"Kalau kamu umur 16 tahun sekarang, maka iya, kita seumuran."

"Maka kita seumuran, apa yang terjadi padamu?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Haha. Rahasia, lebih baik kamu yang bercerita, bagaimana kamu bisa kemari?"

***

Matahari semakin turun ke arah barat dan menampilkan cahaya jingga yang indah untuk dilihat mata. Sinar itu pun sampai ke arah jendela kamarku dan membuat Kinan terkagum.

"Aku pilih kamar ini tadi karena jendela ini." katanya sambil berdiri, sengaja membuat wajahnya berpantulan dengan cahaya jingga itu.

Saat melihatnya, dia terlihat sangat menarik. Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkannya. Cantik? Manis? Entah, yang jelas sangat indah untuk dikagumi.

"Asal kamu tahu, kamar ini, dulunya, adalah milikku," jelasku.

"Bagus. Kamu tidak salah memilih kamar ini. Sangat sempurna." Dia tetap tidak berpaling.

"Saat rumah ini dibangun, usiaku 12 tahun. Ayahku memberikan kebebasan padaku untuk menata kamarku. Mulai dari hal kecil seperti perabotan ataupun ya, seperti jendela ini."

"Aku suka jendela ini. Saat bahagia ataupun sedih bisa menenangkan diri hanya dengan cara memandangi halaman luar melalui jendela ini," katanya sambil berputar kembali duduk di atas kasurnya.

Sebelumnya, ia bercerita mengenai perjalanan hidupnya, yaitu sering berpindah-pindah rumah karena pekerjaan ayahnya yang mengharuskan berpindah. Pak Dakra adalah seorang manajer di suatu bank ternama dan sering kali mendapatkan perindah untuk bekerja di luar kota.

"Capek tau, Bas. Pindah-pindah," keluhnya sambil memeluk boneks beruang Brown miliknya.

"Pindah ke mana aja emang?" tanyaku.

"Jadi dulu aku di Jakarta sampai umurku 5 tahun, terus pindah ke Semarang, lalu ke Batam. Kemudian kembali ke Jakarta selama 2 tahun. Sekarang mungkin berakhir di sini deh," jelasnya sambil menggelengkan kepala.

"Kenapa tidak menetap di Jakarta?"

"Mama nggak mau. Ya tapi ayah juga gak mau sih. Aku juga. Haha," jawabnya sambil menertawakan dirinya sendiri.

"Aku aja di Surabaya terus dari lahir sampai sekarang."

"Ya enak lah. Asal kamu tahu, capek tahu beres beres. Masukin barang ke kardus. Nanti kan juga dibongkar. Jadi kdang suka susah gitu deh," katanya dan melemparkan badannya di atas kasur untuk rebahan.

Kuamati wajah manisnya yang sedang memejamkan mata. Memang terlihat sedikit raut wajah yang menunjukkan kelelahan, tetapi entah mengapa itu menjadi tidak terlihat karena mulunya yang terus bercerita tiada hentinya dan mengoceh mengenai segala hal. Tak butuh lama, ternyata ia sudah tertidur dengan posisi tersebut.


Beberapa hari ini sudah memasuki waktu sibuk bagi setiap orang. Pak Dakra bekerja, Kinan yang memulai petualangan di sekolah barunya, dan istri Pak Dakra yang berada di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Istri Pak Dakra, Bu Tia, memiliki hobi yaitu merajut dan melukis. Beberap hasil rajutan Bu Tia dipajang dengan bingkai foto yang diletakkan di ruang tamu sebagai pemanis ruangan. Lukisannya pun dapat kukatakan sangatlah indah. Sepertinya Bu Tia memiliki darah seni yang melimpah.

Rumahku yang dahulu menjadi sepi karena kepergianku, kini berubah menjadi rumah yang menyenangkan. Setiap pagi kulihat Bu Tia merawat tanaman Anggrek milik bunda, kemudian membuat sarapan bersama Pak Dakra, dan ditemani pula dengan lawakan khas dari Kinan.

"Ma, Pa. Jus, jus apa yang pernah manis?" tanya Kinan masuk ke dapr.

"Apa emang?" tanya Pak Dakra.

"Jus, Just a freind with you. Hahahah."

"Hahaha. Apa sih kamu nak!" kata Pak Dakra kemudian berlari kecil untuk menggelitik Kinan.

"Hahaha, Ayo sekarang Kinan sama papa sarapan!" kata Bu Tia sembari meletakkan satu piring yang berisi beberapa lapis roti tawar, dan piring lainnya berisi keju, sosis, dan beberapa potongan tomat.

Mereka pun segera menyelesaikan sarapannya dna bergegas pergi.

***

Setiap pukul 18.00, Kinan selalu tiba di rumah setelah sekolah dan bimbingan belajar tambahan. Setelah sampai di kamarku, atau dapat dikatakan sebagai kamar tidurnya, Kinan selalu bercerita mengenai kejadian yang dialaminya pada hari itu. Mulai dari beberapa temannya yang menjahilinya, hingga kakak kelasnya yang sering menggodanya.

Untunglah ada yang berperilaku baik padanya, karena ketika mendengarnya menderita, hal tersebut sangat mengganggu perasaanku. Entah mengapa, aku tidak ingin gadis seperti Kinan harus merasakan seperti yang aku rasakan.

Hingga suatu malam, Kinan kembali ke rumah lebih riang daripada biasanya. Setelah menyapa ibunya yang sedang merajut di ruang tengah, Kinan bergegas ke kamar tidurnya, kemudian merebahkan badan dan memejamkan matanya.

"Hari yang menyebalkan?" tanyaku memposisikan diri berada di sampingnya.

"Bukan. Hari yang ajaib deh pokoknya!" katanya sembari membuka kedua matanya yang indah dan menampakkan pupilnya yang berwarna coklat itu.

"Kenapa?" tanyaku mendekatatkan diri kepadanya.

"Aku sebenarnya malu, Bas. Tapi, karena menggembirakan jadi aku cerita aja deh," katanya kemudian sembari memeluk bantal yang berada di sampingnya.

Aku pun mendekatkan diri padanya dan berusaha mendengarkannya dengan saksama.

"Kamu ingat Ryan, tidak? Yang kubilang dia selalu baik sama aku dan mengajakku berangkat bimbingan belajar dengannya. Dia tadi memintaku untuk menjadi pacarnya!" katanya tersipu malu.

Ada perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Aku merasa senang karena ekspresi mukanya yang bahagia, tetapi aku merasa marah, kesal, dan mungkin kecewa pada diriku. Seharusnya bisa saja lelaki itu adalah aku.

"Cie. Lalu, kamu kasih dia jawaban apa?"

"Aku bilang kalau kita coba aja untuk jadi pasangan."

"Emang kamu yakin?" tanyaku dengan nada tingi dan membuat Kinan terkejut.

"Kenapa, Bas? Kamu kok gak senang sih sama berita ini." tanyanya dengan muka cemberut.

Bagaimana aku bisa senang? Aku senang karena Kinan terlihat bahagia, tetapi aku tidak dapat membohongi diri jika aku kesal dan iri pada pria bernama Ryan. Dia akan dapat merasakan kasih sayang lebih. Aku pun terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Kinan.

"Bas. Tenang. Ryan anak yang baik kok. Dia sellau membantuku saat beberapa teman mulai mengerjaiku. Kamu nggak perlu khawatir."

"Nan. Semua cowok awalnya pasti baik-baik sama cewek yang diincarnya. Lihat saja nanti," kataku tak bisa menyembunyikan kekesalanku.

"Apa sih, Bas? Kok jadi marah-marah, Ya sudah. Percuma juga cerita. Kamu nggak akan ngerti!" katnaya sembari pergi meninggalkan kamarnya.

***

Semenjak percakapan itu, aku dan Kinan semakin jarang berbicara. Kinan mulai jarang ada di rumah. Hingga beberapa bulan kemudian, aku sering melihat Kinan menangis di kamarnya. Memang terkadang ia tertawa, namun tak jarang pula ia menangis histeris.

"Bas. Aku putus sama Ryan," katanya sambil membaca buku pelajaran biologi.

Tentu hal tersebut sangat mengejutkan bagiku.

"Bagaimana bisa?" tanyaku sambil duduk di meja belajarnya.

"Kalau kamu sekarang adalah manusia, pasti kamu dimarahin mama sekarang," katanya sambil melemparkan boneka beruang Brown kearahku. Tentu boneka itu terpental terkan dinding dan jatuh begitu saja.

"Nggak akan kena! Hahahaha," kataku sambil bergaya menjulurkan lidah.

"Bas, kadang aku mikir. Mungkin kamu masih tetap jadi manusia, aku berharap kita bertemu loh," katanya sambil menurunkan buku dari hapadannya.

"Kenapa kamu mikir gitu?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.

"Entah. Mungkin orang lain yang gak bisa lihat kamu, jadi aku dianggap aneh karena bicara sendiri."

"Hahaha. Iyalah."

"Aku hanya merasa nyaman aja. Nggak enak tau jadi anak tunggal gini. Ya enak nggak enak sih."

"Memang. Posisi kita sama. Sama-sama anak tunggal."

"Tapi sekarang, bedanya kamu hantu, aku bukan." katanya mendekatkan dirinya padaku.

Aku merasakan hembusan napasnya dekat denganku. Detak jantungnya pun terdengar olehku. Kutatap matanya dan aku merasa yakin, mungkin dia sedang menatap mataku juga. Tentu dengan caranya sendiri.

"Entah, Bas. Aku ngerasa nyaman sama kamu," katanya memundrukan badannya dan kembali membaca buku biologinya.

Suasana menjadi hening. Aku tak tahu harus membalas apa tas pernyataannya itu. Bisa diaktakan, selama menjadi manusia pun, baru kali ini merasakan kenyamanan bersama seorang wanita, selain bundaku. Menurutku, Kinan adalah seorang gadis yang sangat nyaman untuk diajak berbincang. Tidak hanya itu, dia juga sangat humoris dengan lawakan garingnya.

Dia juga sangat penyayang. Terlihat dari caranya mengasihi papa dan mamanya. Kelebihan fisik seperti cantik, tinggi dan lainnya, tentu dapat dilihat pada siapa saja. Tetapi, kelebihan batin yang cantik dan baik sepertinya? Belum tentu dapat dilihat pada orang lain.

"Bas. Kok diam aja sih?" tanyanya sambil menuju ke meja belajarnya untuk merapikan buku yang ia butuhkan besok.

"Enggak. Aku ingin kamu tahu. Selama aku hidup pun, baru kali ini aku merasa nyaman dengan perempuan, selain bundaku."

Kulihat dia tersenyum. Aduh, jangan senyum, Aku tidak tahan untuk tidak melihatnya. Tidak merasa gugup tetapi merasa kamin melayang saat ku melihat senyumnya.

"Haha. Makasih, Bas. udah ah, aku ngantuk. Lampunya dimatikan ya!" katanya sambil menekan tombol lampu ke arah mati.

***

Waktu terus bergulir hingga ia dinyatakan lulus sebagai pelajar SMA. Aku bersyukur karena Kinan adalah pribadi yang sangat kuat dan tegas. Meskipun sering kali dia diganggu oleh beberapa temannya, dia tetap bertahan dan berhasil. Aku tidak ingin Kinan berakhir sepertiku. Meninggal bunuh diri karena perisakan yang terjadi di sekolahku.

Kehidupan perkuliahan Kinan pun dimulai. Menyenangkan mendengarkannya bercerita mengenai masa-masa orientasi kampus yang sedang berlangsung. Saat itu, seringkali Kinan mengomel karena kakak tingkat yang menyebalkan ataupun tugas kuliah yang tiada henti menghampirinya. Ketika masa orientasi tersebut telah berlalu, justru membuat Kinan semakin sibuk.

"Bas, kamu ingat sama kakak tingkat yang aku cerita kalau dia sangat sangat nyebelin, tapi dia tampan nggak sih?" tanyanya sambil mengerjakan sketsa desain rumah, yang kutahu itu adalah tugas hariannya sebagai mahasiswa arsitektur.

"Mungkin. Hmm, Kak Alief?" tanyaku menebak.

"Iya. Hahaha. Dia kocak dah."

"Kenapa emang dia?" tanyaku dengan nada curiga.

"Dia minta aku buat jadi kekasihnya."

Lagi. Untuk kedua kalinya, aku merasakan hal yang sama. Kinan memang tidak seperti saat SMA dahulu. Dia tidak tertawa seperti dulu, akan tetapi terlihat wajahnya yang tersipu malu dengan perkataannya sendiri.

"Lalu, apa jawabanmu?" tanyaku duduk di sampingnya.

"Iya, aku bilang kita jalani aja." matanya tetap menatap sketsa yang sedang dia kerjakan.

"Nan. Tapi aku nggak suka," jawabku dan membuat Kinan menatapku tajam.

"Kenapa, Bas?" tanyanya.

Aku tidak bisa begitu saja membiarkanmu terluka karena pria lagi, Kinan. Nggak bisa.

"Karena aku sayang sama kamu."

Suasana kamar pun hening. Kinan menghentikan tatapannya padaku dan kembali menatap sketsanya. Beberapa detik kemudian, dia mengubah duduknya dan membereskan kertas-kertas dan alat tulis lainnya yang berserakan.

"Dan aku berharap kalau kamu akan menampakkan dirimu dan ragamu, Bas. Aku harap kau benar-benar nyata!" ucapnya dan memasukkan semua barang ke dalam tasnya.

Aku ingin menghentikan dan memeluknya. Aku tidak ingin dia meninggalkan ruangan ini untuk saat ini saja. Aku ingin bersamanya. Tuhan. Aku sadar bahwa aku mencintainya.

"Nan," panggilku lagi.

"Bas. Udah, Terima Kasih, aku pergi dulu." katanya dan melangkah pergi meninggalkan kamarnya.

***

Kinan memang tidak kemana-mana. Dan aku masih tetap di rumah ini. Hanya saja Kinan mulai jarang atau bahkan tidak pernah berbicara denganku setelah insiden itu. Yang kutahu memang Kinan akhirnya menerima ajakan Kak Alief untuk menjadi pasangan dan tetap bertahan hingga Kinan lulus mendapatkan gelar sarjana. Di sisi lain aku senang melihat Kinan senang, tetapi aku tak dapat membohongi perasaanku jika aku iri dengan Kak Alief.

HIngga suatau hari, saat Kinan berada di kamar, ia mencariku.

"Baskara?" panggilnya.

"Ya, Nan?" sahukut gembira.

Bagaimana tidak. Ini akan menjadi percakapan pertama kita setelah bertahun-tahun tidak berbincang. Kinan, aku merindukan semua obrolan kita.

"Aku cuma mau kamu tahu. Aku berterima kasih atas segalanya ini.." katanya sambil meletakkan sebuah undangan diatas meja belajarnya.

Kubaca dengan telisi isi undangan tersebut. Nama Kinan dan Kak Alief tertulis di sana. Dituliskan bahwa mereka akan melaksanakan akad nikah di sebuah masjid besar di Surabaya esok hari.

Sakit. Tuhan, ada perasaan sedih karena aku sangat menyayanginya. Semenjak kehadiran Kinan, meskipun aku tak bersama ragaku lagi, aku merasakan kegembiraan, kenyamanan, atau dapat dikatakan bahwa aku jatuh cinta padanya. Tapi apalah dayaku, aku hanyalah jiwa tanpa raga, yang akan selalu mendengarkan keluh-kesahnya, kegembiraannya, ataupun yang dia alami.

Aku harap dia akan selalu berbahagia dengan pria yang telah dipilihnya. Maafkan aku dan selamat berbahagia, Kinan.

Tentang Penulis

Fachrysa Ditia Zulfira, atau sehari-harinya dipanggil Echa. Seorang mahasiswi Universitas Indonesia yang sedang berjuang untuk memenuhi cita-cita sebagai Sarjana Hukum. Seorang kakak perempuan yang senang mendengarkan cerita orang lain dan menuliskannya kembali dalam sebuah cerita. Motivasi menulisnya berasal dari memenangkan perlombaan menulis cerpen saat berada di sekolah dasar. Mencintai menulis dan akan selalu berkarya di mana pun dan kapan pun.


Reactions:

0 comments:

Post a Comment