Kisah Bocah Kecil Dan Pahitnya Kehidupan

Kisah Bocah Kecil Dan Pahitnya Kehidupan

INIKECE - Tino demikian orang menyapanya. Ia bekerja sebagai penjual koran. Ia geluti pekerjaan ini sejak ia masih kecil. Kira-kira ia masih berumur 12 tahun. Katanya, karena ayah dan ibunya tidak bisa membiayainya untuk sekolah maka jalan satu-satunya yang ia lakukan adalah menjual koran.

Ia merasa bangga dengan pekerjaannya ini. Ia tak pernah malu apabila menjual koran di tengah kota atau di depan pertokoan.

Menurutnya, mencari nafkah untuk kebutuhan hidup tidak perlu ada perasaan gengsi atau malu. Tuhan telah memberikan kemampuan kepada manusia agar ia bisa hidup sesuai kemampuannya.

Ia merasa bangga dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya. Ia tidak mau membandingkan dirinya dengan orang lain. Tino sungguh anak yang baik. Ia bisa dijadikan sebagai anak pembawa terang dalam keluarganya.

Kondisi orangtuanya yang sudah tidak mudah lagi membuat dia bekerja keras untuk bisa membahagiakan orangtuanya.

Ia lakukan ini bukan merupakan balas jasa atas kebaikan orangtuanya, tetapi lebih dari itu sebagai kewajiban seorang anak untuk merawat orangtuanya.

Semenjak putus sekolah, ia hanya bergulat dengan pekerjaannya sebagai penjual koran. Ia tidak pernah mengeluh dengan orangtuanya kenapa dia tidak sekolah. Ia tahu betul keadaan keluarganya.

Ia tidak pernah memaksa orangtuanya mencari uang untuk sekolahnya. Usia kedua orangtuanya tidak mudah lagi, dan ia sangat mencintai kedua orangtuanya.

Ia rela tidak sekolah asalkan orangtuanya tidak menderita sakit. Ia tidak pernah malu melihat teman sebayanya setiap pagi pergi sekolah.

Malahan ia merasa senang melihat teman-temannya antusias pergi sekolah. Ia selalu menyapa dan memberi senyum ketika bertemu dengan teman-teman yang pergi sekolah.

Setiap pagi Tino selalu bangun lebih awal dari kedua orangtuanya.

Ia selalu menyiapkan sarapan untuk kedua orangtuanya, sekedar bubur nasi yang tidak jelas rasanya. Kemudian ia sendiri pergi menjual koran.

Ketika orangtunya sudah bangun, ia telah berangkat ke perusahaan koran untuk mengambil koran lalu ia menjualnya. Terkadang ia mengambil koran sebanyak mungkin karena ada bonus dari perusahan apabila koran tersebut laku semua.

"Selamat pagi, om," sapanya kepada pemilik koran.

"Selamat pagi juga, Tino. Kenapa pagi-pagi sekali datang mengambil koran." Sahut pemilik koran.

"Biasa om, aku harus tepat waktu. Aku tidak ingin teman-teman yang lain juga mendahului aku. Nanti mereka angkat semua koran dan aku sendiri tidak mendapat apa-apa." jawabnya kepada pemilik koran.

Sekitar pukul 10:00 pagi, Tino berjalan mondar-mandir di depan pertokoan dengan berharap ada yang membeli korannya. Ia menyukai sekali pekerjaanny, melakukan tanpa menggerutu.

Bahkan tak tergoda menjadi pengemis seperti perempuan menutupi sebagian wajahnya dengan selendang biru. Yang pendapatannya jauh lebih besar, tanpa perlu mengambil dagangan dan menyetorkan penghasilan, seperti dirinya.

Perempuan yang menengadahkan tangannya dan memamerkan wajahnya pilu itu mendapatkan penghasilkan dari masa iba sekurangnya setiap sepuluh mobil yang dilalui.

Setia kali pemberian bisa seharga koran yang jualnya. Yang terima secara utuh. Entahlah, aku tidak ingin seperti itu. Kata Tino dalam hati. Setiap kali ada orang yang keluar dari pertokoan, ia menyodorkan koran.


"Koran, koran, koran, om dan tante, tolong beli saya punya koran dulu! Tino terus menyapa orang di depan pertokoan ini. Mulutnya tidak pernah diam. Setiap kali orang lewat, mereka hanya melihat wajah Tino lalu pergi.

Ada yang hanya tersenyum lalu pergi. Tak apa, Selama masih ada orang di depan pertokoan, aku masih akan jualan. Ia menyukai semua situasi di depan pertokoan ini.

"Adik, berapa harga satu koran itu?" Tanya seorang bapak barusan keluar dari pertokoan. 

"Tiga ribu om. Om mau beli!" Jawa Tino dengan suara agak datar.

"Tidak adik! Saya hanya tanya saja."

"Oh, tidak apa-apa om. Terima kasih banyak."

Betapa sedih hatinya karena tidak ada seorang pun yang membeli korannya. Sedari tadi ia terus berdiri tapi tak seorang pun yang membeli.

Siang itu, ia lalui begitu saja. Ia tidak mendapat apa-apa. Akhirnya ia beranjak pergi. Di langit kota, tak seberkas pun awan putih yang membendung sinar surya yang panas membakar itu. Debu mengepul bak asap api menambah gerahnya siang itu.

Hiruk-piluk kota kelihatan kaku dan menjenuhkan. Tapi semuanya tak menyurutkan semangat Tino untuk terus berjalan menjual koran.

Dia sambil teriak "koran, koran, koran," berharap ada yang membelinya. Sepanjang jalan yang ia lalui tidak seorang pun yang membeli korannya.

Betapa sedih hatinya karena siang ini tidak mendapat apa-apa. Ia lalu duduk dan merenung. Dalam hatinya berbisik apa yang ia berikan kepada pemilik koran apabila sepanjang hari korannya tidak ada yang lalu. Ia takut dimarahi oleh pemilik koran. Ia lebih takut lagi ketika esok harinya pemilik koran tidak mengijinkan ia untuk pergi membawa koran lagi,

Pekerjaan yang ia bisa lakukan hanya menjual koran. Kebutuhan dalam keluarganya bisa terpenuhi hanya karena menjual koran.

Di samping trotoar ia terus merenung. Ia sepertinya dilema dan membiarkan pemilik koran memecatnya apabila ia marah padanya.

Tetapi pekerjaan apa yang pantas untuk anak seperti Tino di tengah kota ini jika pemilik koran benar-benar memecatnya.

Tidak mungkin perusahaan menerima anak kecil seperti dia bekerja untuk mengangkat semen tonasa.

Ia kemudian berdiri dan berusaha melintasi trotoar. Klakson mobil dan motor seketika menampar telinga Tino dengan garang. Terlihat bapak tua yang sedang mendorong gerobak kayu yang hampir reot termakan rayap melintasi berhadapan Tino.

Lalu, bapak tua itu menyapa Tino yang lugu tanpa malu.

"Nak, dari mana saja kau hendak?" sapa bapak tua.

"Kau tidak lihat aku sedang mencari makan dengan menjual koran ini!" ketus Tino.

"Sedari pagi ayahmu mencarimu nak, ia sedang sakit katanya."

"Di mana ayah sekarang, Pa?" tanya Tino.

"Di rumah nak, pulanglah kau ke rumah" ujar bapak tua.

Ayahnya memang sedang sakit sudah lama. Semenjak dia dipecat oleh sebuah perusahaan gara-gara dituduh mencuri uang majikannya.

Padahal ayah orang jujur dan tidak pernah membuat masalah dengan teman-teman kerja. Begitupun dalam keluarga ia tidak pernah marah dengan ibu. Ketika ayah sudah jatuh sakit, masalah itu baru terbongkar ternyata yang mencuri uang majikan bukan dirinya.

Ia sangat menyesal mendengar beritu itu. Tetapi raut wajahnya tidak menandakan bahwa dia marah dengan teman kerja atau majikannya. Ia dalam hati mungkin berdoa agar mereka lebih bekerja dengan baik. Ayah memang sangat baik.

Dengan langkah gontai dan terburu-buru. Tino cepat berlari sekencang-kencangnya, tanpa memikirkan hal yang ada di sekitarnya. Di persimpangan jalan menuju rumah, ia teringat pesan ayahnya agar Tino berhenti untuk menjual koran dan hanya temani ayah yang sedang sakit.

Tetapi Tino tidak pernah mengiyakan pesan ayahnya. Suatu hal yang sudah pasti terjadi dalam waktu dekat dan harusnya ia bisa tegar.

Tapi gagal, Tino justru pergi meninggalkan ayah seorang diri di rumah saja. Tanpa memberikan hiburan di saat ia sedang sakit.

Meskipun ia adalah anak yang paling disayangi oleh ayahnya tapi ia seringkali mengabaikan ayahnya dan fokus dengan pekerjaan. Sesampainya di rumah, ayahnya tidak sadar diri. Tino terus memanggil tapi ayahnya tidak pernah menjawab. Tino hanya mampu termangu di sudut gubuk. Sambil tangannya mengelus-elus dagu yang belum tumbuh jenggot, ia merasa kehilangan dengan kepergian ayahnya.

Tino terus menangis dan ayahnya pergi meninggalka Tino selama-lamanya.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment