Melangkah Lagii !!!

Melangkah Lagii !!!

INIKECE - Usai setelah pertemuan kecil-keclian antara aku dan para mahasiswi baru gedungku, tiba-tiba tanganku ditarik oleh salah satu dari mereka. Sebelum itu, memang ada beberapa yang ingin menanyakan seputar ospek, kegiatan perkuliahan, kehidupan asrama dan lainnya.

Tetapi adikku yang satu ini sedikit beda, tangan kirinya memegang tangan kanannya. Keringat terlihat jelas di kedua telapak tangan kecil itu. Terdapat tiga plester menempel di tiga jari tangan kirinya. Pembawaannya gugup, bicaranya tidak terlihat seperti ingin menanyakan seputar pengalamanku di sini. Sebaliknya, ada hal lain dari pengalamannya yang ingin dia ceritakan. Satu hal yang membuatku khawaitr adalah, dia sedang menahan tangis.

"Kak, aku mau cerita, aku harus cerita," katanya terburu-buru.

Aku Lachel, salah satu Senior Residents di asrama kampusku. Senior Residents adalah kakak pembimbing yang bertugas membantu dan mengayomi para mahasiswa dan mahasiswi baru yang diwajibkan tinggal di asrama selama satu tahun. Ada delapan belas gedung yang menjadi tempat beranaung para mahasiswa baru dan senior residents.

Setiap gedung terdapat empat lantai dengan dua puluh kamar setiap lantainya. Setiap kamar berisi empat orang mahasiswa, dan empat orang senioar residents di setiap gedungnya. Artinya, dari delapan puluh kamar di gedung, hanya ada satu kamar yang berisi para senior residents. Artinya lagi, terdapat 316 mahasiswa baru yang harus dihandle oleh senior residents di setiap gedung.

Aku akan menceritakan perjalananku hingga berada di titik ini. Titik yang menjadikanku seorang yang baru, yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Masa lalu yang kelam dan track record yang buruk mengantarkanku perlahan menjadi seorang yang jauh lebih kuat lebih peduli, lebih bijak.

***

Saat itu langit sedang abu-abu. Dedaunan mulai dibasahi rintik-rintik yang baru saja jatuh berbarengan dengan air mataku. Saat itu, tepatnya tiga tahun lalu, aku menangis sejadi-jadinya di kamarku. Tapi benar, tidak ada yang peduli. Seisi rumah sedang sedih.

Tidak ada waktu bagi masing-masing insannya untuk menanyakan apakah yang lain baik-baik saja. Terutama ibuku, yang lelahnya terlihat jelas di setiap titik mukanya. Rintihannya mengiris hatiku. Tiap air matanya menghasilkan air mataku.

"Ibu nggak kuat, benarlah, ibu udah nggak kuat," terdengar dia sedang mengatur napas, berusaha menenangkan diri.

"Maafin Ibu. Ibu nggak kuat," ujarnya berulang kali.

Sedangkan aku yang tetap mengurung diri di kamar tetap diam. Mengutuk diri. Mengutuk sekitar. Mengutuk keadaan. Pikiranku kacau, semua perasaan campur aduk. Sedih, marah, kecewa. Benci adalah kata yang tepat, tapi aku bingung kepada siapa. Mungkin kepada diriku sendiri.

Atau orang-orang yang lagi-lagi mengecewakanku, atau mungkin waktu yang tak kunjung mengantarkan kami ke keadaan yang lebih baik. Kekacauan ini terus menjelma menjadi benang kusut yang tak kunjung terurai.

Adikku sepertinya sedang menenangkan ibuku, tapi tangisnya sangat kuat. Khawatirnya terlihat jelas. Beberapa kali aku mendegar dia menyalahkan dirinya sendiri. Dari beberapa hal yang kuperhatikan, hanya satu yang bisa kupastikan akan berhasil. Dia selalu memegang tangan ibuku, mengelus punggungnya, memeluknya. Seingatku, aku yang mengajarkannya bahwa sentuhan fisik memang akan mengurangi rasa sakit. Ditambah lagi jika yang sakit adalah perasaan.

Kakakku yang dari awal menyebabkan kegaduhan sedang mengutuk apa pun yang ada di pikirannya. Dia sangat marah. Tidak tenang, Dia yang paling tidak peduli dengan orang-orang di sekitar. Dia sedikitpun tidak menimbang kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.

Aku yang hanya satu tahun enam bulan lebih muda darinya tahu benar apa yang sedang ada di pikirannya. Yang aku tahu dia sangat keras kepala. Tidak ingin disalhakan. Tidak berpikir panajng. Tidak banyak tahu tentang bagaimana menjadi kakak tertua. Tapi di balik itu, dia adalah orang yang paling tahu tentang bagaimana rasanya diremehkan, tidak dipedulikan, tidak didengarkan.

Beberapa kata-katanya yang keluar tanpa filter terkadang menjadi tamparan keras bagi orang-prang yang mendengarnya. Tapi marahnya tidak akan lama. Kesalnya hanya akan diluapkan dalam beberapa waktu saja. Setelah itu, tidak ada dendam. Tidak ada sedikitpun jengkel yang tersisa.

Ayahku adalah orang yang paling tenang. Orang yang tidak ingin meperlihatkan bahwa keadaan sedang kacau, walau sejelas apapun kelihatanya. Dia adalah orang yang paling logis. Dia adalah orang yang hidup dengan pikirannya sendiri.

Sangat teguh dalam prinsip hiup. Sekali ada yang mengganggu atau melenceng dari apa yang dia pegang, maka orang tersebut akan menjadi catatan di hidupnya. Aku sangat dekat dengan ayah. Aku adalah satu-satunya personil di keluarga yang berhasil menjadi teman diskusinya. Benar, bukan ibuku, bukan juga kakaku.

Aku yang paling tahu jalan pikir setiap orang di keluarga ini. Aku yang paling sering duduk diam dan memperhatikan dengan jeli baik buruknya setiap orang di sini. Aku juga tahu benar keadaan ibu. Aku tahu jelas apa yang dia rasakan sebagai wanita, sebagai ibu, atau sebagai seseorang yang punya pasangan. Aku adalah satu-satunya anak perempuan, yang notabanernya mengedepankan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan.

Tapi kali ini aku benar-benar angkat tangan. Apa yang sudah pernah aku sampaikan, yang sudah aku jelaskan, tidak berarti apa pun hari ini. Seperti dua kutub magnet yang sama, tidak akan bersatu bagaimanapun caranya. Adalah pemikiran ayah dan ibuku yang sedang aku gambarkan, kedua kutub itu yang menyebabkan kegaduhan ini. Padahal masalahnya sangat sepele.

Pagi itu adik dan kakaku bertengkar hebat karena memperebutkan kaus kaki. Keduanya bersikeras bahwa kaus kaki yang diperebutkan adalah milik mereka. Tidak ada yang ingin mengalah. Keduanya keras kepala. Lihatlah, hanya-kaus-kaki. Padahal kami punya satu keranjang penuh yang isinya kaus kaki yang tidak jauh beda bentuknya. Pertengkaran itu berujung ricuh, penuh dengan suara yang sangat lantang.

"Kamu itu, ya! Dari dulu banget! Nggak pernah becus jadi kakak! Aku yang pegang ini duluan, kamu cari yang lain!" Adikku berteriak.

"Aku yang nyiapin ini lebih dulu, makanya ada di situ! Lagian kamu kan punya banyak!" Kakaku menimpal.

Aku yang keheranan hanya memperhatikan dari jauh, mencoba menelaah kebodohan yang sedang terjadi.

"Lho kan kaus kakinya banyak, ya udah sih, ambil yang lain." Aku mencoba menengahi.

Kegaduhan tetap terjadi, entah kenapa suara mereka semakin lantang. Semakin tidak ingin ada jalan tengah. Padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 07.15. Gerbang sekolahpun sepertinya sudah hampir rapat.

Entah apa yang sudah aku lewatkan, tiba-tiba pertengkaran itu menjadi semakin hebat karena ibu tiba-tiba menimpali. Ibu yang kala itu sangat kesal dengan kakakku yang tidak ingin mengalah, dan adikku yang selalu menaikkan nada biaaranya, menyuruh mereka untuk tidak pergi sekolah. Aku yang semakin bingung dengan apa yang terjadi hanya berdiri heran, berusaha menengahi pun tidak gunanya. Beberapa hal yang aku ingat adalah pertengkaran ini menjadi besar karena masing masing dari mereka terus menerus menyebutkan kesalahan-kesalahan di masa lampau, yang kemudian dikait-kaitkan dengan kejadian kaus kaki ini.

"Sudah terlalu sering ini terjadi! Bima! Kamu memang dari dulu nggak pernah bisa diandalkan! ini juga Dimas! Kamu nggak tahu ini udah jam berapa? Mau karena apalagi kamu telat? Karena baju basah udah sering! Ini mau karena kaus kaki? Sudahlah! Nggak usah sekolah lagi. Sekolah mahal bayarnya nggak untuk kayak ini!" teriak ibuku yang kala itu merebut kaus kaki dan melemparnya entah ke mana.

Ayahku yang kala itu juga seperti aku, terdiam dan memperhatikan, tiba-tiba berubah bereaksi dengan mengambil kaus kaki yang sudah dibuang dan memberikannya kepada adikku.

"Sudah Dimas, pakai saja. Ayo pergi ke sekolah. Kamu sudah terlambat. Bima kamu ambil kaus kaki yang lain. Kamu yang lebih tua seharusnya mengalah. Heran ayah, semuanya mau diributin."

Lalu kakaku semakin meronta, seperti kataku sebelumnya, dia yang paling tahu rasanya diremehkan, tidak didengarkan. Selalu disalahkan membuat ia menjadi seorang yang keras. Seorang yang sangat kecewa dengan semua orang.

"Iya begitu saja terus! Aku saja terus yang disalahkan! Dimanas dari dulu memang cengeng. Ngandalin nangis. Berlindung terus! Dilindungi terus!"

"Selalu saja! Kalau tidak Dimas, Lachel! Sudahlah tidak perlu ada yang sekolah! Kamu juga nggak pernah sepaham sama aku! Kalau sama Dimas aja lembut, sama Lachel cepet banget, giliran Bima kamu musuhin. Bisa nggak sih kamu mengerti peranan kamu sebagai ayah? Sebagai suami?"

Aku yang semakin heran dengan semua orang akhirnya mengambil alih pembicaraan, tapi rasanya saat itu aku juga terbawa suasana. Kegaduhan di pagi itu semkain menjadi-jadi. Meluapkan semua hal yang selama ini selalu gagal disampaikan, menjadikan hari itu sebagai puncak kekesalan.

Sarapan yang terlihat sangat enak tidak lagi membuatku nafsu. Semua nafsu kami lontarkan pada amarah. Rasanya setan tertawa kencang saat itu, puas dengan hal yang sedang terjadi. Tidak ada yang menjadi lembut. Hari itu, semakin menjadi lembut, semakin dipijak habis-habisan.

Kejadian ini bukanlah awal. Sebaliknya, kejadian ini menjadi titik puncak kemarahan setiap orang atas kekecewaan yang sudah dirasakan sebelum-sebelumnya. Kejadian ini memberikan efek besar, yang paling buruk adalah ibu memutuskan untuk minggat ke rumah kakek. Dimas yang saat itu masih kecil dipaksa ikut dan kak Bima yang tidka pernah akur dengan ayah juga memutuskan untuk ikut. Sedangkan aku yang merasa rumahku adalah rumah, memutuskan untuk tetap tinggal. Bukan karena aku memilih untuk tetap bersama ayah, hanya saja kenetralanku menjadi bumerang dan terlihat seolah-olah aku berpihak pada ayah. Sangat lelah. Kacau, sangat tidak rasional.

***

Aku mencoba menenangkannya. Pundaknya gemetaran, isak tangisnya mulai terdengar jelas saat setelah aku bertanya apa yang sudah terjadi. Saat itu juga, aku melihat diriku beberapa tahun yang lalu. Rapuh, sedih, butuh bantuan sandaran secepatnya. Saat itu juga, aku memberiakn waktu dan perhatian terbaikku untuk adikku ini.

Dia bernama Fira, kamarnya ada di lantai dua, tidak jauh dari kamarku. Fira, mahasiswi baru yang ketika check-in bertemu langsung denganku sudah mengobrol sedikit tentang minat dan bakatnya. Saat setelah itu, riwayat penyakitnya akan ditanya oleh medical team yang duduk di sampingku saat itu. Memang sudah prosedurnya begitu. Seingatku, dia memaparkan begitu banyak penyakit yang beberapa di antaranya aku baru dengar selama ini.

Awalnya aku tidak begitu mengenali Fira, mengingat begitu banyak mahasiswi yang harus aku ingat terutama di gedungku. Tetpi setelah Fira duduk di depanku, dengan kondisi emosi yang sangat tidak stabil, dan hijab yang basah akibat mengelap air mata di pipinya, dan bibir yang mulai kering karena dehirasi akibat menangis, dan mata cantiknya dengan hazelnut-tone yang memang tidak banyak orang punya, aku jadi langsung ingat siapa yang sedang berusaha berbicara dengaku saat ini.

"Cerita apa, dek?" tanyaku.

"Saat kakak bertanya apa ada yang sudah menangis sejauh ini karena homesick, aku angkat tangan, kalau kakak memperhatikan," jawabnya pelan.

"Terlalu banyak yang mengangkat tangan saat itu, untung kamu  yang duduk di pojokan masih terlihat olehku." Tanganku mengelus kepalanya. Dia tersenyum. Terkejut karena aku memperhatikan.

"Jadi, kamu sedang rindu rumah?"

"Bukan, aku angkat tangan untuk pertanyaan apa ada yang sudah menangis sejauh ini, hanya sampai situ saja," jawabnya.

"Begitu, ya. Kalau begitu, aku boleh tahu apa yang membuat kamu menangis?"

Pertanyaanku seperti membuka lukanya yang membuat ia merintih sakit, sedikit menyesal, tetapi bagaimana lagi caranya untuk membuka topik cerita?

Kemudian dia menaikkan lengan bajunya. Memperlihatkan beberapa lebam dan beberapa sayatan yang masih baru. Dia menangis lagi, tepat setelah dia membuka plester yang melingkar di jarinya.

"Jadi aku cemas, aku melakukan hal yang buruk bagi diriku. Aku Cutting, agar lega." Tangisnya pecah, napasnya tesendat-sendat.

Aku terdiam. Mencoba tenang. Mencoba berpikir rasional dan tidak membuat presepsi apapun. Menarik napas, menahannya selama enam detik, lalu mengeluarkannya perlahan.

Saat itu ruangan yang kami tempat sudah sepi. Hanya kami berdua, Tetapi ruangan itu membuat gema, jadi kami memelankan suara.

Perlahan Fira menceritakan kisahnya. Beberapa digambarkan secara umum. Aku melihat dia takut untuk memaparkan kondisi secara detail. Tetapi aku memegang tangannya. Aku merangkulnya dan mengelus punggugnya. Mendengarkan ceritanya yang panjang. Sebagian besar beradal dari masa lalu yang hingga kini mengikutinya. Merusak hari-harinya.

Aku tahu benar mengatasi ini, aku adalah korban dari masa lalu yang suram. Bahkan masa laluku belum sepenuhnya dibilang masa lalu karena hingga kini masih terjadi dan tetap mengiris sebagian jiwaku.

Setelah ceritanya usai, kami berdua terdiam. Meninggalkan jejak sunyi yang lumayan lama. Selang waktu itu aku biarkan agar Fira menjadi sedikit lebih tenang. Aku juga sedang menenangkan diriku yang berusaha agar tidak menangis, bukan karena terbawa suasana, hanya saja melihat adikku yang sekarang kebutuhan psikologisnya menjadi tanggung jawabku, yang dari awal orangtua mereka menitipkannya kepadaku, sedang menangis sedu.

Setelah beberapa waktu ruangan ini terisi dengan sunyi, akhirnya aku membuka percakapan.

"Aku disini sebagai kakakmu, mendengarkan dengan baik apa yang baru saja kamu sampaikan. Aku mungkin tidak tahu rasanya menyakiti diri sendiri dapat membuat lega. Aku mungkin tidak pernah ada di posisi kamu, yang memang saat setelah aku mendengar cerita kamu, aku berpikir ini adalah hal baru bagiku. Tapi ini..." Aku memutas tangannya, menunjukkan sayatan yang dia buat, mengelusnya pelan, lalu menatap matanya.

"Ini sangat membuat aku sakit." aku melanjutkan kalimatku.

Fira hanya melihatku heran. Bertanya-tanya bagaimana aku bisa merasakan sakit, padahal yang tersayat adalah tangannya. Dia hanya diam, menunggu maksud dari kalimatku.

"Kamu mungkin berpikir aku hanya orang asing yang kemudian diamanahkan untuk mendampingi kalian. Tetapi tidak aku disini tidak hanya sekadar mendapatkan jabatan dan pengalaman. Aku disini, duduk di sebelahmu, mampu mendengar ceritamu, adalah karena aku tidak jauh beda dengan kamu. Aku juga punya masa lalu yang kelam, yang aspeknya ada di semua sisi kehidupanku. Yang kemudian tidak mampu aku jelaskan semua karena aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana." Aku menarik napas, Fira mendengarkan dengan seksama.

Tepat saat ini adalah saat yang sebenarnya aku tunggu-tunggu. Saat dimana seseorang menganggapku sebagai seorang yang berguna, yang dipercaya, yang diberikan kesempatan menjadi penopang di kala sedih, yang sebelumnya hanya kurasakan rapuh di pundakku, kini menguat karena ahrus mampu menahan beban orang-orang yang datang. Aku jadi teringat saat sebelum menjadi senior resident, aku mengikuti tahap wawancara yang tidak berjalan seperti yang seharunya. Proses wawancara saat itu dipenuhi tangisku, kondisinya tidak jauh beda dengan apa yang sedang terjadi disini, saat ini.

"Masa lalu mungkin terlihat buruk, tidak ada yang bisa mengubahnya, bahkan kamu tidak bisa menyentuhnya jika ingin menampar dan menyuruhnya pergi. Kamu, aku, kita semua, yang pasti punya cerita di balik hebatnya masa sekarang, harus bisa melangkah lagi."

"Tapi, bagaimana caranya? Mereka, masa lalu itu terus mengejarku." Fira menyela.

"Aku mau kamu memaafkan dirimu. Cara ini, apa yang kamu sebut sebagai cutting hanya akan menyakiti orang-orang yang menyayangimu, menyakiti aku, orangtua kamu, orang-orang tersayang kamu. Khawatir akan masa lalu tidak akan memperbaiki masa sekarang. Aku adalah bukti dari kebaikan masa sekarang. Aku adalah bukti bahwa seseorang mapu berjalan lagi, seberat apapun cerita di masa lalunya. Aku adalah bukti kerasnya hidup, aku adalah bukti kejamnya dunia. Tiga tahun lalu, adalah awal mula air mataku terkuras. Hingga kini. Aku beberapa kali menjadi topik utama dalam pembicaraan orang-orang, dan itu membuatku semakin merasa buruk. Tapi saat ini, aku sudah berada di posisi yang lebih baik. Aku baru menyadari obat yang paling ampuh dalam mengobati kejamnya depresi," Aku menarik napas, mencoba menenangkan diri. Fira yang sudah tak terdengar lagi isak tangisnya, sedikit terenyuh dengan hal-hal yang aku jabarkan.

"Apa itu?" Tanya Fira penasaran.

"Berbagi," jawabku singkat.

Ruang itu sunyi kembali. Fira membutuhkan beberapa waktu untuk memahami maksudku. Aku yang dari tadi memegang tangannya berusaha untuk tetap tegar, menahan untuk tidak menangis. Karena saat ini, tidak lain aku sedang dipeluk erat oleh cerita di masa lampau. Mengulas kembali hal-hal yang melahirkan pendirianku yang sekarang, yang jika ada salah sedikit saja dapat merusak kepercayaan manusia cantik yang sedang duduk mendengarkanku.

"Berbagi benar-benar membuatku tenang. Berbagi dapat membuatku berjalan lagi. Berbagi menjadikanku insan yang kuat. Yang tidak takut kehilangan apa pun walaupun pada faktanya memberi akan mengurangi apa yang kita punya. Tapi tidak, kebaikan yang kita bagi, akan berbuah kebaikan pula. Tidak sama mungkin rupanya. Tidak sama mungkin bentuknya, konteksnya. Tapi kebaikan tetaplah kebaikan, apa pun wudjunya."

Fira menatapku, terdiam. Sedikit demi sedikit nafasnya kembali normal.

"Ada banyak cara dalam mengurangi rasa cemas yang berlebihan. Kamu suak menulis? Aku adalah seorang super introvert yang akan menuliskan kisah-kisah sedihku. Hal itu benar-benar mengurangi depresiku. Aku juga memainkan biola. Kesulitan dalam menggesekkan bow dan senar membuatku lupa akan sulitnya hidup.

"Setelah ini, aku ingin kamu menjadikan sedihmu menjadi sebuah karya. Jadikan sedihmu sebagai inspirasi manusia lain. Jadikan sedihmu sebagai kenangan yang menjadi manis di masa depan. Jadikan sedihmu sebagai tolak ukur peningkatan kualitas hidupmu."

Fira menaikkan alis, dahinya mengkerut. Bukan heran, dia sedang menerima sesuatu yang selama ini tidak dia dapatkan. Didengarkan dan diarahkan sedikit ke titik yang lebih baik adalah kebutuhannya saat ini. Air matanya sekarang mengalir lagi. Tapi kali ini dia tersenyum. Tanganku digenggam erat. Hangat.

Setelah ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi yang aku tau, dua orang dengan hati yang rapuh dan pernah rapuh ini, merasa dunia sedikit memberikan kesempatan kami menjadi lebih baik lagi. Membiarkan kami menghirup udara lagi. Membuat kami berani menerima diri sendiri.

Tentang Penulis

Lahir di Bengkulu, 28 Mei 2000. Hobiku menulis, tapi saat sedih aja. Aku sekarang kuliah di jurusan Kriya Tekstil Mode, Telkom University, Bandung.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment