Diberi Gaji Dengan Nilai Fantastik, Pekerjaan Mencium Bau Ketek dan Kaki! Tak Semua Orang Bisa Melakukannya

INIKECE - Selama ini jenis pekerjaan yang kita ketahui umumnya tak jauh-jauh dari wirausaha gutu, insinyur, dokter, dan pegawai negeri. Namun, tahukah kamu, ternyata di luar sana ada lho pekerjaan yang nyelenh dan bahkan menggelikan.

Pernikahan Super Mewah! Tak Memandang Usia, Pria Berumur 70 Tahun, Akhirnya Menikahi Wanita Pujaannya Yang Berumur 20 Tahun

INIKECE - Tak memandang usia, kisah cinta seorang pria yang sudah membujang berumur 70 tahun ini berhasil menikahi wanita pujaannya. Diketahui wanita yang dinikahinya baru berumur 20 tahun. Terlihat perbedaan umur yang sangat jauh yaitu selesih 50thn.

Perkerjaan Zaman Dahulu Yang Cukup Unik, Yang Belum Diketahui Banyak Orang

INIKECE - Perkembangan teknologi yang begitu pesat, secara tidak langsung mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Salah satunya ialah pekerjaan. Dahulu, banyak sekali pekerjaan yang dinilai penting. Seperti membacakan informasi untuk karyawan pabrik, atau pekerjaan sebagai alarm keliling.

Sebuah Surat Misterius!

INIKECE - Bel istirahat telah berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas untuk menikmati waktu istirahat. Ada yang ke kantin untuk membeli makanan, ada yang ke lapangan untuk bermain sepak bola ataupun basket, dan ada juga yang ke taman untuk menikmati bekal ataupun sekedar berjalan-jalan.

Kakek Penjual Kembang Dan Si Pemuda Kaya

INIKECE - Baju lelaki kurus lanjut usia itu kusam berlengan pendek, sehingga lengannya yang hanya berbalut daging terlihat sangat mencolok. Banyak kerutan yang terlihat mengelilingi sudut mata, dahi, juga pipi.

Diberi Gaji Dengan Nilai Fantastik, Pekerjaan Mencium Bau Ketek dan Kaki! Tak Semua Orang Bisa Melakukannya

Diberi Gaji Dengan Nilai Fantastik, Pekerjaan Mencium Bau Ketek dan Kaki! Tak Semua Orang Bisa Melakukannya

INIKECE - Selama ini jenis pekerjaan yang kita ketahui umumnya tak jauh-jauh dari wirausaha gutu, insinyur, dokter, dan pegawai negeri. Namun, tahukah kamu, ternyata di luar sana ada lho pekerjaan yang nyelenh dan bahkan menggelikan.

Pencium ketiak dan kaki adalah salah satunya. Ya, meski terdengar aneh, nyatanya pekerjaan jenis ini memang benar-benar ada. Menariknya, meski terdengar sepele, rupanya tak setiap orang dapat melakoni pekerjaan ini.


Profesi ini tak sekadar menuntut pekerjanya asal mencium ketiak dan kaki. Lebih dari itu, mereka sebetulnya tengah menguji deodoran.


Untuk itu, gaji yang ditawarkan pun terbilang fantastis. Per tahunnya, para penguji deodoran ini setidaknya bisa mendapatkan USD 2 juta atau sekitar Rp 28 miliar, itu berarti dalam sebulannya, masing-masing dari mereka akan menerima sekitar Rp 2,3 miliar.


Pertanyaannya kemudian, lalu bagaimana cara atau prosedut pengujian deodoran ini? Nah, biasanya produsen akan mengirimkan 10 produk deodoran dengan kekuatan dan konsentrasi yang berbeda.


Selanjutnya, tim peneliti pun akan menggunakan kertas berbentuk kerucut dan menempelkannya pada kulit subjek yang telah dioleskan deodoran. Setelah itu, para peneliti pun akan mengendus bau tersebut dan mencatat temuannya dengan skala antara 0 sampai 10.

Lucunya, jika sedang apes para peneliti tersebut bisa mendapatkan orang dengan bau badan yang sungguh tidak mengenakan.

Tertarik untuk join dalam perusahaan tersebut? dan bekerja setiap hari untuk mencium aroma ketiak dan kaki seseorang?

Pernikahan Super Mewah! Tak Memandang Usia, Pria Berumur 70 Tahun, Akhirnya Menikahi Wanita Pujaannya Yang Berumur 20 Tahun

Pernikahan Super Mewah! Tak Memandang Usia, Pria Berumur 70 Tahun, Akhirnya Menikahi Wanita Pujaannya Yang Berumur 20 Tahun

INIKECE - Tak memandang usia, kisah cinta seorang pria yang sudah membujang berumur 70 tahun ini berhasil menikahi wanita pujaannya. Diketahui wanita yang dinikahinya baru berumur 20 tahun. Terlihat perbedaan umur yang sangat jauh yaitu selesih 50thn.

Perbedaan usia tersebut tak menghalangi pasangan asal Thailand ini untuk menikah. Perbedaan usia 50 tahun tak menggoyahkan niatan sang mempelai laki-laki untuk melamar gadis pujaannya.

Sang mempelai pria ternyata belum pernah menikah. Pada pesta pernikahan, pengantin pria yang berusia 70 tahun itu mengungkapkan perasaan bahagianya.

"Kami telah menyetujui tanggal pernikahan, jadi di mana pun aku berada di dunia ini, aku akan kembali pada istriku di hari itu," kata mempelai pria.


Upacara pernikahan keduanya cukup mewah, Bunda, Seorang teman yang menghadiri pernikahan itu mengatakan, pengantin pria adalah orang sukses yang berasal dari keluarga kaya.

Namun, pernikahan mereka meninggalkan banyak rumor buruk di antara teman dan kerabat. Meski demikian, pasangan itu tetap bersatu dengan bahagia.

Bicara soal perbedaan usia, menurut psikolog sosial, Theresea E. DiDonato, Ph.D., pasangan pasti merundingkan segala macam perbedaan saat memutuskan untuk menikah. Bahkan sebelum membentuk hubungan yang serius dan bahagia.


"Perbedaan usia mungkin menjadi satu dimensi dari hubungan, tetapi tidak mungkin bisa didefinisikan," kata DiDonato, dikutip dari Psychology Today.

Memiliki kesamaan dengan pasangan bisa memprediksi kepuasan dalam hubungan. Pada pasangan yang usianya terpaut jauh, ini bisa lebih rumit lagi.

Usia mungkin hanya berupa angka, tapi bisa juga menjadi faktor yang mendorong perbedaan. Misalnya saat mencari kegiatan yang disukai atau membuat keputusan.


Pria sendiri memang cenderung lebih suka menikah dengan wanita yang lebih muda. Studi melaporkan jika pria mau menikah kembali, hanya 57 persen pria menikahi wanita dengan usia yang sama, 20 persen memilih perempuan yang 10 tahun lebih muda, dan 18 persen memilih pasangan enam hingga sembilan tahun lebih muda.

"Dalam studi yang sama, hanya 11 persen wanita yang berusia lebih tua dipilih menjadi pasangan oleh pria," pungkas DiDonato.

Perkerjaan Zaman Dahulu Yang Cukup Unik, Yang Belum Diketahui Banyak Orang

Perkerjaan Zaman Dahulu Yang Cukup Unik, Yang Belum Diketahui Banyak Orang

INIKECE - Perkembangan teknologi yang begitu pesat, secara tidak langsung mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Salah satunya ialah pekerjaan. Dahulu, banyak sekali pekerjaan yang dinilai penting. Seperti membacakan informasi untuk karyawan pabrik, atau pekerjaan sebagai alarm keliling.

Ya, dahulu pekerjaan unik tersebut memang dilakoni oleh beberapa orang dan dianggap penting di masanya. Namun, sejak teknologi dan zaman yang berubah semakin pesat, pekerjaan itu lambat laun hilang. Hanya tertinggal sebuah kenangan bagi orang-orang yang hidup di era itu.

Tak hanya pekerjaan pembaca informasi dan alarm keliling yang unik di zaman dulu. Ada pekerjaan unik lainnya yang akan membuat kamu nggak nyangka bahwa ada pekerjaan seperti itu.

Mau tau apa saja pekerjaan unik yang ada di zaman dulu, dan kini hanya tinggal kenangan? Berikut ini ulasannya.

1. Pekerjaan - Pembaca Koran


Siapa sangka jika dahulu, sebelum adanya koran, radio dan televisi ada sebuah pekerjaan yang tugasnya membacakan koran atau informasi. Pekerjaan yang disebut lector ini biasanya ada di pabrik. Sang Lector akan membacakan berita atau informasi untuk menghibur karyawan yang ada di pabrik.

2. Pekerjaan - Penangkap Tikus


Mungkin kamu akan terkejut saat tahu dahulu ada sebuah pekerjaan khusus menangkap tikus. Dulu, orang belum mengetahui cara menjebak tikus dengan menggunakan lem atau perangkap. Alhasil, masyarakat meminta penangkap tikus untuk menangkap tikus-tikus yang berkeliaran di sekitar rumah mereka.

Tak sembarangan, para penangkap tikus ini adalah orang terlatih dan tidak merasa jijik untuk menangkap hewan kotor satu ini. Para pekerja dituntut untuk bisa menangkap tikus dengan tangan kosong atau menggunakan alat hingga tikus tersebut mati.

3. Pekerjaan - Penghitung


Sebelum kehadiran kalkulator atau komputer, sebuah perusahaan atau tempat usaha akan menggunakan wanita muda untuk melakukan proses berhitung. Mereka akan diminta untuk menghitung angka-angka dengan cara manual.

4. Pekerjaan - Alarm Keliling


Kini, orang-orang akan mudah terbangun dengan mengatur jam alarm di ponsel atau alarm khusus. Tapi taukah kamu, dahulu sebelum jam alarm ada, orang-orang akan dibangunkan oleh tukang alarm keliling. Para pekerja alarm keliling ini akan rutin membangunkan kliennya sesuai dengan jam yang diminta. Mereka akan keliling kamput sambil membawa sebuah galah untuk membangunkan orang-orang dengan mengetuk pintu atau jendela rumahnya.


5. Pekerjaan - Pendengar Pesawat Musuh


Pada zaman dulu, ada orang yang bekerja sebagai pendengar kedatangan pesawat musuh. Biasanya para pekerja menggunakan alat khusus yang dapat membantu melacak seluruh benda dari besi di atas awan. Para pekerja ini dituntut memiliki pendengaran yang bagus.

6. Pekerjaan - Pemotong Es


Sebelum kehadiran kulkas, orang-orang di zaman dahulu akan memanfaatkan es untuk berbagai keperluan. Sayangnya, era tersebut juga belum ada mesin pemotong es seperti sekarang ini. Oleh sebab itulah, ada orang yang bekerja sebagai pemotong balok es. Mereka akan memotong balok es beku di jalan atau di danau.

7. Pekerjaan - Tukang Ambil Mayat


Meski terkesan seram, nyatanya pekerjaan ini memang benar adanya. Di abad ke-19, para mahasiswa kedokteran merasa sulit untuk mendapatkan mayat yang akan digunakan sebagai sarana belajar. Alhasil mereka meminta orang lain untuk bekerja mengambil mayat di kuburan.

Sebuah Surat Misterius

Sebuah Surat Misterius

INIKECE - Bel istirahat telah berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas untuk menikmati waktu istirahat. Ada yang ke kantin untuk membeli makanan, ada yang ke lapangan untuk bermain sepak bola ataupun basket, dan ada juga yang ke taman untuk menikmati bekal ataupun sekedar berjalan-jalan.

Aku merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas. "Na, mau ke kantin?" tawarku kepada Hana, teman sebangkuku.

Hana yang baru saja selesai mencatat materi pelajaran di papan tulis menoleh. Ia mengangguk, lalu merapikan buku-bukunya. "Ayo, Kay!" katanya dengan wajah ceria.

Sepanjang perjalanan ke kantin, kami asyik bercanda dan bercerita tentang apapun. Hana memang hanya teman sebangkuku, dan kami baru berkenalan di awal kelas 9. Tapi dalam satu semester kami sudah menjadi sahabat yang tak terpisahkan.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai di kantin. Kantin pun terlihat ramai sekali oleh murid yang ingin membeli makanan. Semuanya berdesak-desakan, saling berebut makanan sebelum kehabisan. Mau tidak mau aku dan Hana juga harus ikut berdesakan dengan para murid yang kelaparan. Untunglah kami bisa keluar dari lautan manusia itu dengan selamat.

Setelah membeli makanan, kami memutuskan pergi dari kantin. Kami berjalan melewati lapangan, melihat anak-anak bermain basket, juga melewati taman unuk melihat pemandangan hamparan bunga. Baru kemudian, kami kembali ke kelas dan memakan makanan, sembari bercanda dan bercerita. Setelah makan, kami membereskan sampah dan membuangnya ke tempat sampah.

"Eh, aduh, Na. Aku kebelet. Aku ke toilet, ya." pamitku segera berdiri dari tempat dudukku.

"Bentar lagi Bu Ratna masuk, loh, Kay." Hana memberitahu. Bu Ratna adalah gutu Bahasa Indonesia yang mengajar di kelasku dan Hana setelah waktu istirahat hari ini.

"Nanti aku bilang kalo habis dari kamas mandi," ucapku lalu langsung melesat ke kamar mandi.

Untung saja kamar mandi dalam kondisi sepi, jadi aku tidak perlu mengantre lama. Aku memasuki sebuah bilik kamar mandi yang paling kanan dan segera menyelesaikan urusanku.

Ketika hendak keluar, aku mendengar seseorang memasuki bilik di sebelah kananku. Kemudian, aku mendengar suara isakan pelan dari sana.

Aku terdiam. Siapa? Mengapa ia menangis? Ada apa dengannya?

Aku ingin keluar, tapi pengguna bilik sebelahku pasti mengetahui bahwa ada orang lain di dalam kamar mandi. Jika terus di dalam, aku bisa ketinggalan pelajaran Bu Ratna. Apa yang harus kulakukan?

Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari bilik kamar mandi. Setelah aku membuka pintunya, aku akan lari secepatnya.

"Aku... capek... hiks... aku capek kayak gini terus..." kata seseorang di sebelah bilik kamar mandiku di sela isak tangisnya.

Tunggu, suara ini kan.. Aya! Iya, ini suaranya Aya!

Aku cepat-cepat membuka pintu dan lari sekencangnya sebelum ketahuan. Jadi tadi itu Aya.. kenapa dia?

Persis seperti namanya, Cahaya Lintang, yang berarti Cahaya Bintang seperti cahaya yang selalu bersinar dengan indah. Ia menerangi sekitarnya dengan sinarnya yang terang.

Aya adalah ketua OSIS di sekolah ini. Dia murid seangkatanku yang memasuki kelas unggulan. Wajahnya cantik, hatinya baik, tak heran jika ia selalu dikelilingi banyak teman. Prestasinya pun gemilang, selalu mendapat gelas juara umum, serta menyabet medali dan piala dalam banyak perlombaan dan olimpiade. Keluarganya pun kaya raya. Hidupnya sangat sempurna.

Langkahku terhenti. Aku baru mengingat sesuatu. Tunggu, jika ia hidup di lingkungan seperti itu, bukankah seharusnya ia merasa bahagia? Lalu, apa yang membuatnya menangis?

***

Selama pelajaran aku tidak fokus, aku selalu memikirkan Aya. Apa yang terjadi padanya? Di balik senyum cerahnya, ternyata ia menyimpan kesedihan dibaliknya. Aku ingin bertanya, tapi aku tidak berani menatap wajahnya.

Aku membolak-balik buku Bahasa Indonesia dengan gusar. Kemudian, tanganku berhenti pada bab 'Surat'. Bagaimana jika aku memberinya surat? Dengan begitu aku tidak perlu bertatap muka dengannya, dan ia juga tidak akan tahu kalau aku yang mengirimnya surat ini. Aku hanya perlu menyelipkan surat ini dalam lokernya. Kebetulan loker Aya berada tepat di sebelah lokerku. Ide bagus!

Aku segera menyobek selember kertas dengan semangat dari buku tulisku dan menulis sesuatu.

To: Aya

Halo Aya, salken ya...

Mungkin kamu nggak tau aku siapa, tapi aku tahu kamu. Tenang, aku nggak bermaksud jahat, kok... Cuma aku pengin tau... Apa kamu sedih? Kenapa kamu nangis? Kamu bisa cerita ke aku, aku bakal jaga rahasiamu.

Note: Kalo kamu bales surat ini, selipin aja di loker sebelah kananmu, aku bakal bales lagi suratmu.

Aku melipat kertas tadi menjadi lumayan kecil, sehingga bisa kuselipkan dilubang loker. Aku menatap surat yang kubuat itu dengan bangga. Dengan begini mungkin bisa meringankan beban Aya! pikirku.

Kemudian gerakan tanganku terhenti. Senyumku memudar. Bukankah dengan begini aku malah terlalu mencampuri urusannya?

Aku mengurungkan niatku untuk memberinya surat. Aku memasukkan lipatan kertas berisi surat itu ke dalam tas tangan yang biasa kubawa. Aku menghela napas pelan, lalu kembali fokus kepada pelajaran.

***

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi dengan nyaring. Semua murid berhamburan keluar kelas untuk pulang. Aku segera merapikan barang-barangku dan memasukkannya ke dalam tas.

"Ayo. Na." Aku mengalak Hana. Ia mengangguk sambil memasukkan barang-barangnya. Setelah beberapa lama, Hana sudah selesai merapikan barangnya, kami pun beranjak keluar kelas untuk pulang.

Aku berjalan ke depan gerbang, memutuskan untuk menunggu Papa yang menjemputku disana. Aku menelepon Papa sambil berjalan. aku memegang hp di tangan kanan dan memeluk tas tanganku di tangan kiri.

"Pa? Papa diamna? Aku udah nunggu, lho!" kataku agak keras karena suasana di sekolah sangat ramai. Papa eminta menunggu beberapa menit lagi karena sedang terjebak macet. Lalu, suara Papa menjadi tidak jelas.

"Pa? Halo? Papa masih disana?" Aku memanggil Papa. Setelah itu, aku mendengar sambungan telepon diputus. Aku menghela nafas sambil menatap layar hp. Dan tiba-tiba

Bruaakk!!
Aku tertabrak seseorang sampai terjatuh. Barang yang kumasukkan dalam tas tanganku berceceran di tanah.

"Maaf, aku nggak liat jalan..." Aku meringis menahan sakit. Siapa yang barusan kutabrak?

Seorang perempuan seumuranku! Aya! Aku kembali teringat kejadian di kamar mandi. Aku segera memasukkan barang-barangku dengan terburu-buru ke dalam atas tanganku, lalu langsung berlari meninggalkannya.

Maaf, ya, Ya... Maaafff...

***

"Maaf ya, aku nggak hati-hati.. Loh, tadi siapa ya?" Aya baru menyadari bahwa seseorang yang ditabraknya sudah menghilang dari hadapannya. Ia segera berdiri lalu membersihkan seragam dan roknya yang terkena pasir akibat terjatuh barusan.

Saat ia melihat sekitarnya, ia melihat sebuah lipatan kertas kecil yang sedikit kotor karena terkena pasir. Ia membersihkannya terlebih dulu.

"Ini apa ya?"

***

"Huwaaaa!!" Aku berteriak histeris. "SURATNYA NGGAK ADA!!"

Aku sudah berkali-kali mengecek semua tasku, tapi tak kunjung kutemukan lipatan kertas itu.

Aku menggigit bibir bawahku. Bagaimana jika hilang? Bagaimana jika ada yang menemukannya? Bagaimana jika ada yang tahu kalau aku yang menulis surat itu?

Tiba-tiba aku teringat kejadian saat pulang sekolah tadi. Aku menabrak Aya dan barangku berjatuhan. Pasti di saat itu suratnya menghilang. Tapi bagaimana kalau surat itu dibaca Aya?

Aku melempar diriku ke kasur dan menutupi wajahku dengan bantal dan selimut. "Nggak tau, ah!" seruku kesal. Aku frustasi memikirkannya. Lebih baik kulupakan saja.

***

Selama seminggu, aku berusaha menghindari Aya, sampai membawa bekal dari rumah agar tidak bertemu dengannya di kantin. Tentu saja Hana mengkhawatirkanku, tapi aku mengatakan padanya bahwa aku tidak apa-apa. Maaf ya, Hana...

Saat membuang sampah, aku sempat menoleh ke arah kanan di mana terdapat jejeran loker. Misalkan kalo Aya percaya, apa dia bakal ngasih balesan?

Yah, kita tidak akan tahu kalau belum mencoba. Aku berjalan ke arah jejeran loker dan berhenti pada jejeran ketiga di bagian pojok kanan dua dari bawah. Aku berjongkok, itu lokerku. Loker di sebelah kiriku adalah loker milik Aya.

Aku membuka lokerku, dan aku mendapati sesuatu di sana. Sebuah amplop putih. Aku mengambilnya, kemudian menutup lokerku dengan hati-hati. Di amplop itu tertulis
'To : Pengirim Surat Misterius'. sepertinya benar ini surat untukku.

Aku menyimpannya ke dalam saku seragamku dan segera kembali ke kelas sebelum bel masuk berbunyi.

***

Aku sedang mempersiapkan barang yang harus kubawa besok. Aku teringat surat dari Aya. Aku segera mengambil surat itu dari dalam tas dan membukanya.

To: Pengirim Surat Misterius

Halo, salken juga.. walaupun aku nggak tau namamu. Aku nemuin surat dari kamu yang jatuh pas aku nabrak kamu. Maaf, ya, aku nggak sengaja... Oh ia, kamu tau, ya? kalo aku nangis kemarin? Sekarang aku nggak apa-apa kok, gausah khawatir... Makasih ya, udah perhatian hehe...

Oiya, namamu siapa?

Kutunggu balasanmu di lokerku! :D

Aku bersyukur karena Aya percaya padaku. Aku segera mengambil pensil dan kertas untuk menuliskan balasan untuknya.

To : Aya

Halo Aya, maaf menganggu... Aku berterima kasih sama kamu soalnya udah percaya sama aku :D Yang waktu ketabrak waktu itu, aku nggak apa-apa kok, salahku juga gak perhatiin jalan. Dan yang soal nangis itu, aku tau.. kamu beneran nggak apa-apa, kan? Kalo ada masalah cerita aja, jangan dipendem ya, Aya...

Aku menghentikan aktivitas menulisku. Nama, ya? Aku tidak mungkin langsung memberitahu nama asliku. Aku malu dan tidak berani, aku memutar otak, lalu mendapat ide.

Namaku, Anika Levysa, panggil aja Levy :>

Aku memutuskan mengacak huruf di namaku. Kayla Sevina menjadi Anika Levysa. Setelah selesai menulis, aku memasukkan surat itu ke dalam amplop dan menutupnya rapat.

"Besok, tinggal naruh surat ini di lokernya Aya." gumamku lalu menarik selimut dan beranjak tidur.

***

Mulai hari itu, aku dan Aya saling mengirim surat. Kami bercanda dan bercerita banyak hal. Kami pun sudah menjadi sahabat. Tapi, bukan berarti aku melupakan Hana. Kami tetap bersahabat.

Hari ini pun sama, aku membawa pulang surat balasan dari Aya. Sesampainya di rumah, aku segera membuka surat darinya.

To : Levy

Ceritamu tentang keluargamu keren banget lho.. Aku iri, kamu punya dik, dan keluarga yang selalu perhatiin kamu. Aku cuma anak tunggal, selalu sendiri di rumah, itu nggak enak.. Pasti rumahmu rame terus, kan? Nggak kayak rumahku, sepi...

Aku segera menulis balasan.

To : Arya

Loh, Ya, aku nggak bermaksud bikin kamu sedih... Maaf lho.. :( (Tapi emang rumahku ram terus sih, gara-gara aku tengkar terus sama adik... :vv Mama sama papa sampe capek ngelerainya wkwkwk... Tapi kamu nggak sendiri kok, ya. Masih ada aku sama temen-teman kamu.. Don't be sad! Ayo semangat!! :DD

Aku menyandarkan punggungku pada sandaran di kursi belajarku. Entah kenapa aku merasa tidak enak pada Aya.

***

Dua hari kemudian, surat balasan dari Aya datang. Karena terlalu senang, aku langsung membuka surat dari Aya tepat aku mengambil surat itu dari lokerku. Untung saja di tempat tersebut sedang sepi, jadi tidak ada yang melihatku.

Keningku berkerut membaca surat dari Aya.

To : Levy

Levy, cuma kamu yang bisa aku percaya sekarang. Aku mau ngasih tau kamu sesuatu. Kamu bakal jaga rahasiaku, kan?

Ya, hanya itu yang ia tulis. Firasatku tidak enak. Sepertinya terjadi sesuatu dengan Aya.

"Kayla!" panggil seseorang sambil menepuk pundakku.

Aku berjengit karena terkejut. Aku langsung menoleh ke belakang, ternyata Diana dan Farah, sahabat Aya. Tapi akhir-akhir ini aku hanya melihat mereka berdua. Aku pernah sekelas dengan mereka, jadi tidak teran mereka mengenaliku.

"Ya ampun, kalian berdua... kaget tau..." kataku sambil mengelus dada, masih terkejut.

"Hehehe, maaf, lho, Kay..." kata Farah, merasa bersalah. Aku hanya mengangguk. "Gak, gak apa, kok.. yaudah, aku duluan ya..." pamitku kepada mereka berdua. Mereka berdua mengangguk..

Aku segera menyimpan surat dari Aya ke dalam saku seragamku dan kembali ke kelas. Aku teringat akan isi surat Aya. Aku khawatir padanya. Aku berniat membalas suratnya hari ini juga.

Aku segera mengambil kertas, dan menulis balasan 

To : Aya

Iya, aku bakal jaga rahasiamu, kok.. emang mau cerita apa?

Setelah selesai menulis, tanpa ba-bi-bu, aku segera berlari keluar kelas sembari melipat kertas tersebut, kemudian langsung kuselipkan ke dalam loker Aya.

***

Esoknya, aku mendapat balasan dari Aya. Anehnya, amplop yang kudapat lebih tebal dari biasanya. Aku berniat membacanya setelah pulang sekolah.

***

To : Levy

Levu.. aku memang selalu tersenyum di depan semua orang, selalu bersikap baik dan sopan... tapi itu hanya di depan saja....

Aku sudah lelah.. aku lelah akna apa yang terjadi pada keluargaku, pada sahabatku...

Kamu lihat berita yang sedang treding di TV maupun sosial media? Seorang koruptor? Yang dibertakan adalah ayahku... ia memiliki jabatan tinggi di pemerintah, dan ia dituduh berkorupsi, itu tidak benar... aku tidak tau siapa yang menyebarkan berita itu, tapi sungguh, berita itu tidak benar... ayahku tidak mungkin melakukan hal itu... sampai sekarang berita itu masih diperiksa kebenarannya... belum berarti ayahku tersangkanya...

Ibuku hampir mempercayai berita itu, dan ia pergi dari rumah sejak dua hari yang lalu.. dan ia tidak pulang lagi sampai hari ini...

Teman-temanku menjauhiku, karena tahu berita itu, para guru pun bersikap aneh kepadaku, mereka selalu menghukum dan memarahiku tanpa alasan yang jelas...

Sebenarnya, tidak ada yang tahu bahwa pria yang dituduh koruptor adalah ayahku, kecuali kedua sahabatku dan kamu, Levy... aku tidak tahu dari mana mereka mengetahui hal itu, dan mereka menempelkannya pada mading sekolah...

Maaf, Levy, iya aku merepotkanmu... tapi hanya kamu satu-satunya orang yang bisa kupercayai..

Terima kasih, setelah menulis ini hatiku lebih lega...

Tarima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku...

Aku menunggu balasan darimu...

Apa yang kukhawatirkan benar terjadi. Ternyata karena ini Aya menangis hari itu. Dan, tunggu... mading sekolah? Aku tidak pernah melihat mading sekolah. Benarkah apa yang dikatakan Aya? Berita tentang ayahnya ditempel disana? Aku berencana mengeceknya besok.

***

Aku hanya terpaku melihat pemandangan yang ada di depanku. Benar apa yang dikatakan Aya. Berita tentang ayahnya tertempel di tengah-tengah mading, bahkan artikelnya paling besar.

"Pfftt... kasian banget, ya, Aya... dia pasti nggak nyangka, deh.." kata seorang murid yang melewatiku.

"Nggak nyangka apa?" Temannya menyahut.

"Kalo kita yang bocorin tentang ayahnya! Hahaha!!!" tawanya terdengar nyaring. Temannya tadi juga ikut tertawa.

Aku menoleh ke bekalang, dan aku tidak menyangka apa yang kulihat. Yang baru saja membicarakan Aya tadi tak lain tak bukan adalah Diana dan Farah, sahabat Aya!

Aku mengepalkan tanganku kuat, guna untuk meredam amarah. Mereka... bisa-bisanya tertawa ketika sahabat mereka sedang menangis. Dan lebih lagi, yang menyebabkan Aya menjadi seperti itu adalah mereka berdua!

PLAAKK!!!

Aku memukul kepala salah satu dari mereka berdua dengan tas tangan yang biasa kubawa. Emosiku sudah tak bisa lagi kutahan.

Mereka menoleh ke bekalang, mencari pelaku yang memukul mereka. Dan mereka sangat terkejut mengetahui bahwa akulah memukul kepala Diana.

"Kay?!" Seru Farah tidak percaya.

"Iya! Emang kenapa?! Kalian tega banget nyebarin berita hoax ke Aya! Emang apa salah Aya ke kalian? Tau, nggak Aya nangis sesenggukan di kamar mandi, itu semua gara-gara KALIAN!!" teriakku maraha. Diana dan Farah hanya terdiam mendengarkanku.

"K-Kayla?" panggil seseorang dari belakangku. Aku segera menoleh ke belakang, dan aku terkejut siapa yang memanggil namaku barusan, Aya!

"Kayla.. tau dari mana? AKu kan... nggak pernah cerita ke kamu.." katanya pelan. Aku hanya menunduk. Aku tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. Sementara Diana dan Farah sudah kabur duluan.

Aku menghirup napas, mengumpulkan keberanian, kemudian menghembuskannya lagi.
"Aku... yang selama ini ngirim surat ke kamu, ya"

"H-Hah?"

"Iya... aku.. Levy, Anika Levysa."

Hening. Tak ada suara apapun dariku ataupun Aya.

"Maa---"

Grep!

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Aya sudah duluan memelukku.

"E-eh? Aya?

"Makasih, buat semuanya... Levy..."

Aku hanya tersenyum lalu membalas pelukannya.

***

Sudah beberapa minggu sejak kejadian itu. Semuanya sudah kembali normal Ayah Aya dinyatakan tidak bersalah. Ibu Aya kembali pulang ke rumah. Diana dan Farah meminta maaf pada Aya. Begitu pun artikel tentang Ayah Aya yang terpajang di mading sudah dibuang. Aku pun mengenalkan Aya pada Hana, dan mereka cepat akrab. Sekarang, kami bersahabat bertiga : Aya, Hana, dan aku!

Kakek Penjual Kembang Dan Si Pemuda Kaya

Kakek Penjual Kembang Dan Si Pemuda Kaya

INIKECE - Baju lelaki kurus lanjut usia itu kusam berlengan pendek, sehingga lengannya yang hanya berbalut daging terlihat sangat mencolok. Banyak kerutan yang terlihat mengelilingi sudut mata, dahi, juga pipi.

Ia berada di trotoar jembatan, berdekatan dengan masjid. Duduk beralaskan kain yang jauh lebih kusam dari pakaiannya.

Kakek itu menjual kembang bekupak untuk orang-orang berziarah. Dibawah matahari yang terik. Dengan kepala berlindung kopiah yang lagi-lagi sama usangnya, beliau tertunduk tanpa menatap jalanan yang ramai, sedangkan motor serta kendaraan lainnya berlalu-lalang di hadapannya.

Di sampingnya duduk seorang pemuda. Di atas bangku panjang. Keadaannya sangat kontras dari si kakek. Ia berpenampilan mewah. Pemuda itu sibuk mengeser-geser jempol pada layar android yang tampaknya sangat canggih, tampak acuh pada sekitar.

Cukup lama, pemuda itu memasukkan handphone-nya ke dalam kantong kemejanya yang bergaris-garis. Ia berdiri, setelah diperhatikan pemuda itu bertubuh tinggi dan besar. Untuk pertama kalinya, ia mengarahkan perhatian pada si kakek secara terang-terangan. Setelah sebelumnya, tadi ia hanya melihat foto kakek lewat hp. Ada raut tidak suka dari wajah pria tinggi besar itu. Seolah-olah hari ini misi yang diberikan oleh sang atasan akan gagal ia jalankan.

Pemuda itu mendekati kakek. Langkahnya lebar dan panjang. Wajahnya yang tampak sangat berubah ramah dan manis. Matanya bercahaya soleh ada bintang yang bersinar dari dalam sana.

"Kakek, saya mau kembangnya serenteng," kata pemuda itu.

Mendengar orang mau membeli kembang, raut wajah kakek jadi cerah. Beliau segera menengok ke atas, demi melihat siapakah sang pembeli. Lalu tangan beliau segera memasukkan kembang ke dalam kantong plastik hitam.

"Berapa kek?"

Si kakek menyerahkan kantong plastik seraya berkata, "Lima ribu."

Tangan pemuda itu menerima kantong plastik, kemudian memberikan selembar uang lima puluh ribuan. Melihat uang lima puluh ribuan tersebut, mata kakek bergetar.

"Ada uang pas aja, Mas. Saya belum ada uang kembalian," ujar kakek bertanya.

Pemuda itu tersenyum lembut. "Tidak usah. Kembaliannya buat kakek saja."

Kakek berdiri. Gerakannya lamban karena rentanya usia melemahkan setiap pergerakan beliau. Tapi sesuatu dalam cara menatap beliau membuat pemuda itu terenyuh. Sesuatu yang harusnya tidak boleh ia libatkan dalam pekerjaannya.

"Semoga Allah membalas kedermawanmu kelak, wahai Anak Muda. Namun tunggulah sebentar. Saya akan carikan kembalian uangmu."

Kening pemuda itu berkerut. Bukan sikap itu yang ia harapkan akan kakek lakukan. Ia berpura-pura menengok sekeliling. "Tapi tidak ada pedagang lain buat menukar uang."

Kakek itu terdiam seperti berpikir. Memang tidak ada pedagang lain selain dirinya yang berjualan. Sudah sejak pagi sebelum matahari terik ia menjemput rezeki di sini, namun satu pun tak ada pembeli yang membeli jualannya.

Dalam hati sejujurnya beliau ingin menerima selembar uang lima puluh ribuan dari pemuda itu. Pandangan kakek jatuh pada selembar uang lima puluh ribuan tersebut, yang ada di tangannya. Apakah Allah telah mengirim rezeki untuknya melalui perantara pemuda ini? Ia pun terdiam merenungi selember rezeki yang apakah itu memang pantas menjadi haknya.

"Sudah berapa orang yang beli dagangan Kakek?" Tanya pemuda itu dalam keraguan si kakek.

Kakek mengenang dengan mata bergetar. Beliau lalu menggeleng. "Belum ada," jawab beliau. Namun sambil tersenyum beliau lalu melanjutkan, "Tapi tidak apa-apa. Rezeki saya sudah diatur oleh Allah."

Pemuda tadi jadi gelisah. Tetapi ia bisa menutupi kegelisahannya. Selain itu, ia merasa tertarik mengakhiri kesulitan kakek. Bosnya benar, kakek itu cocok menjadi pekerja mereka. Karena kalau bergabung dengan mereka, kakek tak perlu lama-lama menunggu pembeli datang.

"Kakek, biasanya berapa penghasilannya dalam sehari?" Tanyanya memancing.

Kakek tanpa curiga menjawab pertanyaannya. "Dalam sehari paling banyak saya dapat lima puluh ribu, kalau sedang ramai. Kadang saya tidak dapat pembali."

Nah, Hati pemuda itu berkata inilah saatnya menawari kakek masuk dalam perangkap.

"Kakek mau nggak punya penghasilan dua ratus ribu sampai jutaan rupiah per hari?" tanyanya dengan nada yang sangat menggiurkan. "Kerjanya gampang. Nggak perlu tamatan sekolah tinggi. Nggak perlu capek-capek. Nanti sebelum praktik dikasih pelatihan dulu."

"Pekerjaan apa itu, Anak muda?"

"Ayo duduk dulu kek, saya ceritakan."

Kakek itu lalu duduk seperti semula. Sedangkan pemuda itu menyeka sambil meniup-niup lantai trotoar, kemudian duduk bersila tegak.

"Nah, saya punya bisnis. Banyak yang sudah sukses setelah bergabung dengan bisnis saya. Awalnya mereka nggak punya apa-apa. Tapi sekarang sudah punya rumah mewah. Mobil bagus..." Kemudian pemuda itu mengeluarkan handphone-nya yang terlihat masih baru." juga punya hp bagus seperti ini, Kek."

Tiba-tiba seorang anak perempuan datang ke arah mereka. "Kakek, beli kembangnya dua."

Kepala kakek segera menoleh. Lagi-lagi ekspresi cerah memancar dari wajah beliau.

"Dua?" Tanya kakek seolah memastikan bahwa beliau tidak salah dengar.

"Iya, Kek. Saya mau ke seberang. Mau menjenguk makam ayah dan ibu lagi." Cerita gadis itu.

Kakek segera memasukkan dua renteng kembang ke dalam kantong plastik. Lalu menyerahkan pada gadis itu. Kemudian ia menerima selembar uang sepuluh ribuan.

"Makasih, kek." Kata gadis itu tersenyum kemudian menyeberangi jembatan dengan hati-hati. Di seberang sana, ada pemakaman muslimin.

Pemuda bertubuh besar dan tinggi tadi ikut memperhatikan kepergian gadis itu, yang kedatangannya membawa secercah cahaya di mata kakek. Melihat kakek senang ia pun ikut senang.

Perhatian kakek telah kembali padanya. "Nak, coba ceritakan tentang pekerjaan tadi."

Pemuda itu meneguk ludah. Berdehem sesaat manta pita suaranya. "Nanti kerjanya berkelompok. Setiap kelompok dikirim ke tempat yang berbeda, tapi tidak terlalu jauh agar tidak capek saat di jemput pulang."

"Kalau harus bekerja sambil berjalan-jalan ke tempat yang jauh, tubuh saya sudah terlalu lemah, Nak. Bahkan untuk berdiri saja saya harus susah payah."

Justru itulah kenapa kakek cocok bergabung dalam usahanya. Pikir pemuda itu.


"Tidak apa-apa kek. Jalannya pelan-pelan saja. Kita tidak punya aturan yang harus membuat pekerjaan cepat terlaksana kok. Kalau perlu nanti bos akan minta orang membantu kakek berjalan," sahutnya memberi penawaran semenarik mungkin.

"Bos kalian orang yang sangat baik dan pengertian. Semoga Allah memberkahi kesehatan dan rezekinya."

Pemuda itu mengangguk setengah hati Mungkin jauh di dalam hati, ia tidak setuju doa itu tertuju untuk bosnya. "Aamiin Kek, makasih."

"Tadi kamu bilang pekerjaan itu tidak butuh pendidikan yang tinggi, dan juga tidak perlu capek-capek. Pekerjaan apakah itu? Apa yang harus saya lakukan nanti?"

"Nanti kakek dibawa dengan mobil. Bukan cuma kakek tapi juga yang lainnya. Terus diturunkan di suatu tempat. Bisa perumahan, pasar, atau tempat -tempat ramai dan tempat orang-orang banyak. Kakek akan dibekali keranjang. Kaleng atau kotak. Saat melihat kakek, akan ada orang baik akan yang memasukkan uangnya ke benda yang kakek bawa, tapi ada juga yang tidak."

Kakek mendadak terdiam. Beliau hanyut dalam renungannya sendiri. Pemuda itu meneruskan penjelasannya. "Di usia tua, seharusnya kakek tidak perlu bekerja lagi. Saya disini utnuk menawarkan pada kakek masa depan yang lebih baik."

Kakek menatap ke seberang dengan tatapan menerawang. Kemudian ia tertunduk, senyumnya tampak miris.

"Nak, saya sudah mengerti pekerjaan macam apa yang kamu tawarkan. Kalau kamu sungguh punya niat baik untuk saya, akan saya hargai niat baikmu. Tetapi saya lebih memilih berjualan kembang daripada harus meminta-minta."

Kakek berdiri dengen lemah. "Tunggu sebentar di sini. Saya akan carikan uang untuk kembalianmu."

"Tapi ke mana kakek akan mencari?" tanya pemuda itu.

Kakek melihat-lihat sesuatu. Kemudian ia melangkah perlahan menuju masjid di bawah jembatan. Ada beberapa buah motor dan satu buah mobil memarkir di halaman masjid. Beliau masuk ke masjid itu.

Sementara di trotoar, si pemuda menunggu dengan kecewa. Firasatnya benar. Kakek itu akan menolak tawaran yang biasanya berhasil ia lancarkan.

Tidak lama kakek keluar dari masjid dan menghampirinya dengan langkah yang lemah.
"Ini uang kembalianmu, Nak. Terimakasih sudah membeli dagangan saya. Lebih baik kamu pergi sekarang kalau sudah tidak ada keperluan lagi."

Mendengar ucapan kakek membuat pemuda itu emosi. "Apa dengan uang sepuluh ribu dari gadis tadi dan lima ribu dari saya sudah cukup? Apa kakek mau terus hidup dengan penghasilan yang tidak menentu setiap hati."

Kakek itu lalu menjawab, "Nak. walau hanya sepuluh dan lima ribu rupiah, saya bersyukur mendapatkan rezeki dari hasil jerih payah sendiri. Uang itu bisa saya gunakan membeli satu liter beras dan dua butir telur untuk saya dan cucu saya."

Mendadak pernyataan kakek hati pemuda itu pilu. Awalnya ia tersinggung lantaran kakek bukan hanya menolak tapi juga mengusirnya. Ia tersentuh dengan keteguhan hati kakek, yang tidak ia miliki.

"Saya sudah tua. Yang saya inginkan hanyalah sebisa mungkin hidup menjadi hamba Allah yang sebaik-baiknya. Lihatlah pemakaman di seberang sana!" Sambung kakek dengan mata berkaca-kaca.

"Kalau saya meminta-minta, apa yang akan saya katakan pada Allah saat dia bertnaya, apa yang saya lakukan di masa-masa terakhir menghadap-Nya. Haruskah saya katakan bahwa saya menghabiskan usia dengan mengemis belas kasihan orang lain. Meminta-minta karena tidak ingin bersusah payah sementara Allah masih memberi saya kekuatan juga akal pikiran.

"Nak, saya seorang kakek, dan punya cucu laki-laki di rumah. Kalau ia sudah dewasa, saya ingin ia menjadi orang yang jujur dan pekerja keras dalam menjemput pemberian Allah. Sudahlah Nak, kakek maafkan karena kamu sudah mengajak kakek ke jalan itu. Semoga allah memberimu hidayah yang membawamu ke gerbang jalan yang lebih diridai."

Kakek kembali duduk dengan tenang. Sementara si pemuda berjalan ke tempat asal ia duduk. Malaporkan pada bos bahwa ia gagal menjerat mangsa mereka. Lalu ia berjalan turun dari jembatan. Tidak jauh dari jembatan itu, ada plaza di depannya. Ia memarkirkan mobil di plaza itu.

Peremuannya dengan kakek membuatnya merenung. Kakek lebih memilih hidup susah, dibanding bergelimang kemewahan sepertinya. Padahal tidak perlu susah-susah untuk mendapatkan kemewahan seperti yang ia miliki.

Mobil, rumah, handphone, pakaian yang ia kenakan. Semua ia dapat dari hasil yang kakek anggap rendah. Dulu sempat ia bekerja dengan jujur seperti kakek. Pemuda itu berdecih. Mana bisa ia mendapatkan banyak uang hanya dengan berjualan seperti kakek, kecuali ada banyak uang yang tiba-tiba jatuh dari langit untuknya.

Tapi kenapa ia merasa kalah. Jika dibandingkan dengan kakek yang tua dan kurus, ia merasa benci dan marah meski ia memiliki jauh lebih banyak harta benda. Mendadak ia merindukan uang lima belas ribu yang kakek peroleh.

Bersarang Dalam Tubuh Dengan Waktu Yang Cukup Lama, Tumor Sebesar Bayi Berhasil Dikeluarkan

Bersarang Dalam Tubuh Dengan Waktu Yang Cukup Lama, Tumor Sebesar Bayi Berhasil Dikeluarkan

INIKECE - Dalam banyak kasus, para pasien penderita tumor biasanya baru mengetahui hal itu ketika ukurannya sudah cukup besar. Sebab kebanyakan pasien baru akan memeriksakan diri ke dokter jika rasa sakit yang diderita sudah sangat parah.

Misalnya saja seorang pria berusia 52 tahun asal Thailand ini. Ternyata tumor yang bersarang dalam tubuh pasien yang tidak disebutkan namanya itu sudah seukuran bayi.

Diketahui pria itu baru memeriksakan diri ke dokter umum setelah merasa sakit perut yang mencekam. Ia pergi ke dokter pada Sabtu pagi dan dengan segera dikirim ke rumah sakit untuk menjalani CT scan.

Hasil pemindaian itu mengungkap dalam perutnya telah berkembang tumor yang cukup besar. Dokter merekomendasikan untuk prosedut pembedahan dengan segera. Mereka khawatir bahwa pertumbuhan itu bisa mempengaruhi organ-organ lain termasuk hati dan sistem pencernaannya.

Prosedur operasi memakan waktu 90 menit di Rumah Sakit Bueng Kan di provinsi Bueng Kan, Thailand.

Bukan main, ukuran tumor itu mencapai panjang 35 cm dan lebarnya 32 cm. Setelah ditimbang, ternyata berat tumor itu 12 pon atau sekitar 5,42kg.

Ketua ahli bedah Dr Nut Thongbuasirilai mengatakan dia senang dengan operasi karena dapat menguji alat-alat baru yang belum lama diterima oleh rumah sakit.

Alat-alat itu digunakan untuk prosedur yang sulit. Dr Nut merasa operasi itu cukup sulit karena suatu kesalahan bisa menyebabkan masalah.

"Karena tumor memiliki fasia yang melekat pada hati, usus kecil dan perut, kamu harus sangat berhati-hati ketika memotongnya," kata Dr Nut.


Ia menambahkan, "Ada kemungkinan pasien bisa kehilangan darah atau syok mendadak."

Meski harus melakukan prosedur sulit, ia merasa cukup tenang karena telah memiliki alat baru yang diandalkan untuk melakukan operasi itu.

"Untungnya, kami baru saja menerima alat operasi paling modern dari penggalangan dana lokal dari kuil Buddha dan peralatan itu memainkan peran penting untuk membuat kasus ini jauh lebih muda."


Setelahnya, tumor itu dikirim untuk dilakukan biopsi untuk memeriksa apakah itu kanker atau tidak. Meski begitu mereka cukup optimis bahwa tumor besar yang mereka temukan dalam perut pria itu adalah tumor jinak.

"Pasien senang dengan hasil operasi dan mengatakan dia merasa jauh lebih baik tetapi dai masih sakit karena operasi," kata Dr Nut.

Selama 47 Tahun Tidak Pernah Dibuka Kini Akhirnya Terbuka Juga, Sempel Batuan Bulan!

Selama 47 Tahun Tidak Pernah Dibuka Kini Akhirnya Terbuka Juga, Sempel Batuan Bulan!

INIKECE - Pada tahun 1972, Sampel batuan Bulan telah dibawa oleh misi Apollo 17. Sampel bebatuan Bulan yang sudah 47 tahun ini tak pernah dibuka juga. Pada akhirnya ilmuwan NASA berhasil membuka sampel bebatuan pada Bulan.

Sampel itu dibuka untuk melakukan pengujian. Pengujian ini dilakukan untuk membantu mempelajari hal-hal terkait misi Artemis. Ini adalah misi Amerika Serikat (AS) untuk menerbangkan manusia ke bulan dan tinggal sementara di sana pada 2024.

Menurut keterangan NASA, sampel ini dibuka dan diuji atas dasar isiatif dari Apollo Next-Generation Sample Analysis (ANGSA) menggunakan teknologi yang lebih canggih dibanding 47 tahun yang lalu.

Sampel yang dibawa dari misi Apollo 17 ini diambil oleh dua astronaut bernama Gene Cernan dan Jack Schmitt.

"Analisis sampel ini akan memaksimalkan pengembalian sains dari Apollo, serta memungkinkan generasi baru ilmuwan dan kurator untuk memperbaiki teknik mereka dan membantu mempersiapkan penjelajah masa depan untuk misi bulan yang diantisipasi pada tahun 2020 dan seterusnya," kata Dr. Sarah Noble program scientist ANGSA dari NASA, seperti dari laman situs lembaga tersebut.

Dua dari sampel yang tersimpan dalam tabung tersebut memiliki kode 73002 dan 73001 kemudian dipindai menggunakan sinar-X untuk mengetahui isi di dalamnya.

Cara ini menurut para ilmuwan dapat mengantisipasi cara penanganan sampel yang tepat. Mengingat bentuk dan tekstur sampel yang seperti butiran halus juga bebatuan kecil.


Dengan alat yang lebih canggih, Nasa berharap mendapat wawasan baru terkait sejarah Bulan.

"Penelitian ini akan membantu NASA lebih memahami bagaimana reservoir volatil berkembang, berevolusi, dan berinteraksi di Bulan dan benda-benda planet lainnya." jelas Charles Shearer, ilmuwan ANGSA.

NASA berambisi untuk menggunakan teknologi barunya untuk memperlajari bulan sebelum pendaratan astronut di permukaan bulan pada 2024. Selain itu NASA juga berharap misi Artemis ini bisa menjadi lompatan untuk mengirim astronaut ke Mars pada misi berikutnya.

Berawal Dari Benci Menjadi Punding-Punding Cinta

Berawal Dari Benci Menjadi Punding-Punding Cinta

INIKECE - Bel istirahat akan berakhir beberapa menit lagi. Nadia harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini.

Gubrak... Buku-buku yang dibawa Nadia jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.

"Sial! Lari nggak pakek mata apa ya..." gerutu Nadia. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh.

Belum selesai Nadia merapikan bukunya, terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.

"Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?" cemooh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Nadia berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencomoohnya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan.

Sumpah! Nadia benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Nadia nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Nadia mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.

Cowok tinggi itu sepintas mengeryitkan alisnya, dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Nadia terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.

Teeett... Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring "Maksud hati pengen bantu teman gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu." ucap cowok tersebut sambil menekan kat ajelek di pertengahan kalimat.

Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemoohan atau pun ejekan.

"Lo berubah." gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Nadia yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Nadia mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.

"Aduuuhhh" pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.

"Makan tuh sakit!" ejek Nadia sambil berdiri membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Nadia pakai kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi berambut ikal tersebut.

***

"Nadia..."

Nadia menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Nesya teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Nadia membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangnnya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. 

Nadia memang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Nesya malah menjitak kepalanya dari belakang.

"Woe non, nggak denger teriakan gue ya? Temen macam apa yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri." ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas sahabatnya tersebut kalo lagi ngambek.

"Sori deh Sya. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang."

"Bad mood? Jelas-jelas loe tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok sampai tuh cowok permisi pulang, enggak minta maaf lagi." jelas Nesya panjang lebar.

"Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?" Nadia benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata benar-benar lembek, pikirnya dalam hati.

"Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Reno lho."

"Enak aja. Orang dia yang mulai duluan." bantah Nadia membela diri. Sejenak Nesya terduam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis.

"Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP dulu banget." ujar Nesya polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. 

"Lagi pula gue udah bisa nerima kalau Reno nggak suka sama gue."

"Tau ah gelap!"

***

Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Nadia sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Nesya masih berkutat pada buku catatannya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.

"Makanya kalau nulis jangan kayak siput" Dengan gemas Nadia mencubit pipi Nesya.

"Duluan ya, Sya. Disuruh nyokap pulang cepat nih!" Nesya hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatannya. Saat Nadia membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar.

"Eh, sori.." ucap Nadia kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Nadia langsung ngasih tampang jutek kepada orang itu

"Ngapain loe keisini?! Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin bair kemarin pulang cepat? Ha?! Jadi cowok kok banci banget!!!" kesal Nadia.

Jujur Reno udah bosen kayak gini terus sama Nadia. Dia pengen hubungannya dengan Nadia bisa kembali seperti dulu.

"Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Nesya." ucap Reno dingin sambil celingak celinguk mencari Nesya.

"Hey Sya!" ucap Reno siang begitu orang yang dicarinya nongol.

"Hey Juga. Jadi nih sekarang?" Nesya sejenak melirik Nadia. lalu dilihatnya Reno mengangguk bertanda mengiyakan.

"Nad, kita duluan ya," ujar Nesya singkat.

Nadia hanya bengong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Nesya dan Reno yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhnya. Biasanya Reno selalu mencari masalah dengannya.

Namun kini berbeda. Reno tidak menggodanya dengan cemoohan atau ejekan khasnya. Reno juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.


Byuurrr.. Sirup rasa Stowberry menggalir deras dari rambut Nadia hingga menetes ke kemeja putihnya. Nadia nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.

"Maksud loe apa?" Bentak Nadia menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.

"Belum kapok di guyur kayak gini?" balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Nadia. "Riz, mana sirupnya yang tadi?" ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Nadia. Rizka langsung memberi satu gelas sirup yang sudah siap untuk disiram ke Nadia.

"Loe mau gue siram lagi?" tanya cewek itu lagi.

Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan sirup rasa stroberry? Teriak Nadia dalam hati. Ia tau kalau cwewk di depannya ini bernama Linda.

Linda terkenal primadona sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Nadia diem aja. Ia juga tau kalau Linda satu kelas dengan Reno.

Wait, wait.. Reno??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Ren, sampe gue tau loe biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!

"Gue rasa, gue nggak ada masalah ama loe." teriak Nadia sambil mendorong Linda dengan sadisnya. Nadia benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumat sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu di kasih pelajaran.

Kedua teman Linda, Rizka dan Ayu dengan sigap mencoba menahan Nadia. Tapi Nadia malah memberontak.

"Buruan Lin, ntar kita ketahuan." kata Ayu si cewek sawo mateng.

Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Nadia dengan sirup.

"Jauhin Reno. Gue tau loe berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Reno. Tapi kenapa loe sekarang nggak mau ngelepas Reno!!"

"Maksud loe?" ledek Nadia sinis.

"Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Reno. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?" Plaakk... Tamparan mulus mendarat di pipi Nadia.

"Tapi lo seneng kan?" Teriak Linda tepat di sebelah kuping Nadia.

Kesabaran Nadia akhirnya sampai di level terbawah.

Buugg! Tonjokan Nadia mengenai tepat di hidung Linda. Linda yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Nadia kalah. Tak perlu lama, Nadia sudah jatuh terduduk lemas, Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pipinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa pening.

"Beraninya cuma keroyokan!" bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Nadia juga ingin, tapi tertutup oleh Linda. Dari suaranya Nadia sudah tau.

Tapi ia nggak tau benar apa salah.

"Pergi loe semua. Sebelum gue laporin." ujar cowok itu singkat.

Samar-samar Nadia melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Nadia dan membantunya untuk berdiri.

"Loe nggak apa-apa kan, Nad?" sesal Reno.

"Nggak apa-apa dari hongkong!?"

***

Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Nadia dan Reno berada di ruang UKS. Nadia membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Reno memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Nadia.

Nadia lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Reno nyentuh pipinya. Tapi karena terpaksa. mau gimana lagi.

"Ntar loe pulang gimana?" tanya Reno polos.

"Nggak giman-mana, Pulang ya pulang." jawab Nadia jutek.

Rasanya Nadia makin benci sama yang namnya Reno. Gara-gara dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Reno enggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.

"Tadi itu cewek loe ya?" ucap Nadia dengan wajah jengkel.

"Nggak." ucap Reno datar,

"Terus kok dia malah ngelabrak gue? Nyuruh jauhin loe segala. Emang dia siapa?" gerutu Nadia kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue enggak mau jauh-jauh sama Reno. Aduuuhh... Reno sejenak tersenyum.

"Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo" ucap Reno sambil menunjuk Nadia.

Nadia terdiam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Reno menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. "Nanti bisa pulang sendiri kan?" tanya Reno.

"Bisalah. Emang loe mau nganter gue pulang?"

"Emang loe kira gue udah lupa sama rumah loe? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupain segala sesuatu tentang diri loe. Gue maish paham benar tentang diri loe. Malah perasaan gue masih sama kayak dulu." jelas Reno sejelas-jelasnya. Reno pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.

"Loe ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat loe!" ancam Nadia.

Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala pusing, malah di kasih obrolan yang makin pusing.

"Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal loe tau, gue selalu cari gara-gara ama loe itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas loe nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa loe malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin loe berantem." sejenak Reno menarik nafas.

"Loe mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima." Hening sejenak diantara mereka berdua.

"Kayaknya gue pulang duluan deh," Ucap Nadia sambil buru-buru mengabil tasnya. Inilah kebiasaan Nadia, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapain. 

Dulu ia nolak Reno karena Nesya juga suka Reno. Tapi sekarang?

"Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah." Reno berbicara tepat saat Nadia sudah berada di ambang pintu UKS. Nadia terdiam tak sanggup berkata-kata. Dilangkahkah kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Reno ynag termenung sendiri.

***

Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah Nesya belum datang. Nadia sendiri tumben datang pagi. Biasnaya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas udah padat akan penduduk. Semalam Nadia nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Reno selalu terbesit di benaknya. Apa benar Reno pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Reno mau pindah apa nggak, batin Nadia. "Arggg.... Kenapa sih gue mikir dia terus?"

"Mikiran Reno maksud loe?" ucap Nesya tiba-tiba udah ada disamping Nadia.

"Nih hadiah dari pangeran loe." Di lihatnya Nesya mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Nadia membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Nadia dan Reno saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.

Dear Nadia,

Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu loe nangis gara-gara di hukum sama kakak kelas. Dalam hati gue ketawa, kok ada di cewek cengeng kayak gini? Hehe.. just kidding J. Loe dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga loe senang sama pelangi yang ada di bingkai foto.

Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke loe gimana indahnya pelangi.

Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu tiba, ga ada alasan buat loe gak mau jadi pacar gue. I Love You...

Salam Sayang,

Reno Purwanto

"Kenapa loe nggak mau nerima dia? Gue tau loe suka Reno tapi lo nggak mau nyakitin gue." sejenak Nesya tersenyum.

"Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Reno. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih." Ujar Nesya menyakinkan Nadia.

"Thanks Sya. Loe emang sahabat terbaik gue." ucap Nadia tulus.

"Tapi gue tetap pada prinsip gue." ucap Nadia yakin.

Nesya terlihat menerawang.

"Jujur, waktu gue tau Reno suka sama loe dan cuma nganggep gue sebagai teman kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia enggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue dasar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita."

Senyum kembali menghiasi wajah mungilnya. 

"Dan lo harus janji sama gue kalo loe bakal jujur tentang perasaan lo sama Reno. Janji?" lanjut Nesta sambil mengangkat jari kelingkingnya.

Ingin rasanya Nadia menolak tetapi Nesya terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Nesya belum sepenuhnya melupakan Reno. Tapi Nadia juga tak ingin mengecewakan Nesya. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya.

"Janji.." gumam Nadia lirih.

Nekat Melakukan Percobaan Bunuh Diri, Karena Pacarnya Menggunakan Uangnya Hingga Mencapai 600juta Untuk Belanja Online

Nekat Melakukan Percobaan Bunuh Diri, Karena Pacarnya Menggunakan Uangnya Hingga Mencapai 600juta Untuk Belanja Online

INIKECE - Seorang pria asal China, Wang baru-baru ini nekat melakukan percobaan bunuh diri setelah mengetahui pasangannya, Zhan menghabiskan uang sebanyak 300 ribu yuan (sekitar Rp 601juta) untuk berbelanja di pesta belanja online 11.11 .

Beruntung, percobaan bunuh diri yang dilakukan cowok berusia 29 tahun tersebut akhirnya dapat digagalkan setelah pihak kepolisian mendapat laporan terkait adanya seorang pria yang hendak melompat dari atap gedung.

Mendapati laporan itu, polisi segera bergegas datang menuju lokasi, di mana mereka kemudian langsung mencoba untuk menenangkan Wang dan membujuknya untuk turun dari atap gedung tempatnya hendak melompat.

Setelah melewati momen-momen emosional, cowok asal Luzho, Sichuan tersebut akhirnya mau turun dari atap gedung tersebut dan mengurungkan niat untuk menghabisi nyawanya sendiri.


Kepada polisi, Wang mengaku bahwa dia nekat melakuka n percobaan bunuh diri karena pasangannya, baru saja menghabiskan uang senilai 300 ribu yuan untuk berbelanja pada event pesat belanja online 11.11 .


Seoerti dilansir HAI dari World of Buzz, uang sebanyak itu digunakan oleh Zhan untuk membeli barang-barang seperti tas bermerek, parfum, pakaian, serta benda-benda mahal lainnya.

Wang menambahkan, ini bukan pertama kalinya sang istri menghabiskan uang hingga ratusan juta rupiah dalam sehari untuk membeli barang-barang secara online.

Pada Event pesta belanja Online tahun lalu, Zhan diketahui menghabisan uang sebesar 200 ribu yuan (sekitar 400juta) hanya untuk berbelanja peerluan pribadinya.


Terjadi lagi padahal sempat berjanji untuk nggak mengulainya tahun ini, Wang akhirnya nekat melakukan percobaan bunuh diri karena nggak tau bagaimana membayar tagihan tersebut.

Apalagi, Wang mengaku pada polisi kalau dirinya hanya memiliki penghasilan ribuan yuan saja dalam waktu satu bulan dari pekerjaannya.

Tinggi Tebing Mencapai 2 Ribu Meter, Seorang Mahasiswi Jatuh Hingga Kedasarnya

Tinggi Tebing Mencapai 2 Ribu Meter, Seorang Mahasiswi Jatuh Hingga Kedasarnya

INIKECE - Kecelakaan yang sangat tragis terjadi hanya karena selfie. Mahasiswi ini yang bernama Deng melakukan selfie di atas teping dengan ketinggian mencapai 2 ribu meter. Ia nekat mengambil foto selfie di tepi tebing 'Dek Observasi Hua Shan, China beberapa waktu lalu'.

Menurut laporan Oriental Daily, semua bermula saat Deng mengambil sejumlah foto di tempat wisata tersebut, sebelum akhirnya dibagikan melalui akun media sosial miliknya dan kirimkan kepada sejumlah teman.

Hingga kemudian, beberapa temannya mulai merasa khawatir karena Deng nggak memberikan respons, di mana mereka kemudian mencoba untuk menghubungi pihak keluarga dan kampus, serta melaporkan hal tersebut kepada otoritas setempat.

Mendapatkan laporan tersebut, otoritas setempat kemudian melakukan pengecekan terhadap rekaman CCTV di lokasi untuk mencari keberadaannya.

Dari rekaman CCTV tersebut, otoritas setempat mengungkap bahwa Deng jatuh dari tepi tebing ketika dirinya hendak mengambil foto selfie.

"Dia tidak berdiri di tanah yang stabil dan pagar pembatas tak cukup tinggi untuk mencegahnya jatuh. Dia mundur selangkah saat hendak mengambil selfie dan jatuh dari puncak gunung," ujar otoritas Hua Shan.


Melihat rekaman tersebut, pihak keluarga mempertanyakan tinggi pembatas yang dinilai terlalu rendah sehingga menyebabkan Deng jatuh dari tepi tebung menuntut pertanggungjawaban dari pihak pengelola 'Dek Oberservasi Hua Shan'.

Namun, pengelola Dek Observasi Hua Shan menolak tuduhan tersebut dengan mengatakan bahw Deng jatuh dari tebing karena kehilangan keseimbangan ketika hendak mengambil foto selfie.

Meski menolah untuk disalahkan, pihak pengelola diketahui bersedia memberikan uang santunan senilai 40ribu yuen (Rp 80juta) kepada keluarga Deng.

Diamku, Rasa Tawa Dalam Dunia Vanya

Diamku, Rasa Tawa Dalam Dunia Vanya

INIKECE - Aku berdiri di ambang gerbang sekolah. Pagi ini, aku menjadi yang pertama masuk ke kelas. Aku berjalan menuju bangku ku. Terduduk, Termenung sesaat, Terkadang ada rasa tenang jika aku datang lebih awal.

Kelas ini terasa hening, tanpa ada tawa mereka. Aku membenci cara mereka bercanda. Karena tawa mereka bisa membuatku tak bersuara, alias diam.

"Ssst... Pokoknya nanti kita kasih kejutan di dalam kelas aja." ucap Nindy pelan.

"Ya udah kamu duluan masuk. Aku nunggu di luar untuk kasih kode," timpal Bayu

"Masih lanjut kasih surprise?" kata Pany meyakinkan.

"Tentu dong. Terus, sekarang kita masuk duluan ya," ucap kedua gadis cantik itu.

Aku mendengar bisik-bisik mereka dari balik jendela kelas. Tanpa harus menempelkan telingaku ke dinding, percakapan mereka sudah sampai ke telingaku. Perlahan, mereka membuka pintu. Aku merasa ingin lari dari kelas. Tapi aku seakan tertanam dikursi. Mereka berjalan pelan dan menatapku sekilas.

"Taruh rotinya di dekat situ aja."

"Tapi, Nin! Ada si.."

"Terus aku peduli?"

"Nin...Nin, pacarmu dah mau masuk kelas ini!"

Aku mengerti yang harus dilakukan. Berdiri menuju ke suatau persembunyian. Kamar mandi. Tempat itu menjadi tujuan, karena akan jauh dari tatapan menyakitkan itu. Saat berjalan dilorong kulihat dari jauh, Dino menatapku. Aku tau dia masih peduli tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Saat memandang cermin aku berkata dalam hati "Ada yang datang... Siapa ya?"

"Loh, kamu kok disini? Masih duduk di depan?" tanya Arin dengan ceria.

"Masih, Oh ia, kamu masih mau duduk sama aku?"

"Hmm... Gak tau Van, tergantung nanti ketua kelasnya. Tau gak sih, ada murid baru. Kemungkinan berubah posisi duduknya"

"Oh gitu ya..." ucapku sambil membilas tanganku di wastafel berkali-kali.

Aku berusaha berlama-lama di dalam sini. Tapi apa daya aku harus menghadapi kenyataan selanjutnya. Kembali ke kelas dan menatap wajah-wajah mereka.

"Nanti pinjam buku PR matematikamu ya?"

"Ambil aja di tasku Rin"

"Oke! Aku balik ke kelas duluan ya"

"Apa ini sebuah bully-an terselubung untukku. Aku hanya bisa diam dan dia,?!" Teraikku dalam hati,

"Aku ingin bicara dengan mereka, menanyakan dan mencari jawabannya tapi... Entah lah, mungkin sudah terlambat," rutukku.

Aku berdiri di depan pintu kamar mandi. Masih melihat Arin berjalan menuju kelas. Dia teman baikku dari awal aku masuk sekolah favorit ini. Sosok teman yang setia. Dia satu-satunya yang tak berubah. Aku bersyukur, masih bisa berbicara dengan orang lain di sekolah ini tanpa ada drama.

"Teman-teman, berhubung kita ada tambahan anak baru. (menunjukku dengan bolpoin) bisa tetap di sini dan Arin dibelakang sama Rina. Setuju?" ucap Putri dengan berkacak pinggang.

"A..aaku sendirian?"

"Iya aneh!" jawab ketua kelas dengan cetus.

"(Suara tepuk tangan)" dia melihatku tajam sekali.

"Setuju lah! Biar Arin bisa cepet-cepat vaksin dari virus," ucap Maya diikuti gelak tawa.

"Bisa aja, si Maya!" Teriak salah satu temanku perempuan yang paling jelas membenciku.

Aku perhatikan Arin, kesedihan tersirat tapi dia sama sepertiku hanya bisa diam. Benar sekali, di kelas ini, hampir seluruh teman seangkatanku mulai menunjukkan ketidaksukaannya kepadaku. Terutama teman-teman perempuanku.

Bahkan dari kelas lain juga menatapku dengan banyak arti. Tapi sikap antipati lebih ditunjukkan oleh mereka. Anak laki-laki di kelasku lebih memilih diam juga! Aku benci, kenapa laki-laki tidak bisa mendamaikan masalah sesama wanita, kecuali wanita itu dicintainya.

***

Flashback

"Maya, ini ada pin gambar winnie the pooh buat kamu. Aku dapat ini pas pergi ke toko buku. Kamu suka banget kan sama ini?"

"Wah vanya! Makasih banget ya! Kapan-kapan main ke rumahku. Pokoknya kamu harus main ke kamarku. Aku punya koleksi novel juga"

"Kalian ngapain sih, seru banget ngobrolnya." timpal Nindy sambil berusaha melihat pin bulat yang dibawa Maya.

"Aku juga beliin dong, Van. Kotak pensil bergambar babi!" Bujuk Mira yang merangkul tanganku.

Kebesamaan semacam itu sudah berlalu di waktu aku masih awal kelas satu. Tapi saat ini dikelas dua, momen itu cuma tinggal kenangan. Aku sedih ketika barang-barang yang pernah kuberikan ke mereka satu persatu sudah kutemukan di dalam laciku. 

"Hhh... Tuha, beri aku petunjuk. Apa yang membuat mereka tiba-tiba menjauhiku"

(Bel istirahat berdering)

Aku merapikan buku-buku. Ini istirahat kedua. Dan aku bahagia. Jam terakhir nanti adalah pelajaran kesenian. Waktu yang menyenangkan dan sebentar. Bagiku saat ini, berangkat lebih awal dan bel pulang sekolah adalah penyelamatku. Aku harus bertahan hingga lulus dari sekolah ini.

Di sisi lain aku menyesal telah masuk sekolah favorit ini. Aku seperti salah tempat atau mungkin sesuatu yang diriku ada yang salah. Sehingga, aku tak bisa menerima lingkungan di sekolah ini.

"Heh! Kamu. Jangan ngalamun aja" bentak Tyas sambil berkaca pinggang.

Aku kikuk dan berusaha tidak terpancing dengan sikap gadis paling pintar di kelas ini.
"Sabar...sabar" ucapku berkali-kali dalam hati.

"Liatin mata gue, aneh!"

"I..iyaa.. Kenapa?"

"Kamu tau gak sih, tatapan matamu ke Bayu itu seram. Lain kali pandanganmu dijaga. Dia pacarku."

"Maaf" ucapku menunduk.

"Bayu juga punya pesan untukmu. Jangan pernah curi-curi pandangan ke dia lagi. Mata kamu tajam, hmm... kayak elang. Tapi, itu pujian dari bu Dena, bukan dari aku!. menurutku sih, lebih mirip mata setan!"

"Lah emang kamu pernah lihat setan?" celetuk Pany

"Di depan kita ini siapa? Kalau bukan setan. Eh, kelakuan anehnya sih yang mirip setan."

"Gue heran ama lo, harusnya lo itu sering-sering check up kejiwaan ke psikiater,"

Aku masih terdiam dengan tawa mereka. Sekuat tenaga membungkam mulutku. Merapatkan kakiku. Aku melihat sekeliling. Temanku yang baik, Arin sudah pergi ke luar kelas. Bahkan, temanku jaman SMP yang bersikap ramah pun memilih menghindari genk ini.

Tiba-tiba, kantung mataku memanas. Aku harus mencari air. Membasuh luka yang akan membuatku terlihat lemah. Aku menunduk. Melihat lantai, tawa mereka dan tatapan mereka terus menghujaniku.

"Tolong berhenti" ucapku lirih

"Minggir, dia mau lewat euy! Lihat, si aneh bisa nangis..."

Aku menarik nafas panjang. Berdiri dengan posisi menunduk. Aku berjalan ke arah kamar mandi. Air mataku terasa mengalir di pipiku. Aku tak peduli, tatapan-tatapan yang lain.

Air keran kunyalakan, kubasuh muaku. Sedikit lebih baik. Tiba-tiba pintu kamar mandi tertutup keras. Aku sudah tidak panik. Ini mungkin kesekian kalinya aku dikunci dari luar. Satu kata untuk mereka, Kejam!


Sebulan berlalu, keadaanku masih tertekan dengan sikap mereka. Aku seperti kotoran di mata mereka. Tapi aku tak tau, termasuk jenis kotoran apa? Bau kah? atau mudah menularkan suatu penyakit? Bagaimana pun juga, aku tetap dipandang jijik!

Mendekati ujian akhir semester dua sebagai kelas 11, aku sangat bersyukur. Aku akan libur selama dua minggu. Tidak perlu mendapatkan perlakuan buruk. Hanya dua minggu saja, tapi mampu menghilangkan stress!

"Telepon berdering) "Pagi Vanya!" ucap seseorang diseberang sana.

"Pagi. Ada apa Rin?"

"Oh ia, besok kita ada ujian masak nih. Kita satu kelompok. Minta tolong ya, sekalian bawakan barang-barangku yang aku titipin ke pos satpam. Kamu kan, paling awal berangke ke sekolah."

"Iya.. Iya."

"Tolong pesankan telur ayam satu krat ke ayahmu. Soalnya besok ada acara 1000 harinya eyangku. Maaf ya, merepotkan,"

"Tentu, aku boleh tanya sesuatu?"

"Kamu sebenarnya tau penyebab Tyas dan lainnya menjauhi aku Rin?"

"Hmm... Soal itu, aku gak bisa jawab Van. Lagian aku heran, kalian dulu dekat sekali. Bahkan aku dulu sempat iri, karena gak bisa masuk ke genk mereka."

"Aku penasaran banget Rin. Seriusan!"

"Kamu yang sabar ya, Van. Aku masih mau jadi temen kamu. Tapi aku minta maaf, kalau selama ini aku lebih memilih diam. Aku sebenarnya ingin membelamu, tapi.."

"Tapi, kenapa Rin?!"

"Ya intinya aku gak bisa kasih tahu saat ini. Please, jangan tanya lagi soal itu. Pamit dulu nih. Aku mau siap-siap kursus taekwondo. See you!" jawab Arin tergesa-gesa dan telepon terputus begitu saja.

Aku meletakkan teleponku, kepalaku menjadi pusing. Aku terus berpikir, mencari titik ketenangan. Berusaha menerka-nerka apa kesalahanku terhadap mereka. Tapi, buntu. Aku tidak menemukan jawaban yang pasti.

"Hari ini aku mau baca apa ya? Komik atau novel? Novel aja ya. Serial detektif." ucapku dalam batin.

Novel adalah bacaanku setiap hari. Benda itu mampu meredam penat pikiranku. Aku seperti memiliki dunia sendiri. Aku menganggap diriku kuat. Karena bully-an yang aku alami, tidak membuatku ingin bunuh diri atau pindah sekolah.

***

"Pak, ini barangnya aku bawa ya?"

"Iya neng, bawa aja." jawab Satpam itu sambil menulis sesuatu di buku tamu.

"Ya ampun ini kok banyaknya. Satu kresek besar dan isinya cuma alat masak. Untung aja gak berat."

Aku berjalan di sepanjang lorong seoklah. Aku melihat sudah ada yang datang. Khususnya kelas IPA. Hari ini serempak akan ujian memasak di aula sekolah. Aku juga melihat 'mereka'.

"Vanya!, Sebelah sini," teriak Intan.

"Sebentar! Tolong bantuin dong," ucapku sedikit berteriak. Lalu, aku menambah kecepatanku berjalan agar aku segera bisa meletakkan barang-barang ini.

*"Brukk"*

Aku menoleh ke orang yang menggerutu di belakangku. Orang itu yang pernah menjadi tempat curhatku dulu. Sebelum aku dekat dengan Arin. Dia juga menjauhiku seperti 'mereka'.

"Sialan loh! Tiati lo jalan. Cih! (Meludah)"

Barang yang aku bawa tak sengaja menyenggol tangannya Wida. Salah satu dari 'mereka'. Aku tidak sempat berkata maaf. Aku terkejut perlakuan dia yang terakhir. "Dia meludahiku?!" teriakku dalam batin.

"Eh, tunggu dulu! Apa perlu ludahmu jatuh ke lenganku! Attitudemu dimana? tanyaku dengan berani. Widi langsung terdiam dan menunduk.

"Aku minta maaf Wid! Aku gak sengaja, tolong maafin aku," ucapku memohon. Aku berusaha mengambil tangannya. Dia pun tidak mengijinkan aku menyentuh tangannya.
"Udah Van, percuma kamu bicara. Dia gak akan mau membalas kata-katamu." tutur Arin yang langsung mendorongku untuk menjauhi Wida.

Dari kejauhan kulihat 'mereka' memperagakan aku yang keberatan membawa barang. Aku selalu jadi bahan canda tawa mereka. Keterlaluan. Ketika aku diam, mereka mengambil ahli tawaku. Dan disaat aku berbicara, mereka lah yang terdiam.

Flashbank

"Teman-teman, tolong berkumpul di bekas api unggun sebentar ya!" ucap ketua kelas dengan menggunakan towa.

"Eh, ada apaan itu? Yok, ke sana," ajak Tyas.

"Kalian ke sana aja. Aku yang jaga tenda," tuturku yang masih merapikan beberapa tas.
"Terserah kamu, Van. Tapi kata tenda sebelah, Dino bakal nyatain perasaannya ke seseorang. Tau gak loh, siapa disukai dia?"

"Ehh... Kamu yang dia suka. Aku yakin kamu!"

"Masa'sih, Van."

"Iya, nih. Vanya suka banget bikin kita senang," timpal Wida.

'Mereka' itu pusat segala perhatian yang ada di sekolah ini. Aku dekat dengan mereka karena satu hal. Aku lebih pintar dari mereka, tapi aku tidak lebih cantik. Malahan aku termasuk ke dalam golongan cupu.

Aku lemah ketika mereka meminta tolong. PR mereka sering aku kerjakan. Tanpa keberatan. Karena aku ingin ikut keren seperti mereka.

"Terima kasih sudah berkumpul di sini.. Ini Dino sudah menyiapkan bunga untuk diberikan seseorang!"

"Jadi selama ini, aku sudah menyukai seseorang, berharap dia disini..." ucap Dino gugup

"Loh Nin, kok dia ngomongnya gitu. Emang yang dia maksud siapa?!" Bisik Tyas ke Vanya.

"Aku tau kamu mendengar suaraku, kalau kamu berjalan ke arah sini dan berdiri di hadapanku. Aku akan menyatakan perasaanku ke kamu. Too..longg segera datang ke sini," pinta Dino

"Dino! Orang itu siapa?! Tanya Maya penasaran

"Vanya!"

"Apa! Dia? Kamu katarak kali ya, cewek item itu? Sadar woy. Lebih baik kamupeka dengan perasaannya Nindy," timpal Tyas kesal

"Kamu harus pilih Nindy" sahut Tyas di dekat Dino.

Dino hanya menoleh dengan tatapan kesal. Teman-teman yang lain ikut terpaku dengan kejadian yang mereka saksikan. Seorang Dino yang jadi bintang kelas bisa jatuh hati dengan Vanya.

"Iya Dino! Kamu harusnya pacaran dengan Nindy. Jangan sama aku..." ucapku penuh ragu.

'Mereka' segera mendekat berkata kasar kepadaku. Aku terdiam kesekian kalinya. Gelang yang mereka pakai dibuang lalu diinjak. Sejak saat itu, aku sudah dibuang oleh mereka.

Dino pun berkaca-kaca setelah aku menolaknya. Teman-teman yang lain membubarkan diri. Sejak saat itu semua berubah. Berawal dari 'mereka' diriku difitnah ini itu.

Bully-an ini menyadariku sesuatu. Diam dan sendiri itu seperti koin. Ketika kedua sisi itu berdiri dalam posisi yang sama, aku akan lebih kuat. Ketika sisi diam yang terjatuh, aku tidak sendiri, masih ada Tuhan.

Namun, jika sisi 'sendiri', yang terjatuh. 'Diam' adalah segalanya. Karena itu adalah sikap terbaikku. Aku alihnya dalam berdiam. Aku seperti bisa menghentikan segalanya. Rasa sakit dari ucapan mereka, terhanyut dalam kesunyian diam.