Cerita, Bittersweet Love

Cerita, Bittersweet Love

INIKECE - Setiap harinya aku melakukan rutinitas yang kian hari kian monoton. Kendati demikian, rutinitas yang aku lakukan ini justru menjadi salah satu definisi bahagia setiap orang yang turut ambil bagian dalam rutinitasku.

Kata 'pernikahan' tentunya sebuah kata yang mengandung sejuta makna kebahagiaan. Kata 'pernikahan' ini juga yang berada di balik kesibukanku selama ini.

Seperti pagi ini, meski mobilku baru melaju menuju jalanan padat ibu kota yang dipenuhi manusia-manusia yang juga punya akvitasnya masing-masing. Ponselku sudah berdering nyaring dan layarnya menunjukkan bahwa panggilan tersebut datang dari kantorku. Aku pun menjawab panggilan itu setelah mengurangi volume radio di dalam mobilku.

"Halo."

"Selamat pagi, Pak Leo."

"Iya, ada apa?"

"Saya mau mengingatkan bahwa pagi ini, pukul 9 tepat, bapak ada janji meeting dengan klien baru kita."

"Iya saya ingat. Tapi jalanan pagi ini macet sekali. Mungkin saya akan telat tiba di kantor. Tolong kamu urus dulu klien kita, nanti saya akan menyusul."

"Baik, pak."

Aku pun mempercepat laju kendaraanku karena kini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit, namun perjalanan yang harus aku tempuh kira-kira memakan waktu selama setengah jam.

Aku berusaha mencari jalur alternatif agar dapat tiba di kantor tepat waktu dan tentunya demi menjaga nama baik yang sudah kucetak pada perusahaan yang telah aku bangun selama kurang lebih lima tahun ini. Aku juga tidak ingin mengecewakan klienku yang sebentar lagi akan menyambut momen bahagia mereka.

Setelah melalui jalur alternatif yang tidak semulus jalan pada normlanya. Aku pun dapat tiba dengan selamat di kantorku. Untungnya, pengorbanan melewati jalur dengan jalan yang sempit dan sedikit berbatu berbuah manis, yakni aku tiba di kantor tepat waktu. Aku pun bergegas memasuki area kantor dan menuju ke ruanganku untuk meletakkan barang-barangku lalu mengarah ke ruang meeting.

Seperti dugaanku, ruang meeting telah terisi oleh beberapa staf dan tentunya kedua klienku. Aku pun segera mengambil posisi agar meeting dapat segera dimulai.

"Selamat pagi, maaf sudah membuat kalian menunggu. Ada sedikit kendala tadi di perjalanan," ujarku membuka percakapan lalu berjabat tangan dengan kedua klienku ini.

Ketika aku berjabat tangan dengan perempuan yang berjarak dua kursi dariku, aku sungguh terkejut. Wajahnya tidak asing. Sangat amat tidak asing, bahkan sangat familiar. Tanpa kusadari, senyuman tipis terutas di bibirku.

"Becca?"

Ia membalas senyumanku dengan kembali tersenyum. Aku tak menyangka bisa bertemu dengannya disini. Ada rasa bahagia yang menyeruak karena sudah sekitar sembilan tahun kami berpisah dan tak pernah bertemu satu sama lain. Begitu banyak hal yang ingin aku utarakan padanya, namun aku bingung harus mulai dari mana, hal apa yang harus aku utarakan terlebih dahulu.

Aku tersihir parasnya yang menawan pagi ini. Sesungguhnya parasnya selalu menawan, tak pernah gagal untuk membuatku terpukau.

"Apa kabar?" akhirnya dua patah kata mampu keluar dari mulutku.

"Baik. Lama nggak ketemu, sekarang jadi bos besar?" ujarnya lalu tertawa renyah.

"Bisa aja lo. Bos Besar dari mana. Ngawur aja," jawabku sambil tersenyum padanya.

Aku pun mengarah pada laki-laki yang tepat berada di sebelahnya lalu menjabat tangannya.

"Leonardo Harrison."

"Keith Davis."

"Langsung dimulai aja ya, meeting-nya." ujarku untuk memulai meeting ini secara resmi.

"Rencananya, tanggal berapa pernikahan kalian akan dilaksanakan?"

"19 Oktober," jawab Keith.

"Kalian mau mengusung tema apa untuk acara pernikahan kalian ini?"

"Intinya kita mau venue outdoor dengan ada nuansa bunga-bunga. Kita juga mau ada sentuhan warna-warna pastel," jawab Becca.

Hal yang ia utarakan rasanya pernah aku dengar sebelumnya. Aku pun teringat memori di masa lalu, ketika aku masih duduk di bangku SMA. Kala itu aku baru saja selesai menyaksikan film bioskop yang berjudul "Twilight". Masa itu, film tersebut sangat populer bagi khalayak karena mungkin plot cerita yang menarik, yakni kisah romansa antara manusia, vampir dan manusia serigala.

"Tadi lucu deh." ujar seseorang perempuan yang berjalan di sebelahku.

"Apanya? Vampir lagi tarung lo bilang lucu?" jawabku dengan nada yang meledek.

"Ih..Garing banget. lo, asli" ujarnya lalu meninju pelan lenganku dan aku hanya meresponnya dengan tawa renyah.

"Eh, tapi gue serius.. Itu lucu tadi konsep pernikahannya. Gue suka, nanti gue mau konsep acara pernikahan gue kayak gitu. Pasti lucu bangettt. Outdoor, terus banyak bunga-bunganya." Ia berkata sambil menerawang, membayangkan apa yang ia ucapkan lalu sambil tersenyum kegirangan.

"Heh, SMA aja belom lulus, udah mikirn nikah. Kayak udah ada calonnya aja," ledekku.

"Emang ya, lo itu temen gue yang paling ngeselin. Satu-satunya temen gue yang paling pedes hujatannya, tapi gue sayang," ujarnya yang sukses membuatku mematung setelah mendegar tiga kata terakhir darinya.

"Sayang sebagai sahabat maksudnya. Muka lo santai aja dong." Klarifikasinya itu membuatku tersadar dan sukses menarikku kembali ke dunia nyata.

"Kalo sayang sebagai doi, ya lo tau lah siapa," tambahnya lalu ia tersenyum tersipu malu.

Kenangan itu buyar seketika karena ponselku berdering. Aku pun keluar dari ruangan meeting untuk menerima panggilan tersebut. Pikiranku masih terpaku pada kenangan tersebut. Aku sungguh tak menyangka, orang yang sama mengatakan hal yang sama, namun hanya dipermainkan oleh waktu yang berbeda.

Seusai aku menerima panggilan tersebut, aku pun kembali bergegas ke ruang meeting agar meeting dapat kembali dilanjutkan. Meeting hari ini pun berjalan dengan lancar karena kami sebagai pihak organizer hanya mendengar keinginan dari klien kami.


Setelah meeting tersebut berakhir, Keith dan Becca meninggalkan ruangan meeting tersebut, begitu juga denganku. Sebelum masuk ke dalam ruanganku, aku pergi ke kamar kecil.

Tak kusangka, aku bertemu dengan Becca setelah menylesaikan urusanku di kamar kecil. Ia juga baru saja keluar dari kamar kecil tersebut. Kami berdua pun tersenyum satu sama lain, lalu aku pun bergegas ke arah ruanganku. Namun, pergelangan tanganku tertahan oleh sebuah genggaman tangan mungil di sampingku.

"Makasih, ya. Lo udah mau bantuin gue dalam merancang acara pernikahan impian gue ini. Gue tau, lo pasti inget kan apa yang gue bilang pas kita SMA waktu itu/ Gue bener-bener bersyukur banget bisa punya sahabat kayak lo. Makasih, ya udah jadi penyalur kebahagiaan gue." ujar Becca lalu menggenggam lenganku erat dan meletakkan pipinya di lenganku, persis seperti kebiasaannya ketika masih SMA dulu.

"Iya, sama-sama. Nggak usah lebay gitu ah. Gue seneng kok bisa bantu sahabat terbaik gue," jawabku lalu kami pun kembali menyuggingkan senyum satu sama lain. Becca pun bergegas ke arah pintu keluar sementara aku terus memperhatikan geraknya yang selalu sukses menghipnotisku.

Bulan berganti bulan, persiapan demi persiapa terus dilakukan demi menyukseskan acara pernikahan antara Becca dan Keith. Aku selalu mengusahakan yang terbaik dalam acara pernikahan mereka ini. Bukan karena ucapan Becca waktu itu, namun aku sungguh sangat ingin melihat senyumnya yang indah itu terus terutas di bibirnya.

Tak terasa, besok adalah hari yang sangat besar. Hari yang telah ditunggu-tunggu oleh kedua klienku, hari pernikahan mereka. Saat ini persiapan final sedang aku dan timku rampungkan agar acara besok dapat berjalan dengan lancar dan tentunya terhindar dari segala kendala.

Kini aku tersadar setelah selama ini aku melakukan pekerjaanku yang hasilnya akan terasa besok. Aku tersadar bahwa pada hakikatnya cinta tak harus memiliki karena cinta itu tidak egois. Disini, yang terpenting bukanlah 'aku' tapi 'kamu'. Maka dari itu, selalulah siap untuk merelakan jika bahagianya bukan padamu. Percayalah, menjadi penyalur kebahagiaan tidak seburuk itu rasanya.

Tentang Penulis

Saat ini Cindy tinggal di daerah Tangerang. Hobi saya adalah menulis cerita, membaca buku, mendengarkan lagu, dan menonton serial drama Korea. Saya juga suka menonton film horor.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment