Diamku, Rasa Tawa Dalam Dunia Vanya

Diamku, Rasa Tawa Dalam Dunia Vanya

INIKECE - Aku berdiri di ambang gerbang sekolah. Pagi ini, aku menjadi yang pertama masuk ke kelas. Aku berjalan menuju bangku ku. Terduduk, Termenung sesaat, Terkadang ada rasa tenang jika aku datang lebih awal.

Kelas ini terasa hening, tanpa ada tawa mereka. Aku membenci cara mereka bercanda. Karena tawa mereka bisa membuatku tak bersuara, alias diam.

"Ssst... Pokoknya nanti kita kasih kejutan di dalam kelas aja." ucap Nindy pelan.

"Ya udah kamu duluan masuk. Aku nunggu di luar untuk kasih kode," timpal Bayu

"Masih lanjut kasih surprise?" kata Pany meyakinkan.

"Tentu dong. Terus, sekarang kita masuk duluan ya," ucap kedua gadis cantik itu.

Aku mendengar bisik-bisik mereka dari balik jendela kelas. Tanpa harus menempelkan telingaku ke dinding, percakapan mereka sudah sampai ke telingaku. Perlahan, mereka membuka pintu. Aku merasa ingin lari dari kelas. Tapi aku seakan tertanam dikursi. Mereka berjalan pelan dan menatapku sekilas.

"Taruh rotinya di dekat situ aja."

"Tapi, Nin! Ada si.."

"Terus aku peduli?"

"Nin...Nin, pacarmu dah mau masuk kelas ini!"

Aku mengerti yang harus dilakukan. Berdiri menuju ke suatau persembunyian. Kamar mandi. Tempat itu menjadi tujuan, karena akan jauh dari tatapan menyakitkan itu. Saat berjalan dilorong kulihat dari jauh, Dino menatapku. Aku tau dia masih peduli tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Saat memandang cermin aku berkata dalam hati "Ada yang datang... Siapa ya?"

"Loh, kamu kok disini? Masih duduk di depan?" tanya Arin dengan ceria.

"Masih, Oh ia, kamu masih mau duduk sama aku?"

"Hmm... Gak tau Van, tergantung nanti ketua kelasnya. Tau gak sih, ada murid baru. Kemungkinan berubah posisi duduknya"

"Oh gitu ya..." ucapku sambil membilas tanganku di wastafel berkali-kali.

Aku berusaha berlama-lama di dalam sini. Tapi apa daya aku harus menghadapi kenyataan selanjutnya. Kembali ke kelas dan menatap wajah-wajah mereka.

"Nanti pinjam buku PR matematikamu ya?"

"Ambil aja di tasku Rin"

"Oke! Aku balik ke kelas duluan ya"

"Apa ini sebuah bully-an terselubung untukku. Aku hanya bisa diam dan dia,?!" Teraikku dalam hati,

"Aku ingin bicara dengan mereka, menanyakan dan mencari jawabannya tapi... Entah lah, mungkin sudah terlambat," rutukku.

Aku berdiri di depan pintu kamar mandi. Masih melihat Arin berjalan menuju kelas. Dia teman baikku dari awal aku masuk sekolah favorit ini. Sosok teman yang setia. Dia satu-satunya yang tak berubah. Aku bersyukur, masih bisa berbicara dengan orang lain di sekolah ini tanpa ada drama.

"Teman-teman, berhubung kita ada tambahan anak baru. (menunjukku dengan bolpoin) bisa tetap di sini dan Arin dibelakang sama Rina. Setuju?" ucap Putri dengan berkacak pinggang.

"A..aaku sendirian?"

"Iya aneh!" jawab ketua kelas dengan cetus.

"(Suara tepuk tangan)" dia melihatku tajam sekali.

"Setuju lah! Biar Arin bisa cepet-cepat vaksin dari virus," ucap Maya diikuti gelak tawa.

"Bisa aja, si Maya!" Teriak salah satu temanku perempuan yang paling jelas membenciku.

Aku perhatikan Arin, kesedihan tersirat tapi dia sama sepertiku hanya bisa diam. Benar sekali, di kelas ini, hampir seluruh teman seangkatanku mulai menunjukkan ketidaksukaannya kepadaku. Terutama teman-teman perempuanku.

Bahkan dari kelas lain juga menatapku dengan banyak arti. Tapi sikap antipati lebih ditunjukkan oleh mereka. Anak laki-laki di kelasku lebih memilih diam juga! Aku benci, kenapa laki-laki tidak bisa mendamaikan masalah sesama wanita, kecuali wanita itu dicintainya.

***

Flashback

"Maya, ini ada pin gambar winnie the pooh buat kamu. Aku dapat ini pas pergi ke toko buku. Kamu suka banget kan sama ini?"

"Wah vanya! Makasih banget ya! Kapan-kapan main ke rumahku. Pokoknya kamu harus main ke kamarku. Aku punya koleksi novel juga"

"Kalian ngapain sih, seru banget ngobrolnya." timpal Nindy sambil berusaha melihat pin bulat yang dibawa Maya.

"Aku juga beliin dong, Van. Kotak pensil bergambar babi!" Bujuk Mira yang merangkul tanganku.

Kebesamaan semacam itu sudah berlalu di waktu aku masih awal kelas satu. Tapi saat ini dikelas dua, momen itu cuma tinggal kenangan. Aku sedih ketika barang-barang yang pernah kuberikan ke mereka satu persatu sudah kutemukan di dalam laciku. 

"Hhh... Tuha, beri aku petunjuk. Apa yang membuat mereka tiba-tiba menjauhiku"

(Bel istirahat berdering)

Aku merapikan buku-buku. Ini istirahat kedua. Dan aku bahagia. Jam terakhir nanti adalah pelajaran kesenian. Waktu yang menyenangkan dan sebentar. Bagiku saat ini, berangkat lebih awal dan bel pulang sekolah adalah penyelamatku. Aku harus bertahan hingga lulus dari sekolah ini.

Di sisi lain aku menyesal telah masuk sekolah favorit ini. Aku seperti salah tempat atau mungkin sesuatu yang diriku ada yang salah. Sehingga, aku tak bisa menerima lingkungan di sekolah ini.

"Heh! Kamu. Jangan ngalamun aja" bentak Tyas sambil berkaca pinggang.

Aku kikuk dan berusaha tidak terpancing dengan sikap gadis paling pintar di kelas ini.
"Sabar...sabar" ucapku berkali-kali dalam hati.

"Liatin mata gue, aneh!"

"I..iyaa.. Kenapa?"

"Kamu tau gak sih, tatapan matamu ke Bayu itu seram. Lain kali pandanganmu dijaga. Dia pacarku."

"Maaf" ucapku menunduk.

"Bayu juga punya pesan untukmu. Jangan pernah curi-curi pandangan ke dia lagi. Mata kamu tajam, hmm... kayak elang. Tapi, itu pujian dari bu Dena, bukan dari aku!. menurutku sih, lebih mirip mata setan!"

"Lah emang kamu pernah lihat setan?" celetuk Pany

"Di depan kita ini siapa? Kalau bukan setan. Eh, kelakuan anehnya sih yang mirip setan."

"Gue heran ama lo, harusnya lo itu sering-sering check up kejiwaan ke psikiater,"

Aku masih terdiam dengan tawa mereka. Sekuat tenaga membungkam mulutku. Merapatkan kakiku. Aku melihat sekeliling. Temanku yang baik, Arin sudah pergi ke luar kelas. Bahkan, temanku jaman SMP yang bersikap ramah pun memilih menghindari genk ini.

Tiba-tiba, kantung mataku memanas. Aku harus mencari air. Membasuh luka yang akan membuatku terlihat lemah. Aku menunduk. Melihat lantai, tawa mereka dan tatapan mereka terus menghujaniku.

"Tolong berhenti" ucapku lirih

"Minggir, dia mau lewat euy! Lihat, si aneh bisa nangis..."

Aku menarik nafas panjang. Berdiri dengan posisi menunduk. Aku berjalan ke arah kamar mandi. Air mataku terasa mengalir di pipiku. Aku tak peduli, tatapan-tatapan yang lain.

Air keran kunyalakan, kubasuh muaku. Sedikit lebih baik. Tiba-tiba pintu kamar mandi tertutup keras. Aku sudah tidak panik. Ini mungkin kesekian kalinya aku dikunci dari luar. Satu kata untuk mereka, Kejam!


Sebulan berlalu, keadaanku masih tertekan dengan sikap mereka. Aku seperti kotoran di mata mereka. Tapi aku tak tau, termasuk jenis kotoran apa? Bau kah? atau mudah menularkan suatu penyakit? Bagaimana pun juga, aku tetap dipandang jijik!

Mendekati ujian akhir semester dua sebagai kelas 11, aku sangat bersyukur. Aku akan libur selama dua minggu. Tidak perlu mendapatkan perlakuan buruk. Hanya dua minggu saja, tapi mampu menghilangkan stress!

"Telepon berdering) "Pagi Vanya!" ucap seseorang diseberang sana.

"Pagi. Ada apa Rin?"

"Oh ia, besok kita ada ujian masak nih. Kita satu kelompok. Minta tolong ya, sekalian bawakan barang-barangku yang aku titipin ke pos satpam. Kamu kan, paling awal berangke ke sekolah."

"Iya.. Iya."

"Tolong pesankan telur ayam satu krat ke ayahmu. Soalnya besok ada acara 1000 harinya eyangku. Maaf ya, merepotkan,"

"Tentu, aku boleh tanya sesuatu?"

"Kamu sebenarnya tau penyebab Tyas dan lainnya menjauhi aku Rin?"

"Hmm... Soal itu, aku gak bisa jawab Van. Lagian aku heran, kalian dulu dekat sekali. Bahkan aku dulu sempat iri, karena gak bisa masuk ke genk mereka."

"Aku penasaran banget Rin. Seriusan!"

"Kamu yang sabar ya, Van. Aku masih mau jadi temen kamu. Tapi aku minta maaf, kalau selama ini aku lebih memilih diam. Aku sebenarnya ingin membelamu, tapi.."

"Tapi, kenapa Rin?!"

"Ya intinya aku gak bisa kasih tahu saat ini. Please, jangan tanya lagi soal itu. Pamit dulu nih. Aku mau siap-siap kursus taekwondo. See you!" jawab Arin tergesa-gesa dan telepon terputus begitu saja.

Aku meletakkan teleponku, kepalaku menjadi pusing. Aku terus berpikir, mencari titik ketenangan. Berusaha menerka-nerka apa kesalahanku terhadap mereka. Tapi, buntu. Aku tidak menemukan jawaban yang pasti.

"Hari ini aku mau baca apa ya? Komik atau novel? Novel aja ya. Serial detektif." ucapku dalam batin.

Novel adalah bacaanku setiap hari. Benda itu mampu meredam penat pikiranku. Aku seperti memiliki dunia sendiri. Aku menganggap diriku kuat. Karena bully-an yang aku alami, tidak membuatku ingin bunuh diri atau pindah sekolah.

***

"Pak, ini barangnya aku bawa ya?"

"Iya neng, bawa aja." jawab Satpam itu sambil menulis sesuatu di buku tamu.

"Ya ampun ini kok banyaknya. Satu kresek besar dan isinya cuma alat masak. Untung aja gak berat."

Aku berjalan di sepanjang lorong seoklah. Aku melihat sudah ada yang datang. Khususnya kelas IPA. Hari ini serempak akan ujian memasak di aula sekolah. Aku juga melihat 'mereka'.

"Vanya!, Sebelah sini," teriak Intan.

"Sebentar! Tolong bantuin dong," ucapku sedikit berteriak. Lalu, aku menambah kecepatanku berjalan agar aku segera bisa meletakkan barang-barang ini.

*"Brukk"*

Aku menoleh ke orang yang menggerutu di belakangku. Orang itu yang pernah menjadi tempat curhatku dulu. Sebelum aku dekat dengan Arin. Dia juga menjauhiku seperti 'mereka'.

"Sialan loh! Tiati lo jalan. Cih! (Meludah)"

Barang yang aku bawa tak sengaja menyenggol tangannya Wida. Salah satu dari 'mereka'. Aku tidak sempat berkata maaf. Aku terkejut perlakuan dia yang terakhir. "Dia meludahiku?!" teriakku dalam batin.

"Eh, tunggu dulu! Apa perlu ludahmu jatuh ke lenganku! Attitudemu dimana? tanyaku dengan berani. Widi langsung terdiam dan menunduk.

"Aku minta maaf Wid! Aku gak sengaja, tolong maafin aku," ucapku memohon. Aku berusaha mengambil tangannya. Dia pun tidak mengijinkan aku menyentuh tangannya.
"Udah Van, percuma kamu bicara. Dia gak akan mau membalas kata-katamu." tutur Arin yang langsung mendorongku untuk menjauhi Wida.

Dari kejauhan kulihat 'mereka' memperagakan aku yang keberatan membawa barang. Aku selalu jadi bahan canda tawa mereka. Keterlaluan. Ketika aku diam, mereka mengambil ahli tawaku. Dan disaat aku berbicara, mereka lah yang terdiam.

Flashbank

"Teman-teman, tolong berkumpul di bekas api unggun sebentar ya!" ucap ketua kelas dengan menggunakan towa.

"Eh, ada apaan itu? Yok, ke sana," ajak Tyas.

"Kalian ke sana aja. Aku yang jaga tenda," tuturku yang masih merapikan beberapa tas.
"Terserah kamu, Van. Tapi kata tenda sebelah, Dino bakal nyatain perasaannya ke seseorang. Tau gak loh, siapa disukai dia?"

"Ehh... Kamu yang dia suka. Aku yakin kamu!"

"Masa'sih, Van."

"Iya, nih. Vanya suka banget bikin kita senang," timpal Wida.

'Mereka' itu pusat segala perhatian yang ada di sekolah ini. Aku dekat dengan mereka karena satu hal. Aku lebih pintar dari mereka, tapi aku tidak lebih cantik. Malahan aku termasuk ke dalam golongan cupu.

Aku lemah ketika mereka meminta tolong. PR mereka sering aku kerjakan. Tanpa keberatan. Karena aku ingin ikut keren seperti mereka.

"Terima kasih sudah berkumpul di sini.. Ini Dino sudah menyiapkan bunga untuk diberikan seseorang!"

"Jadi selama ini, aku sudah menyukai seseorang, berharap dia disini..." ucap Dino gugup

"Loh Nin, kok dia ngomongnya gitu. Emang yang dia maksud siapa?!" Bisik Tyas ke Vanya.

"Aku tau kamu mendengar suaraku, kalau kamu berjalan ke arah sini dan berdiri di hadapanku. Aku akan menyatakan perasaanku ke kamu. Too..longg segera datang ke sini," pinta Dino

"Dino! Orang itu siapa?! Tanya Maya penasaran

"Vanya!"

"Apa! Dia? Kamu katarak kali ya, cewek item itu? Sadar woy. Lebih baik kamupeka dengan perasaannya Nindy," timpal Tyas kesal

"Kamu harus pilih Nindy" sahut Tyas di dekat Dino.

Dino hanya menoleh dengan tatapan kesal. Teman-teman yang lain ikut terpaku dengan kejadian yang mereka saksikan. Seorang Dino yang jadi bintang kelas bisa jatuh hati dengan Vanya.

"Iya Dino! Kamu harusnya pacaran dengan Nindy. Jangan sama aku..." ucapku penuh ragu.

'Mereka' segera mendekat berkata kasar kepadaku. Aku terdiam kesekian kalinya. Gelang yang mereka pakai dibuang lalu diinjak. Sejak saat itu, aku sudah dibuang oleh mereka.

Dino pun berkaca-kaca setelah aku menolaknya. Teman-teman yang lain membubarkan diri. Sejak saat itu semua berubah. Berawal dari 'mereka' diriku difitnah ini itu.

Bully-an ini menyadariku sesuatu. Diam dan sendiri itu seperti koin. Ketika kedua sisi itu berdiri dalam posisi yang sama, aku akan lebih kuat. Ketika sisi diam yang terjatuh, aku tidak sendiri, masih ada Tuhan.

Namun, jika sisi 'sendiri', yang terjatuh. 'Diam' adalah segalanya. Karena itu adalah sikap terbaikku. Aku alihnya dalam berdiam. Aku seperti bisa menghentikan segalanya. Rasa sakit dari ucapan mereka, terhanyut dalam kesunyian diam.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment