Horror Balerina, Kisah Cerita Halloween

Horror Balerina, Kisah Cerita Halloween

INIKECE - Yes, Sukses, Dea! You go and smash it, girl! Jangan lupa sama teman-teman, kalau nanti lo tur ke Eropa atau tampil di TV Amerika. Dea gue doakan yang terbaik. Pasti lo sanggup!

Masih banyak pesan lain bernada positif di akun medsos Dea, tapi dia terlalu gelisah untuk membawa semuanya. Bahkan AC ruang tunggu gagal menyejukkan kulitnya yang berkeringat. Demi menenangkan diri, dia menyisir ulang rambutnya yang lurus sebahu.

Di sekitarnya, para peserta audisi lain berlatih menyanyi, mengobrol, atau menulis status. Juru kamera berjalan berkeliling bersama dua orang kru, mewawancarai para peserta secara singkat dan bergantian. Saat Dea selesai bersisir, peserta di sebelahnya menyapa.

"Hai, Kak. Sudah sering ikut audisi ajang cari bakat?"

"Baru kali ini," jawab Dea. "Kamu?'

"Sama, baru sekarang. Kakak hobi nyanyi dari kapan?"

"Dari TK." Sejak dulu, menyanyi adalah hiburan sekaligus umber kekuatan bagi Dea. Melalui seni tarik suara, dia memupuk kepercayaan diri. Bahkan, saat Papa meninggalkan dia dan Mama demi istri barunya, Dea mampu meredam kesedihan dengan makin giat berlatih menyanyi.

"Aku kursus mulai kelas tiga SD," sahut peserta di sampingnya. "Disuruh ortu, sih. Lama-lama ketagihan. Ikut audisi The Songster ini inisiatif aku sendiri. Cari pengalaman, gitu, deh.."

Terlalu gugup untuk meladeni ocehan orang lain, Dea mengucapkan permisi dan pergi ke kamar mandi. Di sana, dia mencuci muka sampai dua kali. Akan tetapi, kegugupannya justruk makin berkecamuk.

Bagaimana kalau, saat menyanyi di depan juri, dia cegukan? Atau mendadak demam panggung dan lupa lirik? Padahal audisi ini momen terpenting dalam hidup Dea.

The Songster adalah kompetisi menyanyi dan franchise sebuah perusahaan media di Amerika. Bagi para juara, pintu peluang terbuka seluas-luasnya. Menyanyi di banyak negara, mengisi soundtrack film, sampai didaulat jadi duta produk, hanyalah segelintir dari tawaran yang mereka peroleh. Singkatnya, The Songster membuktikan bahwa ajang cari bakat bukan ketenaran lima menit, melainkan anugerah seumur hidup.

Dea mengikuti audisi ini untuk menang. Minimal menjadi runner-up atau tiga besar. Karenanya, dia rela membolos kuliah dan berisiko dihukum dosen. Mama pasti sangat bangga bila anak tunggalnya lolos audisi dan Deas pasti lolos!

Namun, peserta audisi hari ini saja ratusan jumlahnya. Sedangkan audisi berlangsung di tujuh kota. Saingan Dea ribuan orang, mungkin puluhan ribu, termasuk penyanyi profesional. Bagaimana jika dia terjegal di babak penyisihan?

Sambil membuka tas, dia meraba-raba isinya untuk mencari botol body spray. Dia butuh merasa nyaman, dan badan wangi adalah salah satu solusinya. Sepintas dia heran, mengapa dari tadi kamar mandi ini kosong. Apa semua peserta audisi wanita memakai kamar mandi lain? Lalu jemari Dea menyenggol sebuah benda keras.

Sadar benda apa itu, dia menariknya keluar, sebuah kotak musik putih polos tanpa ukiran. Mama meberikannya pada Dea setelah dia mengirim formulir audisi. Kata Mama, benda ini dulu milik bibinya.

Bibi Mama juara festival nyanyi sewaktu muda, sama dengan impiam kamu. Bawa saja kotak musik ini ke audisi, supaya kamu ingat Mama dan tetap semangat.

Ketika Dea membuka kotak musik, sesosok balerina kecil dari porselen berdiri dari dasar kotak. Baju dan sepatunya berwarna merah kesumba. Kedua kaki baleria berjinjit dan lengannya terentang. Biasanya Dea senang melihat si balerina, tapi kali ini ada yang berbeda.

Senyum balerina yang manis berubah menjadi seringai. Bibirnya segelap darah, bukan merah jambu seperti biasanya. Di telinga Dea, terdengar suara rendah dan parau.

Aku bukan balerina yang asli, Dea. Aku monster. Balerina asli sudah kumakan. Mainkan musiknya, dan kau akan kumakan juga.

"Ngaco, ah," bisik Dea. Namun, bukannya sebal karena berkhayal bukan-bukan, dia justru gentar. Sambil berharap perasaannya membaik setelah mendengarkan lagu, dia memutar kunci di samping kotak.

"Fur Elise" mengalur pelan dalam denting piano. Si balerina berputar perlahan. Bibirnya kembali merah jambu dan tersenyum manis. Sambil menonton gerakan sosok porselen itu, lambat laun Dea kembali tenang. Dia bahkan tak lagi heran mengapa kamar mandi tetap kosong.

Lalu dia melihat tulisan di dasar kotak. Seraya memicingkan mata, Dea membaca 'Play a song and make a wish'. Baru kali ini dia melihat tulisan itu, huruf kecil putih seperti dasar kotak, hingga nyaris tak tampak.

Yah, dia sudah memainkan lagu. Apa salahnya sekalian mengajukan permintaan?

"Aku minta, suaraku tiga kali lipat lebih bagus," katanya. "Juri, penonton, dan semua pemirsa TV suka. Sampai aku jadi juara The Songster. Tolong kabulkan"

Jrang! Dea terlonjak kaget. Alunan "Fur Elise" terhenti, terpotong bunyi kasar mirip tuts piano dipukul. Merasa seperti habis dibentak, Dea menutup kotak musik.

Buang-buang waktu saja, memainkan barang tua ini! Padahal lebih baik dia berlatih menyanyi. Dengan malu bercampur kesal, Dea kembali ke ruang tunggu.

Satu jam kemudian, akhirnya Dea dan sembilan peserta lain dipanggil. Seorang kru mengantar mereka ke ruang tunggu kedua, yakni perhentian terakhir sebelum ruangan audisi. Saat tiba giliran Dea maju ke depan para juri, jantungnya berdebar keras sampai dia pening.

Sikap para juri tidak menggembirakan. Ekspresi mereka tak acuh, disertai basa-basi bernada tawar. ("Hobi kamu nyanyi? Oh. Ikut audisi tujuannya apa? Ya, Ya.") Jelas sekali mereka sudah jemu, dan ingin lekas pulang ke hotel.

Pokoknya kerahkan upaya maksimal, pikir Dea, dan mulai melantunkan lagu.

Dia nyaris tidak mengenali suara yang keluar dari mulutnya. Lembut tapi kuat, lebih merdu daripada nyanyiannya yang biasa. Suara itu memenuhi tiap sudut ruangan audisi, sampai Dea sendiri menrinding, merasa tersihir.

Ketiga juri, bahkan para kru, menonton dengan terpukau. Usai Dea menyanyi, para juri berdiri dan bertepuk tangan. Bahkan sebagian kru turut berseru memuji. Seraya tersipu, Dea mengucapkan terima kasih berkali-kali.

"Sinting," cetus juri paling senior. "Luar biasa! Brovo! Entah kamu kerasukan, atau ini suara paling fenomenal yang pernah kami dengar."

Lima bulan selanjutnya melampaui mimpi-mimpi terindah Dea. Video audisinya yang berjudul lagu "Malaikat Juga Tahu" Dibawakan Suara Malaikat ditonton belasan juta kali. Di tiap babak, para juri menyanjung penampilannya dan memberikan kritik membangun. Mama, semua teman Dea, bahkan guru-guru di SMA swasta tempat Mama mengajar, gencar mengirim vote. Hingga akhirnya Dea mendarat mulus di babak tiga besar.

Selama kompetisi berlangsung, kotak musik itu menghuni laci lemari baju. Satu kali Dea memutarnya, dan semua berjalan normal. Lagu mengalun lancar, si balerina tersenyum dengan bibir merah jambu.

Betulkah kotak musik ini mengabulkan permintaannya? Pasti hanya sugesti saja. Mengucapkan permintaan keras-keras konon bisa menguatkan niat, yang berakibat keluarnya segenap kemampuan. Ya, pasti itu yang terjadi.

Pada malam final, Dea merebut gelar juara The Songster Indonesia season ini. Tak ada yang terkejut, termasuk Dea sendiri. Tangis bahagia Mama selagi Dea turun dari panggung, banjir ucapan selamat, semua menebus segala kelelahannya.

Hidup Dea yang baru ini fantastis, dan dia tak akan menukarnya dengan apa pun.

***

Pagi Minggu itu dia baru bangun pukul delapan. Tadi malam dia mengikuti syuting acara TV, dan baru pulang pukul dua pagi. Seisi rumah sepi, hari ini jadwal Mama berolahraga senam bersama ibu-ibu kompleks.

Begitu mama pulang, Dea akan mengajak beliau jalan-jalan. Makan siang di luar, berbelanja, pokoknya melakukan apa pun yang Mama inginkan. Itulah mengapa seorang anak harus sukses agar orangtuanya bahagia.

Sambil menguap, dia turun dari tempat tidur dan membuka laci lemari baju. Dea mengeluarkan kotak musik, lalu duduk bersila dan menaruh kotak di lantai. Seremeh apa pun peran benda ini dalam kemenangannya, peran itu patut dihargai.

"Makasih, ya," ujar Dea. "Waktu kompetisi kemarin, sudah bantu aku..."

Klak! Tutup kotak terbuka sendiri dan balerina porselen itu bangkit tegak. Terjadinya begitu cepat hingga, sebelum Dea sadar, baleria itu sudah berputar.

Kepala balerina mendongak. Kedua lengannya turun, dan tatapannya bertemu mata Dea. Seringai merah darah mengembang di wajah balerina. Spontan Dea melompat berdiri dan secercah ingatan dari hari audisi menggema dalam benaknya.

Aku monster. Balerina yang asli sudah kumakan, dan kau akan kumakan juga. Mulut Dea membuka, ingin berteriak, tapi tak ada suara keluar. Dia mengerahkan segenap tenaga sampai otot-otot lehernya sakit, tetap saja hasilnya nihil. Sementara itu, baleria terus menatapnya dengan seringai yang makin lebar.

"Suara bagus sampai jadi juara The Songster," kata balerina. Suaranya sendiri merdu, memesona, suara seorang juara kompetisi menyanyi. "Itu yang kamu minta. Itu yang kamu dapatkan. Bagaimana? Kamu senang selama lima bulan ini?"

Balerina itu tertawa. Suaranya menusuk gendang telinga Dea. Ingatan akan suaranya yang kini hilang, nyanyiannya di atas panggung, berdengung di dalam kepala.

"Bibinya mama kamu sama dengamu," lanjut balerina. "Ingin menang festival menyanyi, lalu akhirnya jadi juara. Besok tiba-tiba dia lari ke jalan seperti orang kerasukan, dan tewas tertabrak mobil. Mamamu lupa bilang, bukan?"

Tawa balerina berkumandang lagi, tapi Dea tidak mendengarnya. Dia berlari ke luar rumah, mulutnya menganga, setengah mati berusaha meminta tolong. Seorang tetangga memanggilnya, dan Dea berpaling tepat di tengah jalan saat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.

Tentang Penulis :

Eve Shi senang menulis sejak kecil. Dia telah menerbitkan delapan novel cetak dan sedang merambah online fiction.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment