Menanti Perempuan Buku Kembali

Menanti Perempuan Buku Kembali

INIKECE - Sendirian seperti biasa alkemis menghabiskan senja dengan menikmati Kopi Flores yang khas ditemani jagung pulut muda yang digoreng dicampuri sedikit bumbu pedas. Hembusan angin laut Pantai Lasiana membawanya mengingat perkenalan singkatnya dengan Aurora, gadis berwajah Indo dalam perjalanan Kupang Lewoleba sekitar tujuh bulan silam.

Dalam lamunan sambil memandang mentari yang perlahan namun pasti menuju peraduan, pemuda yang selalu bangga dengan zodiak Ariesnya ini berusaha mengingat kembali pertemuan tidak sengaja yang sulit untuk dilupakan.

Wajah yang pirus, tutur kata yang tegas namun bersahaya seolah-olah menjadi daya tarik tersendiri. Belum lagi senyum khas dengan sorot mata tajam seperti putri Maroko pun hadir.

Alkemis seperti sedang terbuai asmara untuk kembali bertemu. Dalam kayalan yang absurd berharap suatu saat nanti gadis yang jurnalis itu menemaninya minum kopi di tempat yang sudah menjadi langganannya setiap kali menginjakkan kaki di Kota Kupang yang panas. Tempat tersembungi, dimana tidak semua pencinta senja tahu.

Alkemis seperti menyembunyikan tempat itu dari para koleganya. Tidak pernah sekalipun teman-temannya di ajak ke sana. Tempat yang spesial untuk dirinya. Boleh jadi Aurora orang yang pas untuk menemaninya ngopi di sana.

Meski begitu ada keraguan jangan-jangan gadis yang selalu membawa buku kemanapun pergi itu masih kenal dirinya seandai mereka bertemu secara tidak sengaja.

Sebagai wartawan wanita pasti berkenalan dan memiliki banyak sekali teman baik perempuan maupun laki-laki yang jauh lebih hebat, kata Alkemis dalam hatinya.

Pengalaman sebagai aktivis politik selama ini membuat Alkemis paham bahwa wartawan merupakan makluk sosial yang bebas dan terbuka termasuk dalam berelasi. Kenyataan yang terkadang membuat sebagian laki-laki berduit menganggap wartawan perempuan gampang untuk diajak apa saja bahkan terkadang bisa diajak tidur.

Gambaran itulah yang membuat dirinya ragu-ragu untuk kembali mengirim pesan kepada sang dewi sekalipun sekadar mengucapkan 'say hallo' khawatir tidak dibalas seperti yang sudah-sudah.

Alkemis hilang percaya diri. Itu juga jadi alasan mengapa tidak kembali untuk mencoba menghubungi gadis impian.

Ceritanya, beberapa hari setelah berpisah di Bandara Lewoleba, Alkemis layaknya semua laki-laki normal mencoba menyapa perempuan yang pernah berkenalan dan apalagi bersedia menyimpan normor kontak.

Seperti kebanyakan laki-laki, sapaan awal melalui pesan singkat pun cenderung klise. Sekadar menanyakan sudah sampai di mana? Keadaannya seperti apa? Dan banyak lagi pertanyaan sambil berharap para wanita merespon ramah.

Terkadang para lelaki sudah mengetahui jawabn namun tetap saja begitu sejak jaman purba relasi antara laki-laki dan perempuan.

Sayangnya tidak sekalipun Aurora membalas pesan yang dikirmkan. Alkemis yang mengagumi Aurora karena suka membaca dan pintar pun bertanya-tanya mengapa perempuan ramah dan hangat ketika bertemu dalam perjalanan tiba-tiba tidak membalas pesan singkat yang dikirim.

Meskipun ada kecurigaan, jangan-jangan keramahan hanya pura-pura, tapi Alkemis masih menaruh harap bahwa mereka pasti kembali berjumpa. Rasa rindu yang hebat seperti sedang menghadapi jalan terjal.

Mulanya Alkemis beranggapan boleh jadi tidak dibalas karena tidak ada sinyal selama di Lamalera atau karena gadis yang sudah matang ini tidak mau diganggu waktu vacancy-nya.

Namun, karena lama menunggu dan tidak sekalipun balasan itu datang, Alkemis pun mulai ragu jangan-jangan dia bukan lelaki yang menarik di mata Aurora sehingga sekadar membalas pesan pun ogah.


Mentari sudah mendekati cakrawala. Dari atas rumah panggung kafe yang berjarak beberapa meter saja dari bibir pantai terlihat laut yang ramah dengan wajah langit merona. Gelombang pun memecah malas seperti tak ingin mentari lekas pergi.

Suasana bertambah sepi karena tidak ada lagi suara anak-anak yang biasanya dulu sering bermain dan berenang di pinggir pantai. Mereka sudah tidak berani lagi karena takut disamar buaya yang sering berkeliaran mencari makanan karena ekosistemannya yang rusak.

Senja pun berganti malam ketika lampu kafe dinyalakan, sementara belum ada pengunjung yang datang. Keheningan yang menambah keresahan. Aurora dimanakah kau berada, rindu aku ingin jumpa.

Lelaki dewasa yang sedang jatuh cinta ini kemudian membuka Youtube, lalu mencari lagu lawas 'Dinda' milik Kla Project yang populer bersama lagu Yogyakarta.

Suara khas Katon Bagaskara dalam lagu seolah mengoba merindu mencari dan berharap kekasihnya kembali semakin membuat Alkemis gelisah.

Alkemis larut dalam lagu. Berulang-ulang didengarkannya lagu itu sambil ikut berdendang kecil. Memang lagu ini sangat populer di kalangan mahasiswa ketika Alkemis kuliah dulu.

Sebagian besar mahasiswa pasti menghafal lirik lagu ini luar kepala. Lagu yang menarik memori masa lalu kembali muncul dan mengingat semua nostalgia ketika kuliah di kota Gudeg. Meski begitu bayangan Aurora makin jelas terlihat.

Dalam hatinya Alkemis mulai bertanya perempuan macam apa ini bisa membuat lelaki paling cuek ini begitu larut memikirkannya.

Padahal, semua pencinta zodiak tahu bahwa Aries adalah makluk paling tidak peduli termasuk dalam urusan asmara. Bahkan terkadang para wanita yang lebih dahulu memulai membangun komunikasi. Akan tetapi menghadapi Aurora semua ego zodiak dengan lambang kepala domba ini gugur.

Sebelum meninggalkan kafe ketika sudah ada beberapa pengunjung yang datang, Alkemis pun memberanikan diri untuk mengirim kembali pesan singkat dan anggap saja sebagai kesempatan terakhir.

Bila saja Aurora kembali tidak membalas dalam beberapa waktu, dia akan menghapus nomor Aurora dari daftar kontak sebagai cara untuk mengakhiri harapa. Anggap saja bukan jodoh.

Dibukanya daftar panggil lalu mencari nama Aurora Perempuan Buku. Dia lalu mengirimkan pesan singkat. Sengaja memang menambahkan Perempuan Buku di belakang nama untuk memudahkan mengingat pertemuan pertama di bandara. Dan, Aurora sendiri setuju di belakang namanya ditulis begitu.

"Malam Mbak Aurora apa kabar? Ini Alkemis yang pernah berjumpa waktu perjalanan dari Kupang ke Lewoleba. Masih ingatkan? Mudah-mudahan. Salam"

Setelah mengimrkan pesan lalu menuju mobil untuk meninggalkan kafe yang romantis di malam hari. Dalam perjalanan pulang kembali ke Kupang yang sudah mulai padat di malam hari, di tengah hujan tipis menjelang Natal, hati kecilnya terus berharap siapa tahu mendapat balasan. Setiap bunyi SMS atau WhatsApp yang masuk langsung dilihat. Namun tidak satupun muncul nama yang ditunggu.

***

Gunung Inerie menjulang tinggi. Terlihat cantik dari kejauhan sayang cuma sendiri. Diselimuti awan tipis menambah rasa sepi bagai gadis yang merindu kehadiran kekasih. Cantik namun sedih.

Sementara pancaran cahaya matahari dari ufuk timur membentuk bayangan hitam bak rambut panjang terurai di sisi kanan kaki gunung. Mengingatkan pada komik-komik masa kecil tentang legenda putri cantik Eropa yang rambutnya melambai panjang terurai.

Angin sepoi-sepoi menggoda pucuk-pucuk pohon pinus yang terus melambai sambil mengeluarkan bunyi seperti berbisik. Buara burung-burung pagi bersahutan dengan bunyi yang beraneka. Ekspresi alam begitu sempurna.

Barangkali ini menjadi alasan mengapa banyak penakluk Flores selalu merindukan untuk dapat istirahat sejenak di Manulalu. Menginap di tempat yang tersembunyi dan jauh dari keramaian Kota Bajawa. Dengan lingkungan yang asri serta pepohonan yang menjulang tinggi menambah suasana nyaman seolah-olah sedang berada dalam Taman Firdaus di bumi.

Dari beranda belakang cottage berbentuk kubah dengan dominan warna putih ini, dengan kepala yang masih diselimuti handuk karena habis keramas, Aurora mengambil dua ponsel yang dari semalam mati karena kehabisan baterai.

Setelah menghidupkan androidnya, dia lalu berdiri di salah satu pojok yang view-nya paling ideal untuk mengabadikan panorama Manulalu d waktu pagi yang eksotik. Semua yang ada di depannya diabadikan.

Tanpa peduli dengan bunyi notifikasi yang masuk ke ponselnya, Aurora fokus mengambil gambar semua objek yang dia sukai. Pengalamannya sebagai wartawan foto membantu dirinya untuk memilih sudut-sudut yang ideal agar mendapatkan gambar foto yang bagus.

Desa Adat Bena juga menjadi sasaran jepretannya. Desa yang terletak tepat di bawah kaki Gunung Inerie. Dari kejauhan hanya terlihat atap-atap rumah adat yang membentuk formasi tertentu sekaligus menjadi ciri khas penambah daya tarik untuk berkunjung ke sana.

Setelah mengabadikan semuanya, sambil menyeduh minuman kesukaan yang selalu dibawa kemanapun pergi, Aurora seperti biasa mulai membuka semua pesan yang masuk baik melalui SMS ataupun WhatsApp. Dia memilih mana saja yang harus direspon lebih dahulu. Tentu saja diutamakan yang berkaitan dengan pekerjaan termasuk membalas beberapa komentar yang ada dalam group teman-teman sekantor.

Tiba-tiba matanya menangkap ada kiriman WhatsApp dari nomor baru yang muncul di layar ponselnya. Dia membuka kemudian membaca pesan: "Malam Mbak Aurora apa kabar? Ini Alkemis yang pernah berjumpa waktu perjalanan dari Kupang ke Lewoleba. Masih ingatkan? Mudah-mudahan. Salam"

Dia menatap lama sekali pesan tanpa langsung membalas. Sambil kembali mengingat memori pertemuan, pandangannya dibiarkan lepas jauh melampaui Gunung Inerie. Dia mulai ingat pertama kali bertemu di Bandara El Tari. Lalu kehangatan dalam perjalanan di pesawat. Ngobrol lama di pelataran bandara Lembata. Lalu saling tukar nomor ponsel. Lalu berpisah. Sialnya ponsel itu jatuh dalam laut ketika berperahu di Lamalera sehingga semua data dan nomor kontak pun hilang.

Dalam hati kecilnya, dia ingin sekali suatu saat bisa kembali bertemu Bang Alkemis. Ya untuk sekadar ngobrol atau bertukar cerita tentang buku atau novel. Jarang sekali gia temukan lelaki yang hangat dan sekaligus suka membaca.

Tapi tidak mungkin keinginan itu dia ungkapkan saat membalas WhatsApp untuk pertama kali.

"Selamat pagi, Bang. Aku ingat ko, Bang. Kabar baik. Gimana juga kabar abang. Maaf baru baca."

Sesudah membalas pesan Alkemis, dia mengunggah foto-foto terbaik hasil jepretannya ke Facebook dan Instagram dengan tulisan 'Manulalu' sambil berharap ada yang memberikan komentar dan jempul untuk postingannya.

Tanpa peduli dengan rambutnya yang berhanduk, Aurora mengeluarkan laptop untuk meng-update berita yang beberapa hari terlewatkan. Dia sengaja menghabsikan hari di penginapan tanpa ada agenda sekaligus untuk recovery (pemulihan, Red).

Paling jauh selepas makan siang menuju Kampung Bena ygn tidak jauh dari penginapan.

"Makasih ya mbak mau balas. Aku pikir udah lupa. Dulu aku pernah WA tapi ga pernah balas. Sekarang posisi? Flores? Jakarta? atau dimana?"

Tanpa menunggu perempuan tomboy langsung membalas WhatsApp.

"Aduhhh maaf abang, bukannya gak balas tapi ponselku kecebut laut saat diajak naik perahu oleh nelayan di Lamalera."

Seperti berlomba Alkemis pun membalas cepat.

"Sorry kalau begitu aku salah duga. Sekarang dimana?"

"Aku di Flores, kok. Sekarang nginap di Manulalu."

"Ngapain? Travelling lagi, ya. Cinta banget sama Flores."

Membaca balasan dari Alkemis, dia tersenyum sambil terus menulis.

"Aku ke Flores tiga hari yang lalu. Mulai dari Maumere. Lalu ke Kelimutu, lalu foto-foto di Rumah Pembuangan Bung Karno di Ende. Juga persiar ke Taman Bung Karno."

"Bagus udah sampe ke Kota Pancasila. Di situ Pohon Sukun tempat Soekarno merenung tentang Philosophische Grondslag. Tentang dasar negara yang kita kenal dengan Pancasila."

"Tapi sayang bang, tamannya jorok seperti tidak terurus padahal ada patung Bung Karno."

"Iya juga sih, mbak."

"Bila saja Bung Karno masih hidup pasti dia suruh pindahkan patungnya karena tidak sesuai dengan dirinya yang bersih."

"Kayaknya kamu banyak membaca tentang sisi hukamis Bung Karno, ya?"

"Ayah saya pengagum BK, bang. Koleksi bukunya banyak. Oh ya bang, hari ini aku istirahat ko Bang. Nikmati suasana Manulalu."

"Pantesan. Oh ya baru ingat, kamu kan suka baca. Hati-hati ntar kepincut cowok Flores lho, he he he he."

Aurora sudah bisa menebak pasti Alkemis berharap dirinya merespon godaan tentang cowok Flores. Namun pengalaman serta kedewasaan membuat dirinya tahu bagaimana memberi batas tanpa ada merasa terganggu dalam berelasi dengan dirinya. "Bang Alkemis di mana nih?"

"Abang di Kupang. Asyik jalan terus. Flores itu memang menarik sekali. Jangan lupa yang mampir ke Riung masih perawan, lho. Gak kalah lho ama Labuan Bajo,"

"Iya Bang. Besok aku rencana mau ke sana."

"Ada yang nemain gak ya?"

Sambil kembali tersenyum, Aurora menjawab ringkas "Sendiri."

"Ok deh Aurora. Kapan balik ke Jakarta? Kalo lewat Kupang kabari biar bisa ketemuan. Ada tempat kopi yang bagus. Dari situ kita bisa melihat kota Kupang yang hijau di musim hujan. Siapa tahu kamu suka."

"Iya bang makasih atas ajakannya. Aku balik lewat Kupang ko, Bang. Aku mau beli miniatur Sasando untuk dibawa ke Jakarta. Ada kawanku pesan."

"Ok kabari ya biar abang ajak minum kopi sambil diskusi. Ada novel bagus yang sudah abang baca, siapa tahu kamu suka. Sekalian abang temani kamu nyrai Sasando. Abang kenal dengan pemiliknya."

"Makasih ya bang. Sampe ketemu."

"Ditunggu. Sama-sama."

Tanpa terasa Aurora larut dalam komunikasi WhatsApp hampir sejam dengan orang yang baru sekali kenal. Itupun secara tidak sengaja. Dia pun mengubah rencana perjalanan yang sebelumnya via Labuan Bajo lalu memilih balik Jakarta via Kupang dengan alasan ingin membeli sesuatu sebagai suvenir.

Semua itu dilakukan sebagai upaya untuk bisa bertem Alkemis.

Benih-benih rindu pun menguasai perasaan. Inginnya cepat-cepat ke Kupang. Terlintas untuk membatalkan ke Riung. Hanya karena semua sudah dibayar, wanita lajang ini tetap memutuskan untuk ke sana meski waktunya dipersingkat cuma semalam.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aurora sudah tinggalkan Riung menuju Bandara Soa untuk terbang ke Kupang.

Sepanjang perjalanan sambil menikmati udara pagi yang masuk melalui jendela mobil sambil mendengarkan lagu-lagu rancak irama reggae berbahasa daerah dari tape mobil travel tidak lupa dia kirimkan pesan singkat ke Bang Alkemis.

"Siang ini aku masuk Kupang ya, Bang."

(Kupang, 18 Januari 2019).
Reactions:

0 comments:

Post a Comment