Perempuan Penunggu Waktu

Perempuan Penunggu Waktu

INIKECE - "Mencintai itu rumit, bukan?" Seorang perempuan berkerudung merah yang entah dari mana munculnya memulai sebuah cerita. Dan aku hanya mengangguk pelan seolah mengerti atau hanya ingin menghargainya.

Perempuan itu sungguh misterius menurutku. Entah dari mana ia muncul. Wajahnya terlihat sendu. Mungkin waktu lebih mengenalinya.

"Mencintai itu rumit, bukan?" katanya mengulangi. "Bahkan kau telah sepenuhnya berupaya, sedangkan tiada seseorang pun yang menunggu di akhir perjalanan. Kau yang telah mengerahkan segenap kekuatanmu hanya untuk meraih sesuatu yang tidak ada. Lantas, mengapa kau mau melakukannya?"

"Mencintai itu sakit, bukan? Ketika kau telah sepenuh hati menghidupkan perasaan di dalam hati seseorang lainnya, tetapi tiada jawaban yang bisa kamu temukan di sana. Hanya ruang-ruang kosong dan kepingan-kepingan luka yang berserakan."

Perempuan itu terlihat telah mengalami semua luka. Bahkan dibawah cahaya bulan, kerudung merah terlihat seperti dilumuri darah. Entah darah siapa.

"Apa kau pernah mengalaminya?" Tanyanya kemudian.

"Entahlah. Aku sendiri tidak memiliki hati. Bagaimana bisa aku memahami semua perih. Bahkan mengalami semua pedih karena cinta yang banyak di bubuhi kisah sedih. Ya, aku pikir bisa jadi tuhan masih sedang memilih-milih, calon pasangan yang lebih memiliki hati yang putih. Atau bisa jadi, luka lamaku yang masih belum pulih."

"Kau pasti akan mengalaminya," katanya meyakinkan. Seolah-olah seluruh makhluk di bumi ini akan tau pasti mengalami patah hati yang sama. Aku pikir, aku maerasa bersyukur sekali. Sebab aku tidak harus mengalami patah hati jaka dadaku sendiri saja kosong tak berisi.

Perempuan berkerudung merah itu mulai menghampiri. Mengamatiku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Lalu, bergumam, seolah-olah ia sedang mencari-cari sisa ingatan lalu.

"Ah, aku mengenalimu. Bukankah kau perempuan yang dulu pernah menunggu di sini?" Katanya tiba-tiba. "Apakah sesosok manusia yang berjanji menghadiahmi waktu telah kau jumpai?" Tanyanya penasaran.

"Apa maksudmu? Aku tak mengerti," tanyaku heran.

"Apa kau lupa, 2 tahun lalu kau pernah berdiri di sini. Sembari menghitung detak jam yang terus berangsur pergi. Dan kau bilang dengan penuh semringah bahwa kau sedang menunggu sebuah waktu dari kekasihmu yang merupakan manusia paling sibuk itu. Katamu juga, kekasihmu akan menghadiahimu sebuah waktu yang semuanya dipenuhi hanya untukmu. Lalu, apakah kekasihmu menepati janjinya?"

"Maaf, mungkin kau salah orang. Aku sama sekali belum pernah memiliki kekasih. Apa kau tak melihat dadaku tidak memiliki ruang?"

"Tidak. Aku yakin perempuan itu kau. Apa akhirnya kau mengalami kepatahan sebuah hati? Lalu, apa kau benar-benar telah berhasil melumpuhkan semua waktu?"

***

2 tahun lalu, di bawah sinar Bulan

Seorang perempuan sedang menunggu kekasihnya. Perempuan itu terlihat bahagia, seolah-olah seluruh semesta memenuhi isi kepalanya.

Dari sudut jalan, seorang perempuan berkerudung merah memperhatikannya. Ia pun mulai menghampirinya.

"Apa kau sedang menunggu?" Tanyanya tiba-tiba memecah keheningan.

"Ya."

"Siapa yang kau tunggu?"

"Kekasih paling sibuk di dunia. Katanya hari ini ia akan memberiku hadiah sebuah waktu."

"Oh ya." Perempuan berkerudung merah terlihat antusias. "Kau sungguh beruntung bila bisa memiliki waktu," katanya kemudian.

"Maksudmu?'

"Ya. Kau bisa memiliki seluruh semesta. Bukankah dengan mengenggam waktu, kau bisa mendapati semua yang kau inginkan? Bahkan kau bisa mengembalikan menit atau detik yang berlalu. Oh ya, apa kau begitu mencintai kekasih paling sibukmu itu?" Tanyanya lagi.

"Teramat."

"Bukankah, mencintai itu begitu rumit?"

"Ya. Tetapi, bila kau telah sepenuhnya berbagi cerita yang sama, menertawakan kesalahpahaman bersama serta membangun kepercayaan untuk selamanya. Maka kau akan menyadari, mencintai itu menjadi begitu sederhana dan indah."

"Kau terlalu naif. Kau hanya belum mengalami luka. Cobalah mengobati luka yang tak terlihat, aku jamin takkan kau temukan obat."

Perempuan berkerudung merah itu lantas pergi.


20 tahun kemudian, di bawah cahaya bulan yang temaram

"Kau beruntung," tambah penjual barang antik itu. "Arloji ini sudah banyak yang menawar. Tapi tidak satu pun yang berhasil memiliki. Mungkin arlogi ini ingin memilih sendiri siapa yang tepat menjadi pemiliknya."

"Apa kau tahu cerita di balik arloji tua ini?" Kata penjual barang antik itu. "Dulu, ada seorang perempuan pecinta paling setia terus menunggu kekasihnya. Namun kekasihnya tak kunjung datang. Hingga waktu terus berganti kemasan, perempuan itu terus menunggu sebuah kedatangan yang dijanjikan. Di hari yang ke 999, Perempuan itu menjadi murka. Ia meminta pada tuhan yang dipikirnya sedang bersembunyi di balik Bulan Sabit. 'Tuhan, jika kau takdirkan aku sebagai perempuan yang diwajibkan untuk terus menjadi penunggu bagi lelaki yang kau penuhi mulutnya dengan jutaan janji-janji. Maka, lebih baik kau kutuk saja aku menjadi waktu.' Kau tau alasan perempuan itu memilih dikutuk menjadi waktu?" Lanjut penjual itu. "Perempuan itu sebenarnya ingin mengutuk semua lelaki yang selalu sibuk maupun sok-sok sibuk."

"Kau beruntung. Aku tidak pernah menceritakan kisah ini pada siapa pun," tambahnya lagi.

Lelaki itu langsung membeli arloji tua yang ditawarkan tanpa berpikir panjang atau tanpa mengharapkan akan mendengar kisah di balik arloji tua itu. Sebenarnya lelaki itu sama sekali tidak tertarik, atau lebih tepatnya lelaki itu terpaksa mendengarkan, karena ia pernah berjanji akan memberikan sebuah waktu pada kekasihnya nan jauh di sana. Namun karena kesibukan-kesibukan perihal masa depan yang ingin ia persiapkan bagi perempuannya kelak. Tanpa sengaja, ia menjadi lupa pada salah satu janji yang telah ia berikan untuk perempuannya.

Bahkan ia berharap bisa memutar sang raja waktu. Agar bisa kembali ke masa-masa perempuannya masih setia menunggu.

Menunggu kehadirannya dengan senyum secerah purnama ketika malam itu.

***

Seorang perempuan berkerudung merah tampak mengemati lelaki itu dari kejauhan. Kerudungnya makin memancarkan warna merah darah. Jika kau amati dari dekat seluruh tubuh perempuan itu makan akan kau dapati dadanya yang kosong. Lalu kau akan bertanya-tanya ke mana hatinya?"

Ah, lebih baik kau tidak mengetahui kisahnya. Sebab akan sangat panjang jika kuceritakan kembali.

***

Di bawah purnama. Lelaki itu terlihat bahagia setelah berhasil mendapatkan arloji yang paling diinginkan kekasihnya. Arloji itu seolah memiliki detak yang mirip suara jantung manusia.

Lelaki itu mungkin tidak menyadarinya. Bahwa sebenarnya Arloji tua berwarna merah maroon itu tersebut dari detak jantung kekasihnya.

Tepat ke 999 hari, sebelum kekasihnya mengutuk diri menjadi penunggu waktu. Kekasihnya merobek dadanya sendiri, lalu mengeluarkan semua detak dari jantungnya. Terkutuklah lelaki itu yang telah membuang-buang setiap waktu kekasihnya.

Di bawah purnam bulan. Seorang perempuan sedang menghitung detak yang masih tertinggal di dadanya.

Dan hari ini tepat hari ke 1000 perempuan itu masih menunggu Bulan kembali purnama. Agar ia bisa kembali berdetak melalui arloji tua berwarna merah maroon itu.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment