Siapa Yang Butuh Pacar?

Siapa Yang Butuh Pacar?

INIKECE - Sudak sejak Cecil menyicipi dunia percintaan. Jatuh bangun dari proses pertemanan, pendekatan, berpacaran, bahkan pertikungan sekalipun sudah pernah ia alami maupun ia lakukan. Semua kegiatan itu asyik dijalani di tahun pertama, tapi begitu menginjak tahun kedua, warna dunia yang bermandikan merah muda berangsur-angsur berubah kelabu.

Dari tiga mantan pacar dan puluhan mantan gebetan yang Cecil punya, tidak ada hubungannya yang dirasa worth it. Contoh saja Yoha, mantan pacar Cecil yang pertama.

Awal kisah mereka bak cerita dongen yang sempurna. Tapi akhir cerita mereka bak komedi. Pada waktu itu Cecil masih kelas 2 SMP. Lugu, baru mengalami cinta untuk pertama kali. Sepatah gombal lebih dari cukup untuk membuat Cecil cengar-cengir sendirian di sudut kelas, sambil sesekali mengintip ke luar jendela kelas, barangkali sosok yang ia tunggu akan berpapas melewati lorong.

Yoha adalah pacar yang sangat perhatian. Tidak ada kata absen baginya untuk mengucap sapa "good morning", "good night", "udah makan belum?" dan kata-kata lainnya. Hubungan manis itu sukses membuat hati Cecil bersiul gembira setiap pagi, lantaran Yoha selalu bangun lebih pagi dari Cecil untuk berolahraga. Belum lagi kencan-kencan mereka penuh dengan canda tawa.

Rutinitas penuh kasih itu berlangsung selama kurang lebih 1 tahun, lalu semua berubah di saat sesosok game bernama PRUDOMINO menyerang. Mendadak sapaan mereka berubah menjadi serba-serbi "sbb". Kencan mereka digantikan oleh Yoha yang sibuk mabar dengan sahabat-sahabatnya.

Cecil sudah berusaha mempertahankan hubungan mereka, bahkan mencoba untuk ikut menyicip keasyikan rivalnya itu. Apa daya, bermain game bukan bakat Cecil. Pun ketika Cecil menelepon sang kekasih, Yoha pasti sedang group call dengan sahabat-sahabat gamer lainnya.

Setiap kali Yoha duduk di depan komputernya, ia berada di luar jangkauan Cecil. Konyol tapi nyata. Hubungan Cecil yang berlangsung 1,5 tahun tertikung oleh Game Online. Lebih menyakitkan lagi ketika Yoha hanya membalas permintaan pisah dari Cecil hanya dengan sepatah "Hehe. Maaf ya aku keseringan main. WIsh the best for you."

Gebetan Cecil yang berikutnya, Toby, tidak kalah perhatiannya dari Yoha. Mereka tidak berpacaran, tapi cukup sering jalan bareng dan chat selama beberapa bulan. Cecil dan Toby menyukai lagu yang sama. Tak jarang mereka nonton konser live bersama.

Toby rela menjemput Cecil sampai ke rumah, lengkap sampai mengantar Cecil pulang di malam hari. Hal lain yang tidak bisa dilupakan Cecil adalah hadiah ulang tahun yang didapatnya dari Toby: Sebuah boneka teddy bear berukurang cukup besar yang bahkan sekarang masih terpamapng di kamar Cecil.

Toby mungkin tidak seperti Yoha yang selalu meninggalkan pesan good morning dan good nigth, tapi Toby berhasil membuat Cecil merasa nyaman. Seolah mereka berada di dunia yang sama, tanpa ada rahasia antara satu sama lain. Berbagai sinyal positif saling mereka tukarkan ke satu sama lain, namun kepastian akan hubungan mereka tidak kunjung datang. Penantian itu berakhir dengan kelimat maut dari Toby, "Kamu udah aku anggep adik sendiri."

To be fair, Toby memang sedikit lebih tua dari Cecil. Sekitar 3 tahun. Dan sepertiga dari itu adalah waktu yang Cecil butuhkan sampai ia bisa melupakan perasaannya ke Toby sepenuhnya.

Bukan berarti Cecil tidak didekati laki-laki lain selama proses penyembuhan patah hati itu. Ada Ryan si kapten futsal, Leo si ketua kelas 10-B, Alex si bajingan (iya, Cecil masih menyimpan dendam karena Alex selalu meminta Cecil yang membayar waktu mereka jalan bareng. Pria macam apa yang menyuruh wanitanya membayar biaya bensin?!), dan masih banyak lagi tokoh yang pernah menjajaki dunia asmara Cecil.

Semua nama di atas gagal menyicip posisi sebagai "pacar Cecil". Pacar Cecil yang kedua justru seseorang yang tidak pernah bicara dengannya, yang tiba-tiba muncul dan menembaknya.

Namanya Hans. Teman sekelasnya yang pendiam, biasa berkutik dengan laptopnya di pojok kelas. Cecil bersedia menjadi pacarnya atas rasa iseng, tapi ternyata menyenangkan.

Cecil jadi mengenal dunia kartun Jepang (anime) berkat Hans. Banyak tontonan yang menarik, walaupun banyak reaksi karaternya yang terkesan lebay. Hans anak yang baik, tapi bukan pacar yang baik.

Di hubungannya yang ini, Cecil menyadari bahwa yang disebut pacar itu hanya status. Pacar itu overrated. Hans tidak perhatian seperti Yoha. Dia juga tidak dewasa seperti Toby. Dia memang berpacaran dengan Hans, tapi hanya ketika mereka menyentuh dunia anime.

Di luar itu, mereka nyaris tidak pernah berbicara. Kencan pun tidak pernah sama sekali. Bahkan Cecil sempat menggebet 2-3 orang lain selagi menjalin hubungan dengan Hans.

Hubungan Cecil dan Hans berakhir setelah 4 bulan. Sebenarnya mereka hanya benar-benar berpacaran selama 1 bulan, dan 3 bulan sisanya adalah Cecil yang tidak menganggap Hans ada. Hans baru menghubungi Cecil setelah 2 bulan tidak berkabar, mengajaknya nonton anime bareng, lalu ditolak oleh Cecil ternyata sedang dekat dan jalan dengan anak laki-laki lain.

Ironisnya, Cecil berakhir dingin seperti Yoha. Kata-kata terakhir Cecil kepada Hans adalah sesuatu seperti "Ok. Have fun with yourself."

Akhir hubungan Cecil dan Hans malah mengawali hubungan Cecil yang baru. Ini adalah hubungan yang belum pernah Cecil rasakan sebelumnya.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, Cecil pernah ditaksir oleh kapten futsal. Hal ini terdengar sampai ke fans clun ketua futsal tersebut dan berakhir dengan pelabrakan oleh 5 kakak kelas dan 2 teman sekelas. Tujuh lawan satu, semua perempuan.

Setelah itu, Cecil pernah mengalami beberapa pelabrakan lainnya. Termasuk salah satunya ketika ia ditampar oleh teman seangkatannya karena nyaris mengakhiri hubungan yang sudah terjalin selama 3 tahun. ( Sungguh, Cecil tidak bermaksud menikung siapapun. Pacar cewek itu yang mulai berbicara dengannya.)

Setelah pergantian tahun ajaran, sekitar satu bulan setelah puts dari Hans, seorang anak laki-laki datang menghampiri Cecil. Anak itu bersama Dimas. Cecil mengingatnya sebagai anggota tim inti basket. Mulai kelas 11 itu, mereka jadi teman sekelas.

Perbedaan tinggi antara Dimas dan Cecil turut membantu tingkat ketegangan antara dua insan itu. Bayangkan saja bila ada laki-laki tinggi dengan otot lengan yang lumayan terbentuk datang menghampiri kalian dengan tampang garang dan suara rendah,


"Lu yang namanya Cecil ya?"

Makhluk mana yang tidak terkejut? Cecil juga hanya bisa mengangguk dengan hatinya yang seimbang antara ragu dan takut. Dia hanya pernah didekati laki-laki yang menyukainya, bukan yang membencinya.

Bukankah laki-laki cenderung menyembungikan bila tidak menyukai seseorang?

"Lu yang mantan pacar Hans kan?"

Pertanyaan kedua dari Dimas memberikan secercah jawaban kepada Cecil. Dia ingat pernah melihat Hans dengan Dimas ini. Hanya saja Cecil tidak pernah memperhatikan dengan jelas,

"Iya, gue mantannya. Kenapa?"

Cecil memberanikan diri dan menjawab mantap. Kalau instingnya berkata benar, Dimas pasti disini untuk membela Hans yang ia selingkuhi. Kalau begitu, Cecil hanya perlu membela diri bahwa Hans yang gagal memenuhi tugasnya sebagai seorang pacar. Kalau tiba-tiba sosok Dimas ini mulai bermain fisik, Cecil hanya perlu melapor ke guru BK.

Dimas membuka mulut. Cecil siap memasang telinga. Begitu suara nge-bass bergema di udara, ternyata isi pesannya jauh berbeda dari diperkirakan Cecil.

"Hans pengen balikan sama lu."

"...hah?"

Cecil tidak sadar apakah kata itu terhembus ke udara atau bersangkar di pikiran Cecil. Intinya, cecil bingung. Otak gadis peraih nilai UN Bahasa Inggris tertinggi itu berputar cepat melawan rasa bingung.

"Hans minta balikan?" tanya Cecil, memastikan telinganya masih berfungsi dengan baik.

Dimas menjawab dengan anggukan. "Iya"

"Terus kenapa lu yang ngomgong ke gue?" Lu siapanya dia?" Cecil mengernyit.

"Ia kan? Gue juga bingung."Anak basket itu menarik napas dalam. "Dia minta gue jadi perantara kalian. Balesan lu apa?"

"Ya nggak mau, lah!"

"Kenapa nggak mau?"

"Bukan urusan ku. Pokoknya nggak mau." Cecil tidak akan mengaku kalau ia merasa lebih bahagia dengan gebetan barunya daripada bersama dengan Hans pada waktu itu. Untuk apa bersikeras berpacaran kalau tidak membuahkan kebahagiaan?

"Oh. Oke. Gue kasih tahu ke dia."

Interaksi itu berakhir dalam kurang dari 3 menit. Dimas langsung pergi keluar dari kelas, meninggalkan Cecil dengan sederet tanda tanya di kepalanya. Tanda tanya itu pun pada akhirnya tidak terjawab sampai akhir.

Gadis kelas 11 itu mengira Dimas akan kembali berbicara padanya tentang Hans, tapi ternyata tidak pernah berinteraksi lagi untuk waktu yang cukup lama. Hari berikutnya mereka berbicara adalah beberapa minggu kemudian, setelah kuis Bahasa Inggris.

Dimas dan Cecil sama-sama terkejut melihat nilai satu sama lain. Nilai Cecil adalah 3 digit sempurna, sedangkan nilai Dimas nyaris mencapai 2 digit. Dimas tidak membuang waktu untuk memohon Cecil mengajarinya. Cecil tidak pernah mengajar orang lain, pun memiliki niat mengajar. Namun entah karena takdir atau apa, Cecil mengiyakan permintaan Dimas.

Hubungan guru-murid itu berjalan lancar untuk waktu yang lama. Cecil tidak pernah menyangka akan mengajari siapapun dalam hidupnya. Dia bukan guru yang sabar. Dimas juga bukan murid yang tangkas. Perjalanan tambahan mereka berlangsung penuh dengan debat dan omelan Cecil. Pada saat yang bersamaan, mereka jarak di antara mereka mulai merapat.

Lucunya adalah, Cecil bisa berkata dengan yakin bahwa Dimas bukan gebetannya. Bukan karena hubungan guru dan murid mereka. Melainkan karena mereka hanya berbicara seperlunya, dan topik mereka jauh lebih acak daripada topik Cecil dengan laki-laki lainnya. Jauh lebih acak.

Salah satu penyebabnya adalah handphone Dimas yang sering error dimakan usia. Entah berapa kali Dimas mengirim pesan yang salah ke Cecil, dari basket, pelajaran, jalan-jalan, sampai meme dan umpatan sekalipun. Dimas juga beberapa kali salah mengirim pesan yang harusnya untuk Cecil, lalu baru menyadarinya di jam-jam subuh. Kapan lagi Cecil akan menerima pesan seperti :

"Bahasa Inggris saya terjatuh ke empang paman saya apaa?"

Di jam 3 pagi, dalam bentuk screenshoot yang disertai komentar nyeleneh dari anggota klub basket yang pusing 7 keliling dengan pertanyaan Dimas?

Selain chat yang jarang, Dimas dan Cecil juga tidak pernah jalan bareng. Mereka hanya bertemu di sekolah. Lebih tepatnya di kelas. Apakah mereka saling bersenda gurau? Tidak juga. Intinya, mereka hanya berinteraksi secukupnya. Interaksi tidak berguna yang mereka lakukan hanya terjadi dalam bentuk pergelutan karena Cecil yang gemas dengan Dimas yang tidak kunjung mengerti penggunaan is/am/are.

Walau begitu, perkelahian mereka yang sesungguhnya terjadi selepas Cecil putus dari pacar ketiganya, kak Rafa.

Dimas datang dengan cara yang mirip ketika ia pertama mengajak Cecil berbicara, membuat Cecil bertanya-tanya apakah kini kak Rafa yang mengutus Dimas menjadi perantara mereka? Padahal Cecil baru putus dengan si kapten basket itu tempo hari.

"Kenapa lu putus dari Rafa?" Dimas bertanya tanpa segan.

Cecil mengangkat bahunya. "Bosen, kali. Dia sibuk terus sama basket, sih. Kenap--"

"Kita mau tanding bulan depan. Udah pasti kita sibuk! Itu pertandingan terakhir kak Rafa sebelum pensiun buat ujian. Lu nggak bisa jadi pacar yang suportif?"

Cecil menatap bingung kepada Dimas yang mendadak emosian. Lalu gadis itu mendengus. "Ngapin sih ngurusin urusan orang? Pacaran aja sana sama kak Rafa kalau nggak seneng."

Dimas menggebrak meja Cecil sampai pulpennya terlompat jatuh ke lantai. Cecil ikut melompat, kaget dengan perilaku Dimas.

"Rafa minta mundur dari posisi kapten cuma gara-gara lu. Gue nggak minta lu balikan sama dia, tapi lu jujur aja sama dia. Lu nggak putus karena di amain basket terus kan? Lu putus karena lu jalan sama cowok lain!"

Cecil melirk ke belakang Dimas. Untunglah suasana kelas agak sepi karena sedang istirahat. Tetap saja, kini ia sedang menjadi tontonan anak-anak sekelas.

"Gue nggak selingkuh," ujar cecil, memelankan suaranya. "Gue bosen sama dia."

"Bosen?"

"Iya, bosen. Udah 3 bulan, gitu-gitu aja..."

"Dan ada yang lebih menarik buat lu sekarang. Fine."

Cecil panas. Dia tidak suka nada bicara Dimas yang menyalahkan Cecil. "Oh, lu udah cukup jago bahasa bule buat dipakai di daily conversation?"

Dimas tidak bergeming. "Bilang yang jujur ke dia. Nggak usah nyalaih basket."

"Lu aja yang bilang ke dia, kayak ke Hans waktu itu."

"Gue akan bilang seandainya dia mau percaya ke gue." Dimas menunjuk ke iPhone di genggaman Cecil. "Bilang ke dia sekarang juga. Gue nggak rela harus kalah tanding basket cuma karena kapten gue patah hati."

Cecil ingin protes, namun mengurungkan niatnya berkata ekspresi Dimas yang over-serius. Tanpa banyak kata, Cecil mengirim pesan ke mantan barunya itu dan mengatakan apa yang Dimas inginkan. Selesai itu, Cecil menunjukkan layar handphonenya ke Dimas.

"Nih, puas?" tanya Cecil malas.

Dimas membaca pesan Cecil dengan saksama, lalu memprotes, "Minta maaf ke kak Rafa,"

Cecil memutar bola matanya. "Tulis aja sendiri."

Gadis itu berdiri dari mejanya dan pergi begitu saja, meninggalkan Dimas dengan ponselnya tanpa pengawasan.

Cecil dan Dimas tidak berbicara sejak itu. Hari-hari yang penuh dengan kebodohan Dimas mendadak sirna. Tidak ada lagi screenshoot konyol saat subuh. Sudah satu minggu terlewat tanpa tertanyaan bahasa Inggris dari Dimas.

Handphone Cecil mendadak terasa tidak penting. Chat dari gebetan-gebetannya terlantar dengan berbagai "sbb" dan alasan-alasan klasik. Bahkan chat yang ia kirim ke kak Rafa hanya bertanda stempel read tanpa balasan.

Pulang sekolah, mata Cecil terpaku di lapangan basket. Dimas ada di sana, bermandikan keringat di tengah latihan. Sesekali tawanya muncul di tengah istirahat singkat.

Peluit pelatih bertiup, menyadarkan Cecil yang terpana menonton sparring basket. Nyaris di saat bermsaan, sepatah kata dengan suara familiar mengguncang gendang telinga Cecil.

Kak Rafa. Berani juga dia muncul di hadapannya sekarang. Untuk apa dia muncul di sini? Sudahlah, Cecil jadi mengingat pertengkarannya dengan Dimas. Lebih baik ia kabur dan pura-pura tidak mengenal mantannya yang satu ini.

"Cecil," panggilnya lagi. "Lihat aku. Aku udah keluar dari klub basket. Kita jangan putus ya?"

Nada kak Rafa memelas. Sosok keren yang biasanya selalu berwibawa lantas menghilang begitu saja. Cecil jadi ingin tertawa. Rasanya seperti melihat dirinya ketika pertama kali putus; konyol dan menyedihkan.

"Fa, kita udah putus," jawab Cecil dingin. Kalau Dimas memang ingin Cecil berkata jujur, maka inilah kejujuran yang bisa Cecil suguhkan. "Bukan karena kamu yang sibuk sama basket. Aku udah nggak sayang sama kamu. Aku punya cowok lain."

Rafa mengepalkan tangannya. Rangkaian bisep-trisepnya berkontraksi, terlihat mencoba menahan diri,

"Jujur aja, Cil. Aku nggak akan marah. Kalau kamu emang nggak suka aku main basket, aku bisa berhenti. Aku tahu kamu bukan orang kayak gitu."

"Aku sudah jujur. Terserah kamu mau percaya atau nggak!"

Cecil menghentakkan kakinya lalu beranjak pergi. Persetan dengan apa yang dirasakan kak Rafa. Hubungan yang sudah berakhir harus tetap berakhir. Untuk apa kembali kepada orang yang sama? Toh akhirnya akan sama. Pacar itu overrated. Diincar banyak orang sebagai pusat kebahagiaan, padahal lebih banyak mengundang perasaa negatif ketimbang positif.

Diharapkan memberi kepastian, tapi membelenggu dan mengikat. Peraturan-peraturan bodoh dibuat dengan mengatasnamakan cinta, lalu berakhir dengan menuai benci. Kenapa juga Cecil masih mencari pacar, ketika sosok itu hanya mampu memberi warna pelangi dan bukannya pink yang Cecil sukai? Pacar itu overrated!

Langkah Cecil terhenti begitu tubuhnya ditarik. Lengan kecilnya digenggam oleh segumpal tangan berotot yang murni hasil berolahraga.

Cecil meringis. Hidup tidak cukup hanya menyakiti hati Cecil. Kali ini tubuhnya ikut disiksa.

Cecil tetap berusaha terlihat tegar dan galak. "Lepas, nggak!" teriaknya.

"Nggak. Nggak boleh. Kamu itu pacar aku. Aku nurutin kamu, kamu juga harus nurutin aku."

Cengkraman Raga menguat. Cecil menarik napas dalam untuk teriakan berikutnya.

"Rafa! Lepas!"

Bukan suara Cecil. Suara pria yang menggema di lorong sekolah di sore hari itu. Tentunya bukan suara Rafa juga. Itu suara anggota anak basket yang dikutuk tidak bisa memahami bule.

Dimas datang dalam balutan kaus dan celana basket. Sorot matanya sangar seperti saat bertengkar dengan Cecil. Dimas jelas marah. Penyebabnya?

Dimas menghempas tangan Rafa dari lengah Cecil. Gadis itu sontak bersembunyi di balik Dimas. Momen-momen berikutnya tidak bisa diingat Cecil dengan baik. Ia terlalu takut. Ia gemetar di balik Dimas, seolah terken efek dari suara bass yang timpang tindih di konser musik live. Entah berapa lama peristiwa itu terjadi. Begitu sadar, guru BK mereka tiba-tiba sudah muncul dan pergi bersama kak Rafa.

Momen berikutnya diisi dengan Dimas yang meminta maaf kepada Cecil. Dia tidak tahu bahwa Rafa akan memaksa Cecil balikan. Dimas hanya ingin Rafa cepat move on, itu saja.

Cecil mengangguk mendengar penjelasan Dimas. Entah dia menangis atau tidak, tapi raut wajah Dimas berhasil membuat Cecil kembali tertawa. Kehampaan yang Cecil rasakan kembali terisi. Cecil tertawa semakin kencang begitu raut wajah Dimas semakin aneh melihat Cecil yang tertawa seperti orang gila. Akhirnya Dimas pun meminta maaf sebelum kabur ke lapangan dan melanjutkan latihannya.

"Dimas!" Cecil memanggil sebelum sosok itu pergi semakin jauh. "Kita temen kan?"

Raut wajah khawatir menghilang dari wajah Dimas. "Bukan," katanya, "kita sahabat."

Sahabat. Mungkin satu-satunya hidup Cecil. Mungkin satu sudah cukup di hidup Cecil. Satu sudah cukup untuk mewarnai hidup Cecil.

Lapangan basket bermandikan warna oranye keemasan. Biasanya warna seperti itu menyilaukan, tapi kali ini rasanya menyenangkan. Senyum yang terkembang di wajah dua sahabat itu jadi buktinya.

Pacar itu overrated. Kebahagiaan bisa dicari dimana-mana. Begitu juga dengan cinta. Untuk apa mencari pacar kalau semuanya bisa dipenuhi oleh seorang sahabat bernama Dimas? Cecil hanya butuh Dimas dan Dimas seorang. Dimas yang sahabat Cecil, teman Cecil, kawannya. Cecil tidak butuh pacar yang hilir mudik datang begitu saja. Dimas bisa menjadi teman Cecil satu-satunya. Teman seumur hidup.

Biodata Singkat Penulis :

Fausbiru, mahasiswa yang sebentar lagi akan menginjak umur 20 tahun. Berimajinasi adalah salah satu hobi favoritnya selain bermain game. Walaupun suka menulis, rasa suka itu selalu terhalang minimnya motivasi.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment