Cerpen! Neon Ghost Cafe

INIKECE - Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu bersiweran di pandang. Warna-warna cantik itu terpantul bersamaan dengan gemericik air hujan yang terjatuh ke kubangan. Ketujuh warna itu berasal dari lampu papan nama sebuah coffee shop yang berada di tingkat dua sebuah ruko.

Segera Menemani Di Awal Tahun 2020! Temtem Game MMO Yang Ditunggu Segera Hadir

INIKECE - Kehadiran game Pokemon Sword and Shield memang cukup berhasil mengumpulkan para fans Pokemon di seluruh dunia untuk memainkannya. Pasalnya game tersebut menghadirkan cerita yang bisa dibilang baru.

Ramalan Di Desember 2019 Karir dan Cinta, Salah Satunya Scorpio Diberikan Kesempatan Besar!

INIKECE - Bagi yang suka dengan suatau ramalan zodiak, kali ini bulan Desember yang paling ditunggu-tunggu banyak orang, ada sebuah ramalan zodiak yang akan membahasa persoalan karir dan cinta di akhir bulan ini.

Beberapa Kota Memiliki Pasar Terbaik Dalam Menjelang Hari Natal, Bisa Jadikan List Travel Natal!

INIKECE - Bulan Desember adalah bulan yang ditunggu-tunggu banyak orang. Bulan dimana tujuan banyak orang untuk menghabiskan akhir tahun dan pastinya Perayaan Hari Natal di bulan Desember.

Kecemasan Istri Hingga Berujung Perdebatan Dan Pisah Ranjang, Kisah Dibalik Menyentuh Hati

INIKECE - Berita viral hari ini, Sering pulang malam, istri marah dan suami suruh tidur di sofa. Istri menyesal di pagi hari, ternata punya alasan khusus kenapa ia pulang malam setiap harinya. Demi menyenangkan sang istri.

Cerpen! Real Friend?

Cerpen! Real Friend?

INIKECE - "Bu, aku berangkat, ya" teriakku sambil menggigit roti dan berlari menuju teras.
Waktu menunjukkan pukul 06.15, Artinya lima belas menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Aku berlari meninggalkan rumah dan segera menaiki motor ojek langgananku.

Namaku Niken Calya Gayatri. Aku seorang pelajar tingkat dua SMA. Kehidupanku sama seperti siswa SMA pada umumnya. Keseharianku hanya belajar dan bergaul dengan teman-teman seusaiku.

"Tumben banget telat," tanya Wulan.

"Iya, semalam nonton bola sama ayah," jawabku terengah.

Wulan menggeleng. Setiap akhir pekan, aku memang biasa menonton tayangan ulang pertandingan bola bersama ayah. Sebenarnya, aku tak begitu suka bola, tetapi inilah quality time-ku bersama ayah yang sehari-hari bekerja di luar kota.

"Sudah belajar untuk ulangan hari ini?" Tanya Wulan.

"Beres," jawabku.

Jam pelajaran pun berakhir. Lelah rasanya setelah menempuh ulangan harian dua mata pelajaran sekaligus di empat jam pertama. Kurogoh ranselku untuk mengambil bekal makanan yang selalu ibu siapkan. Sayangnya, aku tak menemukan kotak makan dalam ranselku. Tampaknya bekalku tertinggal karena pagi tadi aku terburu-buru sarapan.

"Ken, ini ada titipan," ucap Wulan sambil menghampiriku.

"Dari?" tanyaku.

"Siapa lagi?" jawabnya.

"Senang nggak sih, Ken, dapet kiriman terus?" tanya Wulan.

"Pas banget sih, bekal makan aku ketinggalan. Kita makan bareng, ya" jawabku sambil membuka kemasan makanan yang diberikan Wulan.

Kejadian tadi bukanlah hal langka bagiku. Teman-teman kelasku sangat terbiasa dengan kejadian ini. Ini kali keskian aku mendapat titipan dari Adrian. Kakak kelasku. Mulai dari camilan, minuman, sampai barang-barang yang sebenarnya tak aku butuhkan. Aku sendiri tak pernah memintanya, tetapi ia terus memberikan perhatian seperti ini padaku.

Bukan rahasia lagi perihal aku dan Adrian. Seisi kelas bahkan seantero sekolah munkin tahu akan hal ini. Kami tak ada hubungan spesial. Hanya berteman, mereka bilang Adrian suka padaku, aku? Tak tahu.

"Hai."

Suara tersebut mengagetkan sekaligus menghentikan langkahku. Aku menoleh ke asal suara.

"Kak Adrian?" ucapku kaget.

"Mau pulang bareng nggak?" tanyanya.

Aku melirik pada teman-temanku. Mereka tersenyum sambil sesekali saling berbisik.

"Kita duluan, ya Ken. Ketemu besok," ucap teman-temanku sambil melambaikan tangan.

"Jadi?' tanya Adrian.

Aku mengangguk. Aku tak punya pilihan karena teman-temanku telah pergi lebih dulu.

Sesampaonya di rumah, aku berterima kasih pada Adrian yang telah mengantarku. Aku sengaja tak mengajaknya untuk masuk ke rumah. Ibuku punya rasa ingin tahu berlebih bila ada teman pria yang berkunjung.

***

Hari ini, guru IT mengumumkan bahwa sekolahku akan menyelenggarakan sebuah perlombaan permbuatan film pendek remaja. Hal ini membuatku begitu antusias. Aku adalah orang yang senang berkompetisi. Buatku sebuah kompetisi adalah ajang untuk melatih diri dan bersaing dengan banyak orang.

Aku bekerja keras untuk membuat konsep dalam perlombaan pembuatan film pendek. Banyak ide bermunculan dalam kepalaku, tetapi aku harus bisa membuat konsep yang sangat berbeda dari peserta lain.

Aku bersama sahabatku, Vian dan Tiara mulai bekerja dalam tim. Wulan sendiri tidak tertarik dengan perlombaan seperti ini. Ia lebih memilih menjadi supporter untuk kami. Sesekali kami pun dibantu oleh beberapa teman di kelas.

Aku pun mendapat banyak bala bantuan dari Adrian. Ia sering menemaniku saat aku bekerja untuk menyelesaikan film pendek ini. Ia pun beberapa kali membawakan banyak makanan untuk kami. Tak jarang ia menungguku hingga malam kemudian mengantarku pulang.

Waktuku begitu tersita untuk penyelesaian film pendek, Shooting telah rampung dilakukan. Namun, masih banyak pekerjaan menanti, terutama editing. Film pendek ini harus selesai sebab deadline sudah di depan mata. Kerja kerasku dan tim tak boleh sia-sia.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Seluruh peserta lomba berkumpul di aula untuk presentasi. Terlihat para juri tengah bersiap. Pemandu acara mulai memanggil peserta lomba satu per satu untuk presentasi.

"Konsep kami dalam film pendek ini mengusung teman sosial. Kami mengangkat kesenjangan sosial yang terjadi di kalangan pelajar, khususnya sekolah kita. Di sini kami ingin menunjukkan bahwa kesenjangan sosial yang terjadi dikalangan pelajar dapat berdampak butuk. Film ini menyuguhkan gambaran nyata yang biasa terjadi dan memberikan banyak pelajaran yang bisa diambil oleh remaja khususnya pelajar. Di sini masyarakat yang bisa mengakibatkan kesenjangan sosial. Marilah kita bersatu untuk membentuk masyarakat yang peduli sesama dan hapuskan kesenjangan. Inilah persembahan kami. Selamat menyaksikan."

Aku tercengang mendengar presentasi yang baru saja disampaikan seorang kakak kelas. Konsep kami sama persis. Tak hanya konsep, adegannya pun nyaris sama. Aku melirik pada anggota timku. Mereka gelisah, kami akan presentasi setelah ini. Apa yang akan kami lakukan sekarang?

Aku bersama tim begitu kecewa karena film yang kami buat harus didiskualifikasi karena kemiripan konsep. Bukan hanya mirip, melainkan juga sama persis. Rasanya lelahku dan tim belakangan ini menjadi sia-sia.

"Sabar, ya. Ken, lain waktu kita bisa coba lagi," ucap Wulan menenangkanku.

Aku hanya diam. Kulihat Tiara dan Vian masih sangat kecewa bahkan marah,

"Kok bisa konsep kita sama persis dengan mereka? Ini pasti ada yang membocorkan," ucap Vian sembari mengepalkan tangan dan mengetukkannya ke meja.

"Ya sudahlah Vian, mungkin memang kita kurang beruntung," ucap Tiara.

"Kita pulang saja. Kita butuh istirahatm," ucapku lalu bangkit dari duduk.

***

Aku tengah menikmati waktu istirahatku dengan teman-teman di kelas. Saat istirahat, kami jarang ke kantin. Kami biasa membawa bekal makanan dari rumah. Saling cicip menjadi kebiasaan kami. Momen seperti ini membuat kebersamaan kami lebih terasa.

"Wulan pelakunya," ucap Tiara tiba-tiba menghampiri kami dengan raut marahnya.

"Ada apa sih?" tanyaku.

"Nah, itu dia datang," jawab Tiara sambil melihat ke arah pintu kelas.

Tiara langsung menghampiri Wulan yang baru saja datang. Tiara menjegal Wulan yang akan duduk di bangkunya.

"Kamu kan yang membocorkan konsep film pendek kita ke kakak kelas?" ucap Tiara meninggi.

Kami menghentikan kegiatan makan bersama dan langsung menghampiri mereka yang tengah berseteru. Aku berusaha melerai keduanya.

"Ini ada apa sih?" tanyaku.

"Wulan yang sudah membocorkan konsep film kita, Ken. Dia itu musuh dalam selimut," ucap Tiara.

"Apa maksudmu?" Tanya Wulan.

"Aku lihat tadi kamu bertemu dengan kakak kelas yang memenangkan perlombaan kemarin. Kamu mengucapkan selamat dan dia berterima kasih atas kerjasamamu. Jelas kan?" jawab Tiara.

Semua pandangan kini mengarah pada Wulan. Wajahnya memerah dan matanya seperti menahan tangis. Wulan langsung menerebos kerumunan orang yang mengitarinya dan berlari meninggalkan kelas.

Seisi kelas maish ramai membicarakan Wulan. Aku tak percaya dengan semua yang kudengar, Wulan adalah sabahatku. Mungkinkah ia tega melakukan semua ini?

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Namun, Wulan tak kunjung kembali, Tasnya masih tersimpan di bangku yang kini kosong tak berpenghuni. Di manakah Wulan saat ini? Berkali-kali kucoba menghubungi Wulan, tetapi ponselnya tidak aktif, aku dan Vian mulai mencari berbagai sudut di sekolah. Hasilnya nihil.

Sebelum pulang, aku mampir ke rumah Wulan untuk mengantarkan tasnya. Rumahnya sepi. Setahuku keluarga Wulan semuanya pekerja dan baru malam hari ada di rumah. Tampaknya Wulan tak ada di rumah. Aku harus mencari Wulan ke mana? Aku mulai mengkhawatirkannya.

Keesokan harinya, Wulan hanya diam dan selalu menghindar ketika kami dekati. Saat jam istirahat pun, ia memilih keluar kelas daripada berkumpul dengan kami. Sebenarnya, kami hanya ingin ia menjelaskan kejadian sebenarnya. Sikapnya yang seperti ini justru membuat kami menjadi yakin bahwa ia memang dalam semua ini.

Sepulang sekolah, aku sengaja menghampiri Wulan untuk mengajaknya pulang bersama. Namun, sikapnya masih sama. Ia langsung membereskan barang-barangnya dan melangkah pregi tanpa melirikku. Aku mengejarnya, tetapi ia terus berjalan dengan sangat cepat.


"Sudahlah, Ken. nggak usah dikejar, biarkan saja di sendiri dulu," ucap Tiara sambil menarik tanganku.

Aku mengikuti saran Tiara. Mungkin Wulan memang butuh waktu untuk sendiri. Kuharap semua ini cepat selesai. Tak enak rasanya perang dingin dengan sahabat sendiri.

"Eh, kamu pulang duluan saja. Aku  ada perlu," ucapku pada Tiara.

"Mau ke mana?" Tanya Tiara.

Aku melambaikan tangan dan bergegas meninggalkan Tiara. Aku berlai untuk mencari seseorang yang biasa memberiku informasi tentang Wulan.

"Boleh ganggu sebentar?" ucapku dari ujung pintu kelasnya.

"Aku ambil tas dulu ya," jawab Adrian.

Aku menunggu Adrian di depan kelasnya. Ia tampak mengambil tas dan berpamitan pada teman-temannya.

"Kita ngobrol di tempat yang enak, ya" Ajak Adrian.

Aku mengangguk tanda mengiyakan ajakannya. Kami berjalan bersama menuju tempat parkir sekolah.

Adrian membawaku ke sebuah tempat makan yang baru kali ini aku datangi. Tempatnya cukup ramai. Kulihat banyak anak sekolah yang sengaja datang kesini untuk makan, nongkrong, bahkan belajar bersama.

Pandanganku tertuju ke berbagai arah. Banyak hal yang menarik perhatianku dari tempat ini. Aku suka dengan konsep dekorasinya yang begitu sederhana namun sangat nyaman. Adrian tengah sibuk memesan beberapa camilan dan minuman sementara aku terus memerhatikan sekeliling.

"Suka sama tempatnya?" tanya Adrian

"Ah, iya..." jawabku.

"Jadi, apa yang bisa aku bantu?" lanjut Adrian.

"Wulan ada cerita-cerita apa gitu sama kakak?" tanyaku.

"Wulan? Memang ada apa dengan dia?"

"Mungkin dia cerita sesuatu sama kakak?"

"Hmm... Nggak cerita apa-apa sih, malah dia jutek sama aku."

"Jutek?"

"Iya, udah beberapa hari ini dia jutek banget. Memang ada apa sih?"

"Ada sedikit masalah sih, kak. Aku kira dia ada cerita sama kakak, makanya aku tanya."

"Masalah apa?"

"Soal lomba film kemarin. Aku juga nggak tau sih persisnya gimana, Wulannya juga ngehindar terus. Nggak enak juga, kak perang dingin kayak gini."

"Oh, gitu. Eh sebentar," ucapnya sambil merogoh tas ransel.

Andrian menyodorkan sebuah kotak padaku. Aku mengambil dan perlahan membuka isi kotak tersebut.

"Tadi pagi aku mau titip ke Wulan, tapi dia malah pergi begitu saja."

"Ini buat aku?" tanyaku sambil memperlihatkan isi kotak tersebut.

"Suka nggak?"

"Aku nggak bisa terima, kak," jawabku sambil menyodorkan kotak tersebut.

"Suka nggak?"

"Aku nggak bisa terima, kak," jawabku sambil menyodorkan kotak tersebut.

"Kenapa?"

"Sebenarnya selama ini aku merasa nggak enak dengan semua kebaikan kakak."

"Aku senang melakukannya dan aku tulus, kok."

"Tapi..."

"Ken, aku memang suka padamu, tapi aku nggak berharap apa-apa. Dengan kamu tahu dan bisa dekat denganmu itu cukup buatku. Jadi, please terima ini ya."

Aku terdiam sambil terus menatapi kotak yang ada di tanganku. Selama ini Adrian memang sangat baik padaku. Ia perhatikan dan terlalu 'dermawan'. Beberapa kali Adrian kerap mengungkapkan perasaanya padaku. Namun, aku selalu menolaknya. Kupikir ia akan berhenti mendekatiku. Nyatanya, ia patang menyerah.

"Sudah jangan dipikirkan. Simpan dan sekarang makan."

Perkataan Adrian membuyarkan lamunanku. Sontak kumasukan kotak pemberiannya ke dalam ransel. Kami menyantap makanan yang kini terhidang di meja kami.

***

Aku berpamitan pada Adrian untuk masuk ke dalam rumah. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Kubalikkan tubuh membelakanginya. Tiba-tiba langkahku terhenti karena Adrian menahan tanganku.

"Ken, jangan banyak pikiran, ya. Urusan Wulan, nanti aku coba cari tahu."

Aku tersenyum dan mengangguk. Adrian melepaskan tanganku dan kembali melambaikan tangannya. Aku melanjutkan langkah lalu masuk ke dalam rumah.

Sudah beberapa hari belakangan Wulan tak masuk sekolah. Ia seperti menghilang ditelan bumi. Wali kelas pun tak pernah mendapat kabar apa pun dari keluarganya perihal ia tak pernah masuk sekolah. Aku dan teman-teman sudah berusaha menghubunginya. Entah berapa kali dalam sehari aku menghubungi ponselnya tapi selalu tidak aktif. Kami pun beberapa kali mendatangi rumahnya, tetapi selalu saja dalam keadaan kosong.

Begitu sampai di rumah, aku kaget melihat Wulan tengah menungguku. Wajahnya sembab. Ia berlari dan langsung memelukku. Aku menenangkan Wulan sambil menepuk lembut pundaknya. Wulan masih menangis. Perlahan kulepaskan pelukan Wulan dan mengajaknya ke kamar.

"Minum dulu," ucapku sambil menyodorkan segelas teh hangat.

Wulan menyesap teh yang kusuguhkan. Sesekali ia menyeka air matanya.

"Maafkan aku, Ken," ucap Wulan sambil terisak.

"Kamu tenang dulu, ya. Ceritakan semuanya padaku."

"Aku cemburu, Ken." Wulan membenamkan wajahnya.

"Maksudmu?" tanyaku heran.

"Aku iri padamu. Kamu pintar, populer, dan semua orang menyukaimu."

Aku terhenyak dengan pengakuan Wulan. Selama ini kami berteman sangat baik. Namun, aku tak pernah menyangka ternyata Wulan semarah ini padaku.

"Aku selalu iri melihatmu mendapat pujian dari guru karena prestasi akademikmu di kelas. Belum lagi setiap perlombaan yang kamu ikuti selalu membawa pulang piala. Dan pria yang aku sukai pun tergila-gila padamu."

"Kak Adrian?" tanyaku.

"Iya. Selama ini aku cemburu lihat Kak Adrian begitu perhatian padamu. Awalnya kupikir akan biasa saja ketika bercerita semua kekagumannya padamu. Ternyata hati aku sakit, Ken. Kenapa meski kami sih, Ken? Padahal aku jauh mengenalnya sejak lama."

Aku terdiam mendengar semua ucapan Wulan. Hatiku sakit. Orang yang selama ini aku anggap sebagai sahabat ternyata menaruh kebencian padaku. Aku merasa sudah menjadi teman yang paling jahat baginya.

"Rasa iri telah membuatku hilang arah. Sekarang, semua orang benci padaku. Seperti yang Tiara bilang. Aku musuh dalam selimut. Aku nggak berani menampakkan wajahku lagi di depan teman-teman. Mereka selalu memandang sinis padaku."

"Maafkan aku sudah jahat sama kamu, Lan. Teman-teman nggak marah padamu. Mereka hanya butuh penjelasanmu," ucapku sambil memeluk Wulan.

"Mereka pasti benci sama aku, Ken. aku malu bertemu mereka," jawabnya terus terisak.

"Kita nggak pernah membencimu sama sekali. Justru kami khawatir karena kamu sudah lama nggak masuk sekolah."

Aku mulai melepaskan pelukan. Kutatap Wulan sambil memegang pundaknya. Wulan masih terus menangis.

"Aku bukan sahabat yang baik, Ken. Sahabat macam apa yang iri dengan sahabatnya sendiri. Aku harusnya mendukungmu bukan menjatuhkanmu," ucapnya sambil menatapku.

"Stt... Kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Kita lupakan semuanya, kita mulai lagi dari awal."

"Tapi teman-teman yang lain?"

"Kita bicarakan baik-baik."

Wulan memelukku erat. Kami hanyut dalam emosi yang begitu dalam.

***

Aku datang ke sekolah bersama Wulan. Wulan sengaja datang ke rumahku karena ia tak berani untuk datang ke kelas seorang diri. Teman-teman begitu kaget melihat kedatangan Wulan. Pandangan mereka masih sama kepada Wulan. Mereka masih memandang sinis dan tak mau mengajaknya mengobrol. Wulan terlihat tak nyaman dengan suasana kelas saat ini.

Tiara menghampiri aku dan Wulan. Aku tersenyum dan mengajaknya untuk duduk bersama. Tiara menarik tanganku dan membawa keluar kelas.

"Wulan itu sudah buat masalah, Ken.'

"Wulan itu sahabat kita, Ra."

"Sahabat itu nggak akan nusuk kita dari belakang."

"Setiap orang pernah membuat kesalahan."

Tiara terdiam mendengar ucapan terakhirku. Sebenarnya aku pun sangat marah dengan tindakan Wulan pada kami. Namun, aku menyadari bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahn Wulan. Apalagi saat ini Wulan ingin memperbaiki diri, Apakah ia harus terus disalahkan?

Aku menarik Tiara untuk kembali ke kelas. Sesampai di kelas, aku mengajak Wulan untuk bicara di depan kelas. Awalnya Wulan menolak, tetapi aku memaksanya agar semua ini segera berakhir.

Suasana kelas berubah hening. Semua pandangan tertuju pada kami bertiga yang kini ada di muka kelas.

"Ayo bicara," ucap Tiara dengan nada tinggi pada Wulan.

"Maafkan aku teman-teman. Aku mengaku salah." jawab Wulan perlahan.

"Apa alasanmu melakukan itu semua?" Tanya Vian.

"Ini semua karena aku," ucapku.

Sontak saja seisi kelas menjadi makin bingung. Mereka saling bertanya dengan hal yang baru saja kuucapkan. Wulan menggeleng dan memintaku untuk tidak menceritakan hal yang sebenarnya.

"Aku nggak bisa menjadi sahabat yang baik..."

Aku menghentikan ucapanku saat Wulan menarik tanganku. Wulan menatapku dan memintaku agar membiarkannya bicara.

Wulan mulai menceritakan apa yang melatarbelakangi ia berbuat hal tersebut. Kulihat Wulan mulai terisak saat berbicara di depan teman-teman. Reaksi teman-teman sama seperti reaksiku kemarin. Kami hanya tak habis pikir bahwa Wulan bisa bertindak seperti itu.

"Aku menyesal. Aku janji tidak akan pernah mengulangnya lagi. Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kalian pasti benci banget sama aku. Kalau memang perbuatanku ini nggak bisa kalian maafkan, aku terima."

Aku langsung memeluk Wulan. Entah mengapa aku malah merasa sangat bersalah padanya. Akulah alasan ia melakukan semua ini.

Tiara menarik tubuhku yang masih memeluk Wulan. Tiara menyeka air mata Wulan.

"Lan, kita itu memang bersaing satu sama lain, tapi kita bersaing secara sehat. Jangan sampai karena satu dan lainnya membuat kamu melakukan segala hal untuk menjatuhkan orang lain." ucap Tiara.

"Betul kata Tiara, wajar ketika kita marah pada seseorang tapi bukan berarti kita menutup hati. Kalau kamu mengira kita membencimu. itu salah," ucap Vian.

Aku lega mendengan ucapan Tiara dan Vian. Kulihat teman-teman lain pun cukup memahami kondisi ini. Wulan mulai menyunggingkan senyumnya.

"Lega ya, Lan," ucapku.

"Iya, terima kasih ya, Ken."

"Maafin aku juga ya, Lan"

"Kamu nggak salah, aku yang harusnya minta maaf. Kamu maafin aku kan?"

Aku mengangguk dan tersenyum pada Wulan. Senang rasanya kesalahpahaman ini berakhir. Kuharap semua akan kembali normal.

"Oh iya Ken. Bukan bearti aku akan mengalah urusan Adrian, ya," bisik Wulan.

"Sainganmu terlalu berat." jawabku sambil tertawa.

Seorang pemenang adalah ia yang rela dengan lapang, memaafkan segala kecurangan walau datang dari orang tersayang.

Profil Penulis

Gie Anggraini lahir dan besar di Bandung. Perempuan yang lahir di tanggal 22 September ini telah menelurkan beberapa karya seperti puisi, cerpen, musikalisasi puisi, dan short movie. Novelet pertamanya “Merindukan Hujan” diapresiasi cukup baik oleh para pembaca. Perempuan yang biasa disapa Gie ini sedang gencar mempromosikan novel terbarunya “Yang Pernah Singgah”.

Cerpen! Neon Ghost Cafe

Cerpen! Neon Ghost Cafe

INIKECE - Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu bersiweran di pandang. Warna-warna cantik itu terpantul bersamaan dengan gemericik air hujan yang terjatuh ke kubangan. Ketujuh warna itu berasal dari lampu papan nama sebuah coffee shop yang berada di tingkat dua sebuah ruko.

Di sebelah kanan ruko empat tingkat itu, ada jalan setapak yang tak kalah semarak dengan lampu beraneka warna yang mencolok. Neon memang selalu menghidupkan Kota Seoul di sore hingga malam hari dengan caranya sendiri.

"Hihihihi!" sepatu converse seorang remaja berseragam sekolah menghancurkan bias cahaya beraneka warna di kubangan yang sejak tadi menarik pandangku. Aku sendiri tak mengerti mengapa mata, hati, dan pikiranku tertuju ke sana. 

Ibukota Korea Selatan ini begitu besar. Area Gangnamnya merupakan destinasi favorit bagi banyak wisatawan. Anehnya, sudah hampir setengah jam aku duduk di sebuah kursi kayu panjang suatu ruko kosong, aku hanya senang memperhatikan kubangan air.

Duduk di kursi kayu panjang yang mengingatkanku pada bangku kelas SD dulu sebenarnya bukan keinginanku saat ini. Aku yang tengah berwisata keliling Seoul seorang diri tiba-tiba saja kehujanan dan memilih untuk berteduh di sebuah ruko kosong.

Ada kursi kayu panjang tak terpakai yang ditaruh di samping pintu masuk. Karena kelihatannya hujan semakin deras, aku memilih untuk duduk di kursi ini. Di saat itulah, kubangan air di hadapanku begitu menarik perhatian.

"Hadi gadis cantik, kau tidak membawa payung?" Seorang Ibu paruh baya keluar dari pintu ruko kosong. Dilihat dari gesturku yang memanggul backpack, mungkin logikanya menerka bahwa seharusnya aku membawa berbagai barang penting, termasuk payung.

Aku menggelengkan kepala dan merespons ibu paruh baya itu dengan bahasa yang juga dipakai olehnya, yaitu bahasa Korea, "Tidak"

"Atau, mampir saja ke coffee shop seberang," tunjuk si ibu paruh baya, "di sini, dingin."

"Terima kasih," aku sedikit membungkukkan badan.

"Kenapa kau bisa tak membawa payung? Padahal tas punggungmu besar sekali? Ah! Kau sedang duduk begini, mengapa tas di punggungmu tak kau lepas dahulu?" untuk ukurang orang yang baru kenal, ibu paruh baya ini terbilang penuh percaya diri.

Pertama, dia spontan saja memberiku nasihat perihal tas dan payung. Kedua, dari perawakanku, seharusnya dia tahu bahwa aku bukan orang Korea, tetapi di yakin sekali aku bisa merespons setiap perkataannya.

"Mengapa kau berbicara kepadaku menggunakan Bahasa Korea?" kutanyakan saja hal mengganjal pada ibu paruh baya ini.

"Rupanya kau wisatawan?" Ibu paruh baya ini terus berbicara denganku. Rupanya, dia masih begitu percaya diri jika aku bisa berbicara Bahasa Korea. Negara gingseng ini memang bagaikan negara kedua bagiku. Hampir setiap tahun aku datang ke sini. Alasannya bisa karena pekerjaan, belanja, atau travelling.

Aku menganggukkan kepala, "Benar apa kata anakku. Kau ini sedang liburan di sini."

"Siapa anakmu?" aku mulai menggeser cara dudukku, agak berjarak dari ibu paruh baya ini. Apakah salah jika aku takut? Apalagi, selama aku berbincang dengan ibu paruh baya ini, belum lagi ada orang yang wara-wiri di sekitar sini. Suasana sepi di sekitarku seolah memagariku dengan kenyataan bahwa aku hanya berdua dengannya.

"Itu, yang sedang melihat kita dari jendela lantai dua. Dia adalah anakku," ibu paruh baya menunjuk jendela kaca yang terletak di bawah papan nama Neon Cage. Kuikuti kemana arah telunjuk si ibu paruh baya dan kutemukan sesosok pria tinggi sedang memandang ke arahku. "Kau ke coffe shop sana saja! Minum kopi, santai, dan tak usah membayar, tapi kau share di social media, ya? Hitung-hitung promosi usaha anakku yang masih sepi."

Aku mengeryitkan dahi, memperhatikan sosok pria pemilik coffee shop itu dengan lebih seksama. Kalau aku tak salah lihat, dia tengah menggendong sesuatu. Mungkin hewan peliharaannya. Kalau tidak kucing, mungkin anjing.

"Terima kasih," sudah tak tahu ingin berkata apa kepada si ibu paruh baya, kata 'terimakasih' kembali kulontarkan. "Eh?" akan tetapi, begitu aku menoleh, dia sudah tak ada di tempat. Aku jadi penasaran ke mana perginya. Untuk masuk ke ruko kosong rasanya tidak mungkin. Pintu di samping bangku panjang yang kududuki ini ternyata dalam keadaan tergembok.

Refleks, aku mendongakkan kepala. Mencarai sosok pria tinggi yang tadi berdiri di jendela kaca coffee shop. Rupanya, pria itu juga sudah tak ada di sana. Aku jadi tergerak untuk beranjak dari bangku. Biar saja menerobos hujan seperti remaja berseragam sekolah yang tadi lewat. Firasatku mengatakan bahwa lebih cepat aku meninggalkan tempat ini, tampaknya lebih baik.

Baru saja aku mengayunkan langkah, aku kembali dikejutkan dengan tak adanya titik-titik air hujan yang membasahiku. Aku merasa cahaya biru keunguan menyelimuti raga. Aku mendongakkan kepala dan mendapati diriku sudah dipayungi. Efek glowing in the dark dari payung ini yang membuat diriku bermandikan cahaya neon biru keunguan, sama dengan warna lampu yang tadi kulihat di kubangan.

"Do you want a cup of coffee? A Cup of black sesame latte?" Seorang pria Korea yang sebenarnya tak kukenal, tak kuketahui, tetapi serasa tak asing bagiku seketika muncul di hadapanku. Baret hitam yang dikenakannya mengingatkanku dengan seorang seniman atau pelukis. 

Wajah tampan dengan pandangan sayu dan ekspresi tersenyum tanggungnya bermandikan cahaya merah keunguan. Ada warna seperti itu di raganya mungkin berkat payung yang dia genggam dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sudah memayungiku dengan payung lainnya, yang bercahaya biru keunguan.

"Kau yang tadi berdiri di jendela lantai dua?" Responsku dengan menggunakan Bahasa Korea.

Mendengar aku melontarkan Bahasa Korea, pria itu termenung sesaat.

"Apakah cara pengucapanku salah?" aku jadi ketakutan sendiri.

"Maaf," pria itu malah sedikit menundukkan kepala, "jika selama berkenalan nanti, aku terlihat aneh," ucapnya, "aku tak bisa membedakan mana kawan kasat mata atau tidak. Makanya, hanya Niyo temanku."

"Niyo?" aku memandang sekeliling. Kalau pendengaranku tak salah, tadi pria ini mengatakan bahwa dirinya mempunyai kawan yang terlihat maupun yang tidak. Kalau memang begitu, apakah Niyo yang dia maksud adalah makhluk tak kasat mata?

"Aku Kim Jeong Sin, pemilik Neon Caffee yang masih sepi pengunjung ini. Mari masuk!" Pria yang baru kuketahui namanya ini menunjuk ruko coffee shop miliknya dengan dagu. Aku bisa saja menolak, tetapi entah mengapa kedua kakiku bagai ditarik magnet untuk memasuki tempat penuh lampur neon itu.

"Ibumu? Dimana? Selama mengayunkan langkah bersama Jeongsin, aku iseng saja melemparkan pertanyaan kepadanya.

"Ibuku?" Jeongsin malah mengernyitkan dahi. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Ah! Tidak! Tidak! Tidak!" seruku seraya mengangkat kedua tangan.

"Kalau tidak pernah bertemu, kau kenal ibuku dimana?" selidik Jeongsin, "Semua orang yang dikenal ibuku, pasti aku mengenalinya. Ibuku pendiam dan tak banyak teman. Jadi, aku tahu semua temannya."

"Ibumu bukannya banyak bicara?" aku sebenarnya bisa saja tak banyak bertanya. "Tadi saja, dia berbicara banyak kepadaku."

"Rupanya, dia muncul lagi!" Sepatu Pantofel Jeongsin menginjak kubangan air yang berada di tepat depan ruko. Aku sempat melihat sepatu pantofel cokelat itu jadi sedikit basah. Sayang menurutku jadi kotor begitu. Pasti harganya sangat mahal.

"Maksudmu?" aku jadi tak mengerti mengapa wajah Jeongsin tampak kebingungan. Dia buru-buru menoleh ke belakang, ke arah tempat bangku'ku tadi. "Huh! Dia bukan ibuku!" serunya seraya melanjutkan langkah dan sampai di depan pintu ruko.

Meski masih bingung dengan kata-katanya, aku ikuti saja Jeongsin ke dalam ruko. Toh kelihatannya, caffeenya seru.

Pintu ruko dibuka. Kami berdua pun menaiki tangga dan menuju caffee. Ketika sampai di lantai dua, kedua mataku mendapati papan nama caffee yang sama dengan yang berada di luar. "Neon Caffe", tulisan dari nama caffee ini pun menggunakan Neon.

Pintu kaca caffee dibuka. Aku langsung membuka mulut lebar-lebar. Luar biasa cantik interior neon yang terpasang di sepanjang dinding caffee. Ada yang membentuk huruf hangeul, siluet manusia, binatang, benda astronomi, kata-kata mutiara atau quote, dan beberapa bentuk makanan. Cahaya lampu remang-remang pada ruangan membuat interior neon itu jadi mencolok, seolah-olah "glowing in the dark."




Ketika Jeongsin membuka pintu caffe, seorang pria Korea lain yang berada di meja kasir mengangkat tangan, gestur menyapa.

"Guk!" tak lama kemudian, seekor anjing kecil berjenis Pomeranian menghampiri. Kedua mata bulatnya begitu polos dan membuatnya semkain menggemaskan. Apalagi, wajah lucunya dikelilingi bulu panjang kecokelatan yang bagus dan halus. Di leher mungilnya, tergantung bandulan metal bertulisakan 'Niyo' dalam alfabet.

Oh...jadi makhluk imut ini yang bernama Niyo. Tentunya tak mungkin menakutkan.

"Yangsin-hyung, ada tamu yang ingin black sesame coffe! Bisakah kau membuatkannya?" sambil menggendong Niyo, Jeongsin berseru pada pria bernama Yangsin itu di meja kasir. Dibandingkan Jeongsin, gaya berpakaian Yangsin lebih casual dengan T-shirt, celana jins, sport watch, dan celemek. Kelihatannya dia adalah seorang barista.

"Silahkan duduk! Perkenalkan, aku Kim Jeong Hoon." Rupanya ada pria ketiga dalam ruangan ini. "Jika kau bosan, kau bisa membaca buku yang tersimpan di rak buku sebagai kawan minum kopimu," ketika bicara, dia tak menatap wajahku. Tatapannya tertuju ke bawah, pada buku yang tengah dibacanya. Gaya berpakaian sungguh formal dengan kemeja putih, dasi hitam, dan kaca mata.

Di tengah diding, aku melihat sebuah foto yang satu-satunya tak berunsur neon. Justru, cahaya kuning dari lampu pijar menyorot eksklusif ke sana. Foto itu bergambar Jeongsin, Yangsin, dan Jeonghoon saling merangkul bersama ibu paruh baya yang tadi berbincang denganku. Dilihat dari cara mereka berempat berpelukan di foto, kurasa mereka berempat memiliki hubungan keluarga. Kemungkinan besar tentu saja hubungan ibu dan anak.

Lalu, kalau memang benar ibu paruh baya yang tadi adalah wanita yang sama di foto itu, mengapa Jeongsin mengatakan bahwa ibu paruh baya itu bukan ibunya?

"Orang ini katanya tadi melihat ibu." ucap Jeongsin seraya menunjukku.

"Di mana dia melihat ibu?" tanya Yangsin seraya menyiapkan sesuatu mungkin secangkirneon black sesame coffe untuku.

Dengan meragu, kutunjuk foto gi dinding, "Tadi ada wanita di dalam foto bersama kalian ini yang mengajakku bicara di bawah sana," lalu, aku menunjuk salah satu jendela kaca.

"Jadi, dia sampai mengajakmu bicara di depan ruko kosong yang ada diseberang itu?" Jesongsin memadangku lekat-lekat. Sambil membelai kepala Niyo dengan lembut, dia berkata kepadaku, "Mereka hanya menyerupai ibu kami."

"Ibu kami sudah meninggal dua bulan lalu," lanjut Yangsin, "Kami bertiga adalah saudara yang mempunyai caffe ini."

"Hah? Sudah meninggal?" aku hanya menutup mulut dengan kedua tangan, bingung harus berekspresi apa. Bulu kudukku pun mungkin masih berpikir kira-kira perlu bergidik atau tidak. Aku sungguh tak mengerti dengan situasi saat ini.

"Dalam keadaan sakit, ibu tetap membantu kami mengurus caffee. Sampai akhirnya, dia meninggal kelelahan dan terkena serangan jantung diisii"

"Dalam keadaan sakit, ibu tetap membantu kami mengurus caffee, sampai" tanda dia tinggal  menelan ludah.

"Meninggal di sini?" aku menalan ludah.

Jeongsin mengangguk, "Banyak hal yang masih ingin ibu lakukan untuk membantu kami di caffe ini. Energi yang tak selesai itulah yang dimanfaatkan arwah jahat untuk menjelma menjadi ibu."

Aku memantau keadaan langit dari kaca jendela caffee. Hari sudah mulai gelap. Aku jadi tak tahu apakah hujan sudah berhenti turun atau tidak, aku merasa labih baik untuk cepat pulang. Keberandaanku di sini sangat absurd. Bukan hanya keberadaanku di sini saja, pertemuanku dengan ibu paruh baya tadi juga absurd.

"Maaf, hujan sepertinya sudah berhenti. Aku harus pulang," baru saja aku mencoba membuka pintu caffee, beberapa orang tampak berdiri di depan pintu. Jeongsin langsung menghadangku dengan seolah membukakan pintu untuk para tamu yang baru datang.

"Anyyonghaseyo," sambut Jeongsin kepada para tamu.

"Anyyong." beberapa orang tamu menempati meja paling pojok, dekat dengan rak buku.

"Secangkir neon black sesame latte untukmu." Yangsin menaruh sebuah cangkir di meja kosong samping meja kasir.

Seharusnya, aku mengambil menumanku itu, tetapi aku merasa lebih baik segera pulang. "Sudah tidak hujan, aku harus pulang," aku kembali mengayunkan langkah menuju pintu caffee. Entah kebetulan atau bagaimana, ada beberapa tamu lagi yang mendatangi caffee. Jeongsin pun kembali menghalangiku dengan gestur seolah membukakan pintu untuk tamu yang baru datang. Perlahan caffee ini jadi ramai.

"Sudah malam, saatnya lampu dimatikan," ucap Jeongsin. Dia melepaskan Niyo dan memencet saklar ruangan.

Sekejap, ruangan begitu gelap gulita. Namun, sedetik kemudian, munculah arsiran dan siraman Neon baru di dinding maupun langit-langit ruangan. Ditambah lagi, rupanya, banyak barang di ruangan ini yang memiliki efek glow in the dark atau neon berwarna mencolok. Salah satunya adalah cangkir balck sesame ku. Wadah minuman itu tampak melayang. Padahal, dibawhanya ada meja sebagai benda diletakannya minuman itu.

Tak hanya itu, pakaian para pemilik caffe pun berbalik berganti warna dan mencolok. Begitu juga dengan rak buku, pantofel milik Jeongsin, sport watch Yangsin, kaca mata Jeonghoon, bahkan make up salah satu tamu yang berkonsep neon turut memberikan efek di ruang gelap ini.

"Welcome to our Neon Party," Jeongsin bertepuk tangan. Aku dengar tepukannya dalam gelap.

Aku merasa kian asing dengan suasana pesta ini. Tak pikir panjang, aku memutuskan untuk keluar caffee. Jika ada tamu lagi yang datang, aku bertekat untuk tetap pergi.

"AAAA!" di saat itulah, aku berteriak kencang. Di depan cafee, wanita paruh baya yang tadi berbincang denganku sudah berdiri di depan pintu caffe. Dari sorotan cahaya yang kudapat dari neon papan nama caffee di luar, kulihat rambutnya basah. Begitu juga dengan bajunya.

***

Sambil terus memberanikan diri, aku senggol saja ibu paruh baya itu dan berlari menuruni tangga. Bulu kudukku kali ini bergidik lantaran menerima kenyataan bahwa aku tak bisa menyenggol ibu paruh baya itu, melainkan menembus raga.

Ketika aku hendak turun kebawah melalui tangga, rupanya aku berpapasan dengan seorang remaja berseragam sekolah yang tadi sempat kulihat berlarian dan menginjak kubangan air di depan ruko kosong.

"Kamu mau kemana? Neon Caffee?" tanyaku kepada remaja berseragam sekolah itu.
"Lebih baik pulang saja! Caffee itu aneh! Ada hantu!" ujarku apa adanya. Aku mulai merasakan peluh meleleh dari pelipisku.

"Hihihihi!" Remaja itu tertawa cekikikan. "Sesungguhnya, aku memang sedang mencarimu. Justru aku yang tak mau kau terjebak di Neon Caffee. Jeongsin selalu membujuk kawan baru dari dua dunia untuk meramaikan caffenya."

Meski tak mengerti maksud dari kata-kata yang dicuapkan remaja ini, aku ikuti saja langkah kakinya untuk turun keluar ruko. Sepertinya pilihan terbaik memang meninggalkan Neon Caffee.

"Tapi, ngomong-ngomong, siapa yang menyuruhmu menghampiriku?" sambil berlari, aku melemparkan pertanyaan kepada si remaja yang baru kuperhatikan seragamnya sudah sangat kusam dan lecek.

Si remaja itu tak menjawab pertanyaanku. Dia membuka pintu ruko.

Kini, udara luar sudah menyambutku. Aku merasa sebagian bebanku terlepas dari raga. Akan tetapi, bukannya menambah kecepatan berlari, aku malah terdiam kaku. Apalagi ketika kedua mata ini tertuju pada satu titik pandang

"Aaaa....aaaa....," bibirku gemetaran tiba-tiba. Aku tak percaya dengan terlepas dengan apa yang kulihat. Seorang wanita yang begitu familiar bagiku duduk kaku di bangku panjang depan ruko kosong. Wanita itu adalah aku, tepatnya ragaku.

"Cepat kembali ke tempatmu! Seru si remaja. "Kau ini ruh! Kami ini arwah! Kau belam waktunya! Kami sudah kemarin-kemarin! Kau belum bisa bersama Waktu.

"Se,jak, kapan?" aku memandang kedua tangan tangan dan lenganku.

Tak lama setelah itu, aku merasakan semuanya gelap. Kucoba untuk membuka mata ujung-ujungnya, hal yang aku temui adalah hitam.

Sampai akhirnya, aku merasakan seseorang menggucangkan tubuhku. Aku segera membuka mata. Dihadapanku, seorang suster tersenyum simpul ke arahku.

"Rupanya sudah sadar," ucap suster tersebut. Tentu saja dengan Bahasa Korea. "Jangan karean traveling, kau memaksakan diri harus pergi ke banyak tempat. Akibatnya, kondisi fisikmu drop."

"Siapa yang membawaku ke sini? seolah tak peduli dengan kondisi badan, aku malah penasaran dengan sosok orang baik yang membawaku ke rumah sakit. Apakah remaja berseragam sekolah tadi? Namun, sepertinya pertemuanku dengannya juga dipertanyakan eksistensinya.

"Seorang bernama Kim Jeongsin," respons suster.

Mendadak, semua gelap.

Mendadak, aku lebih memilih memejamkan mata.
Baru kali ini, aku lebih suka gelap.

Tolong! Jangan ada Neon lagi!

***

Silvarani adalah seorang penulis buku fiksi dan non-fiksi. Jumlah buku yang dituliskan adalah 18 buku. Hobby berceritanya disalurkan salah satunya melalui tulisan. Semoga para pembaca terhibur atau terinspirasi.

Segera Menemani Di Awal Tahun 2020! Temtem Game MMO Yang Ditunggu Segera Hadir

Segera Menemani Di Awal Tahun 2020! Temtem Game MMO Yang Ditunggu Segera Hadir

INIKECE - Kehadiran game Pokemon Sword and Shield memang cukup berhasil mengumpulkan para fans Pokemon di seluruh dunia untuk memainkannya. Pasalnya game tersebut menghadirkan cerita yang bisa dibilang baru.

Kesuksesan game Pokemon tersebut tentu mendorong para developer game lain untuk membuat game yang serupa. Salah satunya adalah Crema yang baru-baru ini mengumumkan game barunya yang bernama Temtem.

Temtem diketahui merupakan game MMO (Massively Multiplayer Online) yang memiliki gameplay mirip dengan Pokemon Sword and Shield. Nantinya para pemain dapat menangkap monster dan berduel dengan pemain lain secara online.

Selain itu visual grafis low-poly yang dihadirkan oleh game tersebut membuat game ini terasa ringan untuk dimainkan di platform mana pun. Hal tersebut juga memberi ciri khas tersendiri untuk game tersebut.




Diketahui bahwa pemain juga dapat melakukan barter (trade) dengan fitur yang telah disediakan nantinya. Jadi bisa dikatakan game ini merupakan pergabungan antara game Pokemon dan Growtopia.

Pihak Crema sendiri mengumumkan bahwa game Temtem akan segera diluncurkan pada tanggal 21 Januari 2020 mendatang dalam tahap early access di Steam. Mereka juga memiliki rencana untuk menghadirkan game tersebut di platform lainnya.

Ramalan Di Desember 2019 Karir dan Cinta, Salah Satunya Scorpio Diberikan Kesempatan Besar!

Ramalan Di Desember 2019 Karir dan Cinta, Salah Satunya Scorpio Diberikan Kesempatan Besar!

INIKECE - Bagi yang suka dengan suatau ramalan zodiak, kali ini bulan Desember yang paling ditunggu-tunggu banyak orang, ada sebuah ramalan zodiak yang akan membahasa persoalan karir dan cinta di akhir bulan ini.

Dengan ramalan yang akan dijelaskan, anda wajib membenahi apa yang dirasa kurang dan bisa diperbaiki sepanjang sisa Desember 2019 ini. Jadi, sebelum mengetahui langkah apa dari percintaan yang harus dilakukan, ada baiknya melihat ramalan zodiak bulan ini.

1. Aries

Bulan ini perlu ekstra hati-hati dalam masalah keuangan karena waktunya tidak baik untuk transaksi. Jika anda meminjamkan atau mengambil uang dari seseorang, maka dalam kedua kasus itu dapat menyebabkan kesulitan.

Hindari menghabiskan terlalu banyak waktu luang karena anda mungkin menghadapi krisis keuangan. Berbicara tentang kehidupan pernikahan, mungkin ada beberapa perselisihan dengan pasangan, terutama di awal bulan.

Sejauh menyangkut masalah cinta, semuanya akan normal. Jika memutuskan untuk membawa hubungan maju, waktu tidak menguntungkan. Anda harus menunggu sedikit lebih lama.  Minggu pembukaan akan baik-baik saja bagi karyawan tetapi anda mungkin menghadapi beberapa tantangan di pertengahan bulan. Selama periode ini, beban kerja akan lebih banyak.

2. Taurus

 Anda akan sangat tegang bulan ini karena tekanan kerja yang meningkat di kantor. Senior mungkin tidak puas dengan pekerjaan anda dan sikap mereka tidak akan baik, yang akan membuat anda kesal. Jika berbisnis, hindari perselisihan dengan pasangan, jika tidak, perbedaan akan berdampak buruk pada pekerjaan.

Beberapa kerugian finansial juga mungkin terjadi, jadi anda harus mengambil setiap keputusan dengan sangat hati-hati. Di pertengahan bulan, anda dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengembangkan bisnis. Namun, anda tidak boleh melampaui anggaran dan menghabiskan lebih dari penghasilan dalam kegembiraan berlebihan. Dalam kehidupan pernikahan, kedekatan dengan pasangan akan meningkat.

3. Gemini

 Kehidupan keluarga akan bahagia. Bulan ini, anda bisa akrab dengan anggota keluarga. Anda juga akan menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan pasangan yang akan membuat hubungan lebih kuat. Namun, dalam kehidupan romantis, anda mungkin menhadapi situasi stres karena meningkatnya kesalahapahaman dengan pasangan. Anda harus menghindari meragukan diri mereka atas hal-hal kecil jika tidak hubungan bisa putus.

Dari sisi keuangan, bulan ini akan terbukti mahal. Namun, tidak akan ada kendala keuangan. Ada juga kemungkinan membeli kendaraan baru bulan ini. Anda akan maju dengan baik di tempat kerja dan akan mencapai kesuksesan dengan pemikiran positif dan kerja keras.

Apakah itu pekerjaan atau bisnis, anda akan mendapatkan hasil yang tepat. Anda akan bersenang-senang bulan ini, tetapi di tengah-tengah semua ini, anda harus menjaga kesehatan.

4. Cancer

 Anda akan mengambil keputusan penting dalam sangat hati-hati bulan ini yang akan memberi hasil yang diharapkan. Secara mental, anda akan sangat kuat dan akan berhasil dalam semua upaya. Jika anda berasal dari latar belakang media, seni, dan ekspor-impor, bulan ini bisa mendapat banyak keuntungan. Terlepas dari ini, jika telah memulai bisnis baru, anda mungkin mendapatkan keuntungan yang baik.

Karyawan perlu menjaga hubungan baik dengan senior. Selama diskusi apa pun, anda harus menahan diri dan menghindari berbicara dengan terlalu bersemangat. Situasi keuangan akan baik bulan ini. Anda dapat berbelanja untuk properti baru apa pun.

Masalah kehidupan pernikahan kemungkinan besar akan berakhir dan pemahaman di antara anda berdua akan meningkat. Mungkin ada pasang surut dalam masalah kesehatan, jangan ceroboh.

5. Leo

 Anda mungkin menghadapi situasi yang merugikan di tempat kerja. Mungkin karena tekanan mental, anda tidak akan fokus pada pekerjaan. Jika tidak menangani sesuatu tepat waktu, masalah akan bertambah. Pertengahan bulan akan terbukti sedikit melegakan. Anda akan sangat senang mendapatkan kesuksesan dalam segala upaya.

Penghasilan cenderung meningkat. Penguasaha dapat menghabiskan banyak yang untuk mengembangkan pekerjaan. Mungkin ada beberapa masalah dalam kehidupan pribadi. Kepahitan dalam kehidupan pernikahan dapat meningkat dan menyebabkan jarak dengan pasangan. Anda lebih baik mengontrol ucapan. Pada akhir bulan, anda dapat pergi jalan-jalan dengan teman-teman lama, yang akan mengurangi stres.


/div>
6. Virgo

 Bulan ini anda akan serius dengan pekerjaan dan menemukan diri penuh semangat. Karyawan mungkin mendapatkan beberapa pencapaian besar. Ada juga kemungkinan besar kenaikan gaji bersamaan dengan promosi. Anda juga dapat memperoleh kesempatan untuk bepergian ke luar negeri terkait dengan pekerjaan. Waktu juga akan baik untuk pedagang.

Akan ada kebahagiaan dan kedamian dalam kehidupan keluarga. Orang tua akan merasa sangat bangga pada anda. Bulan ini, anda akan mencoba yang terbaik untuk menyelesaikan semua tugas yang belum selesai. Pertengahan bulan akan sangat menguntungkan, Anda bisa mendapat kesuksesan dalam setiap upaya. Tidak hanya itu, selama periode ini anda dapat mengambil bagian dalam pekerjaan sosial. Kondisi keuangan akan baik dan anda akan mengambil semua keputusan terkait dengan bijaksana.

7. Libra

 Bulan ini akan membawa hasil yang beragam. Memulai bulan dengan sulit, anda harus menahan diri, terutama dalam masalah keluarga, dan harus adil mengambil keputusan. Mungkin ada beberapa perbedaan antara anggota keluarga. Anda disarankan untuk tidak emosi, seperti marah dan egois. Jika berbisnis, maka bulan ini akan terbukti sangat baik. Anda akan mendapatkan bantuan dengan menyelesaikan masalah hukum.

Waktu juga akan baik untuk pelajar. Anda akan menaruh perhatian penuh pada studi dan mencoba mempelahari sesuatu yang baru. Mungkin ada pasangan surut dalam kehidupan perkawinan. Anda harus menghindari kemarahan berlebihan, jika tidak, perbedaan dapat terjadi. Berbicara tentang kehidupan romantis, jika mencari pasangan, bulan ini anda mungkin tertarik pada seseorang.

8. Scorpio

 Bulan ini anda mungkin mendapatkan kesempatan besar utnuk bersenang-senang dengan teman-teman. Dalam hal cinta, akan menjadi istimewa. Jika masih lanajng, anda mungkin bertemu seseorang dan cinta pandangan pertama. Untuk pasangan yang sudah menikah, bulan ini akan menjadi romantis. Berbicara tentang pekerjaan, awal bulan akan sedikit sulit karena kurangnya dukungan dari pejabat tinggi.

Namun, situasi seperti itu tidak akan bertahan lama dan kerja keras akan segera memenangkan hati senior. Waktu juga tepat untuk para pedagang. Anda dapat mengharapkan untung besar. Dari sisi keuangan, hasil yang beragam bisa diharapkan. Anda akan mendapatkan uang tetapi mungkin harus menghabiskan banyak untuk hal-hal yang tidak perlu.

9. Sagitarius

 Jika ingin melakukan sesuatu, pertama singkirkan semua pikiran negatif. Perkuat kepercayaan diri dan bekerja keras karena pasti akan mendapatkan kesuksesan. Di tempat kerja, anda mungkin mendapatkan beberapa peluang bagus. Mungkin ada banyak tekanan kerja untuk memenuhi target tetapi anda akan dapat berhasil dalam semua upaya.

Namun, peningkatan stres dapat membuat kesal dan meningkatkan kemarahan. Anda disarankan untuk mengendalikan perilaku. Karena beberapa perselisihan dengan anggota keluarga, suasana rumah tidak akan baik. Lebih baik menjaga sisi anda di depan semua orang dengan kedamaian dan pikiran yang tenang. Keluarga pasti akan memahami sudut pandang anda. Masalah keuangan akan baik-baik saja. Anda mungkin mendapatkan manfaat yang baik di awal, tetapi pengeluaran anti dapat meningkatkan kecemasan.

10. Capricorn

 Bulan itu akan sangat penting, anda akan dapat memecahkan banyak masalah serius dan membuat keputusan yang tepat pada waktu yang tepat, yang akan membawa hal-hal yang menguntungkan. Di depan pekerjaan, anda akan membuat kemajuan yang baik dan akan mendapatkan hasil yang tepat dari kerja keras. Jika anda bekerja dengan cara yang sama, ada kemungkinan promosi dan perjalanan ke luar negeri. Waktu juga akan menguntungkan bagi para pedagang. Pekerjaan akan bergerak maju dengan sangat cepat.

Akan ada kebahagiaan dan kedamaian dalam keluarga. Hubungan dengan anggota keluarga akan meningkat. Anda juga dapat merencakan kejutan untuk pasangan. Kebahagiaan dari sisi anak juga ada. Jika seorang pelajar, anda mungkin merasa terganggu bulan ini. Jika melakukan kegiatan yang tidak perlu, anda mungkin harus menyesalinya nanti.

11. Aquarius

 Bulan ini, orang baru dapat memasuki hidup anda yang akan sangat terhubung secara emosional. Akan ada cinta, antusiasme, gairah, dan kegembiraand alam kehidupan romantis. Hubungan akan semakin kuat. Pasangan juga dapat melamar untuk menikah. Banyak lamaran pernikahan mungkin datang bulan ini untuk yang belum menikah.

Kemajuan dalam karir juga diharapkan. Anda akan mendapatkan hasil yang layak dalam pekerjaan maupun bisnis. Karyawan akan mendapatkan dukungan penuh dari senior dan pedagang mungkin harus melakukan beberapa perjalanan kecil. Kehidupan keluarga akan bahagia dan anda akan mendapatkan dukungan dan kasih sayang. Bulan ini akan bagus dalam hal keuangan, anda juga dapa tmelakukan investasi besar selama periode ini.

12. Pisces

 Anda harus sangat berhati-hati bulan ini. Pengusaha disarankan untuk tidak mempercayai siapa pun. Karyawan juga mungkin menghadapi banyak tekanan karena penugasan baru. Anda disarankan untuk mengendalikan amarah selama periode ini.

Jika tidak, anda mungkin harus menghadapi banyak kontroversi. Jika ingin memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia, maka anda perlu memahami perasaan pasangan. Perselisihan tentang hal-hal kecil tidak baik untuk anda berdua.

Waktu akan normal untuk pasangan yang penuh kasih. Anda berdua dapat memutuskan untuk membawa hubungan ke depan selama periode ini dan berbicara dengan keluarga tentang hal itu. Kondisi keuangan tidak akan baik bulan ini. JIka mengerjakan rencana besar, maka buatlah keputusan dengan penuh pertimbangan. Kesehatan akan baik. Namun, di awal tahun, anda mungkin harus mengahadapi masalah kecil.

Beberapa Kota Memiliki Pasar Terbaik Dalam Menjelang Hari Natal, Bisa Jadikan List Travel Natal!

Beberapa Kota Memiliki Pasar Terbaik Dalam Menjelang Hari Natal, Bisa Jadikan List Travel Natal!

INIKECE - Bulan Desember adalah bulan yang ditunggu-tunggu banyak orang. Bulan dimana tujuan banyak orang untuk menghabiskan akhir tahun dan pastinya Perayaan Hari Natal di bulan Desember.

Banyak sekali orang akan mengambil cuti dan mengakhiri akhir tahun dengan membawa keluarga atau pasangan ke tempat yang sangat indah dan romantic. Dengan bertepatan dengan perayaan Natal pasti banyak sekali destinasi wisata yang menawarkan keindahan dan gemerlap suasana Natal.

Contohnya negara di Kota Eropa memiliki tradisi tersendiri dalam merayakan liburan akhir tahun yang setiap tahun rutin dilakukan. Untuk kamu yang sudah merencakan liburan ke Benua Eropa saat Natal dan tahun baru. Kamu wajib mengunjungi 5 kota berikut ini yang dilengkapi dengan Pasar Natal terbaik.

1. Pasar Dresden - Jerman

Salah satu pasar yang ada di Jerman, Dresden merupakan salah satu kota yang memiliki pesona indah untuk para pelancong. Dresden ternyata juga memiliki Pasar Natal yang sangat apik dan menjadi yang tertua di jerman.

Lampu-lampu berkilauan, bintang-bintang yang berkelap-kelip. Lagu-lagu Natal, keramalan anak-anak yang berbahagia menyambut Natal di setiap sudut dan aroma khas ginger bread semakin melengkapi suasana Natal di Dresden. Diadakan di the Altmarkt sejak 1434, pasar Natal di Dresden ini khas dengan karakter uniknya sejak 6 abad terakhir.

Kamu juga akan disuguhkan dengan instalasi pohon Natal yang dibentuk dari kayu, kain biru Lusatian dan bintang-bintang Moravia. Puncak pohon Natal setinggi 15 meter yang dilengkapi dengan hiasan yang terbuat dari kayu. Pohon Natal ini juga dijual di pasar Natal Dresden dengan ukuran yang lebih kecil.

2. Pasar Bath - Inggris

Pasar Natal di Bath ternyata bukan hanya sekedar pasar tapi juga memiliki sebuah festival lampion yang dikenal sebagai "Dickens Style". Sebuah tema yang terinspirasi dari kisah A Christmas Carol karya Charles Dickens, yang merupakan satu kisah Natal paling dicintai sepanjang masa. Suasana ini akan membawa kamu merasa seolah-olah bisa bertemu dengan salah satu karakternya yang berkesan saat kamu menyusuri jalanan tua di Bath.

The Roman Baths dan Gothic Bath Abbey didekorasi dengan lampu-lampu yang gemerlap dan kamu akan menemukan para pedagang yang menjual perhiasan handmade, pakaian rajut, ginger bread dan kacang panggang.

Bagi masyarakat Inggris sendiri, suasana Natal belum terasa lengkap tanpa Natal Carold serta lagu-lagu dari berbagai kelompok paduan suara yang melantun saat salju sedang turun di malam hari.

3. Pasar Poznan - Polandia

Pasar Natal Poznan atau yang biasa dikenal dengan Poznan Bethlehem termasuk ke dalam top 10 Pasar Natal terbaik di Eropa pada 2019 dan tentunya dinegara Polandia sendiri.

Di pasar ini kamu akan dibuat dengan turunnya butiran salju, dan atraksi Natal asli yang terletak di Poznan Old Market Square hingga Freedom Square selama Natal.

Kota ini juga memiliki festival patung es (Ice Sculpture Festival) yang unik di Eropa dengan melibatkan banyak peserta. Peserta yang datang berasal dari seluruh dunia akan mengubah balok es raksasa menjadi sebuah karya seni di depan para pengunjung.

4. Pasar Metz - Perancis

Pasar Natal Metz menjadi pasar Natal terbaik di Eropa sebagai destinasi liburan Natal bersama keluarga. Kota ini memiliki enam pasar yang menawarkan beragam produk spesial dari kerajinan tangan. 

Suasana Natal akan semakin terasa saat kamu menikmati suguhan komidi putar. Serta ngan lewatkan kesempatan menyusuri "Trails of the lanterns" atau jejak lampion yang magis saat kamu berkunjung ke sini.

Kecemasan Istri Hingga Berujung Perdebatan Dan Pisah Ranjang, Kisah Dibalik Menyentuh Hati

Kecemasan Istri Hingga Berujung Perdebatan Dan Pisah Ranjang, Kisah Dibalik Menyentuh Hati

INIKECE - Berita viral hari ini, Sering pulang malam, istri marah dan suami suruh tidur di sofa. Istri menyesal di pagi hari, ternata punya alasan khusus kenapa ia pulang malam setiap harinya. Demi menyenangkan sang istri.

Seorang ibu dari tiga orang anak harus menyesal dan hancur hatinya setelah mengusir suaminya dari tempat tidur mereka. Dia marah dengan suaminya dan terlibat dalam sebuah percekcokan malam itu.

Ashley Murrell, 33, terlibat perdebatan sengit dengan suaminya Mikey, 36, setelah ia pulang terlambar dari giliran kerja 16 jam.

Wanita ini sangat khawatir pada suaminya hingga mereka akhirnya bertengkar dan dia menyuruh suaminya tidur di sofa setelah malam itu mereka gagal menyelesaikan pertengkaran.

Tetapi terapis kecantikan itu, Ashley, ketika bangun keesokan paginya harus menerima kenyataan pahit.

Dia mendapati suaminya telah meninggal semalam di sofa tempatnya tidur. Yang lebih tragis lagi, dia kemudian menemukan bahwa suaminya bekerja shift ekstra sebagai pembersih karpet.

Dia bekerja keras karena ingin membawa istrinya itu ke Praha saat ulang tahun mereka pada 3 Juli mendatang.

Memberi penghormatan kepada suaminya, Ashley, yang tinggal di Wellington di Somersert, berkata, "Mikey sangat peduli, jika dia berjalan ke sebuah ruangan dan melihat seseorang yang tidak bahagia, dia akan menjadi orang pertama di sana  yang mencoba menghibur mereka."

"Dia benar-benar mencintai keluarganya. Dia ingin anak-anaknya memiliki semua hal dalam kehidupan yang tidak dia miliki dan dia bekerja sangat keras untuk mewujudkannya."


"Dia akan bekerja shift 16 jam, tujuh hari seminggu hanya supaya dia bisa menabung cukup untuk membawa kita semua ke Disney setiap tahun. Dia sangat lelah tetapi dia akan melakukan apa saja hanya untuk melihat kami tersenyum."

"Tapi jam kerjanya terlalu banyak. Dia sangat kelelahan sepanjang waktu dan kesehatannya menurun dengan cepat."

"Ketika dia pulang ke rumah malam itu dia berantakan, saya belum pernah melihatnya begitu lelah. Saya tidak tahan melihatnya seperti itu dan saya menjadi marah. Saya muak dengan itu."

"Aku sudah mencobanya dan menyuruhnya tidur di sofa yang bodoh karena saya benar-benar hanya ingin dia di situ."

Ashley melanjutkan, "Ketika saya keluar dari kamar dan melihat dia keesokan paginya, saya langsung tahu ada sesuatu yang salah."

"Dia berbaraing tepat di tempat aku meninggalkannya dan wajahnya berubah warna, dia tampak abu-abu."


"Saya berjalan dan menyentuhnya tetapi dia kedinginan dan saya melompat mundur dan berlari keluar ruangan."

"Saya mulai berteriak 'ayah meninggal' ke anak saya yang berusia 14 tahun dan berlari ke jalan berteriak 'Mikey mati'."

"Saya pingsan dan harus dibawa kembali ke rumah oleh tetangga. Rasanya begtiu nyata, saya tidak bisa memprosesnya. Saya tidak merasa seperti dia sudah mati, saya merasa seperti telah meninggalkan saya."

"Ketika ambulan datang dan mereka memastikan dia sudah mati, saya jatuh ke lantai dan saya sakit. Tidak ada yang masuk akal."


"Saya merasa sangat bersalah. Saya sangat marah pada diriku karena membuatnya tidur di sofa. Saya masih merasa sangat sulit untuk berpikir bahwa kata-kata terakhir saya kepadanya adalah karena marah."


"Ketika saya mengetahui bahwa dia telah menabung untuk membawa kami pada liburan ulang tahun, itu mengerikan, memilukan, dan tidak mungkin menutupinya."

Dia menambahkan kepada Mercury Press Media, "Kehilangan Mikey telah mengubah seluruh pandangan saya tentang kehidupan. Hidup ini terlalu singkat untuk tidur dengan marah dan tidak menghabiskan setiap saat yang anda bisa dengan keluarga anda."

Ashley mengatakan post-mortem mengungkapkan bahwa suaminya telah tersedak dalam tidurnya tetapi penyebab di baliknya "tidak meyakinkan".

Pasangan itu bertemu pada 2007 dan menikah pada 2010, setelah itu Murrell mengadopsi putri Ashley, Morgan, 14, dan pasangan itu memiliki anak kembar Mikey Junior dan Lisa pada 2013.

Mikey mengalami luka pada punggungnya setelah mengangkat beban sehingga ia menderita radang sendi tulang belakang pada tahun 2014.

Namun, dedikasi Mikey untuk bekerja mulai membuahkan hasil. Ashley menjelaskan, "Setelah cedera, Milkey tidak pernah sembuh dengan baik."

"Bahkan ketika dia dalam kondisi terburuknya dia akan tetap bekerja dan setiap kali dia pergi dia akan melakukan segalanya dengan anak-anak."

"Saya tahu sesuatu seperti ini akan terjadi, saya tahu dia melakukan terlalu banyak tetapi anda tidak pernah bisa mempersiapkan diri untuk ini."

"Menjelaskannya kepada anak-anak telah menjadi salah satu bagian tersulit. Awalnya saya tidak melakukannya tetapi mereka terus bertanya kapan ayah pulang. Sekarang anak lelaki saya selalu bertanya apakah kami bisa mengunjungi ayah di surga, ini sangat sulit."

Menjadi Pembicaraan Trending! Ibu Kandung Memukuli Anak Kandung Yang Mengemis Tetapi Hasil Tidak Sesuai Diharapkan

Menjadi Pembicaraan Trending! Ibu Kandung Memukuli Anak Kandung Yang Mengemis Tetapi Hasil Tidak Sesuai Diharapkan

INIKECE - Baru baru ini terjadi pembicaraan yang membuat semua orang termasuk ibu-ibu marah dan kesal terhadap seorang wanita yang tampak dalam sebuah video sedang memukul anak kecil dengan kejam.

Diketahui dalam video tersebut terlihat seorang ibu memaksa dan memukul anak tersebut untuk mengemis dan mengambil uangnya tersebut.

Usut punya usut, ternyata wanita yang memukul bocah tersebut adalah anak kandungnya sendiri. Sebuah video viral memperlihatkan bagaimana kejamnya seorang ibu kepada anak kandungnya sendiri.

Melansir dari akun Instagram Makasaar_info, terekam jelas seorang ibu mengambil paksa uang yang ada dalam kantong celana seorang anak perempuan. Bahkan ibu tersebut sempat memukul anak perempuannya tersebut setelah melihat beberapa lembar uang yang ia ambil paksa.

Tak lama setelah mendapat uang, ibu tersebut lansung menyuruh anak perempuannya tersebut untuk lanjut kembali mengemis di jalan. Setelah diselidiki ternyata wanita paruh baya tersebut adalah ibu kandung dari anak kecil itu.

Kejam!!!


Parahnya, ternyata ibu tersebut memaksa anaknya untuk mengemis di sebuah mall. Pemukulan yang ia lakukan tersebut lantaran sang anak hanya menghasilkan sedikit uang dari hasil mengemis.

Beredarnya video pemukulan tersebut diterima oleh kepolisian setempat dan langsung ditindak. Kapolsek Jamal pun membenarkan soal video itu. Dimana, Irt M mengaku melakukan kekerasan karena anaknya menolak pulang ke rumah.

"Jadi memang ada video beredar itu, terduga pelaku (M) melakukan kekerasan terhadap anaknya dijalan," ungkap Jamal

Pihak kepolisian pun langsung mengamankan M (36) seorang ibu rumah tangga yang kedapatan memukuli anaknya di pinggir jalan. 

Wanita berusia 36 tahun tersebut ternyata sudah sering pukuli anaknya lantaran sang anak tak mau menuruti permintaan ibunya.

Rupanya, anak yang masih dibawah umur tersebut dipaksa oleh ibu kandungnya untuk menjadi pengemis disebuah Mall di kota Makassar.


Menurut Kapolsek Panakukkang Kompol Jamal Fatur Rakhman, M diduga suruh anaknya mengemis untuk penuhi kebutuhan keluarga.


"Alasannya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya," kata Kompol Jamal, saat rilis kasua itu di Mapolsek Panakkukang, Kota Makasaar, Selasa (3/12/2019) siang.

Tak hanya itu saja, terkadang demi mendapat simpati masyarakat dan diberikan uang, Wanita berinisial M tersebut terkadang menyuruh anaknya untuk berjualan tissue dipinggir jalan.

Namun jika dirasa masih kurang, anaknya akan disuruh untuk menjadi pengemis di sebuah Mal di Makasaar.

Awalnya polisi mendapat laporan yang bermula dari video yang beredar di masyarakat mengenai penganiayaan seorang wanita terhadap bocah berusia 9 tahun.

Video yang viral di media sosial tersebut memperlihatkan M memukuli putrinya yang diduga karena setoran harian mengemisnya masih kurang.

M pun sempat berkelit ketika diamankan dan dmintai keterangan mengenai video yang viral itu. M mengakui, anaknya memakai uang untuk jajan, namun setelah didalami dengan meminta keterangan dari korban fakta baru terungkap.

Bocah perempuan berusia 9 tahun itu pernah disuruh ngemis di pintu keluar sebuah mal di Makasaar.

"Jadi alibinya, anaknya (korban) memakai uang ibunya untuk jajan. Tapi kita dalami pengakuan korbannya ini pernah disuruh ngemis di pintu keluar mal," ujar Jamal.

Melansir dari Kompas.com, Bocah berinisial SR (9) tersebut selama 2 tahun terakhir jadi korban eksploitasi sang ibu.

SR pun trauma atas tindakan ibunya yang akan memukul jika dirinya pulang tanpa membawa hasil mengemis. 

Menurut ketua Tim Reaksi cepat (TSC) P2TP2A Makmur, hal ini dirasakan SR usai sering dianiaya ibu kandungnya M, saat tak menuruti permintaan pelaku.

"Memang terlihat dari wajah dan gestur memang anak ini sudah lama dieksploitasi. Pengakuan anak juga sering dipaksa, dipukul dan dimarahi kalau tidak pergi cari uang," kata Makmur, saat diwawancara di Polsek Panakkukang, Makasaar, Selasa (3/12/2019).

Kapolsek Panakkukang Kompol Jamal Fatur Rakhman saat merilis kasus IRT eksploitasi anak sendiri. Setiap harinya, SR mendapatkan uang sebanyak Rp 50.000 saat mengemis di pintu keluar salah satu mal di Kecamatan Panakkukang.

Yang lebih parah, hasil dari mengemis anaknya tersebut digunakan M untuk biaya arisan, dan hanya sedikit yang dibagi kepada SR untuk jajannya.

SR pun tak boleh pulang apabila mal tempat mengemis belum tutup atau belum pukul 10 malam.

"Kadang kala ini anak terlambat bangun jadi tidak pergi sekolah. Kadang pulang saat mal tutup sekitar jam 10 malam," ucap Makmur.

Tersangka M, dikenakan Pasal 88 Juncto 76 UU Nomor 35 Tahun 2014 terhadap perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,

"Dan juga kita terapkan UU soal kekerasan dalam lingkup rumah tangga Pasal 45 Ayat 1 UU 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, ancaman maksimal 10 tahun dan minimal 3 tahun penjara," jelas Jamal.