Akibat Diteriaki Virus Corona, Mayat Diindramayu Tidak Ada Yang Berani Evakuasi

INIKECE - Akibat dari penyebaran virus corona tersebut banyak sekali menjadi orang ketakutan dan lebih memilih untuk menjaga diri dan jauhi orang-orang terlebih dahulu. Banyak orang sekarang lebih memilih dirumah saja.

Keajaiban Bumi Yang Belum Terpecahkan Hingga Sampai Sekarang, Menjadi Misteri Bumi

INIKECE - Bumi selalu memiliki keajaiban, hingga fenomena alam yang luar biasa, sampai ada suatu tempat dimana tidak dapat diteliti keajaiban bumi tersebut dikarena masih menjadi misteri teka-teki bagi para ilmuan.

Cerita Power Girl! Pesona Sang Gadis Jagoan

INIKECE - Suara gaduh dan teriakan terdengar dari ruangan penuh matras dengan tulisan Ruang Latihan Judo itu. Terlihat seorang gadis dengan rambut kuncir kuda sedang bergulat dengan lelaki yang memiliki ukuran tubuh sedikit lebih besar darinya.

Ramalan April Hari Ini Berdasarkan Zodiak, Simak Yuk!

INIKECE - Diakhir pekan ini, ramalan zodiak hari ini meminta Scorpio dan Aquarius untuk lebih peka terhadap pasangan jika tidak ingin hubungan menjadi buruk. Sementara itu, Virgo diharapkan lebih waspada karena berisiko terkan alergi. .

Romance Remaja! So I Love My Ex - Dia Bukan Lagi Si Cungkring, Part 2

INIKECE - Aluna menarik dan membuang napasnya. Ia memalingkan wajah saat melihat keberadaan Zello. Oke, Aluna memang tahu Zello kuliah di tempat yang sama dengannya, tetapi dia tidak pernah tahu bahwa Zelo ada di Fakultas Ekonomi.

Mendapat 40 Jahitan Di Wajah, Wanita Ini Mengajak Anjing Peliharaannya Foto Bersama, Dan Berakhir Seperti Ini!

Mendapat 40 Jahitan Di Wajah, Wanita Ini Mengajak Anjing Peliharaannya Foto Bersama, Dan Berakhir Seperti Ini!

INIKECE - Hal tak tertuga terjadi pada wanita ini, nasib malang menimpahnya. Niatnya untuk mengajak foto bareng anjing peliharaannya sendiri untuk menjadikan sebuah momen indah. Akan tetapi ini yang terjadi.

Lara seorang wanita asal argentina memberikan sebuah cerita gimana ia bisa mendapatkan 40 jahitan di wajahnya tersebut.

Ia menceritakan, ketika ia ingin berfoto bersama dengan anjingnya. Ternyata anjing tersebut langsung menggigit wajahnya hingga membuat luka dan harus dilakukan penjahitan hingga 40 jahitan.

Wanita 17 tahun itu membagikan serangkaian foto di Twitter yang mengabadikan momen dimana ketika anjing perliharaan berjenis German Shepherd itu menyerang wajahnya tersebut.

"Sesi foto yang gagal bersama Kenai", tulisnya pada unggahan 15 Januari tersebut.

Ia tak yakin apakah yang membuat anjing tersebut menjadi sangat agresif, entah kenapa karena menyentuh pinggul, sudah tua, atau karena memeluknya terlalu dekat hingga membuatnya takut.


Akibat serangan itu, Lara mendapatkan luka yang parah pada wajahnya. Dokter harus melakukan dua kali operasi dan memberikan 40 jahitan pada wajah dan gusinya.

Dia mengatakan bahwa dirinya nggak merasa sakit saat terkena gigitan anjing perliharaannya tersebut, terlebih menurutnya hal itu nggakk disengaja.

Lara saat ini dikabarkan sudah membaik meski masih ada sedikit peradangan di wajahnya. Dari kasus ini, bisa diambil pelajaran juga kalau kita harus berhati-hati saat bermain bersama hewan peliharaan meski itu sudah jinak.

Perkosa Anak Dibawah Umur Hingga Hamil, Kakek 60 Tahun Berakhir Dijeruji Besi

Perkosa Anak Dibawah Umur Hingga Hamil, Kakek 60 Tahun Berakhir Dijeruji Besi

INIKECE - Aksi bejat seorang kakek (60) terhadap seorang bocah dibawah umur sangat tidak pantas dilakukannya. Diketahui bocah dibawah umur tersebut diperkosa hingga hamil, diusianya yang baru mencapai 13 tahun.

Seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sumenep, Maudra, Jawa Timur, harus menanggung beban yang besar. Dirinya hamil setelah kakek bejat memperkosanya.

Kakek bejat bernama Abdul Latip (60) warga Desa Sepanjang, Kecamatan Sapeken, memperkosa gadis itu tiga bulan yang lalu. Aksi bejat itu diketahui setelah orangtua korban curiga terhadap kondisi badan anaknya yang tampak berbeda.

Melihat perubahan itu, ibu korban memeriksa sang anak ke bidan desa, alhasil dari pemeriksaan tersebut korban positif hamil.


Awalnya orangtua korban sempat tidak percaya, dan membawanya lagi ke bidan yang lain di luar desa. Hasilnya tetap sama, sang anak tetap positif hamil usai dites urine.

"Mengetahui anaknya hamil. Ibu korban bertanya ke anaknya, ia pun mengaku kalau diperkosa seorang kakek yang merupakan tetangganya," kata Kasubbag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, Senin (20/1/2020).

Widi mengatakan, kedua orangtua korban kaget dan tidak terima, sehingga melaporkan kakek bejat itu ke aparat desa yang kemudian dilanjutkan ke kepolisian daerah setempat.

"Saat berada di balai desa pelaku mengakui perbuatan bejatnya. Jadi pihak desa langsung menyerahkan pelaku ke Polsek," katanya.

Korban kini tampak murung dan kerap menyendiri, bahkan tubunya terlihat agak kurus. Dirinya merasa malu dengan apa yang dialaminya.

Pelaku kini sudah ditahan kepolisian Polres Sumenep, bersama barang bukti pakaian lengan panjang warna abu-abu kombinasi garis hitam, celana panjang warna abu-abu kombinasi biru, rok panjang warna merah motif bola warna hijau, dan celana dalam warna putih motif gambar kulit macan tul-tul.

Saat ini pelaku telah mendekam dibalik jeruji besi tahanan Mapolres Sumenep untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kakek bejat itu dikenakan pasal 81,82 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2017, atas perubahan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman pidana 15 tahun penjara.

Bukan Hari Yang Baik Untuk Menulis Cerita

Bukan Hari Yang Baik Untuk Menulis Cerita

INIKECE - Ini bukan hari yang baik untuk menulis cerita. Semalam terlalu banyak kesedihan menghantam dadanya. Mulanya, ia hanya yakin seseorang tengah berusaha keras mencuri hati kekasihnya. Namun semalam kekasihnya sendiri justru menegaskan bahwa ia akan dengan sangat senang hati mengikuti ke mana pun lelaki itu hendak membawanya.

Daripada harus bertahan dengan seorang lelaki yang tak dapat menghentikan mendung dalam hidupnya sendiri.

Perempuan itu bahkan belum selesai sampai di situ. Lanjutnya, sampai langit berubah menjadi laut, lelaki sepertinya hanya akan tetap menjadi lelaki sepertinya. Tidak akan pernah berubah, tidak akan pernah membaik sedikit pun dari kesusahan hidup yang diciptakannya sendiri.

Meski ia tidak menyukai perumpamaan yang dipakai perempuan itu, langit berubah menjadi laut yang terasa berlebihan, ia menerima. Perempuan itu memang tak lagi terasa seperti kekasihnya. Puncaknya memang semalam, tetapi sebenarnya sudah cukup lama perubahannya terasa. Perempuan itu tak lagi peduli pdaa puisi-puisinya, tak lagi minta dibuatkan sebuah cerita khusus untuknya pada malam-malam tertentu saat ia singgah bahkan bermalam.

Perempuan itu telah bosan padanya. Tetapi itu bahkan bukan masalah utamanya. Ia sama sekali tidak keberatan mencintai batu-batu dan pohon-pohon sebagai gantinya. Luka akan tetap menjadi luka. Berlubang menganga, mungkin juga membusuk. Namun pada akhirnya pasti sembuh juga. Tidak ada yang abadi di dunia ini, tak terkecuali kepedihan-kepedihan.

Perempuan itu pergi dengan langkah mengentak seakan-akan hendak menghacurkan dunia tempatnya berpihak. Tidak, ia tidak mengejarnya. Benar-benar tidak terpikir untuk itu.

Ini bukan adegan dalam sinetron, kan? Kebetulan saat itu hujan sedang deras-derasnya. Mungkin jadi romantis sekali kalau ia mengejarnya, meraih pergelangan tangannya, lalu mereka seperti dua kuntum bunga di taman yang kebasahan.

Ah, tidak. Yang seperti itu cuma bagus dalam cerita atau tayangan. Di dunia nyata, masuk angin bakal lebih merepotkan. Lagi pula pileknya belum sembuh. Apa yang akan didapatkannya dari mengejar perempuan itu dan memintanya bertahan? Selain ingusnya akan makin panjang, ia hanya akan menyakiti dirinya sendiri, perempuan itu, dan lelaki yang lain di suatau tempat. Hidup benar-benar cuma sekali. Ia tidak ingin menjadi keparat untuk banyak orang.

Satu masalah yang bukan utama telah terjadi. Masalah berikutnya adalah telepon genggam lawasnya bergetar di atas meja. Sebuah nama di layar, kakak perempuannya. Cuma pesan singkat. Sama seperti dirinya, kakak-kakaknya juga jarang punya cukup pulsa untuk menelepon. Bahkan sebelum membaca pesan itu, jantungnya telah membesar dan membuatnya merasa sesak.

'Kapan jadi pulang? Mak tak membaik sedikipun. Kalau belum juga ada uang, pinjamlah dari seseorang. Kalau perlu mengemislah. Mak mungkin tak bisa menunggu lebih lama."

Hujan di luar pindah ke hatinya. Persetan dengan perempuan yang baru saja meninggalkannya. Bukan perempuan itu tak pernah penting baginya. Namun tetap saja, perempuan itu apalagi sekarang, tak ada apa-apanya daripada urusan maknya. Ia ingin sekali mengemis malam itu juga. Mengemis dan terus mengemis sampai hujan dan panas berganti-ganti.

Akan tetapi, ini sungguh-sungguh sudah malam dan hujan derasnya bukan main. Bukan lagi masuk angin yang ia khawatirkan atau ingus yang kian panjang, melainkan siapa yang masih berkeliaran di tengah hujan sederas ini selain perempuan yang tergesa-gesa meninggalkannya itu?

Ia menyandarkan punggungnya dan melihat jam bundar di dinding. Masih sekitar enam jam menuju matahari terbit. Ia kembali berpikir. Besok pagi tentu hujan sudah berhenti. Ia berjanji pada dirinya sendiri dan maknya di kejauhan, akan mengemis begitu jam menujukkan pukul enam atau selambat-lambatnya setengah tujuh pagi.


Tetapi kemudian ia menyadari masalah berikutnya. Bahkan jika ia memulai debutnya dengan mengemis di sudut jalan yang paling ramai dilewati orang, siapa yang sempat merogoh uang receh dan menjatuhkannya ke kalengnya sepagi itu?

Itu bukan waktu yang tepat untuk mengemis maupun bederma. Semua orang selain dirinya tentu tengah dikejar-kejar bel sekolah atau jam masuk kerja. Lebih siang atau tepat saat makan siang pasti lebih pas. Satu jam yang tak tergesa-gesa. Mungkin bahkan tak perlu repot-repot mencari uang pecah yang terselip entah di mana. Cukup dari uang kembalian selepas makan. Sebagian atau bahkan seluruhnya langsung masuk ke kalengnya. Sungguh suatu kemujuran.

Ya, pasti begitu. Jadi, besok tepat jam makan siang saja, di depan warung-warung makan di kawasan perkantoran. Ia membayangkan orang-orang berbusana rapi itu datang dan pergi, di antaranya selalu ada uang receh berjatuhan ke kalengnya.

Sedikit-sedikit akan dipindahkannya ke saku celana, khawatir salah satu di antara mereka akan berkata, "Itu uangnya sudah banyak, masa masih minta-minta?" tak peduli berapa uang yang dibutuhkannya untuk berjumpa dengan maknya.

Apalagi, maknya sedang sakit keras. Tentu ia tak ingin kembali hanya dengan membawa badan.

Ah, maknya. Ia bisa membayangkan setiap garis di wajah perempuan senja itu. Terakhir berjumpa, dan itu lebih dari dua tahun lalu, sepasang matanya masih terbuka lebar. Bahkan maknya mengantarkannya sampai ke pintu saat hendak kembali ke tanah rantau. Namun jika mengikuti kabar rutin dari kakak perempuannya, maknya telah cukup lama tampak seperti orang tidur saja. Matanya terpejam. Hanya saja, ia tak juga terbangun. Maknya jelas masih mengandung kehidupan. Tetapi seperti ...

Ah, ia tak ingin membiarkan pikirannya sampai ke sana. Ia menariknya kembali dan mengarahkannya pada ingatan lama saat ia dan kakak-kakaknya masih belia. Tentu, saat itu maknya juga masih sehat sekali. Ia dan kakak-kakaknya sering disuruh mengumpulkan buah pala yang jatuh. Hanya yang jatuh karena yang masih dipohon bukan milik mereka. Begitu pula buah dan daun kelapa, buah randu, buah dan daun aren, apa pun.

Di balik meja, ia memejamkan mata dan bayang-bayang masa kecil itu menjadi kian jelas. Ia ingat maknya pernah memarahinya habis-habisan gara-gara ia menggulingkan perluk ke lantai dapur. Nasinya tumpah semua. Padahal lantai rumah mereka seluruhnya masih tanah.

Ia ingat betul kata-kata maknya waktu itu, "Kau tahu kau baru saja membuat seisi rumah kelaparan? Lain kali begini lagi, tak ada nasi dan lauk untukmu selama seminggu! Biar kau tahu rasanya menguyah daun dan batu!"

Maknya memang keras. Tetapi siapa tak jadi keras kalau hidupnya pun tak pernah mudah? Meski begitu, maknya adalah satu-satunya orang yang tak pernah menyebut puisi dan ceritanya sebagai omong kosong.

Bahkan kalau sudah cukup lama ia tak membacakan puisi atau cerita buatannya sendiri, maknya pasti bertanya, "Sudah lupa kau, cara membuat sesuatu dari yang tak ada? Ceritakanlah isi kepalamu. Barangkali ceritamu bisa membuat pala-pala ini lebih cepat kering."

Pernah dalam kepulangannya suatu waktu, ia bertanya, "Mak tak khawatir aku tak akan pernah kaya dari jalan hidup yang kupilih ini?"

Maknya membuang napas keras-keras. "Kalau kau lahir dari perut perempuan kaya, makmu pasti khawatir. Kalau tidak, apa yang patut dipusingkan? Kaya miskin bukan cuma ada caranya, tetapi juga ada masanya. Jalan mana pun yang dipilih dapat berujung pada keduanya.

Tidak perlu repot-repot memikirkan yang tak pernah seorang pun tahu dengan pasti. Kau pegang yang ingin kau pegang, selesai sudah. Tak usah dengar apa kata orang. Mereka berjalan, kau juga. Sudah sewajarnya setiap orang berhenti di tujuan masing-masing.

Buat apa pula beramai-ramai dengan orang-orang yang tak kau kenal sekadar untuk mengikuti yang menurut mereka benar padahal belum tentu?"

Ingatannya baru hendak melompat ke bagian lain dari masa lalunya saat petir tiba-tiba menggelegar disusul suara berderak keras seakan-akan petir itu telah menyambar dan menumbangkan pohon yang teramat besar. Ia sontak melompat dari kursinya dan menabrak meja dengan sangat keras.

Pena di atas buku tulisnya seketika menggelinding. Ia hanya bermaksud menangkap pena itu sebelum terjatuh. Namun tangannya malah mengenai cangkir kopinya dan saat itu juga terdengat bunyi pecah yang terasa begitu tajam di telinganya. Ia bahkan sampai langsung menutup kedua telinganya dengan telapan tangan, seolah-olah bunyi pecah itu telah melukai gendang telinganya. Saat ia membukanya kembali, telinganya berdenging nyaring.

Hujan masih turun. Di lantai, cangkir kopinya telah berubah menjadi kepingan. Ia menyambar telepon genggamnya. Tak ada pesan masuk, tak ada panggilan tak terjawab. Namun ia tahu, masalah berikutnya dan yang paling buruk benar-benar telah terjadi.

***

Ini bukan hari yang baik untuk menulis cerita. Semalam terlalu banyak kesedihan menghantam dadanya. Puncaknya saat pesan singkatnya pada kakak perempuannya yang berunyi, 'Mak bagaimana?' akhirnya terbalas juga dua jam kemudian.

Dan balasan itu sesingkat, 'Makmu telah terlalu lelah menunggu.'

Diluar, orang-orang tengah memotong-motong pohon yang tersambar petir agar mudah dipindakan. Dipandanginya kaleng di tepi meja yang sedianya akan digunakannya pada jam makan siang nanti. Kaleng itu tak berguna lagi sekarang. Atau akan berguna juga, hanya saja dengan kegunaan yang berbeda.

Mungkin, maknya hanya benar-benar tak sudi dengan gagasan dirinya mengemis meski hanya sehari dua hari demi menjumpainya. Mungkin, saking tak sukanya pada gagasan itu, maknya sampai terbirit-birit malam itu juga.

Ia membuang napas kuat-kuat. Akhirnya ceritanya selesai juga dan ditaruhnya penanya di kaleng itu. Paling tidak, dengan begini pena itu tak lagi menggelinding lalu memecahkan cangkir kopi. Ia bangkit dari kursinya, tahu ceritanya tak cukup bagus hari ini. Akan tetapi, siapa pula yang mengharuskan seorang penulis menghasilkan cerita atau puisi terbaik setiap harinya? Macam orang yang tak pernah bersedih saja.

Pun tak ada pabrik kata-kata di dunia ini. Yang ada hanyalah sekumpulan orang yang terus mencari keberuntungan.

Kualat Tol Cipularang, Maafka Kami Cipularang (Part 15)

Kualat Tol Cipularang, Maafka Kami Cipularang (Part 15)

INIKECE - Mobil yang aku kendarai melaju dengan sangat cepat. Aku ingin segera sampai karena tidak kuat menahan rasa sakit di perutku. Jujur aku lupa di kilo meter berapa Si Jon kencing sembarangan, tapi aku masih ingat ada tanda silang di pembatas jalan. Setelah mobilku masuk tol Cipularang, kukurangi kecepatannya. Dengan hati-hati, kucari tanda silang di sepanjang pembatas jalan tol.

Selang beberapa saat, akhirnya tanda silang itu kutemukan. Segera kuinjak rem dan keluar dari mobil. Kuambil sekompan air dalam bagasi mobil, sambil membaca doa sebisaku, kusiramkan air itu ke tempat bekas kencing Jon.

"Kami mengaku salah. Maafkan kami Cipularang," desisku sambil meneteskan air mata.

Setelah dirasa cukup, aku bergegas masuk ke dalam mobil. Seketika, rasa sakit di perutku mulai reda. Satu hal yang aku sadari, ternyata aku tidak hidup sendiri. Ada makhluk lain yang hidup berdampingan bersamaku. Mereka minta dihargai sebagaimana manusia yang minta dihargai terhadap manusia lainnya. Aku berjanji kepada diriku sendiri kalau aku tidak akan pernah berintdak ceroboh dan menyepelekan hal gaib.

Seketika lamunanku terbuyar, ada seorang perempuan yang berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangannya. Ini siang hari, dan tidak mungkin kalau perempuan itu setan. Wajahnya terlihat sangat cemas, seperti sedang punya masalah besar. Aku kurangi kecepatan mobil dan berhenti tepat di depan wanit itu. Rambutnya pendek, mengenakan topi bundar, sepatu berwarna biru, kaos oblong warna biru, dan celana jeans.


"Mas, aku ikut dong sampe keluar tol. Aku diturunin suamiku. Dia marah-marah nggak jelas. Tolongin aku ya, plis," dia memohon sambil.

"Oh, iya mbak, Silakan naik," aku membukankan pintu mobil.

Dia duduk di sampingku. Aroma parfurmnya sangat wangi memenuhi ruangan mobil. Mobilku kembali melaju dengan kecepatan stabil, melewati beberapa mobil depanku. Wanita itu diam saja, sepertinya dia masih kesal pada suaminya.

"Mbak emank asalnya dari mana?" tanyaku mencairkan suasana.

"Aku dari Jakarta, Mas. Tadinya aku dan suami mau liburan ke Bandung. Eh, dia malah marah-marah nggak jelas cuman gara-gara aku chatan sama teman kantorku. Dia cemburuan banget orangnya."

"Oh, begitu, Mbak udah coba telepon dia buat minta maap. Siapa tahu suami Mbak mau jemput lagi," ujarku sambil terus fokus ke jalan.

"Sudah Mas tapi nggak diangakat."

"Oya, Mas sendiri mau kemana?" tanyanya.

"Aku nggak kemana-mana Mbak. Tadi aku abis bersihin bekas kencingnya temanku. Di pinggiran jalan tol Cipularang."

"Rajin banget mas."

"Iya, teman saya udah meninggal. Kami mengalami kejadian aneh diteror setan. Mungkin gara-gara teman saya kencing sembarangan."

"Wah, masa sih mas? serem juga ya." katanya.

"Iya, Mbak. Harus hati-hati jangan mengotori tempat sembarangan."

Dari kejaduhan, aku melihat sebuah mobil sedang terbalik di pinggiran jalan. Wanita di sampingku terkejut melihat kejadian itu.

"Mas!, Astaga itu mobil suami saya!"

Aku mempercepat laju mobil. Dan mendekat ke mobil sedang yang terbalik itu. Segera wanit di sampingku turun dari mobil sambil menangis. Polisi berdatangan memasang police line, terdengar suara sirine ambulan mendekat.

Seorang lelaki dikeluarkan dari dalam mobil, ada bercak darah di keningnya, tubuhnya lunglai, aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Setelah menyaksikannya beberapa menit, aku disuruh melanjutkan perjalanan oleh salah seorang polisi karena dikhawatirkan terjadi kemacetan. Segera kunyalakan kembali mesin mobilku dan melaju perlahan meninggalkan loksi kecelakaan.

SELESAI.

Kualat Tol Cipularang, Gunung Hejo (Part 14)

Kualat Tol Cipularang, Gunung Hejo (Part 14)

INIKECE - Mataku terpejam menahan sakit yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Tiba-tiba tubuhku merasa seperti masuk ke dalam sebuah lubang hitam besar yang berputar-putar. Entah dalam keadaan sadar atau tidak, aku melihat sebuah mobil sedang melaju di jalan tol Cipularang.

Di dalam mobil itu, ada dua anak kecil yang sering menghantuiku akhir-akhir ini. Di bagian kemudi, ada seorang lelaki yang sudah beruban mengendarai mobil dan perempuan berjilbab biru yang isbuk dengan smartphone-nya.

"Ayah aku mau minum," pinta anak perempuan dari kursi belakang.

"Mamah,tadi minum kita di tarok dimana?" tanya lelaki itu sambil terus mengemudikan mobilnya.

"Tadi mamah simpan di sini," ia meraba-raba jok sebelah kanan.

Tidak sengaja, botol air minum itu tersenggol, jatuh ke bawah dan menggelinding menghalangi pihakan rem. Mobil bus yang ada di depannya berhenti mendadak, entah kenapa. Mobil yang ia kendarai menabrak bus itu karena remnya terganjal botol air minum. Aku melihat kedua anaknya mati sedangkan pasangan suami istri itu masih bisa selamat.

Badanku kembali seperti ditarik oleh pusaran cahaya. Aku melihat gunung Hejo, tepat di tempat petilisan, ada tiga orang lelaki yang sedang bersemedi. Meraka duduk sila menghadap makam keramat.

Aku melihat mereka sangat khusyuk bersemedi di sana. Mereka dikelilingi makhluk aneh, ada kodok besar yang berkepala manusia, harimau putih yang memancarkan cahaya, dan manusia-manusia yang berlumuran darah. Dan di sana, aku melihat Jon. Ia mendekat ke arahku dengan wajah cemas.

"Gua minta maaf ya, Sep." katanya sambil menyentuh pundakku.

Aku tidak menjawab malah memerhatikan wajahnya yang sangat pucat.

"Lu masih hidup, Jon?" tanyaku heran.

"Iya, tapi dunia gua udah beda. Gua tinggal di alam jin di gunung Hejo," jawabnya.

"Ini semua salah gua, Sep," tambahnya sambil terisak.

"Apa yang harus gua lakuin untuk menembus kesalahan ini, Jon."

"Lu masih bisa selamat. Berisihin bekas kencing gua di pinggir tol Cipularang," ujar Jon.

Seketika dia menghilang.


Aku terbangun. Jantungku berdetak kencang, keringat bercucuran sekujur tubuhku. Luka di perkutku masih terasa sakit. Perlahan aku bangkit sambil terus meringis. Aku berjalan menuju tempat tidur dengan sangat hati-hati karena seluruh ruangan masih gelap, listrik belum juga menyala. Sejenak aku bergeming dan mengingat-ingat percakapanku dengan Jon.

Oya, bekas kencing Jon! Aku harus kembali ke tol Cipularang dan membersihkan bekas kencingnya. Semoga aku masih bisa selamat.

Keesokan paginya, kubalut luka cakat di perutku dengan perban. Aku harus segera pergi ke tol Cipularang dan membersihkan bekas kencing Jon. Di layar smartphone kucari nomor telepon perusahaan sewa mobil. Setelah meminta unit diantar ke alamat indekosku. Aku paksakan tubuhku untuk mengemudi. Mobil yang kukendarai melaju cepat menuju tol Cipularang.

Kualat Tol Cipularang, Aku Yang Selanjutnya Mati (Part 13)

Kualat Tol Cipularang, Aku Yang Selanjutnya Mati (Part 13)

INIKECE - Luka di perutku semakin parah. Goresan itu membesar membuat memar di sekujur perutku. Beberapa kali pergi ke dokter, tapi lukanya tidak kunjung sembuh. Sudah dua hari aku berbaring di kamar kosku, luka yang terus menggerogoti perutku membuat susah mengenakan baju.

Kamarku seperti kapal pecah, acak-acakan. Aku tidak sanggup memaksakan badanku untuk banyak bergerak. Setiap malam, aku mendengar langkah kaki anak kecil yang berlarian di kamar kosku. Aku yakin kalau mereka adalah setan Cipularang yang sudah lama mengikutiku.

Malam itu, kubiarkan TV menyala. Menyiarkan berita politik nasional. Aku terbaring di atas kasur sambil sesekali meringis menahan sakit. Seketika terlintas dalam benakku untuk mencari tahu tentang misteri tol Cipularang. Kuraih smartphone yang tergeletak di meja kerjaku. Ssambil bersandar, aku langsung melakukan pencarian di internet tentang tol Cipularang.

Muncul beberapa berita tentang kecelakaan di tol Cipularang. Aku teruscroll ke bawah, munculah sebuah artikel yang membahas tentang gunung Hejo. Artikelnya menjelaskan kalau kecelakaan yang terjadi di tol Cipularang ada kaitannya dengan keangkeran gunung Hejo. Di sana juga ada sebuah petilasan Eyang Prabu Siliwangi.

Saat sedang serius membaca artikel, tiba-tiba saja lamput konsaku mati. Hanya cahaya smartphone yang menjadi penerang. Dengan perlahan, kucoba bangkit dari tempat tidur untuk mencari lilin di dalam lemari.

BACA JUGA :

Kaualat Tol Cipularang, Setelah Kematian Bram (Part 12)


Kuarahkan cahaya smartphone ke dalam lemar dan berhasil meraih sebatang lilin yang masih utuh. Kunyalakan lilin itu, lalu meletakkannya di meja kerjaku. Kembali kubaringkan badan di tempat tidur dan melanjutkan baca artikel.

Selang beberapa saat, aku mendengar suara anak kecil tertawa dari dalam kamar mandi. Bukan hanya satu orang saja, terdengat seperti ada dua orang yang sedang bermain di dalam kamar mandiku. Suara gemerecik air ditumpahkan terdengar jelas.

Perlahan kuhampri sambil membawa sebatang lilin. Suara anak kecil itu tidak berhenti tertawa, kudorong pintu kamar mandi perlahan. Di dalam sana, kulihat dua anak kecil, satu perempuan dan satu lagi laki-laki. Kepala mereka penuh darah, yang perempuan membawa sebuah boneka sedangkan yang laki-laki membawa sebuah robot-robotan. Mereka memandangiku dengan ekspresi datar.

"Mati kau Asep..!" tiba-tiba mereka kompak berteriak. Dan hilang begitu saja.

Seketika, luka di pertku terasa sangat sakit. Seperti ada sebuah jari yang mencabik-cabik lukanya. Lilin yang kubawa terjatuh dilantai dan padam begitu saja. Aku terjatuh di lantai sambil meringis, menahan sakit. 

Ingin rasanya aku berteriak  meminta tolong, tapi rasa sakit itu membuatku tidak mampu berteriak. Keringat mulai bercucuran di dahiku, aku terlentang di lantai sambil meringis kesakitan. Saat itu, kulihat kedua anak kecil tadi berdiri di sampingku sambil tertawa melihatku.

"Siapa kalian?!" ujarku sambil menahan sakit.

Mereka tidak menjawab dan terus memandangiku sambil tertawa cekikikan. Rasa sakit di perutku semakin parah hingga membuatku susah bernafas.

Kaualat Tol Cipularang, Setelah Kematian Bram (Part 12)

Kaualat Tol Cipularang, Setelah Kematian Bram (Part 12)

INIKECE - Seminggu setelah kematian Bram. Aku semakin yakin kalau setan Cipularang menaruh dendam pada kami semua. Dan, sekarang yang tersisa hanyalah aku. Semua teman-temanku sudah mati dengan mengenaskan.

Semua terasa ganjil, mereka mati satu persatu dengan sangat cepat. Atas dasar itu, aku tahu kalau setan Cipularang akan segera menghabisiku.

Aku mendengar dari Ibunya Bram kalau beberapa hari ini dia suka digentanyangi arwahnya Bram. Mereka sering mendengar langkah kaki di rumahnya dna suara Bram memanggil-manggil di halaman rumah, meminta tolong.

Apakah Bram benar-benar gentayangan? Atau setan Cipularang yang menyerupai Bram dan meneror keluarganya. Untuk mencari tahu kebenaranya, aku mendatangi ibunya Bram. Ia menceritakan kejadian demi kejadian aneh di rumahnya setelah kematian Bram.

"Bisa ibu ceritakan kejadian aneh yang ibu alami akhir-akhir ini? Siapa tahu, aku bisa bantu ibu," pintaku.


Ia terlihat ketakutan, keningnya berkerut," Jadi malam itu, ibu lagi masakin nasi goreng buat suami. Tiba-tiba saja, ibu nyium baru parfumnya Bram di dapur. Bau parfum itu sangat menyengat dan ibu hafal betul kalau parfumnya Bram," ia menarik napas perlahan dan menghembuskannya.

"Ibu cari-cari sumber bau itu ternyata berasal dari kolomg meja makan. Pas ibu tengok ke bawah... Ibu melihat sepasang kaki yang sedang berdiri mengenakan sepatunya Bram. Duh, ibu hafal banget, itu betis anak ibu," air matanya mulai merekah, ia mengusapnya dengan tisu.

Kemudian mulai terisak, "Tapi, pas ibu berdiri malah nggak ada siapa-siapa di depan meja. Pas ibu cek lagi ke kolong meja, kaki itu masih ada."

"Terus, Bu." aku mendengarkan dengan seksama.

"Abis itu Nak Asep. Ibu panggil bapak, tapi bapak enggak nyahut. Buru-buru, ibu ke ruang keluarga. Di sana, ibu lihat bapak lagi berdiri menghadap jendela, tatapan matanya kosong."

Sebelum melanjutkan ceritanya, ia menyeruput segelas teh tanpa gula, "Pas ibu pegang pundaknya, bapak malah ketawa-tawa sambil loncat-loncat kayak pocong. Tangannya bersidekap di perut, kepalanya tertunduk, matanya melotot, Bapak kesurupan."

"Bukan hanya kejadian itu saja, Nak Asep. Hampir tiap mau tidur, ibu nemuin serpihan tanah merah di atas kasur. Ibu takut, Nak Asep," katanya dengan wajah ketakutan.

Dari cerita yang kudengar dari ibunya Bram. Aku yakin kalau yang meneror keluarga Bram adalah setan Cipularang. Walau bagaimana pun, aku harus cari cara agar setan itu tidak lagi meneror keluarga Bram. Tapi bagaimana? Apakah aku harus mendatangi dukun? Ah, aku tidak percaya pada dukun!

Hari demi hari berlalu. Saat aku masih memikirkan setan yang meneror keluarga Bram, entah kenapa ada luka cakar yang melintang di bagian perutku sangat panjang dari dada sampai ke perut bagian bawah. 

Semakin hari luka cakar itu tambah parah, menjadi koreng yang perlahan mengeluarkan nanah. Terasa panas sekali kalau malam hari. Apalagi kalau aku mengenakan baju, tergesek-gesek sangat menyakitkan. Aku sudah berobat namun luka itu tidak kunjung sembuh. Apakah ini salah satu perbuatan setan Cipularang?

Kualat Tol Cipularang, Bola Mata Bram Hilang (Part 11)

Kualat Tol Cipularang, Bola Mata Bram Hilang (Part 11)

INIKECE - Setelah mendapat air mantra dari Abah Sardim, berangsur sakit mataku hilang. Tetapi, masih ada yang aneh, kenapa kelopak mataku perlahan menyempit? Aku sudah konsultasi kembali ke Abah Sardim, namun ia tetap menyarankanku agar membasuh mata menggunakan air mantra yang ia berikan padaku. Tetapi, tidak berhasil.

Semakin hari, kelompak mataku semkain mengecil menutupi pandangan. Hingga akhirnya, aku tidak bisa melihat apa pun. Aku raba kelopak mataku dan ternyata kempes, ternyata bola mataku hilang, entah ke mana. Aku penik berteriak minta tolong, ibu dan bapak buru-buru membawaku ke rumah sakit. Dokter juga kebingungan dengan apa yang aku alami, dia mengaku tidak pernah menemukan kasus seperti ini sepanjang karirnya.

"Aku kualat Bu," kataku dengan nada bicara yang menyedihkan.

"Kualat apa, Nak?" Tanya ibuku sambil memelukku, aku mendengar isak tangisnya. Air matanya dapat aku rasakan menetes ke pundakku.

"Tol Bu, Tol Cipularang," jawabku.

"Apa yang udah kamu lakuin, Nak?" tanya bapak.

"Enthlah Pak. Semuanya begitu rumit. Teman-temanku satu per satu mati. Bisa saja aku yang selanjutnya," ujarku.


Bapakku bingung mendengar penjelasanku. Ia masih tidak percaya kalau kejadian aneh yang menimpaku karena kualat Tol Cipularang.

Setelah aku kehilangan bola mata, hidupku terasa semakin sulit. Aku tidak mau lagi pergi ke luar rumah. Setiap hari aku berdiam diri di kamar, meratapi nasib yang malang. Badanku terasa berat kembali, mungkin pocong sialan itu mengikutiku lagi. Aku sudah tidak peduli! Aku tahu, aku akan segera matai. Sama seperti teman-temanku, yang teriksa dan mati mengenaskan.

Sesekali Asep menjengukku. Ia selalu berusaha menguatkanku, tetapi tetap saja aku merasa akan segera mati. Lagi pula, untuk apa juga hidup seperti ini, hampa dan tidak berguna. Andai saja malam itu aku tidak ikut ke Bandung, mungkin saja semua kejadian aneh ini tidak akan menimpaku.

"Gua janji akan cari solusi buat masalah ini, Bram," kata Asep sambil menepuk pundakku. Setiap hari Minggu, dia rutin menjengukku.

"Terlamat Sep. Gua udah terlanjut buta? Abis ini paling gua mati!"

"Hus, jangan kayak gitu. Lu pasti baik-baik aja. Gua akan coba cari cara agar setan tol Cipularang itu nggak ganggu kita lagi."

Aku tidak menimpali perkataannya. Aku sudah benar-benar putus asa, menjadi buta adalah hal yang tidak pernah terpikirkan dalam hidupku. Untuk itu, dorongan untuk bunuh diri semakin besar. Pikirku, lebih baik mati oleh tanganku sendiri ketimbang dibunuh setan Cipularang.

Jadi suatu malam, aku meminta Bi Inah untuk menyuapiku bauh mangga. Kuminta agar pisau dan bekas kulit mangganya diletakkan di meja yang terletak di samping tempat tidurku. Ketika Bi Inah sudah tidak dikamarku, tanganku meraba-raba pisau. Aku gugup, keringat mulai timbul di keningku. Dari kegelapan, aku melihat sosok pocong dengan wajah gelap perlahan mendekatiku. Semkain dekat msakin menakutkan, kain kafannya kotor, noda tanah menempel di seluruh kain kafannya. Segera kuiriskan pisau di pergelangan tangan kiriku. Terasa sakit. Sangat sakit.

Kualat Tol Cipularang, Jin Pencongkel Mata Buntuti Bram (Part 10)

Kualat Tol Cipularang, Jin Pencongkel Mata Buntuti Bram (Part 10)

INIKECE - "Bram, Meri meninggal," pagi-pagi sekali, Asep meneleponku.
"Hah! Serius lu?" Aku benar-benar terkejut mendengar kabar itu.

"Pemakamannya hari ini. Lu datang aja, gua tunggu di rumah Meri." 

"Oke, gue ke sana sekarang."

Hari itu juga aku langsung berangkat ke rumah Meri. Menyaksikan prosesi demi prosesi pemakamannya. Keluarga Meri begitu terpukul atas kematian anaknya. Mereka menangis tersedu-sedu di samping makam Meri. Puluhan orang hadir dalam pemakaman itu, papan bunga ucapan belasungkawa terpajang di sepanjang jalan masuk pemakaman.

"Lu nyadar nggak sih kalau kematian teman-teman kita kayak ada kaitannya sama tol Cipularang," kata Asep sambil terus menyaksikan prosesi pembacaan doa untuk Meri di pemakaman.

"Kita kualat, Sep," kataku singkat sambil membuka kacamata hitam dan menoleh ke Asep.

"Anjir Bram! Mata lu kenapa?" Asep terkejut sambil memerhatikan bola mataku.

Akhir-akhir ini memang mataku terasa perih. Aku pikir hanya iritasi ringan. Jadi, aku hanya menggunakan obat tetes mata untuk menyembuhkannya.

"Nih lihat," Asep menyodorkan smartphone-nya, menyalakan kameran depan.

"Anjir, Mata gua kok nambah parah!"

Aneh! Kedua bola mataku menonjol seperti hendak kelular dari ceruknya.

"Lu harus periksa ke dokter, Bram," saran Asep.

"Udah, kayaknya ini bukan sakit mata biasa, Sep. Seumur hidup baru kali ini juga ngalamin kayak gini."

"Maksud lu, ini gara-gara tol Cipularang?" bisiknya.

"Sep. Dian mati mendadak. Meri juga. Bisa saja selanjutnya gua atau elu," kataku sambil mengenakan kembali kaca mata hitam dan beranjak pergi.


Bukan dokter yang harus kutemui, melainkan seorang dukun. Ya, dukun yang bisa menyembuhkan mataku. Ini pasti gara-gara setan Cipularang. Aku sudah cukup sabar dan kali ini harus aku lawan.

Setelah mendapat informasi dari internet, aku mendatangi dukun yang katanya sakti di Banten. Ia tinggal di kampung Citorek sekitar lima jam perjalanan dari Jakarta. Nama dukun itu Abah Sardim. Saat bertemu dengannya, ia tahu kalau aku diikuti pocong tol Cipularang. Ia lalu menyemburkan air yang sudah dibacakan mantra ke seluruh tubuhku.

"Pocong itu sudah pergi," katanya sambil tersenyum.

Aku duduk sila di ruang tamu rumah Abah Sardim. Rumah itu bertipe panggung, dindingnya dari anyaman bambu, lantainya dari papan. Tapi, atapnya sudah menggunakan genting. ia tidak tampak seperti dukun di film-film yang sering kutonton, tapi ia terlihat seperti warga biasa saja.

Mengenakan baju partai yang sudah lusuh, peci hitam yang sudah mengilap, sarung butut yang kusut seperti tidak disetrika. Dari wajahnya yang keriput, dapatku tebak kalau Abah Sardim itu berumur kisaran lima puluh atau enam puluh tahun.

"Air ini kamu basuhkan ke dua matamu setiap mau tidur. Mudah-mudahan lekas sebuh," ia menyerahkann sebotol air yang sudah ia bacakan mantra.

Kualat Tol Cipularang, Kematian Meri (Part 9)

Kualat Tol Cipularang, Kematian Meri (Part 9)

INIKECE - Kuntilanak yang berteman denganku selalu membisikkan sesuatu di telinga setiap malam. Ia mengajakku untuk bunuh diri. Menjanjikan kehidupan yang abadi dan bahagia dengannya.

Ah, memang dia benar! Saat ini, aku sudah tidak menikmati kehidupanku. Semua terasa hampa, aku sudah tidak tertarik lagi bergaul dengan teman-temanku, mengobrol dengan keluarga, dan jalan-jalan ke luar kota. Semua sudah tidak menyenangkan lagi bagiku.

Kebahagiaanku hanya ketika bersama kuntilanak, apalagi kalau di tersenyum. Sangat menyenangkan hatiku.

Di suatu sore, aku sedang mengiris tomat. Kuntianak tiba-tiba muncul dari belakangku. Ia memelukku dan membisikkan ajakan untuk bunuh diri. Aku tersenyum dan membalikkan badan. Ia menatapku dengan penuh kasih sayang seperti seorang ibu kepada anaknya. Iya, mungkin hubungan kami sekarang sudah lebih dari sekadar teman. Dia sudah seperti ibu bagiku, tepatnya ibu kedua.

"Apa aku akan bahagia di duniamu?" tanyaku kepada kuntilanak.

Ia mengangguk sambil tersenyum. Aku kemudian mendekatkan pisau ke pergelangan lengan kanku membuat kuntilanak itu kembali tersenyum bahagia. Sesaat sebelum ku iris pisau di permukaan kulit. Suara seseorang menegurku.

"Mari! Apa-apaan kamu!" itu Bapak.

Ia merampas pisau dari tanganku sambil mendelik marah, keningnya berkerut.

"Kamu kenapa, Meri?!" Bapak menarik lenganku dan membawaku ke ruang keluarga. Kami duduk di sana.

"Meri, akhir-akhir ini Bapak perhatikan tingkah kamu aneh. Kadang ngomong sendiri. Terus tadi, apa-apaan itu! Kamu mau bunuh diri. Ada apa sebenarnya? Cerita ke Bapak." Bapak membetulkan posisi kaca matanya dan menatapku tajam.

BACA JUGA :

Kualat Tol Cipularang, Meri Berteman Dengan Kuntilanak (Part 8)


"Baiklah, aku mau jujur Pak. Aku punya teman gaib."

Bapak terkejut mendengar jawabanku.

"Siapa?"

"Kuntilanak, Pak."

Bapak menyederkan punggungnya ke sofa, kemudian geleng-geleng kepala. Dari ekspresi wajahnya, sepertinya ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Kemudian,  ia merogoh smartphone-nya.

"Bapak mau apa?" tanyaku/

Ia tidak menjawab. Dan tetap menunggu seseorang mengangkat teleponnya.

"Halo, tolong hari Rabu kirimkan Psikiater ke rumah saya, ya. DI jalan Adityawarman. Iya, untuk anak saya. Umurnya dua puluh tiga tahun. Oke, saya tunggu." Bapak berbicara dengan seseorang dari seberang teleponnya.

"Bapak. Aku enggak gila, Pak. Aku beneran punya teman kuntilanak. Dia bahkan sekarang berdiri di samping Bapak!" Jelasku dengan nada tinggi.

Tapi bapak tetap tidak peduli.

"Bapak tahu pasti kamu sedang ada masalah yang nggak bisa diungkapin. Mulai sekarang kamu tidur dengan ibumu sementara Bapak akan tidur di kamar kamu. Bapak akan terus awasin kamu. Takutnya nanti malah coba bunuh diri lagi."

Jujur, au tidak terima bapak memperlakukanku seperti ini. Mungkin kuntilanak benar, aku harus bunuh diri saja. Memulai kehidupan baru, di dunia baru. Tapi sayangnya, aku tidak punya kesempatan untuk bunuh diri. Ibu dan Bapak sangat ketat menjagaku, sampai-sampai ibu yang memandikanku. Mereka tidak membiarkanku sendirian.

Hingga pada suatu malam. Ada tiga orang laki-laki yang mengendap-endap masuk ke rumahku. Mereka bertopeng badut, jaket hitam, celana jeans, dan membawa pistol. Mereka berhasil masuk ke kamar tempatku dan ibu tidur.

"Jangan sekali-kali berteriak. Kami tidak segan-segan membunuh kalian," kata salah satu dari mereka.

Aku dan ibu ketakutan. Mereka menggeledah seisi kamar, membuka lemari dan merampas perhiasan emas. Mereka juga meminta kode brankas yang ibu simpan di dalam lemari. Dengan terbata-bata, ibu menyebutkan kode brankasnya.

Ketika mereka sibuk mengeruk uang, buru-buru ibu meraih smartphone dan berusaha menghubungi polisi. Sialnya, salah satu dari mereka menyadari itu, lalu memberi tahu temannya yang memegang pistol. Segera ia membidik punggung ibu, aku refleks mendorong tubuh ibu dan perluru itu meleset tepat mengenai dada kiriku.

Kualat Tol Cipularang, Meri Berteman Dengan Kuntilanak (Part 8)

Kualat Tol Cipularang, Meri Berteman Dengan Kuntilanak (Part 8)

INIKECE - "Keserupan?" Tanyaku sambil meringis memegang kepala yang masih terasa pusing.

"Iya, nama kamu siapa, Nak?"

"Meri, Mak."

"Kamu kok bisa ada di daerah sini semalam?"

"Aku dibawa seseorang, Mak."

"Temanmu?"

"Bukan, dia kekasihku dalam mimpi. Tapi entah kenapa semalam kepalanya putus," lanjutku.

"Wah itu sih setan, Nak. Sekitaran sini banyak setannya harus hati-hati," ujarnya sambil membuang sisa sirih yang ia kunyah.

Aku mencoba untuk bangun, dia membantuku, "Hati-hati, Nak."

"Terima kasih udah selamatin saya ya, Mak."

"Iya, sama-sama, Nak."

Dia meraih segelas air. Bibirnya komat-kamit seperti sedang membaca mantra, lalu meniup air itu dan menyerahkannya padaku.

"Ini diminum. Biar dia nggak ngikutin kamu lago. Kayaknya kamu kena pelet setan Cipularang. Ada setan yang suka sama kamu."

Aku tercengang mendegar penjelasannya. Segera kuhabiskan air itu, aku tidak menyangka bisa sampai seperti ini. Setan suka padaku? Sangat mengerikan!


Setelah kejadian itu, aku memang tidak pernah lagi memimpikan Agung. Tetapi, semua belum berakhir di situ. Aku mengalami kejadian aneh lainnya, setiap tengah malam ada seorang wanita yang membangunkanku. Ia mengajakku bermain ayunan di halaman rumah.

Dia baik dan suka memainkan rambutku dengan jemarinya. Tubuhnya tinggi, mungkin dua kali lipat dari tinggi tubuhku. Cuma memang agak bau busuk, tapi entah kenapa aku nyaman-nyaman saja didekatnya.

Semakin lama dia semakin akrab denganku, kami menjadi sahabat sejati. Sekarang dia tidak hanya membangunkanku di tengah malam, bahkan dia suka mengikutiku ke kamar mandi, kantor, dan cafe.

Dia suka duduk di kursi mobilku baris ketiga. Untuk itu, aku tidak pernah menginzinkan siapa pun untuk menduduki kursi itu. Dia selalu disana. Duduk manis. Sesekali tersenyum. Ya, dia itu kuntilanak.

Batal Minta Cerai Setelah Mendengar Kata Suaminya!


Perkenalkan nama saya Sulistio Biasa di panggil Tio. Saya pria kantoran dengan pendapatan pas-pasan. Tapi saya juga bukan merupakan orang yang suka berfoya-foya, Jadi ya gaji saya dan pengeluaran saya masih seimbang dan saya masih bisa lha menabung untuk masa depan.

Cerita ini bermula dari sejak saya masih duduk di SMA(Sekolah Menengah Atas). Saya bisa di bilang salah satu murid standart, Dengan nilai Standart, Penampilan Standart dan smuanya standart. Tapi Jalur alur hidupku tak se standart itu.

Saat duduk di kelas XI SMA, Saya mulai menjalin asmara dengan PUTRI(nama samaran) yang merupakan adik kelas di sekolah yang sama. Singkat cerita aku dan putri saling menyukai dan mulai menjalin asmara secara diam-diam.

Putri merupakan salah 1 anak yang lumayan exis di sekolah kami. Dengan sifat nya yang mudah bergaul dan baik membuatnya memiliki banyak teman.

Singkat cerita lagi, Setelah tamat sekolah saya bekerja di salah 1 produsen minyak makan di indonesia. Gaji yang saya dapatkan juga lumayan cukup untuk menabung demi masa depan. Selang 3 tahun saya dan Putri pun memutuskan untuk menikah dan akhir nya di setujui oleh keluarga kami masing-masing.

Tahun Pertama menikah kami sangat bahagia, Dengan gaji saya yang pas-paskan kami memutuskan untuk mengontrak rumah di perkotaan yang dekat dengan kantor saya. Sedangkan Putri Sendiri membantu dengan jualan online tas-tas untuk wanita.

Tapi Semua tak berlansung lama,Momongan yang kami impi-impikan tak kunjung diberikan.Segala cara sudah kami coba untuk mempercepat dapatnya momongan. Putri yang biasanya selalu ceria pun sekarang bagaikan tertutup kabut hitam,mukanya selalu gelap dan jarang tersenyum.Dan sifatnya pun makin berubah tidak lagi seperti Putri yang dulu.

Sekedar info, Hasil yang kami dapatkan setelah berkonsultasi degan dokter adalah kami berdua normal dan tidak ada masalah pada keduanya. Itu lha yang membuat kami binggung apa yang harus kami lakukan sampai akhir nya smua ini terjadi.

Pada hari yang penat setelah pulang dari seharian bekerja, Saya tiba di rumah Sedikit telat dan melihat putri yang sedang duduk menonton tv tanpa menyapa saya walaupun tau saya sudah pulang. Saya pun menyapanya "put,mas pulang ni". Putri dengan cetus nya menjawab "mas dari mana saja? kenapa baru pulang sekarang? biasa nya gak pernah pulang telat, selalu on time. Apa sudah ada simpanan di luar sekarang?" Saya yang kaget mendengar itu pun langsung emosi "Ada Mesin yang rusak dan baru selesai di perbaiki jadi mas baru bisa pulang, dan apa maksud nya dengan simpanan?!" Si putri pun dengan cetus menjawab "Ya mana tau karna putri gak bisa kasih anak abang cari simpanan di luar" Dan karna saya terlalu capek saya pun diam dan tidak mengubris pernyataannya lagi.

Kesokan harinya saya pulang tepat pada waktunya tapi masih di suguhkan dengan muka asem putri. Karna tidak mau memperpanjang masalah akhirnya sayapun keluar untuk mencari angin. Kejadian ini terus berulang, Si putri selalu memberikan musa asam dan saya pun akhir nya keluar setiap malam ngopi di warung dengan teman lainnya.

Satu bulan berlangsung tanpa ada komunikasi berlebihan dari kami, akhir nya si putri tidak tahan dan meminta bercerai dengan saya.Saya yang sudah tidak kaget pun menanyakan alasan kenapa dia bisa memutuskan hal tersebut.

Putri : Mas gak usah takut, saya gak akan ganggu hubungan mas dengan calon mas yang baru.
Saya : Maksud kamu mas punya simpanan di luar? jadi kamu minta cerai begitu?
Putri : Ya kalau bukan ada simpanan apa lagi, mas setiap hari pulang kerja langsung keluar dan malam baru pulang, kemana lagi kalau bukan ke rumah simpanan.. Putri capek mas, lebih baik kita cerai saja.. putri tau putri gak bisa kasih mas momongan makanya mas pergi cari simpanan.
Saya : Oke saya hanya akan bertana beberapa pertanyaan, setelah kamu jawab dan kamu masih ingin cerai mas bakal tanda tanganin surat cerainya.
Saya : Kita menikah sudah berapa lama?
Putri : 2 Tahun!
Saya : Dalam 2 taun kamu tidak bisa memberikan saya momongan, pernahkah saya memarahi kamu? atau pernahkah saya menyalakanmu?
Putri : Mas memang tidak pernah marah tapi mas juga tidak lagi sayang sama saya! apa bedanya!
Saya : Dalam 1 bulan terakhir, apakah kamu pernah menyambut saya pulang? apakah kamu pernah bertanya saya sudah makan? apakah kamu pernah memberikan senyuman kepada saya?
Putri : terdiam*
Saya : Dalam hubungan rumah tangga bukan terdiri dari suami saja atau istri saja. Saya bekerja setiap hari dan pulang hanya untuk mendapatkan muka asem dan tidak enak dari kamu.. Apakah salah jika saya lebih memilih keluar karena merasa tidak nyaman di rumah? Saya tidak pernah mempermasalahkan momongan, tanpa momongan pun saya akan tetap mempertahankan kamu. Tapi sifat mu yang berubah yang membuat saya tidak nyaman berada di rumah. Saya laki-laki,saya lahir dari seorang perempuan dan saya tahu cara menghormati perempuan. Walau bagaimanapun perlakuanmu terhadapku tak pernah sedikitpun tersiat di benak untuk mencari simpanan di luar. Walaupun setiap hari kamu selalu menuduhku keluar untuk menemui simpanan. Apakah pantas seorang istri selalu menuduh suami nya tanpa ada bukti?
Putri : (Masih terdiam tak berani melihat saya)
Saya : Baiklah saya sudah katakan yang saya ingin katakan, besok kita ke pengadilan untuk mengurus surat cerai.
Putri : (mulai menagis dan bersujud) Putri salah mas putri minta maaf. Mulai sekarang putri gak akan seperti itu lagi mas.. maafin putri ya mas.

Setelah kejadian tersebut hubungan kami pun mulai membaik, Putri kembali ceria dan hubungan kami pun kembali romantis lagi. Dan akhirnya 6 bulan kemudian putri pun hamil anak pertama kami :D

Moral Cerita : Perceraiyan bukan terjadi hanya karna lelaki yang bersalah. Dan perceraiyan bukan lha hal anak kecil, jadi berpikir panjang lha sebelum memutuskan bercerai. Banyak wanita selalu menyalahkan suami yang selalu tidak di rumah, tanpa pernah berfikir apakah dia sudah membuat suami nya nyaman saat di rumah? apakah dia sudah memberikan senyuman pada suami nya hari ini?

Geger! Penemuan Kerangka Manusia Disofa Rumah Kosong Bandung

Geger! Penemuan Kerangka Manusia Disofa Rumah Kosong Bandung

INIKECE - Saksi Suherman, orang suruhan pemilik rumah, sempat melihat kejanggalan sebelum menemukan kerangka manusia di rumah kosong di Komplek Sukamenak Indah Blok I 61 Rt 06 Rw 04, Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung.

Beberapa kejanggalan itu yakni rumput di pekarangan rumah yang terlihat sudah ada yang memotong dan sudah ditanami pohon singkong.

"Setelah tiba di TKP pada hari Selasa, 14 Januari 2020 sekitar jam 13.00 WIB, saksi melihat rumput pekarangan sudah ada yang memotong, sudah ditanami pohon singkong," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jabar, Kombes Pol Saptono Erlangga dalam pesan singkatnya, Kamis (16/1/2020).

Tak hanya itu, saksi juga melihat kaca jendela depan rumah pencah dan pintu rumah samping yang biasanya tertutup terlihat dalam keadaan terbuka.

Saksi kemudian masuk rumah berlantai dua tersebut dan menemukan kerangka manusia yang tengah duduk di sofa panjang di rumah itu.

Selain itu, Erlangga juga menyebut terdapat bungkusan kabel yang disisit di dalam rumah tersebut.

"Di dalam rumah bagian ruang tamu terdapat bekas bungkus-bungkus kabel yang telah disisit yang diambil tembaganya," kata Erlangga.

Ada pun hasil olah TKP, ada jas hujan ponco yang menempel pada kerangka manusia yang tegah duduk di kursi sofa panjang.

Namun polisi tidak menemukan berak darah ataupun barang mencurigakan di sekitar TKP.

"Untuk sementara jenis kelamin belum terindetifikasi karena korban sudah menjadi tengkorak sehingga menyulitkan identifikasi korban," katanya.

Seperti diketahui, sejak dibeli pada tahun 2014, rumah tersebut tak pernah dihuni ataupun direnovasi pemiliknya.

Meski begitu, pemilik rumah kerap meminta seseorang untuk membersihkan rumah tersebut. Terakhir, saksi Suherman memberishkan pekarangan rumah tersebut sekitar bulan Mei tahun 2019. Namun saat itu dia belum pernah masuk ke rumah tersebut.

Kualat Tol Cipularang, Kesurupan (Part 7)

Kualat Tol Cipularang, Kesurupan (Part 7)

INIKECE - Aku mencium aroma tubuh Agung menguar dari segala arah. Kemudian, aku melihat Agung sedang berdiri sambil tersenyum tidak jauh dari tempatku berdiri, mungkin jaraknya hanya sepelemparan batu. 

Ia melambai-lambaikan tangannya, memintaku untuk mendekat. Perlahan aku mendekatinya, ia kemudian melangkah melewati pembatas jalan sambil terus menatapku.

"Ayo ke sini. Ikut aku,' katanya sambil turun ke semak-semak.

Aku mengikutinya turun ke semak-semak. Ia mengajakku untuk melangkah lebih jauh lagi, semakin masuk ke dalam kegelapan malam. Sejenak aku tidak bisa melihat apa pun namun beberapa saat kemudian, kulihat sebuah cahaya yang perlahan semkain mendekat ke arahku. Titik cahayanya semakin lama semakin membesar menyilaukan mata, lalu meredup.

Kulihat dengan jelas keramaian manusia berlaku-lalang melewatiku tanpa melirik wajahku. Di antara lalu-lalang orang, kudapati Agung masih melambaikan tangannya, memintaku agar tetap jalan mengikutinya.

Hingga akhirnya aku sampai di sebuah puncak., dari atas sana kulihat keramaian manusia sedang berakhititas. Ada anak-anak kecl yang sedang main sepeda, ibu-ibu menyapu halaman rumah, seorang lelaki tua sedang duduk menikmati secangkir teh. Aku tidak menyangka ada kehidupan yang begitu ramai disini.


"Kita di mana, Gung?" Tanyaku sambil menggenggam lengannya.

"Di puncak gunung Hejo," jawabnya singkat sambil tersenyum hangat.

"Nanti kau akan tinggal di sini selamanya," lanjutnya.

"Bersamamu?" tanyaku.

"Iya, kita di sini selamanya dan nggak akan ada yang ganggu kita, Meri," ia memelukku dengan hangat.

Namun, saat ia melepaskan pelukannya. Aku sangat terkejut melihatnya tanpa kepala.

"Gung? Kepala kamu ke mana?"

"Putus ketabrak bis," suara itu berasal dari bawah kakiku.

Kutemukan kepala Agung tergeletak di tanah. Ia tersenyum mengerikan.

"Kamu akan tinggal di sini selamanya, dan nggak akan pernah pulang lagi."

Seketika pundakku terasa berat seperti ada beban puluhan kilo sehingga membuatku terkapar ke tanah. Entah setelah itu apa yang terjadi, aku tidak ingat.

***

Keesokan paginya, kepalaku sangat pusing sampai tidak mampu berdiri. Sambil memicingkan mata, kulihat sekelilingku. Aku sedang berada di sebuah rumah bilik dengan cat putih yang mulai mengelupas. Keringar bercucuran dari badanku, ruangan ini sangat panas, hanya ada kipas angin butut tergantung di dinding.

"Oh udah bangun, Nak? Aku Mak Minah, semalam Mak dengar kamu jerit-jerit di dekat sini. Ternyata kamu keserupan, Nak," katanya sambil mengunyah sirih dan sesekali meludahkannya ke sela-sela lantai bambu.

Kualat Tol Cipularang, Terkena Pelet Setan (Part 6)

Kualat Tol Cipularang, Terkena Pelet Setan (Part 6)

INIKECE - Aku Meri. Tentu aku mendengar kabar kalau Dian meninggal secara tidak wajar. Aku tahu, pasti ada kaitannya dengan kejadian yang kami alami di tol Cipularang. aku dengar semua teman-temanku mengalami kejadian aneh termasuk aku.

Akhir-akhir ini, aku merasa menjalin hubungan dengan pacarku, Ardi. Kami bahkan sudah putus. Aku yang mengakhirinya. Rasa cinta yang dulu menggebu-gebu, sekarang hilang begitu saja. Anehnya aku malah jatuh cinta pada sosok lelaki yang selalu hadir dalam mimpu. namanya Agung.

Semakin hari, aku semakin mencintainya. Dia sosok yang tampan, kulitnya putih-bersih, dan postur tubuhnya proporsional. Setiap malam, dia datang ke dalam mimipu membawakan bunga dan cokelat.

Anehnya setiap barang yang ia berikan kepadaku dalam mimpi, barang itu selalu aku temukan di atas kasur saat aku bangun. Sungguh romantis bukan? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ah, biarlah. Aku tdak peduli.

Aku sangat ingin sekali memeluknya dan menanyakan di mana lelaki itu tinggal. Saking penasarannya, aku berniat akan menanyakan dalam mimpi. Dan, untungnya dia mau menjawab semua pertanyaanku.

Malam itu, dalam mimpi aku dibawa sebuah taman yang ramai oleh pengunjung. Di sana, anak-anak kecil yang masih mengenakan berseragam sekolah tengah bermain bola plastik. Mereka tampak sangat bahagia sekali.

Ada juga beberapa lansia tengah duduk-duduk menikmati suasana taman, melihat anak-anak muda yang tengah berolah raga. Pohon-pohon rindang membuat suasana taman begitu teduh. Juga, rerumputan hijau dan rapi menambah kesan asri suasana taman.


Aku duduk bersama Agung di bawah pohon yang paling rindang. Saat itu, ia mengenakan jaket hitam dan celana jeans pendek. Dia tersenyum kepadaku. Matanya memandangiku penuh cinta.

"Apakah aku bisa bertemu denganmu di dunia nyata?"

"Bisa," jawabnya, singkat.

"Di mana?"

"Tol Cipularang kilometer 97," jawabnya. Ia lalu tersenyum kepadaku.

"Dulu aku meninggal di sana," tambahnya.

"Aku akan menemuimu di sana, Gung. Aku janji," kupeluk tubuhnya yang terasa hangat dan menenangkan.

"Temui aku jam dua belas malam di sana, Sayang," ujarnya sambil mengelus rambutku.

Anehnya, malam berikutnya aku langsung menancap gas mobilku. Seperti yang dijelaskan Agung, aku melajutkan mobil menuju Tol Cipularang kilo meter 97. Malam itu aku keluar rumah diam-diam, tanpa memberi tahu kedua orang tuaku.

Sesampainya di kilometer 97, kuparkirkan mobil di tepi jalan. Di sana, kutemukan taburan bunga yang berserak. Di antara bunga-bunga itu, ada sebuah karangan bunga yang terpajang di pembatas jalan. Karangan bunga itu bertuliskan: Mengenang lima tahun kematian anak kami tercinta Agung.

"Mimpu benar, ia meninggal tepat di Tol Cipularang kilometer 97. Aku tidak sabar menemuinya," kataku dalam hati.

"Gung! Agung! Aku udah datang nih," kucoba memanggilnya agar ia menampakkan diri.

Selang beberapa menit, aku mencium aroma yang sangat kukenal, itu aroma tubuh Agung seperti saat dalam mimpi. Aku masih sangat mengingatnya. Tuhan, aku semakin jatuh cinta dan tidak sabar ingin bertemu dengannya.

Kualat Tol Cipularang, Kematian Dian (Part 5)

Kualat Tol Cipularang, Kematian Dian (Part 5)

INIKECE - "Sep, thanks banget udang datang," kata Bram.
"Iya Bram. Gua nggak nyangka Dian bisa sakit parah kayak gini."

Malam itu, aku sedang ada di rumah sakit untuk menjenguk Dian yang sedang sakit parah. Bram menceritakan kalau sebelum pacarnya sakit, ia mengalami hal mistis yang menurutku sangat tidak masuk akal.

Dinikahi dedemit? Aku hampir tidak percaya dengan hal itu. Tapi, yang terpenting saat itu adalah kondisi Dian yang masih belum sadarkan diri.

Dian masih tak sadarkan diri di atas kasurnya. Selang infus terpasang di lengan kirinya. Wajahnya pucat dan kantung matanya hitam-kusam. Ia mengenakan baju tidur berwarna merah.

Aku dan Bram diminta keluarga Dian untuk menjaganya malam ini. Mereka harus pulang dulu untuk berganti pakaian dan istirahat. Kami berdua tidak keberatan dengan permintaan itu. Lagipula besok hari libur.

Hanya Dian satu-satunya pasien dalam ruangan itu. Kami duduk di samping Dian sambil membicarakan keanehan-keanehan yang kami alami akhir-akhir ini. 

Kami membicarakan hal itu dalam ruangan tempat Dian dirawat. Dinding ruangannya dicat warna putih. Tepat di samping kita mengobrol terdapat jendela dengan tirai berwarna biru.

Sebuah televisi berukuran 21 inch diletakkan di bagian depan ranjang pasien. Televisi itu tidak kami nyalakan. Aku meraih remot AC dan mengatur suhunya, ruangan itu terlalu dingin.

Sementara itu, di atas televisi terdapat sebuah jam dinding yang disematkan di tembok. Setiap detik suaranya menemani kami, dan terdengar sangat jelas saat cerita kami jeda.

Sekitar jam dua belas malam kami tertidur di samping ranjang Dian. Belum lama terlelap, aku terbangun. Aku melihat Dian sedang duduk di atas ranjangnya. Kulihat sekitar, selang infus masih terpasang di lengannya. Namun, aku tidak terlihat Bram. Mungkin ia sedang pergi ke toilet.


"Dian, lu udah bisa bangun?" tanyaku sambil tersenyum bahagia.

Dia tidak menjawab. Kusentuh lengannya, terasa dingin dan kaku. Segera kupanggil dokter melalui telepon untuk mengecek keadaan Dian.

Beberapa saat kemudian, dokter datang. Dokter itu segera memeriksa Dian yang masih duduk sambil tertunduk. Anehnya, dia masih tidak sadarkan diri. Tubuhnya kaku dalam posisi seperti itu. Ia tidak bisa dibaringkan kembali.

"Kenapa, Sep?" Bram datang dengan wajah panik.

"Sorry, tadi gua ke toilet," tambahnya.

"Dian nggak bisa dibaringkan, Bram," ucapku.

"Anjir, apaan lagi sih ini?" Bram berdecak kesal.

Dokter pun heran. Baru kali ini dia menemukan pasien yang tubuhnya kaku dalam posisi duduk seperti disemen sehingga tidak dapat dibaringkan lagi. Bahkan sampai keesokan harinya tubuh Dian masih dalam posisi sambil tertunduk.

Matanya tetap terpejam dan suhu tubuhnya semakin dingin. Kami sudah coba mengangkat tubuhnya agar bisa dibaringkan. Tetapi tubuhnya seperti dipaku, tidak bisa diangkat sama sekali, bahkan oleh tiga orang sekalipun.

Keluarga Dian menangis nelangsa melihat keadaan Dian yang semakin parah dan aneh. Padahal dokter menyebut Dian masih hidup. Tapi, ya Tuhan...

Tepat pada jam lima sore, tiba-tiba tubuh Dian lunglai. Ia akhirnya terbaring dengan sendirinya. Hal itu membuat kami kaget dan sedikit lega. Kami langsung memanggil dokter untuk melakukan pemeriksaan. Kami benar-benar tak percaya bahwa dokter menyatakan Dian sudah meninggal.

Kualat Tol Cipularang, Wanita Yang Meninggal Tak Wajar (Part 4)

Kualat Tol Cipularang, Wanita Yang Meninggal Tak Wajar (Part 4)

INIKECE - "Asep... Asep... Asep..." seseorang memanggilku. Aku sangat kenal dengan suara itu, dia tentangga kosku, Mbak Tika.

Katanya dia itu indigo, bisa melihat hantu. Aku sebenarnya tidak percaya kalau dia benar-benar indigo. Kadang memang ada saja orang yang mengaku-ngaku bisa melihat hantu agar mendapat perhatian dari orang lain.

Aku membukakan pintu kos, "Ada apa ya, Mbak?" tanyaku heran, tidak biasanya dia mengetuk pintu kosku malam-malam begini.

"Oh, ini aku punya oleh-oleh dari Malang buat kamu," dia menyerahkan sekantung plastik makanan khas Malang.

"Wah, terima kasih ya, Mbak."

Ia tersenyum sambil mengangguk. Namun, seketika raut wajahnya berkerut dan berusaha melongok ke dalam kosanku.

"Kamu abis dari mana, Sep?" Dia bertanya sambil ketakutan.

"Maksud, Mbak?"

"Oalah, Sep, itu di kamar kosmu ada anak kecil lagi lari-larian, lihat mukanya berdarah gitu," Mbak Tika semakin ketakutan dan langsung pamit.



***

Semenjak kejadian malam itu, Mbak Tika sering menceritakan kalau di kamar kosku ada anak perempuan yang umurnya kira-kira tujuh tahunan. Ada luka parah dikepalanya yang membuat darah membasahi seluruh bagian wajah. Katanya, perempuan itu membawa sebuah boneka beruang yang sudah usang. Ia bermain di dalam kamar kosku.

Beberapa hari kemudian, aku menyaksikan kejadian yang sangat diluar nalar. Malam itu, aku terbangun dari tidur. Kudengar suara pintu terkuak, itu dari pintu kosnya Mbak Tika. Kuintip dari kaca dan kulihat Mbak Tika keluar dari kamar kos dengan tatapan kosong, ia naik ke atas balkon dan menjatuhkan diri begitu saja.

Kamar kosku ada di lantai empat, dari ketinggian itu Mbak Tika tewas. Ganjil! Kenapa hal ini terjadi, apakah ini masih ada kaitannya dengan Tol Cipularang? Tapi kenapa Mbak Tika yang jadi korban?

Setelah kematian Mbak Tika yang tak wajar, aku makin sering terbangun di tengah malam. Entahlah, seperti ada yang menggelitiki telapak kakiku. Bukan hanya itu saja, aku juga sering mendengar suara langkah kaki yang berlarian ke sana kemarin di dalam kamar kosku.

Kualat Tol Cipularang, Dinikahi Dedemit (Part 3)

Kualat Tol Cipularang, Dinikahi Dedemit (Part 3)

INIKECE - "Bram, gua ngerasa ada yang aneh sama hidup gua akhir-akhir ini," kata Dian. Dia adalah pacaku, hubungan kami sudah berjalan lima tahun.

"Gua juga ngerasain hal yang sama, Di."

Kami berdua duduk di sebuah kafe, menikmati kopi robusta. Dia bercerita banyak hal aneh yang ia alami setelah kejadian tol Cipularang. Katanya, suatu malam saat Dian hendak tidur, ada seseorang yang bersiul di kamarnya. Dia coba mematikan lampu dan memejamkan mata. Tapi suara siul itu datang lagi.

""Gua ngerasa ada yang ngikutin gua," tambah Dian sambil menyeruput kopinya.

"Sama," jawabku singkat.

Aku menarik napas berat, "Gua ngerasa diikuti pocong, gua nemuin tali kain kafan di rumah," tambahku.

"Serius lu, Bram?"

"Iya, ada yang nggak beres."

"Lu tahu, hal gila yang gua alami baru kemarin. Gua kan selfi di kamar sendiri. Nih lu liat hasil fotonya."


Ia menyodorkan smartphone-nya. Aku melihat ada sosok lelaki dengan wajah samar dan rambut gondrong di foto itu.

"Hapus Di. Udah nggak bener nih kita. Pasti gara-gara kejadian di tol Cipularang," aku berdecak kesal, bulu kudukku merinding.

Di perjalanan pulang, aku dan Dian tidak mengobrol. Kami sama-sama bingung tenang apa yang sedang terjadi pada hidup kami. Tatapan Dian kosong ke arah jalan, sedangkan aku fokus mengemudikan mobil.

Mobil yang aku kendarai melintasi perumahan elit yang sepi, hanya ada pohon-pohon beringin yang berjejer di sepanjang jalan. Tidak ada satu kendaraan pun yang meintas di komplek ini. Tiba-tiba saja, ekor mataku melihat itga orang perempuan berpakaian kebaya, sarung kain batik, dan konde, mereka memandangi ke arahku dengan tatapan tajam.

"Dian, lu lihat...," saat menoleh ke Dian. Ia tengah tertunduk.

Ku berhentikan laju mobil. Menyibakkan anak rambutnya yang menutupi wajah. Kulihat wajah pacarku penuh dengan bedak yang baunya menyengat, aku tidak pernah mencium bau bedak semenyengat itu. Bedaknya sangat tebal dan acak-acakan sampai berhamburan di jok mobilku.

Lalu, ia ke luar dari mobil tanpa berbicara apa pun. Saat aku hendak menyusulnya, aku terkejut dengan apa yang kulihat di hadapanku. Itu sebuah pesta pernikahan, orang-orang berpakaian batik dengan wajah pucar berduyun-duyun masuk ke tenda yang sudah dihias dengan janur. Kulihat Dian digandeng sosok lelaki tinggi besar dengan badan penuh dengan bulu masuk ke dalam tenda.

Kualat Tol Cipularang, Diikuti Pocong (Part 2)

Kualat Tol Cipularang, Diikuti Pocong (Part 2)

INIKECE - Aku Bram. Semenjak Jon menghilang secara misterius, aku mengalami kejadian demi kejadian aneh. Ada sesuatu yang sepertinya mengikutiku setiap hari, entah apa. Badanku semakin hari semakin berat. Tapi, berat badan tidak bertambah.

Aku yakin semua ini ada kaitannya dengan tol Cipularang yang pernah kulewati bersama teman-teman. Apakah ada setan yang mengikutiku ke rumah? Ah, aku berusaha untuk selalu berpikir positif. Tapi, aku tidak bisa lari dan hal-hal ganjil yang hampir setiap minggu kualami.

Waktu itu, sekitar jam sepuluh malam. Perutku lapar. Segera aku turun ke lantai satu untuk memasak mi instan. Sengaja aku tidak menyuruh Bi Inah. Kasihan dia usdah bekerja seharian. Lagipula, hanya masak mi instan saja. Itu hal yang mudah.

Tapi, sebelum aku sampai di dapur, kulihat Bi Inah sedang mengiris bawang. Aneh, biasanya dia jam segini sudah tidur. Sengaja aku bersembunyi di balik dinding. Aku benar-benar curiga kalau itu bukan Bi Inah. Sebab, dia mengiris bawang dengan tidak wajar. Ia menggerakkan pisau layaknya memotong daging. Pisau itu dihentak-hentakkan dengan keras, padahal cuma bawang.

Dan, benar saja. Saat Bi Inah berpindah tempat untuk meraih sesuaut, dia tidak berjalan. Ia justru meloncat-loncar seperti pocong. Wajahnya juga sangat datar dan tatapannya kosong. Sumpah! Bulu kudukku merinding.

"Bram, kamu lagi ngapain?" Suara bapak mengagetkanku.

"Duh, bapak bikin kaget saja, Pak, lihat Bi Inah! Kayaknya keserupan deh."

"Mana?" tanya ayah.

Mataku kembali melihat semula Bi Inah berada. Anehnya, tidak ada siap-siapa di dapur. Pandanganku mencoba menyisir setiap sudut dapur. Tak ada. Bi Inah menghilang begitu saja.

"Ah, kamu ngehayal aja, Bram."

Bapak menepuk kepalaku dengan koran yang ia pegang. Ia lalu balik badan dan pergi ke kamar.

Bukan hanya kejadian ganjil malam itu saja. Ada yang lebih gila. Itu terjadi di kamar mandi saat aku sedang mencuci muka. Pintu kamar mandi tiba-tiba diketuk dari luar tanpa ada suara yang memanggil.

Ketika kubuka pintunya, kutemukan sebuah tali putih terbuat dari kain seukuran satu meter. Tali itu kusut dan begitu kotor. Bahkan, tali itu juga menyembulkan bau busuk. Aku curiga kalau itu adalah tali dari kain kafan.

Satu hal lagi yang membuatku sangat takut dan cems. Suatu hari, saat aku sedang berjalan di lorong rumah sakit waktu itu sedang menjenguk tante yang sakit ada seorang anak perempuan. Kutaksir, umurnya sekitar sepuluh tahunan. Ia terlihat tengah duduk di atas kursi roda. Saat aku melintar di depannya, ia justru menangis sejadi-jadinya. Jarinya menunjuk-nunjuk ke arahku.

"Pocong...! Pocong...! Pocong...!" Ia menangis, lalu mengamuk. Tanpa menghentikan tangisnya, ia menyuruhku pergi dari hadapannya.

Hal itu membuatku bingung. Aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Kulihat sekeliling, tak ada siapa-siapa juga. Tak kutemukan siapa pun, apalagi sosok pocong seperti yang dikatakan bocah itu.

Semua kejadian itu begitu ganjil bagiku. Dan, yang paling mengganggu, kenapa badanku semakin hari semakin berat saja? Seperti ada sesuatu yang menimpa bahuku. Bahkan, terkadang sekujur tubuhku juga terasa panas.