Kualat Tol Cipularang, Aku Yang Selanjutnya Mati (Part 13)

Kualat Tol Cipularang, Aku Yang Selanjutnya Mati (Part 13)

INIKECE - Luka di perutku semakin parah. Goresan itu membesar membuat memar di sekujur perutku. Beberapa kali pergi ke dokter, tapi lukanya tidak kunjung sembuh. Sudah dua hari aku berbaring di kamar kosku, luka yang terus menggerogoti perutku membuat susah mengenakan baju.

Kamarku seperti kapal pecah, acak-acakan. Aku tidak sanggup memaksakan badanku untuk banyak bergerak. Setiap malam, aku mendengar langkah kaki anak kecil yang berlarian di kamar kosku. Aku yakin kalau mereka adalah setan Cipularang yang sudah lama mengikutiku.

Malam itu, kubiarkan TV menyala. Menyiarkan berita politik nasional. Aku terbaring di atas kasur sambil sesekali meringis menahan sakit. Seketika terlintas dalam benakku untuk mencari tahu tentang misteri tol Cipularang. Kuraih smartphone yang tergeletak di meja kerjaku. Ssambil bersandar, aku langsung melakukan pencarian di internet tentang tol Cipularang.

Muncul beberapa berita tentang kecelakaan di tol Cipularang. Aku teruscroll ke bawah, munculah sebuah artikel yang membahas tentang gunung Hejo. Artikelnya menjelaskan kalau kecelakaan yang terjadi di tol Cipularang ada kaitannya dengan keangkeran gunung Hejo. Di sana juga ada sebuah petilasan Eyang Prabu Siliwangi.

Saat sedang serius membaca artikel, tiba-tiba saja lamput konsaku mati. Hanya cahaya smartphone yang menjadi penerang. Dengan perlahan, kucoba bangkit dari tempat tidur untuk mencari lilin di dalam lemari.

BACA JUGA :

Kaualat Tol Cipularang, Setelah Kematian Bram (Part 12)


Kuarahkan cahaya smartphone ke dalam lemar dan berhasil meraih sebatang lilin yang masih utuh. Kunyalakan lilin itu, lalu meletakkannya di meja kerjaku. Kembali kubaringkan badan di tempat tidur dan melanjutkan baca artikel.

Selang beberapa saat, aku mendengar suara anak kecil tertawa dari dalam kamar mandi. Bukan hanya satu orang saja, terdengat seperti ada dua orang yang sedang bermain di dalam kamar mandiku. Suara gemerecik air ditumpahkan terdengar jelas.

Perlahan kuhampri sambil membawa sebatang lilin. Suara anak kecil itu tidak berhenti tertawa, kudorong pintu kamar mandi perlahan. Di dalam sana, kulihat dua anak kecil, satu perempuan dan satu lagi laki-laki. Kepala mereka penuh darah, yang perempuan membawa sebuah boneka sedangkan yang laki-laki membawa sebuah robot-robotan. Mereka memandangiku dengan ekspresi datar.

"Mati kau Asep..!" tiba-tiba mereka kompak berteriak. Dan hilang begitu saja.

Seketika, luka di pertku terasa sangat sakit. Seperti ada sebuah jari yang mencabik-cabik lukanya. Lilin yang kubawa terjatuh dilantai dan padam begitu saja. Aku terjatuh di lantai sambil meringis, menahan sakit. 

Ingin rasanya aku berteriak  meminta tolong, tapi rasa sakit itu membuatku tidak mampu berteriak. Keringat mulai bercucuran di dahiku, aku terlentang di lantai sambil meringis kesakitan. Saat itu, kulihat kedua anak kecil tadi berdiri di sampingku sambil tertawa melihatku.

"Siapa kalian?!" ujarku sambil menahan sakit.

Mereka tidak menjawab dan terus memandangiku sambil tertawa cekikikan. Rasa sakit di perutku semakin parah hingga membuatku susah bernafas.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment