Kualat Tol Cipularang, Bola Mata Bram Hilang (Part 11)

Kualat Tol Cipularang, Bola Mata Bram Hilang (Part 11)

INIKECE - Setelah mendapat air mantra dari Abah Sardim, berangsur sakit mataku hilang. Tetapi, masih ada yang aneh, kenapa kelopak mataku perlahan menyempit? Aku sudah konsultasi kembali ke Abah Sardim, namun ia tetap menyarankanku agar membasuh mata menggunakan air mantra yang ia berikan padaku. Tetapi, tidak berhasil.

Semakin hari, kelompak mataku semkain mengecil menutupi pandangan. Hingga akhirnya, aku tidak bisa melihat apa pun. Aku raba kelopak mataku dan ternyata kempes, ternyata bola mataku hilang, entah ke mana. Aku penik berteriak minta tolong, ibu dan bapak buru-buru membawaku ke rumah sakit. Dokter juga kebingungan dengan apa yang aku alami, dia mengaku tidak pernah menemukan kasus seperti ini sepanjang karirnya.

"Aku kualat Bu," kataku dengan nada bicara yang menyedihkan.

"Kualat apa, Nak?" Tanya ibuku sambil memelukku, aku mendengar isak tangisnya. Air matanya dapat aku rasakan menetes ke pundakku.

"Tol Bu, Tol Cipularang," jawabku.

"Apa yang udah kamu lakuin, Nak?" tanya bapak.

"Enthlah Pak. Semuanya begitu rumit. Teman-temanku satu per satu mati. Bisa saja aku yang selanjutnya," ujarku.


Bapakku bingung mendengar penjelasanku. Ia masih tidak percaya kalau kejadian aneh yang menimpaku karena kualat Tol Cipularang.

Setelah aku kehilangan bola mata, hidupku terasa semakin sulit. Aku tidak mau lagi pergi ke luar rumah. Setiap hari aku berdiam diri di kamar, meratapi nasib yang malang. Badanku terasa berat kembali, mungkin pocong sialan itu mengikutiku lagi. Aku sudah tidak peduli! Aku tahu, aku akan segera matai. Sama seperti teman-temanku, yang teriksa dan mati mengenaskan.

Sesekali Asep menjengukku. Ia selalu berusaha menguatkanku, tetapi tetap saja aku merasa akan segera mati. Lagi pula, untuk apa juga hidup seperti ini, hampa dan tidak berguna. Andai saja malam itu aku tidak ikut ke Bandung, mungkin saja semua kejadian aneh ini tidak akan menimpaku.

"Gua janji akan cari solusi buat masalah ini, Bram," kata Asep sambil menepuk pundakku. Setiap hari Minggu, dia rutin menjengukku.

"Terlamat Sep. Gua udah terlanjut buta? Abis ini paling gua mati!"

"Hus, jangan kayak gitu. Lu pasti baik-baik aja. Gua akan coba cari cara agar setan tol Cipularang itu nggak ganggu kita lagi."

Aku tidak menimpali perkataannya. Aku sudah benar-benar putus asa, menjadi buta adalah hal yang tidak pernah terpikirkan dalam hidupku. Untuk itu, dorongan untuk bunuh diri semakin besar. Pikirku, lebih baik mati oleh tanganku sendiri ketimbang dibunuh setan Cipularang.

Jadi suatu malam, aku meminta Bi Inah untuk menyuapiku bauh mangga. Kuminta agar pisau dan bekas kulit mangganya diletakkan di meja yang terletak di samping tempat tidurku. Ketika Bi Inah sudah tidak dikamarku, tanganku meraba-raba pisau. Aku gugup, keringat mulai timbul di keningku. Dari kegelapan, aku melihat sosok pocong dengan wajah gelap perlahan mendekatiku. Semkain dekat msakin menakutkan, kain kafannya kotor, noda tanah menempel di seluruh kain kafannya. Segera kuiriskan pisau di pergelangan tangan kiriku. Terasa sakit. Sangat sakit.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment