Kualat Tol Cipularang, Diikuti Pocong (Part 2)

Kualat Tol Cipularang, Diikuti Pocong (Part 2)

INIKECE - Aku Bram. Semenjak Jon menghilang secara misterius, aku mengalami kejadian demi kejadian aneh. Ada sesuatu yang sepertinya mengikutiku setiap hari, entah apa. Badanku semakin hari semakin berat. Tapi, berat badan tidak bertambah.

Aku yakin semua ini ada kaitannya dengan tol Cipularang yang pernah kulewati bersama teman-teman. Apakah ada setan yang mengikutiku ke rumah? Ah, aku berusaha untuk selalu berpikir positif. Tapi, aku tidak bisa lari dan hal-hal ganjil yang hampir setiap minggu kualami.

Waktu itu, sekitar jam sepuluh malam. Perutku lapar. Segera aku turun ke lantai satu untuk memasak mi instan. Sengaja aku tidak menyuruh Bi Inah. Kasihan dia usdah bekerja seharian. Lagipula, hanya masak mi instan saja. Itu hal yang mudah.

Tapi, sebelum aku sampai di dapur, kulihat Bi Inah sedang mengiris bawang. Aneh, biasanya dia jam segini sudah tidur. Sengaja aku bersembunyi di balik dinding. Aku benar-benar curiga kalau itu bukan Bi Inah. Sebab, dia mengiris bawang dengan tidak wajar. Ia menggerakkan pisau layaknya memotong daging. Pisau itu dihentak-hentakkan dengan keras, padahal cuma bawang.

Dan, benar saja. Saat Bi Inah berpindah tempat untuk meraih sesuaut, dia tidak berjalan. Ia justru meloncat-loncar seperti pocong. Wajahnya juga sangat datar dan tatapannya kosong. Sumpah! Bulu kudukku merinding.

"Bram, kamu lagi ngapain?" Suara bapak mengagetkanku.

"Duh, bapak bikin kaget saja, Pak, lihat Bi Inah! Kayaknya keserupan deh."

"Mana?" tanya ayah.

Mataku kembali melihat semula Bi Inah berada. Anehnya, tidak ada siap-siapa di dapur. Pandanganku mencoba menyisir setiap sudut dapur. Tak ada. Bi Inah menghilang begitu saja.

"Ah, kamu ngehayal aja, Bram."

Bapak menepuk kepalaku dengan koran yang ia pegang. Ia lalu balik badan dan pergi ke kamar.

Bukan hanya kejadian ganjil malam itu saja. Ada yang lebih gila. Itu terjadi di kamar mandi saat aku sedang mencuci muka. Pintu kamar mandi tiba-tiba diketuk dari luar tanpa ada suara yang memanggil.

Ketika kubuka pintunya, kutemukan sebuah tali putih terbuat dari kain seukuran satu meter. Tali itu kusut dan begitu kotor. Bahkan, tali itu juga menyembulkan bau busuk. Aku curiga kalau itu adalah tali dari kain kafan.

Satu hal lagi yang membuatku sangat takut dan cems. Suatu hari, saat aku sedang berjalan di lorong rumah sakit waktu itu sedang menjenguk tante yang sakit ada seorang anak perempuan. Kutaksir, umurnya sekitar sepuluh tahunan. Ia terlihat tengah duduk di atas kursi roda. Saat aku melintar di depannya, ia justru menangis sejadi-jadinya. Jarinya menunjuk-nunjuk ke arahku.

"Pocong...! Pocong...! Pocong...!" Ia menangis, lalu mengamuk. Tanpa menghentikan tangisnya, ia menyuruhku pergi dari hadapannya.

Hal itu membuatku bingung. Aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Kulihat sekeliling, tak ada siapa-siapa juga. Tak kutemukan siapa pun, apalagi sosok pocong seperti yang dikatakan bocah itu.

Semua kejadian itu begitu ganjil bagiku. Dan, yang paling mengganggu, kenapa badanku semakin hari semakin berat saja? Seperti ada sesuatu yang menimpa bahuku. Bahkan, terkadang sekujur tubuhku juga terasa panas.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment