Kualat Tol Cipularang, Dinikahi Dedemit (Part 3)

Kualat Tol Cipularang, Dinikahi Dedemit (Part 3)

INIKECE - "Bram, gua ngerasa ada yang aneh sama hidup gua akhir-akhir ini," kata Dian. Dia adalah pacaku, hubungan kami sudah berjalan lima tahun.

"Gua juga ngerasain hal yang sama, Di."

Kami berdua duduk di sebuah kafe, menikmati kopi robusta. Dia bercerita banyak hal aneh yang ia alami setelah kejadian tol Cipularang. Katanya, suatu malam saat Dian hendak tidur, ada seseorang yang bersiul di kamarnya. Dia coba mematikan lampu dan memejamkan mata. Tapi suara siul itu datang lagi.

""Gua ngerasa ada yang ngikutin gua," tambah Dian sambil menyeruput kopinya.

"Sama," jawabku singkat.

Aku menarik napas berat, "Gua ngerasa diikuti pocong, gua nemuin tali kain kafan di rumah," tambahku.

"Serius lu, Bram?"

"Iya, ada yang nggak beres."

"Lu tahu, hal gila yang gua alami baru kemarin. Gua kan selfi di kamar sendiri. Nih lu liat hasil fotonya."


Ia menyodorkan smartphone-nya. Aku melihat ada sosok lelaki dengan wajah samar dan rambut gondrong di foto itu.

"Hapus Di. Udah nggak bener nih kita. Pasti gara-gara kejadian di tol Cipularang," aku berdecak kesal, bulu kudukku merinding.

Di perjalanan pulang, aku dan Dian tidak mengobrol. Kami sama-sama bingung tenang apa yang sedang terjadi pada hidup kami. Tatapan Dian kosong ke arah jalan, sedangkan aku fokus mengemudikan mobil.

Mobil yang aku kendarai melintasi perumahan elit yang sepi, hanya ada pohon-pohon beringin yang berjejer di sepanjang jalan. Tidak ada satu kendaraan pun yang meintas di komplek ini. Tiba-tiba saja, ekor mataku melihat itga orang perempuan berpakaian kebaya, sarung kain batik, dan konde, mereka memandangi ke arahku dengan tatapan tajam.

"Dian, lu lihat...," saat menoleh ke Dian. Ia tengah tertunduk.

Ku berhentikan laju mobil. Menyibakkan anak rambutnya yang menutupi wajah. Kulihat wajah pacarku penuh dengan bedak yang baunya menyengat, aku tidak pernah mencium bau bedak semenyengat itu. Bedaknya sangat tebal dan acak-acakan sampai berhamburan di jok mobilku.

Lalu, ia ke luar dari mobil tanpa berbicara apa pun. Saat aku hendak menyusulnya, aku terkejut dengan apa yang kulihat di hadapanku. Itu sebuah pesta pernikahan, orang-orang berpakaian batik dengan wajah pucar berduyun-duyun masuk ke tenda yang sudah dihias dengan janur. Kulihat Dian digandeng sosok lelaki tinggi besar dengan badan penuh dengan bulu masuk ke dalam tenda.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment