Kualat Tol Cipularang, Jin Pencongkel Mata Buntuti Bram (Part 10)

Kualat Tol Cipularang, Jin Pencongkel Mata Buntuti Bram (Part 10)

INIKECE - "Bram, Meri meninggal," pagi-pagi sekali, Asep meneleponku.
"Hah! Serius lu?" Aku benar-benar terkejut mendengar kabar itu.

"Pemakamannya hari ini. Lu datang aja, gua tunggu di rumah Meri." 

"Oke, gue ke sana sekarang."

Hari itu juga aku langsung berangkat ke rumah Meri. Menyaksikan prosesi demi prosesi pemakamannya. Keluarga Meri begitu terpukul atas kematian anaknya. Mereka menangis tersedu-sedu di samping makam Meri. Puluhan orang hadir dalam pemakaman itu, papan bunga ucapan belasungkawa terpajang di sepanjang jalan masuk pemakaman.

"Lu nyadar nggak sih kalau kematian teman-teman kita kayak ada kaitannya sama tol Cipularang," kata Asep sambil terus menyaksikan prosesi pembacaan doa untuk Meri di pemakaman.

"Kita kualat, Sep," kataku singkat sambil membuka kacamata hitam dan menoleh ke Asep.

"Anjir Bram! Mata lu kenapa?" Asep terkejut sambil memerhatikan bola mataku.

Akhir-akhir ini memang mataku terasa perih. Aku pikir hanya iritasi ringan. Jadi, aku hanya menggunakan obat tetes mata untuk menyembuhkannya.

"Nih lihat," Asep menyodorkan smartphone-nya, menyalakan kameran depan.

"Anjir, Mata gua kok nambah parah!"

Aneh! Kedua bola mataku menonjol seperti hendak kelular dari ceruknya.

"Lu harus periksa ke dokter, Bram," saran Asep.

"Udah, kayaknya ini bukan sakit mata biasa, Sep. Seumur hidup baru kali ini juga ngalamin kayak gini."

"Maksud lu, ini gara-gara tol Cipularang?" bisiknya.

"Sep. Dian mati mendadak. Meri juga. Bisa saja selanjutnya gua atau elu," kataku sambil mengenakan kembali kaca mata hitam dan beranjak pergi.


Bukan dokter yang harus kutemui, melainkan seorang dukun. Ya, dukun yang bisa menyembuhkan mataku. Ini pasti gara-gara setan Cipularang. Aku sudah cukup sabar dan kali ini harus aku lawan.

Setelah mendapat informasi dari internet, aku mendatangi dukun yang katanya sakti di Banten. Ia tinggal di kampung Citorek sekitar lima jam perjalanan dari Jakarta. Nama dukun itu Abah Sardim. Saat bertemu dengannya, ia tahu kalau aku diikuti pocong tol Cipularang. Ia lalu menyemburkan air yang sudah dibacakan mantra ke seluruh tubuhku.

"Pocong itu sudah pergi," katanya sambil tersenyum.

Aku duduk sila di ruang tamu rumah Abah Sardim. Rumah itu bertipe panggung, dindingnya dari anyaman bambu, lantainya dari papan. Tapi, atapnya sudah menggunakan genting. ia tidak tampak seperti dukun di film-film yang sering kutonton, tapi ia terlihat seperti warga biasa saja.

Mengenakan baju partai yang sudah lusuh, peci hitam yang sudah mengilap, sarung butut yang kusut seperti tidak disetrika. Dari wajahnya yang keriput, dapatku tebak kalau Abah Sardim itu berumur kisaran lima puluh atau enam puluh tahun.

"Air ini kamu basuhkan ke dua matamu setiap mau tidur. Mudah-mudahan lekas sebuh," ia menyerahkann sebotol air yang sudah ia bacakan mantra.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment