Kualat Tol Cipularang, Ke Mana Jon? (Part 1)

Kualat Tol Cipularang, Ke Mana Jon? (Part 1)

INIKECE - Malam itu, sebuah mobil truk pengangkut barang tengah melaju dengan kecepatan stabil di ruas jalan tol Cipularang. Lelaki yang mengemudikan mobil itu bertubuh gemuk. Kemeja yang ia kenakan kekecilan sehingga kancing tengahnya copot, memperlihatkan perutnya yang buncit.

Kepalanya botak dan kulitnya hitam kecokelatan. Ia mengenakan cincin akik keberuntungannya. Di dalam mobil, ia memutar lagu dangdut lawas dengan suara keras agar tidak mengantuk saat mengemudi.

Sementara itu, Mak Minah, seorang warga yang tinggal dekat dengan tol Cipularang tadi sore mendengar suara wanita menjerit-jerit di tengah jalan tol. Mak Minah tidak menghampiri suara itu. Ia tahu, itu adalah sebuah pertanda kalau akan ada kecelakaan lagi di jalan tol Cipularang.

Mak Minah hanya bisa berdoa semoga yang mengalami kecelakaan bisa selamat. Kalau pun tidak, semoga diampuni dosanya.

Sopir truk mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama. Sesekali ia ikut bernyanyi. Satu-dua kendaraan ia salip dengan baik. Sampai tiba-tiba lampu mobilnya menyorot seorang wanita yang melambaikan tangan di pinggir jalan.

Ia memperlambat laju mobilnya. Ia menginjak rem dan membuat mobilnya berhenti tepat di dekat wanita berjaket cokelat dan memakai celana jeans ketat.

"Bang, tolongin aku plis! Suamiku nurunin aku disini, dia marah. Aku numpang sampe ke luar tol, Bang," kata wanita itu, memohon. Ekspresi wajahnya cemas dan memelas.

"Oalah, Mbak. Tega banget suaminya. Ya udah yuk naik," jawab pengemudi itu sembari membukakan pintu mobil.

Wanita itu masuk ke dalam mobil. Di sepanjang jalan, dia bercerita banyak hal. Tentang kekasaran suaminya juga rumah tangganya yang sudah tidak harmonis. Sopir truk itu sesekali mengangguk dan menimpali untuk basa-basi saja.

Lalu, entah apa yang terjadi. Tiba-tiba sopr truk itu melihat keramian orang di tengah jalan tol dari kejauhan. Setelah mobilnya semkain dekat, ternyata keramaian itu adalah pasar tradisional. Begitu ramai.

Namun, ia merasa ada yang aneh. Tak hanya lantaran di tengah jalan, orang-orang yang ia lihat juga berwajah pucat. Wajahnya murung.

Sopir truk itu lantas menghentikan laju mobilnya. Ia sengaja tak mematikan mesin mobilnya. Lampu mobil truknya dibiarkan menyorot dan membelah keramaian pasar di tengah jalan tol.

"Mbak tunggu disini, aku cek dulu." kata sang sopir truk. Wanita itu mengangguk menandakan mengiyakan.

Ia turun dari mobil. Langkahnya gontai saat mendekati keramian. Bahkan, ia pun turut masuk di tengah orang-orang yang sedang melakukan transaksi jual-beli pada umumnya menggunakan uang yang biasa dilihat, juga digunakannya.

Namun, sopit itu masih terheran-heran. Kenapa ada pasar di tengah jalan tol? Ia terus berjalan semakin ke tengah kerumunan. Saat ia menghentikan langkah, hampir semua orang di pasar misterius tertuju kepadanya. Ekspresi mereka datar dan dingin. Wajah mereka yang pucat, terkesan begitu mengerikan.

Sesaat sebelum ia hendak lari kembali ke mobil, tiba-tiba ia ditabrak sebuah truk bermuatan pasir. Pria itu tewas di tempat dengan kondisi mengenaskan.


Kenalkan, namaku Asep. Iya, seperti nama orang Sunda. Dan, memang betul aku orang Sunda dari Bandung yang beruntung bisa kuliah di salah satu kampus ternama di Depok.

Tapi, bukan itu ya,yang mau aku ceritakan. Ini tentang jalan tol Cipularang dan kematian teman-temanku: Bram, Meri, Jon, dan Dian. Mereka meninggal satu per satu dengan sangat mengenaskan. Dan, kematian mereka ada kaitannya dengan tol Cipularang.

Oh ya, sebelum aku cerita lebih jauh, tadi pagi aku juga baca sebuah berita kecelakaan mobil truk di tol Cipularang. Sopirnya tewas dengan kondisi mengenaskan. Aku semakin yakin kalau tol Cipularang itu angker. Dan, kita harus sopan saat melintasinya.

Baiklah. Aku mulai dari awal ya. Bagaimana caranya aku bisa selamat dari kualat tol Cipularang? Aku yakin, seharusnya aku juga sudah mati kalau saja tidak tahu cara untuk memperbaiki kesalahan.

Jadi, sekitar tiga bulan yang lalu, Jon mengajakku dan teman-teman yang lain untuk liburang ke Bandung. Sialnya, dia maunya berangkat dari Jakarta malam hari. Katanya biar seru-seruan di jalan.

Sebenarnya, dari awal aku tidak setuju dengan ide itu. Sebab, tol Cipularang yang akan kami lintasi itu sangat berbahaya, lebih tepatnya angker. Namun, Jon tetap bersikukuh berangkat ke Bandung malam hari. Akhirnya, aku dan yang lain pun terpaksa mengalah. Kami mengiyakannya.

Kami menyewa mobil MPV yang bisa muat lima orang. Aku yang menyetir, sementara Bram duduk di sampingku. Jon duduk dibaris kursi belakang dan yang lainnya duduk di tengah.

Aku putar lagu pop barat yang membuat suasana semakin asik. Mobil yang kami kendarai pun dengan tenang melaju di ruas jalan tol Cipularang.
 "Guys, baca doa. Jangan pada berisik. Ini tol Cipularang," kataku, mengingatkan sambil terus mengemudi.

"Okay, Sep. Laksanakan" sahut Dian sambil bercanda.

"Halah, Sep. Zaman sekarang masih percaya sama setan," sahut Jon dari kursi baris ketiga.

"Hus, jangan gegabah loh!" timpal Meri.

"Iya, Jon. Hati-hati, tol ini angker," Bram membela.

"Eh, berhenti dulu dong. Kebelet pipis nih gua," pinta Jon.

"Anjir, entar aja deh di rest area," kataku dengan sedikit kesal.

"Gila, nggak kuat gua. Plis, berhenti dulu." Jon memaksa.

Perlharan kutepikan mobil yang kukemudikan. Satu-dua kendaraan melewati akmi. Lampu dan mesin mobil tetap kunyalakan sebagai penanda agar tidak ditabrak mobil lain.

"Jon, pake botol kencingnya, ya. Jangan sembarangan," pintaku.

"Halah. Sep, Ribet," dia malah mengencingi pembatas jalan. Gemericik suara kecingnya terdengar jelas begitu jelas memecah keheningan di sela suara mesin mobil kami.

"Woi. Wah, benar-benar lu, Jon" aku kesal melihat perbuatannya. Ia mengencingi pembatas jalan yang ada tanda silang warna putih. Entah tanda apa, aku sendiri tak tahu.

"Kesambet baru tahu rasa lu, Jon" delik Bram, dengan nada marah.

"Setan lagi, setan lagi. Kebanyakan nonton horor lu pada. Woi! Setan Cipularang, makan tuh kencing gua." teriak Jon seolah menantang.

"Udah, lu buruan masuk!" Pintaku dengan kesal.

Kami melanjutkan perjalanan. Semepat mengobrol beberapa saat, namun mereka akhirnya tertidur pulas menyisakan diriku yang harus tetap fokus mengemudi.

Di tengah perjalanan, aku melirik spion dengan. Aneh, aku tidak melihat Jon di kursinya! Kulirik lagi dair spion untuk memastikan. Dan, benar-benar tak ada.

"Woi, bangun woi!" aku panik dan membangunkan teman-teman.

"Jon, mana Jon?!" Seketika kuinjak rem. Mobil berhenti.

"Jon!" panggil Meri.

"Jon hialng, anjir!" kata Bram, panik.

"Eh itu dia, Jon!" kata Dian.

Terlihat Jon berada di pinggir jalan. Ia melangkah gontai menuju semak-semak belukar yang berada di sepanjang tol. Ia semakin jauh melangkah. Kami pun berusaha turun dan mengejarnya tanpa berpikir sesuatu yang ganjal. Termasuk, kalau dia tertinggal harusnya dia berada jauh di belakang. Dan aku sangat yakin, Jon tadi sudah masuk mobil dan bercengkerama.

Belum sempat kami berhasil mengejar. Jon sudah menghilang begitu sajadi telan kegelapan. Mataku membelalak, berharap menemukan sosok Jon. Namun, tak juga kedapati. Ya Tuhan, seketika aku sangat merinding.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment