Kualat Tol Cipularang, Kematian Dian (Part 5)

Kualat Tol Cipularang, Kematian Dian (Part 5)

INIKECE - "Sep, thanks banget udang datang," kata Bram.
"Iya Bram. Gua nggak nyangka Dian bisa sakit parah kayak gini."

Malam itu, aku sedang ada di rumah sakit untuk menjenguk Dian yang sedang sakit parah. Bram menceritakan kalau sebelum pacarnya sakit, ia mengalami hal mistis yang menurutku sangat tidak masuk akal.

Dinikahi dedemit? Aku hampir tidak percaya dengan hal itu. Tapi, yang terpenting saat itu adalah kondisi Dian yang masih belum sadarkan diri.

Dian masih tak sadarkan diri di atas kasurnya. Selang infus terpasang di lengan kirinya. Wajahnya pucat dan kantung matanya hitam-kusam. Ia mengenakan baju tidur berwarna merah.

Aku dan Bram diminta keluarga Dian untuk menjaganya malam ini. Mereka harus pulang dulu untuk berganti pakaian dan istirahat. Kami berdua tidak keberatan dengan permintaan itu. Lagipula besok hari libur.

Hanya Dian satu-satunya pasien dalam ruangan itu. Kami duduk di samping Dian sambil membicarakan keanehan-keanehan yang kami alami akhir-akhir ini. 

Kami membicarakan hal itu dalam ruangan tempat Dian dirawat. Dinding ruangannya dicat warna putih. Tepat di samping kita mengobrol terdapat jendela dengan tirai berwarna biru.

Sebuah televisi berukuran 21 inch diletakkan di bagian depan ranjang pasien. Televisi itu tidak kami nyalakan. Aku meraih remot AC dan mengatur suhunya, ruangan itu terlalu dingin.

Sementara itu, di atas televisi terdapat sebuah jam dinding yang disematkan di tembok. Setiap detik suaranya menemani kami, dan terdengar sangat jelas saat cerita kami jeda.

Sekitar jam dua belas malam kami tertidur di samping ranjang Dian. Belum lama terlelap, aku terbangun. Aku melihat Dian sedang duduk di atas ranjangnya. Kulihat sekitar, selang infus masih terpasang di lengannya. Namun, aku tidak terlihat Bram. Mungkin ia sedang pergi ke toilet.


"Dian, lu udah bisa bangun?" tanyaku sambil tersenyum bahagia.

Dia tidak menjawab. Kusentuh lengannya, terasa dingin dan kaku. Segera kupanggil dokter melalui telepon untuk mengecek keadaan Dian.

Beberapa saat kemudian, dokter datang. Dokter itu segera memeriksa Dian yang masih duduk sambil tertunduk. Anehnya, dia masih tidak sadarkan diri. Tubuhnya kaku dalam posisi seperti itu. Ia tidak bisa dibaringkan kembali.

"Kenapa, Sep?" Bram datang dengan wajah panik.

"Sorry, tadi gua ke toilet," tambahnya.

"Dian nggak bisa dibaringkan, Bram," ucapku.

"Anjir, apaan lagi sih ini?" Bram berdecak kesal.

Dokter pun heran. Baru kali ini dia menemukan pasien yang tubuhnya kaku dalam posisi duduk seperti disemen sehingga tidak dapat dibaringkan lagi. Bahkan sampai keesokan harinya tubuh Dian masih dalam posisi sambil tertunduk.

Matanya tetap terpejam dan suhu tubuhnya semakin dingin. Kami sudah coba mengangkat tubuhnya agar bisa dibaringkan. Tetapi tubuhnya seperti dipaku, tidak bisa diangkat sama sekali, bahkan oleh tiga orang sekalipun.

Keluarga Dian menangis nelangsa melihat keadaan Dian yang semakin parah dan aneh. Padahal dokter menyebut Dian masih hidup. Tapi, ya Tuhan...

Tepat pada jam lima sore, tiba-tiba tubuh Dian lunglai. Ia akhirnya terbaring dengan sendirinya. Hal itu membuat kami kaget dan sedikit lega. Kami langsung memanggil dokter untuk melakukan pemeriksaan. Kami benar-benar tak percaya bahwa dokter menyatakan Dian sudah meninggal.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment